BAB II TINJAUAN PUSTAKA
3. Pekerja Seks Komersial (PSK)
8 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Konsep 1. Waria
Pada hakikatnya manusia diciptakan sebagai individu yang memiliki pribadi maupun karakter yang berbeda-beda dengan individu lainya. Untuk mengenali diri seseorang terhadap dirinya maupun Masyarakat diperlukan sebuah konsepsi yaitu identitas yang merupakan representasi untuk menunjukkan jati diri seseorang dalam Masyarakat dan identitas tersebut butuh pengakuan dari Masyarakat agar seseorang bisa diterima keberadaanya. Sesuai dengan jenis kelaminnya, seseorang akan bertindak, berperilaku dan berpenampilan dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan peran berdasarkan identitas yang telah dikonstruksikan Masyarakat tersebut.
Realitas yang terjadi pada kehidupan sosial muncullah fenomena laki-laki berjiwa perempuan. Dimana seseorang secara fisik berkelamin laki-laki tapi berjiwa dan bertingkah laku seperti perempuan. Fenomena waria tidak dapat ditolak dan eksistensinya tetap ada di Masyarakat. Waria dalam Masyarakat masih digolongkan sebagai perilaku menyimpang karena tidak adanya kesesuaian antara jenis kelamin dan peran yang dikonstruksikan oleh masyarakat (Latiefah, 2013).
Waria atau transgender adalah sebutan bagi individu yang identitas gender, gender expression atau perilakunya tidak sesuai dengan identitas luar sebagai konsekuensinya pemilihan hidup sebagai
9 waria. Mereka cenderung mengalami kehilangan identitas dirinya, kemudian adanya ketidakterimaan sosial dari lingkungan atas konstruksi gender dan mereka juga menghadapi rumitnya legalitas, hukum norma tertulis maupun tidak tertulis yang menempatkan pada hak dan kewajiban. Pengertian mengenai waria sudah lama menjadi perdebatan oleh para ahli, namun secara sederhana Waria adalah laki-laki yang lebih suka berperan sebagai wanita dalam kehidupannya sehari-hari. Fenomena waria seperti ini apabila dicermati, mirip penampakannya dengan fenomena transeksual (Khasan dan Sujoko, 2018). Kaum waria sebenarnya kerap kali dikenal sebagai sosok individu yang memiliki jenis kelamin laki-laki akan tetapi berperilaku dan berjiwa seperti seseorang perempuan yang hampir seutuhnya. Sejatinya waria merupakan kelompok Masyarakat yang minoritas (Alfaris, 2018).
Pria transgender dikenal dengan sebutan waria (singkatan dari wanita pria), atau juga dikenal sebagai wadam (singkatan hawa dan adam), oleh orang awam disebut banci. Koeswinarno dalam (Putri dan Syafik, 2016). Waria merupakan salah satu dari sekian dari sekian banyak kelompok minoritas hampir di setiap negara, kelompok ini tidak mendapatkan hak-hak yang semestinya didapat orang lain pada umumnya dan didiskriminasi oleh lingkungan dan Masyarakat.
Transgender adalah istilah yang ditujukan kepada seseorang yang tidak dapat menunjukkan secara spesifik orientasi seksualnya, adapun transgender laki-laki adalah laki-laki normal, yang memiliki kelamin normal, namun secara psikis merasa dirinya sebagai perempuan.
Akibatnya perilaku sehari-hari sering tampak kaku, fisik laki-laki namun cara berjalan berbicara dan dandanan yang menyerupai perempuan. Dengan cara yang sama dapat dikatakan laki-laki ini terperangkap pada tubuh yang salah. Kehadiran seorang waria merupakan suatu proses panjang, baik secara individual maupun sosial. Secara individual antara lain, lahirnya perilaku waria tidak lepas dari suatu proses atau dorongan yang kuat dari dalam dirinya, yaitu keadaan fisik yang tidak sesuai dengan kondisi psikis sehingga hal ini membuktikan konflik psikologis dalam dirinya. Individu dengan keadaan demikian ini mempresentasikan perilaku yang jauh berbeda dengan laki-laki tetapi juga bukan sebagai perempuan (Barmiawi, 2016).
Berdasarkan beberapa uraian diatas dapat disimpulkan bahwa waria atau singkatan dari wanita pria adalah seorang laki-laki yang identitas gendernya tidak sesuai dengan identitas seksualnya, dimana waria yang seorang laki-laki akan tetapi perilaku sehari-hari menyerupai perempuan seperti dandanan cara berjalan dan berbicara pun ingin menyerupai perempuan. Namun demikian, identitas waria ataupun pekerjaan yang ia tekuni merupakan salah satu untuk menghudi hidupnya sendiri.
2. Diskriminasi
Negara republik Indonesia telah memberikan jaminan perlindungan untuk bebas dari perlakuan yang diskriminatif sebagai hak konstitusional yang ditentukan dalam pasal 281 ayat (2) undang-undang Dasar Negeri Republik Indonesia tahun 1945. Namun dalam praktik
11 masih dijumpai adanya perlakuan diskriminatif khususnya terhadap kelompok masyarakat yang termarjinalkan(Armiwulan, 2015).
Diskriminasi merupakan salah satu wujud penolakan kepada kelompok atau individu yang tergolong minoritas. Kasus diskriminasi telah menimpa transgender di seluruh dunia. Penelitian the William institute school of law ucla tentang diskriminasi di dunia kerja atas dasar orientasi seksual dan identitas gender di lima puluh negara bagian di amerika serikat yang dilakukan tahun 2008, menyimpulkan bahwa ada diskriminasi yang melanggar hukum yang dilakukan oleh pemerintah karena alasan orientasi seksual dan identitas gender. Dapat dikatakan bahwa Indonesia masih mengenal jenis kelamin bukan gender. Jenis kelamin yang diakui di negara ini hanya dua yaitu laki-laki dan perempuan, yang kemudian kondisi ini berlaku mulai dari aspek administratif hingga kehidupan sosial.
Diskriminasi mulai terjadi pada tingkat kekerasan , pelecehan verbal maupun nonverbal, Bullying hingga pembunuhan di negara Indonesia sebagian Masyarakat masih menganggap tabu akan adanya kelompok transgender. Indonesia masih menganut sistem gender biner, dimana segala peraturan yang mengikat hak dan kewajiban seseorang diatur berdasarkan seks biologisnya (Novitasari dkk, 2015)
Di era globalisasi ini, tuntutan untuk mewujudkan profesionalitas merupakan hal yang penting. Tuntunan ini tidak lagi mempertimbangkan masalah perbedaan-perbedaan yang sifatnya kodrati, termasuk perbedaan jenis kelamin profesionalitas lebih kepada
pertimbangan potensi dan kemampuan profesional seseorang, tidak peduli dia laki-laki atau perempuan. Gender sebenarnya tidak menjadi masalah ketika tidak melahirkan diskriminasi gender. Bentuk-bentuk diskriminasi gender. Bentuk-bentuk diskriminasi gender yaitu, marginalisasi (peminggiran), subordinasi (penomorduaan), Stereotip Violence (kekerasan), dan beban kerja berlebihan (Tahar, 2012).
Selain dilingkungan keluarga, perlakuan diskriminasi yang sering ditujukan kepada LGBT adalah kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak undang-undang (UU) tenaga kerja Nomor 13/2003 ketenagakerjaan n.d). UU tersebut tidak menyebutkan bahwa identitas orientasi seksual telah lama terbiasa menjadi dasar untuk mendiskriminasi pekerja (kartikaningdrayani, 2019).
Masalah diskriminasi terhadap perlindungan hukum dan HAM yang dialami para waria di Indonesia telah lama terjadi. Dengan melakukan environmental scanning (lang, 1994) masalah yang dikarenakan minimnya kesempatan bagi waria lebih sering bekerja di jalanan. Hal ini menyebabkan sebagian orang meremehkan waria sehingga meremehkan waria sehingga mereka mampu melakukan tindak kekerasan terhadap waria.
Persoalan diskriminasi dan toleransi yang berkembang diMasyarakat yang disebabkan oleh konstruksi sosial gender yang tidak mengakui keberagaman dan hanya mengakui gender perempuan dan laki-laki. Konstruksi sosial gender yang berkembang dalam Masyarakat kemudian melahirkan stereotype dan stigma negatif konstruksi sosial
13 tersebut mendorong terjadinya diskriminasi terhadap kelompok transgender. Banyak perusahaan atau pemberi kerja menolak keberadaan mereka meskipun mereka sebenarnya mampu dan berkompeten untuk mengisi peluang kerja yang ada. Sehingga terkesan yang menjadi penilaian bukan lagi kemampuan dan keterampilan dan ekspresi gender mereka.
Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa Diskriminasi adalah sebuah sikap, perilaku ataupun tindakan yang mencerminkan ketidakadilan yang dilakukan baik secara individu maupun secara kelompok. Seperti perlakuan yang tidak adil untuk membedakan terhadap seseorang. Diseminasi mulai terjadi pada tingkat kekerasan bully dan pelecehan verbal maupun non verbal.
3. Pekerja Seks Komersial (PSK)
Di Indonesia, pelacur dikenal dengan istilah wanita tuna susila yang di singkat WTS atau pekerja Seks Komersial (PSK). Pelacur adalah orang yang menjajakan dirinya baik untuk tujuan materi atau demi kepuasan nafsu. Selain pelacur istilah lain digunakan untuk menyebut para sesks komersial itu adalah sundal. Yang berarti perempuan jalang, liar, nakal dan pelanggar non susila. Selain istilah yang lain dari kata pelacur adalah lonte yang semakna dengan sundal (Khumaerah, 2017).
Pekerja seks komersial (PSK) adalah seseorang yang menjual jasanya untuk melakukan hubungan seksual demi uang biasanya pelayanan ini dalam bentuk menyewakan tubuh. Di Indonesia PSK sebagai pelaku pelacuran sering disebut sebagai sundal atau sundel yang
menunjukan bahwa perilaku perempuan sundal itu sangat begitu buruk hina dan menjadi musuh Masyarakat (Harmani Dkk, 2015). Para pekerja seks komersial berani mengorbankan diri, masa depan, dan kehidupanya tidak lain hanyalah untuk mendapatkan uang padahal uang dari kerja keras itu tidak miliknya sendiri secara utuh, tetapi uang itu di bagi-bagi kepada semua pihak terlibat di dalam pekerjaannya, seperti uang bentuk mucikari uang keamananan , uang kamar uang pelayanan dan sebagainya.
Prostitusi sebagai masalah sosial sementara ini dilihat dari hubungan sebab akibat dan asal mulanya tidak dapat diketahui dengan pasti, namun sampai sekarang pelacuran masih banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari dan ada di hampir setiap wilayah di Indonesia, baik yang terang-terangan maupun yang sembunyi-sembunyi. Banyak wanita yang hidup semata-mata dalam kemiskinan menjadi PSK untuk memperoleh makanan, pakaian dan perlindungan atau yang berasal dari keluarga yang tingkat ekonominya rendah, dengan berbagai alasan mereka mengambil jalan pintas untuk mendapatkan uang guna memenuhi kebutuhannya dan keluarga. Hal ini juga dapat diakibatkan karena faktor pendidikan rendah sehingga tidak memungkinkan memperoleh pekerjaan yang memberikan penghasilan yang cukup (Regar Dkk, 2016).
Dalam bersosialisasi antara PSK dengan Masyarakat akan banyak hal didapat oleh PSK seperti cara pandang Masyarakat yang menganggap rendah dan memojokkan PSK dalam kehidupan sehari-hari. PSK juga diartikan sebagai kurang beradab karena kerajaan relasi
15 seksualnya dalam bentuk penyerahan diri pada banyak laki-laki untuk pemuasan seksual dan mendapatkan imbalan jasa atau uang bagi pelayananya.
Ketidakadilan dan diskriminasi itu terjadi hampir di semua bidang mulai dari yang terendah hingga level internasional. Diskriminasi pun juga terjadi dalam berbagai bidang kehidupan sosial seperti ekonomi, politik, agama, pendidikan dan budaya bahkan sampai tingkatan. Abdullah Irwan (Suardi dan Nursalam, 2016) mengatakan diskriminasi gender tersebut telah menimbulkan embrio berbagai problematika bagi kehidupan perempuan yang bukan hanya mempengaruhi fisik namun juga aspek psikis perempuan. Diskriminasi gender dalam Masyarakat juga terjadi pada Masyarakat.
Tidak tersedia data yang valid untuk mengungkapkan secara tepat jumlah pekerja sesk di Indonesia. Data yang tersedia di kementrian sosial Indonesia umumnya mencatat jumlah pekerja seks yang terdaftar di lokalisasi-lokalisasi yang tersebar di wilayah Indonesia. Data tahun 2009 menunjukkan bahwa jumlah WTS di Indonesia sebanyak 71.721 orang naik sekitar 800 orang dibandingkan tahun menjadi 56.000 pekerja sesk yang tersebar di 164 lokalisasi. Data tersebut menafikan keberadaan pekerja sesk tidak terdaftar baik yang beroperasi secara individual atau berkelompok di luar lokalisasi seperti di jalan-jaln,hotel, salon dan sebagainya (Rusyidi dan Nunung, 2018).
Pekerja seks komersial (PSK) bagian dari kegiatan seks di luar nikah yang ditandai oleh kepuasaan seks dari bermacam-macam orang
yang melibatkan beberapa pria, dilakukan demi uang dan dijadikan sebagai sumber pendapatan. Pekerja seks komersial (PSK) adalah suatu pekerjaan dimana seorang perempuan menggunakan atau mengeksploitasi tubuhnya untuk mendapatkan uang, terdapat juga orang yang memilih menjadi pekerja seks komersial karena faktor ekonomi yang memiliki kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya untuk mempertahankan kelangsungan hidup (Ningsih, 2013).
Selain karena faktor ekonomi, terdapat beberapa alasan yang mempengaruhi dalam menuntun seorang perempuan menjadi seorang PSK diantaranya adalah Modelling, dukungan dari orang tua dan lingkungan yang primitive. Mereka yang hidupnya berorientasi pada materi akan menjadikan banyaknya jumlah uang yang dikumpulkan dan kepemilikan sebagai tolak ukur keberhasilan hidup. Banyaknya PSK yang berhasil mengumpulkan banyak materi atau kekayaan akan menjadi model pada orang lain sehingga dapat dengan mudah ditiru. Seseorang menjadi PSK karena adanya dukungan orang tua atau suami yang menggunakan anak perempuan atau istri mereka sebagai sarana untuk mencapai aspirasi mereka akan materi (Adnitiyas dkk, 2018).
Selain untuk terpenuhinya kebutuhan ekonomi ada pula, yang menjadikan pekerja seks komersial untuk gaya hidup. Gaya hidup menunjukkan bagaimana orang mengatur kehidupan pribadinya, perilaku di depan umum, dan usaha menjadikan dirinya unik. Gaya hidup atau lifestyle dapat diartikan juga sebagai segala sesuatu yang memiliki
17 karakteristik, kekhususan, dan tata cara dalam kehidupan suatu Masyarakat tertentu. Gaya hidup adalah pola-pola tindakan yang membedakan antara satu orang dengan orang lain, gaya hidup adalah bagaimana seseorang tersebut ingin dipersepsikan oleh orang lain, sehingga gaya hidup sangat berkaitan dengan bagaimana membentuk image dimata orang lain, berkaitan dengan status sosial yang disandangnya. Untuk merefleksikan image inilah, dibutuhkan simbol-simbol status tertentu, yang sangat berperan dalam mempengaruhi perilaku konsumsinya. (David, 2013).
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa Pekerja Seks Komersial (PSK) adalah Pekerja seks komersial (PSK) bagian dari kegiatan seks di luar nikah yang ditandai oleh kepuasaan seks dari bermacam-macam orang yang melibatkan beberapa laki-laki. Pekerja seks komersial merupakan suatu pekerjaan yang melayani aktivitas seksualnya dengan tujuan untuk mendapatkan uang ataupun pah yang telah memakai jasa mereka.