• Tidak ada hasil yang ditemukan

JUMLAH TENAGA KERJA

4.3 Dampak Perkembangan Kawasan Wisata Sari Ater Resort Terhadap Perubahan Sosial Ekonomi Penduduk Desa Ciater Kecamatan Ciater

4.3.2. Tingkat Kesejahteraan

1.3.2.2 Pedagang Musiman tahun 1994-2008

Pada kurun waktu tahun 1994-2008 banyak para pedagang musiman yang melakukan kegiatan perekonomiannya di sekitar kawasan wisata Sari Ater Resort. Para pedagang musiman ini datang ke kawasan wisata Sari Ater Resort pada waktu tertentu seperti pada saat hari-hari libur, acara tahun baru, dan sebagainya. Hal ini dilakukan karena seperti pada saat hari-hari libur kawasan wisata Sari Ater Resort ramai dikunjungi oleh para wisatawan baik lokal maupun mancanegara.

Para pedagang musiman membawa barang dagangan untuk di perdagangkan di kawasan wisata Sari Ater Resort sesuai dengan kondisi

waktunya, seperti menjual petasan dan kembang api pada waktu perusahaan mengadakan acara menyambut tahun baru bersama di Sari Ater Resort. Hal ini tentu sangat menguntungkan para pedagang musiman dikarenakan mereka kebanjiran rejeki pada saat barang yang di perdagangkannya laku terjual oleh para wisatawan yang datang berkunjung (hasil wawancara dengan salah seorang pedagang musiman bernama Nono pada tanggal 21 Juni 2012).

Sesudah masa-masa libur selesai, para pedagang musiman kembali menekuni pekerjaan sehari-hari yang telah mereka lakukan seperti biasanya. Pekerjaan itu antara lain petani, wiraswasta, dan sebagainya. Mereka melakukan kegiatan berdagang di kawasan wisata Sari Ater Resort untuk mencari tambahan pendapatan, karena di waktu ramai para pedagang dapat mendapatkan keuntungan yang lebih, bahkan mencapai beberapa kali lipat. Hal tersebut yang menyebabkan banyaknya pedagang musiman melakukan kegiatan ekonomi di kawasan wisata Sari Ater Resort.

Banyaknya pedagang musiman yang melakukan aktivitasnya di kawasan wisata Sari Ater Resort tercermin dari banyaknya jenis dagangan yang mereka jual seperti pakaian, cindramata, makanan dan minuman, dan lain sebagainya. Berikut adalah rata-rata jumlah pendapatan pedagang musiman pada kurun waktu 2000-2008.

Tabel 4.11.

Rata-rata pendapatan pedagang Musiman di kawasan wisata Sari Ater Resort tahun 2000-2008

NO Nama Jenis Pekerjaan

Tetap Jenis Pedagang Jumlah Pendapatan Pedagang 2000 2004 2008 Pendapatan Sehari-hari Pendapatan sehari di Sari Ater Pendapatan Sehari-hari Pendapatan sehari di Sari Ater Pendapatan Sehari-hari Pendapatan sehari di Sari Ater

1 Nono Tukang Ojek Pedagang

Asongan Makanan dan

Minuman

Rp. 15.000 Rp. 40.000 Rp. 20.000 Rp. 65.000 Rp. 35.000 Rp. 100.000

2 Teguh Wiraswasta Pedagang

Asongn Cendramata

Rp. 20.000 Rp. 45.000 Rp. 35.000 Rp. 90.000 Rp. 35.000 Rp. 120.000

3 Asep Tukang Ojek Pedagang

Asongan Pakaian

Rp. 15.000 Rp. 50.000 Rp. 25.000 Rp. 80.000 Rp. 40.000 Rp. 120.000

Berdasarkan data tersebut dapat peneliti analisis bahwa jelas terlihat perbedaaan pendapatan yang cukup besar dari pendapatan per hari dari pekerjaan sehari-hari yang telah mereka lakukan seperti biasanya. Pendapatan yang berlipat ini hanya bisa mereka dapatkan ketika kawasan wisata Sari Ater Resort ramai dikunjungi oleh para wisatawan yang datang berkunjung seperti pada saat hari-hari libur, acara tahun baru, dan sebagainya. Momen seperti inilah yang ditunggu-tunggu oleh mereka untuk meraih keuntungan, khususnya bagi orang yang sudah bermata pencaharian sebagai pedagang atau yang sering disebut dengan pedagang musiman.

Dalam kehidupan sosial para pedagang tidak lepas dari persaingan. Bentuk dari persaingan yang terjadi antara para pedagang asongan dan pedagang tetap di kawasan wisata Sari Ater Resort adalah persaingan ekonomi masalah harga. Ketika ada pengunjung para pedagang biasanya langsung menawarkan barang dagangannya dan kegiatan tawar-menawar ini kadang kala akan membuat pedagang ingin menguasai konsumen dengan cara memasang harga murah sehingga banyak konsumen yang tertarik. Jika ada pedagang yang berhasil menarik pengunjung untuk membeli barang dagangannya dalam jumlah banyak akan menimbulkan sikap iri dari pedagang lainnya, sehingga timbulah kecemburuan sosial.

Hal ini seperti apa yang dikemukakan oleh Ibu Hj. Mimin selaku pedagang pakaian dan cinderamata, hasil wawancara pada tanggal 01 Juli 2012 sebagai berikut :

“Persaingan pedagang tentu ada, dan ini paling sering dikarenakan oleh faktor harga. Setiap pedagang berhak atas barang dagannya, namun peraturan disini seorang pedagang tidak boleh semena-mena menentukan harga barang dagangannya atas kehendak diri sendiri tetapi harus ada kesepakatan harga antara pedagang agar tidak menimbulkan konflik antar pedagang. Akan tetapi diantara sekian banyak pedagang, pasti ada saja yang tidak patuh akan peraturan tersebut, dan biasanya ia semena-mena ingin menguasai konsumen dengan cara memberi harga murah agar lebih dapat menarik pengunjung sebanyak-banyaknya. Hal inilah yang menjadi pemicu dari adanya konflik dan kecemburuan sosial antar pedagang di kawasan wisata ini.”

Dari keterangan di atas dapat terlihat bahwa dalam kehidupan interaksi sosial para pedagang diwarnai oleh bermacam-macam bentuk persaingan antar sesama pedagang sendiri, selain terjadi persaingan juga diwarnai oleh adanya pertikaian yang biasanya merupakan kelanjutan dari persaingan yang tidak sehat diantara para pedagang.

Hal menarik yang terjadi pada aktivitas perdagangan di kawasan wisata Sari Ater Resort ini adalah bahwa meskipun terjadi kesenjangan diantara para pedagang, baik pedagang tetap maupun pedagang musiman, tetapi hal tersebut tidak membuat jumlah penghasilan yang didapatkan oleh pendagang tetap berkurang dengan adanya pedagang asongan yang sama-sama berjualan di kawasan wisata Sari Ater Resort. Hal ini dilihat dari jumlah perbandingan pemasukan penghasilan di antara para pedagang, selain itu pedagang asongan yang berjualan di sekitar kawasan wisata Sari Ater Resort ternyata banyak dari pedagang tetap disana yang menjadi pedagang asongan, dengan kata lain bahwa meskipun disana ada pedagang asongan tidak membuat para pedagang tetap kehilangan keuntungan. Untuk melakukan kegiatan perdagangan di daerah

kawasan wisata Sari Ater Resort ini para pedagang asonganpun diharuskan membayar uang sewa, tetapi hal tersebut tidak memberatkan para pedagang musiman, hal ini dikarenakan dengan penghasilan yang bisa mereka peroleh lebih besar dengan pengeluaran mereka untuk membayar uang sewa tersebut. Berikut adalah jumlah perbandingan pemasukan pedagang tetap dengan pedagang musiman pada saat musim libur tiba.

Tabel 4.12

Jumlah perbandingan pemasukan pedagang tetap dan musiman tahun 2000 - 2008

No Nama

Tahun 2000 Tahun 2008

Jumlah penghasilan per hari pada hari biasa

Jumlah penghasilan per hari pada saat musim

libur

Jumlah penghasilan per hari pada hari biasa

Jumlah penghasilan per hari pada saat musim

libur

1 Imas Rp. 100.000 Rp. 150.000 Rp. 200.000 Rp. 300.000

2 Hj. Mimin Rp. 100.000 Rp. 200.000 Rp. 200.000 Rp. 300.000

3 Nono Rp. 15.000 Rp. 40.000 Rp. 35.000 Rp. 100.000

4 Teguh Rp. 15.000 Rp. 45.000 Rp. 40.000 Rp.120.000

Sumber : diolah dari hasil wawancara dengan para narasumber pada tanggal 01 juli 2012 ket : No 1 dan 2 merupakan pedagang tetap

Berdasarkan hal di atas dapat peneliti analisis bahwa meskipun di kawasan wisata Sari Ater Resort terdapat dua jenis pedagang yaitu pedagang tetap dan pedagang asongan, meskipun mengakibatkan terjadinya kesenjangan diantara keduanya, tetapi hal tersebut tidak membuat jumlah penghasilan yang didapatkan oleh pendagang tetap berkurang dengan adanya pedagang asongan. Hal ini dikarenakan perbedaan perbandingan pemasukan diantara keduanya, dengan kata lain pendapatan yang diperoleh pedagang tetap pada saat musim libur tiba tidak berkurang dengan pendapatan yang diperoleh ketika pada hari-hari biasa, selain itu kehadiran pedagang asongan di kawasan wisata Sari Ater Resort mempunyai hak yang sama, dimana pedagang asongan tersebut sudah membayar uang sewa untuk bisa berjualan di kawasan wisata Sari Ater Resort.

Dokumen terkait