BAB II TINJAUAN PUSTAKA
D. Pelaksanaan Pemilihan Langsung Presiden dan Wakil Presiden …
Penyelenggeraan pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur dilaksanakan oleh sebuah lembaga independen, yang susunan anggotanya terdiri dari berbagai unsur masyarakat, disebut Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) ditetapkannya KPUD selaku penyelenggara, seiring dengan perubahan format politik ketatanegaraan Republik Indonesia khususnya sistem penyelenggeraan pemerintah daerah kearah lebih demokrasi. Hal ini sangat berbeda pada pemilihan Gubernur sebelumya yang pelaksanaanya diselenggerakan melalui lembaga legislatif di daerah yaitu Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), sebagai perwujudan demokrasi perwakilan atau demokrasi tidak langsung (indirect democratie).
Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden kali ini, merupakan pemilihan langsung Presiden dan Wakil Presiden di Sulawesi Selatan, dimana rakyat dilibatkan secara langsung untuk menentukan pilihannya atau demokrasi langsung (deerect democratie), dengan demokratis berdasarkan asas langsung, umum, bebas dan rahasia melalui pemungutan suara. oleh karena itu, diperlukan figur Presiden dan Wakil Presiden yang mampu mengembangkan inovasi, berwawasan ke depan dan siap melakukan perubahan kearah yang lebih baik. Kenegaraan yang mempunyai hubungan fungsional terhadap yang lain, artinya saling ketergantungan antar lembaga-lembaga dimaksud, sehingga apabila terdapat satu lembaga yang tidak bekerja secara maksimal dapat berpengaruh terhadap lembaga keseluruhannya.
Demikian pula secara vertikal, hal ini dapat dilihat hubungan antara pemerintah pusat dan daerah.
Pembagian kekuasaan (distribution of power) secara vertikal di atas, yang diwujudkan dalam bentuk hubungan pusat dan daerah dalam kerangka NKRI, sebagaimana yang dikehendaki rakyat melalui tim perumusan UUD 1945 baik oleh PPKI maupun badan pekerja MPR- RI amandemen UUD 1945, melalui penetapannya tanggal 18 Agustus 2000 (amandemen kedua UUD 1945).
Hal ini nampak jelas, apabila kita cermati kedudukan penyelenggaraan pemerintah dalam struktur ketatanegaraan, baik pemerintah pusat maupun daerah menurut UUD 1945 pasca amandemen, bahwa NKRI dibagi atas daerah-daerah Provinsi, yang terbagi atas kabupaten dan kota. Bentuk-bentuk satu pemerintah ini, memiliki kepala pemerintahan sendiri yang dipilih secara demokratis, hal ini merupakan inplementasi dari ajaran kedaulatan rakyat pada pemerintahan lokal (local government).
Kewenangan daerah menyelenggarakan pemerintahan tidak dapat atau diperoleh dari pemerintah pusat, tetapi berdasarkan kewenangan dalam UUD 1945, artinya bersumber pada kehendak rakyat melalui pembentukan UUD, hal tersebut sejalan dengan Bagir Manan sebagai bentuk pemencaran kekuasaan (spreding van machten), lebih jauh beliau mengomentari sebagai berikut.
1. “secara konstitusional, pemencaran kekuasaan menurut UUD 1945, hendak melakukan melalui desentralisasi. Pemecahan masalah menurut desentralisasi teritorial, badan-badan tersebut adalah satuan daerah pemerintahan yang lebih rendah. Badan-badan tersebut adalah badan yang mandiri, pendukungan wewenang tugas dan tanggung jawab yang mandiri. Sebagai badan mandiri,
organ-organ atau kelengkapan pemerintahan desentralisasi tidak berada dalam kedudukan berjenjang (hirarkis) dengan organ-organ satuan pemerintahan tingkat lebih atas, dengan kata lain pada hakekatnya, pemencaran kekuasaan menurut desentralisasi adalah pembagian wewenang, tugas dan tanggung jawab antara badan-badan kenegaraan yaitu antara negara yang satuan daerah pemerintahan lebih rendah yang sama- sama badan publik “ dalam Bagir Manan (1994: 168).
2. Pada bagian lain beliau menegaskan bahwa “sifat badan-badan desentrilisasi adalah badan politik (badan publik), karena itu organ-organ atau alat kelengkapan pemerintahan pun pertama-tama menunjukkan karakter politik dan pengisiannya pun dilakukan secara politik pula, bukan secara administratif. Selain itu, wewenang, tugas dan tanggung jawab menurut desentralisasi tidak terbatas pada lapangan administrasi negara, juga lapangan perundang-undangan (fungsi legislatif). Hal ini sejalan dengan karakteristik UUD yang hanya mengatur ketatanegaraan antara lain mengenai susunan organisasi negara, pembagian dan batas-batas wewenang antara alat-alat kelengkapan organisasi negara tersebut”
dalam Bagir Manan (1994: 169).
Penyelenggeraan pemerintahan di daerah, dilaksanakan atas dasar desentralisasi dan tugas pembantuan dengan menitik beratkan pada Provinsi dan Kabupaten Kota sebagai pelaksana otonomi terbatas. Titik berat otonomi daerah merupakan domain kabupaten dan kota (lihat: Undang-Undang yang selanjutnya disingkat UU No 32 tahun 2004). Desentralisasi sebagai lawan kata sentralisasi, merupakan prinsip dasar penyelenggeraan pemerintah daerah kabupaten dan kota,
membawa konsekuensi lahirnya otonomi daerah akibatnya kemudian menciptakan daerah otonomi.
Pemerintah Provinsi dengan pemerintah Kabupaten dan Kota tidak dalam hubungan hirarkis. Hubungan hirarkis adalah bibit yang disemaikan orde baru untuk menjadi pelajaran berharga pada masa kini dan ke depan, Presiden dipolakan menjadi dua tingkatan daerah otonomi yaitu Dati I dan Dati II, artinya hubungan keduanya bersifat hirarkis. Hal ini diwujudkan melalui semua peraturan Presiden yang dibuat oleh DPRD harus disahkan oleh pejabat yang berwenang (pasal 28 UU No. 5 tahun 174), kebijakan yang demikian itu mengabaikan aspirasi masyarakat, yang jelas-jelas tidak sejalan dengan otonomi.
Kewenangan daerah untuk mengurus urusan rumah tangganya sendiri, dengan memperhatikan karakteristik daerah bersangkutan, memungkinkan daerah berkembang lebih cepat. Hal ini dapat terwujud, apabila mendapat dukungan lebih luas atau dengan kata lain harus melibatkan peran serta atau adanya campur tangan masyarakat atau di bawah taktis pemerintah Provinsi atau pemerintah pusat. Oleh sebab itu titik berat otonomi diletakkan pada kabupaten dan kota, dimana pelayanan publik diera reformasi sekarang ini harus bersentuhan langsung dengan rakyat, sebagai konsekuensi Presiden harus didekatkan dengan rakyat.
Hal ini sejalan dengan gagasan yang dikemukakan Moh Hatta bahwa “apabila kita mau mendekatkan demokrasi yang bertanggung jawab kepada rakyat, melaksanakan cita-cita lama yang tercantum dalam pengertian pemerintah dari yang
diperintah, maka sebaiknya titik berat pemerintah sendiri letaknya pada kabupaten”
dalam Kamaluddin,J.N. (2002: 58).
Peraktek penyelenggeraan pemerintahan seperti ini lasim dijumpai pada masyarakat demokrasi, yang memberikan ruang gerak untuk tumbuh dan berkembang demokrasi dari bawah, berkenaan dengan maksud tersebut, H.Syaukani HR dkk (2003: 278) memberi komentarnya sebagai berikut.
“Dengan desentralisasi maka demokrasi akan terbangun dari bawah. Mengapa demikian harus terjadi? karna dengan adanya pemerintah yang mandiri, yang ditopang dengan praktek-praktek demokrasi yang benar dan baik, maka masyarakat daerah akan terbiasa dengan demokrasi sehingga akan menjadi pilar bagi pengembangan demokrasi dalam pemerintahan nasional”.
Lebih jauh beliau mengatakan bahwa “dengan demokrasi yang dikembangkan dari bawah akan tercipta mekanisme pola hubungan antara pemerintah dengan daerah, karena masyarakat di daerah akan memiliki peluang untuk menyampaikan aspirasi yang mereka miliki, baik yang menyangkut rekrutmen ataupun perencanaan pembangunan diderah, dan masyarakat di daerah akan mampu memberikan kontrol terhadap pemerintahan nasional”.
Keterlibatan dan peran serta masyarakat dalam membangun daerahnya sangat beralasan, selain mereka memahami apa yang mereka butuhkan juga memahami secara jelas kondisi sosial budaya, ekonomi, dan politiknya. Dengan demikian mereka dapat menyusun perencanaan dan skala prioritas, kemudian menjadikannya sebuah
kebijaksanaan pembangunan dalam daerah yang diikuti dengan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis, agar lebih mudah dikontral dan dikendalikan.
Melalui UU No 32 tahun 2004, yang dinilai oleh sebagian komponen bangsa ini telah mengakomodir kemauan atau kehendak rakyat sebagai bentuk dari kedaulatan rakyat, dimana rakyat dapat kesempatan seluas-luasnya, tidak hanya menentukan pimpinan daerahnya melalui saluran demokrasi serta menentukan arah mana yang hendak dituju pembangunan daerah bersangkutan serta dibekali pula dengan hak kontrol atau pengawasan atas jalannya pembangunan di daerah bersangkutan.
Salah satu aspek yang menarik untuk dikaji berkenaan ditetapkan UU No 32 tahun 2004, adalah pemilihan Bupati dan Wakil Bupati secara langsung, sebagai peraturan pelaksanaannya pemerintah menetapkan peraturan pemerintahan yang selanjutnya disingkat PP No. 6 tahun 2005, tentang pemilihan, pengesahan, pengangkatan dan pemberhentian Presiden dan Wakil Persiden. Namun sebelum dilaksanakan tenyata undang-undang dimaksud melalui dilansir Harian Fajar, kamis 29 desember 2004. 15 KPUD provinsi resmi Ajukan JR persoalkan sembilan pasal UU pemda 26, melalui kuasa hukumnya tertanggal 28 desember 2004 mengajukan judicial review ke mahkamah konstitusi agar sembilan pasal dalam undang-undang pemda dicabut dan dinyatakan tidak memiliki kekuatan hukum tetap karena bertentangan dengan UUD 1945.
Sejumlah daerah ada partai politik yang menjadikan pilkada sebagai barang dagangan. Parpol menawarkan kalau mau jadi Gubernur setidaknya harus
menyediakan 30 milyar, jika nanti terlpilih menjadi Gubernur maka Gubernur tersebut harus mengembalikan uang yang dipinjamkan oleh partai politik yang mengusungnya. Kalau Gubernur itu disponsori, dia juga harus memberikan konsikuensi kepada sponsor dengan memberikan proyek kepadanya sehubungan dengan hal tersebut, maka KPUD beserta tim auditoriumnya harus benar-benar profesional dalam melakukan tugasnya, karena kredibilitas institusi menjadi taruhan yang sangat mahal harganya.
Kondisi faktual di atas, menuntut semua pihak harus berpikir jernih dan matang dalam menentukan suatu pilihan, jangan karena terdorong ingin melaksanakan pemilihan Bupati dan wakil Bupati secara langsung dalam menefestasi dari demokrasi tetapi dengan caranya tidak demokrasi.
Demikian pula dengan kondisi masyarakat harus menjadi bahan pertimbangan secara matang, sebab bukankah demokrasi adalah saran untuk memberdayakan masyarakat agar lebih sejahtera dalam segala aspek social, sekedar untuk mengetahui bahwa masyarakat pada lapisan bawah sangat rentang terjadinya gesekan antara massa pendukung calon Gubernur, hal ini diperparah oleh partai politik yang kurang atau tidak melakukan pembelajaran politik kepada konstitusinya, dimana parpol pada umumnya yang tidak boleh penulis katakan semuanya, hanya mendekati konstituennya manakala membutuhkan suaranya. Salah satu sebab rendahnya kualitas pemahaman demokrasi dikalangan masyarakat adalah kurangnya sosialisasi.
Sebagai salah satu upaya untuk meminimalisir terjadinya benturan ditingkat bawah, maka KPUD sebagai lembaga yang berwenang menyelenggerakan pemilihan
harus melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar masyarakat lebih memahami hakikat demokrasi dan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden.