• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV Temuan Data dan Interpretasi Data

4.4 Disfungsi Pelaksanaan SPP

4.4.2 Pelaksanaan Sosialisasi : Belum Menyeluruh

Sebagai agen sosialisasi resmi untuk menginformasikan mengenai program SPP ini yang ditunjuk oleh pihak kecamatan ke desa adalah KPMD (Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa). Masing-masing setiap desa ditunjuk 1-2 orang, dan di Desa Batu Anam memiliki KPMD sebanyak 1 orang yaitu ibu SM yang memiliki tanggung jawab menginformasikan mengenai program SPP ke 10 dusun yang berada di Desa Batu Anam.

Beliau memberikan sosialisasi program SPP melalui bantuan keberadaan kepala dusun di setiap dusun yang berada di desa Batu Anam, hal ini sesuai dengan pernyataan yang dikatakan oleh informan:

Ibu SM

“ Awalnya saya mengetahui program SPP ini dari rapat rutin yang dilaksanakan di kantor desa, lalu saya yang sejak dulu memang sudah menjadi KPMD di kegiatan posyandu ditunjuk sebagai KPMD yang menangani program SPP, dan kegiatan posyandu sebelumnya saya alihkan ke rekan yang lain. Untuk urusan mensosialisasikan kegiatan ini ke masyarakat, saya minta bantuan dari tiap-tiap kepala dusun disetiap dusunnya, kerena jujur saja kalau saya yang bekerja sendirian maka akan tersebar dengan memakan waktu yang lama, apalagi jarak tiap dusunnya yang relatif jauh, namun disini saya juga berperan aktif dalam mensosialisasikan kegiatan ini, baik menjelaskan maksud dan tujuan serta fungsi dari program ini. Saya juga ambil andil dalam pembuatan beberapa proposal tiap kelompok, karena bisa dibilang anggota yang ikut tidak paham dengan mekanisme pembuatan proposal dan juga keterbatasan pengetahuan serta waktu mereka”.

Ibu M

“ Awalnya saya tau program SPP ini dari ibu KPMD. Beliau menginformasikan melalui perwiritan yang rutin kami laksanakan hari kamis, jadi waktu itu ibu SM menyampaikan mengenai SPP ini ketika perwiritan telah selesai dilakukan, namun hanya menjelaskan SPP secara umum saja, penjelasan selanjutnya setelah kami dan beberapa ibu-ibu lain yang tertarik ingin bergabung menanyakan secara langsung kepada ibu SM dan berkunjung kerumahnya, setelah itu barulah bapak B (kepala dusun) yang menyampaikan mengenai SPP kepada saya dan beberapa ibu-ibu lainnya yang datang ke warung saya, jadi bisa dibilang sosialisasi yang kami terima dan menyebar melalui kabar dari mulut ke mulut. Kalau informasi melalui pengumuman keseluruh ibu-ibu dan ditempatkan dalam 1 ruangan itu belum pernah”

Berdasarkan hasil wawancara dengan para informan tersebut, dapat diketahui bahwa para informan mendapatkan informasi mengenai SPP ini melalui KPMD yang memang agen sosialisasi utama dari program ini, dan sejauh ini keberadaan KPMD memang dirasakan keberadaannya ditengah-tengah masyarakat khususnya yang ikut menjadi kelompok SPP.

Keberadaan KPMD ini dirasakan anggota SPP selain sebagai agen sosialisasi juga sebagai pendamping dalam pembuatan proposal pinjaman kelompok, dan sebagai agen kedua dalam mensosialisasikan program SPP adalah

kepala dusun yang dari wawancara beberapa informan kurang dirasakan kehadirannya, karena masih ada beberapa informan yang mengaku tidak mendapatkan informasi program SPP ini.

Temuan data ini juga terkait dengan penelitian Rihadini (2012) yang dilakukan di Ranometo yang mana dalam pelaksanaan sosialisasi program SPP ini masih belum terakses keseluruh masyarakat umum, baik karena keterbatasan KPMD itu sendiri ataupun hal-hal yang disengaja seperti penyebaran info hanya berdasarkan keakraban dan kekeluargaan saja. Jika di pahami proses sosialisasi adalah merupakan suatu tahapan utama dalam pelaksanaan sebuah program, dan dalam kajian sosiologi proses sosialisasi dapat dilakukan oleh berbagai media, diantaranya antar individu secara langsung atau melalui media cetak ataupun elektronik. Dalam bersosialisasi khususnya dalam suatu program sangat dibutuhkan, agar tujuan dari program itu dapat tersampaikan dengan baik. Berikut fungsi manifest dari pelaksanaan sosialisasi :

1. Memperkenalkan maksud dan tujuan dari program keseluruh masyarakat. 2. Disampaikan oleh pihak pembuat program kepada seluruh lapisan

masyarakat agar ikut berpartisipasi dalam program.

Pada kenyataannya, pada Desa Batu Anam fungsi manifest dari sosialisasi ini tidak berjalan baik, bahkan muncul fungsi baru dari sosialisasi tersebut berdasarkan hasil wawancara berikut:

Ibu S

“ kalau sosialisasi gak pernah dilakukan secara terbuka atau secara umum begitu nak, biasanya KPMD itu yang mendatangi rumah kami satu-satu untuk menyampaikan ini, itupun hanya beberapa saja, nanti yang mendapat informasi itu disuruh mencari temannya sendiri, jadi

informasinya ini gak tersebar keseluruh masyarakat bahkan hanya yang dekat sama KPMD sajalah yang tau informasi.”

Ibu SM

kalau sosialisasi tentang SPP kami lakukan, tetapi tidak kami kumpulkan masyarakat seluruhnya, kami hanya menyampaikan kepada kepala dusun atau kami pilih orang-orang yang berkualitas dan memiliki usaha untuk mengajak temannya mengikuti program ini, karena jika dikumpulkan semua susah dek, toh juga tidak semuanya paham maksud dari program ini, hanya beberapa orang saja yang paham jadi ya mereka yang kita pilih dek, karena kita kan mengetahui bahwa kaum ibu di pedesaan itu gak semuanya tamat sekolah dek”.

Berdasarkan hasil yang disampaikan informan diatas bahwa sosialisasi telah memiliki fungsi yang tidak diharapkan yakni fungsi Latent yang disebut disfungsi. Fungsi yang tidak diharapkan itu adalah:

1. Informasi program disampaikan kepada masyarakat atau kelompok tertentu saja, baik tetangga maupun orang terdekat KPMD saja.

2. Agen sosialisasi tidak bekerja secara maksimal.

Penelitian Wahyudi (2011) yang juga melakukan penelitian tentang program SPP di Kecamatan Tanjung Mutiara Kabupaten Agam, menjelaskan juga bahwa SPP bisa berjalan secara efektif dikarenakan struktur yang ada bekerja secara fungsional. Proses sosialisasi menjadi pokok utama dari keberlangsungan program ini. Berdasarkan penelitiannya Wahyudi melihat bahwa dalam tahapan ini jika terjadi ketimpangan maka program ini hanya akan diisi oleh orang-orang yang seharusnya tidak mendapatkan pinjaman. Dapat dikatakan tidak tepat sasaran sehingga tidak berjalan secara efektif.

4.4.3 Penggunaan Dana SPP : Kurang Transparan Dan Kurang Sesuai

Dokumen terkait