Grand total luas bangunan:
4.6.1 Massa Bangunan
4.6.1.1 Transformasi Bentuk Tradisional Timor Leste Dalam Perancangan Bangunan Perpustakaan yang Kontemporer
4.6.1.1.1 Patterns Berdasarkan Elemen Fisik Rumah Tradisional 1. Dinding
Bagian dinding pada rumah-rumah tradisional di Timor Leste terbuat dari material bambu dan daun “palapa”. Bambu berfungsi sebagai kerangka nya dan daun palapa sebagai penutup kerangka.
Gambar 4.12 Dinding rumah tradisional mengurangi suhu panas masuk ke interior rumah
Material ini tidak susah didapat di sekitar rumah. Penggunaan dinding ini terbukti cukup efisien dalam mengatasi masalah “heat prevention” karena mampu
97 menetralisir suhu panas ketika mencapai interior rumah dan mendinginkannya kembali dengan cepat.
Gagasan Desain I
Pattern dinding di rumah tradisional Timor Leste ditujukan untuk mengurangi suhu panas yang masuk ke interior rumah, Karena bambu dan daun palapa tidak dimungkinkan penggunaan nya pada dimensi bangunan yang sangat besar seperti perpustakaan nasional karena dilihat dari segi perawatan dan biaya nya yang akan sangat mahal dan ketersediaan material yang minim, maka pattern yang bisa diambil dari dinding tradisional adalah konsep untuk mengatasi masalah heat prevention dan direct sunlight. Dalam perancangan yang kontemporer, penggunaan double fasad bisa diaplikasikan guna mengatasi masalah tersebut.
Gambar 4.13 Double fasad berfungsi mengurangi panas dan direct sunlight ke dalam ruangan
2. Levelling Lantai
Rumah-rumah tradisional Timor Leste, terutama yang terletak di dataran rendah, terbagi dalam 3 plataforma levelling lantai. Level paling bawah (70-80cm) merupakan platform entrance yang bersifat terbuka karena fungsinya yang merupakan selasar, tempat dimana terjadi interaksi sosial antar penghuni rumah dan tamu. Kemudian terdapat platform intermedia (tengah) dengan tinggi 1m dari tanah yang disebut dengan “labish”. Area “labish” merupakan area terjadinya seluruh kegiatan utama dalam rumah seperti makan, belajar, dan tidur. Platform tertinggi yaitu area servis yaitu gudang dan dapur yang dengan ketinggian 1,5 m dari permukaan tanah.
98 Gambar 4.14 Perbedaan levelling lantai pada rumah tradisional
Gagasan Desain II
Gambar 4.15 Zonasi vertikal perpustakaan berdasarkan filosofi levelling lantai pada rumah tradisional
Konsep berbedanya ketinggian lantai pada rumah tradisional menjadi pertimbangan perancangan zonasi vertikal dari perpustakaan nasional. Perpustakaan nasional akan memiliki 3 lantai dimana lantai ke 2 merupakan “labish” dari bangunan tersebut, tempat terjadi nya aktivitas utama seperti membaca dan belajar. Lantai 3 merupakan area servis dan perkantoran, sesuai dengan ideologi levelling paling tinggi dalam rumah tradisional yang merupakan area gudang dan dapur (servis). Sedangkan pada lantai 1 merupakan area publik (commercial amenities, book store, plaza, etc.), tempat terjadi nya interaksi antar pengunjung perpustakaan
99 3. Atap
Rumah tradisional tidak menggunakan plafon sehingga pada area “labish”, atap terlihat tinggi dan sirkulasi udara mengalir dengan baik.
Gambar 4.16 Area “labish” tidak menggunakan plafon
Selain itu pada bagian eksterior, terdapat elemen pemberat yang disebut “traves” yang terbuat dari kayu digunakan agar menjaga kestabilan atap. Rumah-rumah tradisional ini juga identik dengan bentuk atap pada bagian paling atas yang tampak seperti “mahkota” rumah.
Gambar 4.17 “Traves” dan “mahkota” atap pada rumah tradisional
“Mahkota” tersebut sebenarnya merupakan representasi sebuah kapal terbalik dimana mencerminkan simbol kekuasaan dan nilai-nilai mistis dari para leluhur. Adapun bentuk dari “mahkota” tersebut bermacam-macam tergantung dari kasta keluarga yang tinggal di rumah tersebut.
100 Gagasan Desain III
Pattern yang bisa diambil dari atap rumah tradisional ini adalah kesan monumental yang terlihat dari tidak ada nya penggunaan plafon dalam ruangan. Pada area Reading Hall, dimana terdapat pusat kegiatan dari perpustakaan, tidak menggunakan plafon datar guna menghilangkan kesan sempit dan tertekan. Konsep penerapan nya seperti pada area “labish” pada rumah tradisional,
Gambar 4.18 Reading Hall diibaratkan sebagai “labish” dengan tidak digunakan plafon dalam perancangannya
Pattern lain yang bisa diambil adalah bentuk dan makna dari “mahkota” atap yang ditransformasikan ke sebuah geometri dan material konstruksi yang kontemporer. Skylight dengan material transparan mampu merepresentasikan “mahkota” atap tersebut. Dari sisi filosofis, skylight membiarkan sinar matahari masuk dari atas yang menggambarkan masa depan bangsa yang cerah sesuai kehendak para leluhur di atas. Sedangkan dari segi visual, skylight akan terlihat kontras dengan material atap lainnya sehingga kesan sebagai “mahkota” akan terlihat jelas.
101 Gambar 4.19 Penerapan konsep “mahkota” pada desain kontemporer
4. Jendela/Bukaan
Rumah tradisional tidak menggunakan jendela tetapi menggunakan ventilasi dan bukaan-bukaan tertentu. Cahaya matahari masuk ke interior rumah melalui sekat-sekat pada dinding, pintu dan lantai yang terbuat dari rangka bambu dan tatanan daun palapa. Jika dilihat dari konteks seluruh rumah, terbagi dalam dua bagian, yaitu bagian gelap yang merupakan bagian dari labish dan area servis yang ditutup oleh dinding bambu. Bagian terang terletak pada area selasar/entrance dimana tidak terdapat dinding karena merupakan area terbuka.
Gambar 4.20 Analisis pencahayaan pada rumah tradisional Gagasan Desain IV
Adanya bagian gelap dan bagian terang dalam rumah tradisional diaplikasikan ke dalam konsep pencahayaan bangunan perpustakaan. Area koleksi perpustakaan dan arsip dianggap merupakan bagian gelap dan area sirkulasi dan reading hall pada bagian tengah dianggap merupakan bagian terang tempat terjadinya interaksi sosial. Area tengah ini juga merupakan entrance.
102 Pada bagian gelap digunakan material massive pada fasadnya dengan bukaan-bukaan kecil yang berfungsi sebagai ventilasi. Sedangkan pada bagian terang berupa void dan solid yang menggunakan material transparan seperti kaca.
Gambar 4.22 Konsep pencahayaan berdasarkan material fasad pada bangunan perpustakaan
5. Kolom
Pada setiap konstruksi rumah tradisional di Timor Leste, penyangga atap dan penyangga lantai merupakan dua komponen struktur yang berbeda. Dari segi dimensi penyangga atap memiliki dimensi yang lebih besar dibandingkan dengan penyangga lantai.
Gambar 4.23 Visualisasi penyangga atap dan lantai yang merupakan dua komponen struktur berbeda dalam rumah tradisional
Gagasan Desain V
Pattern yang diambil adalah perbedaan kedua komponen ini secara fungsi struktur. Pada bangunan perpustakaan elemen kolom secara struktur merupakan kolom menerus sehingga kolom tersebut menyangga lantai dan atap sekaligus. Akan sangat mahal jika diterapkan dua struktur penyangga yang berbeda. Pattern yang bisa diaplikasikan ke bangunan perpustakaan nanti bisa berdasarkan perbedaan
103 material. Kolom penyangga atap dan bangunan utama menggunakan material concrete sedangkan kolom penyangga ramps sirkulasi bermaterialkan baja.
Gambar 4.24 Perbedaan material antara kolom penyangga atap dan kolom penyangga ramps sirkulasi
4.6.1.1.2 Pattern Berdasarkan Elemen Spasial Rumah Tradisional