KAJIAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori .1 Manajemen Risiko .1 Manajemen Risiko
2.1.4 Pasar Valuta Asing
diwajibkan untuk mempertahankan nilai tukar dalam batas-batas tertentu.
Karenanya, bank sentral tidak dipaksa untuk menerapkan suatu kebijakan intervensi yang mungkin memiliki dampak yang tidak menguntungkan bagi ekonomi hanya untuk mengendalikan nilai tukar. Disamping itu, pemerintah dapat mengimplementasikan kebijakan-kebijakan tertentu tanpa mengkhawatirkan pengaruhnya atas pergerakan nilai tukar. Terakhir, jika nilai tukar dibiarkan untuk mengambang, para investor akan menginvestasikan dana di negara-negara yang memiliki suku bunga yang paling tinggi.
3. Sistem Nilai Tukar Mengambang Terkendali
Sistem nilai tukar sejumlah valuta yang ada sekarang berada diantara sistem nilai tukar tetap dan sistem nilai tukar mengambang bebas. Sistem tersebut menyerupai sistem mengambang bebas karena nilai tukar dibiarkan berfluktuasi setiap hari dan tidak ada batasan resmi. Tetapi, menyerupai sistem nilai tukar tetap dalam hal pemerintah dapat dan kadang-kadang melakukan intervensi untuk mencegah valuta mereka berfluktuasi terlalu tajam kesatu arah.
2.1.4 Pasar Valuta Asing
Pasar valuta asing merupakan pasar yang memperdagangkan mata uang (valuta) suatu negara sebagai komoditas dan dipertukarkan dengan valuta asing negara lain atau dikenal dengan sebutan foreign exchange market (Darsono &
Rahman, 2018). Berbeda dengan beberapa pasar keuangan lainnya, pasar valuta asing tidak mempunyai tempat transaksi khusus, seperti lantai bursa (trading floor) di pasar modal. Transaksi valuta asing dilakukan bilateral diantara pelaku pasar
valuta asing atau dikenal sebgai transaksi OTC (Over The Counter) melalui jaringan komunikasi seperti Reuters Monitor Dealing System (RMDS), Bloomberg, telepon atau money broker voice box. Jaringan komunikasi tersebut menghubungkan bank dengan bank lain peserta pasar (interbank) dan/atau counterparties lain, baik berlokasi di dalam negeri maupun di pasar valuta asing global. Kondisi transaksi secara OTC tersebut membuat pengawasan oleh otoritas yang berwenang menjadi sangat terbatas dibandingkan transaksi di pasar modal sehingga transparansi transaksi valuta asing relatif rendah dan harga bisa menjadi sangat bervariasi (multiprice) bahkan bukan tidak mungkin di luar batas harga wajar yang berlaku di pasar.
Dalam praktiknya, pasar valuta asing global beroperasi 24 jam terus-menerus kecuali pada hari libur, berputar dari satu wilayah ke wilayah lain. Kalau memakai waktu di Indonesia sebagai ukurannya, maka kegiatan diawali pada jam empat pagi dari pasar Australia, setelah itu jam tujuh pagi diikuti oleh pasar Asia di mana pusatnya di Jepang, Singapura dan Hong Kong. Siang harinya memasuki pasar Eropa dengan pusat kegiatannya di London, lalu disusul pasar Amerika pada sekitar jam tujuh malam dan setelah itu kembali lagi ke pasar Australia dan Asia pada keesokan harinya.
Dalam perkembangannya, pasar valuta asing merupakan bagian integral dari perdagangan internasional dari barang dan jasa, serta pasar keuangan.
Investor global yang melakukan investasi diluar negaranya, baik investor di sektor rill maupun investor di portofolio seperti di pasar keunagan, sudah pasti memerlukan transaksi di passar valuta asing. Perkembangan pasar valuta asing
18
`
sejalan dengan proses globalisasi perekonomian dunia yang didukung oleh pesatnya perkembangan teknologi informasi dan sistem pembayaran internasional dan menyebabkan terjadinya integrasi pasar keuangan di seluruh dunia. Sehingga setiap guncangan ekonomi disuatu negara dapat dengan mudah menyebar dengan cepat ke negara lain dan semakin sulit dan rumit untuk diatasi.
1. Pelaku Pasar Valuta Asing a. Bank Sentral
Bank sentral sebagai otoritas moneter tertinggi di suatu negara merupakan salah satu pelaku transaksi valuta asing terbesar di pasar valuta asing global. Hal tersebut terkait dengan peran bank sentral sebagai regulator, stabilisator, dan investor pada pasar keuangan global.
Bank sentral biasanya melakukan transaksi valuta asing untuk tiga tujuan utama. Pertama, sebagai upaya menjaga stabilitas nilai tukar mata uang domestik apabila terdapat guncangan karena faktor internal maupun eksternal. Dalam hal lain, bank sentral melakukan intervensi dengan menjual atau membeli valuta asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar mereka atau mencegah terjadinya kepanikan di pasar valuta asing yang dapat mengancam stabilitas perekonomian. Kondisi nilai tukar yang stabil tersebut diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap perkembangan ekonomi secara keseluruhan.
Kedua, sebagai upaya untuk menjaga nilai cadangan devisa (foreign reserves) yang dimilki agar nilainya tidak turun karena fluktuasi nilai tukar valuta asing. Mengingat, cadangan devisa suatu negara biasanya
terdiri dari beberapa jenis valuta asing, seperti USD, Euro, Japanese Yen, China Yuan dan Australian Dollar. Misalkan, karena nilai tukar mata uang Euro melemah terhdap USD, maka nilai aset bank snetral dalam denominasi mata uang Euro akan menurun nilainya apabila dilakukan mark to market dalam mata uang USD, artinya meskipun secara jumlah mata uang Euro yang dimiliki tidak menurun, namun secara nilai aset akan menurun karena terjadinya depresiasi Euro terhadap USD apabila dasar perhitungan cadangan devisa dalam mata uang USD.
Ketiga, bank sentral dapat juga memperoleh keuntungan dari pergerakan nilai tukar valuta asing, namun biasanya hal ini hanya merupakan residual dari transaksi valuta asing yang dilakukan untuk dua tujuan utama sebelumnya. Namun melakukan transaksi valuta asing, bukan tidak mungkin bank sentral harus menanggung kerugian valuta asing sebagai konsekuensi dari upaya menjaga stabilitas nilai tukar mata uang domestiknya. Namun, hal tersebut merupakan konsekuensi atau ongkos kebijakan yang harus dihadapi bank sentral. Dengan kata lain, tujuan transaksi valuta asing bank sentral dapat berbeda dengan pelaku pasa valuta asing lain karena memiliki tujuan pokok (mandate) untuk menjaga stabilitas nilai tukar mata uang domestiknya.
b. Perbankan
Selain bank sentral, perbankan juga merupakan salah satu pelaku utama dalam pasar valuta asing global. Perbankan berperan sebagai perantara transaksi valuta asing dari pihak-pihak yang membutuhkan jenis valuta
20
`
asing tertentu. Dalam hal ini, hampir semua pelaku ekonomi, kecuali bank sentral hanya dapat melakukan transaksi valuta asing melalui bank dan tidak dapat melakukan secara langsung dengan pihak lain (non-bank) tanpa perantara bank. Setiap bank dapat melakukakan transaksi valuta asing biasanya memiliki bagian khusus untuk memfasilitasi transaksi valuta asing dengan nasabahnya, yaitu bagian treasury. Perbankan tidak hanya bertransaksi valuta asing dengan nasabah, transaksi valuta asing juga dilakukan antarbank pada umumnya dengan jumlah yang lebih besar. Tujuan bank dalam melakukan transaksi beli jual valuta asing tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan nasabahnya, namun dapat juga untuk tujuan lain, seperti untuk melindungi nilai aset bank tersebut yang diukur dengan valuta asing atau meningkatkan pendapatan bank dengan memanfaatkan fluktuasi valuta asing (spekulasi), yang tentunya juga memiliki risiko kerugian apabila pergerakan valuta asing tidak sesuai dengan prediksi bank tersebut.
c. Institusi Non-Bank (Korporasi dan Lembaga Keuangan Non-Bank) Selain perbankan, institusi non-bank dan perusahaan korporasi juga cukup aktif dalam melakukan transaksi valuta asing. Dalam praktiknya, institusi non-bank dan korporasi melakukan transaksi valuta asing untuk memenuhi kebutuhan valuta asing melalui jasa perbankan. Pihak perbankan yang akan yang akan membantu untuk melakukan konversi valuta asing melalui transaksi valuta asing antarbank (interbank trading).
Transaksi valuta asing korporasi dikenal dengan sebutan genuinedemand
karena kebutuhan valuta asing tersebut bersifat pasti dan harus dipenuhi segera untuk kelancaran operasional korporasi. Sedangkan, perusahaan sekuritas/manajer investasi merupakan perusahaan yang memperoleh kewenangan dari investor untuk mengelola asetnya. Pengelolaan aset investor dilakukan dengan beberapa instrumen portofolio investasi.
Dalam perkembangannya, institusi non-bank dan korporasi mulai masuk ke pasar valuta asing untuk memanfaatkan fluktuasi nilai tukar dalam rangka meningkatkan pendapatan (enhance return) dari transaksi valuta asing. Meskipun, mereka tidak aktif bertransaksi setiap saat seperti perbankan, atau lebih berorientasi jangka menengah-panjang dengan frekuensi transaksi yang relatif lebih sedikit.
d. Investor Asing atau Non-Residen (Bank dan Non-Bank)
Dalam praktiknya, investor asing dan non-residen memainkan peran yang cukup penting di pasar valuta asing suatu negara. Mengingat, volume transaksi valuta asing yang dilakukan pada umumnya relatif cukup besar, maka sering kali menimbulkan spillover effect dalam proses pembentukan harga di pasar. Dalam hal ini, lalu lintas dana asing jangka pendek di suatu negara biasanya dipengaruhi oleh ekspetasi terhadap perkembangan imbal hasil (yield) instrumen keuangan di negara tersebut setelah memperhitungkan berbagai risiko (risk-adjusted), relatif terhadap imbal hasil instrumen investasi di pasar keuangan luar negeri. Berkaitan dengan aliran dana asing jangka pendek, dampak keterlibatan investor asing dan non-residen terhadap pembentukan harga kurs valuta asing
22
`
sangat besar karena selain melakukan transaksi dalam volume relatif besar juga secara psikologis aksi investor asing dan non-residen akan menjadi ‘benchmark’ bagi kepercayaan pasar atau sentimen internasional terhadap kondisi perekonomian suatu negara.
e. Pedagang Valuta Asing (PVA)
Pedangan Valuta Asing (PVA) adalah perusahaan yang melakukan jual-beli uang kertas valuta asing (bank notes) dalam pembelian Travelers’Chequeuntuk dikonversi ke dalam mata uang domestik. Transaksi valuta asing yang dilakukan oleh PVA biasanya dalam volume yang tidak besar serta tidak berdampak signifikan terhdap proses pembentukan harga di pasar valuta asing, karena biasanya kuotasi harga yang diberikan oleh PVA berpedoman pada kuotasi harga bank. PVA Indonesia terdiri dari PVA bank dan non-bank (money charger). PVA bank adalah bank devisa dan bank non-devisa yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan/atau berdasarkan prinsip syariah; yang dapat melakukan jual beli UKA dan pembelian Traveler'sCheque; serta telah memenuhi ketentuan dan prasyaratan dalam peraturan Bank Indonesia (PBI). VA bukan bank adalah perusahaan berbadan hukum Perseroan Terbatas (PT yang maksud dan tujuan perseroan adalah melakukan kegiatan usaha jual beli uang kertas asing dan pembelian Trveler's Cheque yang telah memenuhi ketentuan dan persyaratan yang berlaku.
f. Individu
Pelaku pasar valuta asing selanjutnya adalah individu. Individu dapat
melakukan transaksi valuta asing untuk kegiatan komersil atau untuk kebutuhan investasi. Transaksi yang dilakukan individu biasanya terjadi karena kebutuhan-kebutuhan tertentu, misalkan untuk kebutuhan perjalanan, liburan dan sekolah diluar negeri. Disamping itu, individu juga dapat bertransaksi untuk melakukan hedging atas sejumlah valuta asing yang dimiliki untuk kebutuhan tertentu dimasa mendatang. Pelaku individual biasanya melakukan transaksi dalam nilai volume transaksi yang relative kecil, namun transaksi tersebut dapat memberikan dampak terhadap pembetukan nilai tukar secara tidak langsung apabila transaksi oleh masyarakat individu dilakukan secara serempah (rudh.) Individu hanya dapat melakukan transaksi valuta asing melalui moneychanger dan/atau langsung dengan bank.
2. Risiko Transaksi di Pasar Valuta Asing
Risiko dari transaksi nilai tukar dapat dibagi menjadi beberapa kategori, antara lain sebagai berikut:
a. Risiko Pasar (Market Risk)
Risiko pasar adalah sebuah risiko kerugian yang dialami oleh pelaku pasar valuta asing akibat adanya perubahan harga dalam nilai tukar suatu mata uang yang dimiliki oleh pelaku pasar. Risiko ini termasuk risiko yang melekat terhadap perubahan harga dan berpotensi mengakibatkan kerugian yang besar apabila pelaku pasar tidak melakukan lindung inilai (hedging) terhadap pergerakan nilai tukar.
Terdapat beberapa jenis risiko pasar, yaitu:
24
`
1) Risiko Transaksi
Pada dasarnya risiko transaksi merupakan risiko yang terdapat pada cash flow di berbagai transaksi valuta asing, misalnya pada saat pembagian deviden saham dan pembayaran kupon obligasi bagi investor dalam valuta asing. Risiko transaksi juga dapat terjadi pada kontrak perjanjian pembayaran ekspor dan impor.
2) Risiko Translasi
Risiko translasi umumnya lebih kompleks dari risiko transaksi karena risiko ini ditimbulkan dari perbedaaan yang terjadi dalam mata uang yang digunakan, metode pencatatan transaksi, dan standar pencatatan akuntansi anak perusahaan dengan induk perusahaanya. Sampai saat ini, masih banyak yang belum sadar mengenai adanya risiko ini meskipun dampaknya berbahaya karena menimbulkan ambiguitas tentang keuntungan dan kerugian yang dialami perusahaan.
3) Risiko Ekonomi
Transaksi valuta asing setidaknya melibatkan dua mata uang negara.
Kondisi ini tidak terlepas dari kondisi perekonomian yang terjadi.
Pada risiko translasi, risiko timbul dari kemungkinan tidak seragamnya pencatatan antar dua pihak. Berbeda dengan risiko translasi yang tidak mencerminkan kondisi rill perekonomian, risiko ekonomi focus pada bagaimana kurs bergerak dan mengubah nilai rill ekonomi dari sebuah perusahaan. Risiko ekonomi perusahaan merefleksikan pengaruh dari perubahan kurs terhadap nilai barang
ekspor, penjualan domestic, biaya yang ditimbulkan dari transaksi domestik, dan biaya impor barang-barang input.
4) Risiko Setelmen Valuta Asing (Foreign Exchange Settelment Risk)
Risiko akibat salah satu pihak transaksi tidak meneri masalah satu mata uang yang dijanjikan dalam transaksi meskipun pihak tersebut sudah memberkan mata uang yang lain (sesuai dalam syarat transaksi), risiko ini kemudian dikenal sebagai Herstatt Risk. Risiko setelmen juga dapat disebabkan oleh perbedaan time zone, pihak pertama sudah lebih dulu menyerahkan valuta lain kemudian karena perbedaan waktu proses setelmen dari masing-masing valuta asing. Risiko setelmen, memiliki efek paling serius dalam setelmen transaksi valuta asing. Risiko setelmen dapat memicu timbulnya risiko lain dikarenakan risiko setelmen berhubungan langsung dari nilai transaksi pasar valuta asing. Saat terjadi risiko setelemen akan memicu efek domino di antara para pelaku pasar valuta asing, antara lain risiko kredit, dan risiko likuiditas. Saat pihak tersebut tidak mampu mengatasi risiko tersebut, maka timbullah risiko sistematik yang memicu risiko operasional di pasar valuta asing dan pasar keuangan lainnya.
Pada proses setelmen konvensional, risiko setelmen sangat besar.
Hal ini dikarenakan kemungkinan untuk salah satu pihak melakukan penipuan cukup tinggi. Penyebab utamanya adalah
26
`
tidak adanya koordinasi dalam proses setelmen antara dua pihak tersebut. Terdapat beberapa tahap setelmen dengan risiko setelmen terdapat pada setiap tahapan proses setelmen tersebut.
5) Risiko Kredit (Credit Risk/Exposure)
Risiko kredit adalah risiko kerugian akibat salah satu pihak yang melakukan transaksi tidak dapat melunasi kewajibannya secara penuh, baik dari jumlah nominal transaksi maupun tenor waktu yang ditentukan atau lebih dari waktu tersebut. Pihak perbankan mengantisipasi risiko kredit dengan berbagi alternatif, salah satunya adalah membatasi jumlah nominal transaksi (limit counterparties) dan pemilihan counterparties dalam transaksi jual beli valuta asing (performa counterparties dari sisi keuangan). Untuk menghindari risiko ini, bank menerapkan kebijakan bahwa tidak semua bank dapat menjadi lawan transaksi valuta asing mereka (credit line) di pasar valuta asing. Setiap bank memiliki kriteria tertentu dan umumnya cukup ketat untuk memitigasi terjadinya risiko kredit.
6) Risiko Likuiditas (Liquidity Risk)
Risiko likuiditas timbul ketika salah satu peserta dalam system pembayaran tidak miliki dana yang cukup untuk memenuhi kewajibannya pada saat jatuh tempo, meskipun mungkin mampu pada waktu yang akan datang. Umumnya, negara-negara berkembang memiliki liquiditas valuta asing yang lebih kecil dibandingkan negara-negara maju. Likuiditas berpengaruh terhadap
proses pembentukan harga di suatu pasar. Semakin tipis likuiditasnya, maka fluktuasi harganya dan selisih (spread) antara kurs beli dan kurs beli juga semakin lebar atau besar.
7) Kasus (Fraud) di Pasar Keuangan
Selain risiko-risiko yang telah dijelaskan sebelumnya terdapat juga risiko fraud, yaitu berupa risiko yang ditimbulkan akibat perbuatan tidak baik berupa penipuan, manipulasi, kecurangan, maupun penggelapan. Risiko ini umumnya dilakukan pegawai di lingkungan institusi pasar keuangan. Seperti kasus NickLiesen yang membuat bangkrutnya bank Inggris, yaitu Bearing Bank, adanya indikasi manipulasi level NDF beberapa mata uang asing oleh beberapa bank Singapura, serta manipulasi LIBOR rate oleh beberapa bank besar dunia.
3. Jenis Transaksi Valuta Asing
Dalam pasar valuta asing terdapat beberapa jenis transaksi oleh pelaku pasar.
Pada umumnya transaksi valuta asing dibedakan berdasarkan jangka waktu antara tanggal transaksi (deal date) dengan tanggal valuta (value date).
Dimana hal tersebut sangat diperlukan dalam menghitung transaksi yang diperlukan. Berikut merupakan jenis-jenis transaksi tersebut:
a. Transaksi Today (TOD) b. Transaksi Tomorrow (TOM) c. Transaksi Spot
d. Transaksi Forward
28
`
e. Transaksi Swap
2.1.5 Kurs
Kurs dalam pasar valas dikutip menurut kurs beli (bid rates) dan kurs jual (offer rates). Kurs beli adalah kurs dimana bank bersedia membeli suatu mata uang sedangkan kurs jual adalah kus dimana bank mau menjual suatu mata uang (Kuncoro, 2017). Pelaku pasar valas tidak harus membeli atau menjual ke bank tetapi juga bisa ke tempat-tempat yang meneyediakan penukaran mata uang (money changer).
Kurs spot dan kurs forward sering digunakan dan sudah tidak asing lagi bagi para pelaku bisnis di dalam pasar valas. Kurs spot terdiri dari transaksi valas yang biasanya selesai dalam maksimal dua hari kerja. Sedangkan kurs forward merupakan transaksi yang akan diselesaikan setelah memiliki kesepakatan kontrak untuk membeli dan menjual. Waktu antara ditetapkannya kontrak dan pertukaran mata uang yang sebenarnya bervariasi dari dua minggu hingga satu tahun (Kuncoro, 2017).
2.1.6 Eksposur Valuta Asing 1. Pengertian Eksposur Valuta Asing
Menurut Eiteman (2010), menyatakan bahwa "Eksposur valuta asing merupakan ukuran dari potensi perubahan profitabilitas, arus kas bersih, dan nilai pasar perusahaan, karena adanya perubahan dalam nilai tukar". Sangat penting bagi perusahaan untuk dapat memperhitungkan seberapa jauh eksposur valuta asing akan berdampak pada perusahaan, sehingga dapat
melakukan langkah manajemen risiko untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan eksposur tersebut.
2. Macam Eksposur Valuta Asing a. Eksposur Transaksi
Tingginya frekuensi suatu perusahaan melakukan transaksi ekspor dan impor mengakibatkan perusahaan tersebut semakin terekspos akan eksposur transaksi. Penerimaan dan pembayaran kewajiban dinyatakan dalam valuta asing, sehingga sedikit saja perubahan nilai tukar akan sangat memepengaruhi keuntungan atau kerugian perusahaan. Hal ini dikarenakan penerimaan atau pembayaran dilakukan di waktu yang berbeda dari saat transaksi dilakukan, sehingga jumlah yang akan diterima atau dibayarkan ditentukan oleh nilai tukar pada saat jatuh tempo. Eksposur transaksi terjadi saat perusahaan melakukan transaksi dalam mata uang asing asing.
Eksposur ini terjadi karena fluktuasi nilai tukar mata uang asing diantara waktu dibuatnya komitmen dan waktu pembayaran komitmen tersebut (Ball, Geringer, & Minor, 2014). Pada eksposur transaksi, nilai kontrak transaksi perusahaan dimasa yang akan datang dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar. Sensitivitas transaksi perusahaan terhadap pergerakan nilai tukar mata uang disebut sebagai eksposur transaksi (Madura, 2011).
b. Eksposur Translasi
Sebuah perusahaan multinasional yang memiliki banyak anak perusahaan harus membuat laporan keuangan konsolidasi untuk mengetahui kondisi keuangan perusahaan secara keseluruhan. Umumnya mata uang yang
30
`
digunakan antara perusahaan induk dan anak-anak perusahaannya berbeda. Permasalahan muncul ketika laporan keunagan anak perusahaan yang menggunakan mata uang lokal harus dikonversikan menyesuaikan mata uang yang digunakan perusahaan induk untuk kepentingan konsolidasi laporan keuangan. “Since exchange rate change over time, the translation of the subsidiary’s financial statement into a diffrent currency is affected by exchange rate movements” (Madura, 2011).
c. Eksposur Ekonomi
Fluktuasi nilai tukar juga mempengaruhi nilai sekarang perusahaan.
Eksposur ekonomi mengukur perubahan dalam nilai sekarang perusahaan yang diakibatkan oleh setiap perubahan dalam arus kas operasional masa depan perusahaan yang disebabkan oleh perubahan yang tidak diharapkan dalam nilai tukar (Eiteman, 2010). Madura (2011), menyatakan bahwa eksposur ekonomi menunjukkan seberapa besar nilai sekarang dari arus kas masa depan perusahaan terpengaruh oleh fluktuasi nilai tukar. Hady (2010) mengatakan bahwa, “Economic Exposure (E/OE) diartikan sebagai suatu pengaruh fluktuasi forex rate atau kurs valas terhadap present value dari future cash flow suatu perusahaan.
2.1.7 Hedging
Hedging adalah mengambil suatu posisi, memperoleh suatu arus kas, aset, atau kontrak (termasuk kontrak forward) yang akan naik atau turun nilainya dan meng-offsetnya dengan suatu penurunan atau kenaikan nilai dari suatu posisi yang sudah ada (Eiteman, 2010). Menurut Madura (2011), lindungi nilai yang ideal
seharusnya mengisolasi perusahaan terhadap dampak negatif dari pergerakan kurs tetapi membuat perusahaan dapat memanfaatkan dampak positif dari pergerakan kurs. Opsi mata uang memiliki karakteristik ini, namun suatu perusahaan perlu penilai apakah keuntungan dari lindungi nilai opsi mata uang lebih tinggi dibandingkan harga yang dibayarkan atau opsi tersebut.
Berdasarkan peraturan Bank Indonesia No 15/8/PBI/2013 tentang transaksi lindungi nilai kepada bank, lindungi nilai adalah cara atau teknik untuk mengurangi risiko yang timbul maupun yang diperkirakan akan timbul akibat adanya fluktuasi harga di pasar keuangan. Berdasarkan pendapat tersebut, maka dapat diketahui bahwa hedging adalah usaha untuk menghindari kerugian atas flkutuasi nilai tukar mata uang asing yang sering terjadi. Hedging bagi perusahaan mirip dengan asuransi, perusahaan akan memindahkan risiko kepada pihak ketiga, dalam kasus ini pihak ketiga dalam proses hedging adalah bank. Perusahaan akan membayar sejumlah premi untuk memindahkan risiko dari fluktuasi mata uang.
1. Alasan Melakukan Hedging
a. Para pemegang saham jauh lebih mampu mendiversifikasikan risiko mata uang dari pada manajemen perusahaan.
b. Seperti dikemukakan sebelumnya, manajemen risiko mata uang tidak meningkatkan arus kas yang diharapkan dari perusahaan.
c. Manajemen sering melakukan aktivitas hedging yang menguntungkan manajemen dengan mengorbankan para pemegang saham.
d. Para manajer tidak dapat menebak pasar.
e. Motivasi manajemen untuk mengurangi variabilitas sering kali didorong