• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDIP (ITET TRIDJAJATI SUMARIJANTO, M.B.A.): Pak, izin interupsi sedikit

Dalam dokumen : Menteri Negara PP & PA dan Kepala BNPB (Halaman 40-46)

(RAPAT DISKORS PUKUL 13.12 WIB) KETUA RAPAT:

F- PDIP (ITET TRIDJAJATI SUMARIJANTO, M.B.A.): Pak, izin interupsi sedikit

Kalau kasus-kasus seperti itu kasus ya Pak. Tapi apakah tidak ada pengawasan sampai terjadi demikian.

Terima kasih. KETUA RAPAT:

41 F-PDIP (ITET TRIDJAJATI SUMARIJANTO, M.B.A.):

Soal yang bannya diganti, kemudian ini bagaimana. KEPALA BNPB:

Apalah daya awak ini mengawasi se-Indonesia ini. Itukan ada irjenprov, ada Irwilprow, kalau semuanya dari kami berat lah Bu. Beratlah itu, susah pengawasan seperti itu. Artinya seharusnya pak bupati atau pak gubernur yang diberikan itu juga harus memanfaatkan perangkat-perangkat di situ. Ini kita bicara jangan yang itu, kenyataannya seperti itu.

Yang kedua, logistik itu mempunyai masa kadaluarsa. Jadi kalau kita berikan ke daerah-daerah, lalu kadaluarsa, itu terjadi di Jatim. Mohon maaf ini Jatim daerah saya pun bisa begitu. Di Jatim itu termasuk dapil sana, daerah Banyuwangi waktu itu, itu kejadian ternyata sudah kadaluarsa. Padahal sudah dikasih tahu. Sebelum kadaluarsa tolong dipakai latihan. Jadi makanan-makanan entah itu supermie, atau makanan siap saji kalengan itu kan ada expired datenya, itu kita bilang menjelang kadaluarsa orang bikin latihan. Latihan mereka sendiri saja, makan saja itu tidak apa. Tapi tetap saja begitu pas bencana dikasihkan, stempelnya BNPB. Masuk koran bahwa BNPB kasih makanan kadaluarsa. Ini juga kita hati-hati sekali Pak.

Yang ketiga, logistik di simpan di gudang provinsi yang mana provinsi tidak punya dana yang cukup untuk mendorong ke daerah. Ini terutama ke daerah-daerah Ibu Prof kita ini di Papua. Itu dari satu tempat ke tempat lain untuk mendorongnya itu tidak kuat. Ini berarti saya minta dukungan. Apakah dorongan ini harus kami dorong dari Jakarta sampai ke kabupaten itu atau bagaimana atau kita tetap ada hirarki. Kalau selama ini kami ke provinsi. Kalau Ibu/Bapak mengatakan dorong saja Pak sampai kabupaten, ok berarti uang untuk itu harus kita tambahkan hanya untuk dorong saja. Dan itu apakah baik atau tidak nanti kita lihat. Kalau untuk daerah oklah tidak usah kita sampaikan.

Kemudian yang berikutnya adalah ini Pak pergantian pejabat, itu 1 tahun bisa 4 kali. Ini juga menyebabkan pengetahuan tentang ini juga berpengaruh. Sehingga faktor-faktor ini akan, dan tentang monitoring memang sudah ada. Jadi selalu kalau kami ada ke sana gantian kita nitip, diberi satu datang, dititipi, begitu juga dengan yang lain. Tapi terima kasih Ibu Itet.

Pak Samsu Niang terima kasih. Kemudian untuk Ibu Endang Srikarti Handayani, helikopter waduh belum terpikir Bu. Kalau helikopter itu, Ibu pernah naik helikopter atau belum? Belum ya? Nanti sekali-sekali lah kita naik helikopter itu. Sudah? Oh nanti ya, supaya adrenalinnya bisa dirasakanlah. Apalagi kalau bawa helikopter ke Papua. Sementara ini kami belum memikirkan itu Bu, alasannya karena kami bisa memanfaatkan TNI yang dia sudah standby beberapa helikopter di beberapa provinsi. Tetapi kami tidak mengurangi jam terbang mereka, kita beli jam terbangnya. Jadi jam terbang itukan berarti satu kali jam terbang untuk pesawat 3.000 USD, kalau yang helikopter berapa itu kita beli. Dan itu diizinkan karena kami sudah punya MoU dengan TNI. Jadi sementara ini kami masih ke sana. Tapi untuk helikopter pemadam kebakaran kita belum punya ahlinya Bu. Jadi terpaksa ini kita sewa ke luar negeri terus. Saya sudah menyampaikan ke TNI bisa tidak dilatih dimana, nampaknya belum ada pelatihan untuk ini. Karena membawa air sampai 5 ton itu membawa helikopter itu memang diperlukan kemahiran sendiri. Belum lagi dia di atas api yang sangat luas ya Bu. Jadi selama ini memang betul Ibu Endang sangat kritis untuk itu. Seandainya ada helikopter, pilotnya belum ada. Jadi helikopter ini bukan sekedar untuk mengirim logistic tetapi juga untuk pemadam kebakaran. Cuma itu diperlukan kemampuan yang khusus.

Kemudian untuk data-data longsor dan seterusnya. Alhamdulillah tiap hari kami… F-PG (Hj. ENDANG MARIA ASTUTI, S.Ag., S.Sg., M.H.):

42 Apakah kebakaran juga tercover BNPB ya?

Terima kasih. KEPALA BNPB:

Jadi kebakaran hutannya sendiri itu urusannya kehutanan dan pertanian. Tetapi kalau presiden mengatakan itu sebagai bencana asap, his problem, maka itu bisa diserahkan kepada kami tapi atas perintah Bapak Presiden. Itulah yang kami sering koordinasi dengan kehutanan. Jangan akhir-akhir baru diserahkan ke kami. Karena sewa pesawatnya saja Bu itu bisa antri sampai 6 bulan. Karena di dunia ini pesawat untuk pemadam kebakaran tidak terlalu banyak.

WAKIL KETUA (DR. H. DEDING ISHAK, S.H., M.M./ F-PG): Maaf Pak, melalui Pak Ketua.

Kalau Riau ini bagaimana kategorinya? KEPALA BNPB:

Riau yang sekarang ada 30 hot spot, yang mana Pak yang sekarang atau yang dulu? Kalau yang dulu masuk ke kami Pak. Jadi kami dana on call untuk itu karena sudah menjadi persoalan diplomasi Pak karena Singapura sudah mulai teriak-teriak sehingga mengamankan itu, kami harus bergerak cepat dan kami mengamankan lebih dari 3.500 pasukan dari Jakarta. Mengapa harus dari Jakarta? Ya supaya tidak terkontaminasi juga orangnya.

Pak Hasan Aminuddin, ok jadi beliau mengharapkan agar Komisi VIII, kita kan namanya mitra ya Pak. Ya mitra ditambah sejati Pak. Jadi mitra sejati itu, jadi kalau kebencanaan kita bisa sama-sama, tidak hanya mitra tapi mitra sejati.

Kemudian Pak Agus Susanto, jadi RKAKL yang lama ini cuma yang 118 M tadi yang berpindah tadi itu memang belum ada, tetapi setidak-tidaknya kami sudah melaporkan bahwa itu masuk ke program-program yang sudah disepakati sebelumnya. Kami tidak menambah program. Ibaratnya tadi kami menanak telur 10 biji sekarang saya tambahi 3 biji, waktunya sama. Hanya itu tadi, kalau telur 10 biji 20 menit, tambah 10 ya tetap 20 menit. Hanya itu saja, saya tidak menambah, tiba-tiba saya akan merebus singkong, tidak. Tetap telur itu. Jadi Pak Agus Susanto tidak ada, mohon disampaikan kalau memang beliau memerlukan informasi lebih lanjut.

Ibu Saras tidak tanya pada saya. Sudah mahfum saya kira. Kalau tanya pada saya lebih nangis lagi. Ibu tahu orang-orang yang kena bencana itu adalah pola kelompok rentan. Perempuan hamil, anak-anak, orang tua. Tetapi itu juga harus dilakukan dengan cara yang Indonesia, Indonesia ways. Kalau menurut PBB orang tua harus dipisahkan, di sini dipisahkan mati dia. Karena dia ingin dipijat oleh cucu, jadi cara kami adalah cara Indonesia. Yang kami juga ingin mendapat masukan-masukan.

Pak Ahmad Mustakim, jadi apakah kepala badan itu setingkat menteri atau tidak. Bagi kami enaknya itu tidak setingkat menteri, kalau setingkat menteri nanti kita rapat terus Pak. Sidang-sidang kabinet saya rapat, harus hadir kan. Kalau badan ini ya ada bencana kita harus berangkat, tidak usah menunggu. Soalnya kalau kita harus sudah sampai di Riau, ke Aceh, tahu-tahu ada rapat kementerian wah itu berat juga. Saya kira asal didukung Komisi VIII, badan pun itu cukup power full. Bagaimana caranya, kami pernah di sini rapat bersama Menteri Keuangan. Jadi yang setelah rapat ini saya disuarakan oleh Ibu/Bapak sekalian, diketok oleh Menteri Keuangan di sini, berarti saya yang mendapat untung. Itukan namanya mitra sejati itu ya kan.

43 Anggaran yang tadi saya lihat tidak ada yang mempersoalkan apakah 2,5 atau 1,5 jadi saya anggap itu kita lanjut saja ya Pak. 2,5 untuk on call, 1,5 untuk rehab rekon. Bila ada bencana yang besar tentu saja melalui Komisi VIII juga kami minta agar rehab rekonnya dibesarkan, ditambahkan.

Pak Ahmad Fauzan, ok tadi sudah. Kemudian Pak H. Anda, yang 26 M itu nanti akan kami masukan ke program logistik yang dapat hadiah atau reward dari Menteri Keuangan tadi itu jumlahnya masuk tidak? Sudah masuk sini? Dana cadangan setuju.

Yang terakhir Pak Sodik, untuk sosialisasi mitigasi, film-film dan seterusnya saya kemarin saya salah Pak. Kami menyampaikan pada Bapak bahwa 2 hari lalu ada pemutaran film yang judulnya nyanyian musim hujan. Memang bencana itu agak puitis kadang-kadang Pak. Badai besar begitu namanya Catherina, persoalan kekeringan El Nino Lanina, jadi agak dibikin begitu sepertinya. Saya ingat waktu saya di Timtim dulu juga begitu, jelas perang seperti itu timnya namanya tim susi, tim umi, tim tuti, jadi gaya-gaya tidak tahu itu. Semakin kritis seseorang atau semakin keras pekerjaan itu semakin romantis orang itu, contohnya saya. Jadi ada film yang dulu adalah kabar dari samudera, pesan dari semua tahun lalu Pak, tahun sekarang adalah nyanyian musim hujan. Padahal banjir begitu katanya nyanyian. Jadi kami kerja sama dengan teman-teman sineas Riri Riza, saya kira Bapak kenal, saya malah belum kenal. Kemudian untuk buku-buku itu kami juga kerja sama dengan Kemendikbud Pak. Tapi kami sendiri terima kasih atas peringatan Bapak ini nanti kami akan wujudkan dalam film-film animasi. Paling tidak di youtube.

Saya kira cukup Pak. Terima kasih. KETUA RAPAT:

Saya kira sudah dijawab semua. Karena ini kita masih ada rapat seharusnya mulai pukul 14 tadi dengan Menteri Sosial, ini sudah lebih dari 40 menit. Saya kira kalau tidak ada lagi ini kita masuk kepada draf kesimpulan rapat, karena kita juga dikejar oleh waktu. Saya mohon Sekretariat untuk menampilkan dan membagikan draf kesimpulan rapat.

F-P. GERINDRA (RAHAYU SARASWATI DHIRAKARYA DJOJOHADIKUSUMO): Maaf Pimpinan, selagi menunggu.

Ini tadi kan ditanya kenapa saya tidak menanyakan. Bukan saya tidak peduli dengan BNPB Pak karena ada Panja nanti bisa panjang lebar dalam semuanya kita bahaslah Pak.

KETUA RAPAT:

Jadi mungkin termasuk soal regulasi tadi Pak Kepala. Tadi kan Bapak Kepala bicara soal regulasi. Mungkin kawan-kawan di Panja nanti bisa membicarakan soal hal-hal lain. Jadi kami minta masukan dari eksekutif ya terkait hal itu. Nanti mudah-mudahan dalam waktu dekat kita bisa memperbaiki. Karena memang undang-undang itu kalau sudah beberapa tahun dipakai itu sudah harus diperbaiki karena tantangan bencana kan dari waktu ke waktu berubah. Apalagi kalau intensitas bencana kan makin tahun makin banyak, tentu itu harus disesuaikan dengan itu. Saya kira itu Pak.

Silakan Pak. KEPALA BNPB:

Untuk Ibu Saras dan juga Ibu-ibu Panja yang lain, kalau bisa saya juga bicara sebagai Kepala BNPB tapi saya juga bisa seperti RDPU. Karena saya juga bagian dari anggota ahli kebencanaan Indonesia. Kalau diizinkan, jadi saya tidak hanya bicara formal saja, bahkan saya bisa bicara beberapa

44 pendekatan teoritis, sekaligus juga tuntutan global tentang kebencanaan ini dari sisi-sisi yang kami punya.

Terima kasih. KETUA RAPAT:

Prof. Syamsu Ma‟arif inikan profesor ya jadi sudah ahli di situ. Dan yang paling penting sebetulnya dari situ adalah pengalaman. Saya tidak tahu ini sampai, kita kan berharap Pak Syamsul ini

InSya Allah akan tetap jadi Kepala Badan sampai pada periode ini. Tapi andaikata tidak kan harus

meninggalkan legacy, meninggalkan warisan yang bagus supaya nanti bisa dilanjutkan oleh siapa pun yang duduk disitu dan tidak jauh berbeda kebijakannya. Jadi mudah-mudahan itu bisa didukung. Kalau Ibu Menteri Pemberdayan Perempuan ini kelihatannya sudah pasrah saja kelihatannya Bu ya, tinggal nanti bagaimana kita usulkan untuk perubahan peraturan undang-undang tadi itu. Jadi mudah-mudahan ada secercah harapan lah untuk Ibu dari Ibu Sarah tadi. Ibu Sarah ini harus bicara dengan fraksi, Bu. Jadi jangan dimarah-marahi Ibu Menterinya, beliau itu sebetulnya tidak anu juga jadi. F-P.GERINDRA (RAHAYU SARASWATI DJOJOHADIKUSUMO):

Maaf Pimpinan,

Tadi saya sudah jelaskan, saya tidak marah-marah sama Bu Menteri pun tidak, cuma kita sama-sama frustasi sebenarnya itu, sama sebenarnya kita.

KETUA RAPAT :

Yang boleh marah-marah disini Ibu Endang Srikarti Handayani, kalau yang lain ya saya kira tidak perlu ya. Ibu Endang ini kalau sudah senyum ke saya itu tapi kalau dia itu begini yang terhormat Bapak Kepala Badan, yang saya cintai Ibu Menteri tapi kalau ke Pimpinan ga pernah itu. Jadi agak lucu juga begitu. Kalau dengan Pimpinan Sidang, Pimpinan Sidang saya mau nah gitu. Nanti ngomong sama Kapoksinya Bu ya supaya jangan berkepanjangan cerita kita ini.

Saya langsung saja karena waktunya sudah mepet, ini ya yang terakhir ini. Yang terakhir mana?

Baik, izinkan saya membacakan draft kesimpulan rapat Komisi VIII DPR RI dengan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia serta Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana masa persidangan II tahun sidang 2014/2015, Selasa 10 Februari 2015. Dalam Rapat Kerja Komisi VIII DPR RI dengan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia serta Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana yang agendanya adalah pembahasan alokasi APBN-P tahun 2015, hasil pembahasan anggaran dari Badan Anggaran DPR RI dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Komisi VIII DPR RI menerima penjelasan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia atas pagu anggaran tahun 2015 sebesar Rp217.719.899.000,- yang dialokasikan untuk :

a. Program manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya sebesar Rp92.360.499.000,- b. Program kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan sebesar Rp67.466.600.000,- c. Program perlindungan anak sebesar Rp57.885.800.000,-

Dari total anggaran tersebut diatas dialokasikan untuk dana dekonsentrasi sebesar Rp20 milyar yang akan diberikan kepada 28 provinsi. Adapun dana dekonsentrasi tersebut dialokasikan untuk

45 a. Dana dekon program kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan sebesar Rp10

milyar.

b. Dana dekon program perlindungan anak sebesar Rp10 milyar.

Selanjutnya dalam menentukan persebaran program dan alokasi anggaran untuk dana dekonsentrasi tersebut dilakukank dengan mengakomodasi dan memperhatikan aspirasi daerah.

2. Komisi VIII DPR RI menerima penjelasan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana pagu anggaran tahun 2015, pagu awal adalah sebesar Rp1.681.581.850.000,- yang dialokasikan

a. Program pendukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya sebesar Rp210.353.950.000,-

b. Program peningkatan sarana dan prasarana aparatur BNPB sebesar Rp423.497.700.000,- c. Program pengawasan dan peningkatan akuntabilitas aparatur BNPB sebesar

Rp21.475.000.000,-

d. Program penanggulangan bencana sebesar Rp1.026.255.200.000,-

Selain itu Komisi VIII DPR RI juga menerima dan menyetujui self blocking terhadap biaya perjalanan dinas sebesar Rp118 milyar sehingga dipa tahun anggaran 2015 menjadi Rp1.681.581.880.000,-

Selanjutnya dalam menentukan persebaran program dan alokasi anggaran untuk dana dekonsentrasi tersebut diatas, dilakukan dengan mengakomodasi serta memperhatikan aspirasi daerah.

3. Dalam rangka meningkatkan kinerja BNPB tahun 2015 maka Komisi VIII DPR RI dapat memahami dan hendak memperjuangkan usulan tambahan anggaran tahun 2015 yang meliputi :

a. Usulan alokasi dana tunjangan kinerja BNPB tahun anggaran 2015 sebesar Rp21,23 milyar.

b. Usulan perubahan komposisi dana cadangan penanggulangan bencana sebesar Rp4 triliun yang telah tersedia di Kementerian Keuangan RI dengan rincian :

1) Rp2.500.000.000.000,- sebagai dana siap pakai sampai dengan akhir tahun 2015. 2) Rp1.500.000.000.000,- sebagai dana bantuan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca

bencana.

Selanjutnya Komisi VIII DPR RI meminta kepada Kepala BNBP untuk secepatnya menyampaikan rincian usulan anggaran tersebut.

Nah, ini draft dan kesimpulan rapat kita. Saya mohon tanggapan dari kawan-kawan Komisi VIII sebelum kita meminta tanggapan dari Ibu Menteri dan Kepala Badan. Apa sudah dianggap cukup? F-PAN (DRS. H. KUSWIYANTO, M.Si):

Yang nomor 2 mungkin itu pagu awal itu, angka-angka yang ditampilkan itu pagu awal. Kalau pagu akhir sesuai tadi dengan disampaikan semula memang kan 210 itu kan menjadi 186. Kemudian yang 423 itu kan tetap, kemudian yang C itu dari 21.475 itu menjadi 12. Kemudian yang berikutnya yang D itu dari 1 triliun 26 menjadi 1.058 itu pagu awal yang ditampilkan.

KETUA RAPAT :

46 F-PAN (DRS. H. KUSWIYANTO, M.Si):

Yang benar pagu akhir sesuai dengan buku halaman 4 itu mestinya. Dari 210 menjadi 186.991.374 yang 423 tetap. Kemudian yang 21 itu menjadi12.508.677 kemudian yang D dari 168 menjadi 1058. Kenapa tidak langsung saja, itu kan pagu akhir? Kalau pagu awal kan disepakati ketika diajukan oleh Pak SBY.

KETUA RAPAT :

Dalam dokumen : Menteri Negara PP & PA dan Kepala BNPB (Halaman 40-46)

Dokumen terkait