• Tidak ada hasil yang ditemukan

Secara garis besar proses atau tahapan pengembangan SDM (seperti teori yang telah Penulis kemukakan pada bab sebelumnya) sudah tidak perlu lagi dilakukan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Surakarta, terkait dengan kegiatan bintek operator e-KTP.

Pelaksanaan pelayanan e-KTP merupakan program yang berasal dari pemerintah pusat melalui Kemendagri. Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Surakarta dalam kebijakan ini hanya berperan

sebagai ketua tim pokja kabupaten/kota. Untuk menyukseskan kebijakan ini, Kemendagri melakukan kontrak dengan konsorsium PNRI.

Salah satu isi dari kontrak tersebut, selain mengenai penerbitan e-KTP, adalah perlunya dilakukan bintek terhadap calon operator e-KTP.Hal ini mengingat teknologi yang digunakan terbilang baru bagi petugas pelayanan KTP yang lama. Berdasarkan hal tersebut, dinas mau tidak mau harus melaksanakan kegiatan bintek bagi calon operator e-KTP sesuai dengan SOP yang telah dibuat.

Tahapan program pelatihan dan pengembangan SDM (secara teoritis) sebagian besar telah diaplikasikan dalam manajemen bimbingan teknis yang diatur dalam SOP. Hanya saja tahapannya lebih fleksibel, menyesuaikan dengan kebutuhan riil di lapangan.Sehingga seluruh tahapan tersebut sudah dilakukan, namun tidak runtut seperti yang tertulis dalam tinjauan teori.

a. Analisis kebutuhan pembinaan teknis

Terdapat 3 jenis analisis pada tahapan ini yakni: analisis organisasi, analisis pekerjaan, dan analisis pribadi. Melalui ketiga jenis analisis tersebut diharapkan akan keluar status kemampuan atau yang lebih tepat dikatakan kinerja pada karyawan. Selanjutnya hasil analisis tersebut akandijadikan dasar penyelenggaraan bintek. Seperti dijadikan pertimbangan dalam penyusunan materi, biaya, alat-alat, dan perlengkapan teknis maupun administratif.

commit to user

Apabila disesuaikan dengan bagan alir manajemen bintek dalam SOP, tahapan ini merupakan persiapan bintek, dimana di dalamnya termuat kegiatan mempersiapkan segala kebutuhan terkait dengan bimbingan teknis.Menurut kondisi riil di lapangan, pada tahapan ini Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil mulai menentukan personel-personel, baik PNS maupun non-PNS, yang berkompeten untuk menjadi operator pelayanan e-KTP.

“sesuai dengan yang diamanatkan dalam SOP, kita mengoptimalkan terlebih dulu memberdayakan staf yang ada di dinas. Kemudian dari dinas itu dilihat latar belakang pendidikannya, track record ke belakang, komunikatif atau tidak, serta paling tidak mengerti dasar-dasar IT…”

(wawancara dengan Drs. Ing Ramto pada 4 September 2013) Pernyataan Drs. Ing Ramto di atas menjelaskan mengenai kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh para calon operator e-KTP yang berasal dari Pegawai Negeri Sipil, baik yang ada di dinas ataupun yang ada di kecamatan dan kelurahan. Sementara Subandi, SH., MH.

menyampaikan lebih spesifik bahwa calon operator e-KTP yang ditunjuk yang berasal dari PNS merupakan pejabat struktural yang memiliki tupoksi pemerintahan.

“Para pejabat struktural yang ditunjuk menjadi operator e-KTP di dinas dan kelurahan, kecamatan adalah yang khusus menangani bidang administrasi kependudukan. Jadi kalau di kelurahan ya Kasi Tapem Kelurahan, kalau di kecamatan ya Kasi tapem Kecamatan, kalau di Disdukcapil ya Bidang Pendaftaran Penduduk.” (wawancara dengan Subandi, SH.,MH pada 17 September 2013)

Kedua pernyataan di atas didukung oleh adanya Peraturan Walikota Surakarta Nomor 27 Tahun 2012 tentang Pedoman Uraian Tugas

Jabatan Struktural pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Di dalamnya dijelaskan bahwa tugas Bidang Pendaftaran Penduduk adalah melaksanakan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan di bidang identitas penduduk, perpindahan dan pendataan penduduk rentan. Sementara fungsi-fungsinya dapat dilihat pada lampiran.

Sementara untuk operator e-KTP yang bukan PNS, menurut Subandi, SH.,MH, diadakan dari outsourcing yang bekerjasama dengan pihak ketiga yakni CV Richa Bhumi Perkasa. Kualifikasinya antara lain memiliki latar belakang pendidikan di bidang komputer dengan jenjang pendidikan minimal D3 dan juga lulus dalam uji kompetensi yang dilakukan pihak Disdukcapil.

commit to user

“…untuk non-PNS dia harus punya kompetensi bidang komputer yang dibuktikan dengan ijazah. Ketika sebelum dia kita terima, kita ada uji kompetensi dulu. Disini ada SIAK, dia kita suruh mengoperasionalkan SIAK yang kita miliki. Dari situ kita sudah bisa memberikan judgement, o ini mampu o ini tidak. Kemudian selain kompetensi, mereka juga harus punya komitmen terkait dengan pelayanan publik, karena nantinya mereka akan berhubungan sama masyarakat yang udah nunggu antre berjam-jam, jadi kalau pelayanannya gak baik justru bisa menimbulkan problem.” (wawancara dengan Subandi, SH.,MH pada 17 September 2013)

Dokumen dalam bentuk hardfile ataupun softfile yang mampu menunjang pernyataan di atas tidak ditemukan penulis, namun salah satu peserta bintek yang berasal dari non-PNS memberikan pernyataan serupa.

“dulu saya dapet infonya dari temen mbak, karena persyaratannya kayaknya pas sama saya, saya coba masukin lamaran. Trus gak lama saya dapet panggilan wawancara sekaligus uji kompetensi SIAK itu tadi.” (wawancara dengan Retno Anggraeni tanggal 30 Desember 2013)

Setelah didapatkan nama-nama calon operator e-KTP, baik PNS ataupun non-PNS, selanjutnya Dinas membuat undangan pemanggilan untuk mengikuti kegiatan bimbingan teknis.

b. Perumusan Tujuan

Tujuan pendidikan dan pelatihan pada hakikatnya ialah perumusan kemampuan yang diharapkan dari diklat tersebut. Tujuan pendidikan dan pelatihan ini adalah perubahan perilaku (kemampuan), maka tujuan diklat dirumuskan dalam bentuk perilaku. Misalnya, setelah mengikuti pelatihan ini diharapkan peserta dapat melakukan pencatatan dan pelaporan secara benar. Dasar untuk menyusun tujuan

diklat ini adalah hasil dari analisis kebutuhan pelatihan yang telah dilakukan.

Bintek ini diharapkan nantinya ada peningkatan kemampuan dan keterampilan dari operator e-KTP mengenai mekanisme penerbitan e-KTP, terutama dalam mengoperasionalkan perangkat-perangkat penerbitan e-KTP. Kemampuan dan keterampilan tersebut antara lain:

1) Mengerti mekanisme pelaksanaan penerbitan KTP Elektronik;

2) Mampu mengidentifikasi, merakit (setting) dan mengerti cara pemeliharaan perangkat KTP Elektronik dan jaringan komunikasi data;

3) Mampu melakukan proses verifikasi, validasi, dan update biodata penduduk;

4) Mampu melakukan proses perekaman pas photo, tanda tangan, sidik jari dan iris penduduk serta menyimpan ke dalam database di tempat pelayanan;

5) Mampu melakukan proses koneksitas dan pengiriman data melalui Jaringan komunikasi data dari tempat-tempat pelayanan KTP elektronik ke Pusat Data Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri;

6) Mampu melakukan back up database kependudukan di tempat pelayanan KTP Elektronik.

commit to user

7) Mampu melakukan verifikasi sidik jari tangan penduduk melalui pemadanan 1 : 1

c. Pengembangan kurikulum

Tujuan-tujuan diklat yang telah dirumuskan tadi kemudian dapat diketahui kemampuan-kemampuan apa yang harus diberikan dalam diklat. Selanjutnya diidentifikasi materi-materi atau bahan-bahan pelajaran yang akan diberikan dalam pendidikan atau pelatihan.

Dengan kata lain materi-materi apa yang dapat mengembangkan atau meningkatkan kemampuan para peserta diklat.Selanjutnya dilakukan identifikasi waktu yang diperlukan untuk tiap-tiap materi atau topik/subtopik yang lebih terinci. Setelah itu ditentukan metode belajar mengajar yang bagaimana yang akan dipakai, serta alat bantu belajar mengajar yang diperlukan dalam diklat tersebut. Proses ini disebut pengembangan kurikulum.

Setelah diketahui kemampuan dan keterampilan seperti apa yang diharapkan dari pelaksanaan bintek, kemudian Dinas bersama dengan Pihak Penyedia menyusun materi-materi yang mendukung pencapaian tujuan di atas. Materi-materi tersebut antara lain:

1) SOP (Standar Operasional Prosedur) Pelayanan e-KTP; karena hanya berupa teori dan penjelasannya maka penyampaian materi SOP dilakukan dengan presentasi oleh narasumber. Alat bantu yang digunakan juga hanya seperangkat projector berikut white-screen, laptop, serta modul bagi peserta.

2) Materi Umum TI, seperti: penginstalan dan pemasangan perangkat, penatausahaan perangkat, serta bagaimana mengoperasionalkan perangkat penerbitan e-KTP. Perangkat yang dimaksud terdiri dari perangkat keras, perangkat lunak, dan perangkat bergerak. Materi yang disampaikan ini lebih bersifat teknis, maka metode pengajaran yang digunakan dalam penyampaian materi tentunya lebih banyak ke praktek, dengan alat bantu mengajar perangkat-perangkat yang telah dimaksud di atas.

3) Tata Cara Verifikasi, Validasi dan Update Data penduduk; proses verifikasi merupakan proses penyesuaian setiap elemen biodata kepada penduduk yang bersangkutan. Setelah sesuai, kemudian dilakukan perekaman pas photo, tanda tangan, sidik jari dan iris penduduk. Jika semua proses perekaman telah dilakukan, kemudian operator meminta penduduk melakukan pengesahan hasil verifikasi data, perekaman pasphoto, tanda tangan, sidik jari dan iris penduduk dengan cara membubuhkan tanda tangan secara elektronik pada alat yang disediakan sebagai bukti persetujuan terhadap kebenaran data penduduk yang bersangkutan.

Penyampaian materi di atas dilakukan dengan presentasi menggunakan media audio visual. Jadi peserta melihat keseluruhan proses pelayanan tadi melalui video untuk kemudian dipraktekkan dalam sesi simulasi pelayanan e-KTP.

4) Simulasi Pelayanan e-KTP

commit to user d. Persiapan pelaksanaan

Sebelum pendidikan dan pelatihan dilaksanakan, terlebih dahulu dilakukan persiapan, yang pada umumnya mencakup kegiatan-kegiatan administrasi, antara lain:

1) Menyusun silabus dan jadwal diklat (penjabaran kurikulum ke dalam kegiatan pembelajaran)

2) Pemanggilan dan seleksi peserta 3) Menghubungi para pengajar

4) Penyusunan materi diklat serta penyediaan bahan-bahan referensi 5) Penyiapan tempat, akomodasi peserta, dan sebagainya

Apabila disesuaikan dengan alir manajemen bimbingan teknis dalam SOP, mulai dari tahapan konfirmasi kesiapan pengiriman perangkat penerbitan KTP elektronik sampai dengan penyiapan dokumen kelengkapan bintek dapat digolongkan ke dalam tahap persiapan ini. Begitu juga dengan kenyataan yang terjadi di lapangan.Kegiatan di atas senada dengan yang disampaikan oleh Subandi, SH.,MH. mengenai kegiatan apa saja yang dilakukan untuk persiapan pelaksanaan Bintek.

“kalau persiapannya mesti ya kita melakukan inventarisasi kebutuhan, kita ngirim surat pada camat dan lurah mengenai permohonan daftar nama peserta untuk bintek dengan kualifikasi tertentu, kemudian kita menyusun jadwal, materi, tempat.” (wawancara pada tanggal 17 September 2013)

Sebelum bintek dilaksanakan, beberapa hal perlu dipersiapkan sebaik-baiknya oleh penyelenggara, diantaranya: inventarisasi nama-nama

peserta bintek, membuat undangan bagi peserta dan pelatih, menyusun jadwal dan materi, mempersiapkan tempat pelaksanaan bintek, menyetting perangkat peralatan penerbitan e-KTP, dan lain sebagainya. Surat permohonan daftar nama peserta beserta surat undangannya dapat dilihat pada lampiran.

commit to user e. Pelaksanaan

Pelaksanaan bimbingan teknis dipisahkan antara peserta yang berasal dari pejabat struktural (PNS) dengan peserta yang berasal dari outsourcing (non-PNS).

“bintek untuk non-PNSnya lain, yang PNS dulu. Jadi pelaksanaan binteknya terpisah. Karena non PNS kan tidak melayani langsung, yang berhadapan langsung itu kita (PNS).

Non PNS hanya ditempatkan sebagai bantuan IT dan tulis menulis saja.” (wawancara dengan Drs. Ing Ramtotanggal 4 September 2013)

Alasan dipisahkannya bintek dengan peserta PNS dengan peserta non PNS adalah karena porsi tugas yang berbeda nantinya di lapangan.

PNS yang memiliki tugas pokok untuk melakukan pelayanan pada masyarakat, sedangkan non PNS hanya berperan sebagai tenaga pendukung PNS. Namun meskipun begitu, materi yang diberikan tetap sama hanya berbeda dari segi kedalaman penekanan materi.

“di awal, operator yang kita bintek yang pertama para pejabat struktural di dinas dan kelurahan, kecamatan yang khusus menangani bidang administrasi kependudukan.Jadi kalau di kelurahan ya Kasi Tapem Kelurahan, kalau di kecamatan ya Kasi tapem Kecamatan, kalau di Disdukcapil ya Bidang Pendaftaran Penduduk. Bintek yang pertama ini kita dibintek oleh konsorsium PNRI…” (wawancara dengan Subandi, SH.,MH tanggal 17 September 2013)

Penulis menyimpulkan dari hasil wawancara di atas serta Surat Pertanggungjawaban yang Penulis dapatkan diketahui bahwa kegiatan bimbingan teknis yang pertama diselenggarakan oleh konsorsium PNRI, dengan PT. Sucofindo yang ditunjuk sebagai Pelaksana Pekerjaan Pendampingan dan Bimbingan Teknis (Bintek) Operator

e-KTP dari Kementerian dalam Negeri Republik Indonesia. Bintek dilaksanakan selama 2 hari, yakni pada hari Sabtu dan Minggu tanggal 30-31 Juli 2011 di Hotel Indah Palace Solo.

commit to user Tabel IV. 3

Daftar Nama Peserta Bintek yang Diselenggarakan oleh PT.Sucofindo

Sumber: Nota Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil

Kegiatan ini melibatkan 22 orang peserta, yang terdiri dari 20 utusan dari 5 kecamatan di Surakarta dan 2 orang utusan dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Para peserta di atas tentunya

merupakan pejabat struktural yang memiliki tupoksi di bidang tata pemerintahan khususnya yang menangani bidang administrasi kependudukan.

“…. kemudian setelah itu semua dibintek, kita melakukan bintek lanjutan kepada para operator kelurahan/kecamatan, para PNS itu kita bintek sendiri.” (wawancara dengan Subandi, SH.,MH tanggal 17 September 2013)

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan bintek di atas, kemudian dilaksanakan bintek tahap I oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil bagi calon operator e-KTP yang belum ikut dalam bintek sebelumnya. Kegiatan bintek tahap I ini dilaksanakan dalam waktu 2 hari, terhitung tanggal 22-23 Agustus 2011 di Ruang Rapat Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Surakarta.

commit to user Tabel IV. 4

Jumlah Peserta Bintek Tahap I yang Diselenggarakan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil

No Operator Dinas / Kecamatan Jumlah

1 Kecamatan Laweyan 10 orang

2 Kecamatan Serengan 4 orang

3 Kecamatan Pasarkliwon 8 orang

4 Kecamatan Jebres 14 orang

5 Kecamatan Banjarsari 18 orang

6 Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil

15 orang

Sumber: Nota Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil

Kegiatan bintek tahap I ini diikuti peserta yang berjumlah 69 orang, dengan rincian jumlah seperti di atas. Bintek dibuka oleh Walikota Surakarta yang diwakili oleh Asisten Pemerintahan Sekda Kota Surakarta, Ponco Wibowo, SH. S.Pn dan dihadiri oleh 5 orang Pendamping Teknis dari PT. Sucofindo selaku Pelaksana Pekerjaan Pendampingan dan Bimbingan Teknis (Bintek) Operator KTP.Materinya dimulai dari penjelasan mengenai SOP Pelayanan e-KTP, materi umum TI, kemudian praktek melakukan rekam sidik jari, foto KTP dan iris mata.Terakhir melakukan simulasi pelayanan e-KTP.Narasumber yang dipilih merupakan pejabat struktural dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Surakarta.

Tabel IV. 5

Materi Bintek Tahap I yang Diselenggarakan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil

No Materi Nara Sumber

Praktek Rekam Sidik Jari, Foto e-KTP dan Iris Mata

Sumber: Nota Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil

Berdasarkan evaluasi atas kegiatan Bintek Operator e-KTP tahap I di atas, dapat disimpulkan bahwa:

1) Peserta Bintek / Calon Operator e-KTP dapat memahami Standar Operasional Prosedur (SOP) Pelayanan e-KTP, teori dan aplikasi alat TI e-KTP dan mampu mengoperasionalkan TI e-KTP.

2) Calon operator e-KTP dinyatakan telah mampu melaksanakan operator e-KTP pada titik pelayanan e-KTP baik di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Surakarta maupun di

commit to user

Selanjutnya, kegiatan bintek tahap II yang masih diselenggarakan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil ditujukan bagi calon operator e-KTP yang berasal dari pihak ketiga atau outsourcing.

“… berikutnya adalah kita membintek operator yang non-PNS, yang 54 orang itu. Itu kita lakukan bintek bagaimana SOP tentang perekaman e-KTP.Perekaman e-KTP itu ada hal yang boleh dilakukan, ada yang tidak boleh dilakukan.Misalkan yang tidak boleh dilakukan operator adalah dia merubah data tanpa dokumen.Misalkan orang dari belum kawin menjadi kawin, dari cerai menjadi kawin.Yang boleh dilakukan operator misalkan terkait dengan alamat, yang RTnya salah misalnya.Kemudian yang kedua bagaimana standar operasional untuk penggunaan alat ITnya, teknik perekaman sidik jari, iris mata dan sebagainya.Sehingga ada yang teknis, ada yang non teknis.”(wawancara dengan Subandi, SH.,MH tanggal 17 September 2013)

Bintek dilaksanakan mulai tanggal 19 hingga 20 September 2011 di Ruang Rapat Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Surakarta.Bintek tahap II ini diikuti oleh 54 orang peserta yang sebelumnya telah dinyatakan lolos kualifikasi dan seleksi sebagai calon operator e-KTP.

commit to user Tabel IV. 6

Daftar Nama Peserta Bintek Tahap II yang Diselenggarakan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil

No NAMA OPERATOR TEMPAT PENUGASAN

1 Yohanes Iwan Perdana Kec. Laweyan

2 Fery Kurniawan Kec. Laweyan

3 Nur’aini Widiyati Kec. Laweyan

4 Julin Prasika Duri Kec. Laweyan

5 M.Nasrudin Kec. Laweyan

6 Didik Pamungkas Kec. Laweyan

7 Sapta Novitasari Kec. Laweyan

8 Arstity Heratrie Kec. Laweyan

9 KajadPamuji Joko Waskito Kec. Laweyan

10 Santi Permatasari Kec. Laweyan

11 Handrajati Kusumo Wardhani Kec. Serengan

12 Eko Ernawati SE Kec. Serengan

13 Lia Dwi Firmanti Kec. Serengan

14 Danu Pamungkas Kec. Serengan

15 Achmadi Kec. Pasarkliwon

16 Aulia Rahmadiyah Kec. Pasarkliwon

17 Eko Nurhandoyo Kec. Pasarkliwon

18 Iin Fatimah Kec. Pasarkliwon

19 Irawan Noer Wijaya Putra Kec. Pasarkliwon

20 Muchtar Nugroho Kec. Pasarkliwon

21 Topan Okta Setiawan Kec. Pasarkliwon 22 Yosep Andhi Purnomo Kec. Pasarkliwon

23 Andry Purno Wibowo Kec. Jebres

24 FlavianaSri Wahyuni Kec. Jebres

25 Royyan Maherta Suyoto Kec. Jebres

26 Tiara Sari Kec. Jebres

27 Adnan Syamsuddin Kec. Jebres

28 Ririn Ika Puspitasari Kec. Jebres 29 Stefanus Ardi Iantono Kec. Jebres

30 Retno Anggraeni Kec. Jebres

31 Wulan Pramita Sari Kec. Jebres

commit to user

33 Antonius Triyogo Prasetyo Kec. Jebres

34 Rohmad Hidayat Kec. Jebres

35 Rahmad IsaRianto Kec. Jebres

36 Novi Budiargo Kec. Jebres

37 Ihsan Ismail Rahmawan Kec. Banjarsari 38 Dhika Prabowo Hendrasworo Kec. Banjarsari

39 Rachmadi Kec. Banjarsari

40 Sari Dharmasih Kec. Banjarsari

41 David Witjaksono Kec. Banjarsari

42 Candra Bayu Movianto Kec. Banjarsari 43 Rossalia Kartika Megawati Kec. Banjarsari

44 Yusti Pranasari Kec. Banjarsari

45 Fitri Sunarto Kec. Banjarsari

46 Tri Ratnawati Kec. Banjarsari

47 Nur Widayanti Kec. Banjarsari

48 Okajaya Kusuma Warenda Kec. Banjarsari

49 Eko Nuryanto Kec. Banjarsari

50 Verry Surya Pratama Kec. Banjarsari

51 Mochammad Muchlis Kec. Banjarsari

52 Efendi Yusuf Fajri Kec. Banjarsari

53 Cahyo Budiono Kec. Banjarsari

54 NoermaYoeliana Kec. Banjarsari

Sumber: Nota Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil

Tabel IV. 7

Materi Bintek Tahap II yang Diselenggarakan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil

No Materi Nara Sumber

Praktek Rekam Sidik Jari, Foto e-KTP dan Iris Mata Sumber: Nota Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil

Berdasarkan evaluasi atas kegiatan Bintek Operator e-KTP tahap II di atas, dapat disimpulkan bahwa:

1) Peserta Bintek / Calon Operator e-KTP dapat memahami Standar Operasional Prosedur (SOP) Pelayanan e-KTP, teori dan aplikasi alat TI e-KTP dan mampu mengoperasionalkan TI e-KTP.

2) Calon operator e-KTP dinyatakan telah mampu melaksanakan operator e-KTP pada titik pelayanan e-KTP baik di Dinas

commit to user

Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Surakarta maupun di kecamatan.

f. Evaluasi Hasil Pelaksanaan

Setelah berakhirnya pendidikan dan pelatihan, seyogyanya dilakukan evaluasiterhadap hasilnya, yang mencakup evaluasi sejauh mana materi yang diberikan itu dapat dikuasai atau diserap oleh peserta diklat. Lebih jauh lagi apakah ada peningkatan kemampuan atau keterampilan, pengetahuan, dan sikap dari para peserta diklat.

Cara melakukan evaluasi ini dapat secara formal dalam arti dengan kuesioner yang harus diisi oleh para peserta diklat. Dapat juga dilakukan dengan cara informal, yakni melalui diskusi antara peserta dengan panitia.

“pastinya ada, terlihat ada peningkatan pengetahuan dari pegawai setelah dilakukan bintek. Terutama yang di IT.Yang tadinya dia gak ngerti misalnya kalau ada kesalahan begini, o ternyata karena begini.Jadi cepet langsung ketahuan.Tapi kalau sikap memang kita gak bisa menilai langsung. Kalau sikap dan perilaku kan kita menilainya dari tingkat kepuasan masyarakat

….. kalau keterampilan kan gampang kita evaluasinya. Bisa dilihat dari tingkat pelayanannya, produktivitasnya waktu sebelum pelatihan dan sesudah pelatihan.” (wawancara dengan Drs. Ing Ramto tanggal 4 September 2013)

Hasil wawancara di atas diketahui bahwa telah dilakukan evaluasi terhadap hasil pelaksanaan bintek. Namun evaluasi dilakukan secara informal, yakni dengan cara observasi atau pengamatan atasan terhadap bawahannya yang bertindak sebagai operator e-KTP.

Dikarenakan evaluasi hanya dilakukan melalui observasi atau pengamatan, maka penulis tidak menemukan bukti konkret berupa

commit to user

hardfile maupun softfile yang mampu menunjang pernyataan narasumber Drs. Ing Ramto di atas. Namun pernyataan serupa muncul dari narasumber yang memiliki sudut pandang sebagai peserta.

“iya memang mbak, gak ada evaluasi kayak test formal gitu.

Karna kan waktu itu waktunya juga mepet sama pelaksanaan lapangan, jadi siap ndak siap kita harus mulai turun lapangan tapi masih dengan pendampingan pelatih. Ya mungkin pas pendampingan di lapangan itu sambil dievaluasi, ada peningkatan atau ndak.” (wawancara dengan Retno Anggraeni tanggal 30 Desember 2013)

Jelas dari pernyataan di atas bahwa pelaksanaan evaluasi tidak dilakukan secara formal melainkan informal menggunakan metode observasi atau pengamatan.

4. Kendala dalam Pelaksanaan Pengembangan Sumber Daya Manusia

Dokumen terkait