DIALEKTIKA PEMBANGUNAN DESA, OTONOMI DAERAH DAN KEMISKINAN
(Kasus Desa Loh Sumber, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Propinsi Kalimantan Timur)
Oleh:
BAYU EKA YULIAN A14204037
PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008
DIALEKTIKA PEMBANGUNAN DESA, OTONOMI DAERAH DAN KEMISKINAN
(Kasus Desa Loh Sumber, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Propinsi Kalimantan Timur)
Oleh:
BAYU EKA YULIAN A14204037
Skripsi
Sebagai Bagian Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian
Pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor
PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008
PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi oleh:
Nama Mahasiswa : Bayu Eka Yulian Nomor Pokok : A14204037
Judul : Dialektika Pembangunan Desa, Otonomi Daerah dan Kemiskinan (Kasus Desa Loh Sumber, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Propinsi Kalimantan Timur).
Dapat diterima sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Program Studi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Menyetujui, Dosen Pembimbing
Ir. Ivanovich Agusta, M.Si NIP: 132 158 767
Diketahui, Dekan Fakultas Pertanian
Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M.Agr NIP: 131 124 019
Tanggal Lulus Ujian:
PERNYATAAN
DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI BERJUDUL DIALEKTIKA PEMBANGUNAN DESA, OTONOMI DAERAH DAN KEMISKINAN (KASUS DESA LOH SUMBER, KECAMATAN LOA KULU, KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA, PROPINSI KALIMANTAN TIMUR) ADALAH HASIL KARYA SAYA SENDIRI DENGAN ARAHAN DOSEN PEMBIMBING DAN BELUM PERNAH DIAJUKAN PADA PERGURUAN TINGGI MANAPUN ATAU LEMBAGA AKADEMIK LAIN UNTUK TUJUAN MEMPEROLEH GELAR AKADEMIK TERTENTU. BAHAN RUJUKAN BERASAL ATAU DIKUTIP DARI KARYA YANG DITERBITKAN ATAUPUN YANG TIDAK DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN SEBAGAI BAHAN RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH SKRIPSI.
Bogor, 31 Juli 2008 Penulis,
Bayu Eka Yulian NRP: A14204037
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI ... xii
DAFTAR TABEL ... xv
DAFTAR GAMBAR ... xvii
DAFTAR LAMPIRAN ... xviii
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Dialektika Teoritis ... 5
1.2.1. Kontestasi Pembangunan Desa ... 5
1.2.2.1. Genealogi Pembangunan ... 5
1.2.1.2. Paradigma Pembangunan ... 9
1.2.1.3. Masalah-masalah Pembangunan di Indonesia ... 14
1.2.2. Otonomi Daerah: Perdebatan Desentralisasi... 18
1.2.3. Kemiskinan ... 22
1.2.3.1. Taksonomi Kemiskinan: Kultural dan Struktural ... 22
1.2.3.2. Menakar Kemiskinan: Absolut dan Relatif ... 23
1.2.3.3. Perangkap Kemiskinan Pedesaan: Jebakan Perkotaan.. 25
1.3. Dialektika Praksis ... 28
1.3.1. Politik Pembangunan dan Otonomi Daerah ... 28
1.3.2. Anatomi Kemiskinan Pedesaan ... 35
1.3.3. Penanggulangan Kemiskinan di Kabupaten Kutai Kartanegara .. 38
1.4. Kerangka Analisis ... 39
1.5. Perumusan Masalah Penelitian ... 43
1.6. Tujuan Penelitian ... 44
BAB II METODOLOGI PENELITIAN
2.1. Paradigma dan Metode Penelitian ... 45
2.2. Penguatan Filosofis Kualitatif: Kritik Kuantitatif ... 46
2.3. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 48
2.4. Teknik Pengumpulan Data ... 49
2.5. Teknik Analisis Data ... 52
2.6. Bias Penelitian: Pribadi hingga Masalah Struktural Beasiswa ... 53
BAB III GAMBARAN UMUM DAN PEMBANGUNAN DESA KASUS 3.1. Sejarah Desa Loh Sumber ... 55
3.2. Kondisi Geografis ... 57
3.3. Kependudukan dan Mata Pencaharian ... 59
3.4. Mobilitas Penduduk ... 63
3.5. Infrastruktur Desa ... 66
3.6. Pemerintahan Desa ... 70
3.7. Potret Kehidupan Masyarakat Desa ... 75
3.7.1. Religi dan Sosio-Budaya Masyarakat Desa ... 75
3.7.2. Pasar Seloso: Geliat Ekonomi Masyarakat Desa ... 78
3.7.3. Modernisasi Gaya Hidup ... 82
BAB IV KONSTRUKSI KEMISKINAN LOKAL 4.1. Sejarah Kemiskinan Lokal Sebagai Kemiskinan Struktural ... 86
4.2. Posisi Kemiskinan Desa Kasus ... 89
4.3. Arti dan Indikator Kemiskinan di Tingkat Lokal Versi Pemerintah Daerah ... 91
4.4. Merekonstruksi Ulang Arti dan Indikator Kemiskinan Lokal ... 96
4.5. Fenomena Kemiskinan dan Rokok ... 102
BAB V MENANGGULANGI KEMISKINAN PEDESAAN DI ERA OTONOMI DAERAH 5.1. Landasan Filosofis Pembangunan Desa di Kutai Kartanegara ... 104
5.2. Gerakan Desa Dua Milyar: Uang Pembangunan dan Isyu Pemekaran Desa ... 111
5.3. Penanggulangan Kemiskinan di Desa Kasus ... 116
5.3.1. Pemerintah Daerah: Santunan Warga Tidak Mampu (SWTM) ... 116
5.3.2. Pemerintah Pusat: Bantuan Langsung Tunai (BLT) ... 119
5.3.2.1. Menelusuri Jejak Program BLT ... 119
5.3.2.2. Realita BLT tahun 2008 ... 120
5.4. Kritik Program Penanggulangan Kemiskinan Desa Kasus ... 123
5.5. Jalan Keluar Dari Kemiskinan Pedesaan: Distribusi Kesejahteraan ... 126
BAB VI PENUTUP 8.1. Kesimpulan ... 129
8.2. Saran... 133
DAFTAR PUSTAKA ... 135
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Nomor Teks Halaman
1. Sumber Dana Pembangunan Kab. Kutai Kartanegara
tahun 2000-2004 ... 4
2. Paradigma Pembangunan Setelah tahun 2000 ... 12
3. Enam Masalah Kunci Pembangunan di Indonesia ... 17
4. Perbedaan dalam Menakar Kemiskinan ... 25
5. Perjalanan Praksis Politik Pembangunan dan Desentralisasi di Indonesia ... 34
6. Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Indonesia tahun 1976-2007 ... 36
7. Asumsi Dasar Pendekatan Kualitatif ... 47
8. Jumlah Penduduk Desa Loh Sumber menurut Agama ... 60
9. Jumlah Penduduk Desa Loh Sumber menurut Kelompok Usia... 61
10. Jumlah Penduduk Desa Loh Sumber yang Bekerja ... 62
11. Jumlah Penduduk Desa Loh Sumber yang telah Mengenyam Pendidikan ... 63
12. Jumlah Alat Transportasi di Desa Loh Sumber ... 64
13. Jumlah Mobilitas Penduduk Desa Loh Sumber tahun 2007 ... 65
14. Jumlah Sarana Publik di Desa Loh Sumber ... 69
15. Nama-nama Kepala Dusun dan Ketua RT Desa Loh Sumber ... 72
16. Jumlah Penduduk Miskin per Desa di Kecamatan Loa Kulu tahun 2006 ... 89
17. Jumlah Rumah Tangga Miskin per Desa di Kecamatan Loa Kulu
tahun 2006 ... 90 18. Mobiltas Sosial Masyarakat Desa Loh Sumber RT XI ... 101 19. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Mobilitas Sosial Rumah Tangga ... 102 20. Jenis Pengeluaran Rumah Tangga Miskin Desa dan Persentasenya
tahun 2002 ... 103 21. Persamaan dan Perbedaan Program SWTM dan BLT tahun 2008 ... 124
DAFTAR GAMBAR
Nomor Teks Halaman
1. Sejarah Pembangunan Desa di Indonesia ... 8
2. Model Perkembangan Desentralisasi ... 20
3. Lingkaran Setan Perangkap Kemiskinan di Pedesaan ... 26
4. Kurva Jumlah Penduduk Miskin di Indonesia tahun 1976-2007 ... 37
5. Kurva Persentase Penduduk Miskin di Indonesia tahun 1976-2007... 37
6 Dialektika Pembangunan Desa, Otonomi Daerah dan Kemiskinan Desa 40 7. Kerangka Analisis ... 42
8. Proses Berpikir Dialektika Hegelian: Roh Absolut (Rasional) ... 45
9. Struktur Pemerintahan Desa Loh Sumber ... 74
10. Tangga Kehidupan: Anak Tangga Kesejahteraan dan Kemiskinan Masyarakat Desa Loh Sumber ... 98
11. Peralihan Gerbang Dayaku Tahap I menjadi Tahap II ... 108
12. Konsepsi Gerbang Dayaku Tahap II ... 110
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman
1. Perbandingan UU No. 57/1979, UU No. 22/1999
dan UU No/32/2004 ... 140
2. Peta Lokasi Penelitian ... 143
3. Waktu Penelitian ... 145
4. Kebutuhan Data dalam Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data ... 146
5. Hasil Musrenbangdes tahun 2007 ... 150
6. Perda Kab . Kutai Kartanegara No. 2/2007 ... 153
7. Pasal 18 dan 22 UUD 1945 (hasil amandemen) ... 166
8. Panduan Pertanyaan Penelitian ... 167
9. Daftar Penerima BLT Desa Loh Sumber tahun 2008 ... 171
10. Surat Ijin Melakukan Penelitian di Desa Loh Sumber ... 179
11. Foto-foto Hasil Turun Lapang ... 180
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur sedalam-dalamnya dipanjatkan kapada Allah SWT, karena berkat rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan Skripsi dengan Judul
“Dialektika Pembangunan Desa, Otonomi Daerah dan Kemiskinan (Kasus Desa Loh Sumber, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Propinsi Kalimantan Timur)”. Skripsi ini ditulis untuk memenuhi persyaratan dalam memperoleh gelar Sarjana Pertanian, pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.
Adapun inti dari isi skripsi ini yaitu memberikan kritik terhadap pembangunan di Indonesia yang bias kota, dan sekaligus melihat fenomena kemiskinan pedesaan di era otonomi daerah. Jelaslah bahwa penulis berposisi untuk menolak pembangunan (post development).
Penulis menyadari “tak ada gading yang tak retak”, bahwa dalam proses penulisan walaupun berposisi untuk mengkritik pembangunan, penulis juga manusia biasa yang memiliki keterbatasan, kekurangan dan kelalaian. Oleh karena itu kritik dan saran serta penguatan teoritis dari berbagai pihak sangat diharapkan untuk melakukan proses penyempurnaan. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi pihak-pihak yang bertalian dengan studi pembangunan dan kemiskinan di Indonesia. Terimakasih atas kerjasamanya.
Bogor, 31 Juli 2008 Penulis,
Bayu Eka Yulian NRP: A14204037
RINGKASAN
BAYU EKA YULIAN. Dialektika Pembangunan Desa, Otonomi Daerah dan Kemiskinan (Kasus Desa Loh Sumber, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Propinsi Kalimantan Timur). Di bawah bimbingan IVANOVICH AGUSTA.
Pembangunan yang dilaksanakan di Indonesia hanya sebuah drama teatrikal yang berpanggungkan kehidupan rakyat. Suatu hal yang aneh terjadi dalam pembangunan, dimana pembangunan secara ideal merupakan suatu proses yang akan membuat keadaan masyarakat menjadi lebih baik (progresif), akan tetapi justru di dalam ”tubuh” pembangunan itu sendiri terdapat kemiskinan dalam jumlah besar yang terjadi di pedesaan (data BPS, tahun 2007 jumlah penduduk miskin di pedesaan sebesar 63,52%, artinya lebih dari separuh penduduk miskin bermukim di desa). Ada yang salah dengan pembangunan di Indonesia, dimana bias kota yang terjadi dalam pembangunan membuat kota menjadi kue ekonomi.
Posisi desa menjadi pihak yang berada dalam pesakitan, dan dituduh sebagai penyebab dari permasalahan yang terjadi di kota, diantaranya kekumuhan, kemacetan, kepadatan penduduk, dan kriminalitas akibat dari adanya urbanisasi.
Sebenarnya, baik kota maupun desa merupakan korban dari ketimpangan pembangunan yang terjadi di Indonesia. Dikotomi desa-kota menjadikan desa sebagai anak tiri pembangunan dan kota sebagai anak emas pembangunan, sehingga suatu hal yang wajar jika kota menjadi pusat pembangunan dan diserbu oleh masyarakat desa (urbanisasi) yang menginginkan kue ekonomi di kota.
Pembangunan di satu sisi menciptakan keberhasilan di perkotaan, namun di sisi yang lain kemiskinan di pedesaan menjadi pecut bagi pembangunan. Kemiskinan
di pedesaan jelaslah menjadi perkara struktural akibat dari ketimpangan yang terjadi dalam pembangunan di Indonesia.
Semenjak lahirnya UU No. 22/1999 tentang pemerintahan daerah, bandul pemerintahan yang tadinya sentralistik (UU No. 5/1979) berayun ke desentralistik.
Belum genap lima tahun UU No. 22/1999 diterapkan di Indonesia, atas nama nasionalisme maka kritik terhadap UU No. 22/1999 dilontarkan dengan alasan akan membahayakan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kemudian diganti dengan UU No. 32/2004 tentang pemerintahan daerah, yang terkesan mengembalikan sentralisasi. Kabupaten/kota menjadi locus dari pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia, sedangkan pemerintahan desa masih berada di bawah ”bayang-bayang” kabupaten/kota. Otonomi daerah (dengan konsep desentralisasi) yang terjadi adalah hanya memindahkan sentralisasi dari pemerintah pusat ke pemerintah kabupaten/kota.
Pembangunan pedesaan menjadi sebuah domain politik bagi kabupaten/kota. Pergeseran domain politik ke tingkat kabupaten/kota terkadang menimbulkan ketegangan dengan pemerintah pusat karena kebijakan daerah tidak sejalan dengan peraturan yang lebih tinggi atau mengancam kepentingan nasional.
Instruksi vertikal dan koordinasi horisontal sering terganggu, karena kabupaten sebagai daerah otonom merasa tidak memiliki keterkaitan struktural dengan provinsi sebagai perpanjangan tangan dari pemerintah pusat.
Kasus program pembangunan di desa penelitian, menunjukkan bahwa pemerintah baik pusat maupun daerah, seakan-akan berusaha mencoretkan ”tinta”
pembangunan di tubuh masyarakat desa. Jelas di sini pembangunan membawa budaya sendiri yang belum tentu inheren dengan budaya masyarakat pedesaan.
Program penanggulangan kemiskinan yang diterapkan di desa seharusnya dirumuskan secara partisipasif dan demokratis bersama dengan masyarakat desa, bukan malah sebaliknya tiba-tiba masyarakat desa diwajibkan untuk menerima dengan begitu saja program penanggulangan kemiskinan seperti Santunan Warga Tidak Mampu (SWTM) yang digagas oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dan Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang digagas oleh pemerintah pusat. Ternyata program penanggulangan kemiskinan (baik yang digagas oleh pemerintah pusat maupun daerah) belum berhasil membawa orang miskin untuk lebih sejahtera. Justru yang terjadi adalah adalah tumpang tindih antara program BLT dan SWTM.
Masyarakat miskin di Desa Loh Sumber belum menemukan jalan untuk membebaskan diri dari kemiskinan struktural. Akan tetapi ada pelajaran sosial yang dapat diambil dari Desa Loh Sumber yaitu distribusi kesejahteraan. Individu orang miskin tidak dapat membebaskan diri dari belenggu kemiskinan struktural tanpa adanya usaha kolektif yang dilakukan oleh seluruh masyarakat desa.
Distribusi kesejahteraan dialirkan dari golongan kaya kepada golongan miskin.
Kedua belah pihak saling diuntungkan, misalnya menerapkan sistem sewa lahan yang dimiliki oleh golongan kaya, bukan menjadikan tetangganya yang miskin sebagai budak. Pembayaran sewa tidak dilakukan diawal kontrak sewa, melainkan dibayar dengan sistem bagi hasil dari hasil panen dengan perhitungan 75 persen untuk pemilik tanah dan 25 persen untuk penyewa. Kemiskinan struktural haruslah dibongkar oleh seluruh masyarakat desa baik dari golongan miskin itu sendiri maupun golongan kaya.
RIWAYAT HIDUP
Penulis bernama Bayu Eka Yulian, dilahirkan pada tanggal 11 Juli 1985 di Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Penulis adalah putra pertama dari lima bersaudara dari pasangan suami isteri Basir, S.Pd dan Sawidji Rahayuningsih. Penulis menempuh pendidikan pertama kali di Taman Kanak- Kanak Tunas Mekar pada tahun 1989-1991. Kemudian penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Dasar Negeri 003 Tenggarong pada tahun 1991-1997, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri 1 Tenggarong pada tahun 1997-2000, dan Sekolah Menengah Umum Negeri 1 Tenggarong pada tahun 2000-2003.
Pada tahun 2003, setelah lulus dari jenjang pendidikan tingat SMU, penulis pernah tercatat sebagai calon praja Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) dari perwakilan region Kabupaten Kutai Kartanegara, namun belum sempat menjadi praja STPDN terbentur oleh permasalahan ”administrasi”
di tingkat propinsi dan akhirnya gagal. Setelah hal tersebut terjadi, penulis mencoba untuk membuka kembali surat panggilan PMDK dari Universitas Mulawarman Samarinda yang akan ”hangus” dua hari ke depan. Hasilnya penulis diterima di Universitas Mulawarman pada Fakultas Kehutanan, Jurusan Teknologi Hasil Hutan. Sempat berkuliah selama satu minggu di Universitas Mulawarman, akhirnya penulis memutuskan untuk menandatangani surat permohonan berhenti.
Hal tersebut dikarenakan secara psikologis setelah gagal masuk STPDN, penulis tidak memiliki semangat untuk melanjutkan pendidikan. Penulis merasa percuma saja kita bersekolah, mengejar kompetensi untuk kemampuan yang mumpuni tetapi selalu kalah dengan mereka yang menggunakan ”jalur lain” demi mencapai sebuah tujuan yang mengatasnamakan pendidikan.
Setelah mengeluarkan diri dari Universitas Mulawarman, penulis menganggur selama satu minggu di rumah dan selama itu pula ”air mata” ibu terus dikorbankan hanya demi emosi sesaat seorang anak. Ternyata ”air mata” itu yang mendorong penulis untuk kembali berkuliah. Masa ”reses” selama dua minggu sudah cukup untuk menormalkan kembali saraf yang tegang. Penulis mendapatkan jalan yang mulus, diterima di Universitas Kutai Kartanegara
(perguruan tinggi swasta) jurusan Manajemen Pembangunan melalui ujian lokal gelombang kedua.
Pada tahun 2004, setelah penulis mengalami proses ajar-didik di Universitas Kutai Kartanegara selama satu tahun (tidak tamat). Segala puji dan syukur bagi Allah, SWT akhirnya penulis mendapat kesempatan untuk berkuliah di luar Pulau Kalimantan (ini merupakan impian penulis) yaitu penulis berhasil masuk dan diterima di IPB melalui jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD) pada Program Studi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat.
Selama menjadi mahasiswa di IPB, penulis aktif dalam organisasi mahasiswa, diantaranya sebagai Ketua Forum Mahasiswa Kutai Kartanegara (2004), Ketua Komisi Advokasi Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Fakultas Pertanian (2005) dan Ketua Tim Formatur dan MPF Fakultas Ekologi Manusia (2006). Selain itu, penulis pernah menjadi Koordinator Asisten Mata Kuliah Sosiologi Umum dan Asisten Mata Kuliah Sosiologi Pedesaan di Departemen Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia.
UCAPAN TERIMAKASIH
Dalam ruang tulis ini, penulis ingin menyampaikan rasa hormat dan terimakasih yang tulus, kepada:
1. Keluarga tercinta, kedua orang tua Basir, S.Pd dan Sawidji R. Ningsih, serta adik-adik saya: Beni, Bimo, Bintoro, dan Bagus yang telah memberi dukungan moril dan materil, serta yang terpenting adalah doa.
2. Ir. Ivanovich Agusta, M.Si selaku dosen pembimbing skripsi yang telah membuka pemikiran penulis untuk membela golongan lemah dan menanamkan paradigma kritis sehingga ”bandul” pemikiran saya berayun sedikit ke ”kiri”.
3. Dr. Ir. Ninuk Purnaningsih, M.Si selaku dosen pembimbing akademik yang senatiasa memberikan arahan dan bimbingan dalam hal akademik.
4. Ir. Said Rusli, MA., yang telah bersedia menjadi dosen penguji utama dan secara kritis memberikan masukan substansi.
5. Heru Purwandari, SP, M.Si., yang telah bersedia menjadi dosen penguji wakil departemen dan memberikan perbaikan redaksi penulisan.
6. Bupati Kabupaten Kutai Kartanegara Prof. Dr. Syaukani H.R, MM., yang telah membuat kebijakan program Beasiswa Utusan Daerah (BUD) Kutai Kartanegara dan memberi kesempatan saya untuk mendewasakan diri di IPB. Namun maafkan saya jikalau justru setelah dewasa memberikan kritik terhadap pemerintah dan pembangunan di Kutai Kartanegara.
7. Dinas Pendidikan Kab. Kutai Kartanegara yang telah menyalurkan beasiswa pendidikan kepada saya selama berkuliah di IPB.
8. Ir. Totok H. Subroto, M.Si, selaku Sekretaris Bappeda Kabupaten Kutai Kartanegara yang telah mensuplai data-data mutakhir terkait persoalan kemiskinan di pedesaan Indonesia.
9. Kepala Desa Loh Sumber beserta jajarannya, yang telah memberikan data terkait penelitian ini.
10. Mbah Tu, Lek Sugito, Mbah Yakmi, Mbah Jan, Lek Paijan, Kang Nar, dan Pakde Rusik yang telah ”membimbing” saya untuk menjadi warga desa.
Sehingga saya merasakan bagaimana indahnya hidup di desa.
11. Mulyani Rendhasari, yang telah memberi dukungan, kritikan, dan doa.
Terimakasih atas kesabarannya.
12. Sahabatku Rudin Hamsyah, terimakasih atas keceriaan dan tawa riang dalam menjalani getir-getir hidup di perantauan.
13. Martua Sihaloho, SP, M.Si (Komdik KPM), Himawan Pambudi, S.Sos, Sindu Dwi Hartanto, S.Sos, M.Si (Lappera Indonesia), dan Anton Supriyadi, SP, M.Si. Terimakasih atas diskusi dan pinjaman bukunya.
14. Zay Karawang, Yudi Bule, Ucie, dan Andini teman ”satu klik” yang telah memberikan pelajaran penting dalam kompetisi dan dinamika kelompok.
15. Rekan-rekan mahasiswa/i KPM angkatan 40, 41, 42, dan 43 ”di KPM kita pernah bersama mencari warna seindah pelangi”.
16. Rekan-rekan mahasiswa Beasiswa Utusan Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara di Institut Pertanian Bogor, terimakasih atas kebersamaannya.
17. Pihak-pihak yang namanya tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah berkontribusi sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Optimisme Republik Indonesia (dari pemerintah pusat sampai pemerintah daerah) terhadap grand strategy pembangunan (istilah Inggris: development) masih dipertahankan sampai era pemerintahan saat ini, di mana pembangunan ditempatkan oleh pemerintah sebagai ”obat” dari “penyakit” yang bernama kemiskinan dan bergerak secara progresif (menuju ke arah yang lebih baik), di Indonesia hal ini diterjemahkan ke dalam bentuk proyek-proyek pemerintah pusat, daerah maupun donor asing (Agusta, 2003). Tendensi pembangunan tersebut, dituangkan ke dalam tujuan Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals, MDGs) yang serentak disepakati oleh seluruh negara yang berada di
bawah ”payung” Perserikatan Banga-Bangsa (PBB), bahwa pada tahun 2015 separuh dari penduduk miskin dunia akan dibebaskan dari kemiskinan1.
Pada konteks pembangunan, dikotomi menjadikan jurang pemisah antara pembangunan di desa dan di kota. Menurut Sajogyo (1982) gambaran mengenai adanya garis batas antara dunia ekonomi barat dan timur2, konteksnya di Indonesia terletak antara kota dan desa, namun secara bertahap telah bergeser ke tengah-tengah desa itu sendiri dan mempengaruhi struktur kehidupan masyarakat
1 Sebagai wujud gerakan bersama dalam mengatasi kemiskinan dan mencapai tujuan pembangunan milenium (MDGs), Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan (SNPK) telah disusun. Tujuan utamanya adalah untuk mencapai target penurunan jumlah penduduk miskin secara nasional pada tahun 2015 menjadi sebesar 7,2 persen.
2 Pemikiran Boeke (1953) ”Teori Ekonomi Ganda” dalam Sajogyo (1982), bahwa terjadi dualistik ekonomi, yaitu pra kapitalis dan kapitalis. Di Indonesia, kota diidentikkan sebagai ekonomi kapitalis, sedangkan desa pra-kapitalis serta tertinggal/ terbelakang dari pada kota.
pedesaan. Melihat kontestasi pembangunan sekarang, pembangunan di desa dianggap selalu tertinggal dari pada kota dan desa merupakan sumber kemiskinan.
Hal tersebut dikuatkan oleh justifikasi dari pemerintah bahwa masyarakat golongan miskin pada tahun 2006 sebagian besar (63,41 persen) berada di wilayah pedesaan (Badan Pusat Statistik, 2006). Hal ini pun tidak jauh berbeda (bahkan meningkat) dengan jumlah penduduk miskin mayoritas di pedesaan pada tahun 2007 yaitu sebesar 63,52 persen (Badan Pusat Statistik, 2007).
Desa dipandang sebagai penyebab dari masalah-masalah di kota seperti kemiskinan, kekumuhan, kemacetan, ledakan penduduk dan kriminalitas akibat dari urbanisasi. Kesenjangan pembangunan desa-kota menjadikan desa sebagai
”anak tiri” pembangunan (Ali, 2007). Akibat dari ketimpangan ini, sebenarnya yang menjadi korban pembangunan bukan hanya desa, melainkan juga kota.
Ketidakmerataan pembangunan menyebabkan kota menjadi lebih berpunya dari pada desa, sehingga wajar jikalau masyarakat desa melakukan migrasi ke kota (urbanisasi) untuk berusaha mencari kehidupan yang lebih baik di tempat yang didatangi oleh pembangunan (kota).
Dari sisi hukum positif, sejak runtuhnya rezim pemerintahan Soeharto pada tanggal 21 Mei 1998, mazhab pembangunan selama 32 tahun yang bersifat sentralistik dan dikawal oleh militer, kemudian bergeser menjadi desentralisasi.
Memasuki awal tahun 2000 diberlakukannya UU No. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah, telah memberikan ”angin segar” bagi pemerintah daerah (khususnya kabupaten/kota) untuk mengelola pemerintahan secara otonom. Belum genap lima tahun berjalan pada tanggal 15 Oktober 2004
pemerintahan Megawati dan Komisi II DPR-RI merubahnya menjadi UU No.
32/2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. Kalangan aktivis mahasiswa (termasuk peneliti sendiri) kecewa dengan amandemen tersebut karena dianggap melakukan sentralisasi politik kembali yang ditandai dengan penempatan kembali otoritas supra-desa dalam pemerintahan desa.
Desa kembali ditempatkan di bawah negara (tepatnya di bawah kabupaten/kota). Akhirnya kepala desa bukan bertanggung jawab kepada rakyat yang telah memilihnya, melainkan kepada pemerintah kabupaten/kota, hal ini terlihat dari pengaturan tugas dan kewajiban kepala desa yang masih diatur oleh pihak supra-desa3 (dalam hal ini oleh camat). Hal tersebut memberikan kembali peran camat sebagai ”mandor” bagi kepala desa, akhirnya sentralisasi kembali menghampiri kepentingan pemerintahan desa dimana kepala desa menjadi ”anak buah” camat.
Momentum otonomi daerah awal tahun 2000 disambut baik oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dengan menggulirkan program Gerbang Dayaku (Gerakan Pengembangan dan Pemberdayaan Kutai Kartanegara) sebagai sebuah grand strategy dalam pembangunan di Kutai Kartanegara. Semenjak diberlakukannya otonomi daerah, geliat pembangunan Kabupaten Kutai Kartanegara berkembang pesat terutama di bidang infrastruktur seperti jalan raya, jembatan, sekolah, rumah sakit, dan pasar. Kabupaten Kutai Kartanegara
3 Di dalam UU No. 32/ 2004 Pasal 208 dinyatakan bahwa, ”Tugas dan kewajiban kepala desa dalam memimpin penyelenggaraan pemerintahan desa diatur lebih lanjut dengan Perda berdasarkan peraturan pemerintah”. Sebagaimana kita ketahui bahwa Perda tidak ditetapkan di tingkat desa, melainkan di tingkat propinsi/kabupaten/kota. Di sini tugas dan kewajiban kepala desa masih diintervensi oleh pihak supra-desa yang menunggangi Perda.
mendapat pemasukan sumber dana pembangunan daerah yang besar untuk ukuran daerah tingkat II (kabupaten), diantaranya berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Perimbangan Pusat, dan Penerimaan dari Propinsi, lihat Tabel 1.
Tabel 1. Sumber Dana Pembangunan Kab. Kutai Kartanegara tahun 2000 – 2004 Tahun
2000 2001 2002 2003 2004*
No Item Penerimaan
Total (Rp)
% Total (Rp)
% Total (Rp)
% Total (Rp)
% Total (Rp)
%
1 PAD 16,33 M 16,67 M 1,08 16,55 M 0,98 34,14 M 1,7 5,57 M 1,18 2 Perimbangan 177,62 M 1,49 T 96,62 1,64 T 97,22 1,93 T 96,3 461,04 M 97,21 3 Dari Propinsi ** 20,89 M 1,35 30,23 M 1,79 39,82 M 1,99 7,49 M 1,58
4 Lain-lain ** 14,64 M 0,95 206,68
Juta
0,01 233,26 Juta
0,01 162,74 Juta
0,03
Total - - 1,5422 T 100 1,6869 T 100 2,0041 T 100 0,4742 T 100 Catatan: * = Per Bulan Juli 2004;
** = Tidak terekam (karena awal pelaksanaan otonomi daerah; masa transisi) M = Milyar (satuan Rupiah)
T = Triliyun (satuan Rupiah)
Sumber: Laporan Pertanggungjawaban Bupati Kutai Kartanegara (Periode 1999-2004)
Dana pembiayaan pembangunan yang terekam dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tidak mengalami kekurangan, namun keadaan yang aneh terlihat jelas pada Tabel 1., yaitu jumlah Pendapatan Asli Daerah (PAD) selalu lebih kecil dibandingkan pemasukan dari dana perimbangan baik dari pusat maupun provinsi. Artinya kekuatan APBD Kabupaten Kutai Kartanegara bergantung kepada dana perimbangan, bukan pada PAD.
Secara berangsur-angsur dalam kurun waktu empat tahun semenjak otonomi daerah dilaksanakan, jumlah penduduk miskin di Kabupaten Kutai Kartanegara mengalami penurunan, yaitu pada tahun 2001 sebesar 85.000 jiwa atau 19,75 persen, tahun 2002 turun menjadi 75.000 jiwa atau 16,34 persen dan pada tahun 2003 jumlah penduduk miskin semakin menurun menjadi 72.000 jiwa atau sebesar 15,69 persen (Laporan Pertanggungjawaban Bupati Kutai Kutai
Kartanegara periode 1999-2004). Hal tersebut menjadi salah satu indikasi keberhasilan pembangunan daerah4, maka dengan gamblang dapat disimpulkan dalam konteks ini otonomi daerah memberikan dampak positif bagi Kabupaten Kutai Kartanegara dalam sudut pandang makro. Bagaimana dengan sudut pandang mikro (sampai pada tingkat pedesaan)?, Dialektika kajian pembangunan daerah dan kemiskinan pedesaan menjadi menarik dikaji dalam penelitian ini untuk melihat sejauhmana otonomi daeerah bermanfaat bagi masyarakat pedesaan dan mengikis kemiskinan di wilayah pedesaan Kabupaten Kutai Kartanegara..
1.2. Dialektika Teoritis
1.2.1. Kontestasi Pembangunan Desa
1.2.1.1. Genealogi Pembangunan5
Gagasan pembangunan (development) mulai muncul sejak Januari 1949 pada saat Presiden Amerika Serikat Harry S. Truman mengumumkan kebijakan luar negeri (Marshall Plan) untuk menjawab penolakan negara-negara Dunia Ketiga terhadap kapitalisme dan sekaligus jawaban ideologis terhadap Uni Soviet (Fakih dalam Syahyuti, 2006). Akan tetapi sebenarnya lebih jauh lagi usai Depresi Besar awal 1930-an, Amerika Serikat sebagai pemenang perang membutuhkan negara-negara di Eropa untuk dijadikan pasar hasil produksi barang dan jasa (McMichael, 2003).
4 Berbicara pembangunan daerah secara keseluruhan mencakup pembangunan pedesaan dan perkotaan.
5 Isi sub bab ini mengambil ide dari perkuliahan Dinamika Pembangunan Desa tahun ajaran 2007/2008 oleh Ivanovich Agusta.
Pembangunan (development) dilontarkan sebagai upaya Amerika Serikat untuk menghadapi perang dingin, yaitu membendung ideologi sosialisme dan komunisme di negara-negara Dunia Ketiga. Salah satu bentuk tanggung jawab pembangunan yang diusung Amerika Serikat adalah Program Marshall Plan dengan menyebarkan banyak bantuan ke negara-negara sedang berkembang (Dunia Ketiga). Bank Dunia (World Bank) dan IMF (International Monetary Fund, Dana Moneter Internasional) sengaja dihadirkan oleh Amerika Serikat
untuk melancarkan aksi dalam Program Marshall Plan.
Pembangunan (development) seharusnya berakhir bersamaan dengan usainya perang dingin antara Amerika Serikat (kapitalisme) dengan Uni Soviet (komunisme), namun faktanya gagasan pembangunan bersama-sama dengan modernisasi menjadi andalan kebijakan bantuan dan politik luar negeri Amerika Serikat. Fenomena bantuan lahir sejalan dengan berkembangnya era developmentalism di dunia yang menggejala semenjak berakhirnya Perang Dunia
Kedua. Bagi Amerika Serikat, bantuan tersebut merupakan kelanjutan pengaruhnya terhadap negara-negara yang menjadi koloninya, sebagai bentuk tanggung jawab moral terhadap negara Dunia Ketiga dalam pelaksanaan pembangunan berbasiskan proyek.
Alih-alih untuk mempermudah negara Dunia Ketiga memperoleh pinzaman, Bank Dunia mengubah syarat-syarat penerimaan utang dari tingkat proyek (project) menjadi kebijakan (policy). Pemberian pinjaman ini untuk meredam protes negara-negara Dunia Ketiga. Melalui hal ini dengan mudah donor (Amerika Serikat melalui Bank Dunia) melakukan intervensi terhadap kebijakan yang diambil oleh pemerintah di negara Dunia Ketiga agar disesuaikan dengan
keperluan pasar yaitu privatisasi atau liberalisasi aset-aset produksi. Pembangunan hanyalah bungkus baru dari kapitalisme dan merupakan manifestasi dari modernisasi. Bahkan pembangunan menjadi tidak netral dan bermuatan ideologi kapitalisme yang di bawa Amerika Serikat. Investasi padat modal, berupa modal asing serta tenaga ahli asing (konsultan asing) dan teknologi dari Negara Barat akan menimbulkan ketergantungan terhadap modal dan teknologi.
Kesepakatan pun telah dihasilkan pada masa Pemerintahan Megawati Soekarnoputri di New York pada bulan September tahun 2000 yaitu dalam acara Millenium Development Summit yang membicarakan arah dan strategi
pembangunan global untuk abad 21. Hasilnya adalah Indonesia termasuk dalam negara-negara yang melaksanakan konsep MDGs di bawah ”payung” PBB.
Meskipun banyak dikritik, namun pembangunan masih merupakan landasan bekerja yang dipakai sampai saat ini. Pemerintahan yang dipimpin oleh Susilo Bambang Yudhoyono masih mempercayai bahwa melalui pembangunan seperti sekarang ini, akan membawa masyarakat Indonesia bebas dari kemiskinan dan menuju kesejahteraan hidup. Hal ini direkam dalam buku Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan (SNPK) yang diluncurkan pada tanggal 27 April 2005, bahwa Indonesia menegaskan untuk mendukung pelaksanaan MDGs sampai 2015.
Diskursus pembangunan menjadikan Amerika Serikat sebagai kiblat pembangunan bagi negara Dunia Ketiga (negara sedang berkembang atau terbelakang) sehingga mutlak diperlukan suatu proses evolutif untuk bergerak secara progresif mengejar ketertinggalannya dari negara maju (Amerika Serikat).
Pembangunan adalah alat bagi kapitalisme untuk menancapkan modernisasi di
negara-negara dunia Ketiga (Long, 1987; Shiva, 1997). Sudah jelas bahwa pembangunan (development) lahir dari Ideologi Barat (Amerika Serikat;
Kapitalisme) sebagai pemenang Perang Dunia Kedua. Pembangunan yang kita anut dan lakukan sampai sekarang hanya bersifat an sich, artinya produksi barang dan jasa dari masyarakat dengan indikator pendapatan, GNP, dan GDP masih berupa alat (means), belum menjadi tujuan (aims) untuk mewujudkan pembangunan yang sejatinya mampu mensejahterakan rakyat sampai pada aras
”akar rumput” di pedesaan.
Pada konteks pembangunan pedesaan di Indonesia, semenjak tahun 1969 (awal pemerintahan Presiden Soeharto) modernasi pertanian menjadi pertanda masuknya pembangunan (development) ke pedesaan yang dibungkus oleh industrialisasi. Menurut Sajogyo (2006) modernisasi pertanian bersumber dari dua pola usahatani, yaitu pola usahatani padi sawah di pulau Jawa dan pola usahatani perkebunan di luar pulau Jawa, lihat Gambar 1.
Modernisasi usaha tani sawah (Jawa)
Modernisasi usaha tani ladang berpindah (luar Jawa)
Industrialisasi
Penanggulangan Kemiskinan Struktural
Demokratisasi dan penanggulangan kesenjangan
Sumber: Hand out Mata Kuliah Dinamika Pembangunan Desa tahun ajaran 2007/2008.
Gambar 1. Sejarah Pembangunan Desa di Indonesia
Terlebih lagi pada tahun 1984 (masa Presiden Soeharto) pertanian padi sawah dijadikan alat utama sebagai modal bangsa Indonesia untuk swasembada beras. Ini menunjukkan bukti bahwa modernisasi pertanian melalui Revolusi Hijau yang mulai dikerjakan pada tahun 1969 telah membuahkan hasil.
Sayangnya modernisasi pertanian melalui pembangunan di Indonesia bias pulau Jawa. Swasembada beras hanya keberhasilan sesaat saja, setelah tahun 1984 hingga sekarang (tahun 2008) Indonesia tidak lagi menjadi negara berswasembada beras.
Perkebunan di luar Jawa berpola ladang berpindah. Selama masa Orde Baru (1969-1997) terdapat hambatan dalam pola perladangan, peladang berpindah menjadi sulit untuk mencari ladang sebagai akibat dari usaha produksi kayu (bahkan ada yang ilegal) dan program transmigrasi di atas lahan perladangan berpindah, sekaligus penggunaan ladang untuk Program Inti Rakyat Perkebunan.
Seharusnya modernisasi mampu mensejahterakan masyarakat hingga pedesaan.
Menurut Sajogyo (2006) modernisasi yang dibawa oleh pembangunan seharusnya mencakup cita-cita pembangunan sampai terwujudnya demokratisasi di mana kesenjangan desa-kota tidak terjadi.
1.2.1.2. Paradigma Pembangunan
Perkembangan paradigma pembangunan dimulai sejak istilah pembangunan (development) mulai dikenalkan oleh Amerika Serikat pada tahun 1947, bersamaan dengan itu politik Marshall Plan hadir untuk mengalahkan Ideologi Komunis dari Uni Soviet dalam perang dingin. Sekitar tahun 1950-an Paradigma Teori Modernisasi muncul untuk mendukung Marshall Plan
menancapkan kapitalisme di negara dunia ketiga. Memasuki tahun 1960-an paradigma tersebut dikriktik oleh Paradigma Teori Ketergantungan. Pada tahun 1970-an, dialektika paradigma teori di atas menghasilkan Paradigma Teori Sistem Dunia. Sejak tahun 1980-an paradigma pembangunan terus-menerus dimaknai ulang, dikritik, disempurnakan, dan dibuat konsep tandingannya (anti tesis) hingga saat ini menghasilkan paradigma yang lebih radikal seperti Pasca Pembangunan.
Paradigma modernisasi dalam keilmuan sebenarnya lahir dari Teori Evolusi yang digagas oleh Darwin. Oleh karena itu dalam Paradigma Teori Modernisasi, pengertian pembangunan (development) disamakan dengan evolusi (evolution), artinya masyarakat yang disebut mengalami modernisasi adalah masyarakat yang berkembang dari kesederhanaan (tradisional) menjadi terdiferensiasi dan kompleks dalam aspek kehidupannya (Suwarsono dan So, 1990). Konsep modernisasi menekankan pada pertumbuhan ekonomi (Economic Growth) untuk mensejahterkan seluruh lapisan masyarakat, melalui pemerataan
(trickle down effect). Menurut Budiman (1996) beberapa teori yang termasuk dalam paradigma ini diantaranya: 1) Teori Harrod-Domar tentang Tabungan dan Investasi; 2) Teori Max Weber tentang Etika Protestan; 3) Teori McClelland tentang Dorongan Berprestasi (achievement); 4) Teori Rostow tentang Lima Tahap Pembangunan; 5) Teori Bert F. Hoselitz tentang Faktor-Faktor Non- Ekonomi (Pengembangan Teori Lima Tahap Pembangunan Rostow); dan 6) Teori Inkeles dan Smith tentang Manusia Modern.
Setelah tiga dasawarsa, pembangunan (pertumbuhan ekonomi dan modernisasi) mulai menunjukkan kegagalannya. Hal ini dijadikan senjata oleh
Cardoso (1980) dan Frank (1994) untuk mengkritik bahwa pembangunan melalui modernisasi menyebabkan ketergantungan Negara Dunia Ketiga terhadap Negara Maju. Konsep trickle down effect ternyata tidak berjalan dan kesejahteraan tidak merata. Kemiskinan dan keterbelakangan yang terdapat di negara-negara dunia ketiga yang mengkhususkan diri pada produk pertanian (tradisional) dipandang sebagai akibat dari struktur perekonomian dunia yang bersifat eksploitatif, dimana negara maju melakukan eksploitasi terhadap negara dunia ketiga. Akibatnya surplus dari negara-negara dunia ketiga beralih ke negara-negara industri maju, seperti Amerika Serikat dan Inggris. Menurut paradigma ini perdagangan dunia yang disebut bebas justru merupakan hegemoni negara maju untuk menutupi realitas praktek eksploitasi tersebut. Menurut Galtung (1980) dalam Suwarsono dan So (1990) bahwa imperialisme merupakan bentuk khusus satelit-metropolis dengan dominasi negara senter terhadap negara peri-peri. Mekanisme imperialisme melalui interaksi vertikal dengan mendominasi negara lain.
Mekanisme imperailisme juga melalui struktur interaksi feodal, yaitu dominasi terhadap peri-peri dengan komunikasi, teknologi dan perdagangan.
Paradigma Teori Sistem Dunia mulai muncul pada tahun 1980-an.
Perspektif ini memandang bahwa dalam dunia terdapat suatu sistem antar negara dari negara-negara maju yang saling bertentangan dan terjalin terhadap negara- negara dunia ketiga dengan ekonomi dunia kapitalis. Tokoh dalam paradigma ini adalah Wallerstein, ia lebih condong kepada teori ketergantungan (Suwarsono dan So, 1990). Ia mengatakan bahwa negara-negara terbelakang sekarang adalah akibat dari dominasi kelompok kapitalis pusat yang berabad-abad. Hampir semua negara ini selalu kalah jauh dari pusat, tidak hanya secara relatif tetapi mutlak.
Namun demikian ada sedikit negara yang bisa memperbaiki posisi mereka dalam ekonomi dunia dengan memanfaatkan kesempatan yang tepat pada saat terjadi perluasan perkembangan kapitalis. Ekonomi di dunia memiliki hubungan erat yang digawangi oleh kapitalisme.
Dialektika paradigma pembangunan terus mengalami perkembangan hingga sekarang. Konteks pembangunan pada saat ini (tahun 2000-an) memiliki kekhasan tersendiri, yaitu dominasi kapitalisme global (globalisasi), sekaligus diikuti kelemahannya berupa kritik lokal sampai terorisme (Thomas, 2002;
McMichael, 2003). Paradigma-paradigma alternatif muncul sebagai anti tesa dari paradigma-paradigma di atas, seperti Paradigma Pembangunan Berbasis Manusia (People Centered Development) dan Paradigma Pasca Pembangunan yang radikal menolak pembangunan pada tahun, lihat Tabel 2.
Tabel 2. Paradigma Pembangunan Setelah tahun 2000
Item
Pembang unan kapital-
isme
Pembangunan di seputar Kapitalisme
Pembangunan melawan Kapitalisme
Penolakan Pembangun-
an Nama Neoliberal
isme
Intervensionism Strukturalism Pembangunan Berbasis Manusia
PascaPem- bangunan Visi masyarakat
yang dituju
Kapitalis me liberal
Kapitalisme liberal dan pencapaian kebutuhan dasar
Masyarakat industri modern tanpa kapitalisme
Seluruh rakyat dan kelompok merealisasika n potensinya
Menolak pembangunan
Peran pembangunan
Proses imanen dalam kapital- isme
Menghilangkan efek negatif kemajuan
Transformasi masyarakat secara komprehen- sif
Proses pemberdayaan kelompok dan perorangan
Tipuan demi hegemoni AS
Agen
pembangunan
Enterpren er individual
Agen
pembangunan atau lembaga terpercaya (negara, LSM, organisasi internasional)
Tindakan bersama yang dikomando negara
Gerakan sosial dan individual
Agen
pembangunan
Sumber : Thomas (2002)
Dalam konteks penelitian ini, Paradigma Pembangunan Berbasis Manusia memandang bahwa pembangunan harus melibatkan individu dan kelompok manusia. Humanisasi manusia tidak menganggap masyarakat hanya skedar menerima pembangunan (obyek). Sajogyo (2006) mengingatkan bahwa pembangunan harus meningkatkan dimensi partisipatif lapisan bawah, maka pendidikan yang cocok dengan aksiologi keberpihakan pada lapisan terbawah (golongan miskin) lebih tepat berwujud pendidikan untuk orang dewasa. Seluruh partisipan dalam proses belajar atau mengajar itu berkedudukan setara. Semua tidak berangkat dari pengetahuan kosong, melainkan saling mendiskusikan pola pandang yang berbeda sesuai dengan akumulasi pengetahuan yang sudah pada masing-masing pihak. Chambers (1987) mengungkapkan bahwa seharusnya pembangunan di mulai dari desa, artinya dimulai dari wilayah terbawah baru kemudian bergerak ke atas. Di Indonesia hal ini dikenal dengan Tut Wuri Handayani.
Dalam penelitian ini mendudukan Teori Long (1995) dan Shiva (1997) dalam paradigma Pasca Pembangunan. Perspektif ini sangat radikal dan beranggapan bahwa pembangunan (development) hanyalah alat bagi negara maju untuk menancapkan kapitalisme di negara dunia ketiga. Oleh karena itu, untuk mewujudkan kesejahteraan adalah dengan membebaskan diri dari pembangunan.
Pembangunan ditengarai bias pada kepentingan Amerika Serikat. Negara dunia ketiga justru akan terhisap oleh kekuatan kapitalis negara maju, bukan sebaliknya.
Dalam penelitian ini, peneliti duduk pada Paradigma Pasca Pembangunan untuk memberikan kritik terhadap pembangunan dan sekaligus berpihak kepada lapisan bawah (golongan miskin) dengan Paradigma Pembangunan Berbasis
Manusia (People Centered Development). Perpaduan dua paradigma tersebut memberikan ruang untuk membuktikan masalah-masalah yang terjadi dalam pembangunan. Dalam penelitian ini, peneliti berusaha secara dialeketis untuk melihat fenomena kemiskinan yang justru terjadi di dalam pembangunan itu sendiri.
1.2.1.3. Masalah-masalah Pembangunan di Indonesia
Pelaksanaan pembangunan di Indonesia pada umumnya diimplementasikan ke dalam bentuk proyek-proyek pemerintah pusat, pemerintah daerah maupun donor asing. Dalam pelaksanaannya, anggaran pembangunan mengalami pemotongan 10-15 persen untuk membiayai konsultasi dengan konsultan asing. Proyek pembangunan melalui pemberdayaan yang dilakukan oleh donor dicurigai membawa misi kapitalisme kepada masyarakat desa (Agusta, 2003). Pembangunan (development) dipandang sebagai proses imanen di dalam kapitalisme dan juga mempunyai maksud untuk menghilangkan halangan kapitalisme yaitu tradisi, monopoli, dan penguasaan oleh intervensi negara (Agusta, 2006). Pemerintah harus berposisi di luar pasar dan hanya berperan sebagai penjaga keamanan dalam bentuk regulasi.
Pembiayaan proyek-proyek pembangunan yang berasal dari utang atau bantuan luar negeri tidak lagi bermakna karitatif, namun menjadi alat pendidikan atau penekan agar orang miskin menyesuaikan dengan tuntutan pemberi bantuan.
Utang luar negeri diberikan untuk mengatasi stagnasi ekonomi negara donor (Tetiani, 2002). Dalam hal ini utang luar negeri telah mendapatkan konteksnya
untuk melakukan perluasan ”gurita-gurita” kapitalisme melalui kepanjangan tangannya yaitu Bank Dunia dan IMF. Sebenarnya jika kita melihat sejarah, Presiden Soekarno berpesan agar Indonesia Berdikari (”Berdiri di Atas Kaki Sendiri”), sehingga tidak tergantung kepada ”kaki” negara lain.
Pembangunan melupakan manusia itu sendiri sebagai pemilik kebudayaan dan condong kepada modernisasi sebagai salah satu indikator kemajuan ekonomi suatu negara (Soedjatmoko, 1983). Padahal pembangunan seharusnya merupakan penjelmaan suatu pergerakan rakyat yang dibimbing secara sadar oleh pemerintah.
Namun yang terjadi justru kebudayaan pembangunan yang dibawa oleh ”orang luar” (agen pembangunan) dipaksakan masuk kedalam dan mengganti kebudayaan masyarakat agar menjadi modern (Chambers, 1987). Di sinilah letak permasalahan kebudayaan dalam pembangunan yang bertentangan dengan budaya masyarakat sebagai subyek pembangunan.
Kesenjangan sosial baik antar wilayah dan kesenjangan dalam politik- ekonomi merupakan salah satu masalah dalam pembangunan di Indonesia (Kwik Kian Gie, 1999). Kemiskinan di Kawasan Barat Indonesia dan Kawasan Timur Indonesia mempunyai karakteristik yang berbeda. Menurut data BPS persentase penduduk miskin di luar Jawa dan Bali khususnya di kawasan Timur Indonesia jauh lebih tinggi. Faktanya angka kemiskinan di Jawa dan Bali adalah 15,7 persen, sedangkan di Papua adalah 38,7 persen. Kesenjangan politik-ekonomi tampak pada masa pemerintahan Soeharto terjadi pemusatan kekuatan politik pada salah satu partai yaitu Golongan Karya (Golkar). Bahkan dalam bidang ekonomi terjadi penumpukan kekayaan di satu kelompok (Soeharto dan kroni- kroninya) yang diperoleh melalui Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).
Sementara menurut Rusli (1994) jumlah penduduk Indonesia (sekitar tahun 1993) terpusat hampir 60 persen berada di pulau Jawa dan Bali, sisanya tersebar di Kawasan Timur Indonesia. Kepadatan penduduk dapat didefinisikan sebagai jumlah orang per satuan luas lahan (per km2, per mil2) di suatu daerah.
Kepadatan penduduk pada tahun 1993 di Kawasan Barat Indonesia (Jawa dan Bali) jauh lebih besar yaitu mencapai 175 jiwa per km2 dibanding dengan Kawasan Timur Indonesia yang hanya 50 jiwa per km2.
Menurut Wiradi (2000) salah satu masalah pembangunan adalah Indonesia belum mampu melepaskan diri dari bentuk “penjajahan” yang bernama ketidakadilan yang dirasakan oleh kaum petani “lapar tanah” (tunakisma). Dari hasil Sensus Pertanian (1993) dalam Wiradi (2000) bahwa 43 persen dari jumlah rumah tangga pedesaan adalah rumah tanga tunakisma (landless). Enam belas persen dari rumah tangga pedesaan menguasai 69 persen dari luas tanah yang tersedia dan 41 persen rumah tangga menguasai hanya 31 persen dari luas tanah dari yang tersedia. Strategi pembangunan Orde Baru dari awal sudah salah, tanah hanya dilihat sebagai faktor produksi khususnya untuk pangan (dalam rangka swasembada beras pada tahun 1984). Maka diambillah kebijakan jalan pintas (by- pass approach), yaitu Revolusi Hijau tanpa Reforma Agraria. Sebagai gambaran
umum tentang masalah-masalah pembangunan di Indonesia, lihat Tabel 3.
Tabel 3. Enam Masalah Kunci Pembangunan di Indonesia
No Item Masalah Deskripsi Oleh
1 Dipengaruhi Neoliberalisme
-Pembangunan dipandang sebagai proses imanen di dalam kapitalisme.
-Pembangunan harus menghilangkan halangan kapitalisme, yaitu tradisi, monopoli, dan penguasaan oleh intervensi negara.
-Mengharapkan terciptanya kondisi kapitalisme liberal.
-Pemerintah harus berada di luar pasar, posisinya hanya sebagai regulator dan penjaga keamanan.
-Bias kepada kepentingan ”Raksasa Kapitalisme” Amerika Serikat.
Negara berkembang dijadikan sebagai pasar industri.
-Dana proyek sekitar 10-15% harus dikeluarkan untuk membayar biaya konsultasi dengan konsultan.
Agusta (2003; 2006)
2 Struktural utang luar negeri
-Bantuan tidak bermakna karitatif, namun menjadi alat agar orang miskin mau menyesuaikan dengan kepentingan donor.
-Menimbulkan ketergantungan, pada akhirnya donor akan melakukan intervensi terhadap pelaksanaan pembangunan di Negara Dunia Ketiga.
-Perluasan dari ekspansi ”gurita-gurita” kapitalisme di bawah payung world Bank.
Tetiani (2002)
3 Masalah kebudayaan pembangunan
-Pembangunan ekonomi melupakan aspek manusia.
-Pembangunan membawa kebudayaan tersendiri (yang selalu dianggap baik), dan hal tersebut berusaha disuntikkan kepada kebudayaan masyarakat yang memiliki nilai-nilai lokal.
-Pembangunan selalu diasumsikan proses yang harus mengubah suatu kebudayaan tradisional menjadi kebudayaan moderen.
-Pengingkaran humanisasi, masyarakat hanya menjadi obyek pembangunan dan harus siap menerima kebudayaan pembangunan.
Soedjatmoko (1983)
dan Chambers
(1987)
4 Kesenjangan sosial, ekonomi, dan politik dalam negeri
-Ketimpangan pembangunan antar wilayah.
-Kawasan Timur Indonesia (terutama Papua) menjadi wilayah tertinggal dibandingkan dengan pulau Jawa dan Bali.
-Terpusatnya kekayaan di sekelompok kecil orang berlangsung terlampau lama dan hal ini diperoleh secara tidak adil melalui korupsi, kolusi dan nepotisme.
-Politik dalam negeri yang tidak sehat, adanya pemusatan kekuasaan pada satu partai (PNS wajib memilih Golkar).
Kwik Kian Gie (1999)
5 Masalah penduduk, lahan dan pangan
-Terpusatnya penduduk di Pulau Jawa (60 persen dari total penduduk Indonesia pada tahun 2003), karena pembangunan
”berputar” di Pulau Jawa. Sementara di sisi lain seperti Kalimantan dan Papua kepadatan penduduk masih rendah (50 jiwa per km2).
-Ledakan penduduk tidak sebanding dengan laju produktivitas pangan (bahaya kelaparan), rasio manusia lahan.
-Bertambahnya penduduk memerlukan lahan untuk tempat tinggal (konversi lahan).
Rusli (1994)
6 Mandulnya reforma agraria
-Orde Baru memberangus isu-isu tentang keadilan agraria, karena dianggap sebagai jargon komunis (PKI).
-UUPA 1960 dipeti-eskan dianggap sebagai produk PKI . -Sekitar 43% rumah tangga petani desa adalah tuna kisma.
-Tumpang-tindih klaim antara hukum adat dan hukum positif.
-Pemerintah mengambil jalan by pass-approach melalui Revolusi Hijau tanpa Reforma Agraria
Wiradi (2000)
1.2.2. Otonomi Daerah: Perdebatan Desentralisasi
Otonomi daerah dalam konteks memberikan ”kuasa” kepada pemerintah lokal (local government) sering diartikan sebagai desentralisasi (Conyers, 1983).
Menurut Cohen dan Peterson (1999), makna desentralisasi adalah menyerahkan tanggungjawab pengelolaan kepada wilayah di bawah negara untuk mengatur peri-kehidupan yang sesuai dengan sejarah dan kebutuhan setempat. Dialektika otonomi daerah berusaha mencari makna desentralisasi yang terkait penyerahan tanggungjawab oleh pemerintah pusat kepada pemerintah di bawahnya.
Dalam pelaksanaannya, desentralisasi dapat dibagi ke dalam empat konsep yang memiliki makna berbeda yaitu dekonsentrasi, delegasi, devolusi, dan privatisasi (Alderfer, 1964; Conyers, 1983; Cohen dan Peterson, 1999).
Dekonsentrasi adalah penyerahan tugas dan tanggungjawab kepada aparat pusat yang sengaja ditempatkan di daerah, dimana kewenangan pengambilan keputusan pada dasarnya tetap dipegang oleh pemerintah pusat, namun lokasi kantornya berada di daerah. Smith (1993) berpandangan bahwa dekonsentrasi tidak dapat dikategorikan dalam sistem desentralisasi karena sesungguhnya hanyalah mendekatkan pelayanan pemerintah pusat kepada rakyat di daerah dan tidak sama sekali menyerahkan kewenangan dalam menentukan kebijakan kepada pemerintah di daerah, atau lebih tepatnya dapat disebut sebagai pemerintah pusat yang berkantor di daerah.
Delegasi diartikan sebagai penyerahan sebagian atau seluruh tugas dan tanggungjawab pemerintah pusat kepada pemerintah daerah (Conyers, 1983). Hal ini mengandung arti bahwa pemerintah daerah hanya diserahi tugas dan tanggungjawab. Sedangkan proses penentuan kebijakan tetap dilakukan oleh
pemerintah pusat. Bahkan dalam pelaksanaannya pemerintah daerah tetap bertanggungjawab kepada pemerintah pusat (Alderfer, 1964).
Devolusi mengandung makna yang lebih luas dari pada dekonsentrasi dan delegasi (Alderfer, 1964; Conyers, 1983; dan Smith, 1993), yaitu sebagai penyerahan tugas dan tanggungjawab pemerintah pusat kepada pemerintah daerah atau entitas di daerah (kelompok masyarakat adat lainnya). Penyerahan kewenangan dalam hal ini termasuk dalam pengambilan kebijakan, oleh karena itu pemerintah daerah atau entitas masyarakat (kelompok adat) harus mempertanggungjawabkannya kepada konstituen (pemilik, publik anggota masyarakat lokal yang bersangkutan).
Sedangkan privatisasi adalah penyerahan tugas dan tanggungjawab dari pemerintah (pusat atau daerah) kepada sektor swasta atau individu (Alderfer, 1964; Conyers, 1983). Biasanya privatisasi terkait dengan usaha bisnis yang dikelola oleh pihak swasta atau individu. Menurut Smith (1993), privatisasi tidak dapat digolongkan sebagai bentuk desentralisasi karena tidak terkait dengan sistem pemerintahan.
Dalam menerapkan desentralisasi, seyogyanya dilakukan secara bertahap.
Artinya tidak sekaligus memberikan kewenangan penuh kepada pemerintah daerah. Pengalaman penerapan desentralisasi di Meksiko berlangsung mulus karena berawal dari munculnya kewenangan pusat yang memonopoli koordinasi dan kerjasama antar wilayah daerah tersebut. Baru setelah tiap daerah terbiasa dan mampu melaksanakan kerjasama ini, maka muncul pluralisme kewenangan. Lihat Gambar 2.
Analitis Kewenangan
Monopoli
(Sentralisasi)
Pluralis (Desentralisasi)
Pusat I. Monopoli Kewenangan II. Pluralisme Kewenangan (Spasial)
Struktur
Daerah III. Monopoli Kewenangan Terdistribusi
IV. Pluralisme Kewenangan
Gambar 2. Model Perkembangan Desentralisasi6
Ada pelajaran yang dapat diambil dari kegagalan Etiopia dalam melaksanakan desentralisasi, karena menggunakan jalan pintas (tahap I langsung menuju tahap IV, lihat Gambar 2). Pemerintahan pusat di Etiopia langsung meletakkan peranan pada pemerintah daerah, sehingga langsung menimbulkan semangat mementingkan diri sendiri (kedaerahan) dan melupakan daerah lain dalam wilayah negara tersebut. Hal inilah yang disebut sebagai monopoli kewenangan daerah (terdistribusi). Dari sini muncul pelajaran untuk menyusun kerjasama wilayah/spasial antara pusat dan daerah.
Di Indonesia pelaksanaan otonomi daerah atau konsep desentralisasi pada tahun 2008 didasarkan pada UUD 1945 (hasil amandemen) pasal 18 dan 22 C (lihat Lampiran 7) yang kemudian diturunkan menjadi UU No. 22/1999 dan diamandemen menjadi UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah. Penerapan desentralisasi di Indonesia lebih dominan pada konsep devolusi. Selain tugas dan tanggungjawab, pemerintah daerah juga diberikan hak untuk mengambil kebijakan terkait dengan kepentingan di daerahnya atas dasar kebutuhan.
6 Diambil dari bahan kuliah Dinamika Pembangunan Desa tahun ajaran 2007/2008, Dosen Ivanovich Agusta.
Otonomi daerah yang diterapkan di Indonesia menjadikan kabupaten/kota (daerah tingkat II) sebagai locus dari pelaksanaan otonomi dan menyebabkan pergeseran domain politik ke tingkat kabupaten. Hal ini menimbulkan ketegangan dengan pemerintah pusat karena kebijakan daerah tidak sejalan dan bahkan tumpang tindih dengan kebijakan pemerintah pusat. Instruksi vertikal dan koordinasi horisontal dengan propinsi juga terganggu, karena kabupaten sebagai daerah otonom merasa tidak memiliki keterkaitan struktural dengan provinsi sebagai perpanjangan tangan dari pemerintah pusat.
Desentralisasi dalam pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia hanya sampai pada tingkat kabupaten/kota. Posisi desa masih berada di bawah kabupaten/kota sehingga otonomi desa hanya ”otonomi semu” (Eko, et.al., 2005).
Desa hanya dijadikan eksekusi proyek dari pemerintah supra desa. Swadaya dan gotong-royong masyarakat desa memang merupakan kekuatan modal sosial dan sebagai cara untuk mendidik mental mandiri warga desa. Tetapi dalam konteks relasi antara desa dan pemerintah supra desa, swadaya dan gotong-royong justru menjadi bahan eksploitasi yang mematikan desa. Pemerintah merasa tidak perlu membuat anggaran yang respronsif untuk desa karena desa sudah mempunyai swadaya dan gotong-royong (Eko et.al., 2005). Bahkan swadaya dan gotong- royong (yang sebenarnya modal sosial) diklaim dengan ”uang” dan pemerintah mengkalim pula pembangunan yang dijalankan membuahkan sebuah sukses besar karena telah berhasil menggalang ”kekuatan” masyarakat desa.
1.2.3. Kemiskinan
1.2.3.1. Taksonomi Kemiskinan: Kultural dan Struktural
Apa yang menyebabkan seseorang ”terpuruk” dalam kemiskinan, dapat dijawab dengan menggunakan argumen kultural yaitu mungkin saja karena orang tersebut malas dan tidak mau berusaha untuk mensejahterakan dirinya sehingga jatuh dalam jurang kemiskinan. Argumen struktural menjawab sebaliknya, yaitu mungkin juga orang menjadi miskin karena kondisi struktur sosial yang memaksa orang tersebut terpinggirkan ke ”bibir” jurang kemiskinan dan akhirnya terjatuh ke dalam jurang kemiskinan yang terdalam.
Kemiskinan kultural, merupakan suatu pandangan yang menjelaskan bahwa penyebab kemiskinan berasal dari dalam diri ”si miskin” itu sendiri. Orang menjadi miskin karena malas bekerja, sakit, dan tidak memiliki kemampuan untuk hidup mandiri. Bahkan menurut Lewis dalam Suparlan (1993) hal tersebut disebut sebagai kebudayaan kemiskinan, artinya adanya suatu cara hidup yang secara bersama dialami dan dilakukan oleh orang-orang miskin dalam suatu sejarah dan kehidupan sosial tertentu. Jelas hal ini memposisikan orang miskin sebagai pihak yang paling bersalah atas kemiskinan yang dideritanya, padahal belum tentu orang menjadi miskin karena malas bekerja, barangkali orang miskin menjadi tidak bekerja karena memang tidak adanya lapangan pekerjaan yang akan dikerjakan.
Kemiskinan struktural, memandang bahwa seseorang menjadi miskin karena bentukan dari struktur sosial yang ada dalam masyarakat (Soemardjan, 1997), hal tersebut didasarkan karena tidak ada manusia di dunia ini yang ingin kesakitan (hidup dalam kemiskinan). Ketimpangan-ketimpangan dalam distribusi
sumberdaya, faktor produksi, pendapatan, kesempatan kerja, kesehatan, dan pendidikan atau kondisi alam yang terjadi dalam suatu sistem sosial tertentu, menyebabkan orang-orang jatuh ke dalam jurang kemiskinan. Secara garis besar bahwa kemiskinan struktural merupakan kemiskinan buatan dari sistem sosial masyarakat, sehingga muncul kaum berpunya dan kaum miskin dalam kehidupan masyarakat.
Di sinilah peneliti berposisi, bahwa kemiskinan merupakan hasil buatan manusia yang terjadi sebagai akibat dari adanya interaksi sosial dalam suatu struktur sosial tertentu, mereka yang termarjinalkan akibat ketimpangan distribusi sumberdaya (khususnya dalam pembangunan) terpaksa untuk menerima kenyataan hidup berada di dalam jurang kemiskinan yang menyakitkan. Peneliti memandang kemiskinan struktural di desa merupakan akibat dari adanya relasi (hubungan) antara masyarakat desa dengan ”dunia luar”, hubungan ini bersifat
”penghisapan”, dimana posisi masyarakat desa sebagai pihak yang dihisap oleh
”dunia” luar.
1.2.3.2. Menakar Kemiskinan: Absolut dan Relatif
Kemiskinan absolut, memandang bahwa seseorang dikatakan miskin apabila tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar (kebutuhan pokok) yang dapat dilihat dari garis kemiskinan, di mana penduduk miskin berposisi di bawah garis kemiskinan (Kartasasmita, 1996). Hal utama yang menjadi kunci dari analisis kemiskinan absolut adalah garis kemiskinan. Hal ini dapat mengandung hasil yang berbeda-beda sesuai dengan takaran garis kemiskinannya dalam rangka
mengkuantifikasi kondisi penduduk miskin, misalnya BPS menempatkan ukuran makan setara dengan 2100 kalori per hari per orang atau setara dengan konversi harga makanan tersebut sesuai dengan kondisi ekonomi tahun yang sedang berjalan, berbeda dari Bank Dunia yang menggunakan ukuran garis kemiskinan dari penghasilan seseorang sebesar US$1 per orang per hari, Sajogyo menggunakan ukuran beras (atau tingkat pengeluaran setara beras dalam kilogram per kapita per tahun) misalnya pada tingkat desa yang disebut miskin adalah pengeluaran untuk konsumsi beras sebesar < 320 kg per kapita per tahun, sangat miskin < 270 kg per kapita per tahun.
Kemiskinan relatif adalah keadaan perbandingan pendapatan antara kelompok masyarakat yang satu dengan kelompok masyarakat yang lainnya dalam satu komunitas (misalnya desa), sehingga dari perbandingan tersebut dapat diperoleh kesimpulan mengenai kelompok masyarakat yang tidak miskin dan miskin (Soedjatmoko, 1983; Soemardjan, 1997). Hal ini sering disebut sebagai ketimpangan distribusi pendapatan, dan pendekatan yang digunakan cenderung bersifat kualitatif sehingga ukuran kemiskinan yang dipakai adalah ukuran kemiskinan setempat/lokal.
Dalam penelitian ini peneliti berposisi menakar kemiskinan dengan sudut pandang relatif. Asumsi yang mendasar bahwa masyarakat (tineliti) merupakan pihak yang paling tahu keadaan lingkungan sosialnya, termasuk keadaan tingkat kesejahteraan/kemiskinan. Masyarakat desa (orang dalam) bukanlah diibaratkan seperti ”kertas putih”, dan agen pembangunan ---termasuk peneliti---- (Chambers, 1987; menyebutnya sebagai ”orang luar”) merupakan pihak yang seakan-akan berhak mencoretkan ”tinta” di tubuh masyarakat desa. Orang luar yang datang
kepada masyarakat desa (termasuk pembangunan) membawa kebudayaanya sendiri dan jelas hal ini berbeda dengan budaya yang dimiliki oleh masyarakat desa terkait (Soedjatmoko, 1983). Oleh karena itu peneliti akan melakukan analisis kemiskinan secara partisipatif. Jelaslah disini terdapat perbedaan cara menakar kemiskinan, lihat Tabel 4.
Tabel 4. Perbedaan dalam Menakar Kemiskinan
No Aspek Pembeda Kemiskinan Absolut Kemiskinan Relatif 1 Metode
penelitian
Kuantitatif Kualitatif 2 Cara
memperoleh data
Survei
(Mengandalkan kuesioner yang dibuat oleh pelaksana survei)
Partisipatif
(Dari, oleh, dan untuk masyarakat).
3 Cara mengukur kemiskinan
Diukur dengan garis kemiskinan yang ditetapkan secara absolut oleh suatu lembaga pemerintah atau non-pemerintah yang
berkepentingan. (Misalnya BPS menggunakan indkator 2100 kalori per orang per hari).
Diukur dengan cara membanding antara dua kelompok atau lebih, sehingga dari perbandingan tersebut diperoleh kelompok mana yang miskin dan tidak miskin.
4 Partisipasi masyarakat
Sebagai obyek dari survei, bias kepentingan pembuat survei dan tidak melibatkan masyarakat secara aktif.
Partisipatif, bersama-sama antara peneliti dan tineliti (masyarakat) merumuskan ukuran kemiskinan, serta bersifat lokalitas.
1.2.3.3. Perangkap Kemiskinan Pedesaan: Jebakan Perkotaan
Perkotaan memiliki ”harga diri” yang lebih tinggi jika dibanding dengan pedesaan, di mana identik dengan sarana-prasarana hidup yang lengkap seperti sekolah, rumah sakit (dokter praktek), rekreasi, pelayanan sosial, bank, fasilitas kerja, komunikasi, dan barang-barang konsumsi (Chambers, 1987). Negara dunia ketiga seperti Indonesia, mulai dari para cendekiawan, golongan terpelajar, birokrat, teknokrat, orang asing, dan wartawan terpikat dengan kota atau bertempat tinggal di sana. Mereka adalah korban-korban dari jebakan kota meskipun dengan pilihan sendiri. Pemikiran ekonomi rasional memberi mereka pertimbangan dalam menentukan tempat tinggal dan tempat kerja atau lebih