• Tidak ada hasil yang ditemukan

SBY YANG PRO-POOR, PRO-jOB, PRO GROWTH, dan PRO ENVIRONMENT

Kondisi Sosial

D. SBY YANG PRO-POOR, PRO-jOB, PRO GROWTH, dan PRO ENVIRONMENT

Selanjutnya pada masa kepemimpinan presiden Susilo Bambang Yud-hoyono (SBY), dikeluarkan beberapa kebijakan yang cukup kontroversial. Di antaranya mengurangi subsidi anggaran dana BBM yang disebabkan karena

harga minyak dunia yang mengalami kenaikan dan selanjutya dana subsi-di tersebut subsi-dialihkan kepada sektor lain seperti kesehatan dan pensubsi-disubsi-dikan, serta bidang-bidang lain yang mendukung kesejahteraan masyarakat. Kebi-jakan kontroversial pertama kemudian melahirkan kebijakan kontroversial kedua yakni BLT (Bantuan Langsung Tunai) yang memberikan uang lang-sung kepada rakyat miskin. Meski menyenangkan masyarakat miskin secara langsung, toh kebijakan ini dilnilai sebagian kalangan sebagai kebijakan yang tidak efektif karena banyak rakyat miskin yang tidak tersalurkan dana kebijakan ini, selain itu juga kebijakan ini menimbulkan berbagai masalah sosial.

Dalam upaya peningkatan pendapatan perkapita, pada masa kepemimpi- nan Presiden SBY mengundang investor untuk hadir di Indonesia yang selan-jutnya memberikan janji untuk dapat memperbaiki iklim investasi yang ada di Indonesia. Usaha ini dilaksanakan dengan salah satu contoh diadakannya Indonesian Infrastructure Summit pada bulan November 2006 yang mem-pertemukan para investor dengan kepala-kepala daerah. Hal ini diharapkan bisa memberikan pengarahan yang baik kepada kepala-kepala daerah untuk dapat mengerti dan memahami dunia investasi sehingga bisa melakukan hal yang sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat.

Menurut Keynes, investasi merupakan faktor utama untuk menentukan kesempatan kerja. Mungkin inilah yang mendasari kebijakan pemerintah yang ditujukan untuk memberi kemudahan bagi investor, terutama inves-tor asing yang salah satunya adalah revisi undang-undang ketenagakerjaan. Jika semakin banyak investasi asing di Indonesia, diharapkan jumlah kes-empatan kerja juga akan bertambah. Pada pertengahan bulan Oktober 2006 , Indonesia melunasi seluruh sisa utang pada IMF sebesar 3,2 miliar dolar AS. Dengan ini, maka diharapkan Indonesia tak lagi mengikuti agenda-agenda IMF dalam menentukan kebijakan dalam negeri.

Bukan hanya itu, pada periode ini pemerintah juga melaksanakan bebera-pa program baru yang dimaksudkan untuk membantu ekonomi masyarakat kecil di antaranya PNPM Mandiri dan Jamkesmas. Pada praktiknya, pro-gram-program ini berjalan sesuai dengan yang ditargetkan meskipun masih banyak kekurangan disana-sini. Pada pertengahan bulan Oktober 2006, In-donesia melunasi seluruh sisa utang pada IMF sebesar 3,2 miliar dolar AS.

Dengan ini, maka diharapkan Indonesia tak lagi mengikuti agenda-agenda IMF dalam menentukan kebijakan dalam negeri. Namun wacana untuk ber-hutang lagi pada luar negeri kembali mencuat, setelah keluarnya laporan bahwa kesenjangan ekonomi antara penduduk kaya dan miskin semakin menajam dan jumlah penduduk miskin meningkat dari 35,10 jiwa di bulan Februari 2005 menjadi 39,05 juta jiwa pada bulan Maret 2006.

Hal ini disebabkan karena beberapa hal, antara lain karena pengucuran kredit perbankan ke sector riil masih sangat kurang (perbankan lebih suka menyimpan dana di SBI), sehingga kinerja sektor riil kurang dan berimbas pada turunnya investasi.

Selain itu, birokrasi pemerintahan terlalu kental, sehingga menyebabkan kecilnya realisasi belanja negara dan daya serap, karena inefisiensi pengelo-laan anggaran. Jadi, di satu sisi pemerintah berupaya mengundang inves-tor dari luar negeri, tapi di lain pihak, kondisi dalam negeri masih kurang kondusif.

Kapabilitas sistem politik dapat diartikan sebagai kemampuan sistem politik yang dapat digunakan untuk mematangkan pembangunan politik di suatu negara. Menurut Almond keamampuan sistem politik terhadap kapa-bilitas sistem politik pada umumnya terdiri atas kemampuan regulatif, ek-straktif, distributif, simbolis, dan responsif. Sejak era orde lama, orde baru, hingga era reformasi bisa kita lihat bagaimana kemampuan sistem politik era pemerintahan SBY dengan menggunakan teori Almond sebagai berikut:

Kemampuan ekstraktif merupakan kemampuan mengelola sumber-sum-ber material dan manusia dari lingkungan dalam maupun luar. Eksploitasi terhadap hasil sumber daya alam indonesia sebenarnya telah lama di laku-kan oleh negara luar yaitu perjanjian antara pemerintah Indonesia dengan PT. Freeport di tanah Papua hasil dari kekayaan alam tersebut diangkut tiap hari oleh kaum kapitalis seperti emas, timah, logam, uranium, dan lain-lain dalam jumlah besar.

Kemampuan regulatif adalah kemampuan mengontrol, mengendalikan perilaku individu atau kelompok dalam sistem politik. Kemampuan Sistem Politik dalam mengontrol perilaku-perilaku individu atau kelompok pada

era SBY memang tidak bisa mengatakan sepenuhnya buruk karena para in-dividu atau kelompok telah dicoba untuk diberantas, tetapi pada sisi lain individu atau kelompok yang mampu mengganggu kestabilan negara kian hari makin marak bersemi.

Kemampuan distributive, kemampuan mengalokasikan berbagai jenis barang, jasa, kehormatan, status dan kesempatan. Pada era SBY sebenarnya dana alokasi untuk didistribusikan kepada rakyat sudah cukup banyak na-mun akibat lemahnya pengawasan yang dilakukan oleh pemerintah, dana alokasi tersebut tidak sampai sasaran, tapi berhenti pada kantong celana ok- num elit yang tidak bertanggungjawab (koruptor). Contoh kecilnya, keterse-diaan gedung sekolah dan kesehatan bagi masyarakat serta tenaga pengajar dan medis.

Kemampuan simbolis adalah kemampuan untuk membangun pencitraan terhadap kepala negara atau juga rasa bangga terhadap negaranya.

Misalnya adalah lagu-lagu nasional, upacara-upacara, penegasan nilai- nilai yang dimiliki, ataupun pernyataan-pernyataan khas sistem politik. Sim-bol adalah representasi kenyataan dalam bahasa ataupun wujud sederhana dan dapat dipahami oleh setiap warga negara.

Dalam konteks kekinian, sistem politik di indonesia saat ini tidak mela-hirkan pemimpin yang memiliki jiwa kemimpinan, karismatik dan relegius. Seperti kita ketahui sosok pemimpin seperti Ir. Soekarno, yang karismatik dan Gusdur sebagai tokoh agama.

Kemampuan responsive, tanggap tidaknya terhadap tuntutan atau teka-nan sistem politik dalam daya tanggap terhadap masyarakat.

Seperti halnya, Reformasi yang telah melahirkan demokrasi namun be-lum juga mensejahterakan bangsa ini. Demokrasi sebagai sistem politik era pemerintah SBY hanya sebatas prosedural semata. Lemahnya respon pemer-intah terhdap keluhan rakyat ternyata bukan hanya dalam negeri saja tetapi juga di luar negeri.

Domestik dan internasional adalah kemampuan yang dimiliki pemerin-tah dalah hal bagaimana ia berinteraksi dilingkungan domestik maupun luar negeri. Dalam konteks kontemporer kemampuan domestik sistem politik

masih lemah sehingga relasi antara pemerintah dan masyarakat kurang har-monis, hal ini tergambar dari berbagai aksi ketidakpercayaan publik terh-adap kinerja pemerintah selama ini. (Sumber: Astari Prananingrum blog)