• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Diare

2.1.2 Patogenesis Diare Akibat Infeksi

Patogenesis dan keparahan penyakit akibat bakteri tergantung pada apakah organisme telah membentuk racun (S. aureus, Bacillus cereus), menghasilkan zat sekretorik (Vibrio cholerae, E. coli, Salmonella, Shigella) atau zat sitotoksik (Shigella, S. aureus, Vibrio parahaemolyticus, C. difficile, E. coli, C. jejuni), atau dengan cara invasif, dan apakah mereka sudah replikasi dalam makanan.3

Enteropatogen dapat menyebabkan baik respon inflamasi atau noninflamasi di mukosa usus. Enteropatogen menimbulkan diare noninflamasi melalui produksi enterotoksin oleh beberapa bakteri, penghancuran vili(permukaan) sel oleh virus, dan perlengketan oleh parasit. Diare inflamasi biasanya disebabkan oleh bakteri yang langsung menyerang usus atau menghasilkan sitotoksin dengan konsekuensi cairan, protein, dan sel-sel (eritrosit, leukosit) yang masuk ke dalam lumen usus.3 2.1.3 Patofisiologi diare

Patofisiologi dari penyakit diare dapat dijelaskan melalui peristiwa osmosis, sekresi aktif, eksudasi, dan perubahan motilitas. Keempatnya dapat mendorong terjadinya diare. Penyakit diare yang spesifik sering melibatkan lebih dari satu dari peristiwa ini.4,11

1. Diare osmotik.

Ketika penyerapannya jelek, berat molekul rendah zat terlarut air yang tertelan, kekuatan osmotik mereka dengan cepat menarik air dan selanjutnya, ion ke dalam lumen usus. Individu dengan fungsi usus yang normal akan mengalami diare osmotik ketika mereka menelan sejumlah besar zat terlarut yang penyerapannya jelek, seperti laktulosa, sorbitol, atau Mg2+.

2. Diare sekretorik.

Diare akibat stimulasi berlebihan dari kapasitas sekresi saluran pencernaan dapat terjadi dalam bentuk "pure" (misalnya, kolera) atau sebagai komponen dari proses penyakit yang lebih kompleks (misalnya, penyakit Celiac, penyakit Crohn).

8

3. Diare eksudatif.

Jika fungsi barrier epitel usus terganggu oleh hilangnya sel epitel atau gangguan dari tight junction, tekanan hidrostatik dalam pembuluh darah dan limfe dapat menyebabkan air dan elektrolit, lendir, protein, serta kadang-kadang bahkan sel darah merah dan putih menumpuk di lumen (misalnya, ulseratif kolitis, Shigellosis, dan lymphangiectasia usus). Jika kondisi ini menjadi kronis, hilangnya protein secara terus menerus dapat menyebabkan hipoalbuminemia dan hipoglobulinemia.

4. Diare akibat gangguan motilitas.

Baik peningkatan dan penurunan motilitas usus dapat menyebabkan diare. Contohnya tirotoksikosis dan penarikan opiat (opiate withdrawal).

2.1.4 Faktor risiko diare

Episode diare karena infeksi dapat terjadi melalui paparan musiman untuk organisme seperti Rotavirus, atau paparan patogen dalam pengaturan dari kontak dekat (misalnya, pusat penitipan anak). Risiko yang paling utama termasuk pencemaran lingkungan dan peningkatan paparan enteropatogen. Risiko tambahan mencakup usia muda, imunodefisiensi, campak, malnutrisi, dan kurangnya ASI eksklusif. Malnutrisi meningkatkan risiko diare dan kematian. Risiko diare bertambah dengan adanya malnutrisi mikronutrien, kekurangan vitamin A. Selain itu, kekurangan zink diperkirakan menyebabkan 116.000 kematian akibat diare dan pneumonia.3

2.1.5 Diagnosa dan evaluasi diare

Diagnosa diare berdasarkan pada gejala klinis, evaluasi keparahan diare oleh penilaian yang cepat dan dengan konfirmasi oleh pemeriksaan laboratorium yang sesuai, jika diindikasikan.3,4

1. Anamnesa

a. Lama diare berlangsung, frekuensi diare sehari, warna dan konsentrasi tinja, lendir dan/darah dalam tinja

b. Muntah, rasa haus, rewel, anak lemah, kesadaran menurun, buang air

9

d. Jenis makanan dan minuman yang diminum selama diare, mengonsumsi makanan yang tidak biasa

e. Penderita diare di sekitarnya dan sumber air minum 2. Pemeriksaan fisik

a. Keadaan umum, kesadaran, dan tanda vital

b. Tanda utama: keadaan umum gelisah/ cengeng atau lemah/letargi/koma, rasa haus, turgor kulit abdomen menurun

c. Tanda tambahan: ubun-ubun besar, kelopak mata, air mata, mukosa bibir, mulut, dan lidah

d. Penilaian derajat dehidrasi 3. Pemeriksaan tinja

4. Analisa gas darah dan elektrolit bila secara klinis dicurigai adanya gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit.

2.1.6 Tatalaksana diare

Salah satu strategi pengendalian penyakit diare yang dilaksanakan pemerintah adalah melaksanakan tatalaksana penderita diare yang standar di sarana kesehatan melalui lima langkah tuntaskan diare (LINTAS Diare). LINTAS Diare (Lima Langkah Tuntaskan Diare):2

1. Berikan Oralit

Derajat dehidrasi dibagi dalam 3 klasifikasi:

a. Diare tanpa dehidrasi

Dosis oralit bagi penderita diare tanpa dehidrasi sbb:

- Umur < 1 tahun: ¼ - ½ gelas setiap kali anak mencret - Umur 1 – 4 tahun: ½ - 1 gelas setiap kali anak mencret - Umur diatas 5 Tahun: 1 – 1½ gelas setiap kali anak mencret

10

b. Diare dehidrasi Ringan/Sedang

Diare dengan dehidrasi Ringan/Sedang, bila terdapat 2 tanda di bawah ini atau lebih:

- Keadaan umum: gelisah, rewel - Mata: cekung

- Rasa haus: haus, ingin minum banyak - Turgor kulit: kembali lambat

Dosis oralit yang diberikan dalam 3 jam pertama 75 ml/ kg bb dan selanjutnya diteruskan dengan pemberian oralit seperti diare tanpa dehidrasi.

c. Diare dehidrasi berat

Diare dehidrasi berat, bila terdapat 2 tanda di bawah ini atau lebih:

- Keadaan umum: lesu, lunglai, atau tidak sadar - Mata: cekung

- Rasa haus: tidak bisa minum atau malas minum

- Turgor kulit: kembali sangat lambat (lebih dari 2 detik)

Penderita diare yang tidak dapat minum harus segera dirujuk ke Puskesmas untuk di infus.

2. Pemberian ASI / Makanan 3. Berikan obat Zink

4. Pemberian Antibiotika hanya atas indikasi 5. Pemberian Nasehat

b. Makanan pendamping ASI

c. Menggunakan air bersih yang cukup

11

f. Membuang tinja bayi yang benar g. Pemberian imunisasi campak 2. Penyehatan lingkungan

a. Penyediaan air bersih b. Pengelolaan sampah

c. Sarana pembuangan air limbah 2.2 Status Gizi Balita

Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Dibedakan antara status gizi kurang, baik, dan lebih.

Status gizi kurang terjadi bila tubuh mengalami kekurangan satu atau lebih zat-zat gizi esensial. Status gizi lebih terjadi bila tubuh memperoleh zat-zat gizi dalam jumlah berlebihan, sehingga menimbulkan efek toksis atau membahayakan.

Konsumsi makanan berpengaruh terhadap status gizi seseorang. Status gizi baik atau optimal terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi yang digunakan secara efisien, sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja dan kesehatan pada tingkat setinggi mungkin.12

2.2.1 Penilaian status gizi

Menurut Supriasa, penilaian status gizi ada 2 macam, yaitu penilaian status gizi secara langsung dan penilaian status gizi secara tidak langsung. Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi empat penilaian, yaitu:

antropometri, klinis, biokimia, dan biofisik.13 2.2.2 Status gizi berdasarkan antropometri

Cara pengukuran status gizi yang paling sering digunakan adalah antropometri gizi. Antropometri berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Berbagai jenis ukuran tubuh antara lain: berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas dan tebal lemak di bawah kulit. Keunggulan antropometri antara lain alat yang digunakan mudah didapatkan dan digunakan, pengukuran dapat dilakukan berulang-ulang dengan mudah dan objektif, biaya relatif murah, hasilnya mudah disimpulkan, dan secara ilmiah diakui keberadaannya.13

12

1. Parameter antropometri a. Berat badan(BB)

Berat badan merupakan ukuran antropometrik yang terpenting dan harus diukur pada setiap kesempatan memeriksa kesehatan anak pada semua kelompok umur. Berat badan juga dipakai sebagai indikator yang terbaik untuk mengetahui keadaan gizi dan tumbuh kembang anak karena berat badan sensitif terhadap perubahan walaupun sedikit saja. Kerugian indikator berat badan adalah tidak sensitif terhadap proporsi tubuh, misalnya pendek gemuk atau tinggi kurus.

b. Tinggi badan (TB)

Tinggi badan merupakan ukuran antropometrik kedua yang terpenting.

Ukuran tinggi badan meningkat terus sampai tinggi maksimal dicapai.

Kenaikan tinggi badan ini berfluktuasi, yaitu meningkat pesat pada masa bayi, kemudian melambat, dan selanjutnya menjadi pesat kembali pada masa umur 18-20 tahun.

c. Umur

Faktor umur sangat penting dalam penetuan status gizi. Kesalahan penentuan umur akan menyebabkan interpretasi status gizi menjadi salah.

Hasil pengukuran tinggi badan dan berat badan yang akurat, menjadi tidak berarti bila tidak disertai dengan penentuan umur yang tepat.14

2. Indeks antropometri

Beberapa indeks antropometri yang sering digunakan yaitu berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TT/U), dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB).12

Gizi kurang dan gizi buruk adalah status gizi yang didasarkan pada indeks Berat Badan menurut Umur (BB/U). Lalu, pendek dan sangat pendek adalah status gizi yang didasarkan pada indeks tinggi badan menurut umur (TT/U).

Sedangkan, kurus dan sangat kurus adalah status gizi yang didasarkan pada indeks berat badan menurut tinggi badan (BB/TB).15

13

Interpretasi z-score untuk BB/Upada tabel standar BB/U anak umur 0-60 bulan dari Menteri Kesehatan RI, adalah:

a. Dibawah -3 SD disebut gizi buruk.

b. Antara -3 SD sampai <-2 SD disebut gizi kurang.

c. Antara -2 sampai 2 SD disebut gizi baik.

d. Diatas 2 SD disebut gizi lebih.

Interpretasi z-score untuk TB/U pada tabel standar TB/U anak umur 0-60 bulan dari Menteri Kesehatan RI, adalah:

a. Dibawah -3 SD disebut sangat pendek.

b. Antara -3 SD sampai <-2 SD disebut pendek.

c. Antara -2 sampai 2 SD disebut normal.

d. Diatas 2 SD disebut tinggi.

Interpretasi z-score untuk BB/TB pada tabel standar BB/TB anak umur 0-60 bulan dari Menteri Kesehatan RI, adalah:

a. Dibawah -3 SD disebut sangat kurus.

b. Antara -3 SD sampai <-2 SD disebut kurus.

c. Antara -2 sampai 2 SD disebut normal.

d. Diatas 2 SD disebut gemuk. 15

14

Tabel 2.1 Standar Berat Badan menurut Umur (BB/U) Anak Laki-Laki Umur 0-60 Bulan15

15

Tabel 2.2 Standar Berat Badan menurut Umur (BB/U) Anak Perempuan Umur 0-60 Bulan15

16

2.2.3 Hubungan status gizi dengan diare

Diare turut memberikan kontribusi untuk kekurangan gizi melalui pengurangan asupan makanan, penurunan penyerapan nutrisi, dan peningkatan katabolisme cadangan nutrisi. Penyebab fisiologis penurunan asupan makanan termasuk anoreksia, mual, dan muntah, yang semuanya dapat berhubungan dengan hilangnya elektrolit, ketidakseimbangan, dan dehidrasi. Maldigesti dan malabsorpsi dapat terjadi pada anak-anak dimana aktivitas enzim pencernaan usus menurun dan transit melalui usus lebih cepat. Malabsorpsi diperparah oleh kerusakan sel yang sering disebabkan oleh infeksi. Beberapa bakteri invasif (misalnya, shigella), virus (misalnya, campak), dan protozoa (misalnya, amebae) dapat langsung merusak lapisan usus dan menyebabkan hilangnya protein.

Demam, umumnya terkait dengan organisme usus, mengakibatkan peningkatan metabolisme, yang menyebabkan peningkatan kebutuhan energi dan kehilangan dari otot dan protein.16

2.3 ASI Eksklusif

ASI adalah makanan paling baik untuk bayi. Komponen zat makanan tersedia dalam bentuk yang ideal dan seimbang untuk dicerna dan diserap secara optimal oleh bayi. ASI saja sudah cukup untuk menjaga pertumbuhan sampai umur 6 bulan. Tidak ada makanan lain yang dibutuhkan selama masa ini.ASI bersifat steril, berbeda dengan sumber susu lain seperti susu formula atau cairan lain yang disiapkan dengan air atau bahan-bahan dapat terkontaminasi dalam botol yang kotor. Keadaan seperti ini disebut disusui secara penuh (memberikan ASI Eksklusif).2

Manfaat ASI pada bayi 0-2 tahun yaitu: kaya akan zat penting yang dibutuhkan oleh bayi; sebagai sarana untuk mendekatkan sang ibu dengan buah hati; memberikan kekebalan yang optimal untuk bayi; tidak basi dan selalu segar;

lebih higienis dibandingkan dengan susu lain; minuman sekaligus makanan yang memiliki kualitas terbaik untuk bayi; mampu menyempurnakan pertumbuhan sehingga minim dari penyakit dan cerdas; memperindah kulit, gigi, dan bentuk

17

Bayi yang tidak diberikan ASI eksklusif selama 13 minggu pertama memiliki tingkat infeksi saluran cerna yang lebih tinggi dibandingkan dengan bayi–bayi lain yang diberikan ASI. Selain itu, bayi yang tidak diberikan ASI mudah terkena penyakit-penyakit lain yang berhubungan dengan kekebalan tubuh.17

2.4 Imunisasi Campak

Program imunisasi yang dilakukan oleh pemerintah secara nasional adalah imunisasi dasar (BCG, Polio, DPT, Hepatitis B, dan Campak) yang diberikan kepada bayi, dan imunisasi ulangan (DT dan TT) yang diberikan kepada murid Sekolah Dasar (SD) kelas 1, 2 dan 3. Cakupan imunisasi yang tinggi diharapkan dapat menurunkan kejadian penyakit yang diimunisasi dan infeksi sekunder yang sering terjadi berupa pneumonia dan diare. Namun sampai saat ini masih terjadi KLB campak di beberapa daerah.9

Pemberian imunisasi campak pada bayi sangat penting untuk mencegah agar bayi tidak terkena penyakit campak. Anak yang sakit campak sering disertai diare, sehingga pemberian imunisasi campak juga dapat mencegah diare. Oleh karena itu, berilah imunisasi campak segera setelah bayi berumur 9 bulan.2

BAB III

KERANGKA TEORI DAN KERANGKA KONSEP

3.1 Kerangka Teori

Gambar 3.1 Kerangka Teori Penelitian 3.2 Kerangka Konsep

Gambar 3.2 Kerangka Konsep Penelitian Usia

Status gizi

ASI eksklusif

Imunisasi campak

Pengobatan awal Penderita

Diare Imunitas balita:

- Status gizi - ASI eksklusif - Imunisasi campak

Diare

Akut

Persisten

Kronik Usia balita

Pengobatan awal :

-oralit -tanpa oralit

BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1 Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dengan pendekatan studi potong lintang (cross sectional) yaitu suatu subjek penelitian hanya dilakukan observasi satu kali saja dan pengukuran dilakukan sekaligus pada saat yang sama.18 Pada penelitian ini yang ingin diketahui oleh peneliti adalah karakteristik penderita diare pada balita di Puskesmas Sentosa Baru Kecamatan Medan Perjuangan periode Juli sampai Oktober 2015, dimana akan dilakukan pengumpulan data berdasarkan rekam medik.

4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2.1 Lokasi penelitian

Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Sentosa Baru Kecamatan Medan Perjuangan. Adapun pemilihan lokasi penelitian ini dilakukan dengan pertimbangan yaitu tersedianya data penderita diare dan banyaknya kasus diare pada balita di puskesmas tersebut.

4.2.2 Waktu penelitian

Waktu penelitian ini akan dilaksanakan mulai dari pengumpulan data dari rekam medis sampai pelaporan hasil penelitian yang dilakukan dari bulan Agustus 2016 sampai bulan Desember 2016.

4.3 Populasi dan Sampel Penelitian 4.3.1 Populasi penelitian

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang diteliti dan telah memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh peneliti.18 Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh data rekam medik pasien anak balita yang didiagnosis menderita diare di Puskesmas Sentosa Baru Kecamatan Medan Perjuangan mulai dari bulan Juli sampai Oktober 2015.

20

4.3.2 Sampel penelitian

Pengambilan sampel dilakukan dengan metode total sampling yaitu metode penentuan sampel dengan mengambil seluruh anggota populasi sebagai sampel penelitian.18 Dalam penelitian ini, sampel adalah seluruh data rekam medik anak balita yang didiagnosis menderita diare akut di Puskesmas Sentosa Baru Kecamatan Medan Perjuangan.

4.4 Metode Pengumpulan Data

Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu rekam medik penderita diare pada balita di Puskesmas Sentosa Baru Kecamatan Medan Perjuangan periode Juli-Oktober 2015.

4.5 Metode Analisis Data

Data yang telah dicatat dan dikumpulkan dari rekam medik kemudian diolah dan dianalisis dengan menggunakan perangkat lunak statistik yang kemudian disajikan dalam bentuk narasi dan tabel distribusi frekuensi.

4.6 Definisi Operasional 1. Penderita Diare

Definisi : Anak balita yang didiagnosis menderita diare di Puskesmas Sentosa Baru Kecamatan Medan Perjuangan.

Cara pengukuran: Melihat dan mengecek data rekam medik Alat pengukuran: Rekam Medik

Hasil pengukuran: tidak ada Skala pengukuran: tidak ada 2. Usia

Definisi : Data usia anak berumur 1-5 tahun

Cara pengukuran: Melihat dan mengecek data rekam medik Alat pengukuran: Rekam medik

Hasil pengukuran: Bawah tiga tahun (1-3 tahun), prasekolah (3-5 tahun) Skala pengukuran: Nominal

21

3. Status gizi

Definisi : Hasil interpretasi Berat Badan(BB) menurut Umur (U).

Cara pengukuran: Memasukkan data rekam medik ke dalam tabel z-score BB/U anak umur 0-60 bulan dari Menteri Kesehatan RI Alat pengukuran: Tabel standar BB/U anak umur 0-60 bulan dari Menteri

Kesehatan RI

Hasil pengukuran: Gizi buruk, gizi kurang, gizi baik, gizi lebih Skala pengukuran: Ordinal

4. Pengobatan awal

Definisi : Pengendalian diare dengan pemberian minuman oralit.

Cara pengukuran: Melihat dan mengecek data rekam medik Alat pengukuran: Rekam medik

Hasil pengukuran: Menerima oralit, tidak menerima oralit Skala pengukuran: Nominal

5. ASI eksklusif

Definisi : Pemberian makanan berupa ASI saja selama 6 bulan pada bayi baru lahir.

Cara pengukuran: Melihat dan mengecek data rekam medik Alat pengukuran : Rekam medik

Hasil pengukuran: ASI eksklusif, ASI non-eksklusif Skala pengukuran: Nominal

6. Imunisasi campak

Definisi : Pemberian vaksin campak pada bayi.

Cara pengukuran: Melihat dan mengecek data rekam medik Alat pengukuran: Rekam medik

Hasil pengukuran: Imunisasi, tidak imunisasi Skala pengukuran: Nominal

22

4.7 Jadwal Penelitian

Tabel 4.1 Jadwal Penelitian

No Kegiatan

Bulan Maret

2016

April 2016

Mei 2016

Juni 2016

Agustus-Oktober 2016

November-Disember

2016

1 Pengajuan Judul X

2 Studi Kepustakaan X X x x

3 Pengumpulan Sampel X

4 Pengolahan dan Analisa Data X x

5 Laporan Hasil Penelitian x

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Penelitian

5.2.1 Deskripsi Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Sentosa Baru yang berlokasi di Jalan Sentosa Baru No.22 Kecamatan Medan Perjuangan Kota Medan. Puskesmas Sentosa Baru mempunyai 9 wilayah kerja/ kelurahan, 2 buah Puskesmas Pembantu (Pustu) disertai 64 Posyandu.

5.2.2 Deskripsi Karakteristik Sampel

Dalam penelitian ini didapatkan populasi sampel penderita diare pada anak balita sebanyak 98 orang. Untuk mengetahui karakteristik dari sampel tersebut dilakukan pendeskripsian data terhadap 5 variabel yaitu usia, status gizi, pengobatan oralit, riwayat pemberian ASI dan status imunisasi campak.

5.2.3 Hasil Deskriptif Data

Berdasarkan data-data tersebut dapat dibuat karakteristik subjek penelitian sebagai berikut:

Tabel 5.1 Distribusi Penderita Diare pada Anak Balita Berdasarkan Usia

Usia Jumlah (n) Persentase (%)

Bawah tiga tahun 66 67,3

Prasekolah 32 32,7

Total 98 100

Dari tabel 5.1 dapat dilihat distribusi penderita diare terbanyak adalah kelompok anak dengan usia di bawah tiga tahun yaitu sebesar 67,3%.

24

Tabel 5.2 Distribusi Penderita Diare pada Anak Balita Berdasarkan Status Gizi

Status Gizi Jumlah (n) Persentase (%)

Gizi buruk 4 4,1

Gizi kurang 30 30,6

Gizi baik 56 57,1

Gizi lebih 8 8,2

Total 98 100

Dari tabel 5.2 dapat dilihat distribusi penderita diare terbanyak pada kelompok anak balita dengan gizi baik yaitu sebanyak 57,1%.

Tabel 5.3 Cakupan Pemberian Oralit pada Penderita Diare Anak Balita

Pengobatan Jumlah (n) Persentase (%)

Menerima oralit 98 100

Tidak menerima oralit 0 0

Total 98 100

Dari tabel 5.3 dapat diketahui bahwa cakupan pemberian oralit terhadap penderita diare pada anak balita sebanyak 98 orang (100%).

Tabel 5.4 Distribusi Penderita Diare pada Anak Balita berdasarkan Riwayat Pemberian ASI

Riwayat ASI Jumlah (n) Persentase (%)

ASI Eksklusif 38 38,8

ASI non-Eksklusif 60 61,2

Total 98 100

Dari tabel 5.4 dapat dilihat distribusi penderita diare terbanyak pada kelompok anak balita dengan riwayat pemberian ASI non-Eksklusif yaitu sebanyak 61,2%.

25

Tabel 5.5 Distribusi Penderita Diare pada Anak Balita berdasarkan Riwayat Imunisasi Campak

Riwayat Imunisasi Jumlah (n) Persentase (%)

Imunisasi campak 84 85,7

Tidak imunisasi campak 14 14,3

Total 98 100

Dari tabel 5.5 dapat dilihat distribusi penderita diare terbanyak pada kelompok anak balita dengan riwayat pemberian imunisasi campak yaitu sebanyak 85,7%.

5.2 Pembahasan

5.2.1 Jumlah kasus diare pada anak balita menurut usia

Berdasarkan tabel 5.1 terlihat bahwa penderita diare terbanyak terdapat pada kelompok usia dibawah tiga tahun (1-3 tahun) yaitu sebanyak 66 orang (67.3%).

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil studidi Puskesmas Simarmata Kecamatan Simanindo Kabupaten Samosir. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa proporsi balita penderita diare lebih banyak terjadi pada usia batita (67,5%).19 Berdasarkan data SDKI 2011, didapatkan diare banyak pada diderita pada kelompok umur 6-35 bulan karena anak mulai aktif bermain dan berisiko terkena diare.2

5.2.2 Jumlah kasus diare pada anak balita menurut status gizi

Berdasarkan tabel 5.2 terlihat bahwa anak balita yang mengalami diare paling banyak mempunyai status gizi baik sebanyak 56 orang (57,1%), diikuti gizi kurang sebanyak 30 orang (30,6%), gizi lebih sebanyak 8 orang (8,2%) dan gizi buruk sebanyak 4 orang (4,1%). Didapatkan dari penelitian ini bahwa anak dengan status gizi baik tetap juga bisa mengalami diare. Hal ini dikarenakan masih banyak faktor lain yang dapat mempengaruhi kejadian diare, seperti faktor budaya dan tempat tinggal.20

Hal ini sejalan dengan penelitian di Rumah Sakit Cikini, dimana anak balita yang mengalami diare paling banyak adalah anak dengan gizi baik yaitu sebesar 58,3%.21 Pada penelitian di Surakarta juga didapatkan hasil bahwa tidak terdapat

26

hubungan antara status gizi dengan kejadian diare pada balita usia 2- 5 tahun.22 Namun, ada penelitian yang mengatakan bahwa balita dengan status gizi tidak baik lebih cenderung untuk terjadi diare 3,6 kali lebih tinggi dibanding status gizi baik.23

5.2.3 Jumlah kasus diare pada anak balita yang mendapat pengobatan oralit Berdasarkan tabel 5.3 terlihat bahwa cakupan pemberian oralit terhadap penderita diare pada anak balita sebanyak 98 orang ( 100%). Hal ini sejalan dengan hasil Dinas Kesehatan, dimana cakupan pemberian oralit daerah Sumatera Utara mencapai 100%.2

5.2.4 Jumlah kasus diare pada anak balita yang mendapat ASI eksklusif Berdasarkan tabel 5.4 terlihat bahwa anak balita yang tidak mendapatkan ASI eksklusif lebih banyak yaitu 60 orang (61,2%) sedangkan yang mendapatkan ASI eksklusif sebanyak 38 orang (38,8%). Hal ini sejalan dengan penelitian di Puskesmas Barang Lompo Kecamatan Ujung Tanah. Hasil penelitiannya menunjukkan proporsi ibu yang memberikan ASI eksklusif sebesar 30%, sementara 70% responden tidak memberikan ASI eksklusif.24

ASI mempunyai khasiat preventif secara imunologik dengan adanya antibodi dan zat-zat lain yang dikandungnya. Pada bayi yang baru lahir, pemberian ASI secara penuh mempunyai daya lindung 4 kali lebih besar terhadap diare daripada pemberian ASI non-Eksklusif.2 Penelitian lain mengatakan bahwa risiko terjadinya penyakit diare secara signifikan lebih tinggi pada bayi yang tidak diberikan ASI dibandingkan dengan bayi yang diberikan ASI eksklusif.25

5.2.5 Jumlah kasus diare pada anak balita yang mendapat imunisasi campak Berdasarkan tabel 5.5 terlihat bahwa anak balita yang telah mendapatkan

imunisasi campak sebanyak 84 orang (85.7%) dan yang tidak mendapatkan imunisasi campak sebanyak 14 orang (14,3%). Hal ini sejalan dengan penelitian

27

sebesar 81,9%.26 Hal ini diduga karena pemberian imunisasi campak hanya dapat digunakan untuk mencegah diare akibat penyakit campak sehingga pemberian imunisasi campak tidak dapat memberikan perlindungan terhadap diare akibat penyebab lain selain penyakit campak.27

Kegiatan pencegahan diare yang benar dan efektif dapat dilakukan dengan perilaku sehat dan penyehatan lingkungan. Pemberian imunisasi campak termasuk salah satu dari tujuh perilaku sehat dimana untuk mencegah terjadinya campak sehingga tidak menderita diare.2 Ada penelitian yang menunjukkan bahwa tidak

Kegiatan pencegahan diare yang benar dan efektif dapat dilakukan dengan perilaku sehat dan penyehatan lingkungan. Pemberian imunisasi campak termasuk salah satu dari tujuh perilaku sehat dimana untuk mencegah terjadinya campak sehingga tidak menderita diare.2 Ada penelitian yang menunjukkan bahwa tidak

Dokumen terkait