• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pasar Seloso: Geliat Ekonomi Masyarakat Desa

GAMBARAN UMUM DAN PEMBANGUNAN DESA KASUS

3.7. Potret Kehidupan Masyarakat Desa

3.7.2. Pasar Seloso: Geliat Ekonomi Masyarakat Desa

Hari yang dinanti-nanti oleh masyarakat Desa Loh Sumber terutama mereka yang berprofesi sebagai petani dan pedagang adalah Selasa (dalam bahasa lokal: Seloso). Pada hari itu merupakan hari pasaran masyarakat Desa Loh Sumber yang juga diikuti oleh desa-desa lain yang ada di Kecamatan Loa Kulu seperti Desa Sungai Payang, Rempanga, Ponoragan, dan Loa Kulu Kota.

Pasar Seloso bukanlah pasar yang dibentuk oleh pemerintah, melainkan pasar yang diinisiasi oleh masyarakat sendiri. Lokasi pasar ini berada di perbatasan antara Desa Loh Sumber dengan Desa Loa Kulu Kota. Sebenarnya sudah ada bangunan pasar yang dibangun oleh Pemerintah Kecamatan Loa Kulu di Desa Loa Kulu Kota dan pasar ini bernama pasar Loa Kulu, yang kegiatannya pun berlangsung setiap hari dari Senin sampai Minggu.

Pengaruh kepercayaan dino peruntungan dan dino apes mendasari bahwa di hari Seloso merupakan hari peruntungan bagi masyarakat dalam melakukan kegiatan perdagangan di pasar. Maka disepakatilah secara kolektif bahwa hari Seloso sebagai hari pasaran dan nama pasarnya pun disebut sebagai Pasar Seloso.

Bangunan pasar yang sempit, kurang nyaman, dan terkesan formal, membuat pedagang tumpah ruah ke jalan raya.

Kesibukan di pasar ini dimulai semenjak pukul 03.00 WITA (dini hari) dimana para pedagang di pasar tersebut sudah sibuk bersiap-siap untuk berdagang

dengan memasang terpal, menyusun barang dagangan, dan ada pula yang sibuk menukar ”uang besar” (Rp. 100.000 atau 50.000) dengan uang recehan Rp. 500 atau Rp. 1.000. Jikalau kesibukan di Pasar Seloso sudah dimulai semenjak Pukul 03.00 WITA pada Selasa dini hari, maka jauh sebelum itu (satu hari sebelumnya) tepatnya hari Senin, kesibukan sebenarnya telah dimulai mulai dari mengumpulkan, mensortir, dan diakhiri dengan proses pengepakan barang-barang yang akan didagangkan.

Tahap pengumpulan, pedagang seperti Mbak Sum (34 tahun) telah

mengumpulkan barang dagangan yang berasal dari para petani di Desa Loh Sumber sehari sebelumnya untuk kemudian di jual di Pasar Seloso. Sistem ini yang disebut sebagai kulakan, dimana pedagang telah memiliki jaringan kerjasama dengan petani (produsen) atas dasar kepercayaan (trust), sehingga pedagang tidak harus mempersiapkan modal untuk membeli barang dagangan.

Sisi lain, petani tidak harus direpotkan untuk menjual hasil panennya seperti sayur, buah-buahan, dan beras secara sendiri-sendiri ke pasar. Disinilah peran Mbak Sum sebagai pedagang yang berfungsi menjadi jembatan penghubung antara petani dan pasar. Proses kolektif dalam menjual barang dagangan ini mampu menghemat biaya transportasi. Proporsi pembagian hasil tidak dirumuskan secara baku dalam sistem kulakan ini, semuanya serba tergantung dari kesepakatan antara petani dan pedagang yang membawa hasil-hasil pertanian para petani. Misalnya satu ikat Sawi dari petani diberi harga Rp. 350,- maka nantinya Mbak Sum akan menjualnya seharga Rp. 500,-.

Tahap pensortiran, setelah mengumpulkan barang-barang dagangan dari

beberapa petani, maka langkah selanjutnya adalah mensortir barang dagangan.

Kelompok sayuran akan dikelompokkan bersama-sama dengan sayuran yang lainnya dalam satu keranjang besar yang telah disiapkan. Begitu pula dengan buah-buahan dan umbi-umbian disortir dan dikelompokkan berdasarkan jenisnya. Proses pensortiran tidaklah terbatas pada pengelompokkan saja, pada tahap ini dilakukan proses pembersihan (penyiangan).

Tahap pengepakan, barang-barang dagangan yang sudah disortir

kemudian dibungkus (packing) dengan baik sesuai dengan jenisnya. Misalnya sayur akan diikat dengan menggunakan karet, umbi-umbian dibungkus dengan plastik, daun pisang atau daun ketapang. Bahkan dalam tahap ini Mbak Sum memodifikasi barang dagangan dengan membuat paket-paket sayur yang siap masak. Misalnya paket sop-sopan dalam satu plastik diisi dengan kentang, wortel, kubis, buncis, daun bawang, dan daun sledri. Paket lodeh dalam satu plastik diisi dengan kacang panjang, nangka muda (yang telah diiris seukuran dadu), jagung muda, dan kelapa (untuk santannya). Setelah semua tahap selesai, maka langkah selanjutnya adalah menaruh barang-barang dagangan ke mobil, dalam menjalankan profesinya Mbak Sum bermodalkan satu buah mobil pick-up (masyarakat lokal menyebutnya mobil datsun; mungkin karena mereknya Daihatsu).

Karena kesibukan di pasar sudah dimulai pada pukul 03.00 WITA Selasa dini hari, maka kesibukan di rumah Mbak Sum pun telah dimulai pada pukul 01.00 WITA dengan mempersiapkan mobil datsun yang akan membawa barang dagangan ke pasar. Dinginnya udara malam menjadi teman akrab bagi Mbak Sum dan para pedagang yang akan berangkat ke pasar. Kegiatan perdagangan di Pasar Seloso berlangsung dari pukul 03.00-15.00 WITA. Sepulangnya dari pasar, selain

membawa uang tunai hasil penjualan yang siap untuk dibagi kepada para petani yang memiliki barang dagangan, Mbak Sum juga membawa barang-barang belanjaan yang dibutuhkan untuk keperluan rumah tangga pangan dan sandang atau barang titipan petani yaitu berupa pupuk dan benih.

Di Pasar Seloso, konsumen dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu bakul ider, bakul kulak dan konsumen murni. Bakul ider adalah konsumen yang

membeli barang untuk di jual kembali pada waktu itu juga. Biasanya bakul ider merupakan pembeli pertama saat pasar ini mulai aktif pukul 03.00 WITA, mereka adalah tukang sayur keliling yang berasal dari berbagai daerah kota seperti Tenggarong, Loa Janan, Loa Duri bahkan Samarinda. Alasan mereka untuk berbelanja di pasar ini karena harganya miring, sehingga ketika dijual kembali maka untungnya lebih besar. Barang-barang yang dibeli merupakan barang-barang yang sifatnya tahan sehari seperti sayur, buah, daging ayam/ikan/sapi, dan umbi-umbian.

Bakul kulak, sama seperti bakul ider yaitu membeli barang untuk dijual

kembali. Namun perbedaannya terletak pada cara dan tempat menjualnya. Jika bakul ider adalah tukang sayur keliling yang menjual barang dagangan (yang

hanya terbatas pada sayuran, buah-buahan, umbi-umbian) dengan menggunakan sepeda motor saja. Maka bakul ider membeli barang untuk dijual kembali dalam skala besar dan sudah memiliki kios permanen sebagai tempat menjualnya.

Barang-barang yang dibeli oleh bakul kulak sangat beragam, selain sayuran, buah-buahan, umbi-umbian, juga kebutuhan pangan lainnya (sembako) seperti gula, tepung, minyak goreng, kecap, beras, rokok, dan ada pula kebutuhan

sandang seperti sandal, baju, celana dan kain-kain, serta ada kebutuhan papan seperti paku, kabel listrik, pipa air, selang, dan lampu dop.

Sedangkan Konsumen Murni adalah mereka yang membeli barang untuk dikonsumsi sendiri atau bersama anggota keluarga. Rata-rata konsumen murni yang berbelanja di Pasar Seloso adalah perempuan (ibu-ibu) yang membeli barang kebutuhan dapur.