• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PERUBAHAN SOSIAL-EKONOMI MASYARAKAT KAWASAN WISATA SARI ATER RESORT DESA CIATER DI KECAMATAN CIATER- SUBANG ( )

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV PERUBAHAN SOSIAL-EKONOMI MASYARAKAT KAWASAN WISATA SARI ATER RESORT DESA CIATER DI KECAMATAN CIATER- SUBANG ( )"

Copied!
63
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

PERUBAHAN SOSIAL-EKONOMI MASYARAKAT KAWASAN WISATA SARI ATER RESORT DESA CIATER DI KECAMATAN

CIATER-SUBANG (1994-2008)

Bab ini menguraikan kajian permasalahan dibagi kedalam beberapa sub judul, yaitu pertama, mengenai gambaran umum Desa Ciater Kecamatan Ciater di Kabupaten Subang, kedua, mengenai Perkembangan Kawasan Wisata Sari Ater Resort di Kabupaten Subang, dan ketiga mengenai Dampak keberadaan kawasan wisata Sari Ater Resort terhadap perubahan sosial masyarakat Desa Ciater di Kabupaten Subang tahun 1994 sampai 2008. Setiap sub judul tersebut diuraikan kembali kedalam beberapa bagian, sehingga pemaparan mengenai kajian permasalahan menjadi menyeluruh.

Pemaparan pertama diuraikan mengenai gambaran umum Desa Ciater Kecamatan Ciater Kabupaten Subang dengan memaparkan kondisi geografis dan kependudukan Kecamatan Ciater. Uraian keadaan geografis dikemukakan mengenai letak geografis, batas wilayah, luas wilayah, dan hal-hal lainnya yang berhubungan dengan bahasan tersebut. Keadaan kependudukan memaparkan mengenai masalah yang meliputi aspek-aspek pendidikan, agama, dan lain-lain. Gambaran umum mengenai Kecamatan Ciater dikaji oleh peneliti dengan maksud untuk memperoleh gambaran mengenai kehidupan sosial, ekonomi dan budaya masyarakatnya yang tentu saja hal tersebut akan turut berpengaruh terhadap perkembangan kawasan wisata Sari Ater Resort. Pembahasan kedua menguraikan

(2)

tentang perkembangan kawasan wisata Sari Ater Resort di Kabupaten Subang yang dibagi kedalam beberapa pembahasan, diantaranya peneliti mengungkapkan mengenai awal perkembangan wisata Sari Ater Resort dari masa ke masa, yaitu mulai dari berdirinya kawasan wisata Sari Ater Resort sampai tahun 2008. Hal ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana perkembangan kawasan wisata Sari Ater Resort serta mengetahui seberapa besar dampak yang ditimbulkan dari adanya kawasan wisata Sari Ater Resort tersebut, baik dalam bidang ekonomi maupun sosial. Pembahasan ketiga adalah mengenai dampak keberadaan kawasan wisata Sari Ater Resort terhadap perubahan sosial masyarakat Desa Ciater Kecamatan Ciater di Kabupaten Subang. Pembahasan ini menguraikan mengenai perubahan sosial ekonomi masyarakat di sekitar objek wisata Sari Ater Resort, mata pencaharian dan tingkat pendapatan masyarakat, serta hal-hal lain berkaitan dengan kondisi sosial masyarakat.

4.1 Gambaran Umum Wilayah Desa Ciater Kecamatan Ciater

Pada bab ini, peneliti memaparkan secara rinci dimulai dari keadaan geografis Kabupaten Subang yang di dalamnya memuat Desa Ciater yang berada di Kecamatan Ciater sebagai salah satu Kecamatan di Kabupaten Subang, penduduk dan mata pencaharian masyarakat di Kecamatan Ciater, dan kondisi sosial budaya masyarakat Kecamatan Ciater.

(3)

4.1.1. Letak Geografis

Desa Ciater berada di Kecamatan Ciater dan merupakan bagian dari kawasan Kabupaten Subang yang terletak di Provinsi Jawa Barat. Berdasarkan Undang-Undang nomor 4 tahun 1968 daerah Kabupaten Subang memiliki batas sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Sumedang, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Bandung, dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Karawang. Berikut dapat dilihat peta Kabupaten Subang.

Peta 4.1 Kabupaten Subang

Sumber : Diolah dari data BPS Kabupaten Subang angka tahun 2009 (2009: 5). Peta wilayah Kabupaten Subang 2009.

(4)

Potensi pariwisata di Kabupaten Subang pada hakikatnya terdiri dari tiga kawasan yaitu zona utara, selatan, dan tengah yang masing-masing memiliki potensi yang dapat diunggulkan. Daerah selatan berada di pegunungan/dataran tinggi didominasi oleh objek daerah tujuan wisata alam (ODTWA) dimana dua diantaranya sudah bertaraf internasional dengan fasilitas sangat memadai yaitu kawasan wisata Ciater dan Gunung Tangkuban Perahu. Daerah utara berada di dataran rendah lebih menawarkan keasrian alam pesisir pantai seperti Pondok Bali dan Pantai Patimban. Sejalan dengan perkembangan wisata belakangan ini, wisata budaya dan sejarah juga dapat ditemui di Kabupaten Subang, seperti beberapa objek wisata cagar budaya Situs Nangka Beurit di Segalaherang ataupun wisata sejarah seperti Landasan Udara Kalijati. Tolak ukur perkembangan sektor kepariwisataan di Kabupaten Subang juga dapat dilihat dari peningkatan usaha jasa pariwisata seperti hotel, pondok wisata, rumah makan dan biro perjalanan wisata yang secara tidak langsung berdampak pada tingkat perekonomian masyarakat.

Hal ini selaras dengan pembangunan ekonomi Kabupaten Subang yang diarahkan pada pembangunan ekonomi kerakyatan melalui tiga kegiatan utama sebagaimana tertuang dalam Visi Kabupaten Subang yakni Agrobisnis, Pariwisata dan Industri. Sektor pariwisata di Kabupaten Subang juga berjalan selaras dengan potensi seni dan budaya. Hal tersebut, menjadikan Pariwisata, seni dan budaya bersinergi menjadi nilai jual yang cukup tinggi, oleh karenanya tidak dapat dipungkiri bahwa Kabupaten Subang dapat diperhitungkan untuk menjadi daerah tujuan wisata unggulan di Jawa Barat yang dapat mendatangkan kunjungan

(5)

wisatawan baik Wisatawan Nusantara maupun Wisatawan Mancanegara yang didukung oleh beragam seni dan budaya yang ada di Kabupaten Subang.

Wilayah administratif Kabupaten Subang terdiri atas beberapa Kecamatan. Sari Ater Resort merupakan salah satu kawasan wisata yang berada di wilayah Kabupaten Subang dan terletak di lereng gunung Tangkuban Perahu pada ketinggian sekitar 700-1.000 m dpl, berada di Desa Ciater Kecamatan Ciater Kabupaten Subang dan memiliki suhu 30º yang sangat potensial sekali untuk dijadikan sebagai kawasan wisata dikarenakan udaranya sejuk serta nyaman untuk tempat peristirahatan.

Wilayah Desa Ciater sebelah utara berbatasan dengan Desa Cisaat dan Palasari, sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Lembang, sebelah timur berbatasan dengan Desa Nagrak, dan sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Sagalaherang (Monografi Kecamatan Ciater, 2009: 18). Desa Ciater sebagian wilayahnya merupakan perkebunan Negara yang dikelola oleh PTPN VIII Ciater, adapun wilayah dari Kecamatan Ciater berbatasan langsung dengan Kecamatan Jalancagak di sebelah utara, di sebelah selatan berbatasan dengan kabupaten Bandung, di sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Sagalaherang, dan sebelah timur berbatasan Kecamatan Cisalak dan Kecamatan Kasomalang. Wilayah Ciater terdiri dari tujuh desa, yaitu desa Ciater, Nagrak, Cibeusi, Cibitung, Sanca, Palasari, Cisaat (Badan Pusat Statistik Kabupaten Subang, 2009: 35). Berikut dapat dilihat peta Kecamatan Ciater.

(6)

4.2

Peta Kecamatan Ciater

Sumber : monografi Kecamatan Ciater 2009. Peta wilayah Kecamatan Ciater tahun 2009, hal.3

Sari Ater Resort sebagai salah satu kawasan wisata di Kabupaten Subang, menjadi salah satu andalan kepariwisataan di Kabupaten Subang. Pemerintah Kabupaten Subang menyadari potensi yang dimiliki oleh Sari Ater Resort dapat menarik wisatawan baik wisatawan nusantara maupun mancanegara, sehingga dengan demikian dampak dari banyaknya wisatawan yang berdatangan ke Sari Ater Resort pendapatan untuk Kabupaten Subang akan meningkat dan daerah Subang pun akan semakin dikenal oleh wisatawan sebagai daerah dengan daya tarik wisata Sari Ater Resort.

KE C. L E MBANG KABUPAT E N BANDUNG K E C. JA L A NCA GA K K E C. S E GA L A HE RA NG DE S A CIS A AT DE S A CIAT E R DE S A PA L A S A RI DE S A NA GRA K DE S A CIB IT UNG DE S A CIB E US I DE S A S A NCA K E C. CIS A L A K KETER AN G AN :

MER U PAKAN D AER AH YAN G D IJAD IKAN TEMPAT PEN EL ITIAN

P T P N V I I C I A T E R

CHR

GRACIA SPA

(7)

4.1.2 Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Desa Ciater Kecamatan Ciater

Penduduk merupakan objek dan subjek dari pembangunan suatu daerah, oleh karena itu untuk menilai pembangunan suatu daerah harus dilihat komposisi dan kualitas penduduknya, selain itu juga kuantitas jumlah penduduk akan menentukan berkembangnya suatu daerah. Penduduk berusaha membangun daerahnya dengan memanfaatkan segala potensi yang ada di daerahnya. Maka untuk melihat proses perubahan dalam pembangunan pada masyarakat kawasan wisata Sari Ater Resort dapat dilihat dari jumlah penduduknya, berikut adalah tabel pertumbuhan jumlah penduduk Desa Ciater.

Tabel 4.1

Pertumbuhan Penduduk Kecamatan Jalancagak Tahun 1994-2008 No Tahun Desa Ciater Jumlah Jiwa Perkembangan Pendidikan SD SMP SMA PERGURUAN TINGGI 1 1994 5.512 62.986 16.764 15.267 12.267 1.267 2 1995 5.598 63.765 16.987 15.534 12.568 1.298 3 1996 5.687 64.387 17.231 15.761 12.760 1.327 4 1997 5.756 65.278 17.457 16.045 12.973 1.378 5 1998 5.823 67.324 17.768 16.456 13.236 1.399 6 1999 5.912 68.258 18.156 16.895 13.580 1.459 7 2000 6.023 69.326 18.428 17.178 12.864 1.503 8 2001 6.145 70.587 18.789 17.456 13.034 1.589 9 2002 6.254 71.265 19.117 17.749 13.458 1.650 10 2003 6.376 72.123 19.432 18.085 13.769 1.735 11 2004 6.495 73.432 19.769 18.325 13.189 1.798 12 2005 6.589 75.450 19.987 18.653 14.287 1.845 13 2006 6.687 77.251 20.367 18.980 14.509 1.926 14 2007 6.746 76.129 20.765 19.279 14.769 2.071 15 2008 6.830 78.278 21.087 19.409 15.083 2.167 Sumber: Diolah dari data BPS Kabupaten Subang 1994 – 2008. Subang dalam angka tahun 1994-2008.

Dari tabel di atas peneliti menggunakan data penduduk Kecamatan Jalancagak, hal ini dikarenakan Kecamatan Ciater merupakan sebuah Kecamatan

(8)

yang baru dan mengalami pemekaran pada tahun 2008. Berdasarkan data di atas terlihat bahwa pada setiap tahunnya jumlah penduduk di Desa Ciater Kecamatan Ciater terus mengalami peningkatan, meskipun dalam hal jumlah tidak terlalu besar. Peningkatan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan penduduk dan urbanisasi yang terjadi, karena Kecamatan Ciater merupakan daerah wisata yang memberikan banyaknya kesempatan kerja sehingga menjadikan tertariknya warga dari luar daerah untuk berdatangan ke Ciater, yang mengakibatkan terus terjadinya jumlah peningkatan penduduk.

Penduduk Desa Ciater Kecamatan Ciater dari tahun 1994 sampai tahun 2008 terus mengalami perkembangan yang cukup cepat, yaitu sekitar 1,7% tiap tahunnya. Hal ini terjadi karena diimbangi dengan tingkat kelahiran yang normal. Jumlah penduduk sebagaimana disebutkan dalam tabel di atas adalah termasuk orang-orang produktif yang merupakan sumber tenaga kerja serta penduduk tidak produktif, seperti anak-anak dan manula. Besarnya jumlah penduduk Desa Ciater Kecamatan Ciater ini merupakan modal tenaga kerja dalam proses pembangunan, namun di lain pihak juga menimbulkan lahirnya masalah baru. Pemerintah dituntut untuk menyediakan lahan pemukiman, kesempatan kerja yang luas serta fasilitas pendidikan, kesehatan, dan fasilitas umum lainnya yang mampu melayani kebutuhan masyarakat.

Usaha-usaha peningkatan pendidikan masyarakat Desa Ciater Kecamatan Ciater secara berangsur-angsur telah dilaksanakan dengan mendirikan sekolah-sekolah. Pembangunan sarana pendidikan dilaksanakan oleh masyarakat secara gotong royong dengan mendapat bantuan dari pemerintah daerah maupun

(9)

swadaya masyarakat sendiri. Peningkatan sarana pendidikan tersebut secara otomatis memberi pengaruh terhadap tingkat pendidikan masyarakat termasuk juga masyarakat sekitar kawasan wisata Sari Ater Resort.

Perkembangan pendidikan masyarakat Kecamatan Ciater pada tahun 1994-2008, setiap tahunnya mengalami peningkatan dengan perkiraan rata-rata mencapai 3% dengan peningkatan jumlah siswa antara 10-300 siswa/tahun, untuk tingkat SD jumlah kenaikan siswa yaitu berkisar antara 50-400 siswa/tahun, untuk tingkat SMP 50-300 siswa/tahun, untuk tingkat SMA 50-250 siswa/tahun dan Perguruan Tinggi 10-100 orang/tahun, dengan demikian dapat digambarkan bahwa minat masyarakat Ciater terhadap pendidikan formal bisa dikatakan cukup. Hal ini seiring dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat yang besar akan pentingnya pendidikan, namun selain pendidikan formal tidak sedikit dari orang tua yang menyekolahkan anaknya ke lembaga pendidikan agama.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat pendidikan masyarakat, diantaranya adalah tingkat kemampuan ekonomi keluarga yang terbatas. Mereka lebih cenderung memilih mencari pekerjaan dibidang pertanian dan perdagangan, karena memang pada dasarnya tidak memerlukan keahlian yang dicapai melalui pendidikan formal. Masyarakat Desa Ciater sebagian kecil ada yang mampu menyelesaikan pendidikan sampai tingkat SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi dan kebanyakan mereka bekerja sebagai Pegawai Negeri, pengusaha, pedagang dan berwirausaha, namun ada yang menarik dari segi pendidikan masyarakat di Desa Ciater Kecamatan Ciater ini, bahwa mereka yang mengandalkan kehidupan perekonomiannya dari segi berdagang, sebagian mampu

(10)

menyekolahkan anaknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Hal ini dilakukan dengan harapan dapat merubah kehidupan mereka kedepannya dari segi ekonomi maupun status sosialnya, dengan cara menyekolahkan anaknya dan berharap anak-anak mereka bisa mengangkat dari segi kesejahteraan ekonomi.

Wujud dari keinginan masyarakat Desa Ciater Kecamatan Ciater terutama yang tinggal di sekitar kawasan objek wisata Sari Ater Resort, tercermin dalam mata pencaharian yang cukup beragam. Berhasil atau tidaknya pembangunan dalam sebuah masyarakat dapat dilihat dari kondisi sosial ekonomi masyarakat tersebut, seperti pada tingkat pendapatan perkapita dan mata pencahariannya. Hal tersebut tentu saja tidak terlepas dari keadaan sosial ekonomi pada masa sebelum masyarakat tersebut mengalami perkembangan. Munculnya kebutuhan yang semakin meningkat merupakan salah satu faktor yang membuat manusia ingin berusaha untuk bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Begitu pula dengan masyarakat sekitar kawasan wisata Sari Ater Resort yang pada saat itu memiliki mata pencaharian yang beragam yang terdiri dari beberapa sektor, seperti sektor industri, sektor pertanian, sektor perdagangan dan sektor lainnya. Dilihat dari kondisi geografisnya, maka sektor yang paling menonjol adalah sektor pertanian. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

(11)

Tabel 4.2

Komposisi penduduk Kecamatan Jalancagak berdasarkan Mata Pencaharian tahun 1994, 1999, 2004

Jenis Mata Pencaharian

Desa Ciater Kec. Jalancagak

Tahun Tahun 1994 1999 2004 1994 1999 2004 PNS 35 66 89 5.786 6.235 6.736 Pegawai Swasta 587 796 914 5.426 5.726 6.096 Pedagang 549 859 1.224 8.749 10.408 12.304 Petani 982 642 349 10.726 9.732 9.126 Peternak 76 48 25 3.867 4.128 4.532 Sopir 108 196 223 4.672 4.928 5.126 Pengangguran 349 224 165 4.276 4.676 4.927 Lain-lain 432 486 512 5.289 5.567 6.072 Jumlah 3.118 3.317 3.501 48.791 51.400 54.906

Sumber: diolah dari data BPS Kabupaten Subang 1994, 1999, 2004. Subang dalam Angka Tahun 1994, 1999, dan 2004.

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa pada tahun 1994 jumlah penduduk yang memiliki mata pencaharian sebagai petani lebih banyak dari pada penduduk dengan mata pencaharian yang lain. Hal itu terjadi dikarenakan keadaan geografis wilayah Kecamatan Ciater merupakan dataran tinggi atau pegunungan sehingga sangat cocok dipakai untuk lahan pertanian. Penduduk Kecamatan Ciater sebagian besar mempunyai mata pencaharian sebagai petani. Wilayah Kecamatan Ciater sebelah selatan sebagian besar merupakan perkebunan teh.

Penduduk Desa Ciater sebagian bekerja sebagai buruh pemetik teh di perkebunan Nusantara VIII milik pemerintah, selain itu masyarakat Desa Ciater bekerja pada sektor perdagangan. Hal ini membuktikan bahwa selain mengandalkan pada sektor pertanian dan perkebunan, masyarakat Kecamatan Ciater juga mengandalkan pada sektor perdagangan sebagai mata pencahariannya, terlebih lagi setelah dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1994

(12)

yang berisikan tentang peraturan kepariwisataan yang di salah satu pasalnya disebutkan untuk selalu mengikutsertakan masyarakat sekitar di dalam kegiatan kepariwisataan, baik dalam bentuk membuat cendramata dan mempromosikan budaya yang harus merupakan khas masyarakat setempat menjadikan terbukanya kesempatan bagi masyarakat untuk memanfaatkan peluang yang diberikan untuk dapat memperbaiki kehidupan perekonomian masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan wisata Sari Ater.

Kondisi penduduk di Desa Ciater Kecamatan Ciater tidak terlepas dari peran serta dukungan pemerintah daerah setempat dalam memberdayakan potensi yang dimiliki masyarakat dalam mengembangkan wilayahnya, karena sebelumnya Ciater sendiri merupakan sebuah Desa dari wilayah Kecamatan Jalancagak, akan tetapi karena dianggap telah mampu dan memiliki SDA yang baik seperti kawasan wisata Sari Ater Resort, kawasan Perkebunan Teh, maka pada tahun 2008 terjadi pemekaran Kecamatan Ciater.

Kehidupan sosial budaya masyarakat Desa Ciater Kecamatan Ciater masih bersifat tradisional dan memegang teguh kepada nilai-nilai dan norma sosial yang berlaku. Agama Islam merupakan agama yang paling banyak dianut oleh masyarakat di Desa Ciater, selain itu masyarakat Desa Ciater terdapat pula yang memeluk agama selain Islam. Mengenai kepercayaan atau agama yang dianut oleh masyarakat tidak jauh berbeda dengan masyarakat lainnya yang terdapat di Kabupaten Subang. Demikian juga, dengan adanya keyakinan terhadap kekuatan diluar kemampuan manusia yang masih tetap dipegang teguh oleh masyarakat sekitar. Salah satu contohnya ketika masyarakat akan menanam tanaman sayuran

(13)

atau palawija dilakukan tradisi selametan terhadap kebun yang ditanami sayuran atau tanaman palawija, selain itu pula hal lain yang terlihat adalah ketika membangun rumah dilakukan selametan ketika pembangunan rumah telah selesai dan siap untuk dihuni. Hubungan sesama masyarakat Desa Ciater Kecamatan Ciater berjalan secara harmonis, masyarakat juga sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai agama Islam yang kuat, sehingga ciri-ciri masyarakat wisata yang cenderung terbuka dalam menerima pengaruh serta nilai individualis yang tinggi dapat di minimalisir.

Terjadinya perubahan dari masyarakat pertanian ke masyarakat berwiraswasta khususnya di sekitar wilayah objek wisata Sari Ater Resort berpengaruh terhadap penghasilan yang diperoleh oleh masyarakat, salah satunya yaitu pedagang memiliki tingkat pendapatan yang lebih tinggi dibanding dengan buruh perkebunan yang hanya memperoleh penghasilan berdasarkan besar kecilnya hasil memetik teh serta buruh tani yang hanya memperoleh penghasilan pada waktu panen saja. Kondisi ini berbeda ketika mereka mendapat penghasilan dari sektor berdagang, namun di dalam usaha berdagang ini pendapatan tidak selalu stabil terkadang pendapatan merekapun dirasakan kurang untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

Dilihat dari taraf kesejahteraan hidup masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan wisata Sari Ater Resort, masyarakat Desa Ciater telah banyak mengalami perubahan, hal ini terbukti dengan sebagian besar beralihnya mata pencaharian masyarakat sekitar kawasan wisata sari Ater Resort dari bertani menjadi

(14)

berdagang. Hal ini dikarenakan sektor usaha berdagang dirasakan lebih mampu mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga.

Berdasarkan hal di atas, perkembangan sektor wisata yang ada di Desa Ciater Kecamatan Ciater salah satunya yaitu kawasan wisata Sari Ater Resort, jelas memberikan dampak akan adanya stratifikasi dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini menjadikan transformasi yang terjadi telah menciptakan lapisan-lapisan sosial baru dalam masyarakat yang semakin kompleks. Keberadaan Sari Ater Resort telah mewarnai pola mata pencaharian masyarakat setempat yang awalnya bekerja pada sektor pertanian, kemudian secara bertahap berubah pada sektor perdagangan, jasa pegawai wiraswasta dan sebagainya. Pemaparan di atas memberikan gambaran bahwa kehidupan sosial dilingkungan kawasan wisata Sari Ater Resort berlangsung secara harmonis. Hubungan diantara mereka selain didasarkan pada status pekerjaan, juga didasarkan pada nilai-nilai kekeluargaan yang erat, selain itu hubungan sosial yang terjalin dalam masyarakat di sekitar kawasan wisata Sari Ater Resort juga sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai agama Islam yang kuat, sehingga ciri-ciri masyarakat wisata yang cenderung terbuka dalam menerima pengaruh serta nilai individualis dapat diminimalisir.

4.2 Perkembangan Kawasan Wisata Sari Ater Resort Tahun 1994-2008 4.2.1. Awal Berdirinya Kawasan Wisata Sari Ater Resort

Pada awalnya tempat wisata air panas alam Ciater yang lebih dikenal dengan sebutan Sari Ater Resort adalah tempat pemandian yang biasa dipergunakan oleh masyarakat sekitar Desa Ciater, Palasari dan Nagrak. Menurut

(15)

pernyataan warga masyarakat setempat bahwa pemandian air panas ini memiliki khasiat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit kulit. Hal itu dibuktikan oleh penelitian yang dilakukan oleh seorang warga Belanda bernama Mr. Hack Bassel yang memulai penelitiannya pada tahun 1962 dan menurut hasil penelitiannya itu, Mr. Hack Bassel menyimpulkan bahwa didalam air panas tersebut mengandung sulfur, zink, magnesium dan seng yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti kelumpuhan, rematik, penyakit tulang serta mampu menyehatkan badan (Tim Kreatif Sari Ater Resort, 2004: 7-8).

Sejak tersiar berita tentang khasiat air panas alam Ciater mulai berdatangan masyarakat lain dari luar daerah Ciater untuk mandi dan berobat. Melihat potensi yang ada pada air panas ini membuat pemerintah Kabupaten Subang berencana untuk menjadikan tempat tersebut menjadi objek wisata yang menonjolkan potensi utamanya yaitu air panas. Keberadaan objek wisata air panas Ciater baru dibenahi pada tahun 1968. Pada waktu itu pemerintah Kabupaten Subang mulai menggarap pemandian air panas ini bekerjasama dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) untuk mengembangkan wisata air panas Ciater. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari tabel berkut ini :

(16)

Tabel 4.3

Perkembangan objek wisata Sari Ater Resort setelah mulai dibenahi

No Tahun Perkembangan Fasilitas Ket

Pengunjung Pedagang 1 1968 Dibangun satu buah kolam yang bernama kolam Mayang

Sari dan dibuat beberapa area kolam renang dan kamar mandi terbuka.

- -

2 1972 Membuat satu buah bangunan untuk kamar mandi dan pintu gerbang berbentuk joglo yang lengkap dengan kantor dan loket penjualan tiket. Disaat itu pula dibangun lagi reservoir air dingin, satu buah cafe didepan kolam, kamar mandi ditambah empat unit lagi sedang wisma wisata juga dibangun sebanyak dua unit lagi dengan type ekonomi.

- -

3 1974 Untuk menunjang pengembangan dan usaha promosi Sari Ater Resort membangun armada bus dengan salah satu trayek Bandung-Subang melalui Ciater sebanyak 16 armada bus yang bernama Sari Express.

589.624 15

4 1975 Membangun bungalow type standard 608.123 16

5 1976 Dimulai pembangunan restoran Dayang Sumbi, bungalow Kabayan, sarana parkir dan rekreasi kolam perahu

658.709 21

6 1980 Mulai pembenahan dan pengembangan sarana dan prasarana secara besar besaran, pada saat itu dibangun : • Kolam renang bawah atau Mayangsari II.

• Bungalaw Jambu.

• Area rekreasi sampai ke curug jodo, dengan sumber dana dari BAPINDO.

785.459 26

7 1986 Mulai pembangunan bungalow nangka lama 825.946 31

8 1987 diteruskan lagi pengembangan baik secara fisik dan management secara menyeluruh diantaranya penambahan bungalow nangka baru dan sarana rekreasi serta cafeteria lainnya.

876.345 37

Sumber : Diolah dari data Selayang Pandang Sari Ater Hot Spring Resort Hotel, Convention and Recreation (2004: 7-9).

Berdasarkan data di atas dapat peneliti analisis bahwa dari tahun ke tahun objek wisata Sari Ater Resort terdapat pelayanan dan penambahan fasilitas. Hal ini dilakukan agar pengunjung yang datang tidak hanya dimanjakan dengan air panas tetapi juga sejumlah fasilitas hiburan lain pun terus mengalami peningkatan

(17)

sehingga kebutuhan yang diinginkan pengunjung bisa terpenuhi di dalam area wisata Sari Ater Resort.

4.2.2 Perkembangan Objek Wisata Sari Ater Resort Dari Tahun 1994-2008

Pada tahun 1989 PT. Sari Ater melakukan kerjasama management dengan Griya Wisata, hal ini berlangsung lebih kurang sekitar 9 bulan. Pada bulan Januari 1990 operational diserahkan kembali ke PT. Sari Ater. Pada tanggal 24 Oktober 1994 dilakukan rekrontruksi organisasi dan ditetapkan seorang general manager untuk memimpin hotel dan objek wisata Sari Ater dengan nama Sari Ater Hot Spring Resort. Pada tahun 1998 dibangun kembali fasilitas kolam rendam air panas alam direkreasi dengan nama Pulosari daya tampung 500. Pada tahun 2000 diabad milenium sesuai dengan tuntutan jaman Sari Ater membangun kembali Multi Function Room Dayang Sumbi fasilitas ruangan meeting dengan kapasitas 750 orang, sampai 1000. Adapun ruangan tersebut bisa dipakai untuk pernikahan, ulang tahun, seminar, konferensi dengan beberapa bentuk meeting. Untuk memenuhi permintaan pasar seiring dengan peningkatan jumlah pengunjung ke Sari Ater Resort maka pada tahun 2008 dibangun kembali hotel standard room sebanyak 80 kamar, yang diperuntukan lebih khusus untuk tamu meeting.

Perkembangan objek wisata Sari Ater Resort dari tahun 1994-2008 dihiasi banyak permasalahan, dimana perkembangan kawasan wisata secara perlahan-lahan dapat mengubah kehidupan sosial yang ada di masyarakat. Misalnya norma, nilai-nilai, cara berperilaku dan cara bersikap. Selain itu, kawasan wisata mampu menciptakan lapangan pekerjaan yang beragam seperti kegiatan berdagang, menjadi karyawan di suatu tempat wisata, tukang parkir, tukang kebun, dsb. Hal

(18)

ini menjadikan besarnya kesempatan yang diberikan kepada masyarakat untuk memanfaatkan peluang kerja yang diberikan.

Adanya kawasan wisata Sari Ater Resort mendorong pertumbuhan tingkat kesejahteraan masyarakat yang dahulu sebagian besar bermata pencaharian sebagai buruh tani kini banyak beralih pada jenis pekerjaan yang lain. Hal ini dikarenakan kawasan Sari Ater memberikan banyak peluang kerja yang menjajikan bagi masyarakat setempat. Di dalam pengembangan usaha objek wisata Ciater, PT. Sari Ater telah banyak memberikan kontribusi yang positif terhadap pengembangan ekonomi dan sosial masyarakat sekitarnya. Hal itu akan terus dilakukan sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan lingkungan sekitar perusahaan. Perusahaan sangat menyadari sekali keterkaitan antara perusahaan dengan lingkungan dimana perusahaan berada, baik itu secara sosial kemasyarakatan maupun alam sekitarnya sebagai penyangga kelestarian lingkungan. Kontribusi tersebut antara lain adalah:

1. Dari Segi Ekonomi

a. Penyediaan lapangan kerja bagi warga sekitar perusahaan

b. Kerjasama aktif dalam pemenuhan berbagai kebutuhan operasional perusahaan

c. Bantuan langsung terhadap beberapa usaha kecil dalam bentuk kerjasama 2. Dari Segi Sosial, Keagamaan dan Kebudayaan

a. Sumbangan sosial melalui dinas dan instansi terkait

b. Khitanan masal, pengobatan gratis dan donor darah setiap tahun c. Sumbangan terhadap panti asuhan dan panti jompo

(19)

e. Majelis bimbingan iman dan takwa (MABIT) f. Sumbangan kegiatan acara keagamaan g. Pembagian sembako

h. Ikut aktif mengembangkan kebudayaan tradisional melalui pemberian kesempatan pagelaran kesenian rakyat di lokasi objek wisata.

3. Dari Segi Kelestarian Lingkungan

a. Selalu menjaga kebersihan dan kerapihan lokasi objek wisata dan daerah sekitarnya.

b. Memelihara potensi sumber daya alam dan lingkungannya agar tetap lestari sekaligus menarik untuk dikunjungi wisatawan.

Dari tahun ke tahun objek wisata Sari Ater telah mengalami peningkatan yang menjadikan kawasan Sari Ater menjadi pusat perekonomian masyarakat. Peningkatan pendapatan masyarakat yang menjalankan roda perekonomiannya tampak meningkat yang terlihat dari banyaknya pengunjung yang berdatangan ke kawasan wisata Sari Ater Resort tersebut sehingga jelas memberikan pengaruh bagi kehidupan masyarakat yang ada di sekitar kawasan wisata Sari Ater terutama dalam bidang ekonomi. Salah satu jenis pekerjaan yang diminati oleh masyarakat sekitar kawasan wisata Sari Ater Resort adalah berdagang, karena jenis pekerjaan ini tidak memerlukan keahlian yang spesifik, sehingga dapat dilakukan oleh siapa saja baik yang tidak berpendidikan maupun yang berpendidikan yang menjadikan jenis pekerjaan ini banyak diminati oleh masyarakat. Jenis dagangan yang dijualpun beragam seperti makanan dan minuman, berbagai macam kerajinan cindramata, sayuran dan buah-buahan.

(20)

Tingginya aktivitas perekonomian di kawasan wisata Sari Ater Resort ini telah menjadikan sebagian besar masyarakat sangat bergantung sekali perekonomiannya di kawasan wisata Sari Ater Resort seperti membuka tempat-tempat penginapan, villa, rumah makan, dan sebagainya. Di samping itu, adanya kawasan wisata Sari Ater telah meningkatkan kehidupan perekonomian masyarakat yang berdampak pula terhadap peningkatan pendidikan dan status sosial masyarakat.

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) No 18 Tahun 1994 Tentang Penyelenggaraan Kepariwisataan yang didalam salah satu pasalnya menyebutkan bahwa pengelolaan kepariwisataan harus selalu melibatkan masyarakat sekitar, dan pasal tersebut berisi sebagai berikut:

 Cinderamata yang disediakan merupakan cinderamata khas masyarakat setempat dengan mengutamakan hasil pengrajin masyarakat sekitar.

 Dalam wisata budaya mengutamakan seni budaya tradisional masyarakat setempat dan dilarang seni budaya asing maupun seni budaya yang bertentangan dengan nilai-nilai agama, kesusilaan dan ketertiban umum.

Berdasarkan data di atas dapat peneliti analisis bahwa dengan adanya Peraturan Pemerintah tersebut memberikan kesempatan yang luas bagi masyarakat untuk dilibatkan secara langsung di dalam pengelolaan Sari Ater Resort, dimana pihak perusahaan menumbuhkembangkan dan memberdayakan masyarakat sekitar, serta meningkatkan akses masyarakat terhadap lapangan pekerjaan. Di samping itu dalam rangka pemerataan tenaga kerja, perusahaan telah mengatur pembatasan suami-istri, ayah-anak tidak diperbolehkan bekerja di perusahaan, sehingga memberikan peluang untuk masyarakat yang lain. Hal ini

(21)

sangat berdampak baik bagi masyarakat setempat dimana masyarakat diberikan peluang di dalam memperbaiki ekonominya.

4.2.3 Pengelolaan Objek Wisata Sari Ater Resort

Keberhasilan pengembangan Pariwisata tidak terlepas dari pengelolaan yang dilaksanakan oleh para pengurus objek wisata, hal ini sangat terkait dengan usaha peningkatan profesionalitas dari sistem pengelolaan untuk mewujudkan suatu pondasi pariwisata yang kondusif, nyaman dan dapat memuaskan wisatawan yang datang. Objek wisata Sari Ater Resort termasuk kedalam Objek dan Daya Tarik Wisata (ODTW) alam. Usaha untuk meningkatkan dan mengembangkan pariwisata di kawasan wisata Sari Ater Resort memiliki keterkaitan dengan instansi-instansi pemerintahan yang terkait, pihak masyarakat, pihak swasta (pengusaha), dan pengelolaan pariwisata itu sendiri. Agar peningkatan pariwisata berjalan dengan baik, maka semua pihak tersebut mendukung dan diharapkan dapat terlibat dalam pelaksanaannya.

Semakin tumbuh dan berkembangnya kawasan wisata Sari Ater Resort ini di Kabupaten Subang, menuntut perlu adanya suatu lembaga untuk mengelola kawasan tersebut sebagai pelaksana teknis bidang kepariwisataan di daerah. Artinya disini peran suatu lembaga dalam mengurus administrasi suatu kawasan wisata sangatlah dibutuhkan. Untuk lebih mengembangkan objek wisata Sari Ater maka kemudian pemerintah menyerahkan pengelolaannya kepada PT. Sari Ater yang dipimpin oleh Bapak H. A Soewarna. Pada tanggal 24 oktober 1994

(22)

dilakukan restrukturisasi organisasi dan ditetapkan seorang general manager untuk memimpin hotel dan objek wisata Sari Ater dengan nama Sari Ater Hot Spring Resort. Dari situlah kemudian objek wisata Sari Ater mengalami perkembangan yang signifikan. Berbagai fasilitas terus ditambah dan dikembangkan sehingga variasi kegiatan pengunjung lebih ditingkatkan lagi. Berikut ini struktur kepengurusan organisasi Sari Ater Resort setelah dilakukan restrukturisasi organisasi pada tahun 1994:

(23)
(24)
(25)

Sari Ater Resort menawarkan kepada pengunjung yaitu pemandian air panas alam yang dikemas menjadi beragam dan ditambah tersedianya fasilitas penunjang sehingga menjadikan Sari Ater Resort sebagai tempat rekreasi paling unggul di Kabupaten Subang. Pengembangan objek wisata selain membutuhkan modal yang cukup besar, juga memerlukan sumber daya manusia yang potensial, handal, terampil dan terdidik dalam mengembangkan objek wisata. Pengelola dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif dalam mengembangkan dan mengelola potensi-potensi yang ada di kawasan tersebut.

Tenaga kerja merupakan faktor yang tidak akan bisa lepas dari sebuah industri apapun, karena sedikit banyaknya tenaga kerja tentu saja berpengaruh dalam sebuah proses menjalankan industri tersebut. Termasuk juga salah satunya industri yang ada di Desa Ciater Kecamatan Ciater Kabupaten Subang. Semenjak bidang pariwisata ditetapkan sebagai sebuah industri (Industri Pariwisata) tidak heran jika setiap daerah memiliki ambisi untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerahnya (PAD) dari sektor pariwisata. Sudah sejak dasawarsa terakhir ini pariwisata merupakan penambah devisa terbesar bagi keuangan daerah dan Negara dalam bidang non migas, salah satunya adalah yang terjadi pada kawasan wisata Sari Ater Resort di Kabupaten Subang.

Sistem organisasi Sari Ater Resort secara umum sama dengan sistem Resort lain dengan beberapa Departemen pendukung, seperti Divisi Rekreasi yang mendukung terhadap pengelolaan dan pelayanan Sari Ater sebagai salah satu Resort di kota Subang. Kontribusi dan koordinasi setiap divisi memiliki fungsi yang penting dan saling terkait dalam menentukan keberhasilan Sari Ater Resort

(26)

di kota Subang, selain itu peran aktif dari individu-individu yang berada di dalam sistem juga diperlukan untuk mendorong dan menjalankan visi, misi, dan tujuan Sari Ater agar menjadi lebih baik lagi, oleh karena itu aspek sumber daya manusia sangat penting untuk dibina sebagai salah satu upaya peningkatan kualitas pelayanan yang diberikan kepada wisatawan yang datang.

Secara umum klasifikasi sumber daya manusia di Sari Ater Resort ke dalam 11 Departement, hal tersebut dapat dilihat dari tabel di bawah ini:

Tabel 4.4

Klasifikasi Sumber Daya Manusia di Sari Ater Resort

NO DEPARTMENT JUMLAH TENAGA KERJA 1968 1972 1994 2008 1 Front Office 5 8 17 22 2 F & B - - 43 69 3 Rekreasi - - 75 96 4 House Keeping - - 38 57 5 Accounting - - 49 72 6 Purchasing - - 2 5 7 Security 2 4 32 42 8 General Affairs - - 3 7

9 Sales & Marketing - - 7 14

10 Engineering 4 9 36 48

11 HRD - - 12 18

12 Executive Manager & Assistant Manager

- - 19 40

TOTAL 11 21 333 490

Sumber: diolah dari data Selayang Pandang Sari Ater Hot Spring Resort Hotel, Convention and Recreation (2004: 7-9) dan Laporan Tahunan Sari Ater Resort (2008: 34-46).

Berdasarkan data di atas dapat peneliti analis bahwa setiap tahunnya jumlah tenaga kerja yang ada di Sari Ater Resort terus mengalami peningkatan disesuaikan dengan kebutuhan pihak perusahaan, seperti terjadi pada F & B, House Keeping, Accounting, Security yang terus mengalami peningkatan jumlah

(27)

tenaga kerjanya dikarenakan Sari Ater Resort setiap tahunnya terdapat pelayanan dan penambahan fasilitas, sehingga dibutuhkan penambahan tenaga kerja untuk mengurus semuanya berdasarkan bidang keahliannya.

4.2.4 Sarana dan Prasarana

Dalam perkembangannya, kegiatan pariwisata di Kabupaten Subang ditunjang oleh keberadaan dan kegiatan usaha pariwisata yang meliputi hotel atau tempat penginapan, restoran dan rumah makan. Sehingga keberadaan usaha kegiatan pariwisata sangat berperan penting dalam menunjang perkembangan pariwisata di suatu daerah.

Sari Ater Resort merupakan sebuah objek wisata alam yang menonjolkan sumber air panas alamnya. Objek wisata alam ini berada di punggung gunung Tangkuban Perahu dan dikelilingi oleh perkebunan teh. Sarana dan prasarana yang lengkap merupakan salah satu keunggulan objek wisata Sari Ater Resort, sarana dan prasarana tersebut dapat dikatakan mengikuti perkembangan jaman serta trend yang muncul disesuaikan juga dengan kondisi alam yang ada, maka dari itu objek wisata Sari Ater Resort terus berkembang sehingga produk wisata yang dibuat juga bertambah. Berikut perkembangan sarana dan prasarana objek wisata Sari Ater Resort setelah dilakukannya Restrukturisasi Organisasi :

(28)

Tabel 4.5

Perkembangan Sarana dan prasarana objek wisata Sari Ater Resor tahun 1994-2008 setelah dilakukannya Restrukturisasi Organisasi

No Tahun Sarana & Prasarana

1 1994 - 2008 Diteruskan pengembangan sarana prasarana secara menyeluruh, seperti :

1. Kolam rendam 3 unit 2. Kolam rendam Imas (kaki)

3. Kolam rendam Pulosari dan Water Slider, dsb.

2 1998 Dibangun kolam rendam air panas dengan nama Pulosari 3 1999 Dibangun kolam rendam air panas Wangsadwipa

4 2000 Dibangun Multi Function Room Dayang Sumbi 5 2001 – 2008 Dibangun fasilitas Sport & Leisure, antara lain :

1. Taman rekreasi 2. Wall Climbing 3. Flying Fox 4. Paint Ball

5. ATV Adventure, dsb.

6 2007 Dibangun kolam rendam air panas Leuwisari 7 2008 Dibangun Hotel Standar Room sebanyak 80 kamar

Sumber: diolah dari data Selayang Pandang Sari Ater Hot Spring Resort Hotel, Convention and Recreation (2004: 10-11) dan Laporan Tahunan Sari Ater Resort (2008: 48-57).

Dari data di atas dapat peneliti analisis bahwa perkembangan sarana dan prasarana Sari Ater Resort tahun 1994 – 2008 setiap tahunnya terus ditambah dan dikembangkan. Pembangunan sarana dan prasarana besar-besaran sudah dilakukan dari tahun 1968 sampai 1990an, sehingga tahun 1994 sampai 2008 hanya dilakukan penambahan dan pengembangan saja. Sarana dan prasarana yang ada di objek wisata ini sampai pada tahun 2008 masih tetap dipelihara penataannya dan pembenahanpun terus dilakukan, seperti halnya sarana pemandian kondisinya semakin tertata dan lebih permanen selain itu dengan pembangunan sarana dan prasarana pendukung terus dilakukan seperti dengan dibangunnya fasilitas sport & leisure membuat wisatawan yang datang

(29)

berkunjung ke Sari Ater Resort semakin nyaman berlama-lama menghabiskan waktu kunjungan rekreasinya di objek wisata Sari Ater Resort.

Perkembangan kegiatan pariwisata disuatu daerah sangat ditunjang oleh ketersediaan sarana dan prasarana serta usaha kegiatan pariwisata yang ada. Sesuai perkembangan, maka sarana dan prasarana serta paket wisata yang ada di Sari Ater Resort juga berkembang sesuai dengan kebutuhan wisatawan yang akan datang, perusahaan terus berupaya menyajikan segala kemudahan dan fasilitas bagi pengunjung baik wisatawan Nusantara maupun wisatawan Mancanegara. Fasilitas dan kemudahan tersebut yang tersedia antara lain:

1) Kemudahan transportasi, dari pusat kota Bandung sebagai gerbang Jawa Barat hanya memerlukan waktu sekitar 30 menit dengan kendaraan melalui jalan darat ke Ciater dengan jarak 32 Km ke arah subang, sedangkan dari Jakarta hanya memerlukan waktu 2,5 jam jalan darat (berdasarkan hasil wawancara dengan dengan Bapak Awwaludin tanggal 16 Januari 2012),

2) Suasana alam pegunungan yang asri dengan kebun teh yang menghampar hijau sepanjang jalan menuju lokasi kawasan wisata Sari Ater Resort.

3) Udara pegunungan yang segar dan bebas polusi, sehingga cocok untuk menghilangkan kejenuhan dan stres akibat tekanan pekerjaan dan kesibukan kota besar.

4) Sarana akomodasi berupa bungalow berbagai macam type seperti type Sunan Suite untuk 6 orang dan type Standar Family untuk 4 orang.

(30)

5) Sarana akomodasi berupa building hotel berbagai macam type seperti type Standar Room untuk 2 orang dan type Deluxe Balcony untuk 2 orang.

6) Sarana makan dan minum dengan aneka menu mulai dari menu tradisional sampai dengan menu Eropa seperti Restaurant Kabayan dan Cafetaria Jambu.

7) Sarana pendudukung hotel seperti Ruang Meeting dan Souvenir Shop. 8) Sarana rekreasi dan hiburan seperti kolam rendam air panas Mayang

Sari dan flying fox.

9) Berbagai paket olahraga dan rekreasi wisata lainnya seperti hiburan kesenian tradisional Sisingaan.

4.2.5 Pemasaran

Untuk meningkatkan usaha pemasaran dan promosi pariwisata, disepakati bahwa pemerintah Kabupaten Subang lebih memfokuskan perhatian kepada peningkatan image pariwisata Subang, sedangkan promosi produk wisata dilaksanakan oleh para pengusaha pariwisata. Pemerintah Kabupaten Subang bersama-sama dengan pengusaha pariwisata secara terpadu merumuskan langkah-langkah pemasaran dalam upaya meningkatkan kunjungan wisata ke Kabupaten Subang khususnya ke kawasan wisata Sari Ater Resort.

Tujuannya adalah meningkatkan jumlah kunjungan dengan budget wisatawan serta meningkatkan citra positif pariwisata di Kabupaten Subang. Sasaran pasar utama wisatawan adalah wisatawan nusantara dan mancanegara.

(31)

Upaya yang dilakukan dalam usaha pemasaran terhadap wisatawan adalah melalui publikasi dan informasi mengenai obyek dan daya tarik wisata di Subang.

Suatu tempat wisata dapat berkembang melalui adanya media promosi baik yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata setempat ataupun melalui media massa dan melalui buku-buku mungil (boklet) yang menarik, selain itu objek wisata dapat berkembang dan maju apabila di tunjang oleh sarana-sarana tempat wisata yang memadai bagi wisatawan. Salah satunya yaitu adanya sarana tempat penginapan, sarana tempat menjual makanan, sarana transportasi, sarana tempat penjualan pernak-pernik dan lain-lain, yang menjadikan munculnya keinginan wisatawan tersebut untuk berkunjung ketempat wisata tersebut (Budhisantoso, 1994: 67).

Objek wisata Sari Ater Resort merupakan salah satu perusahaan yang memiliki dedikasi terhadap prestasi Kabupaten Subang dalam kancah Nasional maupun Internasional. Banyak kegiatan yang telah diikuti oleh sari Ater Resort untuk mempromosikan Kabupaten Subang dan Resortnya sendiri, hal itu menunjukan bahwa Sari Ater Resort ikut berperan aktif dalam promosi pariwisata daerah Kabupaten Subang. Kegiatan-kegiatan promosi yang dilakukan antara lain:

(32)

Tabel 4.6

Jenis Kegiatan promosi Sari Ater Resort Tahun 1994-2008 Kegiatan Promosi

Advertising.

Kegiatan advertising yang dilakukan antara lain: a. Brosur dan flyer. b. Bilboard

c. Spanduk d. Poster e. Guide Book

f. Majalah dan Koran g. Media Elektronik

Direct Marketing. Kegiatan Direct Marketing yang dilakukan oleh Sales & Marketing adalah: a. Sales Call

b. Telemarketing

Pameran atau event-event yang berhubungan dengan pariwisata.

Sumber : diolah dari data Selayang Pandang Sari Ater Hot Spring Resort Hotel, Convention and Recreation (2004: 20-23) dan Laporan Tahunan Sari Ater Resort (2008: 58 – 61).

Dari data di atas dapat peneliti analisis bahwa Sari Ater Resort selalu mempromosikan objek wisata serta produk-produk unggulan pada target pasar, salah satunya dengan mengikutsertakan pameran atau event-event tertentu yang berhubungan dengan pariwisata yang bertujuan untuk menarik lebih banyak lagi wisatawan lokal maupun asing, selain itu Sari Ater Resort sendiri gencar dalam berpromosi baik melalui media cetak maupun elektronik, sehingga promosi dan pemasaran yang dilakukan berdampak baik kepada jumlah wisatawan yang berkunjung.

Sari Ater Resort memiliki reputasi yang baik dalam promosi pariwisata, dengan demikian Sari Ater Resort ikut membantu pembangunan Kabupaten Subang yaitu meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Jumlah wisatawan yang datang ke Sari Ater Resort sangat tinggi artinya keberadaan Sari Ater Resort

(33)

sangat berpengaruh keberadaannya terhadap kondisi pariwisata di Kabupaten Subang.

Kawasan wisata Sari Ater Resort dari tahun 1994-2008 mengalami perkembangan yang pesat baik dari segi jumlah pengunjung maupun dari sarana dan prasarana penunjangnya. Hal ini dikarenakan Sari Ater Resort sebagai tempat wisata mampu memberikan banyak sekali keanekaragaman wisatanya yang pada masa sekarang wisata sudah menjadi kebutuhan bagi masyarakat. Berikut adalah jumlah kunjungan wisatawan yang berkunjung ke Sari Ater Resort berdasarkan asal wisatawan.

Tabel 4.7

Jumlah Pengunjung Menurut Asal Wisatawan Tahun 1994 s/d 2008

Tahun Wisatawan Jumlah

Nusantara Mancanegara 1994 1.004.232 50.532 1.054.764 1995 1.144.691 42.724 1.187.415 1996 1.157.217 39.887 1.197.104 1997 1.180.500 22.806 1.203.306 1998 828.775 10.970 839.745 1999 1.012.357 30.658 1.043.015 2000 1.315.052 5.364 1.320.416 2001 1.274.361 3.516 1.277.877 2002 988.370 2.810 991.180 2003 1.109.639 2.572 1.112.211 2004 1.179.100 950 1.180.050 2005 1.132.344 718 1.333.062 2006 1.137.366 1.435 1.138.801 2007 1.230.538 6.630 1.237.168 2008 1.247.382 12.132 1.259.514 Total 16.941.924 233.704 17.175628

Sumber: diolah dari data Laporan Tahunan Sari Ater Resort (2008: 34-46).

Dari data di atas dapat peneliti analisis bahwa berdasarkan jumlah pengunjung Sari Ater Resort setiap tahunnya selalu mengalami peningkatan,

(34)

seperti kedatangan wisatawan dari tahun ke tahun (1994-1997) mengalami kenaikan yang cukup baik, namun pada tahun 1998 mengalami sedikit penurunan yang dikarenakan krisis moneter yang melanda Negara Indonesia di tahun tersebut. Tahun 1999 kedatangan wisatawan kembali normal seperti biasanya, yaitu naik dari tahun sebelumnya. Tahun 2002 wisatawan kembali mengalami penurunan. Setelah masuk tahun 2003 sampai tahun 2008 kedatangan wisatawan terus meningkat, namun secara keseluruhan selama 14 tahun pengunjung wisata Sari Ater Resort terus mengalami peningkatan, dengan rata-rata peningkatan sekitar 5%. Jumlah pengunjung yang datang ke Sari Ater Resort mencapai 1.000.000 orang tiap tahunnya, pengeluaran pengunjung yang datang tersebut tiap orangnya sekitar Rp. 100.000 sampai Rp. 200.000 perorang dan tujuan pengeluaran tersebut digunakan untuk transfortasi, tiket masuk, makan, minum dan penginapan. Besarnya pengeluaran mereka tergantung dari tujuan mereka datang ke kawasan tersebut seperti untuk rekreasi dan berkemah, dengan demikian dapat digambarkan bahwa objek wisata Sari Ater Resort mengalami perkembangan yang cukup baik dari segi pengunjung, yang menggambarkan kebutuhan masyarakat akan pariwisata mulai meningkat, dan kebutuhan kegiatan pariwisata ini bukan lagi hanya sebagai pelengkap saja melainkan sudah menjadi kebutuhan primer bagi masyarakat Indonesia.

Untuk meningkatkan jumlah kunjungan diperlukan program pemasaran yang tepat antara lain dengan melakukan kegiatan promosi meliputi periklanan, personal selling, promosi penjualan dan public relation. Dengan demikian promosi nerupakan salah satu faktor penentu keberhasilan program pemasaran.

(35)

Betapapun berkualitasnya suatu produk, bila konsumen belum pernah mendengarnya, konsumen tidak akaan membeli produk tersebut. Pengertian umum promosi adalah bagaimana mengkomunikasikan kebutuhan antara penjual atau penyedia dan pembeli untuk meyakinkan calon pembeli sehingga dapat membeli produk yang ditawarkan. Tujuan utama promosi adalah menginformasikan, mempengaruhi dan membujuk serta meningingatkan pelanggan sasaran tentang perusahaan dan bauran pemasarannya.

4.3 Dampak Perkembangan Kawasan Wisata Sari Ater Resort Terhadap Perubahan Sosial Ekonomi Penduduk Desa Ciater Kecamatan Ciater Kabupaten Subang Tahun 1994-2008

Sub bab ini merupakan hasil analisis terhadap pertanyaan penelitian yang terakhir mengenai dampak keberadaan kawasan wisata Sari Ater Resort terhadap perubahan sosial ekonomi masyarakat Desa Ciater Kecamatan Ciater Kabupaten Subang tahun 1994-2008 akan diawali dalam sub bab ini. Kondisi sosial masyarakat Desa Ciater Kecamatan Ciater pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari pengaruh adanya berbagai tempat wisata di Kecamatan Ciater yang salah satunya yaitu Sari Ater Resort.

Terjadinya perubahan dari masyarakat pertanian ke masyarakat berwiraswasta berpengaruh terhadap penghasilan yang diperoleh oleh masyarakat. Jika dilihat dari taraf kesejateraan hidup masyarakat yang tinggal di kawasan wilayah Sari Ater Resort, masyarakat sekitar telah banyak mengalami perubahan. Hal tersebut terlihat dari komposisi masyarakat yang awalnya mayoritas bermata

(36)

pencaharian sebagai buruh tani dan pemetik teh (buruh), kemudian setelah kawasan wisata Sari Ater Resort ini lebih berkembang karena pada saat itu pemerintah mengeluarkan Undang-undang mengenai kepariwisataan (UU) No 9 tahun 1990, sehingga Desa Ciater Kecamatan Ciater yang pada saat itu dijadikan sebagai komoditas pariwisata utama di wilayah Subang terus didukung oleh pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Barat dengan menggalakan upaya-upaya yang mendukung perkembangan wilayah tersebut dalam rangka menambah devisa, sehingga mata pencaharian penduduk berubah menjadi pedagang, pengrajin dan pengusaha, serta dengan adanya mata pencaharian baru tersebut, maka munculah kelompok sosial yang baru seperti pengrajin, pegawai toko, pegawai hotel, pedagang, pengusaha dan mulai muncul bandar-bandar yang mensuplay barang-barang untuk didagangkan, dan hal itu mengakibatkan munculnya pelapisan sosial dalam masyarakat Desa Ciater Kecamatan Ciater Kabupaten Subang.

Berdasarkan hal di atas, perkembangan sektor wisata yang ada di Desa Ciater Kecamatan Ciater salah satunya yaitu objek wisata Sari Ater Resort, telah mewarnai pola mata pencaharian masyarakat setempat yang tadinya bekerja pada sektor pertanian dan perkebunan, kemudian secara bertahap bergeser kepada sektor perdagangan, jasa pegawai, wiraswasta dan sebagainya. Sektor pariwisata muncul karena adanya kebutuhan bathiniyah manusia akan keindahan alam, seni, budaya yang bertujuan untuk mencari keseimbangan, keserasian dalam dimensi sosial budaya dan ilmu. Kemunculan objek wisata Sari Ater Resort dipengaruhi salah satunya oleh kebutuhan manusia akan rekreasi alam yang indah yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa, yang mengakibatkan munculnya

(37)

ketertarikan guna menikmati keindahan yang telah diciptakan. Dimasa sekarang ini bagi sebagian orang menikmati wisata alam adalah suatu kebutuhan yang harus dipenuhi karena wisata alam bagi sebagian orang dapat menghilangkan rasa stres akibat aktivitas kesibukan sehari-hari.

Adanya Sari Ater Resort ini berdampak positif terhadap masyarakat Desa Ciater yang tinggal di sekitar kawasan Sari Ater Resort ini. Hal ini dikarenakan terbukanya kesempatan bagi masyarakat di dalam meningkatkan kehidupan perekonomiannya. Disamping itu, membuka kesempatan kerja yang luas bagi masyarakat sekitar. Keberadaan Sari Ater Resort selain berdampak pada kehidupan sosial ekonomi masyarakat, dilain pihak berpengaruh luas terhadap banyak hal salah satunya Bangsa dan Negara.

Dari gambaran di atas, dapat dihubungkan dengan penelitian yang peneliti kaji yaitu mengenai pembahasan dampak objek wisata Sari Ater Resort terhadap lingkungan masyarakat sekitar. Dampak dari adanya suatu tempat wisata bisa mencakup beberapa aspek, diantaranya aspek lingkungan hidup. Keberadaan suatu tempat pariwisata dalam lingkungan hidup sangat besar pengaruhnya, terutama bagi lingkungan hidup alamiah yang menempatkan adanya suatu interaksi antara wisatawan yang berkunjung dengan lingkungan sekitar maupun masyarakatnya. Hal ini tidak dapat dihindarkan bahwa pariwisata bisa mempengaruhi ekosistem yang telah ada sebelumnya.

4.3.1. Perubahan Sosial Ekonomi Masyarakat Desa Ciater di Kawasan Objek Wisata Sari Ater Resort

(38)

Dampak ekonomi kegiatan pariwisata alam yang dilihat dalam kegiatan penelitian ini adalah dampak keberadaan objek wisata Sari Ater Resort dalam meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar seperti kesempatan kerja dan juga kesempatan berusaha. Kegiatan penelitian ini dilaksanakan di kawasan wisata Sari Ater Resort dan masyarakat sekitar yang tinggal di kawasan wisata Sari Ater Resort Desa Ciater Kecamatan Ciater Kabupaten Subang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana dampak dari adanya objek wisata Sari Ater Resort terhadap masyarakat Desa Ciater yang mengandalkan perekonomiannya dari adanya Sari Ater Resort tersebut.

Sari Ater Resort terletak di jalur ramai yaitu dijalur utama antara Subang-Bandung yang cukup banyak dilalui orang-orang. Selain itu juga, Ciater letaknya dekat dengan kawasan wisata lainnya seperti kawasan wisata gunung Tangkuban Perahu, yang menjadikan kawasan wisata Sari Ater Resort banyak didatangi oleh penduduk dari daerah Bandung, Jakarta dan dari kota-kota lainnya. Berkembangnya Sari Ater Resort menjadi sebuah kawasan wisata telah membawa perubahan pada kondisi ekonomi masyarakat sekitarnya. Pengaruh keberadaan kawasan wisata tersebut terhadap lingkungan sekitar dapat dirasakan oleh penduduk yang ada di wilayah tersebut, hal itu dapat dilihat dari semakin luasnya kesempatan kerja dan kesempatan berusaha bagi mereka. Terutama oleh mereka yang melakukan aktifitas perdagangan di sekitar kawasan wisata Sari Ater Resort. Stynes (1997) menyebutkan bahwa dampak ekonomi total dari wisata dalam suatu kawasan merupakan penjumlahan dari direct, indirect dan induced effects di kawasan tersebut. Direct effects adalah perubahan produksi yang berkaitan dengan

(39)

efek langsung dari perubahan dalam pengeluaran pariwisata. Directs effects yang dialami para pengusaha jasa wisata di Sari Ater Resort antara lain adanya peningkatan pendapatan pada musim ramai pengunjung. Pada saat sepi pengunjung, uang yang diperoleh berkisar antara Rp. 300.000 (pedagang), Rp. 100.000 (tukang parkir), Rp. 500.000 (pemilik penginapan, hotel, motel) per hari. Apabila saat ramai pengunjung pendapatan mereka bisa bertambah sekitar 100% - 200% dari hari-hari biasa atau pada saat ramai pengunjung yaitu sekitar Rp. 600.000 - Rp. 900.000 (pedagang), Rp. 1.000.000 – Rp. 1.250.000 (pemilik hotel, motel, penginapan) per hari.

Indirects Effects adalah perubahan produksi yang dihasilkan dari perputaran pengeluaran perindustrian perhotelan untuk industri lainnya yang berkaitan dengan industri perhotelan tersebut (misalnya industri penyedia produk dan jasa untuk hotel tersebut). Pada umumnya para pengusaha jasa wisata di Ciater yang sudah cukup maju, mereka mensuplai produk-produk mereka dari masyarakat sekitar. Tetapi mereka tidak bersedia untuk memberikan data dan informasi secara mendetail. Pada umumnya pengusaha kecil, seperti misalnya warung makanan dan minuman dan penjual cinderamata eceran mereka tidak memiliki catatan pengeluaran yang lebih rinci. Mereka hanya menghitung jumlah uang yang mereka dapatkan dan kemudian menyisihkannya kembali untuk modal keesokan harinya.

Induced Effects adalah perubahan dalam kegiatan ekonomi yang dihasilkan dari pengeluaran rumah tangga dan pendapatan yang diperoleh secara langsung atau tidak langsung dari wisata. Misalnya saja pegawai hotel yang

(40)

didukung secara langsung maupun tidak langsung oleh kegiatan wisata, membelanjakan pendapatan mereka didaerahnya untuk perumahan, makanan, transfortasi dan kebutuhan lainnya. Transaksi, pendapatan, dan pekerjaan yang dihasilkan dari pengeluaran rumah tangga yang meningkatkan gaji, atau pendapatan pemilik usaha merupakan Induced Effects.

Kegiatan wisata yang banyak dilakukan dikawasan wisata Sari Ater Resort antara lain rekreasi, outbound, sport & leisure, pertunjukan seni dan sebagainya. Jenis lapangan pekerjaan yang terbuka bagi masyarakat sekitar antara lain, pedagang, mulai dari penjual makanan dan minuman, penjual souvenir, penjual tanaman hias, hasil pertanian dan lain-lain, kemudian menjadi karyawan hotel, wisma, penginapan, tukang ojeg, tukang parkir dan juga pemandu wisata. Dari hasil yang didapat, terlihat bahwa kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar lebih banyak. Hal ini dikarenakan jumlah pengunjung yang datang ke Sari Ater Resort yang ramai.

Berkaitan dengan perubahan mata pencaharian pada masyarakat, berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Imas (tanggal 16 Januari 2012), mengatakan bahwa mata pencaharian masyarakat sekitar objek wisata Sari Ater Resort mendapatkan kesempatan kerja selain bertani antara lain banyak yang menjadi pedagang, baik itu menjual hasil pertanian, souvenir, buruh, dan penjaga villa. Banyaknya kesempatan kerja yang dialami oleh masyarakat dikarenakan banyaknya jumlah pengunjung yang datang ke kawasan tersebut sehingga masyarakat lebih memiliki kesempatan untuk melakukan kegiatan-kegiatan ekonomi selain bertani demi untuk melayani dan memenuhi kebutuhan para

(41)

pengunjung tersebut. Pariwisata selain dapat menimbulkan dampak positif bagi masyarakat, kegiatan pariwisata alam juga menimbulkan beberapa permasalahan antara lain berupa timbulnya permasalahan kriminalitas, timbulnya tindakan-tindakan yang asusila, kemudian pengurangan debit air besih, terjadinya pencemaran oleh sampah dan adanya vandalisme (corat-coret).

Kesempatan kerja yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kesempatan bagi seseorang untuk mendapatkan pekerjaan yang berkaitan dengan pengelolaan objek wisata Sari Ater Resort sehingga mendapatkan penghasilan. Kesempatan kerja dalam pengelolaan objek wisata tersebut seperti penjaga pintu gerbang, penjual karcis, petugas kebersihan, petugas sewa pondok , pedagang, penyewaan penginapan, dan sebagainya. Sebagian besar penduduk Desa Ciater terserap menjadi tenaga kerja di objek wisata Sari Ater Resort, baik sebagai tenaga formal maupun tenaga informal. Gamal Suwantoro (2004: 35) mengemukakan bahwa selain sebagai bahan penggerak ekonomi, pariwisata merupakan wahana yang menarik untuk mengurangi angka pengangguran, karena dapat menciptakan lapangan kerja bagi penduduk sekitarnya, dengan demikian keberadaan objek wisata Sari Ater Resort memberikan kesempatan kerja bagi masyarakat Desa Ciater untuk bekerja di pengelolaan objek wisata tersebut walaupun masih rendah. Kesempatan berusaha yang dimaksud dalam penelitian ini adalah dengan adanya objek wisata Sari Ater Resort diharapkan dapat memberikan tempat usaha baru bagi keluarga masyarakat Desa Ciater. Kesempatan berusaha tersebut seperti membuka warung makan, menjadi pedagang cindramata, penjaja makanan dan minuman serta penjual jasa. Seperti yang dikemukakan Departemen Pariwisata

(42)

(2004: 17) bahwa manfaat ekonomi pembangunan pariwisata selain membuka lapangan kerja bagi penduduk sekitar, juga memberikan kesempatan berusaha, baik usaha langsung maupun tidak langsung, baik pada waktu sebelum maupun sesudah berlangsungnya kegiatan kepariwisataan itu sendiri.

Adapun contoh jenis usaha yang dilakukan penduduk Desa Ciater adalah : 1. Kios makanan dan cindramata.

Di sekitar objek wisata Sari Ater Resort banyak dijumpai kios-kios makanan, minuman serta kios cindramata yang dibuka oleh para wirausahawan khususnya dari Desa Ciater, yang menyediakan berbagai macam jenis makanan dan minuman ringan serta jenis cindramata dan hasil kerajinan.

2. Penginapan

Selain berbagai macam jenis makanan, minuman serta cindramata yang disuguhkan oleh para wirausaha atau pedagang, di objek wisata Sari Ater Resort juga berdiri penginapan-penginapan baik berupa hotel maupun tempat tinggal milik para penduduk Desa Ciater.

4.3.2. Tingkat Kesejahteraan

Keberadaan kawasan wisata Sari Ater Resort dalam kegiatan perekonomian secara langsung maupun tidak langsung telah memberikan kontribusi dalam upaya meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat Desa Ciater Kecamatan Ciater Kabupaten Subang. Penghasilan yang diperoleh dari pekerjaan ini mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari bahkan lebih dari cukup

(43)

sehingga dapat mencukupi kebutuhan lainnya. Hal yang tidak mungkin dilupakan dapat menunjang tumbuh dan berkembangnya objek wisata di suatu daerah yaitu partisipasi masyarakat. Peran aktif masyarakat dalam kegiatan kepariwisataan di kawasan wisata Sari Ater Resort sangat kelihatan, hal ini terbukti dengan banyaknya penduduk Desa Ciater yang ikut memanfaatkan kepariwisataan di daerah itu, sebagai sarana untuk menambah penghasilan.

Tingkat kesejahteraan dalam penelitian ini dijelaskan dengan melihat tingkat penghasilan yang diterima oleh masyarakat yang terlibat langsung dalam kegiatan ekonomi di sekitar kawasan objek wisata Sari Ater Resort, di dalam hal ini yang dimaksud adalah para pedagang dan pekerja yang terlibat dalam kegiatan perekonomian di sekitar kawasan objek wisata Sari Ater Resort. Untuk kesejahteraan, taraf hidup masyarakat sekitar yang tinggal di sekitar kawasan objek wisata Sari Ater Resort memiliki perubahan yang signifikan, ini dilihat dari kondisi fisik bangunan yang mereka miliki sudah permanen. Hal ini terkait dengan adanya perubahan dalam mata pencaharian pada masyarakat. Mereka mendapat uang lebih besar dengan menjadi pedagang atau pemilik penginapan dari pada bekerja menjadi buruh tani.

4.3.2.1 Tingkat Kesejahteraan Pedagang

Seiring perkembangan Sari Ater Resort sebagai tempat wisata alam menjadikan masyarakat Desa Ciater yang tinggal di sekitar objek wisata Sari Ater Resort terkena dampak positif dari adanya objek wisata alam tersebut. Walaupun pada awalnya masyarakat Desa Ciater telah mempunyai mata

(44)

pencaharian tetap yaitu sebagai buruh tani dan buruh perkebunan, namun dengan ramainya objek wisata Sari Ater Resort dikunjungi oleh wisatawan menjadikan masyarakat sekitar tertarik untuk melakukan pekerjaan lain disamping buruh tani yaitu masyarakat melakukan kegiatan berdagang guna menambah kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Kegiatan berdagang pada awalnya dilakukan masyarakat sekitar hanya sebagai sampingan saja karena masyarakat sekitar telah mempunyai mata pencaharian tetap yaitu bertani dan pemetik teh (buruh perkebunan). Kegiatan berdagang hanya dilakukan oleh masyarakat Desa Ciater dimana ketika Sari Ater Resort ramai dikunjungi oleh wisatawan, namun setelah dilakukan restrukturisasi organisasi pada tahun 1994 yang mengakibatkan menjadi semakin berkembangnya Sari Ater Resort, menjadikan masyarakat Desa Ciater tidak lagi menjadikan kegiatan bertani sebagai mata pencaharian utama, dikarenakan sektor usaha berdagang dirasakan lebih mampu mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga, serta kegiatan berdagang tidak memerlukan keahlian yang khusus yang menjadikan banyak warga Desa Ciater beralih mata pencaharian menjadi pedagang (hasil wawancara dengan Ibu Hj. Mimin pada tanggal 18 Juni 2012).

Mata pencaharian dalam rentan waktu 1994-2008, setelah kawasan wisata Sari Ater Resort mengalami perkembangan, banyak masyarakat yang mendapatkan kontribusi dari usaha lain disamping buruh tani yaitu masyarakat banyak yang menjadi pedagang, pegawai hotel, pegawai penginapan, pelayan rumah makan/restoran, pegawai/karyawan swasta dan lain-lain. Bahkan jika

(45)

usahanya terbilang sukses, tidak menutup kemungkinan lagi seseorang untuk menjadi pengusaha. Dari pekerjaan tersebut, setidaknya penghasilan yang didapat oleh mereka mampu menutupi kebutuhan sehari-hari. Bertambahnya kelompok golongan pedagang di sekitar kawasan wisata Sari Ater Resort menjadi pedagang menetap pada waktu itu sangat sulit dikarenakan tidak ada tempat khusus untuk berjualan, namun setelah pihak perusahaan membuka sebuah lahan milik PTPN VIII Ciater yang disewa oleh pihak perusahaan untuk digunakan oleh masyarakat sebagai tempat berjualan, maka akhirnya masyarakat memperoleh kesempatan kerja dan kesempatan berusaha yang baru dengan adanya objek wisata Sari Ater Resort. Setelah dibangunnya lahan tersebut, akhirnya masyarakat setempat mulai bisa berdagang secara menetap di kawasan wisata Sari Ater Resort.

Perkembangan kawasan wisata Sari Ater Resort yang pesat berdampak positif terhadap masyarakat sekitar yang mengandalkan kehidupan perekonomiannya dari adanya objek wisata Sari Ater Resort, karena penghasilan yang didapat dari kegiatan berdagang dirasakan mampu untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Pada tahun 1994 harga beras 1 kg berkisar antara Rp. 750 – Rp. 800,-. Tidak jauh dengan harga rata-rata barang di kawasan wisata Sari Ater Resort. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan mengenai daftar harga bahan-bahan pokok di Kecamatan Ciater Kabupaten Subang tahun 1993-2000 pada tabel berikut.

(46)

Tabel 4.8

Harga Bahan Pokok di Kabupaten Subang tahun 1993-2000

Tahun Jenis Komoditi Beras (kg) Ikan Asin (kg) Minyak Goreng (kg) Gula Pasir (kg) Garam (Bata) Minyak Tanah (Liter) Sabun Cuci (batang) 1993 575,55 2.250,00 1.066,35 1.250,00 225,00 349,48 600,00 1994 755,00 2.450,00 1.758,00 1.285,00 244,00 350,00 650,00 1995 875,55 2.775,25 1.654,90 1.453,65 450,00 350,00 950,25 1996 895,15 3.560,35 1.558,89 1.485,55 150,51 350,00 1.048,33 1997 1.050,00 4.575,25 1.839,38 1.525,45 370,82 350,00 1.206,25 1998 1.145,35 4.595,35 1.985,75 1.635,00 400,35 350,00 1.275,87 1999 1.455,00 4.825,15 2.268.58 1.825,55 465,15 500,00 1.456,87 2000 1.575,15 4.925,45 2.345,00 1.955,75 495,25 500,00 1.578,45 Sumber: diolah dari data Badan Pusat Statistik Kabupaten Subang angka tahun 1993-2000

Menurut tabel di atas dapat peneliti analisis bahwa setiap tahunnya harga bahan pokok di atas mengalami kenaikan, walaupun ada beberapa bahan pokok yang mengalami penurunan. Hal itu memberikan dampak bagi pendapatan yang diperoleh oleh para penduduk, dengan kata lain bahwa kenaikan bahan pokok juga mengakibatkan kenaikan pendapatan bagi penduduk secara bertahap. Berikut adalah tabel rata-rata pendapatan penghasilan masyarakat Desa Ciater Kecamatan Ciater Kabupaten Subang menurut jenis pekerjaannya. Untuk lebih jelasnya mengenai tingkat kemampuan perkembangan kawasan wisata Sari Ater Resort ini terhadap kondisi ekonomi penduduk sekitar, diambil beberapa orang sampel yang mewakili setiap pekerjaan penduduk saat itu, seperti pedagang dan petani.

(47)

Adapun rata-rata pendapatan penghasilan masyarakat Desa Ciater Kecamatan Ciater Kabupaten Subang menurut jenis pekerjaannya adalah sebagai berikut:

(48)

Tabel 4.9

Rata-rata pendapatan penghasilan penduduk Desa Ciater Kecamatan Ciater Kabupaten Subang menurut jenis pekerjaannya

Nama

Tahun 1994 Tahun 2000 Tahun 2008 Jenis Pekerjaan Penghas

ilan Tetap Penghasilan dari kegiatan perekonomi an di kawasan wisata Sari Ater Resort Jumlah penghasil an

Jenis Pekerjaan Penghas ilan tetap Penghasilan dari kegiatan perekonomi an di kawasan wisata Sari Ater Resort Jumlah penghasil an

Jenis Pekerjaan Penghasil an Tetap Penghasilan dari kegiatan perekonomi an di kawasan wisata Sari Ater Resort Jumlah penghasil an Utama Sampi ngan Utama Samping an Utama Sampin gan Atang Petani - Rp. 550.000 Rp. 250.000 Rp. 800.000 Petani Pedagan g Kelonton gan Rp.1.00 0.000 Rp. 1.000.000 Rp. 2.000.000 Petani Pedaga ng Kelont ongan Rp. 1.500.000 Rp. 1.500.000 Rp. 3.000.000 Imas Pedaga ng Kelonto ngan - Rp. 750.000 (Pengha silan Suami) Rp. 500.000 Rp. 1.250.000 Pedagang Kelonton gan - Rp. 1.250.0 00.(Pen ghasilan Suami) Rp. 1.000.000 Rp. 2.250.000 Pedagang Kelontong an - Rp. 1.750.000 (Penghasi lan Suami) Rp. 1.500.000 Rp. 3.250.000 Aan Mulyana Security - - Rp. 800.000 Rp. 800.000 Security - - Rp. 1.200.000 Rp. 1.200.000 security Pedaga ng Kelont ongan Rp. 1.500.000 Rp. 1.500.000 Rp. 3.000.000 Hj. Mimin Pedaga ng Kelonto ngan - - Rp. 1.000.000 Rp. 1.000.000 Pedagang Kelonton gan dan Pakaian - - Rp. 2.000.000 Rp. 2.000.000 Pedagang Kelontong an dan Pakaian - - Rp. 3.000.000 Rp.3.000. 000 Rosidin Petani - Rp.500. 000 - Rp.500.00 0 Petani Tukang Sewa Tikar Rp.800. 000 Rp.500.000 Rp. 1.300.000 Pedagang Asongan Tukang Sewa Tikar - Rp. 1.800.000 Rp. 1.800.000

Referensi

Dokumen terkait

Beberapa studi telah mengkaji mengenai dampak kegiatan wisata terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat sekitar kawasan wisata, antara lain oleh Suandy (1998)

melimpahkan karunia dan rahmat-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Kawasan Pabrik

Adanya Fenomena tersebut memunculkan pertanyaan yang kemudian menjadi pertanyaan penelitian dalam penelitian ini adalah : Bagaimana pengaruh Keberadaan Kawasan Wisata

Bedasarkan hasil analisis dari perubahan penggunaan lahan pada kawasan objek wisata Bukit Kasih Kanonang maka dapat disimpulkan bahwa objek wisata mempengaruhi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor pendorong dalam pembukaan dan pengelolaan kawasan objek wisata pantai tersebut dilatarbelakangi oleh beberapa faktor antara

Beberapa studi telah mengkaji mengenai dampak kegiatan wisata terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat sekitar kawasan wisata, antara lain oleh Suandy (1998)

Judul Skripsi Nama i�ilTt Program Studi : Pengaruh Faktor Sosial Ekonomi Terhadap Persepsi Masyarakat Tentang Keberadaan Kawasan Hutan Taman Wisata Alam Sibolangit : Lusiana

Peran Pembangunan Kawasan Wisata Jawa Timur Park II terhadap Kesempatan Kerja Baru Hasil penelitian sehubungan dengan peran pembangunan kawasan wisata JTP 2 terhadap perekonomian