• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : PELAKSANAAN BAGI HASIL PERBANKAN SYARIAH

B. Dasar Hukum Pelaksanaan Bagi Hasil Pada Bank Sumut

1. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Sebagaimana

Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang- Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan telah memberi indikasi penegasan eksistensi prinsip usaha bank berlandaskan syariah dalam Pasal 1 angka 3, yang isinya bahwa, “Bank Umum adalah Bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensioanl dan atau berdasrakan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.”

Dari ketentuan di atas, secara eksplisit di Indonesia terdapat 2 (dua) prinsip dalam perbankan yaitu prinsip perbankan syariah dan prinsip perbankan konvensional. Namum pada hakikatnya kedua jenis prinsip perbankan ini

65

mempunyai fungsi yang sama yaitu sebagai penghimpun dan penyalur dana masyarakat dalam bentuk pembiayaan.

Perbedaan paling mendasar antara bank syariah dan bank konvensional adalah bahwa bank syariah melakukan kegiatan usahanya tidak berdasarkan bunga (interest free), tetapi berdasarkan prinsip syariah yaitu prinsip pembagian keuntungan dan kerugian (profit and loss sharing pronciple).

Dalam bank syariah, praktik-praktik yang dikhawatirkan mengandung unsur-unsur riba sejauh mungkin ditinggalkan dan diganti dengan kegiatan- kegiatan investasi atas dasar bagi hasil dan pembiayaan perdagangan, karena riba merupakan suatu dosa besar dalam Islam. Kekhawatiran akan riba inilah yang merupakan faktor utama berdirinya bank Islam (bank syariah).

Hingga awal abad XX, bank syariah hanya merupakan diskusi teoritis. Belum ada langkah nyata yang memungkinkan perwujudan ide tersebut. Padahal telah muncul kesadaran bahwa bank syariah merupakan solusi masalah ekonomi untuk menghasilakan kesejateraaan sosial yang merata di negara-negara Islam atau negara-negara berpenduduk Islam.66

Upaya untuk memperkenalkan bank syariah pada saat itu baru berupa diskusi terbatas atas inisiatif individu. Namun upaya tersebut seolah tenggelam di tengah kuatnya arus sistem operasional bank-bank non Islam (bank konvensional. Seolah-olah tidak ada celah yang untuk mendirikan bank berdasarkan prinsip syariah. Walaupn belum mempuanyai bentuk konkrit, gagasan tersebut terutama berkembang, meskipun dengan perlahan. Beberapa uji coba mulai dilakukan,

66

mulai dari bentuk yang sederhana hingga terbentuknya infra struktur perbankan yang bebas bunga.

Rintisan bank syariah mulai mewujud di Mesir pada tahun 1960-an yang beroperasi sebagai rural-social bank (semacam lembaga keuangan unit desa di Indonesia) di samping delta Sungai Nil. Lembaga dengan nama Mit Ghamar Bank

binaan Ahmad Najjar tersebut hanya beroperasi di pedesaan Mesir dan berskala kecil. Namun intitusi tersebut mampu menjadi pemicu yang sangat berarti bagi perkembangan sistem finansial dan ekonomi Islam.

Pada sidang Menteri Luar Negeri Negara-Negara Organisasi Konferensi Islam (OKI)di Karachi Pakistan, Desember 1970, Mesir mengajukan sebuah proposal untuk mendirikan bank syariah. Proposal yang disebut studi tentang pendirian Bank Islam International untuk Perdagangan dan Pembangunan (International Islamic Bank For Trade and Development) dan proposal pendirian Federasi Bank Islam (Federation of Islamic Banks) dikaji para ahli dari 18 negara Islam.

Proposal tersebut pada intinya mengusulkan agar sistem keuangan berdasakan bunga diganti dengan suatu kerjasama dengan skema bagi hasil keuntungan maupun kerugian. Proposal tersebut diterima dan sidang menyetujui rencana mendirikan Bank Islam Internasional dan Federasi Bank Islam. Proposal tersebut antara lain mengusulkan untuk: 67

1. Mengatur transaksi komersial antar negara Islam. 2. Mengatur institusi pembangunan dan investasi.

67

3. Merumuskan masalah transfer, kliring, serta settlement antar bank sentral di negara Islam sebagai langkah awal untuk terbentuknya sistem perekonomian Islam yang terpadu.

4. Membantu mendirikan institusi sejenis bank sentral syariah di negara Islam.

5. Mendukung upaya-upaya bank sentra di negara Islam dalam hal pelaksanaan kebijakan-kebijakan yang sejalan dengan kerangka kerja Islam.

6. Mengatur administrasi dan mendayagunakan dana zakat. 7. Mengatur kelebihan likuiditas bank-bank sentral Islam.

Selain hal tersebut di atas, diuraikan pula pembentukan badan-badan khusus yng disebut Badan Investasi dan Pembangunan Negara-negara Islam (Investment and Development Body of Islamic Countries). Badan tersebut berfungsi sebagai berikut:68

1. Mengatur investasi modal Islam.

2. Menyeimbangkan investasi dengan pembangunan di negara Islam.

3. Memiliki lahan/sektor yang cocok untuk investasi dan mengatur penelitiannya.

4. Memberi saran dan bantuan teknis bagi proyek-proyek yang dirancang untuk, investasi regional di negara-negara Islam.

Pada Sidang Menteri Luar Negeri OKI di Bengazhi, Libya, Maret 1973, usulan tersebut kembali diagendakan. Sidang kemudian juga memutuskan agar OKI mempunyai bidang yang khusus menangani masalah ekonomi dan keuangan. Bulan Juli 1973, komite ahli yang mewakili negara-negara Islam penghasil minyak bertemu di Jeddah untuk membicarakan pendirian bank Islam. Rancangan pendirian bank tersebut berupa anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, dibahas pada pertemuan kedua, pada bulan Mei 1974.

Sidang Menteri Keuangan OKI di Jeddah tahun 1975, menyetujui pendirian Bank Pembangunan Islam atau Islamic Development Bank (IDB)

68

dengan modal awal 2 milyar dinar Islam atau ekuivalen dengan 2 milyar SDR (Special Drawing Right). Semua negara anggota OKI menjadi anggota IDB.

Pada tahun-tahun awal beroperasinya, IDB mengalami banyak hambatan karena masalah politik. Meskipun demikian, jumlah anggotanya makin meningkat dari 22 menjadi 43 nehagar. IDB juga terbukti mampu memainkan peran yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan negara-negara Islam untuk pembangunan. Bank ini memberikan pinjamanm bebas bunga untuk proyek infrastruktur dan pembiayaan kepada negara anggota berdasarkan partisipasi modal negara tersebut.

IDB juga membantu mendirikan bank-bank Islam di bebagai negara. Untuk pengembangan sistem ekonomi syariah, institusi ini membangun sebuah institusi riset dan peralihan untuk pengembangan penelitian dan pelatihan ekonomi Islam, baik perbankan maupun keuangan secara umum lembaga ini disebut IRTI (International Reseaerch and Training Institute).

Berdirinya IDB telah memotivasi banyak negara Islam untuk mendirikan lembaga keuangan syariah. Untuk itu komite ahli IDB pun bekerja keras menyiapkan paduan tentang pendirian, peraturan, dan pengawasan bank syariah. Kerja keras mereka membuahkan hasil. Pada akhir periode 1970-an dan awal dekade 1980-an, bank-bank syariah bermunculan di Mesir, Sudan, Negara-negara Teluk, Pakistan, Iran, Malaysia, Bangladesh, serta Turki.

Secara garis besar lembaga-lembaga tersebut dapat dimasukkan ke dalam dua kategori. Pertama, bank Islam komersial (Islamic coomercial bank), dan

Dokumen terkait