D. Metode Pelaksanaan Konstruksi
2. Pekerjaan balok dan pelat lantai a. Pendahuluan
Balok adalah bagian dari struktur bangunan yang berfungsi untuk menompang lantai diatasnya. Plat lantai merupakan komponen struktur yang menyalurkan beban ke balok akibat beban yang bekerja di atasnya baik berupa beban mati (dead load) maupun berupa beban hidup (live load). Plat ini terjepit semua sisinya, sehingga plat mempunyai kelenturan dalam dua arah yang disebut two way slab. Dalam perancangan plat ini perlu diperhitungkan lendutan yang terjadi. Untuk mengurangi lendutan yang terjadi, maka bentang plat diperkecil dengan memasang balok anak. Balok merupakan komponen struktur yang berfungsi sebagai penerima beban-beban dari plat yang diteruskan ke kolom. Dalam proyek ini, jenis balok terdiri atas balok induk dan balok anak. Balok induk adalah penghubung antar kolom dan berfungsi untuk menerima beban yang bekerja pada plat dan beban terpusat yang merupakan reaksi dari balok anak. Semua beban dari balok induk tersebut diteruskan ke kolom. Balok anak berfungsi untuk mengurangi lendutan yang terjadi pada plat.
b. Metode Pelaksanaan
Berikut ini akan diuraikan bagian pembagian dalam pelaksanaan pembuatan balok :
1). Penentuan As Balok dan Plat Lantai
Penentuan as balok dan plat lantai mengikuti posisi kolom. Terutama balok yang berhubungan langsung dengan kolom. Hal yang sangat diperhatikan adalah posisi elevasi pelat lantai dan balok. Penentuannya adalan sebagai berikut:
a. Dari dasar kolom diukur setinggi 1 m dan diberi elevasi pada kolom tersebut. b. Kemudian dengan menggunakan waterpass, kolom yang lain juga diberi
elevasi yang sama.
c. Dari elevasi tersebut, digunakan sebagai patokan yaitu diukur sesuai tinggi yang diinginkan sebagai elevasi dasar bekisting balok dan pelat.
2). Pembuatan serta pemasangan Bekisting Balok dan Plat
Cara pemasangan bekisting plat adalah dengan bahan multiplex tebal + 22 mm yang ditahan oleh balok kayu ukuran 5/7 cm di bawahnya, kemudian didukung oleh scaffolding. Pemasangan bekisting plat dibuat bersamaan dengan bekisting balok, sehingga menjadi satu kesatuan. Pemasangan bekisting harus dibuat rapat, agar air semen tidak keluar pada saat pengecoran.
Gambar 4.42Pekerjaan schaffolding
Pelaksanaan pekerjaan bekisting balok dan plat lantai, adalah sebagai berikut : a. Scaffolding dipasang dengan posisi melintang dari balok. Ujung scaffolding
dipasang kayu dengan ukuran 8/12 untuk penyangga bekisting balok dan plat.
b. Rangka dari bekisting plat dan balok dipakai kayu 5/7 yang dipasang melintang terhadap balok 8/12 dan diikat dengan paku.
c. Sebagai penutup dari kayu tersebut maka digunakan multipleks yang telah diolesi oli.
d. Untuk bekisting balok, sisi luarnya diberi penguat dari besi
e. Untuk bekisting pelat lantai, maka pada setiap sambungan multipleks harus ditunjang oleh kayu 5/7 sehingga tidak bocor
Gambar 4.43 Pengerjaan Bekisting Balok dan Pelat Lantai
3) Penulangan Balok dan plat lantai
Penulangan balok disesuaikan dangan gambar kerja dan dilakukan setelah pemasangan bekisting selesai. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
a. Panjang lewatan, yaitu panjang sambungan jika 2 besi disambung. Panjang lewatan sebesar 40D.
b. Panjang penyaluran, yaitu panjang besi yang masuk kedalam balok pada pertemuan di joint – joint. Panjang penyaluran sebesar ld.
c. Diperhatikan jumlah dan posisi besi serta jarak antar sengkang d. Tebal selimut beton Penulangan Pelat Lantai.
Pada pembesian plat lantai maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : a. Untuk menjamin selimut beton cukup tebal, maka diberi beton decking.
Gambar 4.44 Beton decking
b. Untuk menjaga jarak antar tulangan atas dengan tulangan bawah tetap maka perlu dipasang kaki ayam, diletakkan pada daerah tumpuan antara tulangan atas (tarik) dan tulangan bawah (tekan).
Gambar 4.45 Pemasangan tulangan kaki ayam
Tahap-tahap penulangan pelat :
a. Pemasangan tulangan pelat dilakukan setelah penulangan balok serta bekisting balok dan pelat selesai.
b. Penulangan harus sesuai dengan gambar perencanaan.
Gambar 4.46 Penulangan Balok dan Pelat Lantai 4). Pengecoran Balok dan Pelat Lantai
Pengecoran balok dan pelat lantai menggunakan metode yang sama dengan pengecoran kolom. Sebelum diadakan pengecoran diadakan pemeriksaan terlebih dahulu, yaitu:
a. Pemeriksaan bekisting. Termasuk didalamnya cek elevasi dengan menggunakan waterpass dan kerapatan antar bekisting. Selain itu juga diperhatikan kebersihan bekisting dari potongan benda dan serpihan-serpihan lain yang nantinya disa mengganggu kualitas beton. Tebal selimut beton juga harus dicek kembali. Apabila ada beton decking yang pecah, maka diganti yang baru.
b. Pemeriksaan tulangan, termasuk didalamnya cek jumlah, jarak penempatan, panjang lewatan, penyaluran dan kaitan.
Gambar 4.49 Pelaksanaan Pengecoran Pelat dan Balok
Dalam proses pengecoran, terdapat metode yang dinamakan metode stop cor. yaitu pembatasan area pengecoran. Hal ini dikarenakan menghemat biaya ataupun karena mengejar schedule. Selain itu disebabkan karena pengerjaan pelat lantai dangan sistem pembagian zona. Yang perlu diperhatikan dalam metode stop cor antara lain:
a. Batas yang efisien atau menguntungkan dalam pelaksanaan pemutusan pengecoran lantai dan balok yaitu berada pada jarak 1/5 bentang dari tumpuan atau 1 meter.
b. Untuk pelat lantai kamar mandi harus dilakukan sekali cor, untuk menghindari retak dan bocor.
c. Tiap penyambungan dengan beton baru harus ditambah bahan adiktif 5). Pembongkaran Bekisting balok dan pelat
Pembongkaran bekisting balok dan pelat dilakukan setelah beton mencapai 80 % kekuatan maksimumnya. Pada proyek ini, pembongkaran bekisting dilakukan pada waktu beton berumur ± 7 hari. Untuk pembongkaran bekisting harus mendapat persetujuan dari pengawas.
Gambar 4.50HasilPembongkaran Bekisting balok dan pelat 6). Perawatan Beton Balok dan Pelat
Perawatan beton dilakukan setiap hari selama 2 minggu dengan cara menggenangi permukaan beton dengan air sehingga penguapan berlebih dari beton dapat dikurangi. Dengan demikian retak–retak beton yang timbul akibat pengaruh cuaca dapat dihindari sedangkan perawatan yang lain adalah:
a. Pada saat pembongkaran bekisting dilakukan secara hati-hati untuk mencegah terjadinya pengelupasan atau cacat pada beton.
b. Apabila hasil pengecoran terjadi cacat, maka dilakukan penambalan dengan campuran beton yang hampir sama dengan karakteristik kekuatannya campuran beton baru menggunakan adiktif.
3. Hal – hal yang harus diperhatikan untuk menjaga mutu beton a. Dalam pengecoran/penuangan
Untuk menghindari terjadinya segregasi dan bleeding ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penuangan beton
1) Campuran yang akan dituangkan harus ditempatkan sedekat mungkin dengan cetakan akhir untuk mencegah segregasi.
2) Pembetonan harus dilaksanakan dengan kecepatan penuangan yang diatur sedemikian rupa sehingga campuran beton selalu dalam keadaan plastis dan dapat mengalir dengan mudah kedalam rongga daintara tulangan.
3) Campuran beton yang telah mengeras atau yang telah terkotori oleh material asing tidak boleh dituang kedalam struktur.
4) Campuran beton yang telah mengeras atau yang telah mengalami penambahan air tidak boleh dituangkan, kecuali telah disetujui oleh pengawas ahli.
5) Setelah penuangan campuran beton dimulai, pelaksanaan harus dilakukan tanpa henti hingga diselesaikan penuangan suatu panel atau penampang. 6) Beton yang dituangkan harus dipadatkan dengan alat yang tepat secara
sempurna dan harus diusahakan secara maksimal agar dapat mengisi semua rongga. Pemadatan dimaksudkan untuk menghilangkan untuk menghilangkan rongga-rongga udara yang terdapat dalam beton. Dari gambar grafik terlihat bahwa bertambahnya kandungan udara dalam beton menyebabkan kekuatan tekan beton berkurang
0 5 10 15 20 25 0 20 40 60 80 100 120
Rongga - rongga udara (%)
K ek ua ta n te ka n (% )
Grafik hubungan rongga – rongga udara dengan kekuatan tekan beton
7) Tinggi jatuh tidak boleh lebih dari 1,5 meter. Jika terjadi jarak yang lebih besar maka perlu ditambahkan alat bantu seperti tremi atau pipa.
8) Tidak dilakukan penuangan selam terjadi hujan agar kedap air tetap terjaga, kecuali jika pengecoran dilakukan dibawah atap.
9) Setiap kali penuangan tebal lapisan maksimum 30 - 45 cm, agar pemadatannya dapat dilaksanakan dengan mudah
10) Penuangan hanya berhenti dititk momen sama dengan nol.
b. Segregation (pemisahan kerikil)
Kecendrungan butir –butir kasar untuk lepas dari campuran beton dinamakan segregasi. Hal ini menyebabkan sarang kerikil yang pada akhirnya akan menyebabkan keropos pada beton. Segregasi ini disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, campuran kurus atau kurang semen. Kedua, terlalu banyak air. Ketiga, besar ukuran agregat maksimum lebih dari 40 mm. Keempat, permukaan butir agregat kasar; semakin kasar permukaan butir agregat, semakin mudah terjadi segregasi.
Kecendrungan terjadinya segregasi ini dapat dicegah jika; (1) tinggi jatuh diperpendek, (2) penggunaan air sesuai dengan syarat, (3) cukup ruangan antara batang tulangan dengan acuan (4) ukuran agregat sesuai dengan baik (5) pemadatan baik.
c. Bleeding
Kecendrungan air untuk naik kepermukaan pada beton yang baru dipadatkan dinamakan bleeding. Air yang naik ini membawa semen dan butir-butir halus pasir, yang ada pada saat beton mengeras nan tinya akan memebentuk selaput (laitance). Bleeding ini dipengaruhi oleh :
1) Susunan butir agregat
Jika komposisinya sesuai, kemungkinan untuk terjadinya bleeding kecil 2) Banyaknya air
Semakin banyak air berarti semakin besar pula kemungkinan terjadi bleeding
3) Kecepatan hidrasi
Semakin cepat beton mengeras, semakin kecil kemungkinan terjadinya bleeding
4) Proses pemadatan
Bleeding ini dapat dikurangi dengan cara; (1). Memberi banyak semen, (2) menggu akan air sedikit mungkin, (3) menggunakan butir halus yang lebih banyak d. Faktor air semen (FAS)
Secara umum diketahui bahwa semakin tinggi nilai FAS, semakin rendah mutu kekuatan beton. Namun demikian, nilai FAS yang semakin rendah tidak selalu berarti bahwa kekuatan beton semakin tinggi. Ada batas-bats dalam hal ini. Nilai FAS yang rendah akan menyebabkan kesulitan pengerjaan, yaitu kesulitan dalam pelaksanaan pemadatan yang akhirnya akan menyebabkan mutu beton menurun. Umumnya nilai FAS minimum diberikan sekitar 0,4 dan maksimum 0,65.