HASIL DAN PEMBAHASAN
E. Alternatif Strategi
1. STRATEGI Strength-Opportunies
a. Melakukan pelatihan berkala kepada petugas farmasi
Pelatihan merupakan suatu proses atau upaya peningkatan pengetahuan dan pemahaman dibidang kefarmasian atau bidang yang berkaitan dengan kefarmasian secara berkesinambungan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan dibidang kefarmasian (Depkes, 2006). Dengan memanfaatkan peluang yang dimilikin seperti salah satu rumah sakit rujukan, banyaknya dokter spesialis, dan kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian yang diberikan serta dengan memanfaatkan kekuatan yang dimiliki seperti tenaga farmasi yang professional. Sehingga hal yang diperlu dilakukan untuk meningkatkan pelayanan kefarmasian di IFRJ RSMS dengan melakukan pelatihan secara berkala kepada petugas farmasi untuk dapat meningkatan pengetahuan, keterampilan dan pemahaman tenaga farmasi di IFRJ RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo.
Pelatihan yang dapat dilakukan secara berkala dan berkesinambungan sesuai dengan perkembangan alat kesehatan yang modern, perkembangan pengobatan yang ada. Di sisi lain untuk menjaga sustainable profesi dapat dilakuakn dengan memberikan pelatihan dan penyuluhan (Patrick, 2012).
b. Meningkatkan komunikasi dan konseling terhadap pasien
Strategi ini diperoleh dengan memanfaatkan kekuatan yang miliki berupa konseling terhadap pasien DM, tenaga farmasi yang professional dan memanfaatkan peluang yang dimiliki berupa RSMS merupakan salah satu rumah sakit rujukan di privinsi Jawa-Tengah, banyaknya dokter spesialis.
Tujuan umum dari KIE yaitu untuk meningkatkan keberhasilan terapi, memaksimalkan efek terapi, meminimalkan risiko efek samping, meningkatkan cost effectiveness dan menghormati pilihan pasien dalam menjalankan terapi (CPFB, 2011).
Melaksanakan KIE merupakan salah satu dari tugas pokok dari standar pelayanan kefarmasian di rumah sakit. KIE yang dilakukan secara rutin di IFRJ RSMS yaitu terhadap pasien DM, selain itu KIE juga dilakukan oleh pasien-pasien penyakit kronis, pasien yang baru menggunakan alat kesehatan dalam pengobatannya seperti inhaler dan rotahaler. Hal ini membuktikan bahwa konseling yang dilakukan di IFRJ RSMS belum sepenuhnya dilakukan, hanya 2 kriteria kondisi pasien dari 6 kriteria kondisi pasien yang membutuhkan KIE, adapun kriteria kondisi pasien yang yang belum mendapatkan KIE seperti; pasien dengan kondisi khusus, pasien yang menggunakan obat dengan indeks terapi sempit, pasien yang menggunakan banyak obat, pasien yang mempunyai riwayat kepatuhan rendah.
Hasil penelitian yang dilakukan sama dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Husna (2011), dimana salah satu alternative strategi yang dapat digunakan untuk peningkatan pelayanan kepuasan pasien rawat jalan IFRS X Samarinda yaitu dengan pemberian informasi obat dan konseling.
c. Melengkapi infrastruktur
Pelengkapan infrastruktur ini terdiri dari struktur organisasi, prosedur pelayanan kefarmasian, proses pelayanan kefarmasian dan sumber perbekalan farmasi (CPFB, 2011). Tujuan dari pelengkapan infrastruktur ini membantu untuk mempercepat proses pelayanan kefarmasian di IFRJ RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo.
RSMS merupakan salah satu rumah sakit rujukan di Provinsi Jawa-Tengah, sehingga dijadikan peluang oleh IFRJ RSMS, agar paluang ini dapat dimanfaatkan bersamaan dengan kekuatan yang dimiliki berupa penggunaan teknologi modern oleh IFRJ, maka hal yang perlu dilakukan oleh IFRJ RSMS yaitu dengan melengkapi infrastruktur.
Perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat dewasa ini memberikan banyak kemudahan pada berbagai aspek kegiatan
layanan medis. Peran teknologi informasi dalam berbagai aspek kegiatan layanan medis dapat dipahami karena sebagai sebuah teknologi yang menitik beratkan pada pengaturan sistem informasi dengan penggunaan komputer, teknologi informasi ini dapat memenuhi kebutuhan informasi layanan medis dengan sangat cepat, tepat waktu, relevan, dan akurat (Coiera, 2013).
d. Sinergis antara dokter dengan petugas kefarmasian
Strategi ini diperoleh dengan memanfaatkan kekuatan yang dimiliki berupa kepuasan kerja karyawan, hubungan kerjasama antara karyawan IFRJ dengan peluang yang dimiliki berupa banyaknya dokter spesialis di RSMS. Hal yang perlu dilakukan oleh IFRJ yaitu menjalin hubungan kerjasama yang baik dan saling memahami antara petugas kefarmasian dengan dokter maupun dengan tenaga kesehatan lainnya, hal ini merupakan salah satu cara untuk meningkatkan pelayanan kefarmasian di IFRJ, supaya tidak terjadi kesalahan dalam pengobatan. Walaupun hubungan kerjasama yang dilakukan sudah cukup baik.
2. STRATEGI Weakness-Opportunies
a. Menambah jumlah tenaga kefarmasian
kelemahan yang dimiliki IFRJ RSMS berupa tenaga apoteker kurang, waktu tunggu pasien lama, pekerjaan di IFRJ banyak sedangkan untuk peluang yang dimiliki IFRJ RSMS yaitu salah rumah sakit rujukan di Provinsi Jawa-Tengah dan banyaknya dokter spesialis di RSMS. Sehingga hal yang dapat dilakukan oleh IFRJ RSMS yaitu dengan penambahan tenaga kefarmasian.
RSMS memiliki 15 poliklinik sedangkan instalasi farmasinya hanya ada 1 dengan jumlah tenaga farmasi sebanyak 10 orang sehingga pelayanan kafarmasiannya menjadi lama. Penambahan tenaga farmasi diharapkan akan mempercepat pelayanan kefarmasian
menebus obat. Selain itu pelayanan juga dapat diberikan secara maksimal. Seperti hasil penelitian yang dilakukan oleh Dewi (2011) yaitu hasil uji QSPM (quantitative strategic planning matrix) menunjukan bahwa untuk melakukan pengembangan IFRSIA Aisyiyah Klaten dapat dilakukan dengan penambahan jumlah apoteker sesuai dengan jumlah shift.
b. Rotasi jabatan dan tugas
Banyaknya pekerjaan di IFRJ dapat mengakibatkan pelayanan kefarmasian yang dilakukan tidak secara maksimal. Selain itu juga agar petugas tidak merasa jenuh dengan pekerjaan yang diberikan serta dapat meningkatkan pengetahuan dari masing-masing petugas. Maka hal yang perlu dilakukan untuk IFRS RSMS ini dengan melakukan rotasi jabatan dan tugas.
3. STRATEGI Strength-Treaths
a. Meningkatkan fleksibilitas kerja
Kekuatan yang dimiliki oleh IFRJ RSMS yaitu tenaga farmasi yang professional dan kerjasama antara karyawan IFRJ RSMS dapat dimanfaatkan untuk menghadapi ancaman yang dimiliki dengan cara melakukan peningkatan fleksibelitas kerja.
Fleksibilitas merupakan kemampuan untuk merubah bentuk produksi sesuai dengan permintaan yang datang (Chopra, 2001). Fleksibilitas kerja merupakan kemampuan IFRJ untuk melakukan perubahan dalam pelayanan kefarmasian sesuai dengan permintaan pasien, sehingga pasien akan lebih merasa puas terhadap pelayanan yang diberikan dan pasien akan mendapatkan pelayanan kefarmasian sesuai dengan standar pelayanan kefarmasian di rumah sakit.
b. Komputerisasi jadwal pelayanan kefarmasian
Ancaman yang dimiliki IFRJ RSMS salah satunya yaitu antrian pasien yang panjang, ancaman dapat dihadapi dengan kekuatan yang dimiliki berupa kerjasama antara karyawan IFRJ dan penggunaan
teknologi modern. Maka hal yang dapat dilakukan dengan cara melakukan komputerisasi penjadwalan pelayanan kefarmasian di IFRJ RSMS.
Banyaknya pasien yang menebus obat di IFRJ membuat pelayanan kefarmasian yang diberikan tidak secara maksimal. Sehingga penjadwalan dalam melakukan pelayanan kefarmsian diperlukan, agar pelayanan yang diberikan dapat berlangsung secara maksimal, penjadwalan yang dilakukan secara komputerisasi juga dapat mempercepat dalam proses pelayanan kefarmasian.
4. STRATEGI Weakness-Treath
a. Melengkapi sarana dan prasarana
Sarana dan prasarana pelayanan kefarmasian harus dapat menjamin terselenggaranya pelayanan kefarmasian dengan baik, sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku (CPFB, 2011). Sarana dan prasarana juga dapat mempengaruhi pelayanan kefarmasian yang diberikan, untuk meningkatkan kepuasan pasien.
Pada hasil pengukuran tingkat kepuasan pasien dimensi tangible memiliki nilai CSI paling rendah dibandingkan dimensi lainnya. Begitu juga dengan pengukuran kepuasan kerja karyawan IFRJ pada dimensi tangible memiliki nilai CSI yang paling rendah juga.
b. Pengawasan terhadap persediaan obat
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan terhadap petugas IFRJ kekosongan persediaan obat di IFRJ dapat menghambat pelayanan kefarmasian yang akan diberikan kepada pasien. Oleh karena itu perlu dilakukan pengawasan terhadap persediaan obat. Sistem pengawasan yang dilakukan sudah cukup baik, namun sistem birokrasi di IFRJ RSMS ini kurang sesuai dengan sistem pelayanan di IFRJ, sehingga dalam pengadaannya terhambat dan akibatnya
yang dimiliki IFRJ seperti adanya rumah sakit lain, adanya apotek lain serta antrian pasien yang panjang akan memperngaruhi pasien dalam menebus obat, terutama untuk pasien umum.
F. Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan dalam penelitian ini yaitu wawancara yang dilakukan belum semuanya berdasarkan pedoman wawancara, hanya kepada kepala instalasi farmasi saja yang wawancaranya dilakukan berdasarkan pedoman wawancara. Wawancara ini seharusnya dilakukan juga terhadap tenaga apoteker, asisten apoteker yang melakukan pelayanan kefarmasian di IFRJ RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto, pihak yang berada disekeliling IFRJ RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo diantaranya pasien, direktur RSUD, tenaga medis, dan pihak apotek maupun rumah sakit lain yang berada di lingkungan luar IFRJ Prof. Dr. Margono Soekarjo. Sehingga informasi yang diperoleh masih bersifat obyektif.
BAB V