BAB IV : PELAKSANAAN BAGI HASIL PERBANKAN SYARIAH
C. Pelaksanaan Bagi Hasil Pada Bank Sumut Syariah Cabang
1. Beberapa Istilah Syariah yang Diterapkan
Dalam pengertian bagi hasil pada bank syariah cabang lubuk pakam, menggunakan beberapa istilah pembiayaan yaitu pembiayaan yang dikenal dengan Mudharabah dan Musyarakah yaitu:
a. Mudharabah.
Penanaman dana dari pemilik dana (dinamakan shahibul maal) kepada pengelola dana (mudharib) untuk melaksanakan kegiatan usaha tertentu dengan pembagian keuntungan atau bagi hasil dengan menggunakan metode bagi untung dan rugi (profit and loss sharing) atau metode bagi pendapatan (revenue sharing) antara kedua belah pihak berdasarkan nisbah yang telah disepakati sebelumnya.
Adalah perjanjian nasabah dengan pengusaha (bank). Dimana setiap keuntungan yang diraih akan dibagi menurut rasio tertentu yang disepakati. Resiko kerugian ditanggung penuh pihak bank kecuali kerugian yang diakibatkan oleh kesalahan pengelolaan, kelalaian dan penyimpangan pihak nasabah seperti penyelewengan, kecurangan dan penyalahgunaan.
Penanaman dana dari pemilik dana/modal untuk mencampurkan dana/modal kerja pada suatu usaha tertentu, dengan pembagian keuntungan berdasarkan nisbah yang telah disepakati sebelumnya, sedangkan kerugian ditanggung semua pemilik dana/modal berdasarkan bagian dana/modal masing- masing.
Musyarakah disebut juga dengan joint venture konsep model partnership. Keuntungan yang diraih akan dibagi dalam rasio yang disepakati sementara kerugian akan dibagi berdasarkan rasio ekuitas yang dimiliki masing-masing pihak.
Bagi hasil yang dikenal dalam pembiayaan bank syariah cabang lubuk pakam yaitu pembagian keuntungan atas usaha yang dilakukan nasabah dengan pihak bank berdasarkan syariah (hukum) Islam. Dalam sistem syariah Islam ini, mengenal nisbah yaitu perandingan bagi hasil antara bank dan nasabah dalam persentase yang harus ditetapkan dalam akad (perjanjian) atau akad pembiayaan. Akad pembiayaan dimaksud adalah perjanjian tertulis yang memuat ijab (penawaran) dan qabul (penerimaan) antara bank dan nasabah yang berisi hak dan kewajiban masing-masing pihak sesuai dengan psinsip syariah, setelah syarat- syarat yang ditetapkan dalam Surat Persetujuan Prinsip Pemberian Pembiayaan (SP4) dan seluruh aspek yuridis yang berkaitan dengan pembiayaan telah dipenuhi pemohon.
2. Penetapan Ekspektasi atau Proyeksi Bagi Hasil
Tingkat minimal ekspektasi/proyeksi bagi hasil berpedoman kepada ketentuan yang berlaku dalam Surat Edaran Direksi tersendiri. Kantor cabang
dapat menetapkan tingkat ekspektasi/proyeksi bagi hasil kepada nasabah di atas ketentuan minimal, dengan pertimbangan misalnya:
a. Keuntungan usaha yang akan diperoleh dukup besar; dan
b. Jarak lokasi usaha yang cukup jauh sehingga membutuhkan waktu dan biaya monitoring/pengawasan yang cukup besar.
Perhitungan ekspektasi/proyeksi bagi hasil menggunakan sistem perhitungan efektif artinya ekspektasi bagi hasil dihitung berdasakan baki debet;. Untuk pembiayaan yang pembayaran pokok dan pembagian hasil dapat langsung dihitung secara komputerisasi dalam rumus perhitungan annuitas (menurun).
3. Nisbah Bagi Hasil
Hal-hal yang harus diperhatikan oleh bank dalam menentukan porsi bagi hasil keuntungan adalah:
1) Keuntungan yang diperoleh merupakan hasil dari pengelolaan dana pembiayaan yang diberikan;
2) Besar pembagian keuntungan dinyatakan dalam bentuk persentase nisbah yang disepakati;
3) Nasabah harus membayarkan bagian keuntungan yang menjadi hak bank sesuai dengan jadwal yang disepakati;
4) Pelaksanaan bagi hasil dan besarnya kewajiban pembagian keuntungan ditetapkan berdasarkan laporan dari hasil usaha nasabah yang disetujui oleh bank setiap bulan atau berdasarkan laporan dari hasil usaha nasabah, yang disetujui oleh bank setiap bulan atau berdasarkan kesepakatan antara pihak bank dengan nasabah; dan
5) Rumus persentase nisbah bagi hasil bagi pihak bank adalah:
Nisbah bagi hasil (%) : Jumlah Proyeksi/Ekspektasi Bagi Hasil (Rp.-) / Proyeksi Keuntungan (Rp.-) x 100.
Berdasarkan nisbah bagi hasil pada bank sumut Syariah cabang Lubuk Pakam tersebut di atas, merupakan rasio atau perbandingan pembagi keuntungan
revenue sharing antara bank dan nasabah.
4. Cara Pembayaran
Cara pembayaran bagi hasil dilakukan setiap bulan atau disesuaikan dengan siklus usaha nasabah, berikut ini cara-cara pembayarannya:
1) Ketentuan pembayaran angsuran pokok dan atau bagi hasil adalah sebagai berikut:
a) Untuk jangka waktu pembiayaan sampai dengan 1 (satu) tahun pada saat jatuh tempo atau sesuai dengan kesepakatan dan berdasarkan proyeksi arus kas usaha nasabah;
b) Untuk jangka waktu pembiayaan di atas 1 (satu) tahun, wajib diangsur secara berkala dan dijadwalkan selama jangka waktu pembiayaan;
c) Pembayaran angsuran pokok dan bagi hasil wajib dicantumkan dalam akad pembiayaan dan terdokumuntasi secara lengkap.
2) Pembiayaan dengan pembayaran pokok dan atau bagi hasil sekaligus pada saat jatuh tempo disesuaikan dengan siklus usaha nasabah (flow) dan dalam jangka pendek (di bawah satu tahun), misalnya:
a) Pembiayaan kepada petani anaman jagung dnegan jangka waktu pembiayaan 4 (empat) bulan karena siklus tanaman mulai dari masa tanam hingga panen adalah 4 (empat) bulan;
b) Pembiayaan kepada pedagang pakaian menjelang idul fitri atau seragam sekolah menjelang tahun ajaran baru;
c) Pembiayaan kepada pedagang lembu menjelang idul adha. 3) Perhitungan ekspektasi atau proyeksi bagi hasil
a) Menggunakan sistem perhitungan efektif artinya ekspektasi bagi hasil dihitung berdasarkan baki debet;
b) Untuk pembiayaan yang pembayaran pokok dan bagi hasilnya setiap bulan, maka porsi pembayaran pokok dan bagi hasil dapat langsung dihitung secara komputerisasi dalam rumus perhitungan
annuitas (menurun).
Contoh simulasi perhitungan pembiayaan: a. Mudharabah 1
1) Pada tanggal 3 Mei 2009, nasabah memperoleh pembiayaan mudharabah sebesar Rp.100.000.000,- (seratus juta rupiah) untuk jangka waktu selama 12 (dua belas) bulan;
2) Proyeksi keuntungan usaha adalah sebesar Rp.16.000.000,,- (enam belas juta rupiah);
3) Minimal ekspektasi atau proyeksi bagi hasil adalah sebesar 16% efektif pertahun;
Perhitungannya adalah dengan kesepakatan pembayaran pokok dan bagi hasil satiap bulan, maka dengan menggunakan rumus perhitungan
annuitas (menurun) minimal ekspektasi atau proyeksi bagi hasil kepada bank yaitu 16% efektif pertahun adalah sebesar Rp.8.877.029,-
a. Persentase nisbah bagi hasil bagi pihak bank adalah Rp.8.877.029,- / Rp.16.000.000,- x 100 = 55.88%
b. Persentase nisbah bagi hasil bagi pihak nasabah adalah (Rp.16.000.000,00-Rp.8.877.029,-) / Rp.16.000.000,- x 100 = 44,51%;
Angsuran Per Bulan Angsuran
Ke
Tangggal
Angsuran Pokok Bagi hasil Angsuran
Baki Debet 1 13/05/2009 7.739.752,- 1.333.333,- 9.073.086,- 92.260.248,- 2 13/06/2009 7.842.949,- 1.230.137,- 9.073.086,- 84.417.298,- 3 13/07/2009 7.947.522,- 1.125.564,- 9.073.086,- 76.469.777,- 4 13/08/2009 8.053.489,- 1.019.597,- 9.073.086,- 68.416.288,- 5 13/09/2009 8.160.869,- 912.217,- 9.073.086,- 60.255.419,- 6 13/10/2009 8.269.680,- 803.406,- 9.073.086,- 51.985.739,- 7 13/11/2009 8.379.943,- 693.143,- 9.073.086,- 43.605.796,- 8 13/12/2009 8.491.675,- 581.411,- 9.073.086,- 35.114.121,- 9 13/01/2010 8.604.898,- 468.188,- 9.073.086,- 26.509.224,- 10 13/02/2010 8.719.629,- 353.456,- 9.073.086,- 17.789.594,- 11 13/03/2010 8.835.891,- 237.195,- 9.073.086,- 8.953.703,- 12 13/04/2010 8.953.703,- 119.383,- 9.073.086,- - TOTAL 100.000.000,- 8.877.029,- 108.877.029,- - Tabel 2
Simulasi Angsuran Pembiayaan Mudharabah 1 Pokok dan bagi hasil dibayar setiap tahun Mudharabah 2:
1) Pada tanggal 13/05/2009, nasabah memperoleh pembiayaan mudharabah sebesar Rp.100.000.000,- untuk modal kerja pengadaan lembu menjelang idul adha dalam jangka waktu selama 2 (dua) bulan;
2) Proyelsi keuntungan usaha adalah sebesar Rp.10.000.000,-
3) Minimal ekspektasi atau proyeksi bagi hasil adalah sebesar 16%efektif per tahun;
4) Bagi hasil dan pokok dibayar pada saat jatuh tempo pembayaran. Perhitungannya:
Dengan kesepakatan pembayaran pokok dan bagi hasil pada saat jatuh tempo pembayaran, maka minimal efektif atau proyeksi bagi hasil kepada pihak bank adalah sebesar Rp.2.666.667,- yaitu:
Rp.100.000.000,- x 2 bulan / 12 bulan x 16% = Rp.2.666.667,- 1) Persentase nisbah bagi hasil bagi pihak bank adalah:
Rp.2.666.667,- / Rp.10.000.000,- x 100 = 26,66% 2) Persentase nisbah bagi hasil bagi pihak nasabah adalah:
(Rp.10.000.000,- dikurang Rp.2.666.667,-) / Rp.10.000.000,- x 100 = 73,34%
3) Simulasi angsuran pembiayaan:
Angsuran Per Bulan Angsuran
Ke
Tanggal
Angsuran Pokok Bagi Hasil Angsuran
Sisa Pokok 1 13/05/2009 - - - 100.000.000 2 13/06/2009 100.000.000 2.666.666 102.666.666 - TOTAL 100.000.000 2.666.666 102.666.666 Tabel 3
Simulasi Angsuran Pembiayaan Mudharabah 2
b. Musyarakah
1) Pihak bank dan nasabah sepakat untuk bekerjasama membiayai suatu usaha senilai Rp.125.000.000,-
2) Porsi modal/yang dibiayai oleh pihak bank adalah sebesar 80% atau Rp.100.000.000,- sedangkan porsi modal nasabah adalah sebesar 20% atau Rp.25.000.000,-
3) Pembiayaan direalisasi pada tanggal 13/05/2009, untuk jangka waktu selama 12 (dua belas) bulan.
4) Proyeksi keuntungan usaha adalah sebesar Rp.16.000.000,-
5) Minimal ekspektasi atau proyeksi bagi hasil adaah sebesar 16% efektif per tahun.
6) Bagi hasil dibayar setiap bulan, sedangkan pokok dibayar setiap triwulan yaitu sebesar Rp.25.000.000,-
Perhitungannya adalah:
1) Dengan kesepakatan bagi hasil setiap bulan dan pembiayaan pokok secara triwulan sebesar Rp.25.000.000,- maka dengan menggunakan rumus perhitungan annuitas (menurun), minimal ekspektasi atau proyeksi bagi hasil kepada bank yaitu 16% efektif per tahun adalah sama dengan sebesar Rp.10.000.000,-
2) Jumlah keuntungan yang menjadi hak nasabah atas porsi dana sebesar 20% adalah porsi modal nasabah x proyeksi keuntungan 20% x Rp.16.000.000,- = Rp.3.200.000,-
3) Jumlah keuntungan yang menjadi hak nasabah atas pekerjaan adalah proyeksi keuntungan-minimal ekspektasi atau proyeksi bagi hasil pihak bank-jumlah keuntungan atas porsi modal nasabah.
4) Total keuntungan yang menjadi hak nasabah adalah jumlah keuntungan atas porsi modal nasabah + jumlah keuntungan atas pekerjaan.
Rp.3.200.000,- + Rp.2.800.000,- = Rp.6.000.000,-
5) Persentase nisbah bagi hasil bagi pihak bank adalah Rp.10.000.000,- / Rp.16.000.000,- x 100 = 62.50%
6) Persentase nisbah bagi hasil bagi pihak nasabah adalah Rp.6.000.000,- / Rp.16.000.000 x 100 = 37.50%
7) Simulasi angsuran pembiayaan adalah:
Angsuran Per Bulan Angsuran
Ke
Tanggal
Angsuran Pokok Bagi Hasil Angsuran
Sisa Pokok 1 13/05/2009 1.333.333,- 1.333.333,- 100.000.000,- 2 13/06/2009 1.333.333,- 1.333.333,- 100.000.000,- 3 13/07/2009 25.000.000,- 1.333.333,- 26.333.333,- 75.000.000 4 13/08/2009 1.000.000,- 1.000.000,- 75.000.000 5 13/09/2009 1.000.000,- 1.000.000,- 75.000.000 6 13/10/2009 25.000.000,- 1.000.000,- 26.000.000,- 50.000.000,- 7 13/11/2009 666.667,- 666.667,- 50.000.000,- 8 13/12/2009 666.667,- 666.667,- 50.000.000,- 9 13/01/2010 25.000.000,- 666.667,- 25.666.667,- 25.000.000,- 10 13/02/2010 333.333,- 333.333,- 25.000.000,- 11 13/03/2010 333.333,- 333.333,- 25.000.000,- 12 13/04/2010 25.000.000,- 333.333,- 25.333.333,- - TOTAL 100.000.000,- 10.000.000,- 110.000.000,- Tabel 4
Simulasi Angsuran Pembiayaan Musyarakah
5. Perubahan Ekspektasi atau Proyeksi Bagi Hasil
a. Kantor cabang dapat melakukan perubahan ekspektasi atau proyeksi bagi hasil berdasarkan kesepakatan dengan nasabah apabila terdapat perubahan atas kondisi ekonomi makro, pasar,politik yang mempengaruhi usaha nasabah;
b. Kantor cabang wajib mencantumkan perubahan ekspektasi atau proyeksi bagi hasil dalam akad pembiayaan dan terdokumentasi secara lengkap; c. Kantor cabang dapat melakukan perubahan ekpektasi atau proyeksi bagi
hasil paling banyak yaitu:
1. Satu kali untuk pembiayaan dengan jangka waktu sampai dengan 1 (satu) tahun;
2. Dua kali untuk pembiayaan dengan jangka waktu di atas 1 (satu) tahun.
d. Untuk melakukan perubahan ekpektasi atau proyeksi bagi hasil di bawah ketentuan minimal, harus mendapat persetujuan dari direksi.
6. Ketentuan Denda
Penilaian dan pengambilan keputusan sanksi berupa denda dilakukan bersama-sama oleh Kepala Seksi Pemasaran atau Kepala Kantor Cabang Pembantu dengan Pimpinan Cabang dengan mempertimbangkan kriteria di bawah ini yaitu:
a. Nasabah yang mampu membayar tetapi menunda-nunda pembayaran dengan sengaja dan atau tidak mempunyai kemauan yang baik untuk membayar hutangnya dikenakan sanksi;
b. Nasabah yang tidak atau belum mampu membayar disebabkan karena
force majeur tidak boleh dikenakan sanksi;
c. Sanksi didasarkan pada prinsip ta’zir yaitu bertujuan agar nasabah lebih disiplin dalam melaksanakan kewajibannya;
d. Sanksi dapat berupa denda sejumlah uang yang besarnya ditentukan atas kesepakatan dan dibuat saat akad ditandatangani;
e. Dana yang berasal dari denda diperuntukkan sebagai dana sosial; dan f. Besaran denda sesuai dengan surat edaran direksi yang berlaku.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Adapun yang menjadi kesimpulan berdasarkan perumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Dasar hukum pelaksanaan syariah di Indonesia didasarkan kepada undang- undang perbankan, Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, Peraturan Bank Indonesia, Surat Edaran Bank Indonesia, Surat Keputusan Direksi PT. Bank Sumut, dan Fatwa Dewan Syariah Nasional.
2. Pelaksanaan bagi hasil dalam kegiatan usaha Bank Sumut Syariah Cabang Lubuk Pakam yaitu tidak bersifat bebas nilai (berdasarkan Syariat Islam), uang digunakan sebagai alat tukar bukan komoditi, bunga dalam berbagai bentuknya dilarang, menggunakan prinsip bagi hasil dan keuntungan atas transaksi riil, resiko usaha dihadapi bersama antara bank dan nasabah dengan prinsip kejujuran dan keadilan dan adanya Dewan Pengawas Syariah untuk memastikan operasional bank tidak menyimpang dari Syariah di samping tuntutan moralitas pengelola bank dan nasabah sesuai dengan akhlakul kharimah.
B. Saran
Sedangkan yang menjadi saran untuk perbaikan terhadap pelaksanaan sistem syariah ini adalah:
1. Diharapkan agar bank syariah tumbuh lebih signifikan hendaknya terhadap bank-bank syariah dan para pengelola undang-undang syariah untuk bersama-sama melakukan public educaion (pendidikan terhadap masyarakat) mengenai syariah. Perlunya sosialisasi dan edukasi secara berkesinambungan karena perbankan syariah ini masih tergolong baru sehingga perlu memberikan pemahaman kepada publik.
2. Karena dari sisi regulasi sudah ada upaya mendukung pertumbuhan bank syariah, antara lain lewat peraturan yang memperbolehkan mekanisme
office channeling. Dimana mekanisme ini merupakan penggunaan bank konvensional sebagai jaringan bank syariah. Maka diharapkan kepada perbankan dan pengelola bank-bank syariah saat ini khususnya PT. Bank Sumut Syariah untuk lebih mengoptimalkan penggunaan mekanisme tersebut agar jumlah cabang syariah dapat cepat tumbuh mengkitui pertumbuhan cabang-cabang bank konvensional.
BAB II
TINJAUAN UMUM TERHADAP HUKUM PERBANKAN DI INDONESIA
A. Pengertian dan Sistem Hukum Perbankan Indonesia
Pada tanggal 10 November 1998 Pemerintah Republik Indonesia telah mengundangkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan (UU Perbankan). Kehadiran Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 ini adalah untuk mengubah/mengganti/menambah beberapa pasal dari Undang-Undang Perbankan Nonor 7 Tahun 1992. Dengan demikian yang berlaku sekarang adalah Undang- undang Perbankan yang lama (Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992) yaitu terhadap pasal-pasalnya yang belum dirubah, dan Undang-undang Perbankan No. 10 Tahun 1998.
Sebelum melanjutkan pada pembahasan yang lebih intensif, penulis terlebih dahulu ingin menjabarkan mengenai apa yang dimaksud dengan bank dan hukum perbankan.
Dalam sejarah asal mula keberadaan lembaga bank di dunia, kata “bank” berasal dari bahasa Italia yaitu “banca” yang secara terminologi berarti “bence” yang artinya suatu bangku tampat duduk. Hal ini disebabkan pada zaman pertengahan, pihak bankir Italy yang memberikan pinjaman-pinjaman melakukan usahanya tersebut dengan duduk di bangku-bangku di halaman pasar.24
24
A. Abdulrahman, Ensiklopedia Ekonomi keuangan Perdagangan, (Jakarta: Pradya Paramita, 1993), hal. 80.
Dalam perkembangan dewasa ini, maka istilah “bank” dimaksudkan sebagai:25
“Suatu jenis pranata finansial yang melaksanakan jasa-jasa keuangan yang cukup beraneka ragam, seperti pinjaman, mengedarkan mata uang, mengadakan pengawasan terhadap mata uang, bertindak sebagai tempat penyimpanan bagi benda-benda berharga, membiayai usaha-usaha perusahaan.”
Dalam kamus Webster, “bank” diartikan:26
1. Menerima deposito uang, custody, menerbitkan uang, untuk memberikan pinjaman dan diskonto, memudahkan penukaran fund-fund tertentu dengan cek, notes dan lain-lain, dan juga bank memperoleh keuntungan dengan meminjamkan uangnya dengan memungut bunga.
2. Perusahaan yang melaksanakan bisnis bank tersebut.
3. Gedung atau kantor tempat dilakukannya transaksi bank atau tempat beroperasinya perusahaan perbankan.
Menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Pasal 1 angka 2, bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.
Sedangkan pada Pasal 1 angka 3 Undang-Undang yang sama disebutkan bahwa bank umum adalah bank yang melakukan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jas dalam lalu lintas pembayaran.
Ketentuan-ketentuan yang mengatur masalah perbankan ini disebut dengan Hukum Perbankan (Banking Law). Munir Fuady, berpendapat bahwa hukum perbankan merupakan seperangkat kaedah hukum dalam bentuk peraturan perundang-undangan, yurisprudensi, doktrin dan lain-lain sumber hukum, yang
25
Ibid., hal 80. 26
Noah Webster, Webster ‘s New Universal Unabriged Dictionary, (New York-USA: Simon & Schuster, 1979), hal. 146.
mengatur masalah-masalah perbankan sebagai lembaga, dan aspek kegiatannya sehari-hari, rambu-rambu yang harus dipenuhi oleh suatu bank, perilaku petugas- petugasnya, hak, kewajiban, tugas dan tanggung jawab para pihak yang tersangkut dengan bisnis perbankan, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh bank, eksistensi perbankan, dan lain-lain yang berkenan dengan dunia perbankan tersebut.27
Adapun yang merupakan ruang lingkup dari pengaturan hukum perbankan adalah sebagai berikut :28
1. Asas-asas perbankan seperti norma efisiensi, keefektifan, kesehatan bank, profesionalisme pelaku perbankan, maksud dan tujuan lembaga perbankan, hubungan hak dan kewajiban bank;
2. Para pelaku bidang perbankan seperti dewan komisaris, direksi, dan karyawan, maupun pihak terafiliasi. Mengenai bentuk-bentuk badan hukum pengelola, seperti PT Persero, Perusahaan Daerah, Koperasi atau Perseroan Terbatas. Mengenai bentuk kepemilikan, seperti milik pemerintah, swasta, patungan dengan asing, atau bank asing;
3. Kaidah-kaidah perbankan yang khusus diperuntukkan untuk mengatur perlindungan kepentingan umum dari tindakan perbankan, seperti pencegahan persaingan yang tidak sehat, antitrust, perlindungan nasabah dan lain-lain;
4. Yang menyangkut dengan struktur organisasi yang berhubungan dengan bidang perbankan, seperti eksistensi dari Dewan Moneter, Bank Sentral dan lain-lain;
5. Yang mengarah kepada pengamanan tujuan-tujuan yang hendak dicapai oleh bisnisnya bank tersebut, seperti pengadilan, sanksi, insentif, pengawasan, prudentbanking dan lain-lain.
B. Perkembangan Perbankan Indonesia
Perkembangan perbankan di Indonesia telah melalui beberapa kurun waktu, yaitu :29
27
Munir Fuady., Hukum Perbankan Modren, Citra Aditya Bakti, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1999), hal. 14.
28
Muhammad Djumhana., Hukum Perbankan di Indonesia, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1996), hal. 10.
1. Perbankan zaman penjajahan Belanda 2. Perbankan zaman Jepang
3. Perbankan zaman kemerdekaan Indonesia a. Perbankan zaman Orde Lama b. Perbankan zaman Orde Baru
c. Perbankan masa pasca krisis moneter
1. Perbankan pada zaman penjajahan Belanda
Sejarah dan hukum perbankan di Indonesia dimulai sejak zaman
Vereenigde Oost-Indeische Compagnie (VOC) yang merupakan serikat perdagangan Belanda di Indonesia, sekaligus sebagai cikal bakal penjajahan Belanda di Indonesia. Perusahaan pertama yang menjalankan fungsi bank di Indonesia adalah De Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM) pada tahun 1824, yang secara resminya merupakan perusahaan dagang.
Pada tahun 1827 barulah pemerintah Hindia Belanda mendirikan sebuah bank yang bernama De Javasche Bank yang berfungsi untuk mengeluarkan uang dan mengawasi peredarannya. Bank ini sekarang menjadi Bank Indonesia, sedangkan NHM kemudian menjadi Bank Ekspor Impor Indonesia.Kemudian didirikanlah sebuah bank swasta yang pertama kali di Indonesia yang bernama NV. Escompto Bank pada tahun 1857, yang setelah dinasionalisasikan pemerintah Indonesia berganti menjadi Bank Dagang Negara.
Pada tahun 1895 didirikan beberapa koperasi simpan pinjam yang kemudian digabung menjadi satu pada tahun 1934 dengan nama Algemeene
29
Volkscrediet Bank (AVB). Selain itu pada tahun 1898 dengan bekerja sama dengan Jawatan Pos, pemerintah Hindia Belanda mendirikan pula Post Spaartbank, yakni semacam bank tabungan.
Selain dari bank-bank yang didirikan pemerintah Hindia Belanda dan bank-bank yang didirikan oleh swasta, maka pemerintah Hindia Belanda juga membuka kesempatan terhadap berdirinya bank-bank asing di Indonesia. Bank- bank asing yang sempat berdiri di Indonesia misalnya The Charter bank of India, The Overseas Chinese Banking Coorporation, The Bank of China, The Bank of Taiwan, The Yokohama Specie Bank (Yokohama Shokin Ginko), The Mitsui Bank,
The Hongkong & Shanghai Bank, Great Eastern Banking Cooporation, dan lain- lain.30
Selain dari bank-bank tersebut di atas, maka di zaman pemerintahan Hindia Belanda sudah diakui keberadaan Lembaga Perkreditan Rakyat, terutama setelah keluarnya S. 1929 No. 357, tanggal 14 September 1929, yang berisikan ketentuan-ketentuan tentang Badan-badan Perkreditan Desa dalam provinsi- provinsi di Jawa dan Madura di luar wilayah kotapraja.
2. Perbankan zaman pemerintahan Jepang
Pada masa pendudukan Jepang, kebanyakan bank-bank yang sudah ada pada masa pemerintahan Belanda ditutup atau dikuasai oleh pemerintah Jepang. Satu-satunya bank yang beroperasi adalah bank yang dioperasikan putera Indonesia, yaitu Bank Rakyat Indonesia yang awalnya bernama Algemeene
30
Widjanarto, Hukum dan Ketentuan Perbankan imdonesia, (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1993), hal. 49.
Volkscrediet Bank (AVB). Berdasarkan ketentuan dalam Osamu Serei Nomor 8 Tahun 2602 Tahun Jepang, nama AVB diganti menjadi Syomin Ginko.31
Akan tetapi setelah pendudukan bala tentara Jepang di Indonesia, beberapa bank yang sempat ditutup oleh pemerintah Hindia Belanda, dibuka kembali. Maka dibukalah kembali Bank of Taiwan, Yokohama Bank, dan Mitsui Bank. Demikian pula halnya dengan Nanpo Kaihatsu Kinko yang pada tanggal 1 April 1943 membuka empat kantor di Jawa dan empat kantor di Sumatera. Sementara Bank Tabungan milik pemerintah Hindia Belanda yang sempat dibekukan oleh pemerintah Jepang kemudian dibuka kembali pada tanggal 1 April 1942 dengan nama Tyokin Kyoku.32
3. Perbankan zaman kemerdekaan Indonesia a. Perbankan zaman orde lama
Setelah kemerdekaan, dalam sidang Dewan Menteri tanggal 19 September 1945, pemerintah Republik Indonesia, mengambil keputusan untuk mendirikan sebuah bank sirkulasi berbentuk bank milik negara. Pelaksanaan pembentukannya dipercayakan kepada Tuan RM Margono Djojohadikusumo. Sebagai realisasinya, pada tanggal 14 Oktober 1945, dengan akta notaris RM Soerojo, notaris di Jakarta, terbentuklah Yayasan Pusat Bank Indonesia.33
Selain itu pada tanggal 17 Agustus 1946 diresmikanlah Bank Negara Indonesia 1946, yang didirikan dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 1946, pada tanggal 5 Juli 1946. Selain sebagai bank komersial, BNI 1946 juga berfungsi sebagai bank sentral.
31
Muhammad Djumbana, Op. cit, hal. 50. 32
Widjanarto, Op. cit, hal. 5. 33
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 1946, tanggal 22 Februari 1946, pemerintah mendirikan Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang sebenarnya merupakan terusan dari De Algemeene Volkscrediet.
Peraturan mengenai perbankan dalam bentuk Undang-undang Perbankan di zaman kemerdekaan ini untuk pertama kali diatur dalam Undang-undang No.11 Tahun 1953 tentang Undang-Undang Pokok Bank Indonesia, yang kemudian dicabut dengan Undang-undang Nomor 14 Tahun 1967. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1967 ini kemudian dicabut dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 yang dirubah kembali dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998.
Pada zaman Orde Lama, maka seperti juga dalam bidang perusahaan- perusahaan yang lain, perbankan juga mengalami musim nasionalisasi dari bank- bank Belanda yang ada di Indonesia. Sedangkan Bank Belanda yang pertama kali dinasionalisasi adalah Nationale Handels Bank (NHB) yang merupakan sebuah perseroan terbatas yang bergerak di bidang pembiayaan perkebunan. NHB dinasionalisasi dengan Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 1959, didirikanlah Bank Umum Negara yang kemudian lebih dikenal dengan Bank Bumi Daya.
Setelah NHB, maka bank yang dinasionalisasikan berikutnya adalah
Nederlandsche Handels Maatschappij (NHM) dengan Undang-Undang Nomor 41/prp/1960. NHB yang sudah berdiri sejak tahun 1842 tersebut dinasionalisasi dengan membentuk Bank Koperasi Tani dan Nelayan. Di samping itu pemerintah juga menasinalisasi PT. Escompto Bank, yang ketika berdirinya pada tahun 1863 bernama Nederlabsche Indische Handelsbank. Untuk keperluan tersebut
pemerintah mendirikan Bank Dagang Negara berdasarkan Undang-Undang