BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Status Gizi Balita
2.2.1 Penilaian Status Gizi
Menurut Supriasa, penilaian status gizi ada 2 macam, yaitu penilaian status gizi secara langsung dan penilaian status gizi secara tidak langsung. Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi empat penilaian, yaitu:
antropometri, klinis, biokimia, dan biofisik.13 2.2.2 Status gizi berdasarkan antropometri
Cara pengukuran status gizi yang paling sering digunakan adalah antropometri gizi. Antropometri berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Berbagai jenis ukuran tubuh antara lain: berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas dan tebal lemak di bawah kulit. Keunggulan antropometri antara lain alat yang digunakan mudah didapatkan dan digunakan, pengukuran dapat dilakukan berulang-ulang dengan mudah dan objektif, biaya relatif murah, hasilnya mudah disimpulkan, dan secara ilmiah diakui keberadaannya.13
12
1. Parameter antropometri a. Berat badan(BB)
Berat badan merupakan ukuran antropometrik yang terpenting dan harus diukur pada setiap kesempatan memeriksa kesehatan anak pada semua kelompok umur. Berat badan juga dipakai sebagai indikator yang terbaik untuk mengetahui keadaan gizi dan tumbuh kembang anak karena berat badan sensitif terhadap perubahan walaupun sedikit saja. Kerugian indikator berat badan adalah tidak sensitif terhadap proporsi tubuh, misalnya pendek gemuk atau tinggi kurus.
b. Tinggi badan (TB)
Tinggi badan merupakan ukuran antropometrik kedua yang terpenting.
Ukuran tinggi badan meningkat terus sampai tinggi maksimal dicapai.
Kenaikan tinggi badan ini berfluktuasi, yaitu meningkat pesat pada masa bayi, kemudian melambat, dan selanjutnya menjadi pesat kembali pada masa umur 18-20 tahun.
c. Umur
Faktor umur sangat penting dalam penetuan status gizi. Kesalahan penentuan umur akan menyebabkan interpretasi status gizi menjadi salah.
Hasil pengukuran tinggi badan dan berat badan yang akurat, menjadi tidak berarti bila tidak disertai dengan penentuan umur yang tepat.14
2. Indeks antropometri
Beberapa indeks antropometri yang sering digunakan yaitu berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TT/U), dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB).12
Gizi kurang dan gizi buruk adalah status gizi yang didasarkan pada indeks Berat Badan menurut Umur (BB/U). Lalu, pendek dan sangat pendek adalah status gizi yang didasarkan pada indeks tinggi badan menurut umur (TT/U).
Sedangkan, kurus dan sangat kurus adalah status gizi yang didasarkan pada indeks berat badan menurut tinggi badan (BB/TB).15
13
Interpretasi z-score untuk BB/Upada tabel standar BB/U anak umur 0-60 bulan dari Menteri Kesehatan RI, adalah:
a. Dibawah -3 SD disebut gizi buruk.
b. Antara -3 SD sampai <-2 SD disebut gizi kurang.
c. Antara -2 sampai 2 SD disebut gizi baik.
d. Diatas 2 SD disebut gizi lebih.
Interpretasi z-score untuk TB/U pada tabel standar TB/U anak umur 0-60 bulan dari Menteri Kesehatan RI, adalah:
a. Dibawah -3 SD disebut sangat pendek.
b. Antara -3 SD sampai <-2 SD disebut pendek.
c. Antara -2 sampai 2 SD disebut normal.
d. Diatas 2 SD disebut tinggi.
Interpretasi z-score untuk BB/TB pada tabel standar BB/TB anak umur 0-60 bulan dari Menteri Kesehatan RI, adalah:
a. Dibawah -3 SD disebut sangat kurus.
b. Antara -3 SD sampai <-2 SD disebut kurus.
c. Antara -2 sampai 2 SD disebut normal.
d. Diatas 2 SD disebut gemuk. 15
14
Tabel 2.1 Standar Berat Badan menurut Umur (BB/U) Anak Laki-Laki Umur 0-60 Bulan15
15
Tabel 2.2 Standar Berat Badan menurut Umur (BB/U) Anak Perempuan Umur 0-60 Bulan15
16
2.2.3 Hubungan status gizi dengan diare
Diare turut memberikan kontribusi untuk kekurangan gizi melalui pengurangan asupan makanan, penurunan penyerapan nutrisi, dan peningkatan katabolisme cadangan nutrisi. Penyebab fisiologis penurunan asupan makanan termasuk anoreksia, mual, dan muntah, yang semuanya dapat berhubungan dengan hilangnya elektrolit, ketidakseimbangan, dan dehidrasi. Maldigesti dan malabsorpsi dapat terjadi pada anak-anak dimana aktivitas enzim pencernaan usus menurun dan transit melalui usus lebih cepat. Malabsorpsi diperparah oleh kerusakan sel yang sering disebabkan oleh infeksi. Beberapa bakteri invasif (misalnya, shigella), virus (misalnya, campak), dan protozoa (misalnya, amebae) dapat langsung merusak lapisan usus dan menyebabkan hilangnya protein.
Demam, umumnya terkait dengan organisme usus, mengakibatkan peningkatan metabolisme, yang menyebabkan peningkatan kebutuhan energi dan kehilangan dari otot dan protein.16
2.3 ASI Eksklusif
ASI adalah makanan paling baik untuk bayi. Komponen zat makanan tersedia dalam bentuk yang ideal dan seimbang untuk dicerna dan diserap secara optimal oleh bayi. ASI saja sudah cukup untuk menjaga pertumbuhan sampai umur 6 bulan. Tidak ada makanan lain yang dibutuhkan selama masa ini.ASI bersifat steril, berbeda dengan sumber susu lain seperti susu formula atau cairan lain yang disiapkan dengan air atau bahan-bahan dapat terkontaminasi dalam botol yang kotor. Keadaan seperti ini disebut disusui secara penuh (memberikan ASI Eksklusif).2
Manfaat ASI pada bayi 0-2 tahun yaitu: kaya akan zat penting yang dibutuhkan oleh bayi; sebagai sarana untuk mendekatkan sang ibu dengan buah hati; memberikan kekebalan yang optimal untuk bayi; tidak basi dan selalu segar;
lebih higienis dibandingkan dengan susu lain; minuman sekaligus makanan yang memiliki kualitas terbaik untuk bayi; mampu menyempurnakan pertumbuhan sehingga minim dari penyakit dan cerdas; memperindah kulit, gigi, dan bentuk
17
Bayi yang tidak diberikan ASI eksklusif selama 13 minggu pertama memiliki tingkat infeksi saluran cerna yang lebih tinggi dibandingkan dengan bayi–bayi lain yang diberikan ASI. Selain itu, bayi yang tidak diberikan ASI mudah terkena penyakit-penyakit lain yang berhubungan dengan kekebalan tubuh.17
2.4 Imunisasi Campak
Program imunisasi yang dilakukan oleh pemerintah secara nasional adalah imunisasi dasar (BCG, Polio, DPT, Hepatitis B, dan Campak) yang diberikan kepada bayi, dan imunisasi ulangan (DT dan TT) yang diberikan kepada murid Sekolah Dasar (SD) kelas 1, 2 dan 3. Cakupan imunisasi yang tinggi diharapkan dapat menurunkan kejadian penyakit yang diimunisasi dan infeksi sekunder yang sering terjadi berupa pneumonia dan diare. Namun sampai saat ini masih terjadi KLB campak di beberapa daerah.9
Pemberian imunisasi campak pada bayi sangat penting untuk mencegah agar bayi tidak terkena penyakit campak. Anak yang sakit campak sering disertai diare, sehingga pemberian imunisasi campak juga dapat mencegah diare. Oleh karena itu, berilah imunisasi campak segera setelah bayi berumur 9 bulan.2
BAB III
KERANGKA TEORI DAN KERANGKA KONSEP
3.1 Kerangka Teori
Gambar 3.1 Kerangka Teori Penelitian 3.2 Kerangka Konsep
Gambar 3.2 Kerangka Konsep Penelitian Usia
Status gizi
ASI eksklusif
Imunisasi campak
Pengobatan awal Penderita
Diare Imunitas balita:
- Status gizi - ASI eksklusif - Imunisasi campak
Diare
Akut
Persisten
Kronik Usia balita
Pengobatan awal :
-oralit -tanpa oralit
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1 Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dengan pendekatan studi potong lintang (cross sectional) yaitu suatu subjek penelitian hanya dilakukan observasi satu kali saja dan pengukuran dilakukan sekaligus pada saat yang sama.18 Pada penelitian ini yang ingin diketahui oleh peneliti adalah karakteristik penderita diare pada balita di Puskesmas Sentosa Baru Kecamatan Medan Perjuangan periode Juli sampai Oktober 2015, dimana akan dilakukan pengumpulan data berdasarkan rekam medik.
4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2.1 Lokasi penelitian
Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Sentosa Baru Kecamatan Medan Perjuangan. Adapun pemilihan lokasi penelitian ini dilakukan dengan pertimbangan yaitu tersedianya data penderita diare dan banyaknya kasus diare pada balita di puskesmas tersebut.
4.2.2 Waktu penelitian
Waktu penelitian ini akan dilaksanakan mulai dari pengumpulan data dari rekam medis sampai pelaporan hasil penelitian yang dilakukan dari bulan Agustus 2016 sampai bulan Desember 2016.
4.3 Populasi dan Sampel Penelitian 4.3.1 Populasi penelitian
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang diteliti dan telah memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh peneliti.18 Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh data rekam medik pasien anak balita yang didiagnosis menderita diare di Puskesmas Sentosa Baru Kecamatan Medan Perjuangan mulai dari bulan Juli sampai Oktober 2015.
20
4.3.2 Sampel penelitian
Pengambilan sampel dilakukan dengan metode total sampling yaitu metode penentuan sampel dengan mengambil seluruh anggota populasi sebagai sampel penelitian.18 Dalam penelitian ini, sampel adalah seluruh data rekam medik anak balita yang didiagnosis menderita diare akut di Puskesmas Sentosa Baru Kecamatan Medan Perjuangan.
4.4 Metode Pengumpulan Data
Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu rekam medik penderita diare pada balita di Puskesmas Sentosa Baru Kecamatan Medan Perjuangan periode Juli-Oktober 2015.
4.5 Metode Analisis Data
Data yang telah dicatat dan dikumpulkan dari rekam medik kemudian diolah dan dianalisis dengan menggunakan perangkat lunak statistik yang kemudian disajikan dalam bentuk narasi dan tabel distribusi frekuensi.
4.6 Definisi Operasional 1. Penderita Diare
Definisi : Anak balita yang didiagnosis menderita diare di Puskesmas Sentosa Baru Kecamatan Medan Perjuangan.
Cara pengukuran: Melihat dan mengecek data rekam medik Alat pengukuran: Rekam Medik
Hasil pengukuran: tidak ada Skala pengukuran: tidak ada 2. Usia
Definisi : Data usia anak berumur 1-5 tahun
Cara pengukuran: Melihat dan mengecek data rekam medik Alat pengukuran: Rekam medik
Hasil pengukuran: Bawah tiga tahun (1-3 tahun), prasekolah (3-5 tahun) Skala pengukuran: Nominal
21
3. Status gizi
Definisi : Hasil interpretasi Berat Badan(BB) menurut Umur (U).
Cara pengukuran: Memasukkan data rekam medik ke dalam tabel z-score BB/U anak umur 0-60 bulan dari Menteri Kesehatan RI Alat pengukuran: Tabel standar BB/U anak umur 0-60 bulan dari Menteri
Kesehatan RI
Hasil pengukuran: Gizi buruk, gizi kurang, gizi baik, gizi lebih Skala pengukuran: Ordinal
4. Pengobatan awal
Definisi : Pengendalian diare dengan pemberian minuman oralit.
Cara pengukuran: Melihat dan mengecek data rekam medik Alat pengukuran: Rekam medik
Hasil pengukuran: Menerima oralit, tidak menerima oralit Skala pengukuran: Nominal
5. ASI eksklusif
Definisi : Pemberian makanan berupa ASI saja selama 6 bulan pada bayi baru lahir.
Cara pengukuran: Melihat dan mengecek data rekam medik Alat pengukuran : Rekam medik
Hasil pengukuran: ASI eksklusif, ASI non-eksklusif Skala pengukuran: Nominal
6. Imunisasi campak
Definisi : Pemberian vaksin campak pada bayi.
Cara pengukuran: Melihat dan mengecek data rekam medik Alat pengukuran: Rekam medik
Hasil pengukuran: Imunisasi, tidak imunisasi Skala pengukuran: Nominal
22
4.7 Jadwal Penelitian
Tabel 4.1 Jadwal Penelitian
No Kegiatan
Bulan Maret
2016
April 2016
Mei 2016
Juni 2016
Agustus-Oktober 2016
November-Disember
2016
1 Pengajuan Judul X
2 Studi Kepustakaan X X x x
3 Pengumpulan Sampel X
4 Pengolahan dan Analisa Data X x
5 Laporan Hasil Penelitian x
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1 Hasil Penelitian
5.2.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Sentosa Baru yang berlokasi di Jalan Sentosa Baru No.22 Kecamatan Medan Perjuangan Kota Medan. Puskesmas Sentosa Baru mempunyai 9 wilayah kerja/ kelurahan, 2 buah Puskesmas Pembantu (Pustu) disertai 64 Posyandu.
5.2.2 Deskripsi Karakteristik Sampel
Dalam penelitian ini didapatkan populasi sampel penderita diare pada anak balita sebanyak 98 orang. Untuk mengetahui karakteristik dari sampel tersebut dilakukan pendeskripsian data terhadap 5 variabel yaitu usia, status gizi, pengobatan oralit, riwayat pemberian ASI dan status imunisasi campak.
5.2.3 Hasil Deskriptif Data
Berdasarkan data-data tersebut dapat dibuat karakteristik subjek penelitian sebagai berikut:
Tabel 5.1 Distribusi Penderita Diare pada Anak Balita Berdasarkan Usia
Usia Jumlah (n) Persentase (%)
Bawah tiga tahun 66 67,3
Prasekolah 32 32,7
Total 98 100
Dari tabel 5.1 dapat dilihat distribusi penderita diare terbanyak adalah kelompok anak dengan usia di bawah tiga tahun yaitu sebesar 67,3%.
24
Tabel 5.2 Distribusi Penderita Diare pada Anak Balita Berdasarkan Status Gizi
Status Gizi Jumlah (n) Persentase (%)
Gizi buruk 4 4,1
Gizi kurang 30 30,6
Gizi baik 56 57,1
Gizi lebih 8 8,2
Total 98 100
Dari tabel 5.2 dapat dilihat distribusi penderita diare terbanyak pada kelompok anak balita dengan gizi baik yaitu sebanyak 57,1%.
Tabel 5.3 Cakupan Pemberian Oralit pada Penderita Diare Anak Balita
Pengobatan Jumlah (n) Persentase (%)
Menerima oralit 98 100
Tidak menerima oralit 0 0
Total 98 100
Dari tabel 5.3 dapat diketahui bahwa cakupan pemberian oralit terhadap penderita diare pada anak balita sebanyak 98 orang (100%).
Tabel 5.4 Distribusi Penderita Diare pada Anak Balita berdasarkan Riwayat Pemberian ASI
Riwayat ASI Jumlah (n) Persentase (%)
ASI Eksklusif 38 38,8
ASI non-Eksklusif 60 61,2
Total 98 100
Dari tabel 5.4 dapat dilihat distribusi penderita diare terbanyak pada kelompok anak balita dengan riwayat pemberian ASI non-Eksklusif yaitu sebanyak 61,2%.
25
Tabel 5.5 Distribusi Penderita Diare pada Anak Balita berdasarkan Riwayat Imunisasi Campak
Riwayat Imunisasi Jumlah (n) Persentase (%)
Imunisasi campak 84 85,7
Tidak imunisasi campak 14 14,3
Total 98 100
Dari tabel 5.5 dapat dilihat distribusi penderita diare terbanyak pada kelompok anak balita dengan riwayat pemberian imunisasi campak yaitu sebanyak 85,7%.
5.2 Pembahasan
5.2.1 Jumlah kasus diare pada anak balita menurut usia
Berdasarkan tabel 5.1 terlihat bahwa penderita diare terbanyak terdapat pada kelompok usia dibawah tiga tahun (1-3 tahun) yaitu sebanyak 66 orang (67.3%).
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil studidi Puskesmas Simarmata Kecamatan Simanindo Kabupaten Samosir. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa proporsi balita penderita diare lebih banyak terjadi pada usia batita (67,5%).19 Berdasarkan data SDKI 2011, didapatkan diare banyak pada diderita pada kelompok umur 6-35 bulan karena anak mulai aktif bermain dan berisiko terkena diare.2
5.2.2 Jumlah kasus diare pada anak balita menurut status gizi
Berdasarkan tabel 5.2 terlihat bahwa anak balita yang mengalami diare paling banyak mempunyai status gizi baik sebanyak 56 orang (57,1%), diikuti gizi kurang sebanyak 30 orang (30,6%), gizi lebih sebanyak 8 orang (8,2%) dan gizi buruk sebanyak 4 orang (4,1%). Didapatkan dari penelitian ini bahwa anak dengan status gizi baik tetap juga bisa mengalami diare. Hal ini dikarenakan masih banyak faktor lain yang dapat mempengaruhi kejadian diare, seperti faktor budaya dan tempat tinggal.20
Hal ini sejalan dengan penelitian di Rumah Sakit Cikini, dimana anak balita yang mengalami diare paling banyak adalah anak dengan gizi baik yaitu sebesar 58,3%.21 Pada penelitian di Surakarta juga didapatkan hasil bahwa tidak terdapat
26
hubungan antara status gizi dengan kejadian diare pada balita usia 2- 5 tahun.22 Namun, ada penelitian yang mengatakan bahwa balita dengan status gizi tidak baik lebih cenderung untuk terjadi diare 3,6 kali lebih tinggi dibanding status gizi baik.23
5.2.3 Jumlah kasus diare pada anak balita yang mendapat pengobatan oralit Berdasarkan tabel 5.3 terlihat bahwa cakupan pemberian oralit terhadap penderita diare pada anak balita sebanyak 98 orang ( 100%). Hal ini sejalan dengan hasil Dinas Kesehatan, dimana cakupan pemberian oralit daerah Sumatera Utara mencapai 100%.2
5.2.4 Jumlah kasus diare pada anak balita yang mendapat ASI eksklusif Berdasarkan tabel 5.4 terlihat bahwa anak balita yang tidak mendapatkan ASI eksklusif lebih banyak yaitu 60 orang (61,2%) sedangkan yang mendapatkan ASI eksklusif sebanyak 38 orang (38,8%). Hal ini sejalan dengan penelitian di Puskesmas Barang Lompo Kecamatan Ujung Tanah. Hasil penelitiannya menunjukkan proporsi ibu yang memberikan ASI eksklusif sebesar 30%, sementara 70% responden tidak memberikan ASI eksklusif.24
ASI mempunyai khasiat preventif secara imunologik dengan adanya antibodi dan zat-zat lain yang dikandungnya. Pada bayi yang baru lahir, pemberian ASI secara penuh mempunyai daya lindung 4 kali lebih besar terhadap diare daripada pemberian ASI non-Eksklusif.2 Penelitian lain mengatakan bahwa risiko terjadinya penyakit diare secara signifikan lebih tinggi pada bayi yang tidak diberikan ASI dibandingkan dengan bayi yang diberikan ASI eksklusif.25
5.2.5 Jumlah kasus diare pada anak balita yang mendapat imunisasi campak Berdasarkan tabel 5.5 terlihat bahwa anak balita yang telah mendapatkan
imunisasi campak sebanyak 84 orang (85.7%) dan yang tidak mendapatkan imunisasi campak sebanyak 14 orang (14,3%). Hal ini sejalan dengan penelitian
27
sebesar 81,9%.26 Hal ini diduga karena pemberian imunisasi campak hanya dapat digunakan untuk mencegah diare akibat penyakit campak sehingga pemberian imunisasi campak tidak dapat memberikan perlindungan terhadap diare akibat penyebab lain selain penyakit campak.27
Kegiatan pencegahan diare yang benar dan efektif dapat dilakukan dengan perilaku sehat dan penyehatan lingkungan. Pemberian imunisasi campak termasuk salah satu dari tujuh perilaku sehat dimana untuk mencegah terjadinya campak sehingga tidak menderita diare.2 Ada penelitian yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara pemberian imunisasi campak dengan kejadian diare (p=0,140).27 Namun, ada penelitian yang menulis bahwa balita yang tidak menerima imunisasi campak lebih berisiko untuk menderita campak beserta diare (OR=1,6).9 Jadi, dampak pemberian imunisasi campak dalam mencegah diare masih perlu diteliti lebih lanjut lagi.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan mengenai karakteristik penderita diare pada balita di Puskesmas Sentosa Baru Kecamatan Medan Perjuangan diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
a. Usia pada anak balita penderita diare didapati bahwa usia sampel paling banyak adalah usia dibawah tiga tahun yaitu sebanyak 66 orang (67.3%).
b. Status gizi didapati bahwa sampel paling banyak adalah anak balita dengan gizi baik sebanyak 56 orang (57,1%).
c. Cakupan pemberian oralit terhadap penderita diare pada balita mencapai 100%.
d. ASI eksklusif didapati bahwa sampel paling banyak adalah anak balita yang tidak mendapatkan ASI eksklusif sebanyak 60 orang (61,2%).
e. Status imunisasi didapati bahwa sampel paling banyak adalah anak balita yang telah mendapatkan imunisasi campak sebanyak 84 orang (85,7%).
6.2 Saran
a. Bagi masyarakat agar dapat mengetahui pentingnya upaya peningkatan gizi balita, perawatan kesehatan dan pertumbuhan balita serta perilaku pencegahan yang dapat menghindari balita dari diare seperti pemberian ASI yang benar dan imunisasi campak serta membudayakan kebiasaan mencuci tangan dengan sabun sehabis buang air besar dan sebelum makan.
b. Bagi petugas kesehatan agar dapat meningkatkan penyuluhan kepada
DAFTAR PUSTAKA
1. World Health Organization. Diarrhoeal disease [Internet]. Geneva: WHO ; 2013.Available from:http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs330/en/
2. Pengendalian Diare di Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI; 2011 hal.1-30.
3. Bhutta A. Acute gastroenteritis in children. In: Kliegman R, Stanton B, Geme J, Schor N. Nelson Textbook of Pediatrics. 20th ed. Canada:
Elsevier; 2015. p. 1854-1874.
4. Simadibrata M. Pendekatan dan penatalaksanaan diare akut. Dalam: Rani A. Buku Ajar Gastroenterologi. Edisi 1. Jakarta: Interna Publishing; 2011.
hal.67-73. Indonesia terhadap kejadian penyakit. Litbangkes Depkes. 2009; 19 Suppl 2: 5-11.
10. Camilleri M, Murray J. Diarrhea and constipation. In: Kasper D.
Harrison's Principles of Internal Medicine. 19th ed. New York: Mc Graw Hill; 2015. p.264-272.
11. Field M. Intestinal ion transport and the pathophysiology of diarrhea. J Clin Invest. 2003 Apr 1; 111:931-943.
12. Almatsier S. Pengenalan ilmu gizi. Dalam: Prinsip Dasar Ilmu Gizi.
Jakarta : PT SUN; 2010. hal.3-12.
13. Supariasa, IDN. Penilaian status gizi. Jakarta : EGC; 2012. hal 138-146.
14. Soetjiningsih. Pemantauan pertumbuhan fisik anak. Dalam: Tumbuh Kembang Anak. Jakarta : EGC; 2014. hal.131-149.
15. Standar antropometri penilaian status gizi anak. Jakarta: Kemenkes RI;
2011. hal.4-6.
16. National Academy of Sciences. Nutritional consequences of acute diarrhea. Washington: National Academies Press; 1985. p.5-12.
17. National Health and Medical Research Council. Infant feeding guidelines.
Canberra: NHMRC; 2012. p.11-13.
18. Sastroasmoro S, Ismael S. Dasar-dasar metodologi penelitian klinis. Edisi 3. Jakarta: Sagung Seto; 2008.
30
19. Primona I, Rasmaliah, Hiswani. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Diare pada Anak Usia 0-59 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Simarmata Kecamatan Simanindo Kabupaten Samosir. Univeritas Sumatera Utara: Medan; 2013. hal.4
20. Hendarto A, Musa DA. Hubungan Status Gizi dan Kekerapan Sakit Balita Penghuni Rumah Susun Kemayoran Jakarta-Pusat. Sari Pediatri, Vol.4, 2002; hal.88-97.
21. Helena P. Profil Bayi dan Anak Penderita Diare di Instalasi Rawat Inap RS Cikini. Univesitas Kristen Indonesia ; 2008. hal.3-4.
22. Alboneh FA. Hubungan Status Gizi dengan Kejadian Diare pada Balita Usia 2-5 Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Karanganyar Kabupaten Karanganyar.Universitas Muhammadiyah Surakarta:Surakarta;
2013. hal.11-15.
23. Hamisah I. Hubungan Status Gizi dan Prevalensi Diare Akut pada Anak Usia di Bawah 5 Tahun di Kabupaten Klaten. Universitas Gajah Mada:
D.I.Yogyakarta; 2011. hal.12-16.
24. Hardi AR, Masni, Rahma. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Diare pada Batita di Wilayah Kerja Puskesmas Barang Lompo Kecamatan Ujung Tanah Tahun 2012. Universitas Hassanudin: Makassar ; 2012.
hal.6-8.
25. Rollins NC. Exclusive Breastfeeding, Diarrhoeal Morbidity and All-Cause Mortality in Infants of HIV-Infected and HIV Uninfected Mothers. PLOS ONE. 2013; 8(12):1-10.
26. Siregar HO. Hubungan Pemberian ASI Eksklusif dengan Kejadian Diare pada Anak Usia 12-24 Bulan di Puskesmas Terjun Kecamatan Medan Marelan Tahun 2014. Universitas Sumatera Utara: Medan; 2014. hal.24 27. Rini L. Hubungan Status Imunisasi Campak dengan Kejadian Penyakit
Diare (Campak, ISPA dan Diare) dan Status Gizi Anak Usia 1-4 Tahun di Desa Karang Duren Kecamatan Tenggaran Kabupaten Semarang.
Universitas Diponegoro:Semarang; 2001. hal.9-12.
Lampiran 1
Ethical Clearance
Lampiran 2
HASIL UJI STATISTIK
USIA
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Bawah tiga tahun 66 67,3 67,3 67,3
Prasekolah 32 32,7 32,7 100,0
Total 98 100,0 100,0
STATUS GIZI
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Gizi buruk 4 4,1 4,1 4,1
Gizi kurang 30 30,6 30,6 34,7
Gizi baik 56 57,1 57,1 91,8
Gizi lebih 8 8,2 8,2 100,0
Total 98 100,0 100,0
ORALIT
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Menerima Oralit 98 100,0 100,0 100,0
RIWAYAT ASI EKSKLUSIF
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid ASI eksklusif 38 38,8 38,8 38,8
ASI Noneksklusif 60 61,2 61,2 100,0
Total 98 100,0 100,0
RIWAYAT IMUNISASI CAMPAK
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Imunisasi campak 84 85,7 85,7 85,7
Tidak imunisasi
campak 14 14,3 14,3 100,0
Total 98 100,0 100,0
Lampiran 3
Izin Penelitian dari Dinas Kesehatan Kota Medan
Lampiran 4
Izin Penelitian dari Puskesmas Sentosa Baru
Lampiran 5
Balasan Selesai Penelitian dari Puskesmas Sentosa Baru
Lampiran 6
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama Lengkap : Roynikko
Jenis Kelamin : Laki-laki
Tempat/Tanggal Lahir : Medan, 24 September 1995
Warga Negara : Indonesia
Status : Belum Menikah
Agama : Buddha
Alamat : Jln. Kabanjahe No.14, Medan
Nomor Handphone : 082165331748
Email : [email protected]
Riwayat Pendidikan :
1. Playgroup Swasta SUTOMO 1 Medan (1999-2000) 2. TK Swasta SUTOMO 1 Medan (2000-2001) 3. SD Swasta SUTOMO 1 Medan (2001-2007) 4. SMP Swasta SUTOMO 1 Medan (2007-2010) 5. SMA Swasta SUTOMO 1 Medan ( 2010-2013)
6. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (2013- Sekarang)
Riwayat Pelatihan :
1. Peserta PMB (Penerimaan Mahasiswa Baru) FK USU 2013 2. Peserta MMB (Manajemen Mahasiswa Baru) FK USU 2013
3. Peserta Seminar dan Workshop “Breast Cancer – Diagnosis and Therapy” SCORA PEMA FK USU 2014
Riwayat Organisasi :
1. Anggota Divisi Kesehatan Reproduksi SCORA PEMA FK USU Periode 2015 2. Anggota Divisi Pengabdian Masyarakat PEMA MIND FK USU 2016
1. Anggota Divisi Kesehatan Reproduksi SCORA PEMA FK USU Periode 2015 2. Anggota Divisi Pengabdian Masyarakat PEMA MIND FK USU 2016