• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV TEMUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

2. Pelaksanaan Pemira Mahasiswa Fakultas Dakwah

Pemira merupakan program kerja tahunan yang selalu diselenggarakan oleh IAIN Salatiga dalam pemilihan dan penetapan perwakilan mahasiswa IAIN Salatiga. Salah satunya dalam pelaksanaan pemira Fakultas Dakwah IAIN Salatiga. Pelaksanaan pemira dalam hal ini melalui beberapa tahap seperti Penetapan daftar jadwal , pendaftaran dan penetapan calon kandidat, proses kampanye, pemungutan suara, perhitungan suara dan penetapan pasangan kandiat yang terpilih kemudian kepada tahap pengesahan dan pelantikan.

a) Pembentukan KPUM, BAWASLU dan PANWASLU

Tahap pertama yang harus dilakukan dalam pemira meliputi penetapan panitia KPUM, BANWASLU dan PANWASLU terlebih dahulu. Agar pelaksanaan pemira dapat berjalan secara sistematis.

15

Disini pihak KPUM serta jajaranya menyampaikan atau mengumumkan melalui media tentang pemira yang akan segera diselenggarakan.

c) Pendaftaran dan penetapan calon kandidat

KPUM mulai membuka pendaftaran bagi para calon yang hendak mencalonkan dirinya melalui partai politik. Terdapat beberapa Partai politik dalam kampus yang digunakan untuk mendaftar. Latar belakang partai politik itu sendiri dari beberapa organisasi extra kampus seperti Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).

d) Proses kampanye

Seperti uraian diatas, nahwa kampanye merupakan salah satu pokok terpenting dalam menunjang kesuksesan pemira untuk para calon kandidat khususnya. Kampanye disini dapat dilakukan melalui berbagai cara dan media dengan tidak melanggar undang-undang yang berlaku dan tidak menyalahi kode etik dalam pemira.

e) Pemungutan suara

Proses pemungutan suara dilaksanakan melalui beberapa proses. Seperti halnya registrasi ulang oleh mahasiswa yang hendak melakukan pencoblosan, setelah itu

16

barulah mahasiswa berhak melakukan pencoblosan menurut keyakinan dari mereka tanpa adanya keterpaksaan dan interfensi dari pihak-pihak tertentu.

f) Perhitungan suara

Perhitungan dilaksanakan setelah semua prosesi pemira sudah berjalan. Dalam tingkat KPUM beserta jajaranya mulai melakukan voting terhadap suara dari mahasiswa yang memiliki hak pilih.

g) Penetapan kandidat terpilih

Setelah perhitungan suara selesai. Panitia KPUM mulai menghitung dengan transparan dan jujur terhadap hasil dari pemira. Setelah perhitungan selesai, pihak KPUM mengumumkan pasangan calon kandidat terpilih dalam pemira tersebut.

3. Hak Pilih dalam Pemira

Pada dasarnya setiap warganegara harus terlibat dalam Pemilihan Umum. Termasuk juga dengan mahasiswa, bahwasanya mereka juga berhak untuk ikut serta dalam Pemilihan Umum Raya (PEMIRA). Seorang warga negara Indonesia yang telah mempunyai hak memilih, baru bisa menggunakan haknya, apabila telah terdaftar sebagai pemilih. (Rozali Abdullah, 2009:168)

17

Keikut sertaan dalam pemilihan umum raya disebut dengan hak pilih. Di dalam hak pilih itu sendiri terbagi menjadi dua yaitu hak pilih aktif (hak memilih) dan hak pilih pasif (yang dipilih). a) Hak pilih aktif (hak memilih)

Disini seluruh mahasiswa Fakultas Dakwah IAIN Salatiga yang masih memiliki keterangan sebagai mahasiswa aktif harus mengikuti proses pemira untuk menyampaikan segala sesuatu yang diinginkan tanpa adanya tekanan dari berbagai pihak yang memicu pengaruh besar dalam pemira. b) Hak pilih pasif (yang dipilih)

Merupakan kandidat atau calon yang diajukan kemudian dipilih. Namun mereka tetep memiliki hak suaranya untuk berpartisiasi secara penuh di dalam pemira.

4. Kampanye dalam Pemira

Kampaye dilakukan dari partai politik dan calon untuk mengenalkan diri kepada target mahasiswa yang memiliki hak suara aktif. Kampanye pemilu dilakukan dengan prinsip pembelajaran bersama dan bertanggungjawab. (Rozali Abdullah, 2009: 198)

Pelaksanaan kampanye harus didaftarakan kepada Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) terlebih dahulu dan menindak lanjuti dan segera merekomendasikan kepada pihak

18

Panitia Pengawas Pemilu (PANWASLU) dan Badan Kepengawasan Pemilu (BAWASLU).

Dalam pelaksanaan kampanye tentunya harus memiliki metode yang tepat agar tidak salah kepada sasaran dan penyampain pesan kampanye tersebut. Metode kampanye tersebut dalam bentuk pertemuan terbatas, tatap muka, penyiaran melalui media elektronik dan media cetak, rapat umum, dan menggelar kegiatan yang tidak menggandung isu sara atau melanggar undang-undang yang berlaku.

B. Media Komunikasi

1. Pengertian Media Komunikasi

Media meruapakan suatu perantaran dari setiap individu untuk berinteraksi. Komunikasi tidak bisa lepas dari peran media itu sendiri, karena media sangat dibutuhkan dalam keberlangsungan komunikasi. Media merupakan proses penyampaian dengan segala bentuk untuk menyampaian informasi dari informan kepada khalayak. Media adalah alat atau sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari komunikator kepada khalayak. (Cangara, 2006: 119).

Media selain sebagai alat komunikasi, media masih terbagi dalam beberapa macam. Di dalam media terdapat media interpesonal dan media massa. Media interpesonal terjalin antar

19

beberapa individu saja atau dengan personal saja yang kemudian memunculkan feedback yang dapat diterima dari keduanya antara informan dan penerima informasi. Berbeda dengan media massa, dapat dikatakan media massa apabila terjadi komunikasi anatar informan dengan ditunjukan kepada khalayak yang lebih banyak.

Sebagai makhluk sosial manusia menjadikan komunikasi sebagai aktivitas dasar mereka untuk berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari. Thomas M. Scheidel mengemukakan bahwa kita berkomunikasi terutama untuk menyatakan dan mendukung identitas diri, untuk membangun kontak sosial dengan orang disekitar kita. Dan untuk mempengaruhi orang lain untuk merasa, berfikir, atau berperilaku seperti yang kita inginkan. (Mulyana, 2016: 4)

Dapat ditarik kesimpulan bahwa media komunikasi memiliki peranan penting dalam proses interaksi dalam sehari-hari. Media komunikasi merupakan alat yang mempermudah untuk berkomunikasi dalam penyampaian pesan. Selain itu juga sebagai sarana untuk membuat, mengolah, hingga penyampaian pesan atau informan.

20 2. Fungsi Media Komunikasi

a) Efektifitas

Media komunikasi akan mempermudah kelancaran dalam penyampaian informasi.

b) Efeisiensi

Media komunikasi akan mempercepat penyampaian dalam sebuah informasi.media. Sehingga dapat menghemat penggunaan dari segi tenaga, biaya, pemikiran dan waktu. c) Konkrit

komunikasi akan membantu mempercepat isi pesan yang memiliki sifat abstrak.

d) Motivatif

Media komunikasi akan lebih atraktif dan memberikan sebuah informasi yang dapat di pertanggung jawabkan. (Effendy, 1997: 56)

3. Jenis-Jenis Media Komunikasi a) Media komunikasi Intra Personal

Komunikasi yang terjadi hanya satu arah, atau penerimaan disetiap individu dan hanya memutar dalam diri sendiri. Yang berpengaruh kepada sikap dan perilaku yang ditimbulkan karena terjadinya persepsi yang memusat.

21

Proses interaksi dengan adanya umpan balik dari suatu pesan atau infromasi yang disampaikan, serta adanya arus informasi dua arah dari yang memberi pesan dan penerima pesan.

c) Media Massa

Media komunikasi yang bersifat melembaga, satu arah, meluas dan bersamaan dan juga memakai peralatan teknis atau mekanis dan sifatnya terbuka.

d) Media Publik

Proses komunikasi yang didapatkan oleh seluruh alat indera baik lisan ataupun isyarat arus pesan yang disampaikan dapat satu atau dua arah banyak dan terbatas dan juga mempunyai efek tinggi kepada prilaku, namun demikian rendah kepada kognitif. (Rainer, 2017)

4. Bentuk-bentuk Media Komunikasi

Dalam penyampain pesan perlunya suatu alat untuk mendukung adanya proses interaksi agar pesan dapat tersampaikan sesuai dengan target keinginan, berikut berupaka bentuk-bentuk media komunikasi yang dapat digunakan dalam proses interaksi : a) Media cetak

Segala bentuk media komunikasi yang dilakukan melalui proses percetakan yang digunakan untuk menyampaikan sebuah pesan atau informasi, seperti surat kabar, baliho, pamphlet, dll.

22

b) Media Visual atau Media pandang

Proses interaksi yang menyampaikan pesan yang dapat dilihat atau melalui panca indra, seperti foto dan gambar.

c) Media Audio

Proses interaksi yang menyampaikan pesan melalui panca indera pendengaran.

d) Media Audio Visual Aid (AVA)

Penyampain pesan melalui panca indera penglihatan dan pendengaran, seperti media televisi.

C. Pemira sebagai Media Komunikasi

Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa pemira merupakan pemilihan umum raya. Keberlangsungan pemira tentunya tidak jauh dengan peran dari media komunikasi. Maksud dari pemira sebagai media komunikasi adalah proses berlangsungnya birokrasi kampus yang menggunakan berbagai serangkaian media komunikasi untuk mendorong keberhasilan dari suatu maksud tertentu.

Biasanya dalam birokrasi politik seperti itu lebih sering menggunakan media sosial untuk menjangkau sasaran tertentu. Karena menurut (Rasimin, 2017: 176) mengatakan pesatnya perkembangan media sosial saat ini dikarenakan semua orang bisa memiliki akun pribadi. Seorang pengguna media sosial bisa mengakses menggunakan dengan jaringan internet. Sebagai pengguna sosial media dengan bebas

23

bisa mengedit, menambahkan, memodifikasi baik tulisan, gambar, video, grafis dan berbagai model content lainnya.

Dari penjelasan diatas dapat dikatan bahwa penggunaan media sosial sebagai media komunikasi dalam pemira jauh lebih cepat dan efisien dalam penyampaianya.

Selain media sosial, tentunya komunikasi intra personal dan interpersonal juga sering digunakan sebagai media komunikasi politik layaknya Pemira. Dengan mengadakan propaganda dan layaknya kampanye secara langsung maupun tidak langsung, maka disitu terjadi proses komunikasi penyampaian suatu pesan dari mahasiswa ke mahasiswa yang lain.

D. Kerangka Berfikir

Pentingnya kerangka teori sebagai pedoman dan landasan dalam penilitian guna menyusun skripsi. Dalam hal ini, peniliti memaparkan beberapa teori yang relevan dengan kajian pada penelitian “Pemira sebagai Media Komunikasi (Studi pada mahasiswa Fakultas Dakwah IAIN Salatiga) untuk suatu batasan dan gambaran yang lebih jelas. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teori yang relevan, yaitu Teori Model Lasswell salah satu teori yang paling terkenal dalam komunikasi massa. Teori menggunakan model komunikasi yang sederhana yaitu dengan mengajukan beberapa pertanyaan terkait, seperti: siapa (who), berbicara apa (says what),

24

dalam saluran yang mana (in which channel), kepada siapa (to whom), dan pengaruhnya seperti apa (what the effect).

Dari teori di atas peneliti mengkaji antara hubungan pemira dengan media komunikasi mahasiswa yang saling berkaitan kemudian menemukan titik temu yang relevan dari Pemira sebagai Media Komunikasi Mahasiswa di dalam Fakultas Dakwah IAIN Salatiga. Penerapan penelitian dalam teori tersebut dapat menggunakan teknik wawancara dengan bertemu langsung dengan objek yang berkaitan untuk menjelaskan pandangan tentang pemira itu sendiri dalam peran di media komunikasi.

25 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Pendekatan yang digunakan untuk penulis menggunakan pendekatan fenomenologi dengan metode kualitatif deskriptif. Dimana sebuah pendekatan yang menjelaskan secara detail mengenai pemira sebagai ilmu komunikasi. Jenis penelitian menggunakan expost facto yaitu dimana peneliti melakukan penelitian sesudah terjadinya suatu kejadian. Jenis pendekatan ini digunakan atas dasar peneliti ingin mengetahui sejauh mana penggunaan media komunikasi dan bagaimana dampaknya yang di timbulkan dalam PEMIRA. Penelitian expost facto merupakan penelitin dimana variabel-variabel bebas telah terjadi ketika peneliti mulai dengan pengamatan variabel terikat dalam suatu penelitian (Sukardi, 2013: 165). Penelitian expost facto bertujuan untuk menemukan penyebab terjadinya perubahan perilaku, fenomena-fenomena atau gejala yang disebabkan oleh suatu peristiwa dan perilaku yang menyebabkan pada variabel bebas secara keseluruhan sudah terjadi. Dengan didukung menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif bertujuan untuk menggambarkan, menjelaskan dari berbagai kondisi realitas sosial dalam Fakultas Dakwah IAIN Salatiga yang menjadi objek penelitian.

26

Penelitian deskriptif (descriptive research) yang biasa disebut penelitian taksonomik (tasonomic research) adalah penelitian untuk eksplorasi dan klarifikasi mengenai sesuatu fenomena atau kenyataan sosial, dengan jalan mendeskripsikan sejumlah variabel yang berkenaan dengan masalah dan unit yang diteliti akan tetapi tidak sampai mempersoalkan jalinan hubungan antar variabel yang ada. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena yang dialami oleh subyek penelitian, mislanya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain.

(Moleong, 2008: 6).

Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistemis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki. (Nazir, 2011: 54). Penelitian deskriptif ditekankan pada observasi dan suasana alamiah (naturalistic setting), peneliti bertindak sebagai pengamat. Penelitian membuat kategori perilaku, mengamati gejala dan mencatatnya dalam buku observasi. ( Rakhmat, 2006: 25)

Dalam penelitian ini menggunakan Jenis penelitian menggunakan Field research yaitu dimana peneliti melakukan penelitian dengan langsung di dalam lapangan. Menurut Kanneth dalam Natia menjelaskan istilah studi lapangan merupakan istilah yang sering digunakan bersamaan dengan istilah studi etnografi (ethnographic study). Jenis penelitian ini sering digunakan dalam

27

peneltiian teruatam para mahasiswa yang akan menempuh studi akhirnya. Dalam Penelitian ini peneliti mencoba masuk dalam lingkungan tersebut dengan terlibat langsung dalam penelitian skala sosial tertentu dan mengamati budaya setempat.

Ciri khas dalam penelitian ini tidak ada unsur matematika atau statistik yang rumit, tidak terdapat hipotesis penelitian yang abstrak. Metode pengamatan penelitian lapangan secara sederhana yaitu suatu cara dalam memperoleh informasi yang diperlukan dalam penyusunan suatu laporan degan mengadakan pengamatan secara langsung.

B. Kehadiran Peneliti

Peneliti di sini sebagai instrumen dan pengumpul data, di mana peneliti hanya meneliti fenomena-fenomena yang terjadi di lokasi penelitian. Kehadiran peneliti di lokasi penelitian sangat penting. Karena peneliti bisa berkomunikasi secara langsung dengan para Mahasiswa Fakultas Dakwah IAIN Salatiga.

Peneliti di sini berperan sebagai pengamat partisipasi di mana peneliti melakukan pengamatan dan penelitian terhadap segala sesuatu seperti halnya fenomena-fenomena yang terjadi di lokasi penelitian yang merupakan salah satu faktor yang sangat penting. Karena pentingnya kehadiran peneliti dalam lokasi penelitian maka perlunya peneliti meberitahukan identitas diri kepada mahasiswa Fakultas Dakwah IAIN Salatiga dan selalu membawa identitas tersebut saat

28

proses penelitian berlangsung. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi timbulnya prasangka negatif. Hubungan peneliti dengan objek yang menjadi penelitian agar terjalin secara baik dan harmonis untuk menunjang salah satu kesuksesan dalam pengumpulan data.

C. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini adalah Fakultas Dakwah IAIN Salatiga, yang mana di fakultas tersebut sering mengadakan proker tahunan dalam pemilihan kepengurusan ORMAWA yang di sebut PEMIRA Fakultas. Fakultas Dakwah IAIN Salatiga memiliki beberapa jurusan diantaranya Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Manajemen Dakwah (MD), Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), dan Psikologi Islam (PI). Gedung Dakwah terletak bersebrangan dengan gedung tarbiyah. Gedung dakwah memiliki identitas dengan nama gedung K.H Hasyim Asy’ari yang terletak di jalan Lingkar Salatiga Km. 2 Salatiga.

D. Sumber Data

Asal diperolehnya data dari penelitian berupa informasi dan keterangan yang mendukung suatu penelitian sehingga hasilnya dapat dipertanggung jawabkan. Terdapat dua sumber data pendukung, yaitu: 1. Data Primer

Data yang diperoleh melalui teknik wawancara, observasi langsung dari sumbernya maupun mendapatkan laporan dalam

29

bentuk dokumen yang tiak resmi yang kemudian akan diolah oleh peneliti. dalam data primer penelitian ini di dapatkan dari Mahasiswa Fakultas Dakwah IAIN Salatiga. Data yang diperoleh melalui wawacara antara lain mengenai (1) jenis-jenis media komunikasi yang digunakan oleh mahasiswa dala kegiatan pemira di Fakultas Dakwah IAIN Salatiga;(2) dampak pemira sebagai media komunikasi bagi mahasiswa Fakultas Dakwah IAIN Salatiga.

2. Data Sekunder

Data diperoleh dari berbagai buku-buku dan dari dokumen yang berhubungan atau relevan dengan penelitian.

E. Prosedur Pengumpulan Data

Proses penelitian data dalam penelitian ini dilakukan dengan beberapa tahap yang meliputi tahap memasuki lokasi penelitian (getting in), tahap ketika berada di lokasi penelitian (getting along), dan tahap pengumpulan data (logging the data). (Moleong, 2008:127).

1. Tahap memasuki lokasi penelitian

Peneliti melaksanakan kegiaatan penelitian ketika masih menjadi mahasiswa aktif dalam Fakultas Dakwah. Meskipun begitu peneliti tetap menyelesaikan persyaratan administrasi terlebih dahulu seperti halnya membawa surat ijin penelitian saat melakukan penelitian

30 2. Tahap ketika di lokasi penelitian

Peneliti melakukan wawancara dan observasi dengan beberapa mahasiswa Fakultas Dakwah IAIN Salatiga. Sebelum melakukan wawancara terlebih dahulu peneliti memperkenalkan diri dan mengutarakan maksud untuk mewawancarainya. Dalam melakukan wawancara dan observasi tentunya dengan cara yang baik dan menjaga komunikasi agar tetap baik.

3. Tahap pengumpulan data

Pada tahap ini, fokus peneliti mencari data dan dokumen sebanyak mungkin, meyeluruh dan secara detail dari para informan yang berasal dari mahasiswa Fakultas Dakwah IAIN Salatiga. Peneliti disini mencoba mendakati berbagai macam data yang mengulas mengenai pemira sebagai media komunikasi mahasiswa.

Dalam penelitian peniliti berharap adanya kemistri suasama keakraban dan kekeluargaan antara peneliti dan objek yang di kaji, berikut adalah teknik proses pengumpulan data sebagai berikut :

a) Observasi

Peneliti menggunakan observasi langsung di dalam Fakultas Dakwah IAIN Salatiga untuk mengamati dan mengetahui peran pemira sebagai media komunikasi agar mendapatkan data yang signifikan. Menurut Sujarweni (2014:

31

32) observasi merupakan suatu kegiatan mendapatkan informasi yang diperlukan untuk menyajikan gambaran rill suatu peristiwa atau kejadian untuk menjawab pertanyaan penelitian, untuk membantu mengerti perilaku manusia, dan untuk evaluasi yaitu melakukan pengukuran terhadap aspek tertentu melakukan umpan balik terhadap pengukuran tersebut.

Observasi atau observasi partisipatif menurut Afriani (dalam, Bajari 2009) adalah metode peungumpalan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan pengindraan di mana observasi atau peneliti benar-benar terlibat dalam keseharian responden.

Menurut bebrapa penjelasan diatas dapat ditarik kesimupulan bahwa teknik obervasi adalah proses dimana peneliti terlibat langsung dalam suatu lingkungan penelitian untuk memperoleh data yang signifikan dan gambaran rill dalam keseharian dari responden.

b) Wawancara

Teknik pengumpulan data dengan melakukan tanya jawab dari peneliti kepada informan untuk mengetahui kegiatan pemira sebagai media komunikasi bagi mahasiswa fakultas Dakwah IAIN Salatiga.

. Kegiatan wawancara bukan berarti suatu kegiatan yang hanya untuk bertukar pikiran atau proses tanya jawab,

32

melainkan wawancara juga disebut sebagai kemampuan sosial dalam berkomunikasi. Karena di dalam proses wawancara yang berlangsung secara terus menerus akan menimbulkan keasyikan tersendiri sehingga akan tumbuh perasaan untuk terus mempelajarinya.

Secara umum wawancara mendalam yaitu proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab smbil bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang di wawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara, di mana peewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama. Dengan demikian kekhasan wawancara mendalam adalah keterlibatan dalam kehidupan informan. ( Bungin, 2008: 108).

Wawancara ditunjukan kepada mahasiswa Fakultas Dakwah IAIN Salatiga untuk memperoleh data-data yang dibutuhkan.

c) Dokumentasi

Dokumentasi itu sendiri terbagi dalam dua tipe yaitu dokumen pribadi dan dokumen resmi. Dokumen pribadi berupa suatu cacatan atau karangan seseorang tentang sesuatu yang terjadi dalam dirinya. Sedangkan dokumentasi resmi berupa

33

intruksi, pengumuman, bener, pamflet dan laporan-laporan yang dikeluarkan dari kelembagaan tertentu.

Dokumen digunakan dalam penelitian ini sebagai sumber data yang dapat dijadikan untuk menafsirkan, menyimpulkan dan menguji terhadap permasalahan yang diteliti.

d) Analisis Data

Sesuai apa yang telah disampaikan diatas bahwa penelitian deskriptif kualitatif bertujuan untuk menggambarkan dan menafisirkan berbagai kondisi dalam suatu situasi di berbagai fenomena di dalam realitas sosial yang berada di dalam lingkungan yang menjadi fokus objek penelitian. Analisis data dalam penelitian ini di lakukan sejak awal dan sepanjang waktu penelitian ketika berlangsung dan selama pengumpulan data penelitian ini.

Miles dan Huberman (dalam Salim, 2006: 20-24) menyebutkan ada tiga langkah pengelolaan data kualitatif yakni reduksi data (data reduction), penyajian data (data display) dan penarikan kesimpulan (conclusion drawing and verification). Langkah-langkah diatas secara keseluruhan saling berkaitan selama dan sesudah pengumpulan data.

34 1. Reduksi data

Reduksi data disini adalah proses awal yang dilakukan oleh peneliti dalam mengolah data. Setelah memperoleh data dari penelitian yang dilakukan dalam lingkungan kemudian peneliti mencari dan memilih data-data yang revelan saling yang berhubungan dengan maksud penelitian. Setelah data-data yang relevan ditemukan dan dijadikan dalam satu data kemudian peneliti memadukan antara data-data tersebut dengan tema yang bersangkutan. Sehingga akan memberikan gambaran yang jelas.

2. Penyajian data

Dalam penyajian data peniliti menggunakan Bentuk teks naratif merupakan penyajian data yang tepat dalam tahap ini. Teks naratif tersebut kemudian di susun sesuai dengan rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian. 3. Penarikan kesimpulan

Tahap akhir dari sebuah penelitian dengan menarik kesimpulan terhadap permasalah yang terjadi. Untuk memperoleh kesimpulan yang utuh maka peneliti perlu melakukan analisis dan mencari makna dari data yang dikumpulkan dengan mencari gejala, pola, hubungan persamaan, hal-hal yang sering timbul yang di tuangkan dalam kesimpulan tentatif.

35

F. Pengecekan Keabsahan Data

Peneliti dalam menguji keabsahan data menggunakan teknik triangulasi, menurut (Sugiyono, 2008: 274) mengkonsultasikan kembali data yang telah di peroleh dan di analisis oleh peneliti kepada informan, pembimbing dan expert opinion / practisioner.

Diagram 1.1

Dengan dilakukan pengecekan keabsahan data oleh informan pada penelitian ini diharapkan infromasi yang diterima relevan dan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

G. Tahap-Tahap Penelitian

Sebelum disajikan dalam bentuk penelitian, peneliti terlebih dahulu melakukan beberapa tahap hingga akhirnya dijadikan sebagai bahan penelitian. Disini peneliti melakukan pengamatan terlebih dahulu terhadap masalah-masalah yang ada dalam peran pemira sebagai media komunikasi, dari berbagai masalah yang timbul

36

kemudian penulis menarik kesimpulan menjadi sebuah judul penelitian. Kemudian penulis mengumpulkan data-data yang diperoleh di lapangan, setelah itu dianalisis dan digabungkan dengan data-data yang lain untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding (Susanti, 2013: 9).

1. Tahap persiapan

Dalam penelitian pemira sebagai media sosial dalam mahasiswa Fakultas Dakwah IAIN Salatiga ini terlebih dahulu peneliti mengumpulkan bahan-bahan meliputi pengumpulan buku-buku dan teori-teori yang berkaitan dengan maksud penelitian. Setelah itu peneliti menyusun dalam bentuk proposal penelitian yang kemudian diajukan kepada pembimbing penelitian hingga proses disetujuinya proposal tersebut untuk penelitian.

2. Mengadakan studi pendahuluan

Dalam tahap ini peneliti melakukan wawancara beserta

Dokumen terkait