• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelaksanaan Perjanjian Kredit pada Bank Mandiri KCP Sukaramai Medan Telah Memenuhi Asas Itikad Baik

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

PENERAPAN ASAS ITIKAD BAIK DALAM PELAKSANAAN PERJANJIAN KREDIT PERBANKAN (STUDI PADA

A. Pelaksanaan Perjanjian Kredit pada Bank Mandiri KCP Sukaramai Medan Telah Memenuhi Asas Itikad Baik

Praktiknya KUHPerdata ternyata tidak terdapat suatu bentuk hubungan hukum khusus atau perjanjian khusus yang namanya “perjanjian kredit bank”.

Oleh karena itu, penetapan mengenai bentuk hubungan hukum antara bank dan debitur, yang disebut “perjanjian kredit bank” itu harus digali dari sumber-sumber di luar KUHPerdata.88

Perjanjian kredit bank selalu merupakan perjanjian yang bersifat konsensuil. Bagi perjanjian kredit yang jelas-jelas mencantumkan syarat-syarat tangguh atau klausul conditions precedent, tidak dapat dibantah lagi bahwa perjanjian itu merupakan perjanjian konsensuil sifatnya. Syarat-syarat tangguh atau conditions precedent pada suatu perjanjian kredit merupakan fakta atau peristiwa yang harus dipenuhi atau terjadi terlebih dahulu setelah perjanjian ditandatangani oleh para pihak sebelum bank berkewajiban menyediakan kredit dan sebaliknya sebelum debitur berhak menggunakan kreditnya.89

Ketentuan Pasal 1338 ayat (3) KUHPerdata dinyatakan bahwa perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik. Pelaksanaan itikad baik bermakna bahwa kedua belah pihak harus berlaku satu dengan lainnya tanpa tipu daya, tanpa tipu

88 Sutan Remi Sjahdeini, Op.Cit, hlm.173

89 Ibid., hlm 176

muslihat, tanpa mengganggu pihak lain, tidak hanya melihat kepentingan diri sendiri saja, tetapi juga kepentingan pihak la innya.90

Sebelum dilaksanakannya perjanjian kredit, pihak Bank Mandiri KCP Medan Sukaramai akan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu untuk melihat apakah agunan yang dijaminkan itu bebas dari masalah dan dapat digunakan sebagai pengaman dari perjanjian tersebut. Meskipun pihak kreditur telah melakukan, tetapi masih ditemukannya permasalahan dalam perjanjian kredit.

Permasalahan yang dimaksud merupakan hambatan-hambatan yang didapat dari suatu pelaksanaan perjanjian kredit. Permasalahan yang sering terjadi dalam pelaksanaan perjanjian kredit tersebut adanya kredit bermasalah diakibatkan, karena debitur tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan sesuai pada yang tertera pada perjanjian kredit seperti terdapat pada hal keterlambatan pelunasan kredit.debitur dinyatakan wanprestasi apabila :

1. Terjadi tungakan pokok atau bunga atau tagihan lainnya selama 90 hari walaupun aktiva produktif belum jatuh tempo.

2. Tidak diterimanya pembayaran pokok atau bunga atau tagihan lainnya pada saat aktiva produktif jatuh tempo.

3. Tidak dipenuhinya persyaratan lainnya selain pembayaran pokok atau bunga yang dapat mengakibatkan terjadinya wanprestasi.91

Untuk mengetahui pelaksanaan perjanjian kredit pada Bank Mandiri KCP Medan Sukaramai telah memenuhi asas itikad baik, sampai sejauh ini asas itikad

90 Ridwan Khairandy, Op.Cit., hlm.154

91Hasil wawancara Ivan Yolessa Butar-Butar, selaku Analisis Kredit PT. Bank Mandiri KCP Sukaramai Medan, 14 Juli 2018

70

baik dalam perjanjian kredit pada Bank Mandiri KCP Medan Sukaramai masih berjalan dengan baik dengan standart manajemen yang dikeluarkan legal perusahaan ini. Adapun cetusan yang ditanyakan bertujuan untuk mengantisipasi setiap risiko mulai dari pengumpulan berkas sampai kepada perjanjian kredit.

Itikad baik pada tahap pra kontrak merupakan kewajiban untuk memberitahukan atau menjelaskan dan meneliti fakta material bagi para pihak yang berkaitan dengan pokok yang dinegosiasikan itu. Sehubungan dengan hal itu putusan Hoge Raad menyatakan bahwa para pihak yang bernegoisasi masing-masing memiliki kewajiban itikad baik. Yakni kewajiban untuk meneliti (onderzoeplicht) dan kewajiban untuk memberitahukan atau menjelaskan (mededelingsplicht).92

Adapun asasoris yang dibutuhkan untuk perjanjian kredit di Bank Mandiri KCP Medan Sukaramai, antara lain :

1. Berita acara

2. Serah terima anggunanan 3. Tata cara penagihan 4. Kuisioner kepada debitur 5. Skala angsuran

6. Penempatan anggunan

a. Sertifikat hak milik sesuai nominal pinjaman yang ditentukan b. Kendaraan BPKB

92 Ridwan Khairandy, Op.Cit., hlm.252

Semua perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik (te goeder trouw;

in good faith,) demikianlah isi Pasal 1338 ayat (3) KUHPerdata. Asas ini

menegaskan bahwa para pihak dalam membuat perjanjian harus didasarkan pada itikad baik dan kepatutan, yang mengandung pengertian pembuatan perjanjian antara para pihak harus didasarkan pada kejujuran untuk mencapai tujuan bersama. Pelaksanaan perjanjian juga harus mengacu pada apa yang patut dan seharusnya diikuti dalam pergaulan masyarakat. Asas ini merupakan asas yang harus ada dalam setiap perjanjian, datidak bisa ditiadakan meskipun para pihak menyepakatinya (immutable).93

Terkait dengan keberlakuan asas itikad baik pada tahap prapembuatan perjanjian, dapat dijelaskan bahwa jika pelaksanaan suatu perjanjian menimbulkan ketidakseimbangan atau melanggar perasaan keadilan, maka hakim dapat mengadakan penyesuaian terhadap hak dan kewajiban yang tercantum dalam kontrak tersebut. Dalam praktik hukum kontrak, hakim memang menggunakan kewenangannya untuk mencampuri isi kontrak, sehingga tampaknya itikad baik harus ada tidak hanya pada tahap pembuatan (penandatanganan) dan tahap pascapembuatan (pelaksanaan) kontrak, tetapi juga tahap prapembuatan (perancangan) kontrak.94

Pasal 1338 ayat (3) KUHPerdata dinyatakan bahwa perjanjian-perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik. Rumusan tersebut memberikan arti bahwa

93Ery Agus Priyono, Peranan Asas Itikad Baik Dalam Kontrak Baku (Upaya Menjaga Keseimbangan bagi Para Pihak), Diponegoro Private Law Review• Vol. 1 No. 1 November 2017, hlm 19

94 Ibid., hlm 20

72

sebagai sesuatu yang disepakati dan disetujui oleh para pihak, pelaksanaan prestasi dalam tiap-tiap perjanjian harus dihormati sepenuhnya, sesuai dengan kehendak para pihak pada saat perjanjian ditutup. Namun demikian, adakalanya tidak mudah untuk menjelaskan dan menguraikan kembali kehendak para pihak terlebih lagi jika pihak yang terkait dengan perjanjian tersebut sudah tidak ada lagi, termasuk suatu badan hukum yang para pada saat perjanjian dibuat tidak lagi menjabat, ataupun dalam hal terjadi pengingkaran terhadap perjanjian tersebut oleh salah satu pihak dalam perjanjian. Dalam keadaan yang demikian, maka selain dapat dibuktikan dengan bukti tertulis atau adanya keberadaan saksi yang turut menyaksikan keadaan pada saat ditutupnya perjanjian, pelaksanaan atau pemenuhan prestasi dalam perikatan sulit sekali dapat dipaksakan. Terhadap hal yang pertama akan dibahas lebih lanjut dalam bab terakhir buku ini mengenai penafsiran perjanjian.95

Sebelum sebuah bank menyetujui permohonan calon debitur untuk mendapatkan fasilitas kredit, petugas bank akan menganalisis calon debitur untuk menentukan kemauan dan kemampuan calon debitur tersebut untuk membayar kembali fasilitas kredit yang akan dinikmatinya.Pada Bank Mandiri KCP Medan Sukaramai, petugas bank yang melakukan analisis terhadap calon debitur adalah Mantri. Sesuai dengan tugas dan tanggung jawab seorang Mantri, yaitu memeriksa permintaan pinjaman di tempat usaha nasabah yang meliputi

95Gunawan Widjaja, Memahami Prinsip Keterbukaan dalam Hukum Perdata, Jakarta, RajaGrafindo, 2006, hlm. 283

usahanya, letak jaminan dan menganalisanya, maka Mantri mengambil pendekatan dengan melakukan analisa berdasarkan 5 of crediet yaitu :

1. Character merupakan keadaan watak dan sifat cari calon debitur baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam lingkungan usaha. Penilaian character merupakan penilian terhadap kejujuran, ketulusan, ketajaman berfikir, logis, kepatuhan akan janji, kesehatan, kebiasaan, berani dengan atau tanpa perhitungan risiko, suka atau tidak suka berjudi, keca kapan dalam mengelola usaha dan kemauan untuk membayar kembali hutang-hutangnya.

2. Capacity merupakan kemampuan yang dimiliki calon debitur untuk membuat rencana dan mewujudkan rencana itu menjadi kenyataan, termasuk dalam menjalankan usahanya guna memperoleh laba yang diharapkan, penelitian berkisar antara lain kemampuan dalam bidang manajemen, keuangan, pemasaran, teknis..

3. Capital (modal) merupakan dana yang dimiliki calon debitur guna menjalankan dan memelihara kelangsungan usahanya, tujuan penilaian untuk mengetahui permodalan, sumber-sumber dana atau modal dan penggunaannya 4. Condition merupakan keadaan sosial ekonomi suatu saat yang dapat mempengaruhi maju mundurnya usaha calon peminjam, penilaian untuk mengetahui sampai sejauh mana kondisi ekonomi itu berpengaruh terhadap kegiatan usaha calon peminjam dan bagaimana calon peminjam tersebut mengatasinya atau mengantisipasinya, sehingga usahanya tetap hidup dan berkembang.

74

5. Collateral merupakan barang-barang yang diserahkan calon debitur sebagai jaminan terhadap Bank Mandiri KCP Medan Sukaramai yang akan diterimanya, tujuan penilaian adalah untuk mengetahui sampai sejauh mana risiko tidak terpenenuhinya kewajiban finansiil kepada Bank Mandiri KCP Medan Sukaramai yang dapat tertutup oleh nilai barang jaminan yang diserahkan calon debitur, penilaian terhadap barang jaminan meliputi jenis atau macam barang, nilai barang, lokasinya, bukti pemilikannya atau status hukumnya. Jaminan dapat berupa jaminan kebendaan seperti tanah dan bangunan atau benda bergerak seperti tanda bukti kepemilikan kendaraan bermotor dan sebagainya, nilai jaminan dapat menutup pokok dan bunga pinjaman.96

Berdasarkan ketentuan Pasal 1338 ayat (3) KUHPerdata bahwa suatu perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik. Itikad baik merupakan ukuran objektif untuk menilai pelaksanaan perjanjian, apakah pelaksanaan perjanjian itu mengindahkan norma-norma kepatutan dan kesusilaan dan apakah pelaksanaan perjanjian itu telah berjalan di atas rel yang benar. Apa yang dimaksud dengan kepatutan dan kesusilaan, undang-undang sendiri tidak memberikan rumusannya tetapi jika dilihat dari arti katanya, kepatutan artinya kepantasan, kelayakan, kesesuaian, kecocokan. Sedangkan kesusilaan artinya kesopanan, keadaban. Dari arti kata-kata ini dapat disimpulkan bahwa kepatutan dan kesusilaan itu sebagai

96 H.R. M. Anton Suyanto., Op.Cit., hlm 38

“nilai yang patut, pantas, layak, sesuai, cocok, sopan dan beradab” sebagaimana sama-sama dikehendaki oleh masing-masing pihak yang berjanji.97

Jika terjadi perselisihan berkaitan pelaksanaan dengan itikad baik (kepatutan dan kesusilaan), hakim diberi wewenang oleh undang-undang untuk mengawasi dan menilai pelaksanaan, apakah ada pelanggaran terhadap norma-norma kepatutan dan kesusilaan itu. Ini berarti bahwa hakim berwenang untuk menyimpang dari isi perjanjian menurut kata-katanya, apabila pelaksanaan menurut kata-kata itu akan bertentangan dengan itikad baik, yaitu norma kepatutan dan kesusilaan. Pelaksanaan yang sesuai dengan norma kepatutan dan kesusilaan itulah yang dipandang adil karena tujuan hukum salah satunya adalah menciptakan keadilan.98

Pelaksanaan asas itikad baik dalam perjanjian kredit terjadi pada saat sebelum pelaksanaan perjanjian serta saat pelaksanaan perjanjian. Pelaksanaan asas itikad baik pada saat sebelum pelaksanaan perjanjian, meliputi itikad baik calon debitur dalam prosespengisian formulir-formulir pemberian kredit yang ditetapkan oleh kreditur serta itikad baik Nasabah dalam proses pembebanan jaminan. Pelaksanaan asas itikad baik pada saat pelaksanaan perjanjian kredit misalnya meliputi itikad baik calon debitur dalam penggunaan fasilitas kredit yang telah diberikan oleh Bank Mandiri KCP Medan Sukaramai berdasarkan tujuan penggunaan fasilitas kredit yang telah diperjanjikan antara debitur dengan

97Ridwan Khairandy, Hukum Kontrak Indonesia dalam Perspektif Perbandingan (Bagian Pertama), Yogyakarta, FH UII Press,2014, hlm. 136

98Abdulkadir Muhammad, Hukum Perdata Indonesia, Bandung, Citra Aditya Bakti 2010, hlm. 235-236

76

kreditur. Konsekuensi hukum asas itikad baik dalam perjanjian kredit yang tidak dilaksanakan dengan itikad baik merupakan hakim berdasarkan asas itikad baik dapat mengubah klausul-klausul yang terdapat dalam perjanjian kredit berdasarkan Pasal 1338 ayat (3) KUH Perdata. Pengubahan klausul-klausul dalam perjanjian kredit meliputi penambahan, pengurangan atau penghapusan klausul- klausul yang terdapat dalam perjanjian kredit tersebut dengan memperhatikan asas itikad baik..99

Praktiknya, bentuk dan materi perjanjian kredit antara satu bank dan bank lainnya tidaklah sama. Hal ini dilakukan untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhannya masing-masing. Perjanjian kredit tidak mempunyai bentuk yang berlaku umum, hanya saja dalam praktik biasanya dicantumkan definisi istilah-istilah yang akan digunakan dalam perjanjian, jumlah dan batas waktu peminjaman, serta pembayaran kembali pinjaman, penetapan bunga dan dendanya bila debitur lalai. Keseluruhan hal-hal ini kemudian dibakukan sehingga akhirnya terbentuklah perjanjian baku dalam perjanjian kredit bank. Dalam perjanjian baku diharuskan adanya keseimbangan antara para pihak. Klausul tidak boleh diletakkan atau bentuknya sulit terlihat atau tidak dapat dibaca secara mudah, atau pengungkapannya sulit dimengerti.”100

Thomas Suyatno sebagaimana dikutip Hermansyah mengatakan bahwa unsur-unsur kredit terdiri atas:.

99 Hasil wawancara Ivan Yolessa Butar-Butar, selaku Analisis Kredit PT. Bank Mandiri KCP Sukaramai Medan, 14 Juli 2018

100 Muhamad Djumhana, Op.Cit., hlm 387

1. Kepercayaan, merupakan keyakinan dari kreditur bahwa prestasi yang diberikannya baik dalam bentuk uang, barang atau jasa, akan benar-benar diterimanya kembali dalam jangka waktu tertentu di masa yang akan datang.

2. Tenggang waktu, merupakan suatu masa yang memisahkan antara pemberian prestasi dan kontraprestasi yang akan diterima pada masa yang akan datang.

Dalam unsur waktu ini, terkandung pengertian nilai agunan dari uang, yaitu uang yang ada sekarang lebih tinggi nilainya dari uang yang akan diterima pada masa yang akan datang.

3. Degree of risk, merupakan tingkat risiko yang akan dihadapi sebagai akibat dari adanya jangka waktu yang memisahkan antara pemberian prestasi dan kontraprestasi yang akan diterima kemudian hari, semakin lama kredit diberikan semakin tinggi pula risikonya, karena sejauh-jauh kemampuan manusia untuk menerobos masa depan itu, maka masih selalu terdapat unsur ketidaktentuan yang tidak dapat diperhitungkan. Inilah yang menyebabkan timbulnya unsur risiko. Dengan adanya unsur risiko inilah, maka timbullah jaminan dalam pemberian kredit.

4. Prestasi atau objek kredit itu tidak saja diberikan dalam bentuk uang, akan tetapi juga dapat berbentuk barang, atau jasa. Namun karena kehidupan ekonomi modern sekarang ini didasarkan kepada uang, maka transaksi-transaksi kredit yang menyangkut uang yang setiap kali dijumpai dalam praktik perkreditan101

101 Hermansyah., Op.Cit., hlm 58-59

78

B. Penyebab Terpenuhi atau Tidak Terpenuhinya Asas Itikad Baik Dalam