BAB II KAJIAN TEORI
A. Landasan Teori
4. Pedagang Kaki Lima (PKL)
a. Definisi Pedagang Kaki Lima (PKL)
Pedagang Kaki Lima atau yang sering disebut PKL adalah orang atau badan yang dalam usahanya menggunakan sarana dan prasarana atau perlengkapan yang mudah dibongkar pasang dan bisa dipindahkan (Peraturan daerah Kabupaten Tanah Datar Nomor 4 Tahun 2010 tentang Ketentraman dan Ketertiban Umum Pasal 1 angka 14).
Pedagang Kaki Lima adalah pedagang atau orang yang melakukan kegiatan atau usaha kecil tanpa didasari atas ijin dan menempati pinggiran jalan (trotoar) untuk menggelar dagangan. Menurut Sidharta (2002), ”Pedagang Kaki Lima (PKL) adalah pedagang informal yang menempati kaki lima (trotoar/pedestrian) yang keberadaannya tidak boleh mengganggu fungsi publik, baik ditinjau dari aspek sosial, fisik, visual, lingkungan dan pariwisata” (Nur Fatnawati 2013:14).
Sedangkan Kartini Kartono, mendefinisikan Pedagang Kaki Lima (PKL) sebagai berikut:
1) Pada umumnya dapat dikatakan bahwa Pedagang Kaki Lima (PKL) berkecimpung dalam usaha yang disebut sektor informal.
2) Perkataan kaki lima memberi pengertian bahwa mereka pada umunya menjual barang-barang dagangan pada gelaran tikar di pinggiran jalan atau di muka pertokoan yang dianggap strategis.
3) Para pedagang kaki lima pada umumnya memperdagangkan makanan, minuman dan barang konsumsi lain yang dijual secara eceran.
4) Para pedagang kaki lima pada umumnya bermodal kecil bahkan ada yang hanya merupakan alat bagi pemilik modal dengan mendapat komisi.Pada umunya kuantitas barang yang diperdagangkan oleh para pedagang kaki lima relatif rendah.Kualitas barang dagangan para pedagang kaki lima relatif tidak seberapa.
5) Kasus di mana pedagang kaki lima berhasil secara ekonomis sehingga akhirnya dapat menaiki tangga dalam jenjang pedagang yang sukses agak langka.
6) Pada umumnya usaha para pedagang kaki lima merupakan usaha yang melibatkan struktur anggota keluarga.
7) Tawar-menawar antara penjual dan pembeli merupakan ciri khas dalam usahapedagang kaki lima.
8) pedagang kaki lima yang melaksanakan usaha secara musiman dan sering terlihat jenis barang dagangan juga berganti-ganti. 9) Mengingat sektor kepentingan maka pertentangan kelompok
pedagang kaki lima (PKL) merupakan kelompok yang sulit dapat bersatu dalam bidang ekonomi walaupun perasaan setia kawan cukup kuat diantara mereka (Afdi Fadlan Hifdillah 2010:24).
Latar belakang seseorang menjadi Pedagang Kaki Lima (PKL) menurut Alisjahbana adalah karena:
1) Terpaksa terpaksa karena tidak ada pekerjaan lain, terpaksa karena tidak mendapatkan pekerjaan di sektor formal, terpaksa
harus mencukup kebutuhan hidup diri dan keluarganya, terpaksa karena tidak mempunyai tempat yang layak untuk membuka usaha, dan terpaksa karena tidak mempunyai bekal pendidikan dan modal yang cukup untuk membuka usaha formal
2) Ingin mencari rejeki yang halal daripada harus menadahkan tangan, merampok atau berbuat kriminal lain
3) Ingin mandiri dan tidak bergantung pada orang lain, termasuk tidak bergantung pada orang tua
4) Ingin menghidupi keluarga, memperbaiki taraf hidup, bukan hanya sekadar pekerjaan sambilan
5) Karena di desa sudah sulit mencari penghasilan(Risman Taufiq Saragih hal.40)
b. Ciri-ciri Pedagang Kaki Lima (PKL)
Pedagang Kaki Lima (PKL) memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1) Kelompok ini merupakan pedagang yang terkadang juga menjadi produsen sekaligus, misalnya pedagang makanan dan minuman yang dimasak sendiri.
2) Perkataan Pedagang Kaki Lima memberikan konotasi bahwa mereka umumnya menjajakan barang-barang dagangannya pada gelaran tikar atau pinggir-pinggir jalan, atau di muka toko yang dianggap strategis.
3) Pedagang Kaki Lima biasanya menjual barang eceran.
4) Pedagang Kaki Lima umumnya bermodal kecil bahkan tidak jarang mereka merupakan alat bagi pemilik modal dengan mendapatkan sekedar komisi sebagai imbalan jerih payah.
5) Pada umumnya Pedagang Kaki Lima merupakan kelompok marginal bahkan ada pula yang tergolong kelompok submarginal.
6) Pada umumnya kualitas barang yang diperdagangkan oleh Pedagang Kaki Lima mengkhususkan diri dalam penjualan barang-barang cacat sedikit dengan harga yang lebih murah.
7) Omset penjualan Pedagang Kaki Lima ini umumnya tidak besar. Para pembeli umumnya merupakan pembeli yang berdaya beli rendah.
8) Kasus dimana Pedagang Kaki Lima berhasil secara ekonomis sehingga dapat menaiki tangga dalam jenjang hirarki pedagang sukses agak langka atau jarang terjadi.
9) Barang yang ditawarkan Pedagang Kaki Lima biasanya tidak standar.(Nur Fatnawati 2013:21)
c. Faktor Yang Mempengaruhi Implementasi Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima (PKL)
Ada empat faktor yang selalu mempengaruhi proses implementasi kebijakan, yaitu struktur birokrasi, sumber daya, komunikasi, dan sikap pelaksana. Hal ini mengingat pertama model tersebut dianggap mempunyai kesesuaian untuk diterapkan pada pelaksanaan kebijaksanaan dinegara-negara sedang berkembang.Kedua variabel-variabel yang terdapat didalamnya memiliki daya explanatory power yang cukup tinggi terhadap proses implementasi. Ketiga model tersebut variabel-varibelnya merupakan critical variables yang mudah dioperasionalkan dalam penelitian empiris dan karena teori ini yang paling cocok digunakan dalam penelitian tentang implementasi kebijakan, dan memang terlihat sering mempengaruhi proses implementasi. (Dicky Rahadian Trisnanto 2015:5)
d. Ketentraman dan Ketertiban Umum
Istilah ketertiban umum menurut Kollewijn memiliki sejumlah variasi pengertian. Pertama, ketertiban umum dalam hukum perikatan merupakan batasan dari asas kebebasan berkontrak. Kedua, sebagai unsur pokok dalam ketertiban dan kesejahteraan, keamanan (rust en
veiligheid). Ketiga, sebagai pasangan dari kesusilaan yang baik (goede zeden). Keempat, sebagai sinonim dari ketertiban hukum (rechtsorde), kelima, keadilan. Keenam, sebagai pengertian dalam hukum acara pidana untuk jalannya peradilan yang adil, dan terakhir kewajiban hakim untuk mempergunakan pasal-pasal dari perundang-undangan tertentu (Victor Imanuel W. Nalle. 2016:387).
Hukum sebagai norma merupakan petunjuk untuk kehidupan. Hukum menunjukan mana yang baik dan mana yang buruk. Hukum juga memberi petunjuk apa yang harus diperbuat dan mana yang tidak boleh, sehingga segala sesuatunya dapat berjalan tertib dan teratur. kesemuanya itu dapat dimungkinkan karena hukum mempunyai sifat mengatur tingkah laku manusia serta mempunyai ciri memerintah dan melarang. Begitupula hukum mempunyai sifat memaksa agar hukum ditaati oleh anggota masyarakat (HerimantoWinarno2016:138).
Adapun Tujuan dari Ketentraman dan Ketertiban Umum menurut Peraturan Daerah Kabupaten Tanah Datar Nomor 4 Tahun 2010 tentang Ketentraman dan Ketertiban Umum Pasal 3 adalah: 1) menerapkan prinsip atau filosofi Adat basandi Syara’,syara’
basandi kitabullah.
2) melindungi masyarakat dari adanya berbagai bentuk ganggguan ketentraman dan ketertiban umum dan penyakit masyarakat.
3) mendukung penegakkan hukum yang optimal terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan gangguan ketentraman dan ketertiban umum masyarakat.
4) meningkatkan peran serta masyarakat dalam mengantisipasi, menanggulangi terjadinya gangguan ketentraman, ketertiban umum dan penyakit masyarakat.