BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 COVID-19
2.1.8 Patogenesis COVID-19
Virus bisa melewati membran mukosa, terutama mukosa nasal dan laring, setelah itu memasuki paru- paru melalui traktus respiratorius. Selanjutnya, virus akan menyerang organ target yang mengekspresikan Angiotensin Converting Enzyme 2 (ACE2), seperti paru- paru, jantung, sistem renal serta tractus gastrointestinal (Gennaro et al., 2020). Protein S pada SARS-CoV-2 memfasilitasi masuknya virus corona ke dalam sel target. Masuknya virus tergantung pada kemampuan virus untuk berikatan dengan ACE2, yakni reseptor membran ekstraselular yang diekspresikan pada sel epitel, dan tergantung pada priming protein S ke protease selular, yakni (Transmembrane protease serine 2) TMPRSS2 (Handayani et al., 2020; Kumar et al., 2020; Lingeswaran et al., 2020).
Protein S dalam SARS-CoV-2 dan SARS-CoV memiliki struktur tiga dimensi yang hampir sama dalam domain pengikatan reseptor. Protein S dalam SARS-CoV memiliki afinitas pengikatan yang kuat dengan ACE2 manusia. Dalam analisis lebih lanjut, ditemukan bahwa SARS-CoV-2 memiliki kemampuan pengenalan manusia terhadap ACE2 yang lebih baik daripada SARS-CoV. (Zhang et al., 2020). Masa inkubasi COVID-19 adalah 3-14 hari. Hal ini ditandai dengan kadar sel darah putih dan limfosit yang masih normal atau sedikit menurun, dan penderita tidak ada gejala. Selanjutnya, virus mulai menyebar di aliran darah, terutama ke organ yang mengekspresikan ACE2, dan penderita mulai mengalami gejala ringan. Empat sampai tujuh hari sejak timbulnya gejala, kondisi pasien mulai memburuk, yang diandai sesak, limfopenia, dan perburukan lesi paru. Jika tahap ini tidak dapat diatasi, acute respiratory distress syndrome (ARSD), sepsis dan komplikasi lain dapat terjadi. Tingkat keparahan klinis terkait dengan usia (lebih dari 70 tahun), penyakit penyerta seperti diabetes, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), hipertensi, dan obesitas (Gennaro et al., 2020; Susilo et al., 2020).
Sistem imun innate dapat mendeteksi RNA virus melalui reseptor seperti retinoic acid-inducible gene I (RIG-I), The nucleotide-binding oligomerization domain-like receptors (NLRs), dan Toll-like receptors (TLRs). Hal ini kemudian akan merangsang produksi interferon (IFN) dan memicu munculnya efektor
antiviral seperti sel CD8 +, sel natural killer (NK) dan makrofag. Infeksi dari beta coronavirus lainnya, yaitu SARS-CoV dan MERS-CoV, ditandai dengan replikasi virus yang cepat dan produksi IFN yang terlambat, terutama sel dendritik, makrofag dan sel epitel pernafasan, yang selanjutnya diiringi oleh kenaikan kadar sitokin proinflamasi bersamaan dengan progres penyakit (Allegra et al., 2020;
Lingeswaran et al., 2020). Infeksi virus dapat menghasilkan respons imun yang berlebihan pada inang. Dalam beberapa kasus, selalu ada reaksi yang disebut "badai sitokin". Badai sitokin adalah peristiwa respons inflamasi yang berlebihan, di mana sitokin diproduksi dengan cepat dalam jumlah besar sebagai respons terhadap infeksi. Dalam kaitannya dengan COVID-19, ditemukan bahwa sekresi sitokin dan kemokin oleh sel imun innate tertunda karena blokade protein non-struktural virus.
Selain itu, hal ini menyebabkan lonjakan sitokin dan kemokin proinflamasi (IL-6, TNFα, IL-8, MCP-1, IL-1β, CCL2, CCL5 dan interferon) melalui aktivasi makrofag dan limfosit Pelepasan sitokin ini memicu aktivasi sel imun adaptif (seperti sel T, neutrofil, dan sel NK) dan terus memproduksi sitokin proinflamasi.
Lonjakan cepat sitokin pro- inflamasi ini merangsang infiltrasi inflamasi jaringan paru- paru, yang menimbulkan kerusakan paru- paru pada epitel dan endotel (Gambar 2.6). Kerusakan ini bisa menimbulkan terjadinya ARDS serta kegagalan multi organ, dan sanggup menyebabkan kematian dalam waktu yang singkat (Gennaro et al., 2020; Lingeswaran et al., 2020). Seperti kita ketahui bersama, jalur utama penularan SARS-CoV-2 adalah melalui droplet. Akan tetapi, ada kemungkinan terjadinya transmisi melalui fekal-oral. Penelitian oleh Xiao et al.
(2020) menunjukkan bahwa di antara 73 pasien yang di rawat karena COVID-19, 53,42% pasien dinyatakan positif SARS-CoV-2 RNA dalam feses mereka.
Faktanya, meski sampel pernapasan menunjukkan hasil negatif, 23,29% pasien masih dinyatakan positif SARS-CoV-2 RNA dalam fesesnya. Selain itu, penelitian juga membuktikan bahwa ACE2 banyak diekspresikan dalam sel glandular gaster, duodenum, dan epitel rectum dan protein nukleokapsid virus ditemukan di epitel lambung, duodenum, dan rektum. Hal ini mengindikasikan bahwa SARS-CoV-2 juga dapat menginfeksi saluran cerna dan kemungkinan penularan fecal -oral (Kumar et al., 2020; Xiao et al., 2020).
Gambar 2.6 Gambaran Singkat Patologi Paru-Paru Pada Pasien Coronavirus Infectious Disease 2019 (COVID-19) (Harrison et al.,2020) 2.1.9 Jenis varian baru dari SARS-CoV-2
Penyakit pernapasan yang sebelumnya tidak diketahui ditemukan di China pada Desember 2019. Ternyata sebuah novel virus corona bernama SARS-CoV-2 yang menjadi penyebab penyakit COVID-19, dan virus ini sudah menyebar ke seluruh dunia. Sekarang, lebih dari setahun kemudian, ada lebih dari 100 juta kasus COVID-19 yang dilaporkan. Kekurang pahaman otoritas kesehatan tentang virus dan kemampuannya yang terbatas untuk berkontribusi menjadikan pandemi ini semakin parah. Dengan penemuan Varian genetik SARS-CoV-2 baru. yang mungkin saja memiliki kemampuan transmisibilitas yang lebih tinggi (Lauring dan Hodcroft, 2021), hal yang menjadi perhatian adalah penyebarannya akan lebih cepat daripada produksi dan distribusi vaksin, yang memungkinkan varian baru ini akan semakin memperparah pandemi. Sejak wabah COVID-19, banyak mutasi genetik diamati di Isolat SARS-CoV-2. Variasi genetik di Glikoprotein permukaan SARS-CoV-2 adalah yang terpenting pentingnya karena mutasi cenderung mempengaruhi efektivitas vaksin atau kekebalan tubuh dari virus (Tegally et al., 2020).
1. Varian D614G
Varian SARS-CoV-2 D614G, muncul di januari 2020, pertama kali diperhatikan pada bulan April 2020 di terbitkan oleh Korber dan kolega, memperingatkan bahwa "Frekuensi D614G meningkat pada tahap yang mengkhawatirkan”. Varian D614G menyimpan substitusi asam asparat oleh glisin pada posisi 614 dari spike glikoprotein virus, yang membantu partikel virus untuk menembus sel (Korber et al., 2020). Virus dengan mutasi D614G dengan cepat menjadi bentuk yang dominan secara global pada Juni 2020, dan banyak studi sub-sekuen menunjukkan bahwa virus ini lebih menular (Korber et al., 2020).
2. Cluster 5
The Danish public health authorities melaporkan wabah COVID-19 di Jutlandia Utara Denmark yang dari mink-related virus variants pada Desember 2019. Varian unik ini terdapat pada 12 kasus pada manusia (dari 7 hingga 79 tahun) yang kemudian dinamai cluster 5, juga disebut "ΔFVI" 49. Dalam varian ini, lima mutasi muncul pada protein S, termasuk: Y453F, a H69/V70 deletion (ΔH69/ΔV70), I692V, S1147L dan M1229I. The immunogenicity of variant cluster 5 telah dinilai berbahaya karena memiliki potensi untuk mengurangi pengenalan virus oleh antibodi yang ditimbulkan oleh infeksi atau vaksinasi SARS-CoV-2.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mutasi pada cluster 5 mungkin cukup menurunkan sensitivitas terhadap antibodi penetral (Fonager et al., 2020).
3. VOC 202012/01
Varian ini disebut sebagai VUI 202012/01 (B.1.1.7) saat pertama terdeteksi dan ditinjau ulang sebagai VOC 202012/01 (B.1.1.7) pada tanggal 18 Desember 2020. VOC 202012/01 (B.1.1.7) dapat menyebar lebih cepat daripada beberapa varian virus SARS-CoV-2 lainnya saat ini beredar di Inggris. Saat ini, bukti yang tersedia menunjukkan bahwa VOC 202012/01 (B.1.1.7) tidak terkait kuat dengan antigenic escape dari naturally-acquired immunity (NAI). VOC 202012/01 (B.1.1.7) tampaknya telah meningkatkan kemampuan transmisi dibandingkan
dengan varian sebelumnya beredar dan telah menyebar dengan pesat hingga menjadi varian dominan di Inggris (PHE, 2021).
4. 501Y.V2 and P.1
Kasus P.1 pertama diidentifikasi di Jepang di antara empat pelancong yang tiba di Jepang dari Utara Brazil. Kemudian ditelusuri kembali ke Brazil di mana garis keturunan P.1 (sebelumnya dikenal sebagai B.1.1.28.1) pertama kali dikonfirmasi berada di Brasil pada 4 Desember 2020. Pada 2 Februari 2021, P.1 telah dikonfirmasi di enam negara dengan jumlah urutan total 48 (Brasil [n = 38], Jepang [4], Italia [3], Faroe Kepulauan [1], Korea Selatan [1]), SA [1]. Varian P.1 pertama kali diidentifikasi di luar Brasil di Jepang pada 2 Januari 2021, diikuti oleh AS (9 Januari 2021), Korea Selatan (10 Januari 2021), Kepulauan Faroe (12 Januari 2021), dan Italia (18 Januari 2021) (PHO, 2021).
Wang et al. menemukan bahwa varian B.1.351 (501Y.V2) menunjukkan ketahanan terhadap netralisasi dengan pemulihan plasma (11-33 kali lipat) dan serum vaksin (6.5-8.6 kali lipat) (Wang et al., 2021). Salah satu mutasi dalam hal ini varian, N501Y, terletak di bagian penting reseptor-binding domain (RBD) dari spike protein dan diperkirakan akan meningkatkan ikatan pada sel manusia dan mengurangi netralisasi virus oleh antibodi monoklonal LY-CoV016 (Greaney et al., 2021; Starr et al., 2020). Sebuah laporan dari Brasil menggambarkan kenaikan kasus COVID-19 di Manaus pada Januari 2021, daerah yang telah melaporkan seroprevalensi tinggi pada bulan Oktober 2020 . Hal ini menunjukkan kemungkinan peningkatan risiko infeksi ulang dengan varian P.1. Namun, faktor lain yang berkontribusi untuk kebangkitan mungkin termasuk penurunan antibodi dan lebih tinggi penularan varian P.1 (Sabino et al., 2021).
2.1.10 Tatalaksana COVID-19
Menurut Pedoman Tatalaksana COVID- 19 edisi 2 yang di keluarakan oleh Kemenkes RI, 2020 tatalaksana pada pasien COVID-19 adalah sebagai berikut:
1. TANPA GEJALA a. Non-farmakologis
Berikan edukasi terkait tindakan yang perlu dikerjakan (leaflet untuk dibawa ke rumah):
• Pasien:
- Selalu menggunakan masker jika keluar kamar dan saat berinteraksi dengan anggota keluarga
- Cuci tangan dengan air mengalir dan sabun atau hand sanitizer sesering mungkin.
- Jaga jarak dengan keluarga (physical distancing) - Upayakan kamar tidur sendiri / terpisah
- Menerapkan etika batuk (Diajarkan oleh tenaga medis) b. Farmakologi
• Bila terdapat penyakit penyerta / komorbid, dianjurkan untuk tetap melanjutkan pengobatan yang rutin dikonsumsi. Apabila pasien rutin meminum terapi obat antihipertensi dengan golongan obat ACE-inhibitor dan Angiotensin Reseptor Blocker perlu berkonsultasi ke Dokter Spesialis Penyakit Dalam atau Dokter Spesialis Jantung
• Vitamin C (untuk 14 hari), dengan pilihan;
- Tablet Vitamin C non acidic 500 mg/6-8 jam oral (untuk 14 hari) - Tablet isap vitamin C 500 mg/12 jam oral (selama 30 hari)
- Multivitamin yang mengandung vitamin C 1-2 tablet/24 jam (selama 30 hari),
- Dianjurkan multivitamin yang mengandung vitamin C, B, E, Zink
• Obat-obatan suportif baik tradisional (Fitofarmaka) maupun Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) yang teregistrasi di BPOM dapat dipertimbangkan untuk diberikan namun dengan tetap memperhatikan perkembangan kondisi klinis pasien.
• Obat-obatan yang memiliki sifat antioksidan dapat diberikan 2. DERAJAT RINGAN
a. Non Farmakologis
Edukasi terkait tindakan yang harus dilakukan (sama dengan edukasi tanpa gejala).
b. Farmakologis
• Vitamin C dengan pilihan:
- Tablet Vitamin C non acidic 500 mg/6-8 jam oral (untuk 14 hari) - Tablet isap vitamin C 500 mg/12 jam oral (selama 30 hari) - Multivitamin yang mengandung vitamin c 1-2 tablet /24 jam
(selama 30 hari),
- Dianjurkan vitamin yang komposisi mengandung vitamin C, B, E, zink
• Azitromisin 1 x 500 mg perhari selama 5 hari
• Salah satu dari antivirus berikut ini:
- Oseltamivir (Tamiflu) 75 mg/12 jam/oral selama 5-7 hari Atau
- Kombinasi Lopinavir + Ritonavir (Aluvia) 2 x 400/100mg selama 10 hari
Atau
- Favipiravir (Avigan) 600 mg/12 jam/oral selama 5 hari
• Klorokuin fosfat 500 mg/12 jam oral (untuk 5-7 hari) Atau Hidroksiklorokuin (sediaan yang ada 200 mg) dosis 400 mg/24 jam/oral (untuk 5-7 hari) dapat dipertimbangkan apabila pasien dirawat inap di RS dan tidak ada kontraindikasi.
• Pengobatan simptomatis seperti parasetamol bila demam.
• Obat-obatan suportif baik tradisional (Fitofarmaka) maupun Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) yang teregistrasi di BPOM dapat dipertimbangkan untuk diberikan namun dengan tetap memperhatikan perkembangan kondisi klinis pasien.
• Pengobatan komorbid dan komplikasi yang ada 3. DERAJAT SEDANG
a. Non Farmakologis
• Istirahat total, asupan kalori adekuat, kontrol elektrolit, status hidrasi/terapi cairan, oksigen
• Pemantauan laboratorium Darah Perifer Lengkap berikut dengan hitung jenis, bila memungkinkan ditambahkan dengan CRP, fungsi ginjal, fungsi hati dan foto toraks secara berkala.
B. Farmakologis
• Vitamin C 200 – 400 mg/8 jam dalam 100 cc NaCl 0,9% habis dalam 1 jam diberikan secara drips Intravena (IV) selama perawatan
• Diberikan terapi farmakologis berikut:
o Klorokuin fosfat 500 mg/12 jam oral (untuk 5-7 hari) atau Hidroksiklorokuin (sediaan yg ada 200 mg) hari pertama 400 mg/12 jam/oral, selanjutnya 400 mg/24 jam/oral (untuk 5-7 hari) Ditambah
o Azitromisin 500 mg/24 jam per iv atau per oral (untuk 5-7 hari) atau sebagai alternatif Levofloksasin dapat diberikan apabila curiga ada infeksi bakteri: dosis 750 mg/24 jam per iv atau per oral (untuk 5-7 hari).
Ditambah
o Salah satu antivirus berikut:
Oseltamivir 75 mg/12 jam oral selama 5-7 hari Atau
Kombinasi Lopinavir + Ritonavir (Aluvia) 2 x 400/100mg selama 10 hari
Atau
Favipiravir (Avigan sediaan 200 mg) loading dose 1600 mg/12 jam/oral hari ke-1 dan selanjutnya 2 x 600 mg (hari ke 2-5) Atau
Remdesivir 200 mg IV drip/3jam dilanjutkan 1x100 mg IV drip/3 jam selama 9 – 13 hari
4. DERAJAT BERAT ATAU KRITIS a. Non Farmakologis
• Istirahat total, asupan kalori adekuat, kontrol elektrolit, status hidrasi (terapi cairan), dan oksigen
• Pemantauan laboratorium Darah Perifer Lengkap beriku dengan hitung jenis, bila memungkinkan ditambahkan dengan CRP, fungsi ginjal, fungsi hati, Hemostasis, LDH, D-dimer.
• Pemeriksaan foto toraks serial bila perburukan
• Monitor tanda-tanda sebagai berikut;
- Takipnea, frekuensi napas ≥ 30x/min,
- Saturasi Oksigen dengan pulse oximetry ≤93% (di jari), - PaO2/FiO2 ≤ 300 mmHg,
- Peningkatan sebanyak >50% di keterlibatan area paru-paru pada pencitraan thoraks dalam 24-48 jam,
- Limfopenia progresif, - Peningkatan CRP progresif, - Asidosis laktat progresif.
b. Farmakologis
• Vitamin C 200 – 400 mg/8 jam dalam 100 cc NaCl 0,9% habis dalam 1 jam diberikan secara drips Intravena (IV) selama perawatan
• Vitamin B1 1 ampul/24 jam/intravena
• Klorokuin fosfat, 500 mg/12 jam/oral (hari ke 1-3) dilanjutkan 250 mg/12 jam/oral (hari ke 4-10) atau Hidroksiklorokuin dosis 400 mg /24 jam/oral (untuk 5 hari), setiap 3 hari kontrol EKG
• Azitromisin 500 mg/24 jam per iv atau per oral (untuk 5-7 hari) atau sebagai alternatif Levofloksasin dapat diberikan apabila curiga ada infeksi bakteri:
dosis 750 mg/24 jam per iv atau per oral (untuk 5-7 hari).
• Bila terdapat kondisi sepsis yang diduga kuat oleh karena ko-infeksi bakteri, pemilihan antibiotik disesuaikan dengan kondisi klinis, fokus infeksi dan faktor risiko yang ada pada pasien. Pemeriksaan kultur darah harus dikerjakan dan pemeriksaan kultur sputum (dengan kehati-hatian khusus) patut dipertimbangkan.
• Antivirus:
▪ Oseltamivir 75 mg/12 jam oral selama 5-7 hari
Atau
▪ Kombinasi Lopinavir + Ritonavir (Aluvia) 2 x 400/100mg selama 10 hari
Atau
▪ Favipiravir (Avigan sediaan 200 mg) loading dose 1600 mg/12 jam/oral hari ke-1 dan selanjutnya 2 x 600 mg (hari ke 2-5)
Atau
▪ Remdesivir 200 mg IV drip/3jam dilanjutkan 1x100 mg IV drip/3 jam selama 9 – 13 hari
• Deksametason dengan dosis 6 mg/ 24 jam selama 10 hari atau kortikosteroid lain yang setara seperti hidrokortison pada kasus berat yang mendapat terapi oksigen atau kasus berat dengan ventilator.
• Pengobatan komorbid dan komplikasi yang ada
• Apabila terjadi syok, lakukan tatalaksana syok sesuai pedoman tatalaksana syok yang sudah ada
• Obat suportif lainnya dapat diberikan sesuai indikasi 2.2 Vaksin COVID -19
2.2.1 Definisi Vaksinasi dan Vaksin
Vaksinasi adalah bentuk imunitas aktif yang sederhana, aman, dan efektif yang dapat melindungi orang dari penyakit berbahaya. Vaksinasi menggunakan pertahanan alami tubuh untuk membangun ketahanan terhadap infeksi tertentu dan membuat sistem kekebalan kelompok (herd immunity) atau sistem imun tubuh lebih kuat (Kemenkes, 2020). Vaksinasi tidak hanya dapat melindungi diri kita sendiri, tetapi juga orang-orang di sekitar kita. Orang yang memiliki sakit parah disarankan untuk tidak mendapatkan vaksin tertentu, sehingga mereka bergantung pada orang
yang mendapatkan vaksinasi dan membantu mengurangi penyebaran penyakit (WHO, 2020).
Kata "vaksin" berasal dari Bahasa Latin yaitu Variolae vaccinae (cowpox), yang ditunjukkan Edward Jenner pada tahun 1798 untuk mencegah cacar pada manusia. Hari ini istilah 'vaksin' berlaku untuk semua persiapan biologis, yang dihasilkan dari organisme hidup, yang berfungsi meningkatkan kekebalan terhadap penyakit dan (vaksin profilaksis) atau, dalam beberapa kasus, mengobati penyakit (vaksin terapeutik). Vaksin diberikan dalam cairan baik dengan injeksi, oral, atau dengan rute intranasal (Jenner et al., 2012). Vaksin merupakan produk biologi yang berisi antigen berupa mikroorganisme yang telah mati atau masih hidup yang dilemahkan, masih utuh atau bagiannya, atau berupa toksin mikroorganisme yang sudah diolah menjadi toksoid atau protein rekombinan, yang ditambahkan dengan zat lainnya, yang apabila diberikan kepada seseorang akan memunculkan imunitas spesifik secara aktif terhadap penyakit tertentu (Permenkes, 2017).
Antigen adalah molekul unik yang ditemukan pada permukaan patogen.
Ketika mendapatkan vaksin, sistem kekebalan akan merespons. (1) Mengidentifikasi kuman yang menyerang seperti virus atau bakteri. (2) Menghasilkan antibodi, yaitu protein yang diproduksi secara alami oleh sistem kekebalan tubuh, yang dapat melawan penyakit. (3) Mengingat penyakit dan cara melawannya. Jika terkena kuman di masa mendatang, sistem kekebalan tubuh dapat dengan cepat menghancurkannya sebelum tubuh menjadi sakit (CDC, 2020 ; Peeples, 2020 ; WHO, 2020). Oleh karena itu, vaksin merupakan cara yang aman dan cerdas untuk membangkitkan respons imun dalam tubuh tanpa menimbulkan penyakit. Hal ini membuat vaksin sebagai obat yang ampuh dan intervensi kesehatan yang paling hemat biaya. Vaksin berbeda dari kebanyakan obat-obatan yang mengobati atau menyembuhkan, vaksin berfungsi untuk mencegah dan mengendalikan penyakit menular serta dapat mengurangi morbiditas dan mortalitas tanpa efek jangka panjang (Dai et al., 2019 ; WHO, 2020).
2.2.2 Sejarah Vaksin COVID-19
Jenis baru virus corona terus bermunculan dan berangsur-angsur menjadi ancaman serius bagi kesehatan publik sejak ditemukannya virus corona di manusia pada tahun 1960-an. Padahal sudah hampir dua dekade sejak wabah pertama virus corona, ilmuwan dan komunitas medis masih tidak siap dengan senjata yang efektif untuk memerangi patogen ini (Li et al., 2020).
Pengembangan vaksin telah dimulai dengan kecepatan yang luar biasa, tidak lama setelah permulaan wabah SARS-CoV-2 (Lurie et al.,2020), sudah ada lebih dari dua puluh vaksin sedang diuji dalam uji klinis. WHO secara berkala selalu menerbitkan daftar vaksin yang sedang dalam pengembangan (WHO, 2020).
Sebagai spesialis dalam penelitian vaksin epidemik, CEPI (Coalition for Epidemic Preparedness Innovations) telah membentuk komite konsultasi global yang membantu meluncurkan Gugus Tugas Pengembangan Vaksin COVID-19, berfokus pada pembuatan dan pembiayaan vaksin, bekerja sama dengan GAVI (Global Alliance for Vaccines and Immunisation) dan Bank Dunia (Yamey et al.,2020).
Mengingat bahwa ada dorongan mendesak dalam pembuatan vaksin untuk miliaran orang, hal yang perlu difokuskan yaitu vaksin harus diproduksi dalam jumlah besar dengan fasilitas yang tersedia (Amanat et al.,2020).
Vaksin dapat didasarkan pada seluruh virus (live-attenuated atau inactivated), vektor virus, nanopartikel atau partikel mirip virus, komponen subunit, protein/peptida, RNA, DNA atau sel hidup. Uji coba vaksin COVID-19 pertama kali telah dimulai di China pada tanggal 15 Februari 2020, menggunakan sel dendritik yang dimodifikasi secara genetik dengan protein struktural dan enzimatik SARS-CoV-2. Percobaan kedua, di Cina, dilakukan dengan vaksin serupa, dilengkapi dengan infus vaksin spesifik antigen sel T. Sementara kedua vaksin ini diuji secara terapeutik pada pasien COVID-19, kebanyakan vaksin lainnya diuji pada sukarelawan yang sehat. Di AS, uji coba pertama diluncurkan pada Maret 2020, menggunakan nanopartikel lipid mengenkapsulasi mRNA yang mengkode protein spike (S), disponsori oleh Moderna dan Institut Kesehatan Nasional (Aaas, 2020). Pada awal April 2020, uji coba vaksin DNA dimulai dengan plasmid
pengkodean protein S, disponsori oleh Inovio Pharmaceuticals dan CEPI (Coalition for Epidemic Preparedness Innovations). Sejak pertengahan April 2020, beberapa vaksin yang terdiri dari virus SARS-CoV-2 yang dilemahkan telah diuji di Cina (Tseng et al.,2021). Vaksin COVID-19 berjenis vektor virus dikembangkan di Universitas Oxford, Inggris (Van et al.,2020).
2.2.3 Jenis-jenis Vaksin
Vaksin terdiri dari berbagai jenis atau formulasi yang mempengaruhi bagaimana penggunaannya. Setiap jenis vaksin dirancang untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan mencegah penyakit.
1. Live attenuated vaccine (Vaksin hidup yang dilemahkan)
Vaksin hidup yang dilemahkan menghadirkan sebagian komponen antigenik ke inang dan dengan demikian bisa berpotensi mengakibatkan beragam dampak imunologis terhadap patogen (Bhattacharya et al., 2020). Mereka ialah vaksin tradisional dengan teknologi yang sudah dipersiapkan secara matang dan dapat menjadi vaksin SARS-CoV-2 pertama yang dimasukkan ke dalam aplikasi klinis (Ahn et al., 2020) Saat ini, beberapa lembaga riset sudah memulai penelitian ini. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China, Institut Virologi Wuhan, Akademi Ilmu Pengetahuan China, Universitas Zhejiang, dan beberapa lembaga lainnya telah sukses mengisolasi strain virus SARS-CoV-2 dan memulai pengembangan vaksin yang relevan. (Zhang et al., 2020). Keunggulan vaksin ini adalah sangat cocok untuk merangsang sistem imun terhadap infeksi bakteri atau virus tertentu karena memiliki reaksi imunologi yang mirip dengan infeksi alami (Dai et al., 2020). Kerugian dari live attenuated vaccine adalah dapat bermutasi menjadi bentuk patogen. Vaksin ini juga tidak dapat diberikan kepada orang dengan sistem imun yang lemah atau tidak bekerja, baik karena perawatan obat atau penyakit yang mendasarinya. Ini karena virus atau bakteri yang dilemahkan akan berkembang biak terlalu banyak dan dapat menyebabkan penyakit pada orang-orang ini (OVG, 2020). Kerugian lainnya adalah vaksin ini mengandung mikroba yang tidak tahan dengan suhu yang tinggi, sehingga harus disimpan pada suhu
rendah. Contoh dari vaksin jenis ini yaitu vaksin campak, BCG, dan rotavirus (Yadav et al., 2014).
2. Inactivated Vaccine (Vaksin inaktif)
Inactivated vaccine adalah vaksin yang dibuat dari bakteri atau virus penyebab penyakit yang dimatikan melalui berbagai cara seperti zat kimia, pemanasan, atau radiasi. Perlakuan dengan cara ini akan menghancurkan kemampuan patogen untuk bereplikasi tetapi tetap utuh sehingga sistem imum tetap dapat mengenalinya (Yadav et al., 2014). Kelebihan dari vaksin ini dibandingan live attenuated vaccine yaitu tidak bermutasi menjadi bentuk patogenik. Selain itu, penyimpanannya tidak memerlukan suhu rendah sehingga tidak memerlukan lemari pendingin. Contoh dari vaksin tersebut adalah vaksin hepatitis A, influenza, dan rabies (OVG, 2020).
3. Vaksin Subunit
Vaksin subunit mencakup satu atau lebih antigen dengan imunogenisitas kuat yang dapat menstimulasi sistem imun inang secara efektif. Secara umum, jenis vaksin ini lebih terjamin dan lebih mudah untuk diproduksi, namun seringkali memerlukan penambahan bahan pembantu untuk mendapatkan respon imun protektif yang kuat. Kelebihan vaksin subunit yaitu dianggap sangat aman karena tidak mengandung komponen hidup patogen. Kelemahan vaksin subunit yaitu respon kekebalan dapat terjadi, namun tidak ada jaminan memori kekebalan akan terbentuk pada infeksi selanjutnya (Dai et al., 2020 ; WHO, 2020).
Beberapa lembaga telah memprakarsai program vaksin subunit SARS-CoV-2, dan hampir seluruhnya memanfaatkan protein S sebagai antigen. Sebagai contoh, Universitas Queensland tengah mengembangkan vaksin subunit berdasarkan pada teknologi “penjepit” molekuler (Zhang and Liu, 2020).
4. Vaksin mRNA
Vaksin mRNA merupakan teknologi yang berkembang pesat untuk menyembuhkan penyakit menular dan kanker. Vaksin berbasis mRNA mempunyai
kandungan mRNA yang mengkode antigen, yang diterjemahkan di mesin seluler inang dengan vaksinasi. Vaksin mRNA mempunyai keunggulan dibandingkan vaksin konvensional, dengan tidak adanya integrasi genom, respon imun yang meningkat, perkembangan yang cepat, dan produksi antigen multimerik (Roland S.
Marshall, M., 2020).
Moderna, Inc. sudah mengawali uji klinis fase I untuk mRNA-1273, vaksin mRNA, yang mengkode protein viral spike (S) dari SARS-CoV-2. Ini dirancang oleh hasil kerjasama dengan National Institute of Allergy and Infectious Diseases
Moderna, Inc. sudah mengawali uji klinis fase I untuk mRNA-1273, vaksin mRNA, yang mengkode protein viral spike (S) dari SARS-CoV-2. Ini dirancang oleh hasil kerjasama dengan National Institute of Allergy and Infectious Diseases