• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH DAERAH

2.3. ASPEK PELAYANAN UMUM

2.3.1. Fokus Layanan Urusan Wajib

2.3.1.3. Pekerjaan Umum

Gambaran umum kondisi daerah terkait dengan urusan pekerjaan umum salah satunya dapat dilihat dari indikator kondisi jalan dan infrastruktur lainnya. Jaringan jalan yang baik, memiliki keterkaitan yang sangat kuat dengan pertumbuhan ekonomi

Batuk Pilek Panas Asma Sakit Kepala

Berulang

Sakit Gigi Lainnya 13.42 12.41 7.28 1.06 0.89 0.12 4.50

93

suatu wilayah maupun terhadap kondisi sosial budaya kehidupan masyarakat. Infrastruktur jalan yang baik adalah modal sosial masyarakat dalam menjalani roda perekonomian, sehingga pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak mungkin dicapai tanpa ketersediaan infrastruktur jalan yang baik dan memadai.

Kondisi Jalan

Pembangunan jalan merupakan salah satu aspek penting yang harus dilaksanakan oleh pemerintah dengan tujuan membuka aksesibilitas antara wilayah dalam Kabupaten Tambrauw maupun antar wilayah di Provinsi Papua Barat. Jalan merupakan salah satu urat nadi yang mendorong peningkatan perekonomian masyarakat Kabupaten Tambrauw. Dalam periode 2013-2014, panjang jaringan jalan di Kabupaten Tambrauw mengalami peningkatan walaupun tidak signifikan. Pada tahun 2013, panjang jaringan jalan di Kabupaten Tambrauw adalah sepanjang 643,5 km, kemudian meningkat menjadi sepanjang 687 km pada tahun 2014. Jadi dalam kurun waktu 2 tahun terakhir terjadi peningkatan jaringan jalan sepanjang 43,5 km.

Dari seluruh jaringan jalan yang ada di Kabupaten Tambrauw, panjang jalan yang termasuk ke dalam kewenangan pemerintah pusat adalah sepanjang 348 km yang melewati 9 distrik yaitu Distrik Abun, Miyah, Kwoor, Sausapor, Kebar, Senopi, Amberbaken, Mubrani, dan Moraid. Panjang jalan yang menjadi kewenangan pemerintah provinsi adalah sepanjang 117 km yang melewati Distrik Fef, Miyah, Yembun, dan Moraid, sedangkan panjang jalan kabupaten hingga tahun 2014 adalah sepanjang 222 km yang melewati setiap distrik yang ada di Kabupaten Tambrauw. Sementara itu, untuk jembatan di Kabupaten Tambrauw jumlahnya mengalami peningkatan dari 48 unit pada tahun 2013 menjadi sebanyak 64 unit pada tahun 2014. Jenis jembatan yang ada di Kabupaten Tambrauw adalah beton (22 unit), baja (21 unit), dan kayu (21 unit).

94

Gambar 2.40 Panjang Jaringan Jalan Menurut Jenis Jalan (km), 2014

Sumber: BPS Kabupaten Tambrauw, 2015 (diolah)

Jika dirinci menurut jenis permukaanya, jalan dengan permukaan aspal di Kabupaten Tambrauw adalah sepanjang 202,5 km yang terdiri atas 200 km jalan negara dan 2,5 km jalan provinsi, kemudian jalan dengan jenis permukaan kerikil adalah sepanjang 364,5 km terdiri atas 104 km jalan negara, 110,5 km jalan provinsi, dan 150 km jalan kabupaten, dan jalan dengan permukaan tanah sepanjang 78 km yang terdiri atas jalan negara sepanjang 23 km, jalan provinsi sepanjang 3 km, dan jalan kabupaten sepanjang 20 km. Sementara itu, jalan dengan jenis permukaan selain yang telah disebutkan di atas adalah sepankang 42 km.

Jalan Negara, 348.00 Jalan Provinsi, 117.00 Jalan Kabupaten, 222.00

95

Gambar 2.41 Persentase Jalan Menurut Jenis Permukaan, 2014

Sumber: BPS Kabupaten Tambrauw, 2015 (diolah)

Jaringan jalan di Kabupaten Tambrauw termasuk dalam kategori kelas IIIA hingga III C. Panjang jalan yang termasuk dalam kelas III A adalah sepanjang 240 km (200 km jalan negara dan 40 km jalan provinsi), kelas III B sepanjang 363 km (104 km jalan negara, 60 km jalan provinsi, dan 199 km jalan kabupaten), dan kelas III C sepanjang 84 km (44 km jalan negara, 117 km jalan provinsi, dan 23 km jalan kabupaten). Pada tahun 2014, jaringan jalan di Kabupaten Tambrauw yang berada dalam kondisi baik adalah sepanjang 202,5 km. Panjang jalan dengan kondisi sedang pada tahun 2014 adalah sepanjang 364,5 km, jalan dalam kondisi rusak sepanjang 78 km, dan jalan dalam kondisi rusak sepanjang 42 km.

Diaspal 29.48% Kerikil 53.06% Tanah 11.35% Tidak Dirinci 6.11%

96

Gambar 2.42 Persentase Jalan Menurut Kondisi Jalan, 2014

Sumber: BPS Kabupaten Tambrauw, 2015 (diolah)

2.3.1.4. Perumahan

Perumahan dan permukiman yang layak, sehat, aman, serasi, dan teratur merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia dan merupakan faktor penting dalam peningkatan harkat dan martabat mutu kehidupan serta kesejahteraan rakyat. Secara umum, kualitas rumah tinggal ditentukan oleh kualitas bahan bangunan yang digunakan, yang secara nyata mencerminkan tingkat kesejahteraan penghuninya, karena itu aspek kesehatan dan kenyamanan dan bahkan estetika bagi sekelompok masyarakat tertentu sangat menentukan dalam pemilihan rumah tinggal dan ini berhubungan dengan tingkat kesejahteraan penghuninya. Selain kualitas rumah tinggal, tingkat kesejahteraan juga dapat digambarkan dari fasilitas yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Kualitas perumahan yang memadai akan memberikan kenyamanan bagi penghuninya.

Status Penguasaan Tempat Tinggal

Upaya pemenuhan kebutuhan akan perumahan menjadi prioritas bagi rumah tangga. Seluruh anggota rumah tangga akan merasa lebih nyaman ketika telah

Baik 29.48% Sedang 53.06% Rusak 11.35% Rusak Berat 6.11%

97

memiliki rumah yang sudah menjadi milik sendiri. Bagi rumah tangga yang belum memiliki rumah hunian, akan berusaha memenuhi kebutuhan perumahan dengan berbagai cara, di antaranya adalah dengan menyewa, atau tinggal pada rumah milik orang tua/sanak/ saudara atau orang lain. Bagi sebagian rumah tangga terfasilitasi dengan rumah dinas yang disediakan oleh instansi/perusahaan dimana salah satu anggota rumah tangganya bekerja. Sebagian besar rumah tangga di Kabupaten Tambrauw telah menempati rumah milik sendiri, yaitu sebesar 97,22 persen dan sisanya sebesar 2,78 persen masih menempati rumah bukan milik sendiri (sewa, bebas sewa milik orang lain, dinas dan bebas sewa milik orang tua/ saudara).

Gambar 2.43 Persentase Rumah Tangga Menurut Status Penguasaan Bangunan Tempat Tinggal (persen), 2014

Sumber: BPS Kabupaten Tambrauw, 2015 (diolah)

Ada beberapa macam status tanah tempat tinggal, yaitu hak milik, hak guna bangunan, hak pakai dan lainnya. Sebagian besar rumah tangga yang menempati rumah milik sendiri mengaku bahwa status tanah tempat tinggalnya adalah hak milik, yaitu sebesar 89,08 persen. Hak milik adalah hak turun temurun terkuat yang dapat dipunyai orang atas tanah, dengan mengingat bahwa hak itu mempunyai fungsi sosial. Tanah tersebut dikuasai tanpa batas waktu tertentu, dapat diwariskan dan dapat dialihkan kepada pihak lain.

Milik Sendiri, 97.22 Bukan Milik Sendiri,

98

Gambar 2.44 Proporsi Rumah Tangga dengan Bangunan Tempat Tinggal Milik Sendiri Menurut Status Penguasaan Tanah Tempat Tinggal (persen), 2014

Sumber: BPS Kabupaten Tambrauw, 2015 (diolah)

Rumah tangga yang mengaku bahwa status tanah tempat tinggalnya adalah hak pakai sebesar 6,02 persen. Hak pakai adalah hak untuk menggunakan atau memungut hasil dari tanah yang dikuasai langsung oleh Negara atau tanah milik orang lain. Pemberian wewenang dan kewajiban ditentukan dalam keputusan oleh pejabat yang berwenang atau dalam perjanjian dengan pemilik tanah, tetapi bukan perjanjian sewa menyewa atau perjanjian pengolahan tanah, atau segala sesuatu selama tidak bertentangan dengan jiwa dan ketentuan undang-undang. Rumah tangga yang mengaku bahwa status tanah tempat tinggalnya adalah hak guna bangunan adalah sebesar 0,54 persen. Hak guna bangunan adalah hak untuk mendirikan dan mempunyai bangunan-bangunan atas tanah yang bukan miliknya sendiri dengan jangka waktu paling lama 30 tahun, bila diperlukan dapat diperpanjang lagi 20 tahun.

Luas Lantai per Kapita

Berdasarkan data BPS Kabupaten Tambrauw (2015), persentase rumah tangga yang memiliki luas lantai bangunan tempat tinggal ≤10 m2 adalah sebesar 34,71 persen dan luas lantai bangunan ≥ 10 m2 adalah sebesar 34,71 persen. Konsep yang

Hak Milik, 89.08 Hak Pakai, 6.02

99

dipakai dalam penghitungan luas lantai BPS adalah mengacu pada luas lantai yang biasa dipakai sehari-hari. Sedangkan bagian-bagian yang tidak digunakan sehari-hari, seperti lumbung padi, kandang ternak dan jemuran tidak dimasukkan dalam penghitungan luas lantai. Untuk bangunan bertingkat, penghitungan luas lantai rumah tangga dilakukan dengan menjumlahkan luas lantai yang biasa digunakan sehari-hari pada setiap lantai.

Gambar 2.45 Persentase Rumah Tangga Menurut Luas Lantai Per Kapita (persen), 2014

Sumber: BPS Kabupaten Tambrauw, 2015 (diolah)

Jenis Lantai, Atap, dan Dinding

Berdasarkan data BPS Kabupaten Tambrauw (2015), sebagian besar jenis atap yang digunakan oleh masyarakat adalah jenis seng dengan persentase mencapai 78,66 persen. Jenis atap lainnya yang digunakan masyarakat adalah ijuk dengan persentase sebesar 20,46 persen. Dari sisi lantai bangunan, sebagian besar masyarakat menggunakan lantai selain tanah dengan persentase sebesar 88,28 persen, sedangkan yang menggunakan lantai tanah dan lainnya sebesar 11,72 persen. Persentase masyarakat yang menggunakan dinding kayu adalah sebesar 76,98 persen, tembok sebesar 11,65 persen, dan bambu sebesar 11,37 persen.

Luas ≤10 m², 34.71 Luas ≥10 m², 65.29

100

Tabel 2.13 Persentase Rumah Tangga Menurut Jenis Atap, Lantai, dan Dinding Terluas, 2014

Uraian Persentase

Jenis Atap Terluas

Seng 78,66 Ijuk/Lainnya 20,46 Genteng 0,49 Sirap 0,36 Beton 0,03 Jumlah 100,00

Jenis Lantai Terluas

Bukan Tanah 88,28

Tanah dan Lainnya 11,72

Jumlah 100,00

Jenis Dinding Terluas

Kayu 76,98

Tembok 11,65

Bambu 11,37

Jumlah 100,00

Sumber: BPS Kabupaten Tambrauw, 2015

Sumber Penerangan

Berdasarkan data BPS Kabupaten Tambrauw (2015), sebagian besar rumah tangga di Kabupaten Tambrauw menggunakan pelitas/sentir/obor sebagai sumber penerangan utamanya dimana persentasenya pada tahun 2014 adalah sebesar 53,09 persen. Sedangkan yang menggunakan sumber listrik sebagai penerangan utamanya dapat dibagi ke dalam kategori yaitu listrik PLN dan non PLN dengan persentase masing-masing sebesar 10,97 dan 35,94 persen. Data tersebut mengindikasikan bahwa pelayanan listrik masih belum tersebar merata di seluruh wilayah Kabupaten Tambrauw.

101

Gambar 2.46 Persentase Rumah Tangga Menurut Sumber Penerangan Utama, 2014

Sumber: BPS Kabupaten Tambrauw, 2015 (diolah)

Fasilitas dan Sumber Air Minum

Fasilitas air minum bersih adalah faktor yang sangat menentukan, karena air minum selalu dikonsumsi oleh masyarakat tiap harinya. Dalam satu hari seseorang membutuhkan air minum rata-rata 1,5 liter (sekitar 8 gelas). Artinya jika satu rumah tangga terdiri dari 4 orang anggota (ayah, ibu, dan 2 orang anak) maka dalam satu hari rumah tangga tersebut membutuhkan sedikitnya 6 liter air untuk keperluan minum. Jika kondisi air yang diminum tersebut tidak mempunyai syarat cukup air bersih, maka akan mengakibatkan gangguan kesehatan bagi peminumnya. Dalam publikasi Statistik Kesra BPS disebutkan bahwa yang dimaksud air bersih adalah air minum yang bersumber dari air kemasan, air ledeng, air bor/pompa, air sumur terlindung, dan mata air terlindung yang jaraknya lebih dari 10 m dari pembuangan limbah terdekat. Pelita/sentir/obor 53.09% Listrik PLN 10.97% Listrik non PLN 35.94%

102

Gambar 2.47 Persentase Rumah Tangga Menurut Fasilitas Air Minum, 2014

Sumber: BPS Kabupaten Tambrauw, 2015 (diolah)

Privatisasi penggunaan fasilitas air minum merupakan salah satu indikator kesejahteraan rumah tangga. Pada umumnya tingkat privatisasi penggunaan fasilitas air minum sendiri akan lebih menjamin kesehatan, kebersihan dan keleluasaan dalam hal penggunaannya. Persentase rumah tangga yang menggunakan fasilitas air minum bersama adalah sebesar 56,48 persen, sedangkan yang menggunakan fasilitas air minum umum sebesar 28,15 persen. Sementara itu, rumah tangga yang menggunakan fasilitas air minum sendiri adalah sebesar 12,75 persen. Bahkan di Kabupaten Tambrauw masih ditemukan rumah tangga yang belum memiliki fasilitas air minum walaupun persentasenya hanya sebesar 2,62 persen. Sumber air minum yang digunakan rumah tangga di Kabupaten Tambrauw adalah air sungai, sumur terlindung, mata air terlindung, mata air tak terlindung, dan sumur terlindung. Persentase rumah tangga yang menggunakan air sungai sebagai sumber air minum adalah sebesar 35,89 persen, sumur tak terlindung sebesar 21,95 persen, mata air terlindung sebesar 20,96 persen, mata air tak terlindung sebesar 20,61 persen, dan sumur terlindung sebesar 0,59 persen.

Sendiri 12.75% Bersama 56.48% Umum 28.15% Tidak Ada 2.62%

103

Gambar 2.48 Persentase Rumah Tangga Menurut Sumber Utama Air untuk Minum, 2014

Sumber: BPS Kabupaten Tambrauw, 2015 (diolah)

Fasilitas Tempat Buang Air Besar

Sistem pembuangan kotoran/tinja manusia juga sangat erat kaitannya dengan kondisi lingkungan dan resiko penularan penyakit khususnya penyakit saluran pencernaan. Masalah kondisi lingkungan tempat pembuangan kotoran dilakukan berdasarkan tingkat resiko pencemaran yang mungkin ditimbulkan. Menurut fasilitas tempat buang air besar, sebagian besar rumah tangga masih banyak yang menggunakan fasilitas bersama yang mencapai 46,07 persen. Sedangkan rumah tangga yang memiliki tempat buang air besar sendiri persentasenya sebesar 9,02 persen dan yang tidak memiliki fasilitas tempat buang air besar sebesar 17,40 persen. Menurut jenis klosetnya, jenis leher angsa merupakan jenis kloset yang banyak digunakan rumah tangga dengan persentase sebesar 93,65 persen. Sebagian besar masyarakat di Kabupaten Tambrauw menggunakan tangki/SPAL sebagai tempat pembuangan akhir tinjanya dengan persentase sebesar 76,99 persen, sedangkan yang menggunakan pantai/tanah lapang/kebun sebesar 11,77 persen.

Air sungai, 35.89

Sumur tak terlindung, 21.95 Mata air terlindung,

20.96

Mata air tak terlindung, 20.61

Sumur terlindung, 0.59

104

Tabel 2.14 Persentase Rumah Tangga Menurut Fasilitas, Jenis Kloset, dan Tempat Pembuangan Akhir Tinja, 2014

Uraian Persentase Fasilitas Sendiri 9,02 Bersama 46,07 Umum 27,51 Tidak Ada 17,40 Jumlah 100,00 Jenis Kloset Leher angsa 93,65 Plengsengan 1,03 Cemplung/cubluk 5,32 Jumlah 100,00

Tempat Pembuangan Akhir Tinja

Tangki/SPAL 76,99 Sungai/danau/laut 2,24 Lubang tanah 5,62 Pantai/tanah lapang/kebun 11,77 Lainnya 3,38 Jumlah 100,00

Sumber: BPS Kabupaten Tambrauw, 2015