• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pasal 71 huruf a, huruf d, huruf e, huruf f dan huruf g dan Pasal 107 ayat (1) huruf c UU MD3 dan Pasal 70 ayat (1) dan ayat (2) UU P3 telah

B.2. UU MD3 DAN UU P3 BERTENTANGAN DENGAN PASAL 20 AYAT (2) DAN PASAL 22D AYAT (2) UUD 1945 YANG MEMBERIKAN KEWENANGAN

B.2.4. Pasal 71 huruf a, huruf d, huruf e, huruf f dan huruf g dan Pasal 107 ayat (1) huruf c UU MD3 dan Pasal 70 ayat (1) dan ayat (2) UU P3 telah

Mereduksi Kewenangan Pemohon untuk Ikut Serta dalam Memberikan Persetujuan Suatu Rancangan Undang-Undang yang Terkait dengan Kewenangannya

93. Pemberian persetujuan merupakan bagian yang integral dari keseluruhan proses pembahasan suatu RUU. Hal tersebut terlihat di dalam Pasal 20 ayat (2) UUD 1945 yang berbunyi:

Setiap rancangan Undang-Undang dibahas oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden untuk mendapat persetujuan bersama.

94. Berdasarkan ketentuan tersebut maka secara penafsiran gramatikal dapat dimaknai bahwa pembahasan adalah suatu proses kegiatan membahas yang dilakukan oleh DPR dan Presiden sedangkan persetujuan bersama adalah hasil dari kegiatan pembahasan. Dengan demikian persetujuan RUU bukanlah merupakan suatu kegiatan yang parsial, yang dapat dipisahkan dari proses pembahasan RUU. Hal ini dapat dimaklumi karena tidak mungkin sidang atau rapat resmi pembahasan suatu RUU dilakukan tanpa dengan tujuan untuk setuju atau tidak setuju dengan sesuatu yang dibahas.

Tafsir yang demikian inilah yang juga dianut Pasal 1 angka 1 UU P3 yang berbunyi:

Pembentukan Peraturan Perundang-undangan adalah pembuatan peraturan perundang-undangan yang mencakup tahapan perencanaan, penyusunan, pembahasan, pengesahan, atau penetapan, dan pengundangan.

95. Berdasarkan rumusan tersebut jelas bahwa dalam pembentukan peraturan perundang-undangan, persetujuan bukanlah merupakan tahapan yang berdiri sendiri, melainkan embaded atau menjadi satu kesatuan dengan salah satu tahapan yang ada yaitu tahap pembahasan.

96. Dengan adanya ketentuan Pasal 22D ayat (2) UUD 1945 yang memberikan kewenangan konstitusional kepada Pemohon untuk ikut membahas RUU, maka berdasarkan penafsiran sistematis, dapat dimaknai bahwa ikut membahas yang dimaksud dalam Pasal 22D ayat (2) UUD 1945 adalah ikut dalam proses pembahasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (2) UUD 1945 yang dilakukan oleh DPR dan Presiden. Jadi sepanjang terjadi pembahasan RUU yang merupakan kewenangan Pemohon maka Pasal 20 ayat (2) UUD 1945 tidak bisa dibaca atau ditafsir berdiri sendiri namun harus merujuk pula pada Pasal 22D ayat (2) UUD 1945.

97. Idiom bijak yang terkenal dari orang Latin Kuno, yakni: summum ius, summa iniuria (hukum yang sempurna berarti pula sempurnanya ketidakadilan/keadilan tertinggi berarti pula ketidakadilan yang tertinggi) merupakan peringatan dalam kaitannya dengan pembentukan hukum yang meskipun dilakukan secara matang dan terencana pastilah tidak akan mungkin menghasilkan hukum yang sempurna. Dapat diduga, mereka sadar akan adanya potensi ketidakadilan yang inheren dalam rumusan hukum. 98. Menurut Gustav Radbruch, potensi terjadi hukum yang tidak sempurna itu

disebabkan adanya antinomi antar tiga cita hukum yaitu: keadilan, kepastian, dan kemanfaatan yang niscaya sukar untuk dikonkritkan dalam satu rumusan hukum. Belum lagi cacat bawaan hukum tersebut akibat dalam perumusan hukum terjadi pereduksian atas kebenaran dan kenyataan yang penuh. Dalam istilah Satjipto Rahardjo, hal ini dikarenakan merumuskan (dan menerapkan) hukum tidak lebih sebagai language game.

99. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah “mampukah bahasa mewadahi pikiran yang ingin disampaikan?” Menurut Satjipto Rahardjo, Tidak. Sebab, setiap kali suatu pikiran ingin dituangkan ke dalam kalimat, maka ia selalu mengalami risiko kegagalan. Artinya, selalu ada suasana dan makna yang tidak terwadahi dalam bahasa tulis. Dalam konteks merumuskan hukum yang tidak lebih sebagai language game ini, maka sangat tepat bunyi aksioma bahwa hukum (dalam arti peraturan perundang-undangan) itu adalah cacat sejak dilahirkan. Cacatnya adalah kegagalannya dalam merumuskan norma (yakni pencerminan kehendak masyarakat) yang merupakan suatu kebenaran yang sangat luas untuk dimasukkan dalam rumusan hukum yang serba sempit dan membatasi. (Anis Ibrahim; 2008: 510-12).

100. Dalam konteks inilah kewenangan konstitusional Pemohon yang termaktub dalam Pasal 22D ayat (2) UUD 1945 untuk “Ikut Membahas RUU” menjadi signifikan dalam rangka mengimbangi dan mengontrol (check an balances) kewenangan legislasi yang dimiliki DPR dan Presiden. Dengan adanya keberadaan Pemohon sebagai salah satu pihak dalam pembahasan RUU yang terkait dengan kewenangan Pemohon, maka diharapkan undang- undang yang lahir bukan merupakan bad law karena dihasilkan dari “... it is all Parliament’s fault”. Aturan hukum menjadi tumpukan hasil akhir dari proses legislasi yang tidak terpikirkan (unthinking law) oleh rakyat, karena berada di luar kepentingan dan tangkapan rasa kesadaran mereka. (Bonaventura de Sousa Santos; 1995: 51)

101. Dengan demikian, Pemohon harus ikut membahas untuk mendapat persetujuan bersama RUU dalam lingkup kewenangannya sebagaimana telah diamanatkan dalam Pasal 22D ayat (2) juncto Pasal 20 ayat (2) UUD 1945.

102. Namun lagi-lagi ketentuan-ketentuan dalam UU MD3 dan UU P3 bertentangan dengan Pasal 22D ayat (2) juncto Pasal 20 (2) UUD 1945 yang telah memberikan kewenangan Pemohon untuk “Ikut Membahas” RUU yang terkait dengan kewenangan Pemohon.

Pasal 71 huruf a, huruf d, huruf e, huruf f dan huruf g UU MD3 berbunyi:

a. membentuk Undang-Undang yang dibahas dengan Presiden untuk mendapat persetujuan bersama;

d. membahas Rancangan Undang-Undang sebagaimana dimaksud dalam huruf c yang diajukan oleh DPD berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah; bersama Presiden dan DPD sebelum diambil persetujuan bersama antara DPR dan Presiden;

e. membahas Rancangan Undang-Undang yang diajukan oleh Presiden atau DPR yang berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta perimbangan keuangan pusat dan daerah, dengan mengikutsertakan DPD sebelum diambil persetujuan bersama antara DPR dan Presiden; f. memperhatikan pertimbangan DPD atas Rancangan Undang-Undang

tentang APBN dan Rancangan Undang-Undang yang berkaitan dengan pajak, pendidikan, dan agama;

g. membahas bersama Presiden dengan memperhatikan pertimbangan DPD dan memberikan persetujuan atas Rancangan Undang-Undang tentang APBN yang diajukan oleh Presiden;

103. Selain itu, frasa “memperhatikan” dalam Pasal 71 huruf g UU MD3 juga bermakna amat bias karena tidak jelas dalam hal menerima atau menolak. Hal tersebut semakin mengaburkan esensi dari kehadiran Pemohon dalam proses pembahasan RUU yang terkait dengan kewenangannya.

104. Dengan demikian, ketentuan di dalam Pasal 154 ayat (5) UU MD3 seharusnya mengatur bahwa pimpinan DPR harus juga meneruskan perihal diterimanya pertimbangan Pemohon atas RUU dalam lingkup kewenangannya kepada alat kelengkapan Pemohon yang ditugaskan. Hal ini penting sebab selama ini tidak ada kejelasan dan tindak lanjut mengenai apakah pertimbangan Pemohon diterima atau ditolak oleh DPR.

Pasal 154 ayat (5) UU MD3:

Pada rapat paripurna berikutnya, pimpinan DPR memberitahukan kepada anggota DPR perihal diterimanya pertimbangan DPD atas rancangan

undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan meneruskannya kepada Badan Musyawarah untuk diteruskan kepada alat kelengkapan yang akan membahasnya.

105. Selanjutnya, dalam hal RUU tidak mendapat persetujuan bersama, Pasal 151 ayat (3) UU MD3 lagi-lagi hanya mengatur bahwa persetujuan tersebut hanya dilakukan antara DPR dan Presiden.

Pasal 151 ayat (3) UU MD3:

Dalam hal Rancangan Undang-Undang tidak mendapat persetujuan bersama antara DPR dan Presiden, Rancangan Undang-Undang tersebut tidak boleh diajukan lagi dalam persidangan DPR masa itu.

106. Begitu pula dengan rumusan dalam Pasal 70 ayat (1) dan ayat (2) UU P3 sebagai berikut:

(1) Rancangan Undang-Undang dapat ditarik kembali sebelum dibahas bersama oleh DPR dan Presiden.

(2) Rancangan Undang-Undang yang sedang dibahas hanya dapat ditarik kembali berdasarkan persetujuan bersama DPR dan Presiden.

107. Dalam hal ini lagi-lagi ketentuan-ketentuan dalam UU MD3 dan UU P3 tidak melibatkan Pemohon untuk Ikut Membahas RUU yang menjadi kewenangan Pemohon. Padahal kewenangan tersebut secara jelas telah diamanahkan oleh Pasal 22D ayat (2)junctoPasal 20 ayat (2) UUD 1945.

108. Hal tersebut ditambah lagi dengan ketentuan dalam Pasal 107 ayat (1) huruf c UU MD3 yang menegasikan pertimbangan Pemohon terhadap RUU tentang APBN, yang berbunyi sebagai berikut:

Badan Anggaran bertugas:

c. membahas Rancangan Undang-Undang tentang APBN bersama Presiden yang dapat diwakili oleh menteri dengan mengacu pada keputusan rapat kerja komisi dan Pemerintah mengenai alokasi anggaran untuk fungsi, program, dan kegiatan kementerian/lembaga; 109. Ketentuan tersebut jelas bertentangan dengan Pasal 22D ayat (2) UUD

1945 karena dalam pembahasan RUU APBN dengan Presiden tidak mempertimbangkan pertimbangan Pemohon.

B.2.5. Pasal 150 ayat (4) huruf a, Pasal 151 ayat (1) huruf a dan huruf b UU