PERSETUJUAN SEBAGAI RESPONDEN PENELITIAN
PEDOMAN WAWANCARA MENDALAM TUGAS POKOK
1. Apakah di IFRS ini sudah melangsungkan pelayanan kefarmasian yang optimal ? jika sudah, pelayanan apa sajakah yang telah dilakukan, jelaskan ?
... ... ... 2. Apakah IFRS ini menyelenggarakan kegiatan pelayanan farmasi professional berdasarkan prosedur kefarmasian dan etik profesi yang sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2009 dan Cara Pelayanan Kefarmasian yang Baik (Good Pharmachy Practice/GPP) ? Apabila iya, pelayanan professional apa sajakah yang telah dilakukan, jelaskan ?
……… ……… ………
3. Apakah IFRS ini melaksanakan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi ? Apabila iya, informasi apa sajakah yang diberikan kepada pasien, jelaskan ?
……… ……… ………
4. Apakah IFRS memberikan pelayanan bermutu melalui analisa, dan evaluasi guna meningkatkan mutu pelayanan farmasi yang sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2009 dan Cara Pelayanan Kefarmasian yang Baik (Good Pharmachy Practice/GPP) ? Apabila iya, pelayanan bermutu apa saja yang telah dilakukan, jelaskan ?
... ... ... 5. Apakah IFRS telah menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan di bidang farmasi ? Apabila iya, pelatihan dan pendidikan apa saja yang telah diberikan, jelaskan ?
………
6. Apakah IFRS telah melangsungkan penelitian dan pengembangan di bidang farmasi ? Apabila iya, penelitian dan pengembangan apa saja yang telah di lakukan, jelaskan ?
……… ……… ………
7. Apakah IFRS telah memfasilitasi dan mendorong tersusunnya standar pengobatan dan formularium rumah sakit ? Apabila iya, fasilitas apa sajakah yang digunakan guna tersusunnya standar pengobatan dan formularium rumah sakit ?
……… ……… ………
FUNGSI POKOK
A. Pengelolaan Perbekalan Farmasi
1. Bagaiman cara memilih perbekalan farmasi yang sesuai dengan kebutuhan rumah sakit ?
……… ……… ……….
2. Bagaimana cara merencanakan kebutuhan perbekalan farmasi secara optimal ?
……… ……… ………..
3. Bagaimana mengadakan perbekalan farmasi yang berpedoman pada perencanaan yang telah dibuat sesuai kebutuhan yang berlaku ?
……… ……… ……….
4. Bagaimana memproduksi perbekalan farmasi untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan di rumah sakit ?
……… ……… ………
5. Bagaimana menerima perbekalan farmasi sesuai dengan spesifikasi dan ketentuan yang berlaku ?
……… ……… ………
6. Bagaimana menyimpan perbekalan farmasi sesuai dengan spesifikasi dan persyaratan kefarmasian ?
……… ……… ………
7. Bagaimana mendistribusikan perbekalan farmasi ke unit-unit pelayanan di rumah sakit ?
……… ……… ………
B. Pelayanan Kefarmasian Dalam Penggunaan Obat Dan Alat Kesehatan
1. Bagaimana cara mengkaji instruksi pengobatan atau resep pasien ?
……… ……… ………
2. Bagaimana cara mengidentifikasi masalah yang berkaitan dengan penggunaan obat dan alat kesehatan ?
……… ……… ………
3. Bagaimana memantau efektifitas dan keamanan penggunaan obat dan alat kesehatan ?
……… ……… ………
4. Bagaimana cara memberikan informasi kepada petugas kesehatan, pasien atau keluarga ?
……… ……… ………....
keluarga ?
……… ……… ………
6. Bagaimana cara melakukan pencampuran untuk pobat-obat suntik ?
……… ……… ………
7. Bagaimana cara melakukan penyiapan nutrisi parenteral ?
……… ……… ………
8. Bagaimana melakukan penanganan obat kanker ?
……… ……… ………
9. Bagaimana menentukan kadar obat dalam darah ?
……… ……… ………
10. Bagaimana cara melakukan pencatatan pada setiap kegiatan yang dilakukan ?
……… ……… ………
11. Bagaimana cara melaporkan pada setiap kegiatan yang dilakukan ?
……… ……… ………
……… ……… ………
Bagaimana kondisi didalam maupun diluar lingkungan IFRS ?
……… ……… ………
Kepala Sub Instalasi Farmasi Rawat Jalan dan Kepala Instalasi Rawat Jalan
1. Ceritakan kondisi pelayanan kefarmasian yang telah dilakukan oleh IFRS selama ini?
……… ……… ………
2. Menurut anda, bagaimana keadaan internal IFRS ini?
……… ……… ………
3. Menurut anda, bagaimana keadaan eksternal IFRS ini?
……… ……… ………..
Petugas Instalasi Farmasi Rawat Jalan
1. Ceritakan kepuasan dan ketidakpuasan anda terhadap pekerjaan yang anda lakukan selama ini?
……… ……… ………..
Kepala Poliklinik
1. Ceritakan sejauh mana pelayanan yang telah dilakukan IFRS selama ini?
……… ……… ………
TRANSKIP WAWANCARA KEPALA INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Prof. Dr. MARGONO SOEKARDJO
Peneliti :”Assalamualaikum. Wr. Wb. Nama saya Iin Atikah, saya
mahasiswa farmasi dari UMP, saya ingin mewawancarai bapak untuk kepentingan penelitian skripsi saya yang berjudul perumusan analisis SWOT pelayanan kefarmasian di instalasi farmsi rawat jalan RSUD Prof. Dr. Margono Purwokerto ini.
Ehhmm…Tentang…..”
Ka IFRS :”Lanjut saja..”
Peneliti :”Tentang tugas dan fungsi pokok itu pak, yang di instalasi farmasi.”
Ka IFRS :”Tugas dan Fungsi pokok?”
Peneliti :” iya..”
Ka IFRS :Kenapa?
Peneliti :”Ehmm….Apakah IFRS ini sudah melangsungkan pelayanan yang optimal? Jika sudah pelayanan kefarmasian apa sajakah yang telah dilakukan?”
Ka IFRS :”yaa… kalau menurut saya, Iya, sudah. Dari mulai
apa…hmmmm…apa managering drug suplay, suplai obat dan alat kesehatan, iyaa kan. sampai hhmm… apa namanya…dengan penggunaan, bahkan ada.. ada….kita punya biopasif, terus
kemudian apa namanya… mulai dari perencanaan,
hmmm…pengadaan, penyimpanan, dan pendistribusian perbekalan
farmasi.”
Peneliti :”Hhmmm…Apakah IFRS telah menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan dibidang farmasi? Jika iya , pelatihan dan pendidikan apa saja yang telah diberikan, jelaskan?”
PKPA (Praktek Kerja Profesi Apoteker) dan D3 farmasi.”
Peneliti :“Hmm... Apakah IFRS ini menyelengggarakan kegiatan pelayanan
farmasi yang professional berdasarkan prosedur kefarmasian dan etik profesi? Apabila iya, pelayanan professional apa sajakah yang telah dilakukan, jelaskan?
Ka IFRS : “Hhhm....iya, ee..anu.. yaa.. saya fikir tenaga farmasi di IFRS ini
sangat kompeten dan sangat berpengalaman, sehingga dalam melakukan pelayanannya mereka itu udah professional yaa..
Peneliti :”Kemudian hmm.. apakah IFRS ini memberikan pelayanan yang
bermutu melalui analisa, dan evaluasi guna meningkatkat mutu pelayanan kefarmasian? Apabila iya, Pelayanan mutu apa saja yang telah dilakukan, jelaskan?
Ka IFRS :”Eehhmmm... iya.untuk anu... apa namanya.. evaluasi kita adakan
setahun 2 kali, dari semua kegiatan di baik farmasi klinik maupun persediaan obat.
Peneliti :” untuk pertanyaan selanjutnya...apakah IFRS ini telah
melangsungkan penelitian dan pengembangan di bidang farmasi? Apabila iya, pengembangan dan penelitian apa saja yang telah dilakukan?
Ka IFRS :”ee...Iyaa, itu..anu..apa namanya...seperti farmasi klinik dan
farmasi manajemen.
Peneliti :”Kan untuk tugas dan fungsi pokokny itu banyak yaa pak, dari semua point itu tuh apakah ada pelayanan yang paling baik yang
pernah dilakukan? Kayak misalkan… ada tentang KIE. Untuk KIE nya di IFRS itu berjalan dengan baik atau tidak?”
terutama menjelang bulan puasa di rawat jalan, nanti bulan Juni,
akhir Juni ini hhmmm… apa namanya… akan, sorry bulan Juli,
awal Juli akan kita langsungkan. Asuhan kefarmasiannya itu tentang bagaimana cara meminum obatnya ketika bulan
Ramadhan.”
Peneliti :”Apakah IFRS ini melaksanakan Komunikasi, Informasi dan Edukasi? Apabila iya informasi apa sajakah yang diberikan kepada pasien ?”
Ka IFRS :” Kepada Mereka?”
Peneliti :”Iya…”
Ka IFRS :”Yaa….artinya, ini kan forentir, pasiennya mau ikut apa tidak. Jika dia mau ikut pertama kita wawancara dulu kepada pasiennya bagaimana pola makannya sebelum puasa dan diwaktu puasa apakah ada perubahan atau tidak, apakah kalorinya bertambah naik atau turun. Jika kalorinya bertambah naik maka obat kita atur supaya waktu minumnya tepat, sehingga tidak akan mengalami hiperglikemik maupun hipoglikemik pada saat puasa. Jika turun maka kita modifikasi dosisnya, kita kurangi dosisnya ketika sahur, apaa…hmm..seharian kan dia tidak makan, sehingga pasien itu dijaga benar keadaannya biyar tidak drop atau kelebihan. Kalau sekarang ini kan jarang yaa.. pasien-pasien yang seperti itu,
untuk edukasi.”
Peneliti :”kalau untuk pasien yang rawat inap itu, untuk informasinya itu?”
Ka IFRS :”hmm itu… apa…kita biasanya yang dirawat inap kita itu
melakukan asuhan kefarmasian secara total. Emang Akhir tahun 2013 ini katanya siih…kita akan mau anu..apa namanya. Karena akreditasi versi 2012 itu kan sudah mensyaratkan melakukan
asuhan kefarmasian kepada pasien.”
Peneliti :”Kalau untuk yang rawat jalannya sendiri siih pak?”
Ka IFRS :”Untuk yang rawat jalan kita juga tentukan prioritas, kalau konseling kalau dibutuhkan oleh pasien-pasien yang kronis, pasien yang menggunakan alat kesehatan untuk pengobatannya yang baru saja menggunakan, misalkan inhaler atau rotaheler dan lain sebagainya itu sifatnya membutuhkan priority. Kalau memang di rawat jalan tidak semuanya membutuhkan konseling.”
Peneliti :”Jadi untuk tugas dan fungsi pokoknya itu sudah melakukan semua pak?”
Ka IFRS :”Iyaa…sudah semuanya…”
Peneliti :”Terus kemudian tentang kondisi internal yaitu kekuatan dan
kelemahan yang dimiliki IFRS itu bagaimana pak?”
Ka IFRS :”Kalau kekuatannya itu, saya kira anuu yaa…apa namanya…difarmasi ini memiliki hhmmm…tenaga professional
yang sangat berpengalaman yaa..dari segi kompetensinya sangat kompeten ada apoteker farmasi klinik kita punya, sementara ini farmasi kliniknya ada 2 orang, hhmmm maaf..saya, mbak vina,yang PNS, terus sama yang dari bandung, jadi ada 3. Bu farida ini lagi sekolah, farmasi klinik juga. Jadi ada 4. S2 manajemen ada bu Aris 1, itu untuk apotekernya, asisten apotekernya juga sudah sangat berpengalaman, TTK (tenaga-teknik-kefarmasian) kita juga sudah cukup melakukan tugas yang
yaa..hmmm…..mungkin jumlah kali yaa..jumlah rasionya masih kurang yaa….590 hampir 600 tempat tidur di 2 rumah sakit, jumlah
tenaganya itu sangat jomplang yaa.. apotekernya seharusnya kalau ngukur 600. Seharusnya kalau 1 apoteker 30 pasien yaa…jadi
butuh 20 apoteker, 20 itu yang dirawat inap tok..belum rawat jalan, rawat jalan kita tuuh sekitar 400 resep/hari kalau kita ambil untuk
rawat jalan 50 pasien hhmmm…untuk 1 apoteker bearti 8 apoteker
, minimal kita harus ada 28 apoteker di pelayanan iyaa kan.
Hmmm… managerial mungkin berapa laah… 2 sudah cukup. Yaa.. paling tidak yaa 30 kita… dan kita punya apoteker baru apa namanya… ada… 7 tambah, yang BKBT baru kemarin ada 6 jadi
13 sangat jauh banget separohnya aja belum, 28 kan 14, separohnya aja belum, ini sangat…istilahnya apa yaa… ngos-ngosan, kalau
disuruh sesuai dengan standart apa namanya…akreditasi versi 2012 itu dari menkes belum bisa ngoyak itu. Mungkin eehhmmm….
Kalau ¾ saja laah yaa dari jumlah ideal barang kali sudah mulai bisa ini mengcover yaa….belum tenaga asistennya, tenaga TTK
nya, yang belum banyak mencukupi juga. Untuk kelemahan kita itu
jumlah dari kuantitas yang kurang.”
Peneliti :”Ehhmm… kemudian untuk yang kondisi eksternalnya seperti peluang dan ancaman yaitu bagaimana?”
Ka IFRS :”kalau peluang ini anu apa…ehhmm….sebetulnya sangat berpeluang karena di daerah jawa barat, eehhmm….sorry jawa
bagian barat-selatan ini itu rumah sakit rujukan itu milik provinsi
cuma satu ini, rumah sakitnya kalau B itu sudah B+ yaa… jumlah
tenaga dokternya itu sudah banyak, kita punyan bedah arkeologi,
alat yang modern juga sudah sangat banyak gitu yaah…kita punya
ehhmm alat canggih-canggih itu untuk diagnostik maupun untuk
terapi, dan radioterapi itu yaah… tidak semua rumah sakit punya radioterapi yaa… ehhmm… kita punya disini. Jadi paling tidak ini
rujukan yaa.. rumah sakit rujukan itu peluangnya sangat besar
yaa…dan asuransi-asuransi banyak bekerja sama dengan rumah
sakit milik pemerintah ini. Kemudian ehm… itu buktinya dari ini,
dari ehhmm..tempat tidur yang selalu penuh yaa.. dari pasien
jamkesmas, VIP, VVAIP selalu penuh berbagai kelas yaa…jadi eehhmm… bordital itu sebernarnya tidak ideal, bordital itu
harusnya 60-80 yaa… kita 90 lebih, artinya penuh terus…eehhmmm… rumah sakitnya penuh terus itu peluang.
Kemudian ancaman saya kira, satu lagi HD, kita punya unit HD, ST scand, HD. Dan ancamannya barang kali yang tampak nyata
itu..ehhmm… yaa.. hampir banyak disekitar margono itu..
dipurwokerto itu.. yaa..banyak rumah sakit yaah.. rumah sakit yang bagus-bagus, rumah sakit yang sudah memiliki apa namanya.. peralatan yang canggih-canggih juga yaa… kayak rumah sakit apa
namanya.. elisabet ini juga gede, DKT, DKT ini juga sudah mulai
berkembang yaa.. jadi..ehhmm… banyak.. rumah sakit Banyumas yaa… itu mungkin kalaudisebut ancaman bisa juga gitu mbak.”
Peneliti :”Untuk ancamannya adanya rumah sakit yaa pak…”
Ka IFRS :”Yaa.. saya kira itu, karna ini rumah sakit, ancaman..apa namanya.. saingan.”
Peneliti :”Ehhmm… untuk memilih perbekalan farmasi yang sesuai dengan
melihat eehhmm.. anu… ehhmm… pola penyakit dengan prevalensi yang tertinggi itu apa.., yang diteori-teori itu, kita pakai itu juga, tapi kalau sekarang rumah sakitnya sudah jalan ehhmm..
apa namanya.. ehhmm… kita pakainya metode konsumsi yaa..untuk perencanaan itu konsumsi, karena pola itu penyakit kita sudah tahu dan sudah berpengalaman dan melihat dari dokternya
juga sudah tahu, eehhmm…ada, ada PRD juga yang ikut membuat standar-standart obat dan standar-standar terapinya dari situlah kita tahu kebutuhan ininya, perawat-perawat juga kita libatkan untuk
pemasokan alat kesehatan.”
Peneliti :”Untuk cara merencanakan kebutuhan perbekalan farmasi secara optimal seperti apa pak?”
Ka IFRS :”Yaa…kita sementara ini yang paling cepat kita pakai itu anu apa.. metode konsumsi, rumah sakit pemerintah itu eehhmm…
dalam hal pengadaan tidak lepas dari barbagai macam peraturan atau birokrasi peraturan, ada PER-PRES no 70 tahun 2012 tetang pengadaan yang harus begini-begini iyaa kan?, tapi Alhamdulillah ehhm.. obat tidak perlu tender sekarang, bisa di lakukan pengadaan sebulan sekali ini sudah perkembangan yang jauh lebih baik dari pada PER-PRES no 80 tahun itu.. 2010 apa yaa..itu , yang sekarang 2012 sudah sangat bagus sudah sangat terbantu, tinggal tender alat kesehatan saja, kalau alat kesehatan satu kali pakai tidak melihat pola penyakit, kalau obat liyat pola penyakitnya, kalau apa.. orang sakit tifoid, orang sakit malaria. Artinya orang sakit ini alat kesehatannya cuma 1, yaa…speet 1 jenis, ehhm.. infusa juga 1 jenis yaa.. jadi alat kesehatan tidak terlalu banyak variasinya sehingga bisa di tenderkan, tapi kalau obat kita pengadaannya,
Peneliti :”Kemudian bagaimana mengadakan perbekalan farmasi yang berpedoman pada perencanaan yang telah dibuat sesuai dengan kebutuhan yang berlaku?”
Ka IFRS :”Yaa.. pengadaannya kita sistemnya ini kita pakai tetap mengacu pada peraturan-peraturan pemerintah yang ada yaa.., itu untuk yang ALKES kita pakai tender 6 bulan sekali misalnya, kemudian untuk apa.. obat kita bisa menentukan langsung, perencanaannya setahun ada, sebulan ada.itu sama juga eehhmmm.. sudah bulanan.”
Peneliti :”Ehhmmm…Untuk obat-obat yang ehhm…askes gitu seperti apa pak, pengadaannya?”
Ka IFRS :”Ehhmm… yaa.. seperti biasa, sama dengan obat-obat umum,
hanya saja surat pesanannya di cap oleh askes, kita… sesuai dengan harga DPHO di askes yaa… itu sama.”
Peneliti :”Bagaimana memproduksi perbekalan farmasi untuk memenuhi
kebutuhan pelayanan kesehatan di rumah sakit?”
Ka IFRS :” ee..itu anu apa namanya... semua perbekalan farmasi kita
punyanya dari pabrik, tapi untuk obat-obat kanker kita melakukan pengoplosan yang dilakukan oleh 3 orang farmasis.
Peneliti :”ee.. bagaimana menerima perbekalan farmasi sesuai dengan
spesifikasi dan ketentuan yang berlaku?”
Ka IFRS :” ee..setelah kita melakukan SP ke distributor, kemudian barang
datang, kemudian kita cek satu persatu apakah sudah sesuai dengan
Ka IFRS :”Penyimpanan dilakukan sesuai dengan suhu dari masing-masing
bentuk sediaan, dan tersusun secara alfabetis.”
Peneliti :”Untuk mendistribusikan perbekalan farmasi ke unit-unit pelayanan di rumah sakit?”
Ka IFRS :”Ehhmm..distribusi kita apa namya..eehhmmm… kita kan punya 2 rumah sakit yaa.., eehhmm…semua manajeman farmasi, perbekalan farmasi dijadikan satu di gudang belakang itu, semua setelah pengadaan masuknya di gudang belakang, kemudian sesuai kebutuhan nanti di RS yang sini geriatrik sesuai dengan kebutuhan dan permintaan biasa mingguan dan bulanan. Kita biasanya secara mingguan, seminggu kita kirim kesana 2x jadi hari Senin dan Kamis untuk hari eehhmm yang rutin yaa.. Senin dan Kamis. Kalau yang dibutuhkan CITO bisa suatu saat di inikan, tapi jarang sekali yang CITO, CITO biasanya kalau pas lagi pemakaian meningkat untuk obat-obat yang eehhmm apa namanya …. Kemudian eehhmmmada mobil yang setiap 1 minggu sekali jalan kesana. Kemudian ada distribusi yang ke outlet-outlet, total kita punya 10 outlet di sini dan sana, kulon dan wetan, yang adiyasa geriatrik,
ehmm…kita didistribusikan apa namanya.. kalau yang di sini saja menggunakan tenaga manusia yaa.. didistribusikan saja seperti biasa tanpa mengurangi syarat-syarat stabilitas masing-masing obat, yaa.. bisa liyat sendiri kan yaa…kalau ada obat-obat yang disimpan ditempat dingin maka distribusinya pakai cool box yaa.. yang dalamnya da esnya, jadi kita harus menjaga dalam distribusi itu obat dalam kondisi prima seperti yang diminta dari pabrik obat.”
Ka IFRS :”Maksudnya bagaimana?”
Peneliti :”Ehmm… untuk mengkaji instruksi, jadi dari. Kan misalkan
karyawannya mendapat resep, kayak skrinning resep kayak gitu?”
Ka IFRS :”Yaa.. kita Skrining pada dasar-dasarnya itu ada apa..pharmaceutical, ada skrinning klinis, ehhmm..administrative yaa.., sama seperti teori yang ada, teori itu dibuat karena ada prakteknya, terus juga ketersediaaan obatnya ada apa tidaknya kalau tidak ada kita diskusikan jika perlu dengan dokternya, tapi kita sudah punya eehhmm..SK eehhmm…dari direktur yang sampai sekarang belum dicabut kalau kita ingin mengganti dengan obat generik yang zat aktifnya sama tidak perlu kontak dengan dokter langsung kita ganti seadanya, jadi artinya misal dokternya menulis obat paten. Misal contohnya pasien askes yaa.. dilalah dokternya lupa, menulis eehhmm.. di luar askes sementara pasiennya meminta, kita carikan atau kita tawarkan masuk askes bagaimana. Soalnya askeskan pengennya kan tercover semua yaa.. kalou saya kan sudah bayar, alas an mereka, jadi kalau sudah bayar saya harus. Jadi harus tercover semuanya. Terus adakah DRP kita skrining juga, kemudian interaksi obat atau apa. Kemudian kaitannya dengan ibu menyusui itu juga tidak ngomong dengan dokternya, tapi ngomong ke apotek, ke farmasi, ke instalasi farmasi
itu kita lakukan skrinning.”
Peneliti :”Bagaimana cara mengidentifikasikan masalah yang berkaitan dengan penggunaan obat dan alat kesehatan ?”
Ka IFRS :”Yaa.. ehm..Biasanya kita skrining melalui ini dulu, melalui apa.. resep yang kita terima, kemudian apabila ada sesuatu yang kita mencurigai adanya DRP kita conform, langsung conrofm kalau di
pasiennya betul atau tidak kondisinya seperti ini kemudian kita lakukan interpensi.”
Peneliti :”Bagaimana memantau efektifitas dan keamanan penggunaan obat dan alat kesehatan?”
Ka IFRS :”Kalau eehhmm…efektifitas itu biasanya keliyatannya kalau pasien itu kontrol kembali yaa…, pengertian efektifitas itukan luas, pengertiannya banyak, jadi ehhmm…ranahnya bukan hanya
ranahnya farmasi tok yaa…, ntu biasanya eehmm…semua tenaga kesehatan dari mulai dokter sampai klinik harus memantau, jadi secara terus terang saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu.”
Peneliti :”Bagaimana cara memberikan koseling kepada pasien atau keluarga pasien? Itu sudah yaa.. pak yang tadi.”
Ka IFRS :”Yaa… Yang di rawat inap kita tentukan prioritas. Untuk pasien rawat jalan konseling dilakukan untuk pasien-pasien yang kronis, pasien dengan menggunakan alat kesehatan yang baru saja memakai misalkan inhaler atau rotahaler dan sebagainya, sifatnya itu bagi yang membutuhkan yang diprioritaskan, karena memang di rawat jalan itu tidak semuanya membutuhkan konseling.”
Peneliti :”Bagaimana cara melakukan pencampuran untuk obat suntik dan penyiapan nutrisi parenteral ?”
Ka IFRS :”Nutrisi parenteral biasanya dilakukan oleh… kita tidak punya resep yang nutrisi parenteral, kita punyanya yang sudah jadi dari pabrik yaa.., apa namanya..ehhm.. paling kita melakukan edukasi kepada perawat, sering, beberapa kali kita melakukan edukasi, oh ini dicampr dengan ini, tapi pelakunya biasanya perawat.”
sana, yang dikoordinir oleh 1 orang Apoteker. Ehhmm… untuk ini apa unit pengoplosan obat kanker.”
Peneliti :”Untuk..ehhm.. apa bagaimana menentukan kadar obat dalam darah?”
Ka IFRS :”Oh…Kita tidak pake, karna tidak punya alatnya, alatnya itu mahal. Beberapa Rumah Sakit yang memiliki alat TDM itu ehhmm juga sering anu apa menemui kesulitan yaa.. karena pemakaiannya belum rutin yaa.. terus sekali masuk perporsinya mahal, tapi sekali masuknya barengan itu perporsinya murah. Tapi jarang sekali dokter yang menyuruh untuk di TDM.”
Peneliti :”Bagaimana cara melakukan pencatatan pada setiap kegiatan yang dilakukan?”
Ka IFRS :”yaa.. ehhmm…Kita punya beberapa dokumentasi termasuk monitoring pasien, kita lakukan secara anu apa namanya tentang efektifitas, biasanya kita pantau yang DRP nya cukup berat yaa.., kemudian biasanya ada dari rawat inap itu, dibantu oleh adik-adik dari mahasiswa PKPA untuk membantu memonitoring.”
Peneliti :”Kalau untuk rawat jalannya sendiri siih pak?”
Ka IFRS :”Rawat jalan nya ehmm…apa namanya dokumentasinya,
dokumentasi resep saja tidak sampai ke farmasi klinik yang memonitoring, seperti itu tidak. Karena sulit yaa rawat jalan, kan memang tidak mudah yaa.. kalau rawat inap kan pasiennya ada
disitu jadi gampang.”
Peneliti : “Bagaimana cara melaporkan pada setiap kegiatan yang dilakukan?”
perbekalan farmasi, ehhmm.. apa namanya kita lakukan bulanan. kemudian kita lakukan evaluasi, setahun 2 kali, kita lakukan stock opname yaa… , kemudian kita laporkan keuangan ini kan milik provinsi yaa.. laporkan ke pemerintah provinsi. Setahun 2 kali akhir
Juni dan 31 Desember pasti stock opnam.”