BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
C. Saran
Berdasarkan penelitian dan hasil penelitian yang dilakukan, maka didapatkan beberapa saran sebagai berikut:
1. Bagi informan penelitian
Berdasarkan hasil pembahasan, perawat lansia cenderung memilih coping dengan cara mendekatkan diri pada Tuhan dan bercerita pada orang lain. Dengan demikian, diharapkan panti werdha mengadakan kegiatan yang menunjang seperti renungan dan berdoa bersama serta sharing baik dengan sesama perawat lansia maupun dengan lansia yang dirawat.
2. Bagi peneliti selanjutnya
Penelitian ini menggali bagaimana cara perawat lansia yang tinggal di panti wredha bersama lansia untuk merawat lansia selama hampir 24 jam, sehingga kendala yang dialami oleh para perawat sangat beragam dan hampir sepanjang hari terdapat kendala yang disebabkan oleh para lansia.
Selain itu, responden dalam penelitian ini ketiganya berjenis kelamin perempuan. Akan lebih baik jika pada penelitian selanjutnya dapat melihat bagaimana cara menghadapi stres saat merawat lansia pada perawat yang berjenis kelamin laki-laki. Pada penelitian selanjutnya juga dapat dilihat apa saja kendala yang dialami oleh perawat lansia yang tidak tinggal bersama para lansia di panti wredha, sehingga hasilnya dapat dibandingkan. Selain itu, dalam penelitian ini masih menggunakan panduan pertanyaan wawancara yang masih sederhana sehingga kurang dapat menggali lebih dalam mengenai pengalaman serta bagaimana cara menghadapi stres saat ketiga responden menghadapi kendala dalam merawat lansia.
DAFTAR PUSTAKA
Sumber Buku
Basrowi, Suwandi. Memahami Penelitian Kualitatif. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta: 2008.
Bogdan, R. C., & Biklen, S. K. (1992). Qualitative Research for Education: An Introduction to the Theory and Methods. Boston: Allyn & Bacon.
Creswell, John W. (2010). Research Design: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Denzin, N. K., & Lincoln, Y. S. (1994). Hanbook of Qualitative Research. Thousand Oaks, California: Sage.
Effendy, N. (1997). Dasar-dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Gormally, Luke. (1992). The Dependent Elderly: Autonomy, Justice and Quality of Care. Great Britain: Cambridge University Press.
Hawari, D. (2007). Manajemen Stress, Cemas, dan Depresi. Jakarta: EGC. Hurlock, E. B. (1979). Personality Development. New Delhi: Tata McGraw-Hill. Hurlock, E. B. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang
Kehidupan (edisi kelima). Penerbit Erlangga. Jakarta: 2008. http://depsos.go.id
Johnson, D. W. & Johnson, F. P. (1991). Joining Together: Group Theory and Group Skills. Fourth Edition. London: Prentice Hall International.
Kerlinger, Fred N. (2004). Asas-asas Penelitian Behavioral. Edisi Ketiga. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Lazarus, R. S., & Folkman, S. Stress, Appraisal, and Coping. Springer. New York: 1984.
Moleong, L. J. (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Nugroho, W. (1992). KeperawatanGerontik, Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Nugroho, W. (1995). Perawatan Lanjut Usia. Yogyakarta: Buku Kedokteran. Nugroho, W. (2000). Keperawatan Gerontik Edisi 2. Jakarta: EGC.
Nugroho, W. (2008). Keperawatan Gerontik dan Gerartik. Jakarta: EGC. Nugroho, W. (2009). Komunikasi dalam Keperawatan Gerontik. Jakarta: EGC. Papalia, Olds & Fieldman. (2007). Human Development. New York: McGraw
Hill.
Papalia, D. E., Sterns, H. L., Fieldman, R. D. & Camp, C. J. (2002). Adult Development And Aging. New York: McGraw Hill.
Poerwandari, Kristi. (2005) Pendekatan Kualitatif Untuk Penelitian Perilaku Manusia. Jakarta: LPSP3 UI.
Poerwandari, Kristi. (1998). Pendekatan Kualitatif dalam Penelitian Psikologi. Jakarta: Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3) Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
Rice, P. L. Stress and Health (3rd ed.). Brooks/Cole Publishing Company. California: 1999.
Smith, Jonathan A. (2013). Dasar-Dasar Psikologi Kualitatif: Pedoman Praktis Metode Penelitian. Bandung: Penerbit Nusa Media.
Suardiman, Siti Partini (2011). Psikologi Usia Lanjut, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Supratiknya, A. (2015). Metodologi Penelitian Kuantitatif & Kualitatif Dalam Psikologi. Yogyakarta: Penerbit Universitas Sanata Dharma.
Taylor, S. E. & Stanson, A. L. Coping Resource, Coping Processes and Mental Health. The Annual Review of Clinical Psychology no. 3 (377-401).
Sumber Jurnal dan Skripsi
Carver, C. S. 1997. You Want to Measure Coping But Your Protocol’s Too Long: Consider the Brief COPE. International Journal of Behavioral Medicine, no. 1 (92-100).
Carver, C. S., Scherier, M. F., & Weintraub, J. K. 1989. Assesing Coping Strategies: A Theoretically Based Approach. Journal of Personality and Social Psychology, no. 56 (267-283).
Gitlin, N. L. & Schulz, R. (2012). Family Caregiving for Older Adults. In T. R. Prohaska, L.A. Anderson, R. H. Binstock. Public Health for an Aging Society. Baltimore, MD: Johns Hopkins University Press. (pp. 181-204)
Gitlin, L. N. & Wolff, J. L. (2012). Family Involvement in Care Transitions of Older Adults: What Do We Know and Where Do We Go From Here?In P. Dilworth-Anderson. Annual Review of Gerontology and Geriatrics: Pathways through the Transition of a Dementia Caregiver Intervention for Individuals with Dementia and Family Caregivers: The Tailored Activity Program. American Journal of Geriatric Psychiatry, No. 18.
Hertamina, M. R. (2009). Dukungan Sosial pada Lansia di Panti Werda (Studi Deskriptif tentang Harapan dan Penerimaan Dukungan Sosial pada Lansia dari Staf dan Pemberian Dukungan Sosial Menurut Staf pada suatu Panti di Jakarta). Jakarta: Perpustakaan Universitas Indonesia.
(http://lib.ui.ac.id/opac/themes/libri2/detail.jsp?id=20286577&lokasi=lokal)
Insiyah & Hastuti, R. T. Pengaruh Terapi Penyelesaian Masalah (Problem Solving Therapy) Terhadap Penurunan Distress Psikologik Pada Caregiver Lansia di RT 03 RW 04 Mojosongo, Jebres, Surakarta. Jurnal Terpadu Ilmu Kesehatan, Vol. 3 No. 2, November 2014, hal. 106-214
Martina, A. (2012). Gambaran Tingkat Stres Kerja Perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Paru Dr. Moehammad Goenawan Partowidigyo Cisarua Bogor (RSPG). Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.
Ningrum, D. W. (2011). Hubungan Antara Optimisme Dan Coping Stres Pada Mahasiswa UEU yang Sedang Menyusun Skripsi. Jurnal Psikologi Vol. 9 No. 1, Juni 2011.
Putra, D. N. (2013). Strategi Coping Terhadap Stres Pada Mahasiswa Tunanetra UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Yogyakarta: Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam, Fakultas Dakwah, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Rosyani, C. R. (2012). Hubungan Antara Resiliensi dan Coping Pada Pasien Kanker Dewasa. Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
Rubbyana, Urifah. (2012). Hubungan antara Strategi Koping dengan Kualitas Hidup pada Penderita Skizofrenia Remisi Simptom. Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental. Vol. 1 No. 2, Juni 2012.
Sarwendah, E. (2013). Hubungan Beban Kerja dengan Tingkat Stress Kerja Pada Pekerja Sosial Sebagai Caregiver di Panti Sosial Tresna Werdha Budhi DKI Jakarta. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Sulandari, Santi. (2009). Penyesuaian Diri Pada Lansia Yang Tinggal Di Panti Werdha. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Sukmarini, N. (2009). Optimalisasi Peran Caregiver dalam Penatalaksanaan Skizofrenia. Bandung: Majalah Psikiatri XLII.
Widiastuti, R. H., Sabar, J. & Permatasari, H. (2011). Pengalaman Keluarga Merawat Lansia Dengan Demensia. Jurnal Ners Indonesia, Vol. 1 No. 02.
1 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14.
bagaimana menjadi perawat lansia di panti werdha ini.
Yang pertama, kapan ibu mulai merawat lansia? Saya
merawat lansia itu sebetulnya sebelum disini saya sudah merawat nenek saya sendiri. Lalu saya tahun 2000-2001 saya disini, tapi waktu itu saya pulang. Jadi, waktu itu saya pulang. Jadi karyawan disini, pagi masuk, sore pulang. 2 tahun lalu keluar, baru tahun 2006 saya masuk sini sampe sekarang. Sebelum 2006 itu ibu merawat dimana? Saya nggak merawat lansia mbak, saya kerja di UKDW. Berarti
kira-kira udah berapa lama ya bu? Kira-kira saya sudah
10 tahun disini. Terus, selama ibu merawat lansia itu,
tugas-tugas apa aja yang harus ibu lakukan? Saya disini
2 17. 18. 19. 20 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29.
pakaian, ya nyuci, ngepel, saya lakukan soalnya disini saya cuma sendiri, seperti itu. Selama ibu merawat, ada
kendala-kendala gitu nggak bu? Kendalanya itu ya cuma...
nenek-nenek saya itu beda watak, sifat, karakter jadi saya harus menyesuaikan watak, sifat, karakter mereka itu. Cuma kalo mereka penghuni baru, kendalanya itu ya saya harus penyesuaian dan kadang mereka membawa wataknya sendiri-sendiri, itu susah. Tapi ya... tetep berusaha untuk memahami mereka. Dalam ibu menyesuaikan dengan nenek-neneknya itu biasanya lama atau tergantung? Tergantung nenek-neneknya. Ada yang nyaman, ada yang lama. Jadi sudah dikasih pengertian tetep ngeyel, mbandel gitu ada. Kondisi nenek-nenek yang ibu rawat disini tu
Kendalanya itu ya cuma nenek-nenek saya itu beda watak, sifat, karakter jadi saya harus menyesuaikan watak, sifat, karakter mereka itu.
Tapi ya tetep berusaha untuk memahami mereka.
Perbedaan watak, sifat, karakter.
Selalu berusaha untuk memahami para lansia.
Kendala dalam merawat lansia: perbedaan watak. Upaya untuk mengatasi stresasimilasi.
Upaya untuk mengatasi stresasimilasi.
3 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44.
diam, anteng kan tidak bisa. Dia maunya jalan-jalan, pergi, duduk tu ndak jenak. Terus suruh jaga rumah tu malah pergi. Lha itu saya harus memberikan pengertian, prosesnya memang lama. Harus dikasih pengertian, harus dikasih waktu karena mereka juga pikirannya kadang blank. Nah yang kadang membuat saya kadang ndak nyambung dengan dia, itu mungkin karena... itu dia mungkin kurang berpendidikan, jadi cara berpikirnya, pola berpikirnya agak beda. Nah, saya harus memahami itu juga. Ndak mudah lah saya harus merawat satu orang dengan yang lainnya itu ndak mudah. Itu perlu waktu dan penyesuaian juga. Trus kalo dari kondisi fisik sama mental lansia yang ibu rawat itu
sebagian besar kayak gimana? Ada fisik mereka normal
Mungkin karena itu dia
mungkin kurang berpendidikan, jadi cara
berpikirnya, pola berpikirnya agak beda.
Ada fisik mereka normal
Perbedaan pola pikir dan perbedaan tingkat pendidikan.
Kondisi fisik lansia yang
Kendala dalam merawat lansia: perbedaan pola pikir dan sifat.
4 47. 48. 49. 50. 51. 52. 53. 54. 55. 56. 57. 58. 59.
ada yang istilahnya bikin masalah, dia nggak salah tapi disalahkan, dia marah. Marahnya itu seperti anak kecil. Awalnya saya juga kaget, tapi lambat laun saya memahami karakter dia seperti ini. Tapi saya tetep harus tegas, dalam arti harus tegas itu bukan saya kurangajar dengan orang yang sudah tua, tetep harus membedakan ini untuk mendidik, ini untuk memberikan, ini untuk menasehati, saya harus bisa tegas. Kalo yang sakit-sakit gitu ada nggak bu, kayak
yang emang bener-bener lemah? Ada ni yang satu ini, dia
sakit mental, sakit fisik, bisa dikatakan cacat ganda ya. Ini titipan dari Sarimulyo itu cacat fisik, cacat mental. Aturan kalo mau masuk sini kan harus sehat, tapi waktu itu miss komunikasi tau-tau udah dibawa kesini pake kursi roda, saya
dia nggak salah tapi disalahkan, dia marah. Marahnya itu seperti anak kecil.
Dia sakit mental, sakit fisik, bisa dikatakan cacat ganda ya.
Lansia yang mengalami keterbelakangan mental sering marah jika disalahkan, contohnya ia marah seperti anak kecil.
Lansia mengalami keterbelakangan mental dan cacat secara fisik.
keterbelakangan mental. Perilaku lansia yang terbelakang mentalnya di panti werdha.
Kondisi lansia yang dirawat di panti werdha. Cacat ganda: cacat fisik dan cacat mental.
5 62. 63. 64. 65. 66. 67. 68. 69. 70. 71. 72. 73. 74.
tidak mau saya terima. Nah dengan berjalannya waktu ternyata dia epilepsi, dia diabet, itu kan berat. Jadi saya jalani dengan sukacita. Cuma kendalanya waktu epilepsinya dia kumat, awalnya saya nggak tau kalo dia epilepsi. Saya cuma nanganinnya nggak kasih obat, saya cuma kasih air kelapa. Nah setelah itu supaya gulanya turun, saya kasih dia nasi kemarin. Bukan yang basi ya, itu biar gula darahnya turun. Nah terbukti dia gula darahnya emang turun. Sekarang dia tubuhnya kayak semakin menutup, awalnya dia bisa tangannya gerak, sekarang nggak bisa. Terus tulang-tulangnya udah mulai kayak bengkok-bengkok, jadi harus dirawat ekstra. Dulu awal-awal masuk ya saya sempat kewalahan, saya harus ngangkat dia dari kursi ke tempat
Cuma kendalanya waktu epilepsinya dia kumat, awalnya saya nggak tau kalo dia epilepsi.
Ngangkat dia dari kursi duduk terus memandikan,
Ada lansia yang mengidap epilepsi, saat kumat perawat tidak tahu cara mengatasinya.
Perawat harus memberikan perawatan ekstra pada lansia,
Kendala saat merawat lansia di panti werdha: penyakit epilepsi yang diderita lansia kambuh.
Perasaan saat merawat lansia: kewalahan.
6 77. 78. 79. 80. 81. 82. 83. 84. 85. 86. 87. 88. 89.
saya teriak-teriak, memberikan pengertian untuk dia, karena dia kalo disuruh buka badan malah jadi kaku badannya, ya karena cacat mental itu tadi ya. Lama-lama saya sendiri yang harus menyesuaikan, karena kondisinya memang seperti ini. Tapi ya sudah, saya jalani dengan sukacita. Itu yang paling berat, dia. Kalo yang lain gimana bu? Kalo yang lain nyaman, nyambung. Lalu ada satu lagi ada yang gimana ya, boleh dikatakan kelainan. Itu kalo orang bilang halusinasi masa lalunya timbul sekarang. Nah saya juga bingung, tapi setiap saat neneknya itu teriak-teriak, entah pagi, entah siang, entah malam, itu selalu yang disebut-sebut cucunya. “Ayo cepet mandi,” trus kata-katanya kotor seperti itu. Ada saatnya saya marah, “Diem! Tau nggak kalo suruh diem!
Sampe kadang tiap pagi mulut saya teriak-teriak, memberikan pengertian untuk dia.
Kalo disuruh buka badan malah jadi kaku badannya, ya karena cacat mental itu tadi ya.
Itu kalo orang bilang halusinasi masa lalunya timbul sekarang.
Perawat harus berteriak saat berkomunikasi dengan lansia yang mengalami cacat.
Lansia yang menderita cacat mental juga mengalami kelumpuhan saraf.
Ada lansia yang mengalami halusinasi yang berasal dari masa lalunya.
Cara mengekspresikan kewalahan.
Kondisi lansia: cacat mental & kelumpuhan saraf.
Kondisi lansia: mengalami gangguan mentalhalusinasi.
7 92. 93. 94. 95. 96. 97. 98. 99. 100. 101. 102. 103. 104.
sana.” (menirukan percakapannya dengan si nenek) Trus dia langsung masuk kamar trus nanti temannya ikut marah dengan saya, trus nanti saya “Ngapain kok ikut-ikut marah?” Yang ini saya belum bisa ngatasin, yang ini saya sudah konsultasi ke pengurus, kemungkinan dia mau dibawa ke pakem, ke Ghrasia itu atau entah ke psikolog. Tapi saya yang satu ini emang belum bisa nanganin. Kalo secara fisik
yang lain, kecuali yang cacat itu emang sehat bu? Iya
biasa, ndak papa, ndak masalah. Tadi yang merawat itu bu, ibu kan bilang, semua pekerjaan disini ibu yang lakukan. Ketika ada lansia yang sakit, ibu juga yang
anter ke dokter? Iya, saya harus nganter ke dokter. Tapi
8 107. 108. 109. 110. 111. 112. 113. 114. 115. 116. 117. 118. 119.
ndak, ya sudah kita rawat di rumah. Kalo harus dibawa ke rumah sakit ya saya konfirmasi ke pengurusnya, nanti kita bersama-sama bawa ke rumah sakit. Nah ketika ibu mengalami kendala atau masalah waktu merawat
nenek-nenek itu, apa sih yang ibu rasakan? Ya... namanya
manusia ya mbak, rasa jengkel itu tetep ada. Terus rasa... aduh, saya sudah berusaha tak rawat, tapi kok seperti ini. Kadang saya juga marah, saya mengatakan “Kamu tu bukan apa-apaku, tapi aku mau melayanimu, aku mau mengasihimu, karena aku sayang. Tapi kalo dikasih pengertian nggak mau ya sudah.” Contohnya kayak Bu Maria itu mbak, sukanya ngorek-ngorek sampah, liar lah hidupnya. Kadang saya marahin, saya menegur karena saya
Ya namanya manusia ya mbak, rasa jengkel itu tetep ada. Kadang saya juga marah...
Kamu tu bukan apa-apaku, tapi aku mau melayanimu... Tapi kalo dikasih pengertian nggak mau ya sudah
Perawat merasa jengkel pada lansia yang dirawatnya, selain itu, perawat juga merasa marah dan jengkel.
Perawat memberikan pengertian pada lansia untuk kebaikan para lansia.
Perasaan ketika merawat lansia: jengkel, marah.
Cara perawat mengekspresikan marah.
9 122. 123. 124. 125. 126. 127. 128. 129. 130. 131. 132. 134. 135.
dewe.” Dia ketawa, akhirnya dia kembali lagi. Saya jadi ngerti, oo memang karakter nenek ini seperti ini. Cara berpikirnya juga gini, akhirnya saya harus memahami. Dan akhirnya waktu itu saya marah. Dulu ya mbak, saya sering marah, tapi akhirnya saya sadar, kalo saya ikut marah nanti saya malah tambah stres. Akhirnya setiap saya mau marah, saya ambil renungan. Jadi tiap pagi mau makan, kita harus renungan dulu. Dari renungan itu saya jabarkan, “Ni lho mbah, kita nggak boleh seperti ini. Halnya sepele, harusnya ada komunikasi, tapi karena nggak ada komunikasi tadi akhirnya jadi perang. Perang mulut seperti itu, itu nggak bagus. Didenger sama orang lain juga nggak enak.” Jadi pengertiannya seperti itu. Saya tetep sadar Tuhan tuntun
Akhirnya setiap saya mau marah, saya ambil renungan. Jadi tiap pagi mau makan, kita harus renungan dulu.
Untuk mengurangi rasa marah, perawat memilih untuk mengambil renungan.
Upaya untuk mengatasi
stres
10 138. 139. 140. 141. 142. 143. 144. 145. 146. 147. 148. 149. 150.
itu emang dari ibu sendiri? Iya, dari diri sendiri. Dan saya
juga kan sudah punya komitmen bahwa didalam firman Tuhan kan dikatakan, “Apa yang kamu lakukan untuk orang yang paling hina, kamu sudah melakukan untuk Aku,” itu didalam Matius 25:40. Itu pegangan hidup saya untuk melayani Tuhan, inilah wujud saya melayani Tuhan. Meskipun orang mengatakan suka dan duka banyak dukanya, tapi saya jalani dengan sukacita karena saya melayani Tuhan. Selain yang ibu rasakan, kan tadi ibu bilang jengkel ya, apa sih yang ibu pikirkan waktu
mengalami masalah-masalah itu? Ya... kembali ke
manusia itu tadi. Rasa... rasa apa ya... kita tetep merasa jengkel, marah, putus asa, bahkan sampe saya teriak-teriak.
Kita tetep merasa jengkel, marah, putus asa, bahkan
Perawat merasa jengkel dan marah serta putus asa ketika
Perasaan dan pikiran saat merawat lansia.
11 153. 154. 155. 156. 157. 158. 159. 160. 161. 162. 163. 164. 165.
tahan, lebih baik aku wek wek wek wek wek, tapi sudah. Saya nggak dendam, saya nggak emosi, dan saya wek wek wek-nya itu tetap ada bataswek-nya, bukan saya seenakwek-nya sendiri gitu, ndak. Karena saya nanti kalo setiap permasalahan saya pendam sendiri, mungkin saya nanti sakit liver. Jadi saya mending wek wek wek tapi nggak jadi beban, nggak jadi masalah dengan mereka. Kalo sudah ya sudah, selesai urusannya, seperti itu. Lebih baik saya keluarkan daripada dipendam. Terus ibu pernah nggak, kalo udah mentok banget, ibu pernah nggak kepikiran pengen nyerah dan
mau meninggalkan mereka aja? Saya sempat bilang gini,
“Dah, kalo simbah-simbah disini nggak nurut, semaunya sendiri, aku mau pergi dari sini. Terserah simbah mau
tahan, lebih baik aku wek wek wek wek wek, tapi sudah.
Saya mending wek wek wek tapi nggak jadi beban, nggak jadi masalah dengan mereka. Kalo sudah ya sudah, selesai urusannya, seperti itu. Lebih baik saya
keluarkan daripada dipendam.
perawat lebih memilih untuk melampiaskannya secara langsung.
Daripada menahan marah, perawat lebih memilih untuk melampiaskannya secara langsung.
kemarahan.
Upaya mengatasi stresmelepaskan emosi
negatif.
Cara mengekspresikan kemarahan.
Upaya mengatasi stresmelepaskan emosi
12 168. 169. 170. 171. 172. 173. 174. 175. 176. 177. 178. 179. 180.
tapi simbah masih ngeyel.” “Ya jangan, nanti kalo pergi ya aku ikut pergi,” simbah-simbahnya malah bilang gitu. Ya saya bilang, “Makanya simbah harus nurut, jangan semaunya sendiri.” Akhirnya saya menanamkan dengan mereka adanya komunikasi, adaptasi, saling terbuka. Saya tanamkan itu, kalo nggak ya semaunya sendiri. Dengan adanya kendala dan masalah-masalah itu, membuat ibu
stress nggak? Ya awalnya dengan saya marah-marah seperti
itu trus sudah. Soalnya saya prinsipnya saya menangani banyak orang, nanti kalo saya stres sendiri malah bubar. Dulu awal-awal saya sempat stres. Karena dulu ada yang mbantu, tapi bukannya meringankan malah bikin saya tambah stres, jadi beban saya. Soalnya dia tu kan harusnya
Akhirnya saya menanamkan dengan mereka adanya komunikasi, adaptasi, saling terbuka.
Perawat mengatasi permasalahan dengan cara
menerapkan komunikasi, adaptasi, dan saling terbuka.
Upaya mengatasi permasalahan dengan cara mengajak lansia untuk menyesuaikan dengan
13 183. 184. 185. 186. 187. 188. 189. 190. 191. 192. 193. 194. 195.
malem kan saya yang ngerawat mereka yang sudah ndak bisa apa-apa. Saya yang harusnya istirahat malah saya jadinya yang jaga anak. Waktu ibu stres, apa yang
biasanya ibu lakukan? Saya stres, saya jengkel ya saya di
dalam kamar. Saya seperti itu mbak, kalo saya stres jengkel ya di dalam kamar. Akhirnya saya sariawan. Saya cuma diam, tapi lama-lama kalo gini ya saya sendiri yang rugi. Akhrinya saya terus teriak-teriak itu tadi, menghilangkan kejengkelan hati saya, saya luapkan. Tapi itu bukan solusi yang baik ternyata. Tapi ya mungkin karena campur tangan Tuhan juga, Tuhan beri hikmat ke saya. Ya itu, akhirnya kalo pagi kan kita harus selalu baca renungan sebelum makan pagi. Bacaan firman Tuhan, ya melalui itu tadi saya
Saya seperti itu mbak, kalo saya stres jengkel ya di dalam kamar.
Akhrinya saya terus
teriak-teriak itu tadi, menghilangkan kejengkelan hati saya, saya luapkan.
Selalu baca renungan sebelum makan pagi.
Ketika merasa stres dan jengkel, perawat akan berdiam diri di kamar.
Perawat meluapkan kejengkelannya dengan cara
berteriak-teriak (marah).
Perawat mengajak para lansia untuk rutin membaca
Upaya mengatasi strespengendalian diri.
Cara mengekspresikan kemarahan.
Upaya mengatasi stresmelepaskan emosi
negatif.
14 198. 199. 200. 201. 202. 203. 204. 205. 206. 207. 208. 209. 210.
itu mbak, contohnya waktu itu ada nenek-nenek disini. Saya kan sudah berusaha membuat mereka nyaman, saling terbuka, tapi ada satu nenek itu nggak mau terbuka, malah sering mencuri. Waktu itu mencuri beras. Jadi ada waktu kita nyumbang beras untuk warga yang tidak mampu. Nah