• Tidak ada hasil yang ditemukan

D. Persepsi Stakeholders terhadap Alternatif Pengembangan Pasar Angso Duo di Kota Jamb

5. BWK JAMSEKO

2.1. Pasar Tradisional

Pasar tradisional di Indonesia dikenal dengan pasar yang kumuh hal ini dikarenakan sifat pengelolaannya yang kurang profesional. Akibat pengelolaan demikian pasar ini menimbulkan eksternalitas negatif bagi lingkungan. Salah satunya adalah sampah/limbah yang merupakan bahan tidak digunakan lagi, sehingga dibuang sebagai bahan yang tidak berguna (Sudarso, 2003). Limbah dapat berada pada setiap fase materi yaitu fase padat, cair, atau gas (limbah ketika dilepaskan dalam dua fase yaitu cair dan gas). Bila limbah masuk ke dalam lingkungan (ke air, udara dan tanah) maka kualitas lingkungan akan menurun. Peristiwa masuknya limbah ke lingkungan dikenal sebagai peristiwa pencemaran lingkungan.

2.1.1. Limbah Padat/ Sampah

Komposisi sampah di Indonesia umumnya terdiri dari kertas (2%), sisa sayur, buah-buahan dan daun-daunan (94%), gelas dan benda padat lainnya (1%), plastik (2%), serta residu (1%) (Flintof dalam Sudarso, 2003) Limbah pasar tradisional berdasarkan jenisnya, digolongkan ke dalam dua kelompok yakni limbah yang dapat terurai yaitu limbah yang tersusun dari senyawa organik seperti sisa tanaman, hewan, atau pun kotoran, dan limbah yang tidak terurai yang terdiri dari plastik, botol, logam. Sampah /limbah di Indonesia pada umumnya dibuang pada Tempat Pemprosesan Akhir (TPA). Metode penanganan sampah di Tempat Pembuangan Akhir antara lain :

1. Open Dumping merupakan cara pembuangan sampah sederhana, sampah dihamparkan di tempat terbuka tanpa penutupan dan pengolahan.

2. Controlled landfill sampah dihamparkan pada lokasi cekungan dan permukaannya diratakan dan ditutupi tanah pada ketebalan tertentu yang dilakukan secara periodik 3. Sanitary landfill sampah diratakan pada suatu lokasi yang cekung, kemudian pada

ketebalan tertentu ditutup dengan tanah. Bagian atas urugan digunakan untuk menimbun sampah lalu ditutup lagi dengan tanah sehingga terbentuk lapisan lapisan sampah dan tanah. Bagian dasar konstruksi sanitary landfill dibuat lapisan kedap air

7 yang dilengkapi dengan pipa-pipa pengumpul dan penyalur air lindi (leachate) yang terbentuk dari proses penguraian sampah organik.

Pengelolaan sampah meliputi antara lain daur ulang, insinerasi / pembakaran dan pengomposan.

1. Daur Ulang

Daur ulang atau recycling adalah mengembalikan suatu produk atau sisa dari suatu proses produksi ke dalam siklus produksi. Recycling dibedakan atas dua jenis (Widyatmoko dan Sintorini, 2001) reuse yaitu menggunakan kembali suatu produk untuk tujuan yang sama, misalnya tabung gas, reutilization yaitu menggunakan buangan untuk keperluan yang berbeda dari konsep awal, untuk itu diperlukan perlakuan fisik, kimia atau biologis.

2. Insinerasi

Insinerasi adalah proses pembakaran sampah yang terkendali menjadi gas dan abu. Alat insinerasi dinamakan insinerator. Gas yang dihasilkan berupa karbondioksida dan gas-gas lain, dilepaskan ke udara. Abu/residu yang dihasilkan dibuang ke TPA atau dicampur dengan bahan lainya sehingga menjadi bahan yang berguna. Residu setelah pembakaran merupakan 20% sampai 30% dari berat awal (Salvato, 1982 dalam Murniwati, 2006). Untuk mendapatkan operasi insinerasi yang optimum dan efisien, proses pembakaran harus dikontrol sehingga residu yang dihasilkan sekecil mungkin dan emisi berbahaya dapat dicegah. Faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi proses pembakaran antara lain adalah karakteristik sampah (Pavoni et al

1975 dalam Wahyono, 2001). Berdasarkan material sampah yang dibakar, insinerator terbagi atas berbagai jenis seperti insinerator di pusat pembuangan sampah (skala TPA) insinerator untuk kawasan terbatas (skala untuk pemukiman), insinerator untuk bulky material, insinerator sampah berbahaya dan insinerator untuk lumpur.

3. Pengomposan

Kompos adalah sejenis pupuk yang merupakan bentuk akhir dari bahan bahan organik setelah mengalami pembusukan. Bahan utama pembuatan kompos adalah sampah, terutama sampah rumah tangga, pasar, taman, dan kebun. Perbandingan kandungan karbon dan nitrogen (C/N rasio) sebesar 30/1. Pembuatan kompos

8 terjadi karena adanya kegiatan jasad renik yang beragam jenisnya dan secara serentak bekerja dalam habitatnya masing masing pada suhu tertentu. Proses pembusukan terjadi secara aerobik maupun anaerobik. Kedua proses pembusukan ini dapat terjadi secara bersamaan dalam satu tumpukan. Pembusukan aerobik lebih cepat daripada pengomposan anaerobik. Dalam proses pengomposan, bahan organik diuraikan menjadi unsur-unsur yang dapat diserap jasad renik maka ukuran bahan organik berubah menjadi partikel-partikel yang kecil. Volume tumpukan menyusut kira-kira sebanyak tiga perempatnya sepanjang proses pengomposan (CPIS, 1992)

Sampah Organik sebagai Penghasil Gas Metan

Pembuangan sampah yang tidak terkontrol akan menyebabkan terjadinya pembusukan anaerobik. Pembusukan anaerobik terjadi pada tumpukan bagian dalam yang tidak berongga dan memiliki kadar udara cukup. Tumpukan sampah yang mengalami keadaan kekurangan oksigen (anaerobik) menghasilkan gas metan. Jumlah emisi gas metan dari pembuangan akhir sampah secara keseluruhan di dunia mencapai kira-kira 30 – 70 juta ton per tahun. Kebanyakan gas metan dari sumber ini berasal dari negara-negara berkembang yang kadar pembuangan sampahnya cenderung besar Serikat (US-EPA), sumber gas metan yang diakibatkan oleh kegiatan manusia terutama berasal dari kegiatan penambangan dan pemakaian bahan bakar, peternakan serta tempat pembuangan akhir sampah (Wikiepedia, 2010).

Salah satu masalah lingkungan yang pada saat ini banyak menarik perhatian baik nasional maupun internasional adalah masalah pemanasan global. Pemanasan global dilaporkan telah menimbulkan dampak yang kurang baik seperti terjadinya perubahan iklim yang sangat ekstrim di bumi, terganggunya hutan dan ekosistem lainnya, serta kenaikan permukaan laut yang mengakibatkan negara-negara kepulauan akan mendapatkan pengaruh yang sangat besar. Pemanasan global disebabkan oleh bertambahnya gas-gas rumah kaca di atmosfir. Gas metan digolongkan sebagai gas rumah kaca karena gas ini dapat menyebabkan kenaikan temperatur pada atmosfir bumi. seperti efek dalam rumah kaca. Pada rumah kaca, atap atau dinding kaca dari rumah

9 kaca tersebut dapat dilewati radiasi matahari gelombang panjang. Selanjutnya radiasi tersebut masuk ke dalam rumah kaca. Oleh permukaan tanah radiasi gelombang panjang dari sinar matahari tersebut dipantulkan kembali dalam bentuk sinar gelombang pendek atau sinar infra merah yang panas. Sinar gelombang pendek ini tidak dapat menembus atap atau dinding kaca sehingga menaikkan temperatur di dalam ruangan rumah kaca tersebut. Demikian halnya yang terjadi di atmosfir bumi, radiasi gelombang panjang yang dapat melewati atmosfir bumi dipantulkan kembali oleh permukaan bumi dalam bentuk sinar infra merah. Pada kondisi normal sinar infra merah sebagian besar akan kembali ke luar angkasa. Namun, terdapatnya gas seperti karbon dioksida, metan dan sebagainya dalam atmosfir yang dapat menyerap sinar panas pantulan dari bumi tersebut telah menaikkan temperatur udara di atmosfir.

Gas metan dibandingkan dengan gas karbon dioksida, dapat menimbulkan pemanasan global yang lebih besar. Gas metan tidak dapat terserap oleh klorofil tumbuh-tumbuhan sehingga lebih stabil di atmosfir dibanding gas CO2 yang dapat

terserap tanaman melalui proses fotosintesis. Gas metan merupakan senyawa hidrokarbon paling sederhana yang berbentuk gas, tidak berwarna dan juga tidak berbau dengan rumus kimia CH4. Gas ini ditemukan oleh Alessandro Volta sekitar tahun 1776-

1778 yang melakukan penelitian di Danau Manggiore dan mengamati adanya gelembung-gelembung gas dan ternyata gas tersebut dapat terbakar. Kadar gas metan di atmosfir telah mengalami kenaikan yang cukup besar sejak sebelum era industrialisasi. Pada sekitar tahun 1750, kadar metan di atmosfir masih sekitar 700 parts per billion (ppb) dan pada saat ini diperkirakan sudah mencapai 1800 ppb. Selain tidak berwarna dan tidak berbau, sifat-sifat lain gas metan antara lain dapat terbakar pada kadar antara 5-15%, mempunyai titik didih −161°C dan mempunyai kelarutan dalam air sekitar 35 mg/L pada tekanan 1 atmosfir. Gas metan termasuk salah satu jenis gas rumah kaca yang cukup potensial

2.1.2. Limbah Cair

Limbah cair merupakan bahan pencemar yang berbentuk cair yang masuk ke dalam badan air /sungai. Hampir setiap saat sungai yang ada di dunia menerima sejumlah besar aliran sedimen baik secara alamiah maupun buangan hasil kegiatan

10 manusia. Terkadang sungai menerima pencemaran yang berat dengan kandungan pencemar yang tinggi. Sungai dinyatakan tercemar jika sifat fisik, kimia dan biologinya mengalami perubahan kearah negatif. Menurut Wardhana (2001) indikator air tercemar adalah 1) perubahan suhu air, pH, warna, bau, dan rasa; 2) timbulnya endapan, koloid dan bahan terlarut; 3) meningkatnya mikroorganisme dan radioaktivitas air.

Parameter Fisik – Kimia Peraiaran

Perubahan suhu, pH, warna, bau dan rasa dapat terjadi dengan meningkatnya buangan industri dan aktivitas manusia lainnya, akibatnya akan menurunkan kadar oksigen air, meningkatkan reaksi kimia dan mengganggu kehidupan organisme air (Kristanto, 2004).

Endapan dan koloid serta bahan terlarut yang berasal dari buangan akan mempengaruhi kualitas air sungai. Bahan buangan padat kalau tidak dapat larut sempurna akan mengendap di dasar sungai dan yang dapat larut akan menjadi koloid. Endapan sebelum sampai ke dasar akan melayang bersama koloid, kondisi ini akan menghalangi penetrasi cahaya matahari yang mengganggu proses fotosintesis. Akibatnya akan mengganggu kehidupan mikroorganisme air. Penentuan padatan yang terdapat di air sangat berguna dalam analisis perairan dan menentukan efisensi unit pengolahan.

Dissolved Oxygen (DO) merupakan banyaknya oksigen yang terkandung didalam air dan diukur dalam satuan milligram per liter (Gurnham, 1965). Oksigen terlarut di dalam perairan bersumber dari difusi langsung melalui lapisan permukaan dan proses fotosintesis. Kelarutan oksigen dipengaruhi oleh suhu air dan tekanan parsial oksigen di atmosfir. Penyebab utama berkurangnya konsentrasi oksigen terlarut adalah pencemar yang masuk dan mengkonsumsi oksigen terutama bahan organik.

Parameter Biokimia Perairan

Kandungan oksigen secara biokimia dapat digunakan untuk menduga banyaknya senyawa organik yang ada dalam suatu perairan melalui pengukuran BOD dan COD. Biochemical Oxygen Demand (BOD) atau kebutuhan oksigen biologis adalah sejumlah oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk memecah bahan buangan organik yang masuk ke perairan (Wardhana, 2001). BOD merupakan gambaran seberapa banyak oksigen yang telah digunakan oleh aktivitas mikroba selama kurun waktu yang

11 ditentukan. Analisis BOD adalah suatu analisa empirik yang mendekati secara global proses biokimia maupun mikrobiologis yang benar-benar terjadi di alam, sehingga uji BOD berlaku sebagai simulasi suatu proses biologis. Semakin besar nilai BOD semakin besar tingkat pencemaran oleh bahan organik.

Chemical Oxygen Demand (COD) merupakan ukuran banyaknya oksigen yang digunakan dalam mendegradasi bahan organik dengan menggunakan kalium dikromat, yang merupakan pengoksidasi kuat untuk mengoksidasi zat organik secara lengkap dalam suasana asam dengan katalis peraksulfat. Hubungan antara COD dan BOD menggambarkan bahwa jumlah senyawa kimia yang dapat doksidasi secara kimiawi lebih besar dari biologis (Kristianto, 2004).

Mikroorganisme Perairan.

Mikrorganisme sangat berperan dalam proses degradasi bahan buangan yang masuk ke sungai. Parameter mikrobiologi seperti Eschericia coli (E.coli) termasuk parameter baku mutu air. Keberadaan E.coli dalam perairan menunjukkan pencemaran akibat tinja manusia. Dalam saluran pencernaan E.coli berkembang biak dan mengalami mutasi dari yang tidak potogen menjadi patogen atau sebaliknya sebagai penyebab penyakit diare (Hasutji, 1995).

Dokumen terkait