• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pasal 2 Lingkup Standar Nasional Pendidikan meliputi:

f. Kebijakan Ekonomi

BAB 11 Pasal 2 Lingkup Standar Nasional Pendidikan meliputi:

a. Standar isi; b. Standar proses; c. Standar kompetensi lulusan; d.Standar pendidik dan tenaga kependidikan; e. Standar sarana dan prasarana; f. Standar pengelolaan; g. Standar pembiayaan; dan h. Standar penilaian pendidikan.

Peraturan pemerintah nomor 42 tahun 2009 tentang tunjangan profesi guru dan dosen, tunjangan khusus guru dan dosen, serta tunjangan kehor-matan guru besar

BAB 1 Pasal 1 Dalam peraturan pemerintah ini yang dimaksud dengan: Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, menga-jar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Periode 2004-2009 pemerintahan SBY-Kalla telah menetapkan sasaran pokok pembangunan lima tahun 2004-2009 sebagai berikut; menurunkan tingkat pengangguran terbuka dari 9,7 persen dari angkatan kerja (9,9 juta jiwa) di tahun 2004 menjadi 5,1 persen (5,7 jutajiwa) pada tahun 2009, men-gurangi tingkat kemiskinan dari 16,6 persen dari total penduduk (36,1 juta jiwa) menjadi 8,2 persen (18,8 juta jiwa) di tahun 2009, dan untuk menurunk-an tingkat pengjiwa) menjadi 8,2 persen (18,8 juta jiwa) di tahun 2009, dan untuk menurunk-anggurjiwa) menjadi 8,2 persen (18,8 juta jiwa) di tahun 2009, dan untuk menurunk-an djiwa) menjadi 8,2 persen (18,8 juta jiwa) di tahun 2009, dan untuk menurunk-an kemiskinjiwa) menjadi 8,2 persen (18,8 juta jiwa) di tahun 2009, dan untuk menurunk-an tersebut ditargetkjiwa) menjadi 8,2 persen (18,8 juta jiwa) di tahun 2009, dan untuk menurunk-an pertumbu-han ekonomi rata-rata 6,6 persen per tahun selama periode 2004-2009.

Pada masa pemerintahan SBY – Boediono (2009-2014), memiliki kara-kteristik pemerintahan yang berbeda dari masa pemrintahan sebelumnya,

Periode 2009-2014, SBY banyak melakukan perubahan kebijakan khususnya di bidang perekonomian antara lain adalah mengganti pola kebijakan per-ekonomian yang selama ini mengarah ke Amerika Serikat (arah ini sudah di anut sejak era Orba –sebut saja America’s Way), ke arah China (China’s Way). Satu hal yang paling menonjol dalam “China’s Way” adalah agresivitas yang dimulai dalam membangun infrastruktur dan serta langkah nyata dan kon-sisten tanpa pandang bulu dalam mencegah dan membasmi korupsi. SBY melakukan pembangunan berkelanjutan selama masanya menjabat sebagai presiden 2 kali berturut-turut.

Salah satu contoh pembangunan berkelanjutan tersebut adalah kebi-jakan subsidi BBM, pembentukan perumahan murah bagi rakyat yang akan menampung rakyat miskin yang hidup di kolom jembatan, juga golongan rakyat lain yang belum punya rumah layak, Kebijakan moratorium pengang- katan pegawai negeri sipil (PNS) daerah yang dijalankan dimaksudkan un-tuk mengoptimalkan pemanfaatan anggaran, di dalam Rencana Pembangu-nan Jangka Panjang (RPJP) Tahun 2005 – 2025 dalam konteks jangka panjang, pembangunaan perdesaan didorong keterkaitannya dengan pembangunan perkotaan secara sinergis dalam suatu wilayah pengembangan ekonomi.

Dari sisi program nasional, Presiden SBY mendorong pengembangan agroindustri padat pekerja di sektor pertanian dan kelautan, sebagaimana kebijakan dana Rp 100 juta per desa untuk program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP), program pertanian kawasan transmigrasi, maupun program pengembangan masyarakat pesisir dan kepulauan, serta reformasi agraria untuk meningkatkan akses lahan bagi petani desa.

SBY juga telah mendorong pengembangan jaringan infrastruktur pe-nunjang kegiatan produksi di kawasan perdesaan dan kota-kota kecil ter-dekat. Pengembangan itu didanai oleh Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Perdesaan maupun berbagai kegiatan sektoral dari Ke-menterian daerah, serta peningkatan kesehatan masyarakat.

H. PRAKTIK BLUSUKAN dan KEBIjAKAN jOKOWI

Kemenangan Jokowi bisa dikatakan tidaklah sespektakuler yang pernah dibayangkan orang sebelumnya. Meskipun begitu, kenyataannya dia sudah berhasil duduk sebagai orang nomor satu di republik ini. Jokowi terkenal

karena gaya blusukannya, berkeliling dari pemukiman ke kepemukiman lain, jalan-jalan tanah kampung, dan jalan berbatu-batu desa, hingga mele-wati gang-gang sempit dalam kota. Jokowi bertemu, mendengar dan melihat langsung keluhan, keinginan dan aspirasi warganya. Bahkan pengawasan mendadak langsung pada sejumlah bawahan, kelurahan, kecamatan sampai kantor walikota langsung didatangi. Gaya kerja seperti ini akhirnya dikenal dengan sebutan ‘blusukan’.

Blusukan berasal dari bahasa Jawa dialek Solo, berarti perjalanan ke tem-pat-tempat jauh. Sementara dalam bahasa Inggris, blusukan diterjemaah-kan sebagai visite impromtu (kunjungan bersifat spontan) ketika pers asing memberitakan Jokowi bersama Zuckerberg ke Tanah Abang. Sebenarnya ada perbedaan antara menyamar dan berkunjung. Walaupun keduanya dimak-sudkan untuk mengunjungi suatu tempat, tetapi identitas pelaku tidak dike-tahui oleh orang yang ditemuinya. Sedangkan blusukan, pelaku melaku-kannya untuk suatu tujuan tertentu, dalam hal ini sebagai cara pemimpin langsung menjumpai warganya untuk mengetahui persoalan-persoalan da-lam kehidupannya yang kemudian berkaitan atas kebijakan-kebijakan pe-merintahan.

Dalam bekerja, Jokowi punya cara tersendiri, selain blusukan, dia juga kerap makan siang sebagai bagian dari diplomasi atau lobi. Sambil makan siang Jokowi akan mendengarkan keluhan-keluhan dan keinginan-keingi-nan warganya. Berdiskusi dan bertukar pikiran tentang persoalan-persoalan yang dihadapi warga dan pemerintahan yang selanjutnya dikenal dengan ‘lobi makan siang’. Kesederhanaannya dan cara berpakaian, cara bertutur sampai cara mengambil keputusan.

Pemimpin yang langsung menerima, merasakan, melihat dan menden-gar kebutuhan masyarakat. Dari lapangan masalah muncul, dari sana pula keputusan diambil. “Tinggal, eksekusinya saja,“ demikian Jokowi menge-mukakan ketika masih menjabat gubernur DKI Jakarta.

Penguasaan lapangan dan praktik langsung di lapangan, langsung penye-lesaiannya di lapangan. Pelayanan aparatur pemerintahan ditujukan untuk kejahteraan warga masyarakat. Kini pelayanan diperluas sebagai “pemer-intahan yang saya pimpin akan bekerja untuk memastikan setiap rakyat di

seluruh pelosok tanah air, merasakan kehadiran pelayanan pemerintahan,” pidato pelantikan presiden “Di bawah Kehendak Rakyat dan Konstitusi.”

I. DARI CERITA RAKYAT SAMPAI BERITA NYATA

Dikisahkan, apa yang dilakukan Jokowi bukanlah yang pertama dilaku-kan oleh para pemimpin. Beberapa pemimpin lain juga melakuDikisahkan, apa yang dilakukan Jokowi bukanlah yang pertama dilaku-kan hal yang sama, bedanya hanyalah pada waktu itu tidak dikuntit oleh para wartawan media cetak dan elektronik. Kita harus menyadari bahwa sekarang adalah era paskaindustri/era informasi.

Dalam arti, informasi menjadi komoditas yang bernilai ekonomi dan Jokowi melipatgandakan peristiwa blusukan para pemimpin lain. Bahkan seorang Soeharto terkenal dengan Kelompecapir (kelompok pendengar pembicara dan pemirsa). Pada era Soeharto para petani dan nelayan (kelom- pok yang sering mengikuti acara ini) akan bertanyajawab dengan Pak Presi-den. Keluhan-keluhan dan keinginan disampaikan langsung kepada Bapak Pembangunan.

Beberapa acara menggunakan “teleconfference” (pertemuan jarak jauh dengan media tv terhubung secara langsung dan pembicaraan dengan tele-pon) pada tahun 1980-an. Walaupun demikian, protokoler, jadwal dan isi acara secara detail telah disusun dan direncanakan sebelumnya. Kegiatan acara berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain, dari satu kelompok tani nelayan ke kelompok tani nelayan masyarakat yang lain, dari tema ke tema lain. Tentunya dengan maksud dan keperluan yang berbeda. Pada era ini Indonesia mencapai swasembada pangan.

Soekarno bahkan lebih tegas menyebut dirinya sebagai penyambung lidah rakyat. Banyak cerita tentang aksi blusukan Soekarno. Sri Sultan Hamengkubuwono IX, lebih khas lagi, karena dia sambil melakukan penya-maran dan cerita tersebut diteruskan secara lisan dari generasi ke generasi di Yogyakarta.

Dalam sejarah Islam, Umar bin Khattab R.A. juga melakukan kunjungan langsung kepada rakyat. Kisah terkenalnya adalah beliau dengan Nenek Tua dan Ibu dengan Anak yang Menangis. Dalam kisah-kisah raja juga adanya yang menyamar menjadi rakyat jelata dengan maksud yang sama. Kisah

Abunawas dan baginda Harun Al Rasyid (Seribu Satu Malam) juga mengi-sahkan hal serupa. Bagaimana sang Baginda yang diakali oleh Abunawas sehingga ia terpaksa menyamar menjadi rakyat jelata. Oleh karenanya, dapat berinteraksi dengan warga sehingga dapat langsung mendengar dan melihat langsung.

Raja Abdullah dari Amman Yordania, melakukan penyamaran sebagai wartawan media cetak. Ia ingin mengetahui perilaku birokratnya dan apa yang dipikirkan rakyatnya terhadap birokrat. Beberapa kisah raja-raja yang menyamar untuk berbagai keperluan dan maksud tujuan. Dikisahkan dalam banyak cerita rakyat mengenai raja-raja yang langsung mendengar dan meli-hat kondisi rakyatnya. Raja atau pangeran yang harus melepaskan pakaian kebesaran diganti dengan pakaian orang biasa dengan pakaian biasa seba-gaimana rakyat memakainya. Kesetaraan berpakaian ini membuat raja tidak lagi dikenali. Sehingga rakyat dapat berbicara apa saja tanpa rasa sungkan dan rasa takut, ketika ditemuinya. Cerita rakyat mengandung pesan moral dan nilai yang menjadi panduan berperilaku.