ANGGOTA KOMISI V DPR RI: Cukup
F- PD (WILLEM WANDIK, S.Sos.): Baik, terima kasih
Pak Ketua dan Pimpinan dan Bapak Ibu Anggota Komisi V dan juga Menteri PUPR,
Menteri Perhubungan Pak Luhut Binsar Pandjaitan,
Dan juga Menteri Desa PDT dan Transmigrasi yang kami hormati dan kami banggakan.
Alhamdulillaah puji syukur di tengah-tengah pandemi corona ini, kami diberikan rahmat dan perlindungan Tuhan. Sehingga dalam keadaan sehat wal'afiat kita bisa saling menyapa melalui media virtual ini. Dan kami juga menyampaikan rasa duka dan keprihatinan yang paling dalam kepada sejumlah personil mitra kami yang senantiasa ada di garda terdepan dalam rangka penanggulangan pandemi corona ini yang malah mereka telah berpulang mendahulu kami. Kiranya keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberikan kekuatan dan penghiburan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.
Pak Ketua izin sebelumnya kami ingin coba menyampaikan pandangan dulu karena kami pertemuan ini langsung dengan mitra kami para Menteri. Pak Ketua dan para Menteri yang kami hormati dan kami banggakan.
Di mana kita mencermati penanggulangan penyebaran Covid 19 di Indonesia dan seluruh dunia yang masih dalam ketidakpastian. Di mana sendi-sendi perekonomian ikut terpengaruh sangat dalam dan mengakibatkan target penerimaan negara tidak tercapai. Dan fokus prioritas penggunaan anggaran dipaksa beradaptasi dengan pandemi virus yang lebih difokuskan pada aspek penyelamatan nyawa warga negara. Dan juga mempertahankan sirkulasi ekonomi untuk menjamin kebutuhan dasar rakyat terpenuhi.
Oleh karena itu demi tujuan penanggulangan pandemi virus yang mengancam jutaan populasi di Indonesia, maka dibutuhkan penyesuaian pagu APBN 2020 dengan beberapa catatan yang perlu kami sampaikan.
Pertama kepada Kementerian PUPR ada sejumlah item yang sudah disampaikan oleh teman-teman. Dan di sini kami mau menyampaikan pertama terkait seperti apa yang disampaikan oleh teman-teman. Terkait dengan program-program yang bersentuhan langsung kepada rakyat atau pun rakyat.
Tentunya tetap menjadi perhatian kita bersama dan juga terkait dengan mendasarkan Perpres Nomor 54 Tahun 2020 tentang Perubahan Postur dan Rincian APBN 2020 akan dilakukan realokasi 24,53 Triliun Rupiah. Di mana salah satunya untuk pelaksanaan PON dan Asrama Papua, kalau boleh kami mengusulkan pada kesempatan berbahagia ini. Bisa dipikirkan juga untuk kepentingan mahasiswa dan mahasiswi seluruh tanah air yang mana sampai hari ini juga mereka membutuhkan sembako (Sembilan Bahan Pokok). Hari ini banyak mahasiswa yang mengeluh bahkan mereka koordinasi lewat kami untuk menghubungi Pemda Papua. Juga kami masih mengalami kesulitan untuk menyalurkan bantuan sembilan bahan pokok kepada seluruh mahasiswa-mahasiswa Papua yang ada di Sumatera, di Jawa, di Kalimantan dan juga di Sulawesi bahkan ke Maluku.
Dan yang berikut adalah program dan kegiatan prioritas untuk pembangunan Ibu kota baru atau pembangunan jalan tol, pembangunan jalan trans nasional perlu ditinjau kembali untuk ditunda pelaksanaannya pada tahun 2021 depan dengan asumsi wabah corona ini sudah berakhir.
Dan yang berikut untuk Kementerian Perhubungan. Di mana kami di Tanah Papua ini hingga hari ini masih mengalami kesulitan dalam rangka penanggulangan penyebaran virus corona ini. Karena Papua begitu luas dan distribusi bantuan logistik sembako, BBM dan juga APD, masker dan juga tenaga medis dokter, untuk itu untuk memudahkan distribusi tenaga medis dokter dan juga kebutuhan lainnya, ini kami membutuhkan dukungan transportasi.
Oleh karena itu pada kesempatan yang terhormat ini kami ingin minta dukungan kepada Kementerian Perhubungan yang mana kala kita telah mengetahui bersama ada sejumlah alat transportasi sungai atau laut. Berapa unit ada di Jawa Timur Surabaya untuk kepentingan penggunaan penyelenggaraan PON 2020 ini tapi karena akibat dari pada dampak corona ini tentu tertunda. Dan oleh karena itu kami harapkan supaya mungkin 1-2 unit bisa diperbantukan dikirim segera ke Papua untuk membantu teman-teman penyelenggara di Papua dalam rangka penanggulangan pandemi corona ini di Papua.
Dan yang berikut Kementerian Desa. Mengkaji kembali kegiatan yang sifatnya pelatihan dan pendampingan yang mengharuskan mobilisasi masyarakat karena kurang mendukung kebijakan penerapan physical distancing. Sehingga perlu direalokasi untuk kegiatan mendukung
penanganan wabah Covid 19 ini. Dan juga Kementerian Desa betul-betul mengawal pelaksanaan desa tanggap Covid 19 dan pelaksanaan Padat Karya Tunai Desa (PKTD) dengan menggunakan dana desa. Jangan sampai wabah corona selesai justru pengelola dana desa yang menjadi di karantina atau penjara.
KETUA RAPAT/KETUA KOMISI V DPR RI (LASARUS. S.Sos, M.Si/F.PDIP):
Bagaimana Pak Willem cukup? F-PD (WILLEM WANDIK, S.Sos.):
Ya mungkin untuk sementara sekian terima kasih.
KETUA RAPAT/KETUA KOMISI V DPR RI (LASARUS. S.Sos, M.Si/F.PDIP):
Baik terima kasih Pak Willem Wandik, Fraksi Demokrat.
Saya rasa cukup ya? Masih ada yang mau menambahkan dari Anggota?
F-PKS (H. SYAHRUL AIDI MAAZAT, L.C.,M.A.): Saya Ketua, PKS.
KETUA RAPAT/KETUA KOMISI V DPR RI (LASARUS. S.Sos, M.Si/F.PDIP):
PKS Pak Syahrul ya?
F-PKS (H. SYAHRUL AIDI MAAZAT, L.C.,M.A.): Ya Pak Ketua.
KETUA RAPAT/KETUA KOMISI V DPR RI (LASARUS. S.Sos, M.Si/F.PDIP):
Silakan PKS, mudah-mudahan ini terakhir. F-PKS (H. SYAHRUL AIDI MAAZAT, L.C.,M.A.):
Ya terima kasih.
Pimpinan dan Anggota DPR RI Komisi V, Bapak Menteri.
Saya mungkin singkat saja menambahkan apa yang sudah disampaikan dari Fraksi PKS.
Pertama untuk Bapak Menteri PU terkait BSPS Pak Menteri, di dalam Surat Keputusan Pak Menteri, saya baca itu untuk BSPS bedah rumah mensyaratkan satu desa itu minimal 15. Nah kendala di lapangan kadang-kadang kita ini sebagai Anggota Dewan ingin desa ini dapat, desa ini juga dapat. Kalau kita fokuskan 15, 1 desa ini agak berat kadang-kadang desa lain itu menunggu.
Maksud saya bisa kebijakannya supaya tetap ada pendampingan desa itu tidak jauh, itu ada desa berdekatan bisa dilakukan. Jadi angka 15 rumah di satu desa itu bisa di tidak kaku, bisa saja 15 itu atau 20 itu adalah desa yang berdekatan sehingga ada pendampingan. Substansinya ada pendampingan supaya kami juga tidak terbebani secara sosial ya. Karena kalau hanya 1 desa per tahun seperti itu, sementara desa di sebelahnya tidak dapat, ini agak berat juga kami.
Yang kedua adalah juga masalah PISEW ya, PISEW ini kita ada syaratnya juga dari kementerian, 1 kecamatan hanya ada 1 kegiatan PISEW. Nah padahal kadang-kadang di kecamatan itu bisa saja ada kondisi yang sangat darurat yang mesti kita lakukan dengan penyelesaiannya adalah 2 kegiatan PISEW. Ini mohon pertimbangan juga.
Yang ketiga Pak Menteri adalah kegiatan oh ya kembali lagi ke BSPS terkait bangunan yang akan kita buat. Kalau syaratnya saya mendengar orientasinya adalah bukan membantu masyarakat miskin, rumah masyarakat miskin, tetapi membantu masyarakat yang tidak cukup kebutuhannya untuk membuat rumah.
Faktanya di lapangan kalau itu yang kita berlakukan ada masyarakat miskin yang betul-betul rumahnya perlu rehab, kondisi rumahnya memang tidak ada sama sekali. Misal di satu desa di in hill misalnya itu memang semuanya kayu tidak ada beton sama sekali dan kalau kita rehab harus menggunakan harus ada besi tiang beton segala macam tidak akan selesai rumah itu.
Barangkali kita mau rehabnya rehab kayu, karena kondisinya di sana memang tidak mungkin kita dana Rp 17.500.000,- itu untuk mendatangkan rumah yang ada betonnya. Jadi hal-hal seperti ini kebijakan-kebijakannya itu harus juga melihat kondisi-kondisi yang ada di lapangan. Nah ini mungkin masukan.
Kemudian di Kementerian Desa, ini masukan saya apresiasi kepada Pak Menteri yang sudah mengeluarkan beberapa regulasi terkait penanganan Covid 19 ini. Terkait penanganan Covid 19 ini, Bapak Menteri setelah mengeluarkan agar setiap desa membuat Satgas. Alhamdulillaah saya di tempat kami ini berjalan cukup baik. Dan terakhir ada bagaimana dari dana desa ini untuk menangani warga-warga miskin yang terdampak oleh Covid 19 ini yang mereka ini tidak mendapatkan bantuan seperti PKH dan lain-lain.
Jadi ada solusinya melalui Kementerian Desa, cuma dari kriteria miskin yang disampaikan oleh Kementerian Desa ini, saya lihat kalau ini di harus
diikuti oleh desa. Saya yakin tidak semuanya bisa jadi 1 desa itu tidak ada yang seperti ini. Karena di situ saya lihat kriterianya yang warga yang akan mendapat rumahnya harus terbuat dari kayu, tidak boleh dari beton, kemudian lantainya lantai tanah dan segala macamnya.
Nah harusnya kalau dalam konteks kita membantu masyarakat miskin yang tidak masuk dalam data PKH atau data pusat Kementerian Sosial. Kalau kita ingin bantu dalam konteks covid ini, kita tidak lagi mensyaratkan dengan syarat-syarat yang sekarang disampaikan. Kalau syarat itu dijadikan sebagai bahan pertimbangan prioritas, oke. Tetapi kalau syarat itu dijadikan sebagai syarat mutlak untuk bisa menerima BLT dari dana desa itu, saya kira ini akan menjadi bumerang.
Kemudian saya melihat kalau di dalam ketentuan itu dana desa yang Rp 800.000.000,- itu ada 25% dan seterusnya. Ini kemudian yang mendapatkan BLT itu Rp 600.000,- per KK per bulan. Ini perlu juga dipertimbangkan Pak Menteri karena persentasi dari dana desa itu sifatnya hanya 25% sampai 35%, dan itu selama 3 bulan. Sementara warga yang membutuhkan itu sangat banyak. Menurut saya akan lebih baik biarlah sedikit tapi banyak yang mendapatkan, artinya angkanya Rp 300.000,- tetapi banyak yang mendapatkan.
Terus terang ada warga yang rumahnya barangkali beton, tetapi secara ekonomi betul-betul habis dengan kasus Covid ini. Mohon pertimbangannya dengan syarat-syarat dan ketentuan untuk mendapatkan BLT ini disesuaikan dengan kondisinya. Karena kalau syarat-syarat itu harus dipenuhi ini akan berat sekali.
Kemudian yang terakhir yang ingin saya sampaikan kepada Pak Menteri adalah mengenai program padat karya yang diberlakukan di desa. Kemarin masukan dari Anggota Pak Menteri di bawah, ada padat karya non-fisik yang bisa dilakukan yang mereka usulkan.
Ini bagus juga dalam penanganan karena efek dari pada covid ini adalah yang akan berpengaruh besar adalah ekonomi, terutama adalah ketahanan pangan. Harusnya orientasi dari pada program desa juga adalah orientasi penanganan ketahanan pangan. Bagaimana dari dana desa itu bisa digunakan untuk masyarakat bisa menanam pekarangannya, lahan-lahan tidur dan segala macamnya.
KETUA RAPAT/KETUA KOMISI V DPR RI (LASARUS. S.Sos, M.Si/F.PDIP):
Pak Syahrul bisa dipersingkat Pak Syahrul? F-PKS (H. SYAHRUL AIDI MAAZAT, L.C.,M.A.):
Ini dikemas dalam program padat karya non-fisik. Pernah terucap oleh Pak Menteri tetapi belum begitu fokus dan ditangkap oleh desa.
Mudah-mudahan ini lebih difokuskan padat karya non-fisik, jadi berbentuk penanaman dan segala macamnya.
Terima kasih Pak Ketua.
Wassalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh.
KETUA RAPAT/KETUA KOMISI V DPR RI (LASARUS. S.Sos, M.Si/F.PDIP):
Terima kasih Pak Syahrul dari PKS.
Dipersilakan Bu Nurhayati. Bu Nurhayati, ya tadi beliau kontak ingin bicara. Bu Nurhayati silakan.
WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (Hj. NURHAYATI/F-PPP): Ya Pak Lasarus.
KETUA RAPAT/KETUA KOMISI V DPR RI (LASARUS. S.Sos, M.Si/F.PDIP):
Jangan melamun, sudah sore ini.
WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (Hj. NURHAYATI/F-PPP): Ya ngantuk.
Selamat sore. Pak Menteri PUPR,
Pak Luhut dan Menteri PDT,
Dan Kawan-kawan saya sekalian yang saya cintai.
Dan pertama-tama saya ingin menanyakan kepada Pak Menteri PUPR dan Kementerian Perhubungan atas surat kita surat dari Komisi V yang dijawab tidak tepat waktu. Dikarenakan kemarin kita memberikan waktu sampai dengan 8 April, tetapi baru kita terima baru saja hari Senin kemarin jawaban dari Kementerian PUPR dan dari Perhubungan minggu lalu.
Jadi sesuai Tatib DPR Pasal 60 Ayat (1) sampai dengan (4) bahwa itu adalah ada sanksi administrasi sebetulnya untuk tidak menjawab surat dari kami dari DPR pak. Itu mungkin ke depannya kami minta untuk tidak terjadi lagi dan kamipun ingin mendapatkan paparan atau dari Pak Menteri kenapa bisa menjawab sekian telatnya.
Lalu yang kedua Pak Menteri PUPR Pak Basoeki, anggaran yang 1,5 T yang untuk selisih bunga 175 unit rumah. Kita sudah sebelum pembahasan sebelumnya, kita sudah bicara bahwa DPR tidak menyetujui sebetulnya untuk selisih bunga ini. Dikarenakan memang ke depannya beban negara akan
semakin besar, semakin banyak rumah unit yang ditutup oleh negara untuk selisih bunga ini.
Semakin lama pula kita menjadi mempunyai beban yang besar ke depannya. Karena selisih bunga ini akan dibayarkan bukan hanya 1 tahun 2 tahun tetapi seluruh kontrak bisa sampai dengan 30 tahun sampai 20 tahun. Saya minta itu untuk dikaji ulang dan dievaluasi oleh Kementerian PUPR dan bisa digunakan menjadi FLPP, karena sangat berbeda antara FLPP dengan selisih bunga ini.
Dan yang ingin saya tanyakan juga dari 4.000 titik P3TGAI, ini ada tambahan lokasi atau pengurangan justru dari program sebelumnya Pak Menteri? Atau yang lain-lain program-program lainnya itu juga itu yang tadi Pak Menteri paparkan, itu adalah penambahan titik lokasi. Dikarenakan ada Covid 19 atau justru itu jumlah yang sekarang akan dilaksanakan adanya realokasi terhadap yang lalu pembahasan dengan kita yang lalu pak. Mungkin itu yang ingin kami tanyakan karena akan berdampak terhadap program-program kami di Dapil apabila itu ada pengurangan. Dan banyak sekali Dapil-dapil kami semua Anggota Komisi V yang juga adalah merupakan zona merah pak yang sampai saat ini belum mampu untuk menangani Covid 19 ini.
Lalu yang untuk Kementerian Perhubungan, kami apresiasi atas Keputusan Presiden untuk melarang mudik. Dikarenakan kita ketahui bahwa kesiapan daerah pun sangat minim atas untuk penanganan Covid 19 ini. Kita ketahui banyak daerah yang memang sangat kekurangan anggaran, baik itu juga dari tenaga medis maupun alat-alat medis, ruang isolasi dan lain-lain. Sehingga daerah-daerah pun belum menyiapkan SOP atau Juknis untuk mengawasi para ODP di kampung-kampung yang memang sekarang kemarin-kemarin sudah dibuat oleh pemerintah bahwa Juknis-nya adalah harus menjadi ODP di daerah. Dan kami sangat mendukung keputusan melarang mudik ini, hanya harus dijelaskan bagaimana nanti sanksinya apabila ada orang yang tetap mudik dan itupun harus segera diberlakukan.
Dan kami juga menghimbau bahwa pemberlakuan PSBB di Jabodetabek untuk bisa berhenti di waktu yang bersamaan walaupun memang Pemda meminta PSBB ini tidak bersamaan. Tetapi sesuai dengan PMK Nomor 9 Tahun 2020 bahwa gugus tugas bisa menentukan jangka waktu dari suatu wilayah kapan bisa berakhir atau tidaknya begitu. Jadi kami meminta semua Jabodetabek itu diberlakukan PSBB di waktu yang bersamaan dan juga berhenti di waktu yang bersamaan. Karena Jakarta dan sekitarnya tidak bisa dipisahkan begitu.
Dan saya juga akan menanyakan bahwa apakah KRL akan dihentikan? Karena banyak permintaan dari daerah bahwa KRL itu adalah salah satu penyebaran Covid 19. Ini yang sekarang ini banyak di daerah-daerah Jabodetabek gitu, tetapi apabila ini dihentikan bagaimana dengan industri atau kantor-kantor yang sekarang memang masih buka sesuai dengan kegiatan yang diperbolehkan oleh PSBB. Apakah akan juga diatur untuk segera ditutup tidak boleh beroperasi atau seperti apa? Karena dengan
adanya larangan mudik ini, pastinya transportasi umum keluar dan masuk Jabodetabek harus sudah dikurangi ataupun sudah dihentikan gitu Pak Luhut. Dan yang untuk Kementerian PDT, saya melihat bahwa ada BLT dana desa. Saya juga ingin banyak sekali masukan dari Kepala Desa apabila ditentukan Rp 600.000,- per kepala keluarga selama 3 bulan dari dana desa yang tersedia, itu mereka keberatan. Dikarenakan apa, tidak bisa semua KK miskin itu diberikan. Jadi Kepala Desa harus memilih mana yang bisa diberikan.
Apabila di satu desa ada 900 kepala keluarga yang miskin, yang harus diberikan bantuan, Kepala Desa mungkin hanya bisa memberikan 300 KK saja. Nah itu sangat keberatan Kepala Desa ini kalau mereka harus memilih siapa yang harus diberi santunan terlebih dahulu. Karena di desa memang berbeda dengan kita mungkin di sini. Karena mereka sedang memerlukan bantuan tersebut sehingga merekapun pasti akan merasa, mereka harus dibantu terlebih dahulu begitu. Dan itu juga mungkin harus ada kajian ulang mengenai angkanya yang ditentukan Rp 600.000,- itu dikarenakan dana desa tidak bisa juga memberikan secara keseluruhan.
Memang kita tahu ada 9 pintu bantuan untuk BLT ini atau sekarang dalam penanganan Covid 19 ini, tetapi salah satu di desa itu adalah mereka berharap dengan dana desa. Mungkin itu yang bisa dikaji ulang oleh Kementerian PDT. Dan kami pun ingin menanyakan program-program padat karya tunai ini yang diadakan oleh Kementerian Desa. Apakah ini tumpang tindih dengan program-program yang sama dengan PUPR atau tidak begitu? Dan kami pun ingin juga bagaimana pengajuannya untuk Komisi V-Komisi V ini apabila kita juga ingin padat karya tunai ini berada di Dapil-dapil kami gitu.
Mungkin sekian dari saya, saya memberikan apresiasi kepada pemerintah atas penanganan Covid 19 ini. Semoga kita semua dilindungi Allah SWT dan wabah virus corona ini segera berakhir dari Indonesia.
Sekian Pak Lasarus, terima kasih.
KETUA RAPAT/KETUA KOMISI V DPR RI (LASARUS. S.Sos, M.Si/F.PDIP):
Terima kasih Bu Nurhayati.
Teman-teman sekalian, saya menambahkan sedikit sebelum ke jawaban dari kementerian.
Pertama tentu kita mengapresiasi Pak Menteri PUPR dalam menyikapi pemotongan anggaran, namun di satu sisi tetap bisa melaksanakan seluruh kegiatan yang tadi disampaikan kepada kita dengan berbagai strategi menjadikan single year menjadi multi years dan seterusnya. Dan kemudian juga menambah kegiatan-kegiatan yang berdampak langsung kepada ketahanan ekonomi masyarakat. Ini kita dukung penuh Pak Menteri dan kami
harapkan nanti dalam pelaksanaan semua ini, kita terus berkomunikasi dan koordinasi dengan Pimpinan dan Anggota Komisi V.
Kemudian kepada Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, tadi semua sudah ditegaskan. Dan saya untuk mempertegas kembali untuk terkait dengan bantuan-bantuan tunai dan seterusnya. Hendaknya terkait dengan data jangan sampai nanti tumpang tindih dengan Kementerian Sosial. Ini kami mengingatkan betul supaya kebijakan yang diambil langkah-langkah yang diambil betul-betul tepat sasaran dan nantinya betul-betul sampai kepada yang kita tuju.
Data yang dobel tentu tidak baik, karena itu akan memungkinkan orang yang harusnya menerima bantuan akhirnya tidak menerima bantuan. Karena kekurangan kemampuan kita, tapi kekurangan kemampuan kita adalah akibat dari salahnya dalam pengambilan langkah-langkah kita dalam menyikapi kondisi di lapangan. Ini semua sudah disampaikan.
Kemudian untuk Menteri Perhubungan, kami dari Komisi V mengamati perkembangan. Karena memang terkait dengan penyebaran Covid 19 ini, suka tidak mau tidak mau memang Kementerian Perhubungan itu menjadi bagian penting dari mata rantai perkembangan. Apakah suspect kita ini menurun atau naik? Bagaimana pun biaya yang paling murah adalah bagaimana kita untuk bisa mengerem supaya mata rantai penyebaran Covid ini bisa kita putus.
Dari berbagai pakar mengatakan memang satu-satunya cara adalah bagaimana membatasi pergerakkan orang dan seterusnya untuk kiranya supaya penyebaran ini bisa kita atasi. Kalau tidak, saya rasa kita akan menanggung beban yang lebih besar. Kita akan mengeluarkan biaya yang lebih besar dengan taruhan yang paling mahal adalah banyaknya jatuh korban, ini taruhannya. Oleh karenanya kami dari Komisi V Pak Luhut mendukung sepenuhnya langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah. Terutama yang memang dengan jelas dan tegas akan memutus mata rantai penyebaran Covid 19. Ini Kementerian Perhubungan sangat berperan dalam hal ini.
Kami banyak ditanya oleh media terkait dengan tidak dibatasinya KRL, kemudian belum adanya larangan mudik dan seterusnya. Per hari ini sebetulnya yang mudik sudah cukup banyak. Sampai dengan Presiden mengeluarkan aturan jangan mudik. Karena memang kita sudah meliburkan banyak orang beberapa waktu yang lalu. Dan itu saya rasa ketika sudah tidak ada pekerjaan dan seterusnya adalah kampung halaman yang dituju dan ini sudah berjalan sebetulnya. Sekarang adalah bagaimana kita meminimalisir apa yang bisa kita buat untuk kiranya bagaimana Covid 19 ini tidak semakin menyebar luas di Republik Indonesia tercinta ini.
Demikian sebelum kepada kesimpulan, kami beri kesempatan dulu kepada kementerian untuk menyampaikan secara singkat jawaban. Karena memang kita sepertinya hari ini teman-teman sekalian dan Pak Menteri PU. Kemudian Menteri Perhubungan ad interim dan Menteri Desa Pembangunan
Daerah Tertinggal dan Transmigrasi tidak bisa kita putuskan semua hari ini. Pertama karena memang realokasi dan refocusing anggaran ini harus disampaikan dulu kepada Komisi V, baru nanti kita akan setujui. Kita akan beri kesempatan dulu kepada Kementerian untuk melakukan perbaikan-perbaikan berdasarkan masukan dan saran dari teman-teman dan Pimpinan Komisi V DPR RI.
Untuk mempersingkat waktu, saya persilakan dijawab secara singkat