Ya.
Pak Ketua dan Ibu Ketua yang kami hormati dan kami banggakan,
Bapak Ibu Anggota Komisi V yang kami cintai dan juga Mitra para Kepala Badan yang kami hormati.
Dari kami ingin membahas sedikit untuk BMKG, pada RDP kali ini dengan memfokus pada outline kerja BMKG, karena menyangkut...(rekaman terputus) dalam aspek pemantauan kondisi cuaca, fokus faktor alam biologi yang di hari ini menimbulkan banyak masalah di daerah-daerah baik itu curah hujan yang tinggi, potensi gagal tanam...(rekaman suara kurang jelas), potensi banjir, potensi tanah longsor, potensi gempa, potensi gelombang tinggi di laut, dan juga potensi gangguan penerbangan karena cuaca yang begitu ekstrim di luar nusantara ini.
Oleh karena itu Pak Ketua dan Bapak Ibu Anggota Komisi V dan para Mitra yang kami hormati dan kami cintai. Kami ingin sedikit memberikan catatan sedikit bahwa khususnya untuk BMKG, dalam catatan lisan BMKG sepanjang tahun 2020 yang dimulai sejak bulan Januari sampai Februari, peringatan dini tentang potensi cuaca musim penghujan di sejumlah daerah telah diumumkan, Namun keadaan musim penghujan ini terus berlanjut hingga bulan Juni ini. Kita melihat...(rekaman terputus) berita di sejumlah daerah telah terjadi berbagai peristiwa tanah longsor akibat...(rekaman terputus) ekstrim penghujan yang telah berlangsung lama.
Indonesia saat ini sedang berjuang melawan pandemi Covid-19 yang terus mengalami peningkatan kasus hingga mencapai 45.891 kasus pada 22 Juni per hari ini. Belum lagi kita mengetahui ancaman perang laut China Selatan semakin mendekati titik konfrontasi terbuka dengan hadirnya 3 armada kapal induk Amerika di pintu masuk Laut China Selatan.
Nah Pak Ketua dan Ibu Ketua dan Bapak Ibu Anggota Komisi V yang terhormat dan juga mitra kerja.
Semua variabel yang telah kami jelaskan di atas, sejatinya ingin kami menyampaikan pesan penting, bahwa apakah Indonesia akan mampu pertahanan menghadapi kombinasi tantangan sekaligus ancaman cuaca ekstrim musim penghujan dalam jangka panjang, pandemi Covid-19, ancaman perang di Laut China Selatan yang dapat digambarkan sebagai pandemi Covid secara nyata. Baik yang menurunkan aktivitas ekonomi Indonesia menjadi negatif atau pertumbuhan negatif 2,41% pada awal semester pertama tahun 2020. Masalah utama yang dihadapi pada masa pandemi ini adalah menjamin terpenuhinya kebutuhan pangan masyarakat. Dan kebutuhan pangan menjadi semakin terancam ketika kombinasi hujan ekstrim yang berlangsung cukup panjang, sejak bulan Januari sampai bulan ini tercatat di berbagai daerah. Hingga berlangsung di bulan Juni ini dapat berdampak buruk terhadap pertanian lokal karena produksi pangan. Ditambah lagi ancaman nyata perang Laut China Selatan menjadi ancaman pula terhadap supply logistik pangan yang diperoleh Indonesia dari kebutuhan impor seperti impor beras.
Oleh karena itu kami berharap BMKG dapat menjalankan dan solusi praktis terkait upaya mengamankan supply kebutuhan pangan di seluruh Indonesia. Dan jika perlu seperti upaya yang selama ini dilakukan antara BMKG, BPPT bersama TNI Angkatan Udara, melakukan upaya modifikasi cuaca di langit Jabodetabek dengan teknologi tensi, untuk mencegah dampak
hujan yang parah yang dapat mengakibatkan banjir besar di Jabodetabek. Dan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menjaga daerah-daerah yang menjadi kantong-kantong produksi pangan di berbagai daerah di Indonesia. Tentunya kami sangat berharap supaya APBN juga digunakan secepatnya untuk pembangunan fasilitas irigasi primer, sekunder, tersier dan modifikasi aliran sungai yang sering berpotensi menimbulkan banjir yang dapat menggagalkan tanaman pertanian masyarakat petani.
Pada intinya sebagai negara berdaulat, kita tentu harus memiliki broadcasting terhadap resiko atau kombinasi ancaman yang dapat membahayakan ketahanan nasional, khususnya menyangkut elemen dasar rakyat untuk memenuhi kebutuhan pangan.
Pak Ketua dan Ibu Ketua dan Bapak Ibu Anggota Komisi V yang kami hormati.
Dari komposisi anggaran yang dijelaskan dalam outline anggaran BMKG mencapai Rp.20,1 Triliun tahun APBN 2020, sebagian besar alokasi anggaran BMKG bukanlah kegiatan operasional spesifik di bidang meteorologi klimatologi, geofisika dan inscale. Sebagai contoh tercatat alokasi anggaran ya alokasi anggaran untuk SNKG atau bentuk sekolah tinggi dalam rangka upaya peningkatan SDM dengan alokasi anggaran mencapai Rp.310 Miliar Rupiah. Dan alokasi anggaran untuk Biro Umum mencapai Rp.139 Miliar Rupiah. Alokasi anggaran Biro Hukum mencapai Rp.212,6 Miliar dan juga untuk anggaran perencanaan mencapai Rp.125 Miliar dan seterusnya. Sedangkan anggaran untuk PGT hanya menerima alokasi anggaran sebesar Rp.11,9 Miliar saja dan alokasi anggaran untuk inscale hanya sebesar Rp.12,1 Miliar dan seterusnya.
Kita lihat tradisi yang sama di semua kementerian/lembaga yang mendorong alokasi belanja, minimal pada aspek-aspek teknis pelaksanaan yang menjadi wujud tombak Tupoksi program. Namun lagi-lagi injeksi dana sangat besar ke departemen program yang hanya mengurus fungsi-fungsi administrasi.
Kami juga memahami bahwa lembaga besar, lembaga di mana pun berada, juga mempekerjakan tenaga ASN dalam jumlah yang besar, sistem promosi dan teknik yang diberikan kepada para abdi negara. Namun melihat ketidakseimbangan komposisi anggaran negara yang mencapai Rp.2,1 Triliun, khususnya di BMKG kami tentu berharap besar kebaikan negara yang diberikan kepada para aparatur sipil negara. Termasuk para pejabat eselon I, II dan III di kementerian dan lembaga dapat bekerja secara maksimal. Tentunya kami juga merasa miris jika melihat outline rencana anggaran yang disajikan pada tahun 2021 mendatang justru meningkat menjadi Rp.2,8 Triliun. Dan uniknya anggaran ini dijustifikasi juga oleh Kemenkeu dan juga Menteri PPN. Kita semua harus melihat angka-angka anggaran secara realistis dan tentunya mengikuti perkembangan update terbaru tentang keadaan ekonomi nasional dan juga ekonomi global.
Rasa-rasanya ekspektasi pagu indikatif ini juga sama sesatnya dengan penetapan makro ekonomi Indonesia dengan target tertinggi mencapai 5% di tahun 2021. Kami mengingatkan sekali lagi untuk fokus pada pekerjaan utama dalam pelayanan di bidang meteorologi klimatologi geofisika dan inscale. Kami telah melihat komposisi kebutuhan anggarannya yang ternyata jauh lebih kecil dan lebih banyak di belanjakan untuk kepentingan anggaran administrasi dan keperluan saja.
Demikian Pak Ketua yang budiman dan Ibu Ketua dan Bapak Ibu Anggota Komisi V dan juga Mitra, kurang dan lebihnya mohon maaf lahir dan bathin.
Terima kasih.
Shaloom.
KETUA RAPAT/WAKIL KETUA KOMISI V (Ir. RIDWAN BAE/FPG): Terima kasih Pak Willem.
Berikutnya apa masih ada yang virtual yang mau bicara atau saya mulai dari Fraksi masing-masing gitu yang virtual? Sudah tidak ada yang mau bicara dari yang virtual?
F-P.NASDEM (ROBERT ROUW):