BAB XII. SPESIFIKASI TEKNIS DAN GAMBAR
PASAL 13 PEKERJAAN URUGAN DAN PEMADATAN 13.1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan urugan ini dilaksanakan sebagai urugan lubang-lubang pondasi
13.2. Persiapan Untuk Urugan
Pengurugan tidak boleh dilaksanakan sebelum pondasi atau bagian pekerjaan lainnya yang akan ditutup/diurug atau tersembunyi oleh tanah urugan diperiksa oleh Direksi/Pengawas.
13.3. Bahan-bahan urugan menggunakan tanah Lokal
Untuk bahan tanah urug sisa galian tanah untuk pondasi. Bahan-bahan urugan tidak mengandung lumpur dan Bahan-bahan organik, kadar lumpur tidak boleh terlalu tinggi dan bahan urugan mudah dipadatkan.
13.4. Cara Pengurugan
Pengurukan harus dilakukan lapis demi lapis yang tebalnya tidak lebih dari 15-20 cm didapat dengan mesin pemadat/stamper yang diijinkan. Seluruh penimbunan harus dibawah pengawasan Direksi/Pengawas yang harus menyetujui seluruh bahan terlebih dahulu sebelum digunakan. Penyedia jasa tidak diperkenankan melakukan pengurugan tanpa kehadiran Pengawas. Urugan pasir dibawah pondasi atau dibawah lantai dilakukan setelah permukaan tanah dibawahnya rata (waterpass) ketebalan 5-10 cm untuk bawah pondasi 5 cm untuk bawah lantai, atau dengan ketebalan lain sebagaimana yang diperintahkan Direksi. Pasir hurug yang digunakan harus bersih dari kotoran organik, kandungan lumpur maksimal 10%.
Pemadatan tanah urugan untuk semua jenis pekerjaan dilakukan dengan alat pemadat mekanis (Stemper).
PASAL 14 ADUKAN DAN CAMPURAN
14.1. Perbandingan dari berbagai adukan, diberikan dalam daftar dibawah ini. Angka-angka yang tertera menyatakan perbandingan jumlah isi, yang ditakar dalam keadaan kering.
14.2. Kotak-kotak ukuran dibuat dengan ukuran yang sama dengan dalam 50 cm. Volume kotak dibuat sesuai dengan volume 1 zak PC (40 Kg), diselenggarakan atas petunjuk Direksi/ Pengawas Lapangan.
14.3. Daftar adukan PC Kapur Pasir Kerikil Adukan
batu kali/belah 1 - 6 - Pasanga
tembok dalam 1 - 6 - Pasangan
tembok luar 1 - 6 - Plesteran
tembok luar 1 - 6 - Plesteran
tembok dalam 1 - 6 - Pasangan
Keramik 1 - 3 -
14.4. Penggunaan adukan sesuai yang ditetapkan dalam gambar atau tempat-tempat yang dianggap perlu oleh direksi.
PASAL 15 PEKERJAAN PASANGAN BATU KALI/BELAH
15.1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu yang dibutuhkan dalam terlaksananya pekerjaan ini untuk mendapatkan hasil yang terbaik.
Pekerjaan pasangan batu kali ini meliputi seluruh detail yang
disebutkan/ditunjukkan dalam gambar atau sesuai petunjuk
Direksi/Pengawas Lapangan. 15.2. Persyaratan Bahan
Batu kali/belah harus keras, tidak mudah pecah, tidak lapuk dan minimal memiliki 3 sisi bidang pecah serta tidak bulat. Persyaratan bahan lainnya sesuai dengan persyaratan bahan pekerjaan beton bertulang. Adukan yang dipergunakan menggunakan campuran 1PC : 6 Pasir (1:8)
15.3. Syarat Pelaksanaan
Yang termasuk dalam pekerjaan ini meliputi semua pekerjaan yang menggunakan pasangan batu kali/belah termasuk pasangan batu
kosong/aanstamping. Sebelum pelaksanaan pekerjaan pondasi,
Penyedia jasa harus mengadakanpengukuran- pengukuran untuk As-as pondasi seperti dalam gambar dan harus dimintakan persetujuan dari Direksi/Pengawas Lapangan. Penyedia jasa wajib melaporkan kepada Direksi/Pengawas Lapangan bila ada perbedaan gambar-gambar dari konstruksi dengan gambar-gambar arsitektural bila ada hal-hal yang kurang jelas. Pelaksanaan pasangan batu kosong/aanstamping adalah pasangan batu kali yang disusun
berdiri tanpa perekat (campuran) setebal 20 cm, selah antara batu-batu diisi pasir dan disiram air sehingga celah penuh terisi pasir dan kedudukan batu cukup kokoh sebagai adukan pondasi.
Pemasangan batu kali tidak boleh berongga dalam pemasangannya. Batu kali disusun satu persatu dan disangga mortal.
Pelaksanaan pasangan batu belah juga harus memperhatikan gambar rencana yang terkait dan jika ada kelainan/ketidak cocokan harus dikonsuktasikan dengan Direksi/Pengawas Lapangan.
Bentuk pemasangan batu belah haru sesuai dengan gambar rencana. Penggunaan campuran sesuai dengan yang tercantum dalam gambar rencana.
PASAL 16 PEKERJAAN BETON BERTULANG
16.1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan inni melliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu yang dibutuhkan dalam terlaksananya pekerjaan ini untuk mendapatkan hasil yang terbaik.
Pekerjaan beton bertulang meliputi seluruh pekerjaan beton
bertulangseperti yang disebutkan/ditunjukkan dalam gambar atau
sesuai petunjuk Direksi/Pengawas Lapangan. 1. Pekerjaan yang harus dilaksanakan meliputi adalah :
a. Pembuatan sloof beton
b. Pembuatan kolom beton
c. Pembuatan rink balk
16.2. Persyaratan bahan
Semen Portland menggunakan setara Semen Gresik
Harus memakai mutu yang terbaik dari satu jenis merk atas
persetujuan Direksi/Pengawas Lapangan dan harus memenuhi NI-8. Semen yang telah mengeras sebagian/Seluruhnya tidak dibenarkan untuk digunakan. Penyimpanan semen portland harus diusahakan sedemikian rupa sehingga bebas dari kelembaban, bebas dari air dengan lantai terangkat dari tanah dan tumpukan sesuai dengan syarat penumpukan semen.
Pasir beton memakai setara cepu
Pasir harus terdiri dari butir-butir yang berisi dan bebas dari bahan-bahan organis, lumpur dan sebagainya, dan harus mempunyai komposisi butir serta kekerasan yang dicantumkan dalam PBI 1971. Batu split/koral Setara pamotan
Digunakan koral yang bersih, bermutu baik, tidak berpori serta mempunyai gradasi kekerasan sesuai dengan syarat-syarat PBI 1971. Penyimpanan/penimbunan pasir koral beton harus dipisahkan satu dari yang lain hingga kedua bahan tersebut dijamin mendapatkan perbandingan adukan beton yang tepat.
Air
Air yang digunakan harus air tawar yang bersih dan tidak mengandung minyak, asam, alkali dan bahan-bahan organis/bahan lain yang merusak beton dan harus memenuhi NI-3 Pasal 10.
Besi beton menggunakan setara SNII
Besi beton mengunakan besi beton polos yang digunakan mutu U 24 dan U 40 yang terdiri dari besi beton polos Ø 8 mm, Ø 12 mm dengan penggunaan seperti yang digunakan seperti gambar rencana. Besi harus bersih dari lapisan minyak/lemak dan bebas dari cacat seperti serpih-serpih. Penampang besi harus bulat serta memenuhi persyaratan NI-2 (PBI 1971). Bila dipandang perlu penyedia jasa untuk memeriksakan mutu beton dilaboraturium pemeriksaan bahan yang resmi dan sah atas biaya penyedia jasa.
Pengendalian pekerjaan ini harus sesuai dengan : Peraturan/standart setempat yang bisa dipakai.
Peraturan-peraturan beton bertulang indonesia 1971, NI-2 Peraturan konstruksi kayu indonesia 1961, NI-5
Peraturan semen portland indonesia 1972, NI-8 Peraturan pembangunan peerintah daerah setempat
Ketentuan-ketentuan umum untuk pelaksanaan pemborong pekerjaan umum (AV) no.9 tanggal 28 Mei 1941 dan tambahan lembaran negara no. 1457
Petunjuk-petunjuk dan peringatan-peringatan lisan maupun tertulis yang diberikan Direksi/Pengawas Lapangan
Setandar Nasional Jerman (DIN) American Concrete Institute (ACI)
16.3. Syarat-syarat Pelaksanaan Cetakan begisting
Acuan harus dibuat dan direncanakan begitu rupa sehingga beton dapat dengan baik ditempatkan dan dibatalkan, tidak terjadi perubahan bentuk acuan selama pembetonan dilaksanakan maupun terhadap pengerasan beton. Acuan harus cermat dalam kedudukan dan datar, untuk jenis acuan-acuan tertentu, terlebih dulu penyedia jasa harus menyerahkan perencanaan gambar acuan tersebut kepada Direksi, bila perlu harus dilengkapi perhitungan dan detail-detail yang jelas.
Bila mana hal tersebut telah mendapatkan persetujuan dari Direksi, rencana acuan tersebut dapat dilaksanakan.
Sesuai dengan persyaratan betonnya acuan dapat menggunakan multiples 9 mm dengan penguat dari kayu tahun 5/7 dan kayu dolken Ø 8 cm atau konstruksi form work yang lazim digunakan.
Penyedia jasa harus meminta ijin Direksi/Pengawas Lapangan bilamana ia bermaksud akan membongkar pada bagian-bagian konstruksi utama.
Cetakan halus
Khusus pembuatan begistinguntuk permukaan beton yang tidak perlu dilapisi plesteran (dinding graving dock), maka dapat dibuat cetakan
halus dengan syarat sebagai berikut : Cetakan dapat digunakan secara berulang dengan catatan hanya cetakan yang bermutu baik boleh dipakai yang telah disetujui oleh Direksi/Pengawas.
Permukaan cetakan harus dibasahi dengan minyak (form oil/mould release agent) yang bermaksud untuk menhasilkan permukaan beton yang bersih, harus dan bebas kotoran dan kemudahan pada saat pembukaan/pembongkaran bidang-bidang begisting.
Segala cacat pada permukaan beton yang telah dicor harus
ditebalkan (diplester)sedemikian rupa hingga sesuai warna/texture permukaan disekatnya.
Pemberitahuan Tentang Pelaksanaan Pengecoran
Sebelum melaksanakan pekerjaan pengecoran beton pada bagian-bagian utama dari pekerjaan, Penyedia jasa harus memberitahukan Direksi/Pengawas, maka mungkin
Penyedia jasa diperintahkan untuk menyingkirkan beton yang baru dicor atas biaya penyedia jasa.
Seelum pengecoran dimulai,Penyedia jasa harus sudah menyiapkan stek-stek maupun anker-anker yang diperlukan, pada kolom-kolom, balok-balok beton yang akan dihubungkan dengan dinding dan mungkin dinyatakan lain pada gambar-gambar, maka stek-stek maupun anker-anker dipasang setiap jarak 1,00 m. Beton yang mengeras, kotoran-kotoran dan bahan-bahan lain harus dibuang dari dalam begisting, mesin pengaduk (beton molen) maupun alat-alat pembawa.
Penulangan harus dimatikan pada posisinya, diperiksa sebelum pengecoran dilakukan, agar pemeriksaan dan persetujuan dapat diberikan pada waktunya.
Kelas dan Mutu beton
Kecuali dinyatakan lain, maka campuran dari beton harus mencapai kekuatan tekan beton karakteristik yang penggunaannya sebagai berikut. 1) Beton kelas I dengan mutu Bo untuk pekerjaan non struktural seperti
lantai kerja (work floor) dan beton rabat.
2) Beton kelas II dengan mutu 1pc : 2ps : 3kr atau mutu K225 untuk pekerjaan beton struktural.
Pembesian
Pembuatan tulangan-tulangan untuk batang lurus atau dibengkokkan, sambungan kait- kait dan pembuatan sengkang (ring), persyaratanya harus sesuai PBI 1971. Pemasangan dan penggunaan tulangan beton harus disesuaikan dengan gambar konstruksi.
Tulangan beton harus diikat dengan kuat untuk menjamin besi tersebut tidak berubah tempat selama pengecoran, dan harus beban dari papan acuan atau lantai kerja dengan memasang selimut beton sesuai dengan ketentuan PBI 1971. Besi beton yang tidak memenuhi syarat harus dikeluarkan dari lapangan kerja dalam waktu 24 jam setelah ada perintah tertulis dari Direksi/Pengawas Lapangan.
Cara pengadukan
1) Cara pengadukan harus menggunakan beton molen/ready mix.
2) Takaran untuk semen portland, pasir dan koral harus disetujui terlebih dahulu oleh Direksi/Pengawas Lapangan.
3) Selama pengadukan, kekentalan adukan beton harus diawasi dengan jalan memeriksa slump pada setiap campuran baru.
Pengecoran beton
1) Penyedia jasa diwajibkan melaksanakan pekerjaan persiapan
dengan membersihkan dan menyiram cetakan-cetakan sampai jenuh, pemeriksaan ukuran-ukuran dan ketinggian, pemeriksaan penulangan dan penempatan penahan jarak.
2) Pengecoran beton hanya dapat dilaksanakan atas persetujuan Diresi/Pengawas Lapangan.
3) Pengecoran harus dilaksanakan sebaik mungkin untuk menjamin beton cukup padat dan harus dihindarkan terjadinya cacat pada beton seperti keropos dan sarang-sarang koral/split yang dapat memperlemah konstruksi.
4) Apabila pengecoran beton akan dihentikan dan diteruskan pada hari berikutnya maka tepat perhentian tersebut harus disetujui oleh Pengawas Lapangan.
Syarat-syarat pengamanan pekerjaan
1)Beton yang telah dicor harus dihindarkan dari benturan benda keras selama 3x24 jam setelah pengecoran.
2)Beton yang telah dicor harus dilindungi dari pengeringan dengan cara menjaga kelembaban betn dengan dibasahi/digenangi pakai air.
3)Beton dilindungi dari kemungkinan cacat yang diakibatkan dari pekerjaan- pekerjaan lain.
4)Bila terjadi kerusakan, Penyedia jasa diwajibkan untuk memperbaikinya dengan tidak mengurangi mutu pekerjaan. Seluruh biaya perbaikan menjadi tanggung jawab penyedia jasa.
Pengetesan beton a. Slump Test
Pengujian slump pada campuran beton minimum 10 cm. b.Test Kubus Beton
Test Beton Mengunakan benda uji Kubus Beton ukuran 15 x 15x 15 cm. Kubus- kubus uji yang baru dicetak harus disimpan ditempat yang bebas dari getaran da ditutupi dengan karung basah selama 24 jam, setelah mana kubus-kubus tersebut dilepaskan hati-hati dari cetakannya. Jangka waktu itu harus diperpanjang apabila betonnya belum cukup mengeras. Pengujian Beton untuk diperiksa pada umur 28 hari harus
dilakukan di Laboratorium Uji Bahan Bangunan. Sebelum kubus
uji diperiksa kekuatanya ukurannya harus ditentukan dengan
ketelitian dengan sampai mm dan berat beton dengan ketelitian sampai ratusan gram.
PASAL 17 PEKERJAAN PASANGAN