BAB V PEMBAHASAN
B. Pelaksanaan Terapi Analisis Transaksional Dasar
Dalam pelaksanaan terapi AT Dasar ini akan dibahas waktu terapi, teknik, dosis, settingterapi, proses terapi dan penilaian egogram :
1. Waktu Terapi
Waktu pelaksanaan terapi AT Dasar dilakukan sesuai kesepakatan antara terapis dan pasien serta keluarga. Dalam pelaksanaanya, penggunaan terapi AT Dasar pada keluarga dengan masalah relasi orangtua-anak dengan anak yang mengalami masalah emosi dan perilaku dilakukan dalam 6 sesi masing-masing 2 jam. Pada awalnya pelaksanaan terapi yang ditawarkan kepada klien adalah seminggu 3 kali, sehingga diperhitungkan menghabiskan waktu sekitar 2 minggu. Tetapi pada pelaksanaannya ada yang mundur sampai 4 minggu dikarenakan kesibukan pasien, sekolah dan kegiatan belajar tambahan di luar jam sekolah. Demikian pula menyesuaikan dengan jadwal orang tua bekerja. Kedua keluarga bisa mengikuti seluruh sesi terapi sebanyak 6 sesi psikoterapi AT Dasar.
2. Teknik Terapi
Teknik terapi AT menurut Stewart & Tilney (2011) dapat menggunakan beragam teknik, dikatakan juga AT merupakan terapi yang bersifat eklektik, tidak terpaku pada satu modalitas seperti dalam modul yang digunakan dalam penelitian ini (Maharatih dkk., 2013). Penelitian ini menggunakan teknik terapi dengan metode pengajaran kepada klien tentang materi AT dengan menggunakan presentasi power- point. Hasilnya cukup efektif dilakukan pada klien terutama klien dengan kognitif yang tinggi. Mereka dengan cepat menguasai teori yang diberikan berupa tanya-jawab materi. Demikian pula teknik belajar dengan bermain kartu yang mengandung unsur analisis
struktural dan fungsional, serta analisis transaksi. Teknik bermain kartu ini efektif, lebih menyenangkan, meningkatkan keakraban di antara anggota keluarga dan juga terapis.
Teknikrole playdalam terapi sangat efektif, meskipun pada awalnya agak malu namun pada akhirnya bisa antusias dalam pelaksanaannya. Teknik bisa untuk mengetahui sejauh mana pemahaman dari pasien dan keluarga, serta mengaplikasikannya dalam kehidupannya. Demikian pula untuk teknik pemberian PR (pekerjaan rumah) bisa untuk mengetahui antusiasme dari pasien dan keluarga dalam mengikuti perjalanan terapi. Penggunaan istilah AT dalam bahasa Indonesia lebih memudahkan dalam penerapannya daripada menggunakan istilah egostate, critical parent, nurturing parent, Adult, natural child, dan adaptive child, karena pada dasarnya penggunaan bahasa yang mudah adalah landasan terjadinya komunikasi yang lancar, suatu transaksi yang komplementer.
3. Dosis Terapi
Pemilihan waktu 3 kali setiap minggu sedangkan pada pedoman AATD 2 kali seminggu, karena dari penelitian menunjukkan bahwa semakin pendek jarak pemberian terapi, retensi memori terhadap materi sebelumnya masih baik. Waktu yang dianggap masih optimal dan rasional adalah maksimal 3 x 24 jam. Secara umum waktu yang diberikan untuk sesi terapi yaitu 6 sesi masing-masing 2 jam adalah mencukupi untuk penyampaian materi dan untuk pemahaman materi yang diberikan. Bahkan pada keluarga dengan kognitif yang tinggi, pemberian materi AT Dasar dengan fokus analisis struktural dan analisis transaksi yang diberikan dalam 2 sesi sudah tercapai penguasaan materinya. Akan tetapi pelaksanaannya belum mampu diterapkan sepenuhnya.
4.SettingTerapi
Penelitian kualitatif pada dasarnya dilakukan pada kondisi alamiah dan bersifat penemuan. Pada penelitian ini selain dilakukan di RS juga dilakukan di rumah klien. Berdasarkan hasil evaluasi didapatkan sebagai berikut:
a) Pada setting klinis pencapaian pembelajaran tentang pengetahuan AT lebih tepat penyelesainnya selama 2 minggu. Kemungkinannya adalah karena yang diterapi di setting klinis kesan lebih formal sehingga lebih serius dalam menjalani terapi. Kemungkinan lain adalah terkait dengan adanya “kebutuhan” untuk mendapatkan terapi itu sendiri. Bila mereka merasa sangat butuh, maka apapun akan dikorbankan demi tercapainya perbaikan yang diinginkan, sehingga pencapaian hasil menjadi lebih cepat dan lebih baik. Meskipun demikian hasil evaluasi penguasaan materi AT kurang baik dibandingkansetting alami, kemungkinan dikarenakan kognitifnya lebih rendah. Kemungkinan lain kondisi keparahan pasien lebih berat.
b) Padasettingklinis penerapan tugas PR, simulasi, bermain peran ataupun percontohan keluarga sangat sulit terwujud. Hal ini kemungkinan karena berkaitan dengan kultur dan budaya, yaitu adanya budaya atau rasa malu dalam keluarga untuk menunjukkan perasaan marah, pertengkaran, ataupun pertentangan yang terjadi akibat transaksi silang di antara mereka.
c) Pada setting alami atau rumah, pencapaian pembelajaran tentang pengetahuan AT lebih lambat penyelesainnya, yang seharusnya dilakukan 2 minggu dilakukan dalam 4 minggu. Hal ini terjadi karena terganggu karena ada tamu, anak rewel, ada acara mendadak dan sebagainya. Pada setting alami terapis mendapatkan hasil observasi secara langsung dan tidak dibuat-buat tentang transaksi-transaksi yang terjadi di antara keluarga pasien. Meskipun demikian hasil evaluasi penguasaan materi ATcommit to user
lebih baik daripada setting klinis, kemungkinan dikarenakan kognitifnya lebih tinggi dan pendidikan formalnya lebih tinggi. Kemungkinan lain kondisi keparahan pasien lebih ringan.
d) Setting terapi pada penelitian ini adalah setting keluarga pada seluruh sesi terapi, tidak menggunakan sesi terapi individu dalam pedoman AATD ini. Dengan setting keluarga akan melihat secara langsung cara berinteraksi antara anggota keluarga sehingga transaksi yang dilakukannyapun akan lebih mudah dievaluasi serta efisiensi waktu. Namun dengan setting keluarga seperti ini tanpa ada sesi terapi individu akan sulit mengungkapkan sebenarnya apa yang terjadi, karena ada rasa sungkan atau perasaan takut kalau menyinggung yang lain.
4. Proses Terapi
Proses terapi yang berlangsung pada masing-masing subjek berbeda-beda tergantung kondisi subjek. Berdasarkan hasil evaluasi didapatkan hasil sebagai berikut :
a. Kasus I, anak laki-laki dengan masalah emosi dan perilaku eksternalisasi, sudah berulangkali berobat ke psikiater dengan pola asuh orang tua yang tidak konsisten, pendidikan pasien dan ayahnya SMP sedangkan ibunya sarjana. Pasien kurang begitu antusias ketika menjalani terapi dibandingkan orangtuanya. Perlu pendekatan lebih intensif dan penjelasan lebih rinci tentang materi AT supaya bisa dikuasai dengan baik.
b. Kasus II, anak perempuan dengan masalah emosi dan perilaku internalisasi, baru pertama kali berobat ke psikiater, pendidikan pasien dan orangtuanya SMA dengan pola asuh cenderung otoriter. Pasien antusias ketika menjalani terapi dibandingkan orangtuanya, sehingga perlu pendekatan yang lebih mendalam kepada orang tua
pasien untuk menjalankan terapi ini yang berlangsung hampir 4 minggu. Meskipun demikian materi AT dapat dikuasai dengan baik dan lebih cepat daripada kasus I.
Proses terapi ini telah dilakukan perekaman video dan telah dilakukan evaluasi oleh expert dengan hasil penilaian keterampilan perilaku secara keseluruhan sudah terlaksana dengan baik, terutama untuk membuat klien merasa nyaman, mampu membina hubungan baik dengan klien, mampu memberikan informasi cukup baik, mampu menggunakan pertanyaan terbuka dan tertutup yang sesuai, mengajukan pertanyaan satu-persatu, banyak mengajukan pertanyaan yang mendalam, mengajukan pertanyaan disertai gerakan yang wajar. Mampu mendengar aktif, mampu memberikan dorongan agar klien berpartisipasi dalam terapi dengan cara menunjukkan minat dan penuh perhatian serta kreatif mengajak klien bermain peran (role play), mampu menunjukkan non-verbal behavior yang baik, yaitu: wajah ramah, tersenyum, suara ramah, vokalnya jelas, kecepatan bicara cukup, intonasi baik, dan posisi tubuh yang baik. Selain itu mampu mengelola waktu dengan baik sehingga dapat memenuhi semua komponen kompetensi yang diharapkan dalam penelitian ini. Hal ini dibuktikan dengan kemampuan dalam menyelesaikan sesi-sesi terapi dengan baik dan hasilnya dapat dilihat melalui penilaian terhadap ketrampilan komunikasi interpersonal ataupun ketrampilan dalam implementasi AATD.
6. Penilaian Egogram
Tujuan terapi adalah tercapainya egogram yang ideal. Penilaian egogram yang baik adalah seperti “Bell shape” yang mana egostate D yang tertinggi diapit oleh egostate KB dan OP dan yang rendah adalah egostate OK dan KS. Egogram lainnya yang diharapkan adalah egogram puncak datar (flat-top). Ini merupakan suatu egogram yang mendekati ideal. Orang dengan egogram ini jarang bermasalah dengan orang lain.commit to user
Grafik 5.1. Gambaran egogram yang dianggap ideal atau normal
Pada penelitian ini sebelum dilakukan pembuatan egogram, diberikan materi tentangegostatedan dilakukan evaluasi penguasaan materi dengan kartu egostate. Dari 20 kartu egostate yang diberikan pada masing-masing anggota keluarga didapatkan hasil 80% - 100% dijawab dengan betul. Meskipun demikian pada penilaian egogram sendiri ada sebagian yang belum sesuai dengan kenyataan yang diobservasi terutama dalam menilai orang lain. Kemungkinan karena merasa dirinya sudah cukup baik dibandingkan orang lain, tidak mau disalahkan, malu mengakui kekurangan dirinya atau takut menyinggung perasaan yang lain.
Penilaian egogram menggunakan skala egogram dibandingkan observasi yang dilakukan terapis menunjukkan banyak ketidaksesuaian dalam penentuan Egostate Dewasa. Sebagian besar menunjukkan egostate D yang tinggi dengan menggunakan skala egogram, oleh karena itu perlu dievaluasi kembali skala egogram tersebut untuk meningkatkan nilai reliabilitas internal, yang saat ini baru mencapai tingkat cukup tinggi denganCronbach alpha0.78014 (Bagus, 2009).
0 5 10 15 20 25 30 35
Bell Shaped Flat Top
OK OP D KB KS commit to user