• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Hasil Penelitian

1. Pelaksanaan Hukum Kontrak Dalam Pembiayaan

dengan prinsip-prinsip Syariah.

Di dalam praktek, penyusunan suatu perjanjian antara Bank Syariah dengan nasabah, dari sisi hukum positif, selain mengacu kepada KUH Perdata juga harus merujuk kepada UU No 10 tahun 1998 tentang perubahan UU No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan. Sedangkan dari sisi Syariah selain mengacu pada UU No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, juga berpedoman kepada fatwa-fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia.

Ada beberapa prinsip dalam hukum kontrak dalam pembiayaan Murabahah yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah, yaitu sebagai berikut :

a. Ikhtiyari/sukarela : setiap akad dilakukan atas kehendak para pihak, terhindar dari keterpaksaan karena tekanan salah satu pihak atau pihak lain.

b. Amanah/menepati janji : setiap akad wajib dilaksanakan oleh para pihak sesuai dengan kesepakatan yang ditetapkan oleh yang bersangkutan dan pada saat yang sama terhindar dari cidera janji. c. Ikhtiyati/kehati-hatian : setiap akad dilakukan dengan pertimbangan

yang matang dan dilaksanakan secara tepat dan cepat.

d. Luzum/tidak berobah : setiap akad dilakukan untuk memenuhi kepentingan para pihak sehingga tercegah dari praktek manipulasi dan merugikan salah satu pihak.

e. Taswiyah/kesetaraan : para pihak dalam setiap akad memiliki kedudukan yang setara, mempunyai hak dan kewajiban yang seimbang.

f. Transparansi : setiap akad dilakukan dengan pertanggungjawaban para pihak secara terbuka.

g. Kemampuan; setiap akad dilakukan sesuai dengan kemampuan para pihak, sehingga tidak menjadi beban yang berlebihan bagi yang bersangkutan.

h. Taisir/kemudahan; setiap akad dilakukan sesuai dengan cara saling memberi kemudahan kepada masing-masing pihak untuk dapat terlaksananya sesuai dengan kesepakatan

i. Iktikad baik; akad dilakukan dalam rangka menegakkan kemaslahatan, tidak mengandung unsur jebakan dan perbuatan buruk lainnya.

j. Sebab yang halal; tidak bertentangan dengan hukum, tidak dilarang oleh hukum dan tidak haram.

Disamping jenis asas-asas yang tersebut diatas, ada lagi pendapat yang disampaikan oleh Syamsul Anwar, ia menyebutkan ada 8 asas perjanjian di dalam Hukum Islam, yaitu :

9. Asas Ibahah (Mabda'al-Ibahah)

Asas Ibahah adalah asas umum hukum Islam dalam bidang muamalah. Asas ini dirumuskan dalam adagium " pada dasarnya segala sesuatu itu boleh sampai ada dalil yangmelarang". Asas ini merupakan kebalikan dari asas yang berlaku dalam hal ibadah. Khususnya di dalam perjanjian, ini berarti bahwa tindakan hukum dan perjanjian apapun dapat dibuat sejauh tidak ada larangan khusus mengenai perjanjian tersebut.

10.Asas Kebebasan Berakad (Mabda' Hurriyah at-Ta'aqud)

Suatu prinsip hukum yang menyatakan bahwa setiap orang dapat membuat akad jenis apapun tanpa terikat dan memasukkan klausal

apa saja ke dalam akadnya itu sejauh tidak ada unsur kebatilan di dalamnya.

11.Asas Konsensualisme (Mabda'ar-Radhaiyah)

Asas ini menyatakan bahwa terciptanya suatu perjanjian cukup dengan tercapainya kata sepakat antar para pihak tanpa perlu dipenuhinya formalitas-formalitas tertentu

12.Asas janji itu mengikat.

Dalam Al-Qur'an banyak terdapat perintah untuk memenuhi janji. Juga dalam Hadits Shahih, salah satu ciri sebagai munafiq ialah bila berjanji tidak mau menepati janjinya.

13.Asas Keseimbangan (Mabda' at-Tawazun fi al-Muawadah)

Dalam hukum perjanjian Islam menekankan perlu adanya keseimbangan baik apa yang diberikan dengan apa yang diterima.

14.Asas Kemaslahatan (tidak memberatkan)

Akad ini dibuat dengan tujuan untuk mewujudkan kemaslahatan dan tidak boleh menimbulkan kerugian (mudharat) atau keadaan memberatkan (masyaqah).

15.Asas Amanah.

Masing-masing pihak haruslah beriktikad baik, tidak diperkenankan memanfaatkan mengeksploitasi ketidaktahuan mitranya dan hendaknya diberikan informasi yang cukup dan jujur kepada pihak yang lain.

16.Asas Keadilan.

Keadilan inilah yang ingin diwujudkan oleh semua hukum. Dalam hukum Islam, keadilan adalah perintah agama sebagaimana Firman Allah dalam Al Qur'an Surat Al-Maidah : 8 yang artinya "

Berlakulah adil, karena adil itu lebih dekat dengan taqwa".78 Perbankan Islam atau yang lazim disebut Perbankan Syariah

sebagai Lembaga Intermediasi Keuangan (Financial Intermediaty

78

Prof Dr. H. Abdurrahman, SH. Hukum Perjanjian Syariah di Indonesia, Mahkamah Agung RI, Jakarta, 2008, hal.37

Institution) mulai tumbuh sejak deregulasi dibidang perbankan pada tahun 1988 yang memberikan kemudahan bagi pendirian bank-bank baru, termasuk diperbolehkannya pendirian bank dengan bunga nol persen (zero interest) yang secara implisit berarti telah mengijinkan operasional perbankan yang bebas bunga (Interest free banking). Dengan lahirnya Undang-undang nomor 7 Tahun 1992 tentang perbankan semakin memberikan angin segar dalam menumbuh kembangkan operasional perbankan yang tidak didasarkan pada sistem bunga, tetapi didasarkan melalui mekanisme bagi hasil, hal ini dikuatkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 72 tahun 1992 tentang bagi hasil.

Selanjutnya dengan adanya amandemen Undang-undang

Perbankan dengan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998

memperbolehkan operasional bank berdasarkan prinsip Syari’ah baik Bank umum maupun Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Di dalam pasal 13 Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang perbankan, menyebutkan bahwa prinsip syariah adalah aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam antara Bank dan pihak lain untuk penyimpanan dan atau pembiayaan kegiatan usaha atau kegiatan lainnya yang dinyatakan sesuai dengan Syari’ah diantaranya adalah :

e. Pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil (Mudharabah).

f. Pembiayaan berdasarkan prinsip penyertaan modal (Musyarakah).

g. Prinsip jual beli barang dengan memperoleh keuntungan

(Murabahah).

h. Pembiayaan barang nodal berdasarkan prinsip sewa murni tanpa pilihan (Ijarah) atau adanya pemindahan kepemilikan atas barang yang disewa dari pihak bank oleh pihak lain (Ijarah Wa Iqtiqna’).

Pengalaman selama masa krisis ekonomi ini memberikan pelajaran berharga, dengan prinsip risk sharing (berbagai resiko) atau

profit and loss sharing (bagi hasil) merupakan suatu prinsip yang dapat berperan meningkatkan ketahanan satuan-satuan ekonomi. Dalam keadaan ekonomi yang memburuk, pengusaha akan memikul sendiri resiko dan kejatuhan usaha, walau kejatuhan tersebut tidak disebabkan oleh kesalahan. Atau ketidakmampuan pengusaha tersebut. Meskipun pada akhirnya mungkin akan menjadi risk sharing melalui debt workout

dan lain sebagainya, namun prosesnya lebih memakan waktu, tenaga dan biaya.

Lain halnya dengan prinsip syariah, penyaluran dana dilakukan berdasarkan prinsip syariah yaitu prinsip bagi hasil atau berbagai resiko (profit and loss sharing) antara pemilik dana dan pengguna sudah diperjanjikan secara jelas sejak awal. Prinsip syariah berlandaskan nilai keadilan, kemanfaatan, keseimbangan dan keuniversalan. Nilai tersebut diterapkan dalam pengaturan perbankan yang didasarkan pada Prinsip Syariah yang disebut Perbankan Syariah.

Prinsip perbankan syariah merupakan bagian dari ajaran Islam yang berkaitan dengan ekonomi. Salah satu prinsipnya dalam ekonomi Islam adalah larangan riba dalam segala bentuknya dan menggunakan sistem prinsip bagi hasil. Dengan sistem ini Bank Syari'ah dapat menciptakan iklim investasi yang sehat dan adil karena semua pihak dapat saling berbagi keuntungan maupun potensi resiko yang timbul, sehingga akan menciptakan posisi yang berimbang antara pihak bank dan nasabah. Dalam jangka panjang, hal ini akan mendorong pemerataan ekonomi nasional karena hasil keuntungannya tidak hanya dinikmati oleh pemilik modal, tetapi juga oleh pengelola modal.79

Rumusan dalam sistem perbankan syariah yang sama sekali berbeda dengan sistem perbankan konvensional. Hal ini karena perbankan yang memiliki akar dari syariah yang menjadi sumber dan panduan bagi setiap muslim dalam melaksanakan aktivitasnya. Islam

memilih tujuan-tujuan syariah (Maqasid al syariah) serta petunjuk operasional untuk mencapai tujuan tersebut, tujuan itu sendiri selain mengacu pada kepentingan manusia untuk mencapai kesejahteraan dan kehidupan yang lebih baik, juga memiliki nilai yang sangat penting bagi persaudaraan dan keadilan sosio ekonomi serta menuntut tingkat kepuasan yang seimbang antara kepuasan duniawi dan ukhrowi.

Dari dasar tersebut, maka sistem perbankan Islam dalam membangun jaringan transaksi atau hukum kontrak dan atau dalam hukum islam disebut " akad-akad syariah", melalui suatu standar istilah yang bersumber dari Al Qur'an dan As-Sunah, oleh karena itu tulisan ini akan membahas tentang penerapan Hukum Kontrak dalam Pembiayaan Perbankan Islam.

Dokumen terkait