BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
B. Pelaksanaan Penelitian
Pengambilan data pada responden I dilakukan pada tanggal 13 Januari 2016 di Panti Werdha Perandan Padudan Gondokusuman, Yogyakarta.
Sebelum melakukan pengambilan data, peneliti bersama dengan responden menentukan waktu dan tempat untuk melaksanakan wawancara. Peneliti memberikan informed consent pada para responden sebagai bukti bahwa responden bersedia menjadi narasumber dalam penelitian dan agar responden mengetahui manfaat dan tujuan dari penelitian yang akan dilaksanakan. Peneliti melakukan wawancara tidak terstruktur yang meliputi pengalaman responden sebagai perawat lansia, kendala atau stressor yang dialami saat merawat lansia, dan strategi para responden untuk menghadapi stres.
Pengambilan data pada responden II, dan responden III dilakukan pada tanggal dan tempat yang sama, yaitu 7 Maret 2016 di Panti Werdha Budi Dharma Kasih. Sebelum melakukan pengambilan data, peneliti bersama dengan kepala panti werdha menentukan tempat, waktu, dan jumlah responden yang akan diwawancara. Peneliti memberikan informed consent pada para responden sebagai bukti bahwa responden bersedia menjadi narasumber dalam penelitian. Selain itu, melalui informed consent responden juga dapat mengetahui manfaat dan tujuan dari penelitian yang akan dilaksanakan. Peneliti melakukan wawancara tidak terstruktur yang meliputi pengalaman kedua responden sebagai perawat lansia, kendala atau stressor yang dialami saat merawat lansia, dan strategi para responden untuk menghadapi stres. Selain itu, peneliti juga menggali data tentang kondisi dan perilaku lansia yang dirawat.
C. Hasil Penelitian
1. Responden I (inisial R)
a. Tugas sebagai perawat lansia
Berdasarkan paparan responden I, ada beberapa tugas yang harus dikerjakan dalam tugasnya merawat lansia, diantaranya adalah memandikan, menyuapi, mengganti pakaian para lansia dan mengerjakan urusan administrasi panti werdha. Tugas-tugas tersebut ia lakukan sendiri karena hanya ada satu perawat di panti werdha tempat responden I bekerja. Namun karena sebagian besar lansia masih mandiri, responden I tidak terlalu kesulitan dalam merawat para lansia, ia hanya perlu mengawasi lansia yang masih mandiri dan memberikan perawatan yang lebih intensif pada lansia yang sudah mengalami lemah fisik. Hal ini diungkapkan oleh responden I dalam kutipannya sebagai berikut:
“Ya ngurusin administrasi, ya ngurusi laporan pertanggungjawaban, ya ngurusi neneknya dari memandikan, nyuapin, mengganti pakaian, ya nyuci, ngepel, saya lakukan soalnya disini saya cuma sendiri, seperti itu.” (14-18)
b. Kendala atau stressor dalam merawat lansia
Responden I mengaku bahwa tidak selalu ia dapat mengerjakan tugas-tugas tersebut dengan lancar dan tidak ada kendala. Responden I berkata bahwa ia sering mengalami kendala dalam merawat lansia terutama pada saat ia harus menghadapi lansia yang mempunyai watak dan sifat yang berbeda-beda, sehingga seringkali para lansia tersebut susah untuk diberitahu. Hal ini diungkapkan oleh responden I dalam kutipannya sebagai berikut:
“Kendalanya itu ya cuma nenek-nenek saya itu beda watak, sifat, karakter jadi saya harus menyesuaikan watak, sifat, karakter mereka itu.” (19-21)
Responden I berpendapat bahwa kendala yang muncul dapat berasal dari pola pikir lansia yang berbeda-beda dan tingkat pendidikan yang rendah sehingga para lansia susah untuk diatur dan diberitahu:
“Mungkin karena itu dia mungkin kurang berpendidikan, jadi cara berpikirnya, pola berpikirnya agak beda.” (36-40)
Kendala lain yang dialami responden I adalah kondisi kesehatan lansia yang sudah menurun dan menderita penyakit seperti epilepsi dan cacat ganda (cacat mental dan fisik). Responden I mengaku bahwa ia kewalahan saat harus merawat lansia yang menderita cacat ganda, karena selain sulit diajak berkomunikasi, lansia tersebut juga tidak dapat menggerakkan badannya sendiri sehingga butuh perawatan ekstra. Hal ini dibuktikan dengan pernyataan responden I dalam kutipan sebagai berikut:
“Cuma kendalanya waktu epilepsinya dia kumat, awalnya saya nggak tau kalo dia epilepsi.” (64-63)
“Dulu awal-awal masuk ya saya sempat kewalahan, saya harus ngangkat dia dari kursi ke tempat tidur, ngangkat dia dari kursi duduk terus memandikan, itu bener-bener saya kewalahan.” (73-76)
c. Strategi coping stres
Responden I mengaku bahwa kendala-kendala dalam merawat lansia menjadi penyebab stres yang dialaminya. Dengan demikian, responden I menyadari bahwa ia tidak dapat menjalani tugasnya sebagai perawat lansia dengan baik jika ia mengalami stres, sehingga ia harus menghadapi rasa stresnya
dengan melakukan coping. Beberapa strategi coping yang dilakukan responden I sebagai tindakan kuratif adalah melepaskan atau mengengkspresikan emosi negatif yang dirasakannya. Hal ini diungkapkan oleh responden I dalam kutipan sebagai berikut:
“Saya mending wek wek wek tapi nggak jadi beban, nggak jadi masalah dengan mereka. Kalo sudah ya sudah, selesai urusannya, seperti itu. Lebih baik saya keluarkan daripada dipendam.” (157-161)
“Akhirnya saya terus teriak-teriak itu tadi, menghilangkan kejengkelan hati saya, saya luapkan.” (190-191)
Selain melepaskan emosi negatif, secara personal responden I juga beranggapan bahwa menyelesaikan masalah secara langsung lebih baik daripada dipendam. Responden I juga berkata bahwa dengan menyelesaikan masalah secara langsung dapat membuatnya merasa lega. Hal ini dibuktikan dalam pernyataan responden I sebagai berikut:
“Mending langsung diselesaikan sekalian trus sudah. Jadi kalo ada permasalahan sedikit yang itu mengganggu pikiran saya, itu bikin saya nggak nyaman,
jadi langsung saya selesaikan tapi setelah itu saya lega.”(337-340)
Responden I mengaku bahwa ia juga melakukan upaya preventif dan kuratif dengan mendekatkan diri pada Tuhan. Upaya ini ia lakukan untuk mengantisipasi adanya luapan emosi negatif saat ia merasa stres. Responden I berkata bahwa secara personal dengan cara mendekatkan diri pada Tuhan, ia mendapatkan ketenangan dan merasakan adanya hikmat dan tuntunan Tuhan dalam menjalankan tugasnya merawat lansia. Dalam upaya mengatasi stres dengan cara mendekatkan diri dengan Tuhan, Responden I mempunyai 2 cara yaitu dengan berdoa dan membaca firman Tuhan. Hal ini dibuktikan dengan kutipan pernyataan responden I sebagai berikut:
“Akhirnya setiap saya mau marah, saya ambil renungan. Jadi setiap pagi mau makan, kita harus renungan dulu.” (127-129)
“Selalu baca renungan sebelum makan pagi, bacaan Firman Tuhan, ya melalui itu tadi saya berikan ke mereka.” (193-195)
“Pokoknya berdoa mohon hikmat pada Tuhan, dan saya tetep berpegang pada firman Tuhan. Saya merasa
nyaman kalo udah berdoa, dan merasa selalu dibukakan jalan oleh Tuhan.” (262-266)
Responden I mengaku bahwa ia membutuhkan orang lain untuk mendengarkan keluhannya dan menceritakan segala permasalahan yang dialaminya, sehingga ia dapat meluapkan emosi negatifnya. Jika ia tidak bercerita dengan orang lain, ia akan tetap merasa stres dan jengkel sehingga hal tersebut akan menjadi beban pikirannya. Menurut responden I, dengan cara bercerita dengan orang lain, beban dan stres yang dirasakannya sudah berkurang. Bercerita kepada orang lain dirasa efektif oleh responden I untuk mengurangi rasa jengkel dan stres yang dialaminya. Hal ini dibuktikan dengan kutipan pernyataan
responden berikut:
“Saya curhat ke orang tertentu. Soalnya kalo saya nggak curhat ke seseorang, beban itu berat. Jadi rasanya jengkel, stres, marah, nggak mau ngeliat orangnya, itu beban mbak. Daripada nanti saya marah, jadi batu sandungan, mending saya curhat.” (286-290)
“Saya main ketempat siapa gitu. Kita ngobrol, tapi bukan ngobrol tentang simbah. Nanti pas pulang, walaupun masih ada rasa jengkel tapi beban dan stres saya sudah berkurang.” (309-312)
Berdasarkan paparan dari responden I, stressor saat merawat lansia adalah saat ia harus menghadapi lansia yang sulit diberitahu, mengurus administrasi serta membersihkan panti sendiri, dan merawat lansia yang mengalami cacat fisik dan mental. Dalam menghadapi stres, responden I melakukan tindakan preventif yaitu berdoa dan membaca Alkitab. Upaya ini juga didukung dengan adanya kegiatan rutin di panti yaitu membaca renungan bersama. Sedangkan tindakan kuratif yang ia lakukan adalah menyelesaikan masalah secara langsung dan bercerita kepada orang lain. Dengan demikian, secara personal ia merasa bahwa dengan cara-cara tersebut rasa stresnya dapat berkurang. Coping stres yang digunakan responden I termasuk dalam emotion-focused coping.
2. Responden II (inisial Si)
a. Tugas sebagai perawat lansia
Berdasarkan hasil wawancara, responden II mempunyai beberapa tugas yang harus dikerjakan sebagai perawat lansia, yaitu menjaga kebersihan dan kesehatan lansia, memandikan, menyiapkan makanan, dan menyuapi. Responden II berkata bahwa tiap hari ia harus memandikan lansia yang mengalami lemah fisik atau cacat dan lansia yang memakai kursi roda.
Dalam hal menjaga kebersihan lansia, responden II mengaku bahwa ia bertugas untuk mengepel dan menjaga kebersihan kamar para lansia. Hal ini dibuktikan dengan kutipan pernyataan responden sebagai berikut:
“Kalo pagi paling yang pertama ngepel depan gitu dulu terus nyiapin air panas buat mandi, gitu ntar jam setengah 6 mandiin.” (8-10)
“Kalo makan ya selalu ikut mba, makan terus sampe selesai gitu, kan kalo di belakang ada yang disuapin 1, terus makannya juga dihalusin.” (15-17)
Selain itu responden II juga bertugas untuk mengantar lansia yang mengeluh sakit ke poliklinik dan mengawasi lansia dalam mengonsumsi obat-obatan. Ketika waktu makan sudah tiba, responden II bersama perawat lainnya menyiapkan makanan untuk para lansia. Lansia yang cacat atau sedang sakit biasanya disuapi oleh perawat.Hal ini dibuktikan dengan kutipan pernyataan responden II sebagai berikut:
“Kalo misalkan ada yang sakit langsung dibawa ke balai pengobatan yang di depan. Kadang juga ditanya satu-satu, ada yang sakit apa nggak. Kalo ada yang lemes nggak kayak biasa ditanyain kenapa, ada yang sakit apa pusing gitu mba.” (20-24)
“Malem-malem pasti ada yang manggil, kalo ada yang mau kencing atau apa kan mesti manggil buat bantuin kencing.” (29-31)
b. Kendala atau stressor dalam merawat lansia
Pada saat merawat lansia, responden II mengaku ada beberapa kendala yang dialaminya. Kendala yang sering dialami yaitu lansia yang susah diberitahu untuk mandi. Selain itu lansia juga menggit dan mencakar perawat ketika dimandikan. Responden II mengaku bahwa ada beberapa lansia yang susah dimandikan dan sering memberontak. Perilaku lansia ini membuat responden II kesulitan dalam merawat. Hal ini ditunjukkan dalam kutipan pernyataan sebagai berikut:
“Ya itu sih, kalo dimandiin ada yang suka nggigit. Ada yang nggigit, ada yang nyakar. Terus kalo di depan juga yang mandiin harus berdua mba.”(38-41)
“Emm... paling kalo susah dibilangin gitu, yang dibelakang itu susah mandi, susah dibilangin suruh mandi.” (36-37)
Responden II juga mengalami kesulitan saat merawat lansia dengan kondisi lemah mental dan menderita pikun. Lansia yang pikun sering bertanya hal yang sama secara berulang sehingga responden II merasa kewalahan dalam
menanggapinya. Selain itu, responden II juga mengaku bahwa lansia sering berkata kasar sehingga ia merasa sedih dan jengkel. Kendala ini menyebabkan responden II merasa stres pada saat awal merawat lansia, namun lama-kelamaan ia terbiasa menghadapi perilaku lansia tersebut. Hal ini dibuktikan dengan pernyataan sebagai berikut:
“Yang... itu yang pikun mba. Nanya terus, baru sebentar nanya, udah dijawab nanya lagi. Ngomong terus tapi omongannya diulang terus. Kadang ya capek nanggepinnya, jengkel juga udah dijawab, nanya lagi gitu mba .”(79-83)
“Kadang juga ada yang ngatain kasar mba. Kalo udah gitu yang bikin saya sedih, ya jengkel juga. Dulu awal ya sempet stres digituin, tapi makin kesini ya biasa aja.” (100-103)
c. Strategi coping stress
Dalam menghadapi stressor yang dialaminya, responden II melakukan beberapa strategi coping yang dianggap efektif untuk mengurangi rasa stresnya. Responden II mengaku bahwa sebagai tindakan kuratif, ia sering mengungkapkan perasaan dan keluhannya dengan cara bercerita dengan temannya. Selain itu, responden II juga mendapatkan dukungan sosial berupa motivasi dan semangat serta nasihat dari teman-teman,
orangtua, dan Kepala Panti. Hal ini dibuktikan dengan kutipan pernyataan responden sebagai berikut:
“Emm... paling ya cerita, curhat sama temen-temen. Nanti temen-temen bilang, udah diemin aja, kalo ngamuk didiemin aja nanti kan cape sendiri.” (62-65) “Seringnya dibilangin sama Bu Prapti, dikasih semangat gitu mba, disini kan bukan cuma kerja biasa ngerawat lansia tapi juga melayani.” (67-69)
“Tapi ya seringnya kalo ada masalah apa lagi jengkel stres gitu cuma cerita ke temen sih mba, kadang malah mereka bikin buat bercandaan.” (115-117)
Selain strategi coping yang sudah disebutkan, responden II juga mengatasi rasa stresnya dengan cara meminta bantuan pada teman-temannya ketika sedang mengalami kesulitan. responden II juga terus melakukan latihan dalam merawat lansia supaya ia dapat terbiasa dalam merawat lansia. Selain itu, secara personal responden II juga beranggapan bahwa saat ia bisa menerima keadaan dan menjalankan tugasnya sebagai perawat lansia dengan sabar dan menerima segala resiko yang ada, ia merasa stres yang dirasakannya tidak terlalu berat. Hal ini dibuktikan dengan kutipan pernyataan responden sebagai berikut:
“Ya gitu latian terus tiap hari, minta bantuan sama temen, dibantu sama temen juga.” (59-61)
“Jadi ya harus dihadapi aja, sama banyak-banyak sabar. Kalo nerima keadaan malah jadi nggak stres banget mba. Kerjaan merawat lansia ini kan juga saya sendiri yang mau, jadi apa aja resikonya ya saya terima aja mba.” (107-111)
Dalam upaya menghadapi stresnya, responden II berkata bahwa ia juga melakukan tindakan preventif dengan mendekatkan diri pada Tuhan (sholat). Hal ini dibuktikan dengan kutipan pernyataan responden sebagai berikut:
“Ya paling berdoa aja sih mba. Sama telepon ibu, cerita-cerita. Nanti sama ibu paling dibilang yaudah sabar aja, dijalanin aja gitu.” (75-78)
Berdasarkan paparan dari responden II, dapat disimpulkan bahwa stres muncul saat ada lansia yang berkata kasar, tidak mau dilayani, dan melakukan tindakan agresi. Untuk mengatasi stresnya, sebagai tindakan preventif responden II melakukan upaya mendekatkan diri pada Tuhan. Sedangkan upaya kuratif yang dilakukannya adalah bercerita pada orang lain sehingga ia mendapatkan semangat dan motivasi. Hal
tersebut menunjukkan bahwa responden II menggunakan strategi emotion-focused coping.
3. Responden III (inisial SR)
a. Tugas sebagai perawat lansia
Berdasarkan hasil wawancara, responden III mempunyai beberapa tugas yang rutin dilakukannya sebagai perawat lansia. tugas-tugas tersebut adalah menjaga kebersihan para lansia, seperti memandikan dan membersihkan tempat tidur. Selain itu, responden III juga bertugas untuk menyiapkan makanan dan menjaga lansia. Responden III mengaku bahwa ia juga bertugas untuk menemani lansia saat akan tidur pada malam hari, dan menemani ke kamar mandi dan membantu buang air. Hal ini dibuktikan dengan kutipan pernyataan responden sebagai berikut:
“Yaa saya kerjanya bersih-bersih tempat tidur, ngepel, nyapu. Siapin makanan juga, njagain, trus nanti kalo yang mau ke kamar mandi ndak berani ditemenin, dibantu buang airnya, trus nanti ada yang ndak berani tidur malem ditemenin gitu, kasih obat.” (20-24)
b. Kendala atau stresor saat merawat lansia
Dalam melaksanakan tugasnya sebagai perawat lansia, banyak kendala yang dilami oleh responden III. Kendala yang biasa ia alami adalah perilaku lansia yang sering menolak untuk dimandikan dan berteriak-teriak. Responden III juga mengaku bahwa ia pernah digigit, dicubit, dan dipukul oleh lansia yang tidak mau dimandikan. Lansia yang suka menggigit dan mencubit seringkali membuat responden III merasa sedih dan stres, selain itu responden III juga mengalami kendala saat mengingatkan lansia yang sulit minum obat. Hal ini dibuktikan dengan kutipan pernyataan responden III sebagai berikut:
“Biasanya nenek-neneknya tu suka teriak-teriak. Dimandiin ndak mau, teriak-teriak, nggigitin juga, nyubitin.” (35-37)
“Trus kalo suruh minum kalo ndak disuruh ndak minum-minum.” (39-40)
“Apalagi yang suka nggigit sama mukulin kalo pas dimandiin mbak, itu rasanya sedih banget, bikin stres.” (102-104)
Selain perilaku lansia yang menjadi kendala dalam merawat lansia, responden III mengaku bahwa kesehatan lansia yang menurun juga menjadi hambatan dalam merawat lansia. Beberapa lansia yang sudah pikun sering menanyakan satu hal
yang sama pada para perawat secara berulang-ulang, hal tersebut membuat responden III merasa lelah dan jengkel, namun ia harus tetap menanggapi pertanyaan lansia tersebut. Hal ini dibuktikan dalam kutipan pernyataan responden III sebagai berikut:
“Yaa stres mbak, apalagi kalo ngadepin orang pikun mbak, capek ngadepinnya. Biasanya nanya, ini jam berapa? Udah dijawab “jam 8”, tapi nanya lagi nanya lagi. Nanti 5 menit lagi nanya lagi, “anak saya kok nggak kesini-sini ya? Lho kok ndak kesini lagi ya?” Marah-marah terus. (41-46)
Kendala-kendala yang dialami tersebut membuat responden III merasa jengkel, marah, dan stres, sehingga ia berniat untuk mengupayakan sesuatu agar ia bisa mengatasi emosi negatifnya tersebut. Responden III mengaku bahwa ketika ia sudah tidak dapat menahan rasa jengkelnya, ia akan memarahi atau membentak lansia yang sulit diberitahu. Hal ini dibuktikan dengan kutipan pernyataan sebagai berikut:
“Kadang-kadang marah-marah gitu mbak, ndak sengaja malah jadinya mbentak-mbentak.” (57-58)
Responden III mengaku bahwa saat ia merasa stres, ia juga berinisiatif untuk mencurahkan isi hati dan permasalahan yang dialaminya pada temannya. Saat bercerita pada teman-temannya, responden III berkata bahwa ia mendapatkan dukungan dan motivasi serta nasihat dari teman-temannya. Responden III juga berkata bahwa ia mendapat hiburan dari teman-temannya dengan cara bercanda bersama. Hal ini dibuktikan dengan kutipan pernyataan sebagai berikut:
“Yaa biasanya bercanda sama temen-temen, ndengerin lagu, nanti nyanyi-nyanyi bareng, ketawa-ketawa bareng, gitu.” (67-69)
“Biasanya saling berbagi gitu, saling cerita sama saling kasih semangat gitu lah mbak. Kasih nasihat juga...” (76-78)
“Tapi terus biasanya temen-temen kasih motivasi, “Jangan gitu lah, harus semangat. Kita kan disini kerja sama-sama. Nanti kalo kerjasama kan kita bisa ngatasin permasalahan yang ada disini..” (106-110)
Responden III mengaku bahwa ia juga melakukan upaya mendekatkan diri dengan Tuhan dengan cara berdoa (sholat) ketika ia merasa stres. Responden III juga bercerita pada ibunya tentang permasalahan yang sedang dihadapinya. Dengan cara ini responden merasa stresnya dapat berkurang. Upaya meluapkan
emosi negatif dengan cara menangis juga dilakukan oleh responden III. Namun jika responden III sudah tidak dapat mengatasi permasalahan dan stressor yang dihadapinya, responden III berkata bahwa ia akan menyerah dalam merawat lansia. Hal ini dibuktikan dengan kutipan pernyataan responden III sebagai berikut:
“Kadang juga saya berdoa, supaya apa ya, biar dikasih kesabaran aja. Pernah saya nangis sendirian di kamar juga mbak. Kadang-kadang nangis sendirian habis sholat. Kadang telpon sama ibu dirumah.” (86-90)
“Paling kalo udah bener-bener nggak tahan ya marah-marah sebentar, nanti trus curhat lagi, yang penting berdoa aja sih mbak. Tapi kalo udah bener-bener nggak tahan banget ya... mesti mundur, pasrah aja.” (96-99) Dari hasil analisis, stressor yang dialami oleh responden III berasal dari perilaku lansia yang tidak mau dilayani, tindakan agresi lansia, dan ketika harus menghadapi lansia yang pikun. Sebagai tindakan kuratif responden III menghadapi stresnya dengan cara membentak dan marah pada lansia, bercerita pada orang lain, dan menangis. Sedangkan sebagai tindakan preventif responden III melakukan pendekatan diri pada Tuhan untuk mendapatkan ketenangan batin. Strategi coping yang digunakan responden III termasuk dalam emotion-focused coping.