BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 COVID-19
2.1.10 Tatalaksana COVID-19
Menurut Pedoman Tatalaksana COVID- 19 edisi 2 yang di keluarakan oleh Kemenkes RI, 2020 tatalaksana pada pasien COVID-19 adalah sebagai berikut:
1. TANPA GEJALA a. Non-farmakologis
Berikan edukasi terkait tindakan yang perlu dikerjakan (leaflet untuk dibawa ke rumah):
• Pasien:
- Selalu menggunakan masker jika keluar kamar dan saat berinteraksi dengan anggota keluarga
- Cuci tangan dengan air mengalir dan sabun atau hand sanitizer sesering mungkin.
- Jaga jarak dengan keluarga (physical distancing) - Upayakan kamar tidur sendiri / terpisah
- Menerapkan etika batuk (Diajarkan oleh tenaga medis) b. Farmakologi
• Bila terdapat penyakit penyerta / komorbid, dianjurkan untuk tetap melanjutkan pengobatan yang rutin dikonsumsi. Apabila pasien rutin meminum terapi obat antihipertensi dengan golongan obat ACE-inhibitor dan Angiotensin Reseptor Blocker perlu berkonsultasi ke Dokter Spesialis Penyakit Dalam atau Dokter Spesialis Jantung
• Vitamin C (untuk 14 hari), dengan pilihan;
- Tablet Vitamin C non acidic 500 mg/6-8 jam oral (untuk 14 hari) - Tablet isap vitamin C 500 mg/12 jam oral (selama 30 hari)
- Multivitamin yang mengandung vitamin C 1-2 tablet/24 jam (selama 30 hari),
- Dianjurkan multivitamin yang mengandung vitamin C, B, E, Zink
• Obat-obatan suportif baik tradisional (Fitofarmaka) maupun Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) yang teregistrasi di BPOM dapat dipertimbangkan untuk diberikan namun dengan tetap memperhatikan perkembangan kondisi klinis pasien.
• Obat-obatan yang memiliki sifat antioksidan dapat diberikan 2. DERAJAT RINGAN
a. Non Farmakologis
Edukasi terkait tindakan yang harus dilakukan (sama dengan edukasi tanpa gejala).
b. Farmakologis
• Vitamin C dengan pilihan:
- Tablet Vitamin C non acidic 500 mg/6-8 jam oral (untuk 14 hari) - Tablet isap vitamin C 500 mg/12 jam oral (selama 30 hari) - Multivitamin yang mengandung vitamin c 1-2 tablet /24 jam
(selama 30 hari),
- Dianjurkan vitamin yang komposisi mengandung vitamin C, B, E, zink
• Azitromisin 1 x 500 mg perhari selama 5 hari
• Salah satu dari antivirus berikut ini:
- Oseltamivir (Tamiflu) 75 mg/12 jam/oral selama 5-7 hari Atau
- Kombinasi Lopinavir + Ritonavir (Aluvia) 2 x 400/100mg selama 10 hari
Atau
- Favipiravir (Avigan) 600 mg/12 jam/oral selama 5 hari
• Klorokuin fosfat 500 mg/12 jam oral (untuk 5-7 hari) Atau Hidroksiklorokuin (sediaan yang ada 200 mg) dosis 400 mg/24 jam/oral (untuk 5-7 hari) dapat dipertimbangkan apabila pasien dirawat inap di RS dan tidak ada kontraindikasi.
• Pengobatan simptomatis seperti parasetamol bila demam.
• Obat-obatan suportif baik tradisional (Fitofarmaka) maupun Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) yang teregistrasi di BPOM dapat dipertimbangkan untuk diberikan namun dengan tetap memperhatikan perkembangan kondisi klinis pasien.
• Pengobatan komorbid dan komplikasi yang ada 3. DERAJAT SEDANG
a. Non Farmakologis
• Istirahat total, asupan kalori adekuat, kontrol elektrolit, status hidrasi/terapi cairan, oksigen
• Pemantauan laboratorium Darah Perifer Lengkap berikut dengan hitung jenis, bila memungkinkan ditambahkan dengan CRP, fungsi ginjal, fungsi hati dan foto toraks secara berkala.
B. Farmakologis
• Vitamin C 200 – 400 mg/8 jam dalam 100 cc NaCl 0,9% habis dalam 1 jam diberikan secara drips Intravena (IV) selama perawatan
• Diberikan terapi farmakologis berikut:
o Klorokuin fosfat 500 mg/12 jam oral (untuk 5-7 hari) atau Hidroksiklorokuin (sediaan yg ada 200 mg) hari pertama 400 mg/12 jam/oral, selanjutnya 400 mg/24 jam/oral (untuk 5-7 hari) Ditambah
o Azitromisin 500 mg/24 jam per iv atau per oral (untuk 5-7 hari) atau sebagai alternatif Levofloksasin dapat diberikan apabila curiga ada infeksi bakteri: dosis 750 mg/24 jam per iv atau per oral (untuk 5-7 hari).
Ditambah
o Salah satu antivirus berikut:
Oseltamivir 75 mg/12 jam oral selama 5-7 hari Atau
Kombinasi Lopinavir + Ritonavir (Aluvia) 2 x 400/100mg selama 10 hari
Atau
Favipiravir (Avigan sediaan 200 mg) loading dose 1600 mg/12 jam/oral hari ke-1 dan selanjutnya 2 x 600 mg (hari ke 2-5) Atau
Remdesivir 200 mg IV drip/3jam dilanjutkan 1x100 mg IV drip/3 jam selama 9 – 13 hari
4. DERAJAT BERAT ATAU KRITIS a. Non Farmakologis
• Istirahat total, asupan kalori adekuat, kontrol elektrolit, status hidrasi (terapi cairan), dan oksigen
• Pemantauan laboratorium Darah Perifer Lengkap beriku dengan hitung jenis, bila memungkinkan ditambahkan dengan CRP, fungsi ginjal, fungsi hati, Hemostasis, LDH, D-dimer.
• Pemeriksaan foto toraks serial bila perburukan
• Monitor tanda-tanda sebagai berikut;
- Takipnea, frekuensi napas ≥ 30x/min,
- Saturasi Oksigen dengan pulse oximetry ≤93% (di jari), - PaO2/FiO2 ≤ 300 mmHg,
- Peningkatan sebanyak >50% di keterlibatan area paru-paru pada pencitraan thoraks dalam 24-48 jam,
- Limfopenia progresif, - Peningkatan CRP progresif, - Asidosis laktat progresif.
b. Farmakologis
• Vitamin C 200 – 400 mg/8 jam dalam 100 cc NaCl 0,9% habis dalam 1 jam diberikan secara drips Intravena (IV) selama perawatan
• Vitamin B1 1 ampul/24 jam/intravena
• Klorokuin fosfat, 500 mg/12 jam/oral (hari ke 1-3) dilanjutkan 250 mg/12 jam/oral (hari ke 4-10) atau Hidroksiklorokuin dosis 400 mg /24 jam/oral (untuk 5 hari), setiap 3 hari kontrol EKG
• Azitromisin 500 mg/24 jam per iv atau per oral (untuk 5-7 hari) atau sebagai alternatif Levofloksasin dapat diberikan apabila curiga ada infeksi bakteri:
dosis 750 mg/24 jam per iv atau per oral (untuk 5-7 hari).
• Bila terdapat kondisi sepsis yang diduga kuat oleh karena ko-infeksi bakteri, pemilihan antibiotik disesuaikan dengan kondisi klinis, fokus infeksi dan faktor risiko yang ada pada pasien. Pemeriksaan kultur darah harus dikerjakan dan pemeriksaan kultur sputum (dengan kehati-hatian khusus) patut dipertimbangkan.
• Antivirus:
▪ Oseltamivir 75 mg/12 jam oral selama 5-7 hari
Atau
▪ Kombinasi Lopinavir + Ritonavir (Aluvia) 2 x 400/100mg selama 10 hari
Atau
▪ Favipiravir (Avigan sediaan 200 mg) loading dose 1600 mg/12 jam/oral hari ke-1 dan selanjutnya 2 x 600 mg (hari ke 2-5)
Atau
▪ Remdesivir 200 mg IV drip/3jam dilanjutkan 1x100 mg IV drip/3 jam selama 9 – 13 hari
• Deksametason dengan dosis 6 mg/ 24 jam selama 10 hari atau kortikosteroid lain yang setara seperti hidrokortison pada kasus berat yang mendapat terapi oksigen atau kasus berat dengan ventilator.
• Pengobatan komorbid dan komplikasi yang ada
• Apabila terjadi syok, lakukan tatalaksana syok sesuai pedoman tatalaksana syok yang sudah ada
• Obat suportif lainnya dapat diberikan sesuai indikasi 2.2 Vaksin COVID -19
2.2.1 Definisi Vaksinasi dan Vaksin
Vaksinasi adalah bentuk imunitas aktif yang sederhana, aman, dan efektif yang dapat melindungi orang dari penyakit berbahaya. Vaksinasi menggunakan pertahanan alami tubuh untuk membangun ketahanan terhadap infeksi tertentu dan membuat sistem kekebalan kelompok (herd immunity) atau sistem imun tubuh lebih kuat (Kemenkes, 2020). Vaksinasi tidak hanya dapat melindungi diri kita sendiri, tetapi juga orang-orang di sekitar kita. Orang yang memiliki sakit parah disarankan untuk tidak mendapatkan vaksin tertentu, sehingga mereka bergantung pada orang
yang mendapatkan vaksinasi dan membantu mengurangi penyebaran penyakit (WHO, 2020).
Kata "vaksin" berasal dari Bahasa Latin yaitu Variolae vaccinae (cowpox), yang ditunjukkan Edward Jenner pada tahun 1798 untuk mencegah cacar pada manusia. Hari ini istilah 'vaksin' berlaku untuk semua persiapan biologis, yang dihasilkan dari organisme hidup, yang berfungsi meningkatkan kekebalan terhadap penyakit dan (vaksin profilaksis) atau, dalam beberapa kasus, mengobati penyakit (vaksin terapeutik). Vaksin diberikan dalam cairan baik dengan injeksi, oral, atau dengan rute intranasal (Jenner et al., 2012). Vaksin merupakan produk biologi yang berisi antigen berupa mikroorganisme yang telah mati atau masih hidup yang dilemahkan, masih utuh atau bagiannya, atau berupa toksin mikroorganisme yang sudah diolah menjadi toksoid atau protein rekombinan, yang ditambahkan dengan zat lainnya, yang apabila diberikan kepada seseorang akan memunculkan imunitas spesifik secara aktif terhadap penyakit tertentu (Permenkes, 2017).
Antigen adalah molekul unik yang ditemukan pada permukaan patogen.
Ketika mendapatkan vaksin, sistem kekebalan akan merespons. (1) Mengidentifikasi kuman yang menyerang seperti virus atau bakteri. (2) Menghasilkan antibodi, yaitu protein yang diproduksi secara alami oleh sistem kekebalan tubuh, yang dapat melawan penyakit. (3) Mengingat penyakit dan cara melawannya. Jika terkena kuman di masa mendatang, sistem kekebalan tubuh dapat dengan cepat menghancurkannya sebelum tubuh menjadi sakit (CDC, 2020 ; Peeples, 2020 ; WHO, 2020). Oleh karena itu, vaksin merupakan cara yang aman dan cerdas untuk membangkitkan respons imun dalam tubuh tanpa menimbulkan penyakit. Hal ini membuat vaksin sebagai obat yang ampuh dan intervensi kesehatan yang paling hemat biaya. Vaksin berbeda dari kebanyakan obat-obatan yang mengobati atau menyembuhkan, vaksin berfungsi untuk mencegah dan mengendalikan penyakit menular serta dapat mengurangi morbiditas dan mortalitas tanpa efek jangka panjang (Dai et al., 2019 ; WHO, 2020).
2.2.2 Sejarah Vaksin COVID-19
Jenis baru virus corona terus bermunculan dan berangsur-angsur menjadi ancaman serius bagi kesehatan publik sejak ditemukannya virus corona di manusia pada tahun 1960-an. Padahal sudah hampir dua dekade sejak wabah pertama virus corona, ilmuwan dan komunitas medis masih tidak siap dengan senjata yang efektif untuk memerangi patogen ini (Li et al., 2020).
Pengembangan vaksin telah dimulai dengan kecepatan yang luar biasa, tidak lama setelah permulaan wabah SARS-CoV-2 (Lurie et al.,2020), sudah ada lebih dari dua puluh vaksin sedang diuji dalam uji klinis. WHO secara berkala selalu menerbitkan daftar vaksin yang sedang dalam pengembangan (WHO, 2020).
Sebagai spesialis dalam penelitian vaksin epidemik, CEPI (Coalition for Epidemic Preparedness Innovations) telah membentuk komite konsultasi global yang membantu meluncurkan Gugus Tugas Pengembangan Vaksin COVID-19, berfokus pada pembuatan dan pembiayaan vaksin, bekerja sama dengan GAVI (Global Alliance for Vaccines and Immunisation) dan Bank Dunia (Yamey et al.,2020).
Mengingat bahwa ada dorongan mendesak dalam pembuatan vaksin untuk miliaran orang, hal yang perlu difokuskan yaitu vaksin harus diproduksi dalam jumlah besar dengan fasilitas yang tersedia (Amanat et al.,2020).
Vaksin dapat didasarkan pada seluruh virus (live-attenuated atau inactivated), vektor virus, nanopartikel atau partikel mirip virus, komponen subunit, protein/peptida, RNA, DNA atau sel hidup. Uji coba vaksin COVID-19 pertama kali telah dimulai di China pada tanggal 15 Februari 2020, menggunakan sel dendritik yang dimodifikasi secara genetik dengan protein struktural dan enzimatik SARS-CoV-2. Percobaan kedua, di Cina, dilakukan dengan vaksin serupa, dilengkapi dengan infus vaksin spesifik antigen sel T. Sementara kedua vaksin ini diuji secara terapeutik pada pasien COVID-19, kebanyakan vaksin lainnya diuji pada sukarelawan yang sehat. Di AS, uji coba pertama diluncurkan pada Maret 2020, menggunakan nanopartikel lipid mengenkapsulasi mRNA yang mengkode protein spike (S), disponsori oleh Moderna dan Institut Kesehatan Nasional (Aaas, 2020). Pada awal April 2020, uji coba vaksin DNA dimulai dengan plasmid
pengkodean protein S, disponsori oleh Inovio Pharmaceuticals dan CEPI (Coalition for Epidemic Preparedness Innovations). Sejak pertengahan April 2020, beberapa vaksin yang terdiri dari virus SARS-CoV-2 yang dilemahkan telah diuji di Cina (Tseng et al.,2021). Vaksin COVID-19 berjenis vektor virus dikembangkan di Universitas Oxford, Inggris (Van et al.,2020).
2.2.3 Jenis-jenis Vaksin
Vaksin terdiri dari berbagai jenis atau formulasi yang mempengaruhi bagaimana penggunaannya. Setiap jenis vaksin dirancang untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan mencegah penyakit.
1. Live attenuated vaccine (Vaksin hidup yang dilemahkan)
Vaksin hidup yang dilemahkan menghadirkan sebagian komponen antigenik ke inang dan dengan demikian bisa berpotensi mengakibatkan beragam dampak imunologis terhadap patogen (Bhattacharya et al., 2020). Mereka ialah vaksin tradisional dengan teknologi yang sudah dipersiapkan secara matang dan dapat menjadi vaksin SARS-CoV-2 pertama yang dimasukkan ke dalam aplikasi klinis (Ahn et al., 2020) Saat ini, beberapa lembaga riset sudah memulai penelitian ini. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China, Institut Virologi Wuhan, Akademi Ilmu Pengetahuan China, Universitas Zhejiang, dan beberapa lembaga lainnya telah sukses mengisolasi strain virus SARS-CoV-2 dan memulai pengembangan vaksin yang relevan. (Zhang et al., 2020). Keunggulan vaksin ini adalah sangat cocok untuk merangsang sistem imun terhadap infeksi bakteri atau virus tertentu karena memiliki reaksi imunologi yang mirip dengan infeksi alami (Dai et al., 2020). Kerugian dari live attenuated vaccine adalah dapat bermutasi menjadi bentuk patogen. Vaksin ini juga tidak dapat diberikan kepada orang dengan sistem imun yang lemah atau tidak bekerja, baik karena perawatan obat atau penyakit yang mendasarinya. Ini karena virus atau bakteri yang dilemahkan akan berkembang biak terlalu banyak dan dapat menyebabkan penyakit pada orang-orang ini (OVG, 2020). Kerugian lainnya adalah vaksin ini mengandung mikroba yang tidak tahan dengan suhu yang tinggi, sehingga harus disimpan pada suhu
rendah. Contoh dari vaksin jenis ini yaitu vaksin campak, BCG, dan rotavirus (Yadav et al., 2014).
2. Inactivated Vaccine (Vaksin inaktif)
Inactivated vaccine adalah vaksin yang dibuat dari bakteri atau virus penyebab penyakit yang dimatikan melalui berbagai cara seperti zat kimia, pemanasan, atau radiasi. Perlakuan dengan cara ini akan menghancurkan kemampuan patogen untuk bereplikasi tetapi tetap utuh sehingga sistem imum tetap dapat mengenalinya (Yadav et al., 2014). Kelebihan dari vaksin ini dibandingan live attenuated vaccine yaitu tidak bermutasi menjadi bentuk patogenik. Selain itu, penyimpanannya tidak memerlukan suhu rendah sehingga tidak memerlukan lemari pendingin. Contoh dari vaksin tersebut adalah vaksin hepatitis A, influenza, dan rabies (OVG, 2020).
3. Vaksin Subunit
Vaksin subunit mencakup satu atau lebih antigen dengan imunogenisitas kuat yang dapat menstimulasi sistem imun inang secara efektif. Secara umum, jenis vaksin ini lebih terjamin dan lebih mudah untuk diproduksi, namun seringkali memerlukan penambahan bahan pembantu untuk mendapatkan respon imun protektif yang kuat. Kelebihan vaksin subunit yaitu dianggap sangat aman karena tidak mengandung komponen hidup patogen. Kelemahan vaksin subunit yaitu respon kekebalan dapat terjadi, namun tidak ada jaminan memori kekebalan akan terbentuk pada infeksi selanjutnya (Dai et al., 2020 ; WHO, 2020).
Beberapa lembaga telah memprakarsai program vaksin subunit SARS-CoV-2, dan hampir seluruhnya memanfaatkan protein S sebagai antigen. Sebagai contoh, Universitas Queensland tengah mengembangkan vaksin subunit berdasarkan pada teknologi “penjepit” molekuler (Zhang and Liu, 2020).
4. Vaksin mRNA
Vaksin mRNA merupakan teknologi yang berkembang pesat untuk menyembuhkan penyakit menular dan kanker. Vaksin berbasis mRNA mempunyai
kandungan mRNA yang mengkode antigen, yang diterjemahkan di mesin seluler inang dengan vaksinasi. Vaksin mRNA mempunyai keunggulan dibandingkan vaksin konvensional, dengan tidak adanya integrasi genom, respon imun yang meningkat, perkembangan yang cepat, dan produksi antigen multimerik (Roland S.
Marshall, M., 2020).
Moderna, Inc. sudah mengawali uji klinis fase I untuk mRNA-1273, vaksin mRNA, yang mengkode protein viral spike (S) dari SARS-CoV-2. Ini dirancang oleh hasil kerjasama dengan National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID) (Park et al., 2020). Berbeda dengan vaksin konvensional yang diproduksi dalam sistem kultur sel, vaksin mRNA dirancang dalam silico, yang memungkinkan pengembangan dan penilaian efikasi vaksin yang cepat. Moderna Inc. tengah mempersiapkan penelitian fase I dengan dukungan keuangan dari CEPI (Coalition for Epidemic Preparedness Innovations) (Zhang et al., 2020).
5. Vaksin DNA
Vaksin DNA umumnya terdiri dari molekul DNA plasmid yang mengkodekan satu atau lebih antigen. Mereka lebih unggul dari vaksin mRNA dalam formulasi yang dibutuhkan untuk stabilitas dan efisiensi pengiriman, akan tetapi mereka harus memasukkan nukleus yang dapat membawa resiko integrasi vektor dan mutasi pada genom inang (Robson, 2020). Sejauh ini, ada dua vaksin DNA SARS-CoV-2 sedang dalam pengembangan. Inovio Pharmaceuticals mengembangkan kandidat vaksin DNA yang disebut INO-4800, yang dalam studi praklinis dan akan segera memasuki uji klinis fase I. Anak Perusahaan Ilmu DNA Terapan, LineaRx, dan Takis Biotech bekerjasama untuk pengembangan kandidat vaksin DNA linier terhadap SARS-CoV-2, yang kini dalam studi praklinis (Shang et al., 2020).
6. Vaksin Live Vector
Vaksin vektor langsung merupakan virus hidup (vektor) yang mengekspresikan antigen heterolog. Mereka dikarakterisasi dengan mengkombinasikan imunogenisitas yang kuat dari vaksin hidup dilemahkan dan
keamanan vaksin subunit, serta secara luas digunakan untuk menginduksi imunitas seluler in vivo. Riset vaksin SARS-CoV-2 terkait telah dilakukan oleh lembaga- lembaga berikut. Greffex Inc. yang berbasis di Houston telah menuntaskan konstruksi vaksin vektor adenovirus SARS-CoV-2 dengan Greffex Vector Platform dan seharusnya saat ini dipindahkan ke pengujian hewan. Tonix Pharmaceuticals mengumumkan penelitian untuk mengembangkan vaksin SARS-CoV-2 yang potensial berdasarkan Horsepox Virus (TNX-1800). Johnson&Johnson telah mengadopsi platform vektor adenoviral untuk pengembangan vaksin (Zhang and Liu, 2020).
7. Vaksin Peptida Sintetis atau Epitop
Vaksin ini hanya mengandung fragmen antigen utuh tertentu dan biasanya dibuat dengan teknik sintesis kimia. lebih mudah dalam persiapan dan kontrol kualitas. Namun, berat molekul rendah dan kompleksitas struktural dari vaksin ini biasanya menghasilkan imunogenisitas yang rendah, sehingga modifikasi struktural, sistem pengiriman, dan bahan pembantu juga diperlukan dalam formulasi (Tian et al., 2020).
2.2.4 Mekanisme Vaksin dalam Memicu Respon Kekebalan
Setiap reaksi kekebalan terhadap patogen atau virus dimulai dengan aktivasi sistem kekebalan bawaan. Meskipun sistem ini tidak mengarah pada memori imunologis, namun berperan penting dalam mengaktifkan dan mengajari sistem kekebalan adaptif. Jadi, setelah vaksin disuntikkan, komponen vaksin akan diambil oleh sel penyaji antigen seperti magrofag dan sel dendritik. Sel APC yang telah mengambil antigen menjadi aktif dan mulai bermigrasi menuju kelenjar getah bening di dekatnya yang merupakan tempat sel T dan B. Di dalam kelenjar getah bening, antigen yang diproses oleh APC dipresentasikan ke limfosit. Ketika limfosit mengenali antigen dan menerima sinyal ko-stimulasi yang sesuai, sel T dan sel B akan menjadi aktif. Sel B berfungsi untuk membuat antibodi yang melawan antigen, sedangkan sel T berfungsi untuk menyerang sel tubuh yang sudah terpapar virus atau patogen. Sel B dan T spesifik antigen ini berkembang secara klonal untuk
menghasilkan beberapa progenitor yang mengenali antigen yang sama. Selain itu, memori sel B dan T terbentuk yang memberikan perlindungan jangka panjang (terkadang seumur hidup) terhadap infeksi patogen atau virus (CDC, 2020 ; Jiskoot et al., 2019 ; Chowdhury et al., 2020). Mekanisme vaksin dalam memicu respon kekebalan ditunjukkan pada Gambar 2.7.
Gambar 2.7 Mekanisme Vaksin dalam Memicu Respon Kekebalan (Jiskoot et al., 2019).
2.2.5 Tahap Pengembangan Vaksin COVID-19
Upaya pengembangan vaksin global dalam menanggapi pandemi COVID-19 belum pernah terjadi sebelumnya dalam hal kecepatan dan skala. Jangka waktu pengembangan vaksin COVID-19 yang dipercepat dengan total waktu 10 bulan hingga 1.5 tahun merupakan perubahan mendasar dari pengembangan vaksin pada umumnya (Gambar 2.8). Data dari pengembangan praklinis kandidat vaksin untuk SARS dan MERS memungkinkan langkah awal desain vaksin COVID-19 untuk tahap eksplorasi dihilangkan sehingga menghemat banyak waktu. Uji klinis vaksin COVID-19 dirancang sedemikian rupa sehingga fase uji klinis tumpang tindih atau paralel dapat mempersingkat waktu pengembangan vaksin COVID-19 (Lurie et al., 2020). Di mana, dimulai dengan uji klinis fase 1 atau 2, diikuti dengan
perkembangan cepat ke uji klinis fase 3 setelah analisis sementara uji klinis 1 atau 2. Sesudah menerima analisis sementara dari uji klinis fase tiga, segera dilakukan pengajuan penggunaan darurat untuk kandidat vaksin (Krammer, 2020). Meskipun pengembangan vaksin COVID-19 menggunakan waktu yang singkat, namun standar kualitas, keamanan, dan kemanjuran sesuai dengan persyaratan peraturan yang ditetapkan badan regulator seperti European Medicines Agency (EMA).
Tahap perkembangan vaksin dapat dilihat pada gambar 2.8 di bawah ini:
Gambar 2.8 Perbedaan Pengembangan Vaksin Tradisional dan Masa Pandemi COVID- 19 (Krammer, 2020)
Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu pengembangan vaksin COVID-19 yaitu (1) adanya pengetahuan sebelumnya tentang coronavirus dari penelitian SARS dan MERS, sehingga peneliti dapat dengan cepat untuk mengidentifikasi SARS-CoV-2 atau COVID-19. (2) Adanya kelompok kerja kesiapsiagaan terhadap pandemi yang dibentuk pada tahun 2003, yaitu EMA atau FDA. Ini menunjukkan bahwa strategi utama telah ada. Selain itu juga terdapat kerjasama dengan badan global terkemuka lainnya. (3) Beberapa vaksin dikembangkan menggunakan metode baru untuk meningkatkan volume dan kecepatan produksi. (4) Badan pengatur atau regulator secara bersamaan telah memobilisasi lebih banyak sumber daya untuk mempercepat proses peninjauan dan mempersingkat jadwal untuk evaluasi dan otorisasi obat-obatan (BioNTech, 2020 ; EMA, 2021 ; Lurie et al., 2020).
2.2.6 Vaksin COVID-19 yang beredar di dunia 1. Sinovac (CoronaVac)
CoronaVac, juga dikenal sebagai vaksin Sinovac COVID-19, adalah vaksin virus COVID-19 yang tidak aktif/inactivated virus yang dikembangkan oleh perusahaan Cina Sinovac Biotech (Wu et al., 2021). Sinovac saat ini menjalankan uji klinis fase 3 di Indonesia, Turki, Brasil, dan Chili, dengan target total setidaknya 30.000 peserta. Di Indonesia, Sinovac bekerja sama dengan perusahaan farmasi milik negara Biofarma dan Universitas Padjajaran telah merekrut 1.620 subjek berusia 18-59 tahun di Bandung, Jawa Barat. Analisis independen dilakukan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan Indonesia (BPOM) dan akan memberikan Emergency Use Authorization (EUA) jika disetujui. Vaksin diberikan dalam dua dosis dengan jarak dua minggu. Sinovac akan menjadi vaksin utama yang akan digunakan oleh Pemerintah Indonesia, dengan biaya ditanggung sepenuhnya.
Gelombang pertama 1,2 juta dosis vaksin Sinovac telah dikirim ke Indonesia pada 6 Desember, dengan gelombang kedua 1,8 juta dosis diharapkan tiba pada awal Januari. Mirip dengan vaksin tidak aktif lainnya, Sinovac stabil pada penyimpanan 4 ° C (Ophinni et al., 2020).
2. Sinopharm (Beijing Institute of Biological Products / BBIBP-CorV)
BBIBP-CorV dikembangkan oleh Beijing Institute of Biological Products di Beijing, Cina (Wang et al., 2020). Salah satu dari dua vaksin inactivated virus COVID-19 yang dikembangkan oleh Sinopharm. Dan telah menyelesaikan uji coba Fase III di Argentina, Bahrain, Mesir, Maroko, Pakistan, Peru, dan Uni Emirat Arab (UEA) dengan lebih dari 60.000 peserta (Reuters Staff, 2020).
BBIBP-CorV bersifat imunogenik dan diinduksi kuat oleh respons humoral dengan cepat. Vaksin BBIBP-CorV dapat ditoleransi dan bersifat imunogenik pada orang sehat. Rapid humoral responses terhadap SARS-CoV-2 mencatat dari hari ke-4 setelah inokulasi dan 100% serokonversi ditemukan di semua peserta pada hari ke-42. Efek samping yang paling umum adalah rasa sakit dan demam, yang dilaporkan dalam proporsi kecil penerima vaksin dan tanpa perbedaan yang
signifikan di seluruh grup (Xia et al., 2021). Mirip dengan vaksin Sinovac, BBIBP-CorV juga dapat disimpan pada suhu 4°C (Ophinni et al., 2020).
Mekanisme vaksin inaktivasi dalam memicu respon imun yaitu ketika disuntikkan ke dalam tubuh dapat menghasilkan respon imun tanpa menyebabkan penyakit COVID-19. Saat berada di dalam tubuh, virus yang telah diinaktivasi akan langsung diterima oleh sel penyaji antigen (APC) tanpa proses replikasi karena virus sudah mati atau diinaktivasi. Selanjutnya, APC melepaskan beberapa protein virus di permukaan sel agar dikenali oleh sistem imun atau sel T. Sehingga, ketika sel T pembantu mendeteksi protein tersebut, sel T akan aktif dan menyerang protein yang seharusnya tidak ada dalam tubuh. Sel imun lainnya, sel B juga dapat menghadapi virus COVID-19 yang diinaktivasi dengan membentuk antibodi untuk
Mekanisme vaksin inaktivasi dalam memicu respon imun yaitu ketika disuntikkan ke dalam tubuh dapat menghasilkan respon imun tanpa menyebabkan penyakit COVID-19. Saat berada di dalam tubuh, virus yang telah diinaktivasi akan langsung diterima oleh sel penyaji antigen (APC) tanpa proses replikasi karena virus sudah mati atau diinaktivasi. Selanjutnya, APC melepaskan beberapa protein virus di permukaan sel agar dikenali oleh sistem imun atau sel T. Sehingga, ketika sel T pembantu mendeteksi protein tersebut, sel T akan aktif dan menyerang protein yang seharusnya tidak ada dalam tubuh. Sel imun lainnya, sel B juga dapat menghadapi virus COVID-19 yang diinaktivasi dengan membentuk antibodi untuk