BAB III METODE PENELITIAN
3.13. PELAKSANAAN PENELITIAN
Penelitian ini akan dilaksanakan dengan cara pengumpulan data kemudian mengolah dan menganalisanya. Adapun data yang diperlukan untuk penelitian ini adalah Tempat pelaksanaan pembuatan proposal dilakukan dimana penulis dapat menemukan bahan rujukan tugas akhir.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. TARIF DASAR LISTRIK
Layaknya bahan bakar minyak (BBM), tarif dasar listrik (TDL) berfluktuasi alias bisa naik dan turun. Naik turunnya tarif itu disebabkan pemerintah mulai memberlakukan tarif adjustment (penyesuaian tarif) mulai 1 Desember 2015.
Ketika Pemerintah mulai memberlakukan Tarif adjustment (penyesuaian tarif) mulai 1 Desember 2015, PT. PLN (PERSERO) juga mengeluarkan kebijakan untuk menaikkan tarif listrik golongan pengguna rumah tangga dengan daya 1.300 volt ampere (VA) dan 2.200 VA. Tarif listrik yang dikenakan dari semula Rp1.352/KWH menjadi Rp1.509/KWH atau naik sebesar 11 persen.
Kenaikan tarif listrik ini merupakan akibat dari pemberlakuan skema penyesuaian tarif (tarif adjustment) bagi dua golongan tersebut. Pemberlakuan skema ini menyebabkan golongan pengguna rumah tangga tersebut sudah tidak memperoleh subsidi dari negara. Pemberlakuan penyesuaian tarif ini dilakukan menyusul penerapan kepada 10 golongan tarif lainnya yang sudah berlakusejak 1 Januari 2015. Konsekuensinya, kinisebanyak 12 golongan tarif listrik sudah mengikuti mekanisme penyesuaian tarif. Ke-12 golongan tarif listrik tersebut adalah :
Rumah Tangga R-1/Tegangan rendah (TR)daya 1.300 VA,
Rumah Tangga R-1/TR daya2.200 VA,
Rumah Tangga R-2/TR daya 3.500 VA s.d 5.500 VA,
Rumah Tangga R-3/TR daya 6.600 VA ke atas,
Bisnis B-2/ TR daya 6.600VA s.d 200 kVA, dan
Bisnis B-3/Tegangan Menengah (TM) daya di atas 200 kVA.
Golongan lainnya adalah :
IndustriI-3/TM daya di atas 200 kVA,
Industri I-4/Tegangan Tinggi (TT)daya 30.000 kVA keatas,
Kantor Pemerintah P-1/TR daya 6.600VA s.d 200 kVA,
Kantor Pemerintah P-2/TM daya di atas 200 kVA,
Penerangan JalanUmum P-3/TR, dan
Layanan khusus TR/TM/TT.
Penyesuaian tarif yang diberlakukan kepada golongan rumah tangga ini dilakukan di tengah kondisi ekonomi yang masih melambat dan masih lemahnya daya beli masyarakat. Konsekuensi dari diberlakukannya penyesuaian tarif ini, masyarakat menengah Indonesia sebagai pelanggan listrik harus menghadapi tambahan beban pengeluaran mereka. Tulisan ini diarahkan untuk mengetahui lebih dalam mengenai alasan kenaikan tarif listrik dan dampak yang ditimbulkannya.
4.2. PENYESUAIAN TARIF DASAR LISTRIK
Penyesuaian tarif adalah mekanis memengubah dan menetapkan turun naiknya besaran tarif listrik mengikuti perubahan besarnya faktor ekonomi makro, agartarif yang dikenakan kepada konsumen mendekati Biaya Pokok Penyediaan Listrik (BPPL). Penyesuaian tarif tenaga listrik dilakukan setiap bulan apabila terjadi perubahan, baik peningkatan maupun penurunan. Salah satu dan/atau beberapa faktor yang dapat memengaruhi BPPL, yaitu:
(1) Nilai tukar mata uang dolar AS terhadapmata uang Rupiah (Kurs);
(2) IndonesianCrude Price (ICP); dan (3) Inflasi.
Alasan PT. PLN (PERSERO) mengeluarkan kebijakan kenaikan tarif listrik kepada golongan pengguna rumah tangga dengan daya 1.300 VA dan 2.200 VA disampaikan Benny Marbun, Kepala Divisi Niaga PT. PLN (PERSERO). Benny menyatakan bahwa kebijakan kenaikan ini telah sesuai dengan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 31 Tahun 2014 sebagaimana diubah dengan Peraturan Menteri ESDM Nomor 9 Tahun 2015 bahwa pelanggan listrik rumah tangga daya 1.300 VA dan 2.220 VA diberlakukan skema penyesuaian tarif mulai 1 Mei 2015. Bahkan semestinya kenaikan itu dilakukan lebih awal. Namun demikian, dengan pertimbangan pelanggan golongan tersebut sudah mengalami kenaikan tarif listrik secara bertahap sejak Juli 2014 hingga November 2014 dan untuk meringankan beban ekonomi pelanggan di kedua
golongan tersebut serta dengan mempertimbangkan lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, kenaikan harga minyak mentah dunia, dan inflasi, Pemerintah dan PT. PLN (PERSERO) menunda pelaksanaannya hingga November 2015 dan mulai memberlakukan tanggal 1 Desember2015.
Sebagai informasi tambahan, periodeJanuari-April 2015 bagi pengguna listrik golongan 1.300 VA dan 2.200 VA, PT. PLN (PERSERO) masih mendapatkan kucuran dana subsidi dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2015 sebesar Rp. 3 triliun untuk menutup potensi kerugianatas penjualan 1.300 VA dan2.200 VA.
Selebihnya bulan April-November 2015, PLN tidak lagi mendapat kucuran dana dari Pemerintah. Untuk itu, PT. PLN (PERSERO) harus mencari dana sendiri untuk menutup potensi kehilangan pendapatan mencapai Rp. 2,4 triliun.
Untuk menutup itu, PT. PLN (PERSERO) melakukan efisiensi dengan mengganti bahan bakar diesel menjadi batu bara. Untuk memutuskan penyesuaian tarif ini, PT. PLN (PERSERO) tidak memutuskan kebijakan sepihak, namun atas saran Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai acuan inflasi. Selain itu, pertimbangan juga diberikan oleh Direktorat Jenderal Migasterkait harga minyak.
Mereka menyarankan jika ingin menyesuaikan tarif sebaiknya bulan Desember.
Destry Damayanti, Ekonom, mengatakan bahwa pemberlakuan penyesuaian tarif merupakan hal positif. Dalam jangka pendek pasti ada proses suffering, tapi untuk jangka menengah dan panjang akan lebih baik. Pemerintah mengarah ke perekonomian yang lebih realistis. Pernyataan Destry merujuk pada polemik bahwa pelanggan di atas 1.300 VA yang ditengarai minimal berstatus ekonomi kelas menengah sudah tidak semestinya lagi mendapatkan subsidi tarif listrik.
Dengan begitu, upaya penyesuaian Tarif menunjukkan pemerintah telah melakukan penghematan untuk sesuatu yang produktif. Destry mengakui bahwa perekonomian nasional tengah lesu hingga berimbas pada penurunan daya beli masyarakat. Namun, ia optimistis penyesuaian tarif listrik bagi golongan yang dimaksudkan tidak akan berdampak signifikan untuk waktu lama.
4.3. DAMPAK PENYESUAIAN TARIF DASAR LISTRIK
Berlakunya penyesuaian tarif bagi pengguna listrik dengan daya 1.300 VA dan 2.200 VA, sudah tentu akan berdampak pada berkurangnya beban anggaran untuk subsidi listrik yang harus dikeluarkan pemerintah pada tahun 2016.
Pemerintah dapat mengalihkan hasil pengurangan subsidi listrik untuk menambah anggaran pembangunan infrastruktur listrik guna menambah kapasitas energi listrik. Target pembangunan kapasitas energi listrik sebesar 35 GW yang sudah direncanakan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 harus dapat dicapai dan harus dilakukan secara merata di seluruh wilayah Indonesia serta mampu memenuhi kebutuhan energy listrik, baik untuk rumah tangga maupun kebutuhan dunia industri. Sebagaimana disebut sebelumnya bahwa untuk menutup potensi kerugian, PT. PLN dengan menggunakan sumber energi batubara dapat mengefisienkan biaya produksinya.
Artinya, dalam mengembangkan energi listrik, melimpahnya potensi batubara di negeri ini harus dimanfaatkan secara maksimal.
Di samping itu, pemanfaatan gas dan energi terbarukan juga sudah harus diimplementasikan. Pemerintah juga harus dapat menjaga tingkat inflasi awal tahun 2016 yang kemungkinan terjadi peningkatan pasca kenaikan listrik. Hal ini diakibatkan karena golongan rumah tangga yang menggunakan daya 1.300 VA dan 2.200 VA diantaranya bisa jadi merupakan usaha mikro, kecil, dan menengah yang akan menaikkan harga jual produknya akibat adanya kenaikan biaya produksi yang bersumber dari peningkatan biaya penggunaan listrik. Sementara itu, dampak dari pemberlakuan penyesuaian tarif bagi PT. PLN (PERSERO) adalah berkurangnya potensi kerugian perusahaan karena tarif listrik yang dikenakan kepada pelanggan sebagian besar sudah sesuai dengan BPPL atau sudah sesuai dengan nilai keekonomiannya. Bertambahnya golongan pelanggan listrik yang menggunakan skema penyesuaian tarif, seharusnya dapat dimanfaatkan PT. PLN (PERSERO) untuk dapat meningkatkan kualitas pelayanan kepada pelanggan. PT. PLN (PERSERO) salah satunya harus dapat mengurangi terjadinya pemadaman listrik yang sering kali dialami pengguna listrik. PT. PLN (PERSERO) juga dapat meningkatkan rasio elektrifikasi sehingga semakin banyak masyarakat yang merasakan pelayanan listrik. Pihak yang paling
besar terkena dampak dari kenaikan tarif listrik pada akhir tahun 2015 ini adalah masyarakat pengguna listrik golongan daya 1.300 VA dan 2.200 VA yang merupakan masyarakat menengah. Berdasarkan data dari PT. PLN (PERSERO) menyatakan bahwa jumlah pelanggan untuk golongan tersebut sampai bulan Oktober 2015 adalah sebanyak 9.434.098 pelanggan. Masyarakat ini akan terbebani biaya penggunaan listrik dan kenaikan barang konsumsi akibat kenaikan biaya produksi yang berasal dari komponen biaya penggunaan listrik. Terkait dengan kepentingan UMK Mini, Thomas Darmawan, Ketua Komite UKM bidang Industri Makanan dan Minuman Kadin Indonesia, menyatakan bahwa tidak dapat dipungkiri, kenaikan tarif listrik untuk pelanggan 1.300 VA dan 2.200 VA sedikit banyak dapat membebani pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
Sekecil apapun kenaikan tarif listrik, tetap berpengaruh terhadap UMKM. Bukan tidak mungkin mereka akan menghitung ulang harga jual barang dagangannya.
Thomas menambahkan bahwa pencabutan subsidi ini dimaksudkan agar masyarakat dan pelaku usaha menghemat listrik. Namun demikian, pencabutan subsidi ini justru berpotensi kontra produktif terhadap kegiatan ekonomi UMKM, apalagi jika pemerintah tidak memberikan kompensasi. Sebetulnya pemerintah masih memberikan subsidi listrik untuk golongan pengguna industri dan bisnis kecil. Namun, untuk menjadi pengguna listrik golongan ini dengan syarat, minimal mereka harus melampirkan surat izin usaha. Sementara itu, banyak UMKM yang memulai usahanya dengan modal sendiri dalam kapasitas rumah tangga dan mampu menghidupi keluarga bahkan mampu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitarnya, tetapi belum memiliki izin usaha. UMK Mini sebagian masih menjadi pengguna listrik golongan rumah tangga dengan daya 1.300 VA dan 2.200 VA. Artinya bahwa UMK Mini akan terbebani dengan adanya kenaikan listrik ini. Kemungkinannya mereka akan menaikkan harga barang produksinya atau mengurangi biaya produksi dengan mengurangi pegawai.
Untuk menjaga kestabilan UMKM ini, maka pemerintah harus jemput bola untuk melakukan verifikasi pengguna listrik ini agar dapat memperoleh insentif untuk mengembangkan usahanya melalui subsidi listrik. Pemerintahdan PLN harus mengeluarkan kebijakanuntuk memudahkan UMKM yang belum memiliki izin usaha untuk bermigrasi kedalam golongan industri atau bisnis yang masih
bersubsidi. Disamping itu, dari hasil verifikasi, pemerintah dapat mengeluarkan izin usaha tanpa biaya. Sebelum pemerintah memutuskan untuk menaikkan tarif listrik, Tulus Abadi, Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), mengatakan formula tarif otomatis yang telah ditetapkan pemerintah bersama PTPLN (Persero) dan dibelakukan per 1 Desember2015 memberatkan masyarakat. Tarif otomatis listrik melanggar konstitusi karena menyerahkan tarif listrik pada mekanisme pasar, tanpa campur tangan negara.
Listrik merupakan kebutuhan dasar yang seharusnya diatur oleh negara dan pemerintah. Tidak seharusnya tarif listri diserahkan kepada mekanisme pasar tanpa ada intervensi dari negara. Permasalahan terkait tarif listrik adalah pasokan energy primer yang kurang akibat kesalahan pengelolaan. Karena itu, tidak tepat bila hal itu kemudian dibebankan kepada masyarakat sebagai konsumen dengan menanggung tarif otomatis. Selain itu, kenaikan tarif yang berlaku mulai Desember 2015 juga tidak tepat waktunya karena dayabeli masyarakat masih rendah. Kenaikantarif itu akan memukul daya beli masyarakat.Untuk itu, guna menjaga transparansi dan akuntabilitas, BPK harus secara regular mengaudit tarif otomatis ini. Pendapat YLKI ini harus menjadi perhatian PT. PLN (PERSERO) untuk dapat memperbaiki tata kelola penyediaan listrik agar efektivitas dan efesiensi. Ini menjadi penting karena PT. PLN (PERSERO) adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan satu-satunya perusahaan yang melakukan pengelolaan energi listrik. Selain penguasa tunggal penyediaan energi listrik yang diamanatkan oleh negara, PT. PLN (PERSERO) pun memperoleh anggaran Penyertaan Modal Negara (PMN) dari APBN yang merupakan uang rakyat Indonesia. PT. PLN (PERSERO) juga memperoleh dana langsung dari masyarakat yang membayar jasa penyediaan listrik ini. Oleh karena itu, sangat wajar apabila masyarakat mengharapkan PT. PLN harus dapat memberikan pelayanan terbaiknya karena masyarakat dan negara telah membiayai biaya operasional PT. PLN untuk menghasilkan listrik sesuai dengan BPPL.
Alasan kenaikan tarif untuk golongan rumah tangga pengguna listrik dengan daya 1.300 VA dan 2.200 VA adalah sebagai konsekuensi pemberlakuan skema penyesuaian tarif yang berarti sudah dihapuskannya subsidi. Dampak dari penyesuaian tarif ini adalah beban anggaran subsidi pemerintah untuk listrik
menjadi berkurang dan PT. PLN (PERSERO) terlepas dari potensi kerugian.
Sayangnya, penyesuaian tarif ini dapat mengakibatkan daya beli dan konsumsi masyarakat menurun. Pemerintah harus segera merealisasikan rencana mengembangkan kapasitas energi yang memanfaatkan energi batu bara, gas bumi, dan energi terbarukan. Pemerintah juga harus dapat mengantisipasi potensi peningkatan tingkat inflasi pada awal tahun 2016. Selain itu, PT. PLN (PERSERO) harus memperbaiki tata kelola penyediaan listrik guna meningkatkan kualitas pelayanan dan meningkatkan rasio elektrifikasi. Melalui fungsi pengawasannya, DPR perlu memastikan pengalokasian anggaran dari pengurangan subsidi listrik ini untuk pembangunan infrastruktur listrik dan memastikan PT. PLN (PERSERO) sebagai BUMN penyedia listrik terus memperbaiki tata kelola penyediaan listrik sehingga seluruh masyarakat dapat merasakan tarif listrik yang sewajarnya.
Adanya perubahan tarif ini dipengaruhi tiga indikator, yakni tingkat inflasi yang rendah, harga minyak dan nilai tukar rupiah, seperti yang tertuang Peraturan Menteri (Permen) Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 31/2014 yang telah diubah dengan Permen ESDM No 09/2015.
4.4. PENGARUH KEBIJAKAN MONETER DAN FISKAL
Adanya hubungan timbal balik antara kebijakan moneter dan fiskal dengan bisnis karena kebijakan moneter dan fiskal oleh pemerintah akan berpengaruh terhadap bisnis, dan sebaliknya bisnis juga dapat mempengaruhi kebijakan moneter dan fiskal yang akan diambil oleh pemerintah. Dalam pembahasan paper ini selanjutnya akan dibahas dampak kebijakan fiskal dan moneter terhadap industri ketenagalistrikan di Indonesia, khususnya terhadap PT. PLN (PERSERO) mengenai penetapan Tarif Dasar Listrik.
4.4.1. Kebijakan Moneter
Kebijakan moneter adalah kebijakan pengendalian besaran moneter seperti:
Jumlah uang beredar,
Tingkat bunga,
dan kredit yang dilakukan oleh bank sentral.
Misalkan terjadi situasi inflasi disertai dengan rendahnya output, maka kebijakan moneter yang diambil yaitu penurunan atau pengurangan jumlah tersebut akan mengakibatkan penurunan pengeluaran konsumsi dan investasi agregatif yang selanjutnya mengakibatkan penurunan inflasi, walaupun tidak bisa menaikkan tingkat produksi nasional serta kesempatan kerja.
Kebijakan moneter akan menaikkan atau menambah jumlah uang beredar selama perekonomian mengalami resesi untuk merangsang pengeluaran, dan sebaliknya membatasi dan mengurangi supplai uang selama masa-masa inflasi untuk mengerem pengeluaran. Kebijakan Moneter Ekspansif adalah suatu kebijakan dalam rangka menambah jumlah uang yang beredar. Kebijakan Moneter Kontraktif adalah suatu kebijakan dalam rangka mengurangi jumlah uang yang beredar. Disebut juga dengan kebijakan uang ketat.
Kebijakan moneter dapat dilakukan dengan menjalankan instrumen kebijakan moneter, yaitu antara lain :
1. Operasi Pasar Terbuka
Operasi pasar terbuka adalah cara mengendalikan uang yang beredar dengan menjual atau membeli surat berharga pemerintah (government securities). Jika ingin menambah jumlah uang beredar, pemerintah akan membeli surat berharga pemerintah. Namun, bila ingin jumlah uang yang beredar berkurang, maka pemerintah akan menjual surat berharga pemerintah kepada masyarakat. Surat berharga pemerintah antara lain diantaranya adalah SBI atau singkatan dari Sertifikat Bank Indonesia dan SBPU atau singkatan atas Surat Berharga Pasar Uang.
2. Fasilitas Diskonto
Fasilitas diskonto adalah pengaturan jumlah uang yang beredar dengan memainkan tingkat bunga bank sentral pada bank umum. Bank umum
kadang-kadang mengalami kekurangan uang sehingga harus meminjam ke bank sentral. Untuk membuat jumlah uang bertambah, pemerintah menurunkan tingkat bunga bank sentral, serta sebaliknya menaikkan tingkat bunga demi membuat uang yang beredar berkurang.
3. Rasio Cadangan Wajib
Rasio cadangan wajib adalah mengatur jumlah uang yang beredar dengan memainkan jumlah dana cadangan perbankan yang harus disimpan pada pemerintah. Untuk menambah jumlah uang, pemerintah menurunkan rasio cadangan wajib. Untuk menurunkan jumlah uang beredar, pemerintah menaikkan rasio.
4. Himbauan Moral
Himbauan moral adalah kebijakan moneter untuk mengatur jumlah uang beredar dengan jalan memberi imbauan kepada pelaku ekonomi.
Contohnya seperti menghimbau perbankan pemberi kredit untuk berhati-hati dalam mengeluarkan kredit untuk mengurangi jumlah uang beredar dan menghimbau agar bank meminjam uang lebih ke bank sentral untuk memperbanyak jumlah uang beredar pada perekonomian.
5. Kebijakan Fiskal
Kebijakan Fiskal, merupakan kebijakan yang dilakukan pemerintah untuk mengendalikan perekonomian dengan mengubah - ubah anggaran penerimaan dan pengeluaran pemerintah.
Menurut Farid Wijaya, Kebijakan Fiskal memiliki tujuan agar APBN seimbang. Hal ini dicapai dengan merubah besarnya pajak dan / atau pengeluaran pemerintah dengan tujuan menstabilkan harga serta tingkat output maupun kesempatan kerja dan memacu atau mendorong pertumbuhan ekonomi. Pemerintah melalui kebijakan fiskal, yaitu melalui perubahan pajak dan pengeluarannya, dapat mempengaruhi tingkat kegiatan ekonomi yang diukur dengan Produk Domestik Bruto (PDB), distribusi pendapatan, dan sebagainya. Kebijakan fiskal dalam upaya untuk mencapai tingkat pendapatan atau output kesempatan kerja penuh, serta stabilisasi tingkat harga (inflasi).
Kebijakan fiskal memiliki dampak:
1. Kebijakan APBN surplus mempunyai impak deflasioner, 2. Kebijakan APBN defisit memiliki impak ekspansioner, dan 3. Kebijakan APBN seimbang mempunyai impact ekonomis yang ekspansioner dan terkendali
Kebijakan APBN seimbang mempunyai impak ekonomis yang ekspansioner dan terkendali. Macam-macam Kebijakan Fiskal adalah :
1. Functional finance :
Stabilisasi anggaran yang otomatis, apabila model ini gagal, maka pemerintah dapat meningkatkan pengeluarannya seperti dengan menaikkan gaji PNS atau subsidi.
6. Kebijakan Moneter BI
Sesuai Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia, bulan Desember 2014, Kebijakan Moneter yang diambil oleh Bank Indonesia yaitu:
Mempertahankan BI Rate sebesar 7,75%, dengan suku bunga Lending Facility dan suku bunga Deposit Facility masing-masing tetap pada level 8% dan 5,75%.
Tingkat suku bunga tersebut untuk memastika tekanan inflasi jangka pendek pasca kebijakan realokasi subsidi BBM, selain itu diharapkan untuk mengendalikan deficit transaksi berjalan kea rah yang lebih sehat.
Memperkuat bauran kebijakan dalam merespond kebijakan reformasi subsidi BBM yang ditempuh Pemerintah sebagai berikut:
1. Mempersiapkan penyesuaian kebijakan makroprudensial guna memperluas sumber-sumber pendanaan bagi perankan sekaligus mendukung pendalaman pasar keuangan serta mendorong
penyaluran kredit ke sektor produktif yang prioritas. Kebijakan meliputi : (i) Perluasan cakupan definisi simpanan dengan memasukkan surat-surat berharga yang diterbitkan bank dalam perhitungan LDR, dan (ii) Pemberian insentif untuk mendorong penyaluran kredit UMKM.
2. Memperkuat kebijakan system pembayaran penyaluran program-program bantuan pemerintah kepada masyarakat guna mengurangi dampak kenaikan BBM melalui penggunaan uang elektronik dan implementasi Layanan Keuangan Digital.
Mendukung kebijakan reformasi fiskal pemerintah untuk realokasi anggaran subsidi BBM ke sektor yang produktif.
Realokasi anggaran subsidi ke pengeluaran untuk pembiayaan pembangunan infrastruktur dan berbagai kegiatan produktif akan meningkatkan kapasitas fiskal pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berkelanjutan.
4.4.2. Kebijakan Fiskal Pemerintah
Kebijakan fiskal yang dikeluarkan oleh pemerintah terkait dengan industri ketenagalistrikan, di antaranya adalah:
Pembebasan Bea Masuk atas Impor Barang Modal Pembangunan dan Pengembangan Industri Pembangkit Tenaga Listrik
Dalam upaya menunjang perkembangan usaha penyediaan tenaga listrik yang berkelanjutan, pemerintah memberikan insentif berupa pemberian bea masuk barang modal untuk pembangunan pembangkit listrik untuk kepentingan umum melalui PERMEN Keuangan nomor 154/PMK.011/2008 tentang Pembebasan Atas Impor Barang Modal Dalam Rangka Pembangunan dan Pengembangan Industri Pembangkit Tenaga Listrik untuk Kepentingan Umum dan dirubah melalui PERMEN Keuangan nomor 128/PMK.011/2009. Insentif tersebut diberikan kepada PT. PLN (PERSERO) (Persero) dan Pemegang IUKI Terintegrasi yang memiliki daerah usaha serta Pemegang IUKU usaha pembangkitan yang memiliki
kontrak jual beli dengan PT. PLN (PERSERO) (Persero) maupun Pemegang IUKU Terintegrasi yang memiliki daerah usaha.
Kebijakan pemanfaatan energi primer untuk pembangkit tenaga listrik Pemberlakuan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) untuk pemanfaatan energi primer bagi pembangkit listrik ditujukan agar pasokan energi primer dapat terjamin. Kebijakan pengamanan pasokan energi primer tersebut dilakukan melalui dua sisi. Sisi pelaku usaha penyedia energi primer, khususnyabatubara dan gas, diberikan kesempatan untuk memasok kebutuhan energi primer bagi pembangkit tenaga listrik sesuaidengan harga keekonomian. Sedangkan sisi pelaku usahapembangkit - tenaga listrik diantaranya kebijakan diversivikasi energi untuk tidak tergantung pada satu sumberenergi, khususnya energi fosil.
Penyesuaian Tarif Tenaga Listrik yang disediakan oleh PT. PLN (PERSERO) (Persero).
Pemerintah melakukan beberapa kali penyesuaian Tarif Tenaga Listrik (TTL2) pada tahun 2014, melalui Peraturan Menteri ESDM nomor 09Tahun 2014 tentang Tarif Tenaga Listrik yang disediakan oleh PT. PLN (PERSERO) (Persero) dan perubahannya pada PERMEN ESDM nomor 19 Tahun 2014. Melalui PERMEN ESDM no 31 Tahun 2014 pemerintah juga menetapkanperubahan mekanisme tarif adjustment bagi 12 golongan tarif yang beradasarkan TTL2013 dan 2014 tidak lagi mendapatkan subsidi listrik. Mulai tahun 2015,Tarif Tenaga Listrik akan disesuaikan setiap bulan oleh PT. PLN (PERSERO) sesuai dengan perubahan komponen inflasi, kurs (nilai tukar mata uang Dollar Amerika terhadap mata uang Rupiah), dan harga minyak mentah/IndonesianCrude Price. Penetapan mekanismetarif adjustment sebagaimana di atasbertujuan untuk meningkatkan rasio elektrifikasi dan mendorongsubsidiyang lebihtepat sasaran. Diharapkan potensi penerapan kebijakan tersebut akan menghemat subsidi energi sebesar Rp 8,4 triliun.
Realokasi anggaran subsidi energi, termasuk di dalamnya subsidi Listrik, ke sektor yang produktif.
Subsidi listrik diberikan oleh pemerintah dengan tujuan agar harga jual listrik dapat dijangkau oleh pelanggan dengan golongan tarif tertentu (Golongan 450-900 VA). Subsidi listrik dialokasikan karena rata-rata harga jual tenaga listrik lebih rendah dibandingkan biaya pokok penyediaan tenaga listrik pada golongan tarif tersebut. Dari tahun ke tahun realisasi subidi listrik semakin meningkat, dari subsidi single digit pada periode 2005 dan sebelumnya hingga melebihi Rp 90 Triliun pada 2011 atau meningkat sebesar 24 kali (gambar 3). Rasbin memaparkan bahwa makin meningkatnya subsidi energi membuat pemerintah tidak leluasa dalam mengimplementasikan program – program prioritasnya. Diantaranya program pembangunan infrastruktur pendidikan, kesehatan, dan program penurunan tingkat kemiskinan.
Transformasi Perhitungan Subsidi Listrik dari Skema Cost + Margin menjadi Performance Based Regulatory (PBR)
Mulai tahun 2015, skema perhitungan subsidi listrik dirubah dari sebelumnya menggunakan “Biaya Pokok Penyediaan + Margin” menjadi Performance Based Regulation (PBR). Skema PBR di latar belakangi oleh alasan adanya paradox efficiency dalam skema subsidi “cost + margin”.
Melalui skema tersebut, PLN tidak akan mendapatkan insentif apabila
Melalui skema tersebut, PLN tidak akan mendapatkan insentif apabila