• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

C. Sistem Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden

Dalam ensiklopedia umum pemilihan diartikan sebagai pemberian suara yang diatur untuk memilih calon guna menduduki jabatan-jabatan tertentu. Berkenaan dengan penafsiran tersebut, menarik bagi penulis umtuk menelusuri lebih jauh makna yang terkandung dalam kalimat ”memilih calon guna menduduki jabatan-jabatan

tertentu”. Hal ini penting karena makna yang terkandung di dalamnya bermakna leksikal, dapat berwujud Presiden dan Wakil Presiden yang eksekutif. Pada pemilihan Presiden, yang dilaksanakan secara periode setiap lima tahun sekali dan sekaligus merupakan konsekuensi logis dari sebuah negara demokrasi. Melalui pemilihan langsung inilah rakyat menitipkan amanah luhur untuk menjalankan pemerintahan.

Tidak seperti halnya sebelum reformasi, rakyat belum bisa memilih langsung Presiden dan Wakil Presiden, melainkan melalui Legislatif, sebagaimana dimaksudkan dalam pasal 6 (2) UUD 1945 sebelum amandemen, karena rakyat tidak dapat memilih secara langsung atau lasim dalam sebuah negara yang menerapkan demokrasi perwakilan. Hal ini berlangsung di Indonesia sejak Soekarno dan Megawati Soekarno Putri sebagai Presiden, sejak Megawati inilah terjadi perubahan yang amat mendasar dalam ketatanegaraan, khususnya berkenaan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden secara langsung (ditegaskan dalam pasal 6A ayat (1) UUD 1945 Pa).

Hal ini menimbulkan pertanyaan, mengapa Presiden dan Wakil Presiden sampai pada kepala daerah harus dipilih langsung? Bukankah pemilihan melalui MPR dan DPR adalah juga demokrasi. Memang benar bahwa kedua bentuk pemilihan dimaksud adalah demokratis, tetapi apabila kita tinjau dari segi legitimasi, maka pemilihan langsung dipadang lebih legitimasi karena rakyat secara langsung menentukan pilihannya, hal ini mengingatkan kita pada memilihan langsung (direcdemokrasi) di Yunani kota, walupun tidak sama persis.

Perubahan ketatanegaraan secara diametral sebagaimana dideskripsikan di atas, berdampak pula terhadap pemilihan Presiden seperti dalam UU No 32 tahun 2004, sebagaimana dikemukakan ketua pansus RUU tentang perubahan atas UU No 22 tahun 1999 tentang pemda dalam rangka pembicaraan tingkat II bagian A angka 4 dalam laporannya menyatakan bahwa mengacu ketentuan UUD 1945 pasal 18 yang menentukan bahwa Presiden dipilih secara demokrasi, pansus secara bulat menyepakati bahwa pemilihan Presiden dan Wakil presiden dilaksanakan secara langsung oleh rakyat, sebagaimana telah dilaksanakan pada pemilihan Presiden dan Wakil Presiden.

Pemilihan langsung, dianggap lebih demokrasi bahkan mendapat pujian baik dalam negeri maupun luar negeri, tetapi disisi lain, pemilihan Presiden, dimana daerah rawan terjadinya konflik horizontal, misalnya salah satu pendukung calon, sering terjadi bentrok bahkan ada yang membakar kantor KPUD dan rumah yang bersangkutan karena tidak diakomodir keinginannya dalam pengajuan calon Presiden dan Wakil Presiden, ada juga diamuk salah satu pendukung calon Presiden karena tidak lolos verifikasi KPUD. Tindakan seperti ini tidak tertutup kemungkinan terjadi di daerah lain, yang akan melaksanakan pemilihan secara langsung.

Sistem pemilihan Presiden dan Wakil Presiden muncul oleh karena itu UU No 32 tahu 2004 dan PP No 6 tahun 2005 tidak menyebutkan secara tersurat, tapi apabila menganalisa secara cermat kedua peraturan itu, maka dapat di deskripsikan tentang sistem pemilihan yang dianut, khususnya pasal 107 UU No 32 tahun 2004 dan pasal 95 PP 6 tahun 2005.

Dalama pustaka ketatanegaraan, dikenal ada tiga macam sistem pemilihan (electoral laws) Douglas B.Rae, the political consequences of elektoral laws” yaitu sistem mayoritas (majority types), sistem pluralitas ( plurality types ) yang biasa disebut sistem distrik, dan sistem perwakilan berimbang (proportional represetation)” menurut Mahfud M.D (1999, 223) bahwa ada dua macam sistem pemilihan itu:

1. Sistem pemilihan mechanis, yang pelaksanaannya melalui dua cara : yang pertama sistem perwakilan distrik, mayoritas, single member constituence dan yang kedua sistem perwakilan.

2. Sistem pemilihan organis

Menurut Kusnardi dan Ibrahim (1983, 333) bahwa sistem pemilihan langsung di Indonesia merupakan suatu yang baru, bahkan yang pertama kali dalam sejarah ketatanegaraan di Indonesia, pelaksanaannya pada 2009.

Pemilihan Presiden (satu paket) yang diusun oleh partai politik atau gabungan partai politik, dan melalui independen tidak serumit memilih anggota legislatif karena harus memperhitungkan perimbangan antara jumlah kursi yang tersedia dengan jumlah pemilih, agar semua kepentingan terwakili berbeda dengan hal itu, pada pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (satu paket) hanya tersedia satu kursi yang diperebutkan untuk semua calon yang menjadi kontestan dalam sebuah wilayah pemilihan, sehingga sistem pemilihan majority types sangat memadai digunakan dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Affan Gaffar (2006: 255-256) mengomentari bahwa pemilihan Presiden, Gubernur, dan Bupati yang merupakan

representasi tunggal dalam sistem pemilihan, dasar jumlah suara yang diperoleh menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Bentuk pelaksanaan majority types itu atau sistem pemilihan mayoritas yang memiliki beberapa variasi atau “formula” menurut Affan Gaffar (2006: 255-256) sebagai berikut:

1) Absolute Majority System, ayat (1) pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden yang memperoleh suara lebih dari 50% (lima puluh persen) jumlah sah ditetapkan sebagai calon yang terpilih.

2) Simpel majority system, ayat (2) apabila ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak terpenuhi, pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden yang memperoleh suara dari 25% (dua puluh lima persen) dari jumlah suara sah, pasangan calon yang memperoleh suaranya terbesar dinyatakan sebagai pasangan terpilih.

3) Ayat (3) dalam hal pasangan calon yang perolehan suaranya terbesar sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdapat lebih dari satu pasangan calon perolehan suaranya sama, penentuan pasangan calon terpilih dilakukan berdasarkan wilayah perolehan suara yang lebih luas.

4) Run-Off Elektion, ayat (4) apabila ketentuan dimaksud ayat (2) tidak terpenuhi, atau tidak ada yang tercapai 25% dari jumlah suara yang sah, dilakukan pemilihan putaran kedua diikuti oleh pemenang pertama dan kedua.

5) Ayat (5) apabila pemenang pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperoleh dua pasangan calon, kedua pasangan calon tersebut berhak mengikuti pemilihan putaran kedua.

6) Ayat (6) apabila pemenang pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diperoleh tiga pasangan calon atau lebih, penentuan peningkatan bersama dan kedua dilakukan berdasarkan wilayah perolehan suara yang lebih luas.

7) Ayat (7) apabila pemenang kedua sebagaiman dimaksud ayat (4) diperoleh lebih satu pasangan calon, penentuannya dilakukan berdasarkan wilayah perolehan suara yang lebih luas.

8) Ayat (8) pasangan calon Presiden dan Wakil presiden yang memperoleh suara terbanyak pada putaran kedua dinyatakan sebagai pasangan calon terpilih.

Seperti lainnya sistem pemilihan pada umumnya, system mayority pun memiliki kekurangan bahkan sangat mencolok, yakni dapat menimbulkan benturan-benturan antar massa pendukung, karena rakyat tidak bisa berbeda pendapat akibatnya dapat memicu terjadinya pemaksaan kehendak khususnya pihak yang tidak menerima kekalahan. Bagaimana tidak kalau ketentuan ayat (2) dan ayat (3) yang berlaku, maka kurang dari 75% pemilihan yang tidak mendukung Gubernur terpilih, harus legowo menerima Gubernur yang hanya didukung 25% pemilihan suara sah.

Selain pada sistem pemilihanya (electoral majority system), juga yang perlu mendapat perhatian adalah electoral processes, karena peluang untuk memanipulasi data berada pada wilayah ini.

Dokumen terkait