DAFTAR GAMBAR
5 PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP TJS PTNNT, KELEMBAGAAN YOP, DAN PROGRAM KEUANGAN MIKRO
Salah satu faktor kunci yang turut menentukan performance program Keuangan Mikro dalam kontekss TJS PTNNT adalah persepsi masyarakat dan
stakeholders. Persepsi tersebut tidak hanya terhadap program Keuangan Mikro, tetapi juga terhadap pengelolaan YOP dan implementasi TJS PTNNT secara umum. Persepsi masyarakat dan stakeholders akan turut menentukan tingkat partisipasi mereka dalam pengelolaan program pada setiap tahapannya. Untuk menggali informasi/ mendapatkan data terkait persepsi tersebut, telah dilakukan survey terhadap 38 nasabah (beneficeries) program Keuangan Mikro yang tersebar pada 6 desa di Kecamatan Sekongkang dengan tehnik Cluster Random Sampling. Berikut gambaran hasil survey terkait hal tersebut.
Persepsi Masyarakat terhadap TJS PTNNT
Mengenai tujuan TJS PTNNT, sebanyak 47,37% responden menyatakan bahwa TJSP yang dilaksanakan PTNNT bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selanjutnya, sekitar 39,47% mengatakan sebagai kewajiban perusahaan. Berikutnya, responden mengatakan bahwa tujuan TJS PTNNT adalah agar lebih dikenal masyarakat (7,89%) dan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk maju (5,26%). Tidak ada satupun responden yang menyatakan bahwa TJS PTNNT bertujuan untuk memberikan ganti rugi atas dampak negatif dari aktifitas pertambangan terhadap lingkungan (Tabel 18): Tabel 18 Persepsi masyarakat tentang tujuan TJS PTNNT
No Tujuan Jumlah %
1 Menjalankan kewajiban perusahaan 15 39,47
2 Meningkatkan kesejahteraan masyarakat 18 47,37 3 Ganti-rugi karena dampak negatif lingkungan 0 0
4 Lebih dikenal masyarakat 3 7,89
5 Memberi kesempatan masyarakat maju Jumlah
2 38
5,26 100 Tabel 18 menggambarkan bahwa implementasi TJSP yang dilakukan PTNNT adalah beyond mandatory, telah mengarah kepada keinginan tulus dari dalam untuk membantu mensejahterakan masyarakat sekitar. Hal ini telah sejalan
dengan komitmen visi PTNNT “menjadi yang terdepan di bidang keselamatan, pengelolaan lingkungan, dan tanggung jawab sosial perusahaan”.
Terkait program TJSP yang pernah dilakukan PTNNT selama ini, umumnya masyarakat lebih melihat/ memahami program dari sisi fisik atau infrastruktur karena memang mudah terlihat, atau program lain dimana mereka terlibat secara langsung sebagai pelaksana/ penerima manfaat program tersebut. Sementara yang terkait non fisik (capacity building) jarang disinggung. Beberapa program TJS PTNNT yang diketahui responden diantaranya:
1. Fisik/ infrastruktur (a) bidang pendidikan berupa bangunan sekolah, (b) bidang kesehatan berupa pembangunan Puskesmas pembantu (Pustu), Pondok bersalin desa (Polindes), (c) bidang ekonomi berupa bendungan dan saluran irigasi, jalan, listrik/ penerangan, (d) sosial budaya, pembangunan masjid/
mushala (e) bidang olah raga, pembangunan lapangan bola, (f) fasilitas umum, berupa pembangunan gedung serba guna, kantor camat, kantor desa, jalan desa, dan (f) keamanan, pembangunan kantor kepolisian.
2. Non fisik/ capacity building (a) bidang pendidikan, seperti bantuan sekolah, dan beasiswa, (b) program kesehatan, berupa bantuan berobat dan bantuan kegiatan di Pos pelayanan terpadu (Posyandu), (c) bidang ekonomi, seperti program Keuangan Mikro YOP dan bantuan usaha tani, (d) program keagamaan berupa dukungan kegiatan pengajian, (e) olah raga dan kepemudaan berupa dukungan kegiatan karang taruna, (f) bidang keamanan berupa terciptanya rasa aman.
Gambaran tentang persepsi masyarakat tersebut dapat kita lihat dalam Tabel 19 berikut:
Tabel 19 Persepsi tentang program TJSP yang dilaksanakan PTNNT
No Jenis program Jumlah %
1 Pendidikan 12 12,37
2 Kesehatan 19 18,53
3 Ekonomi 27 27,62
4 Sosial budaya dan keagamaan 4 4,12
5 Olah raga 17 16,53
6 Infrastruktur 20 19,56
7 Keamanan 1 1,03
Total 100 100
Selain menggambarkan pemahaman masyarakat tentang program TJSP yang diidentikkan dengan pembangunan fisik/ infrastuktur, Tabel 19 juga menunjukkan bahwa bidang ekonomi mempunyai penilaian paling tinggi dibandingkan yang lain (27,62%), disusul inftrastruktur (19,56%), bidang kesehatan (18,53%), lalu bidang olah raga (16,53%), kemudian pendidikan (12,37%), sosial budaya dan keagamaan (4,12%) dan keamanan (1,03%). Kondisi tersebut dapat diinterpretasikan bahwa masyarakat masih berkutat pada persoalan kebutuhan hidup dasar (basic need). Interpretasi selanjutnya bahwa sebenarnya masyarakat kurang menyadari atau belum menganggap bahwa pengembangan kapasitas merupakan sebuah kebutuhan mereka saat ini agar mereka bisa lebih maju dan berkembang.
Sebagian besar tokoh atau stakeholders mempersepsikan bahwa TJSP lebih
identik dengan “dana” (ekonomi) tergambar dari hasil wawancara dengan tokoh
masyarakat berikut:
“Saya tidak begitu mengetahui dan memahami apa itu TJSP.
Meskipun di masyarakat banyak yang mengidentikan dengan dana
hibah” (MYn, 2014).
Tokoh masyarakat yang lain memperkuat pandangan MYn tersebut sebagai berikut:
“…saya juga sependapat dengan sebagian besar masyarakat yang
mengatakan bahwa dana TJSP itu sama dengan dana hibah” (LBA, 2014).
Persepsi masyarakat terkait peringkat/ prioritas masalah yang dibantu melalui program TJS PTNNT adalah sebanyak 76,32% menyatakan peringkat I (prioritas utama) adalah masalah pemberdayaan masyarakat, hal ini dikarenakan program-program pemberdayaan yang dilakukan PTNNT bersentuhan langsung dengan masyarakat. Sementara masalah dampak lingkungan, pelanggaran HAM dan masalah mental menjadi prioritas berikutnya (Tabel 20):
Tabel 20 Persepsi masyarakat tentang prioritas masalah yang dibantu dalam program TJS PTNNT
No Jenis program Peringkat
I II III IV
1 Masalah dampak lingkungan 1 18 12 7
2 Masalah pemberdayaan masyarakat 29 4 3 2
3 Masalah pelanggaran HAM 2 5 7 24
4 Masalah mental (moral) masyarakat 6 11 16 5 Dalam konteks TJSP, Tabel 20 menunjukkan bahwa PTNNT sudah “on the track” dalam mengimplementasikan kebijakan tanggung jawab sosialnya kepada
masyarakat sekitar dengan menempatkan masalah pemberdayaan masyarakat sebagai prioritas utama. Dalam perspektif lain, Tabel 20 juga menggambarkan bahwa PTNNT sudah dapat meminimalisir dampak negatif dari aktivitas penambangannya baik terhadap lingkungan hidup, maupun dampak sosialnya. Hal tersebut telah sejalan dengan pandangan salah sorang tokoh masyarakat juga mantan koordinator program YOP, sebagai berikut:
“Menurut saya dana TJSP itu orientasinya adalah pemberdayaan”
(ABn, 2014).
Pernyataan tersebut diperkuat oleh pandangan tokoh masyarakat lainnya sebagai berikut:
“Menurut saya dana TJSP itu adalah dana kepedulian PTNNT
terhadap masyarakat Lingkar Tambang” (LB A, 2014).
Pernyataan tersebut lebih ditegaskan lagi oleh tokoh masyarakat lainnya:
“Dana TJSP itu adalah dana yang dipergunakan atau dikelola untuk
kemaslahatan masyarakat” (URh, 2014 ).
Pandangan beberapa informan di atas menunjukkan bahwa (1) terdapat
kesamaan persepsi bahwa TJSP diidentikkan dengan “dana” atau uang, dan (2)
meskipun memiliki pemahaman yang berbeda mengenai TJSP, namun terdapat
“benang merah” antara pandangan satu dengan lainnya terkait pemahaman bahwa
orientasi (fungsi) TJSP adalah pemberdayaan masyarakat sebagai wujud kepedulian PTNNT terhadap wilayah Lingkar Tambang dengan tujuan
“kemaslahatan/ kebaikan” masyarakat. Pandangan masyarakat ini sekaligus
menyiratkan pesan kepada PTNNT bahwa implementasi TJSP seyogianya tidak hanya sebatas charity, tetapi lebih mempunyai tujuan jangka panjang berupa
philanthropy, menjadi lebih ideal jika mencapai tingkatan atau kategori good corporate citizenship.
Selanjutnya, menurut responden bahwa program TJSP yang dilaksanakan PTNNT hanya mengatasi masalah sesaat (52,63%), sementara sebagian responden (42,11%) menyatakan program TJS PTNNT dapat meningkatkan partisipasi masyarakat untuk memecahkan masalah mereka. Hanya 2% responden yang mengatakan bahwa pelaksanaan program TJS PTNNT membantu memecahkan masalah dari akarnya (Tabel 21).
Tabel 21 Persepsi tentang pelaksanaan program TJS PTNNT
No Uraian Jumlah %
1 Mengatasi masalah sesaat 20 52,63
2 Memecahkan masalah dari akarnya 2 5,26
3 Membangkitkan partisipasi masyarakat untuk memecahkan masalah Jumlah 16 38 42,11 100 Meskipun pada beberapa aspek implementasi TJS PTNNT dipersepsikan relatif baik oleh masyarakat, namun apa yang dilakukan selama ini baru sebatas upaya mengatasi masalah sesaat, belum pada tataran membangkitkan partisipasi masyarakat untuk dapat memecahkan masalahnya sendiri, apalagi menyelesaikan masalah hingga ke akarnya.
Berikutnya, kesesuaian program TJS PTNNT dengan kebutuhan masyarakat dinyatakan oleh 63,16% telah cocok/ sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Selanjutnya 15,79% responden mengatakan sangat sesuai. Alasan yang menguatkan pandangan tersebut bahwa perencanaan program TJS PTNNT dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan stakeholders dari berbagai unsur mulai dari perencanaan tahunan hingga penyusunan Renstra lima tahunan. Penyusunan Renstra dilakukan dengan pendekatan Participatory Rural Apraisal
(PRA) yang kemudian disinergikan dengan program-program pemerintah melalui Musyawarah Pembangunan (Musrenbang) di tingkat desa, kecamatan dan kabupaten. Sementara, 21,05% responden menyatakan kurang cocok, dan sisanya (Tabel 22).
Tabel 22 Persepsi tentang kesesuaian program TJS PTNNT dengan kebutuhan masyarakat
No Kesesuaian dengan kebutuhan Jumlah %
1 Sangat cocok 6 15,79 2 Cocok 24 63,16 3 Kurang cocok Jumlah 8 38 21,05 100 Selanjutnya, terkait mutu program TJS PTNNT dinyatakan oleh 78,95% dalam katagori bagus. Sebagai perbandingan adalah program/ proyek yang dilaksanakan oleh pemerintah terutama infrastruktur, dimana infrastruktur yang berasal dari/ dikerjakan oleh TJS PTNNT kualitasnya dinilai lebih bagus dari yang dilakukan pemerintah (Tabel 23).
Tabel 23 Persepsi tentang mutu program TJS PTNNT
No Mutu program Jumlah %
1 Sangat bagus 4 10,53 2 Bagus 30 78,95 3 Kurang bagus Jumlah 4 38 10,52 100 Berkaitan dengan waktu/ momentum pelaksanaan, program/ kegiatan TJS PTNNT dinyatakan kurang tepat (terlambat) oleh 47,37% responden. Ada 2,63% responden menyatakan tidak tepat. Sementara 42,11% responden menyatakan tepat waktu, dan sisanya dinyatakan sangat tepat oleh 7,89% (Tabel 24).
Tabel 24 Persepsi tentang waktu pelaksanaan program TJS PTNNT
No Ketepatan waktu Jumlah %
1 Sangat tepat 3 7,89 2 Tepat 16 42,11 3 Kurang tepat 18 47,37 4 Tidak tepat Jumlah 1 38 2,63 100 Gambaran pada Tabel 24 mengisyaratkan bahwa PTNNT hendaknya dapat menyesuaikan jadwal program/ kegiatan/ anggaran yang dilaksanakan/ realisasikan dengan waktu yang dibutuhkan masyarakat sehingga manfaatnya akan optimal dirasakan oleh masyarakat. Dengan demikian, maka pendekatan partisipatif merupakan pilihan solutif sebagai simpulan dari persoalan tersebut.
Persepsi Masyarakat terhadap Pengelolaan YOP
Sebanyak 60,53% resoponden menyatakan bahwa visi dan misi YOP jelas terkait fungsi YOP sebagi pemberi bantuan modal usaha (Keuangan Mikro), dan 5,26% responden menyatakan bahwa visi dan misi YOP sangat jelas Sementara 34,21% responden menyatakan kurang/ tidak jelas. Hal tersebut ditunjukan dalam Tabel 25 berikut:
Tabel 25 Persepsi tentang kejelasan visi dan misi YOP No Uraian Jumlah % 1 Sangat jelas 3 5,26 2 Jelas 23 60,53 3 Kurang jelas 9 23,68 4 Tidak jelas Jumlah 4 38 10,53 100 Terkait pengawasan/ monitoring YOP dan programnya oleh stakehoders
disetujui oleh 63,16% responden, dan 10% menyatakan sangat setuju. Sedangkan sebanyak 26,31% responden menyatakan kurang/ tidak setuju bahwa YOP selama ini diawasi/ dimonitor oleh stakeholders (Tabel 26).
Tabel 26 Pernyataan bahwa YOP dimonitoring oleh stakehoders
No Uraian Jumlah % 1 Sangat setuju 4 10,53 2 Setuju 24 63,16 3 Kurang setuju 8 21,05 4 Tidak setuju Jumlah 2 38 5,26 100 Berkaitan dengan Tabel 26 dimana mayoritas responden menyatakan bahwa YOP dan program yang dijalankan selama ini diawasi oleh stakeholders. Hasil in- depth interview, beberapa tokoh masyarakat menunjukan pandangan berbeda, antara lain sebagai berikut:
“...namun pada implementasi lapangannya mereka masih kurang.
Harus ada peningkatan pengawasan karena ini menjadi kelemahan
YOP selama ini”(MYn, 2014).
Pandangan berbeda tersebut diperkuat oleh pernyataan salah seorang kepala desa sebagai berikut:
“Sebenarnya sudah banyak yang dilakukan oleh YOP untuk masyarakat secara umum, misalnya YOP bergerak di bidang, pertanian, ekonomi, perkebunan, peternakan dan lain sebagainya. Namun semuanya punah karena tidak ada pengawasan atas apa yang
sudah diberikan” (HSn, 2014).
Sebenarnya, pandangan berbeda tersebut dapat dipahami karena mereka merujuk pada pengelolaan YOP dan program Jilid I. Selain faktor tersebut, pada YOP Jilid II, desain programnya membatasi akses dan peran stakeholders untuk terlibat dalam pengelolaan program. Pembatasan akses tersebut, berangkat dari hasil evaluasi terkait pola/ pendekatan program YOP Jilid I yang menilai bahwa keterlibatan stakeholders dalam pengelolaan program justru turut memberikan
“sumbangsih” bagi kegagalan program.
Selanjutnya, sebanyak 52,00% responden menyatakan setuju bahwa YOP telah dikelola secara transparan dan acountable. Pernyataan ini didukung oleh
prosedur program Keuangan Mikro yang diterapkan oleh YOP Jilid II dimana penerima manfaat ditentukan melalui mekanisme Rapat Komite yang didalamnya terlibat berbagai unsur (PTNNT, Pengurus YOP, Koordinator Program, dan PL) agar penentuan beneficeries dilakukan secara objektif berdasarkan mekanisme tertentu. Mekanisme ini tentunya berbeda dengan yang diterapkan oleh YOP Jilid I dimana penentuan nasabah dapat ditentukan oleh perorangan tanpa melalui mekanisme tertentu seperti Rapat Komite (Tabel 27).
Tabel 27 Pernyataan tentang pengelolaan YOP secara transparan dan
accountable No Uraian Jumlah % 1 Sangat setuju 2 5,26 2 Setuju 20 52,00 3 Kurang setuju 14 36,84 4 Tidak setuju Jumlah 2 38 5,26 100 Berkaitan dengan Tabel 27, responden juga setuju (71,05%) bahwa kebijakan PTNNT memberikan kepercayaan kepada YOP untuk mengelola sebagian dari dana TJSP. Menurut pendapat beberapa tokoh masyarakat kepentingan “keamanan bapak asuh” dengan pelaksana pemberdayaan TJSP harus dipisah agar kemanfaatan program lebih optimal (Tabel 28).
Tabel 28 Pernyataan tentang kepercayaan terhadap YOP sebagai pengelola sebagian dana TJSP No Uraian Jumlah % 1 Sangat setuju 4 10,53 2 Setuju 27 71,05 3 Kurang setuju 5 13,16 4 Tidak setuju Jumlah 2 38 5,26 100 Sebanyak 44,74% responden menyatakan sudah tepat mempertahankan keberadaan YOP ke depan sebagai lembaga pemberi bantuan modal (Keuangan Mikro) kepada masyarakat. Sebanyak 42,11% responden menyatakan sangat setuju. Sedangkan sisanya sekitar 13,16% responden menyatakan kurang/ tidak tepat mempertahankan eksistensi YOP ke depan (Tabel 29).
Tabel 29 Pernyataan tentang keberadaan YOP sebagai lembaga pemberi bantuan modal (Keuangan Mikro)
No Uraian Jumlah % 1 Sangat tepat 16 42,11 2 Tepat 17 44,74 3 Kurang tepat 4 10,53 4 Tidak tepat Jumlah 1 38 2,63 100
Tabel 29 menarik untuk dicermati bahwa mayoritas responden menyatakan setuju bahkan sangat setuju jika eksistensi YOP sebagai pengelola Keuangan Mikro dipertahankan. Namun pandangan dari stakeholders dari hasil
in-depth interview menunjukkan sebaliknya, seperti salah seorang kepala desa berikut:
“Saya lebih memilih lembaga baru. Malah kalau bisa lembaga dan
pengurusnya itu dari luar (maksudnya luar KSB) untuk
menghindari nepotisme dan lain sebagainya” (RTn, 2014).
Sebanyak 68,42% responden menyatakan PTNNT sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap YOP sebagai pengelola sebagian dana TJSP-nya kepada masyarakat, sedangkan sisanya sekitar 31,58% responden menyatakan bahwa yang bertanggung jawab adalah PTNNT bersama warga desa dan pemerintah (Tabel 30).
Tabel 30 Pernyataan tentang pihak yang bertanggung jawab terhadap YOP sebagai pengelola dana TJS PTNNT
No Uraian Jumlah %
1 PTNNT 26 68,42
2 Warga desa 0 0,00
3 Pemerintah 0 0,00
4 PTNNT dan warga desa 4 10,53
5 PTNNT, warga desa, dan pemerintah Jumlah
8 38
21,05 100 Sebanyak 42,11% responden menyatakan bahwa penerima manfaat dari program YOP adalah seluruh warga desa/ dusun. Munculnya 34,21% responden yang menyatakan bahwa penerima manfaat adalah “kelompok tertentu” disebabkan syarat penerima program YOP adalah masyarakat yang telah mempunyai usaha, masih belum banyak menyentuh usaha-usaha, seperti pertanian, peternakan, dan usaha lainnya (Tabel 31).
Tabel 31 Pernyataan tentang penerima manfaat program YOP
No Uraian Jumlah %
1 Aparat desa 9 23,68
2 Warga desa atau kelompok tertentu 13 34,21
3 Seluruh warga desa/ dusun Jumlah
16 38
42,11 100 Terkait dengan ketepatan sasaran penerima dana bantuan YOP dinyatakan telah tepat oleh 63,16% responden. Pendapat beberapa tokoh masyarakat program YOP belum bisa mengakomodir semua kegiatan ekonomi masyarakat (pertanian, peternakan, perkebunan, dan lainlain) sejauh ini masih menyentuh usaha retail (kios sembako) dan usaha jasa mikro (Tabel 32).
Tabel 32 Pernyataan tentang ketepatan sasaran penerima dana bantuan YOP No Uraian Jumlah % 1 Sangat tepat 5 13,16 2 Tepat 24 63,16 3 Kurang tepat 7 18,42 4 Tidak tepat Jumlah 2 38 5,26 100 Terkait Tabel 32 mengenai ketepatan sasaran program, pendapat responden tersebut sejalan dengan pandangan salah seorang tokoh masyarakat sebagai berikut:
“Saya melihat program Keuangan Mikro sudah tepat sasaran. Saya
melihat nasabahnya adalah orang yang benar-benar layak menerima program ini. Saya tidak melihat adanya nasabah YOP yang memiliki gaji tetap. Mereka benar-benar orang yang
membutuhkan modal untuk usaha” (MYn, 2014).
Penilaian responden terhadap karakter YOP tergolong dalam kategori
“baik” hal ini terlihat dari tinginya persentase (43%) pada kategori “baik/ setuju” dari kriteria-kriteria karakter yang dipertanyakan (Tabel 33Tabel 33 Penilaian terhadap karakter YOP
No Karakter YOP Tidak
setuju Kurang setuju Setuju Sangat setuju 1 Dapat diandalkan 1 12 14 11 2 Dapat dipercaya 2 8 14 14 3 Bertanggung jawab 1 11 15 11 4 Jujur 1 4 20 13 5 Penolong 1 9 11 17 6 Peduli lingkungan 2 11 18 7
7 Menghormati budaya masyarakat 1 9 20 8
8 Terbuka 1 13 17 7
9 Adil 1 12 18 7
Persentase 3,2 26,0 43,0 27,8
Penilaian responden terhadap tingkah personil YOP tergolong dalam
kategori “baik”. Hal ini terlihat dari tinginya persentase (51,2%) pada kategori
“baik/setuju” dari kriteria-kriteria tingkah laku yang dipertanyakan (selengkapnya pada Tabel 34) berikut:
Tabel 34 Penilaian terhadap tingkah personil YOP No Tingkah personil/ Staf YOP Tidak
setuju
Kurang
setuju Setuju
Sangat setuju
1 Dekat dengan warga 2 8 14 14
2 Mampu berkomunikasi 2 6 20 10
3 Sabar 1 7 19 11
4 Rajin mengontrol program 2 11 19 6
5 Bisa membaur dengan masyarakat 0 10 22 6
6 Paham permasalahan masyarakat 3 8 21 6
7 Mendampingi masyarakat 1 9 22 6
8 Mendengar keinginan masyarakat 3 8 23 4
9 Dikenal warga 2 9 15 12
Persentase 4,7 22,2 51,2 21,9
Persepsi Masyarakat terhadap Program Keuangan Mikro YOP
Menurut responden dua hal yang menjadi pertimbangan penentuan program Keuangan Mikro yang dilaksanakan di desa, yaitu kebutuhan masyarakat (63,16%) dan keinginan YOP/ PTNNT (28,95%). Mengenai pertimbangan tersebut, tergambar dalam Tabel 35 berikut:
Tabel 35 Pertimbangan pelaksanaan program Keuangan Mikro
No Uraian Jumlah %
1 Kebutuhan masyarakat 24 63,16
2 Keinginan aparat desa 0 2,63
3 Keinginan tokoh yang berpengaruh 1 2,63
4 Keinginan YOP/ PTNNT 11 28,95 5 Bersama-sama (1-4) Jumlah 1 38 2,63 100 Menurut responden program Keuangan Mikro yang dilaksanakan di desa diputuskan oleh pihak YOP/ PTNNT sebanyak 57,89%, dan 28,% responden menyatakan bahwa pengambilan keputusan dilakukan bersama antara masyrakat, aparat desa, tokoh berpengaruh di desa. Hal tersebut tergambar dalam Tabel 36 berikut:
Tabel 36 Pernyataan tentang pengambil keputusan pelaksanaan program Keuangan Mikro
No Uraian Jumlah %
1 Warga desa/dusun 1 2,63
2 Aparat desa 3 7,89
3 Tokoh berpengaruh di desa/dusun 1 2,63
4 Pihak YOP/ PTNNT 22 57,89 5 Bersama-sama (1-4) Jumlah 11 38 28,95 100
Tokoh masyarakat yang paling berpengaruh dalam pelaksanaan program Keuangan Mikro adalah tokoh pemerintahan pada tingkat desa, yang dinyatakan oleh 94,74% responden, seperti tergambar dalam Tabel 37.
Tabel 37 Pernyataan tentang tokoh masyarakat paling berpengaruh dalam pelaksanaan program Keuangan Mikro
No Uraian Jumlah %
1 Tokoh pemerintahan 36 94,74
2 Tokoh agama 1 2,63
3 Tokoh adat (kebudayaan) Jumlah
1 38
2,63 100 Dampak dari peranan tokoh masyarakat yang paling berpengaruh dalam pelaksanaan program Keuangan Mikro adalah meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan program (52,63%). Selanjutnya, sebanyak 36,84% kuantitas serta kualitas program Keuangan Mikro YOP. Mengenai hal tersebut dinyatakan oleh 36,84% responden menyatakan meningkatkan keduanya: partisipasi, kuantitas serta kualitas program Keuangan Mikro YOP (Tabel 38Tabel 38 Pernyaataan tentang peranan tokoh masyarakat dalam pelaksanaan program Keuangan Mikro
No Uraian Jumlah %
1 Meningkatkan peranserta (partisipasi) masyarakat dalam program Keuangan Mikro YOP
20 52,63
2 Meningkatkan keduanya: peranserta
masyarakat, kuantitas serta kualitas program Keuangan Mikro YOP
14 36,84 3 Tidak berdampak Jumlah 4 38 10,53 100 Sebanyak 55,26% responden menyatakan jumlah bantuan yang diberikan oleh YOP kurang/ tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat, sedangkan 42,11 menyatakan telah sesuai (Tabel 39).
Tabel 39 Pernyataan tentang kesesuaian jumlah bantuan yang diberikan YOP dengan kebutuhan No Uraian Jumlah % 1 Sangat sesuai 1 2,63 2 Sesuai 16 42,11 3 Kurang sesuai 17 44,74 4 Tidak sesuai Jumlah 4 38 10,52 100 Sebanyak 65,79% responden menyatakan dana bantuan Keuangan Mikro yang diberikan YOP penggunaannya telah sesuai dengan kebutuhan, dan sisanya (34,21%) menyatakan tidak sesuai (Tabel 40).
Tabel 40 Pernyataan tentang penggunaan dana bantuan Keuangan Mikro No Uraian Jumlah % 1 Sesuai 25 65,79 2 Tidak sesuai Jumlah 13 38 34,21 100 Penilaian responden terhadap karakter program Keuangan Mikro oleh YOP dalam tiga tahun terakhir tergolong dalam kategori “baik” hal ini terlihat dari tingginya persentase (54,1%) pada kategori “baik/ setuju” dari kriteria-kriteria karakter program Keuangan Mikro yang dipertanyakan (Tabel 41).
Tabel 41 Penilaian terhadap karakter program Keuangan Mikro YOP No Karakter Keuangan Mikro YOP Tidak
setuju Kurang setuju setuju Sangat setuju 1 Cepat tanggap 2 10 21 5
2 Melibatkan semua lapisan warga 2 8 25 3
3 Mempelajari mendalam kebutuhan warga 1 14 20 3
4 Berpihak warga yang kurang mampu 3 9 16 10
5 Mengutamakan kepentingan masyarakat 4 6 20 8 6 Memberi kebutuhan perempuan dan anak 2 14 20 2
7 Terorganisir dengan baik 0 12 22 4
Persentase 5,3 27,4 54,1 13,2
Berikut ini adalah pandangan beberapa tokoh masyarakat terkait pengelolaan program Keuangan MikroYOP, diantaranya pandangan salah seorang kepala desa:
“Prosesnya mudah dan sangat membantu masyarakat karena tidak
berbunga. Nasabah juga tidak diharuskan membayar namun tidak akan diberikan lagi bantuan tersebut. Syaratnya juga mudah, hanya KTP saja. Program itu sangat menyentuh dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Dan sejauh pengamatan saya khusus untuk kawasan
Ai‟ Kangkung nasabah merata tidak ada pilih kasih karena di sini rata- rata pendatang semua. Anemo masyarakat cukup tinggi karena pada prinsipnya apa saja jenis program yang membantu masyarakat pasti
mendapat sambuatan dari masyarakat”(RTn, 2014).
Pandangan tokoh berikut memperkuat pendapat sebelumnya, khususnya terkait prosedur dan persyaratannya yang relatif mudah sehingga animo masyarakat untuk mendapatkan akses program sangat antusias:
“Berdasarkan informasi dari Pak Rusdi (PL YOP), program Keuangan Mikro ini berjalan dengan baik di lapangan. Prosedur dan persyaratnnya juga masih sama seperti dulu. Saya melihat anemo masyarakat sangat membutuhkan program ini karena keperluan akan modal usaha itu memang masih menjadi prioritas. Apalagi ini sifatnya bergulir dan ada peningkatan secara kuantitas pada besaran modal di
Memperkuat pernyataan dua tokoh sebelumnya, pandangan berikut lebih menekankan pada manfaat Keuangan Mikro yang sangat dirasakan oleh masyarakat:
“Kalau dana hibah yang dikelola dalam bentuk revolving memang sangat dirasakan oleh masyarakat terutama pedagang bakulan, kios- kios yang sejauh ini kita pantau Alhamdulillah dirasakan sekali
manfaatnya” (HDr, 2014).
Terkait manfaat Keuangan Mikro, pernyataan berikut mempertegas pernyataan sebelumnya:
“Memang masyarakat di sini sangat menyanjung program ini karena
sangat menunjang kehidupan mereka”(LNw, 2014).
Pemaparan tentang persepsi masyarakat dan stakeholders terhadap implementasi TJS PTNNT, pengelolaan YOP, dan Keuangan Mikro di atas dapat diikhtisarkan sebagai berikut:
Persepsi masyarakat dan stakeholders terhadap implementasi TJS
PTNNT menunjukkan bahwa (1) secara umum PTNNT telah “on the track”
dalam mengimplementasikan TJSP-nya yang mengarah kepada upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui program pemberdayaan, (2) masyarakat lebih memahami TJSP dari program fisik/ infrastuktur atau program yang melibatkan mereka secara langsung, (3) masyarakat
mempersepsikan/ mengidentikkan TJSP dengan “dana” atau keuangan, dan
(4) stakeholders memahami bahwa orientasi TJS PTNNT adalah pemberdayaan masyarakat sebagai wujud kepedulian terhadap lokal dalam
upaya meningkatkan “kemaslahatan/ kebaikan” bagi masyarakat.
Persepsi masyarakat dan stakeholders terhadap pengelolaan YOP menunjukkan bahwa (1) masyarakat memandang bahwa visi misi YOP cukup jelas sebagai pengelola program Keuangan Mikro, (2) terkait pengawasan terhadap program, masyarakat mempersepsikan bahwa
stakeholders ikut melakukan monitoring. Namun stakeholders sendiri mempersepsikan bahwa mereka tidak dilibatkan dalam pengelolaan program, (3) masyarakat berpandangan bahwa YOP layak diberikan kepercayaan untuk melanjutkan program Keuangan Mikro yang dikelola saat ini, sedangkan stakeholders lebih condong mencari lembaga pengganti.
Persepsi masyarakat dan stakeholders terhadap program Keuangan Mikro menunjukkan bahwa (1) eksistensi Keuangan Mikro merupakan harapan masyarakat yang disambut baik oleh YOP/ PTNNT, (2) masyarakat mengganggap bahwa peranan stakeholders mempengaruhi tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan program, tetapi belum dilibatkan, (3) masyarakat dan stakeholders mengganggap bahwa program Keuangan Mikro telah dijalankan sesusui SOP, tepat sasaran, dan manfaatnya sangat dirasakan oleh masyarakat. Meskipun demikian, dari sisi nominal, jumlah pinjaman yang diperoleh dianggap kurang.
Dari ikhtisar tersebut dapat tarik sebuah simpulan bahwa persepsi