• Tidak ada hasil yang ditemukan

Partisipasi Masyarakat

Dalam dokumen LAPORAN PENELITIAN STUDI KASUS (Halaman 70-73)

Bab V. Analisis Tingkat Integrasi

A. Deskripsi Subsistem

6. Partisipasi Masyarakat

Keterlibatan masyarakat secara aktif dalam program penanggulagan HIV sesungguhnya menjadi upaya dalam pengurangan stigma dan diskriminasi. Tantangan ini masih menjadi salah satu kendala dalam percepatan pencapaian target program yang ada. Pelaksanaan Musrenbang selama ini tidak pernah melibatkan komunitas yang ada di Kota Makassar. Wawancara mendalam dengan direktur YPKDS menunjukkan bahwa populasi kunci juga belum mengetahui akses agar dapat terlibat dalam kegiatan musrembang. Menurutnya, kelompok dukungan sebaya (KDS) belum terlalu dilibatkan dalam perencanaan program HIV, biasanya hanya perwakilan dari komunitas tingkat provinsi yang biasa diajak dalam perencanaan program. Pelibatan langsung adalah dalam kegiatan monev program HIV di kabupaten/kota. Ia juga menyatakan bahwaketerlibatan masyarakat hanya sebagai penerima manfaat, tidak terlibat dalam perencanaan program. Biasanya ada juga forum penampung asipirasi dari kalangan populasi kunci, namun tidak pernah diketahui bagaimana tindak lanjut dari kegiatan ini. Situasi berbeda dari sisi PKBI Sulsel, karena menurut program managernya, masyarakat selama ini menjadi agen alat pencegah (outlet kondom).

Sebagai lembaga dengan fungsi koordinasi, populasi kunci merasakan bahwa KPAK belum sepenuhnya menjadi forum yang mendengarkan aspirasi masyarakat. Sejalan dengan pernyataan sekretaris KPAK bahwa KPAK belum bisa dikatakan sebagai forum aspirasi masyarakat untuk HIV, namun selama ini KPAK senantiasa terbuka kepada komunitas dan

NGO. Dari komunitas waria merasa bahwa selama ini LSM lah yang menjadi ‘jembatan’ bagi mereka untuk dapat mengakses layanan kesehatan. Tetapi ketergantungan LSM terhadap lembaga donor menimbulkan kekahwatiran di kalangan populasi kunci, terutama kinerja yang akan menurun.

Keterlibatan populasi kunci dalam progam terutama pada layanan pasca perawatan (aftercare). Selaint itu biasanya populasi kuncijuga diikutsertakan dalam penyuluhan, jikapun ada diskusi untuk meminta masukan populasi kunci terhadap program masih sangat kurang. Pelibatan populasi kunci sebagai petugas lapangan juga sangat penting dan dominan terjadi, mengingat kelompok yang menjadi sasaran program adalah kelompok yang masih tertutup sehigga membutuhan ‘orang kunci’ untuk dapat menjangkau mereka. Mereka juga dilibatkan sebagai petugas pendamping kepatuhan minum obat.Pada kelompok waria, pelibatan mereka terutama dalam program pencegahan HIV; yakni dalam distribusi kondom, pelicin dan media KIE. Namun untuk program pengobatan waria tidak dilibatkan oleh Dinkes.

Bentuk keterlibatan lainnya adalah pada kegiatan mobile VCT, LSM bisanya mengundang Puskesmassebagai tenaga kesehatan yang akan melakukan test, kemudianlokasi dan komunitas yang menjadi taget‘disediakan’ oleh LSM.Puskesmas juga melakukan upaya pelibatan populasi kunci dalam kegiatannya misalnya dengan membimbing dokter residen, ataupun dalam kegiatan promotif dan preventif. Kepala Dinkes Kota Makassar menyatakan bahwa populasi kunci adalah mitra pemerintah dalam implementasi program. Secara singkat hampir semua populasi kunci yang terlibat di GF terlibat dalam kegiatan monev dan juga pelaoran terutama laporan IMS dan HIV. Namun komunitas waria tidak dilibatkan dalam penyusunan laporan ARV atau pelatihan layanan CST.

Meskipun tidak dilibatkan dalam perencanaan program yang diinsiasi oleh Dinkes Kota Makassar, KDS tetap memiliki program sendiri. Saat ini program KDS yang sedang berjalan adalah kunjungan rumah sakit (hospital visit) dan pengembangan kapasitas anggota. Program KDS berdasarkan instruksi pusat/nasional dalam hal ini adalah Yayasan Spiritia. Fokus YPKDS adalah kelompok ODHA; kegiatannya seperti pemberdayaan ODHA dan akses layanan ODHA di Rumah Sakit. Pendukung sebaya biasanya standby di layanan dan memberikan informasi-informasi yang dibutuhkan oleh ODHA ketika dibutuhkan.

Upaya sosialisasi mengenai layanan terkait HIV yang tersedia di RS dilakukan kepada mahasiswa praktek dan juga masyarakat yang mengakses layanan di RS. Walaupun masih minim namun mulai ada kepedulian anggota masyarakat untuk memberitahukan kepada petugas lapangan (LSM) ketika ada komunitas yang mengalami gengguan kesehatan.

Di tingkat dinas kesehatan, penyusunan renstra Dinkes Kota Makassarselama ini juga melibatkan masyarakat melalui proses FGD. Selain itu masyarakat juga diikutsertakan dalam penyusunan Visi Misi Dinkes. Upaya pelibatan masyarkat juga tampak dari kegiatan bagian program HIV di Dinas Kesehatan dengan mengadakan sosialisasi HIV ke 6 sekolah yang ada di Makassar, juga sosialisasi HIV di wilayah kerja masing-masingPuskesmas. KPAK juga memiliki kegiatan yang merupakan bentuk pelibatan masyarakat, yakni pengembangan kapasitas tentang HIV untuk jurnalis media massa. Tetapi hal diatas masih dianggap belum mewakili seluruh masyarakat, karena menurut perwakilan populasi kunci, belum adapelibatan masyarakat dalam program KDS, sosialisasi program KDS ke masyarakat juga belum pernah dilakukan. Meskipun dukungan pemerintah akan program ART masih kurang, namun KDS telah menginisiasi layanan ARV di 4 kabupaten/kota dan akses layanan CST di kabupaten/kota tersebut. Upaya ini selanjutnya menjadikan KDS sebagai penghubung antara instansi/masyarakat dan lembaga donor.

Secara rinci, partisipasi masyarakat dalam mendukung ODHA mendapatkan layanan ARV dan layanan untuk perawatan infeksi oportunistik di rumah sakit dan namun itu lebih banyak berasal dari para pendamping dan Kelompok Dukungan Sebaya (KDS).

Sebagai pendamping kita terus menyemangati teman-teman ODHA supaya tetap minum obatnya, jangan sampai putus obat. Juga membantu mereka bertanya kalau ada dampak samping. Beberapa bulan kemarin kita juga bantu teman-teman ODHA untuk secara kolektif mengumpulkan berkas lalu mengurus kartu BPJS. Kartu BPJS bisa dipakai untuk rujukan dari Puskesmas ke rumah sakit ketika dia mengakses ke rumah sakit. Kalau tidak punya kartu BPJS yaa dengan sendirinya harus bayar biaya registrasi dan bayar biaya konsultasi dokter. Itu yang jadi beban juga buat teman-teman ODHA.

(KL-03,wawancara mendalam, 04/07/2015)

Kita beri dukungan ke teman-teman ODHA, memberi motivasi, paling tidak ‘sharing’ pengalaman. Nah itu di tahun 2009, seiring waktu berjalan ada juga programnya yang dulu awalnya cuman ‘closed meeting’ terus diubah sekarang menjadi ‘study club’. ‘Study club’ disitu programnya memberikan informasi ke

teman-teman KDS atau memberikan pemaparan informasi tentang penyakit-penyakit yang pematerinya yang betul-betul bisa memberikan yang update tentang HIV-AIDS termasuk sampai ke ARV.

(P-16,wawancara mendalam, 29/07/15)

Selain dari pendamping dan KDS seperti di atas, terdapat pula partisipasi dari kalangan masyarakat lain untuk mendukung ODHA mendapatkan layanan ARV seperti dari kader LKB dan kader Posyandu, namun dalam bentuk yang lebih terbatas.

Kader LKB dan kader Posyandu sudah mulai berperan juga. Tapi belum optimal dan kita tidak bisa paksakan juga mereka karena kan relawan. Jadi walaupun mereka datang membantu paling kalaupas lagi ada waktunya. Jadi tdak begitu fokus dan mereka tidak betul-betul kerja 100 persen. Yah seperti sampinganlah, mereka fokus pada pekerjaan yang bisa menghasilkan.

(P-08, wawancara mendalam, 14/09/2015)

Upaya partisipasi masyarakat yang terjadi masih bersifat parsial dan belum menjadi insiatif dari masyarakat ataupun populasi kunci. Yang terjadi merupakan dorongan dari pelaksana program ataupun hanya untuk menggugurkan kebutuhan program saja. Jika populasi kunci ataupun masyarakat dilibatkan secara utuh pada program ARV, maka ini akan menjadi upaya yang efektif untuk mengurangi stigma dan diskriminasi.

7. Penyediaan Layanan

Dalam dokumen LAPORAN PENELITIAN STUDI KASUS (Halaman 70-73)