• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori Metode Penelitian Kualitatif

Dalam dokumen TESIS YEKTI NURHAENI S501008069 (Halaman 44-54)

BAB II LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

5. Teori Metode Penelitian Kualitatif

Metode penelitian kualitatif adalah salah satu jenis metode penelitian yang melakukan pendekatan dengan memandang realitas sosial sebagai sesuatu yang holistik/utuh, kompleks, dinamis, dan penuh makna. Holistik karena setiap aspek dari objek itu mempunyai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Metode kualitatif digunakan untuk mendapatkan data yang mendalam, suatu data yang mengandung makna. Metode penelitian kualitatif sering disebut metode penelitian naturalistik karena penelitian dilakukan pada kondisi objek yang alamiah (natural setting) dan penulis sebagai instrumen kunci. Penelitian kualitatif berbeda dengan penelitian kuantitatif yang berusaha menjelaskan hubungan sebab akibat, prediksi, serta generalisasi hasil. Penelitian kualitatif berusaha mendapatkan pencerahan, pemahaman terhadap suatu fenomena dan ekstrapolasi pada situasi yang sama (Golafshani, 2003; Sugiyono, 2005).

Penelitian kualitatif memiliki karakteristik adanya latar alamiah, langsung ke sumber data; manusia sebagai alat atau instrumen kunci; analisis data secara induktif, di mana pada saat penulis berusaha untuk memahami situasi yang sedang dipelajarinya, ia tidak membawa harapan atau dugaan tertentu yang sudah dimiliki sebelum penelitian berjalan; teori dari dasar (grounded theory); penelitian lebih bersifat deskriptif, data yang terkumpul berbentuk kata-kata atau gambar, sehingga tidak menekankan pada angka; lebih mementingkan proses dari pada hasil; adanya batas yang ditentukan oleh focus; adanya kriteria khusus untuk keabsahan data; desain yang bersifat sementara (Denzin dan Lincoln, 1994; Sugiyono, 2005).

Jenis-jenis penelitian kualitatif meliputi biografi, fenomenologi, grounded theory, etnografi dan studi kasus. Biografi adalah studi yang berdasarkan kepada kumpulan dokumen tentang kehidupan seseorang yang melukiskan momen penting yang terjadi dalam kehidupannya tersebut. Fenomenologi melihat dan memahami arti dari suatu pengalaman individual yang berkaitan dengan fenomena tertentu.Grounded theory dikhususkan untuk menemukan atau menghasilkan teori dari suatu fenomena yang berkaitan dengan situasi tertentu. Etnografi merupakan studi yang difokuskan pada penjelasan deskriptif dan interpretasi terhadap budaya dan sistem sosial suatu kelompok/masyarakat tertentu melalui pengamatan dan penghayatan langsung terhadap kelompok/masyarakat yang diteliti. Studi kasus: suatu model yang bersifat komprehensif, intens, terperinci, dan mendalam, serta lebih diarahkan untuk menelaah masalah-masalah atau fenomena yang bersifat kontemporer (berbatas waktu) (Denzin dan Lincoln, 1994; Herdiansyah, 2010).

5.2. Studi Kasus

Studi kasus merupakan suatu model yang menekankan pada eksplorasi dari suatu sistem yang berbatas (bounded system) pada satu kasus atau beberapa kasus secara mendetail, disertai dengan penggalian data secara mendalam yang melibatkan beragam sumber informasi yang kaya akan konteks (Creswell, 1998 cit. Herdiansyah, 2010). Studi kasus berupaya menjawab pertanyaan-pertanyaan how (bagaimana) dan why (mengapa), dan pada tingkat tertententu juga menjawab what (apa/apakah), dalam kegiatan penelitian (Yin, 1996 cit. Bungin, 2012). Selain itu studi kasus dapat merupakan single-case studies (studi kasus tunggal), multi-case studies (studi multi kasus), dancomparative-case studies(studi kasus perbandingan) (Bungin, 2012).

Studi kasus mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan dengan desain penelitian lain, yaitu : bersifat luwes berkenaan dalam hal pengumpulan data yang digunakan dapat lebih menjangkau dimensi yang lebih spesifik dari topik yang diselidiki, dapat dilakukan secara lebih praktis pada banyak lingkungan sosial, studi kasus dapat digunakan sebagai penguji suatu teori, dapat dilakukan dengan dana sedikit jika dilakukan dengan metode pengumpulan data yang sederhana (Black & Champion, 1992 cit. Herdiansyah, 2010). Akan tetapi, di samping keunggulan yang ditawarkan, studi kasus juga mempunyai kelemahan-kelemahan sebagai berikut : studi kasus kurang memberikan dasar yang kuat untuk melakukan suatu generalisasi ilmiah, kedalaman studi yang dilakukan tanpa banyak disadari justru dapat mengorbankan tingkat keluasan yang seharusnya dilakukan, sehingga sulit digeneralisasikan pada keadaan yang berlaku umum dan studi kasus cenderung kurang mampu mengendalikan bias subjektivitas peneliti (Bungin, 2012).

5.3. Metode Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif dengan Wawancara, Observasi, Studi dokumentasi danFocus Group Discussion (FGD). Wawancara adalah pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu. Wawancara dilakukan untuk mengetahui apa yang ada di pikiran individu dan memperoleh pemahaman terhadap perspektif individu dalam menginterpretasikan situasi dan fenomena yang terjadi, di mana hal ini tidak bisa ditemukan dalam observasi. Pewawancara tidak membawa hal- hal atau asumsi tertentu yang sudah dimilikinya ke dalam pemikiran individu yang diwawancarai (Stainback, 1988 cit. Sugiyono 2005). Berdasarkan prosesnya, wawancara dibagi menjadi 3 macam yaitu stuctured interview, unstructured interview,

dan semi structured/focused interview (Esterberg, 2002 cit. Sugiyono 2005;

Herdiansyah, 2010).

Observasi dilakukan sebagai metode penunjang pengumpulan data yang esensial dalam penelitian, terutama penelitian dengan metode pendekatan kualitatif. Metode observasi digunakan sebagai metode penunjang dengan dasar pemikiran bahwa melalui observasi memungkinkan peneliti untuk bersikap terbuka, berorientasi pada penemuan daripada pembuktian, dan mempertahankan pilihan untuk mendekati masalah secara induktif. Dengan berada dalam situasi lapangan yang nyata, kecenderungan untuk dipengaruhi berbagai konseptualisasi (yang ada sebelum penelitian dilaksanakan) tentang topik yang diamati akan berkurang. Dalam penelitian kualitatif, bentuk observasi yang dapat digunakan, yaitu observasi partisipasi, observasi tidak terstruktur, dan observasi kelompok tidak terstruktur (Sugiyono, 2005).

Studi dokumentasi adalah metode pengumpulan data kualitatif dengan melihat atau menganalisis dokumen-dokumen yang dibuat oleh subjek sendiri atau oleh orang lain tentang subjek. Bentuk dokumen dapat berupa catatan harian, surat pribadi, autobiografi, dokumen pemerintah/swasta, rekam medik, dan lain-lain (Herdiansyah, 2010).Focus Group Discussion(FGD) adalah teknik pengumpulan data yang umumnya dilakukan pada penelitian kualitatif dengan tujuan menemukan makna sebuah tema menurut pemahaman sebuah kelompok (Herdiansyah, 2010; Bungin, 2012).

5.4. Jumlah sampel dan proses pengambilan sampel

Penentuan sampel dalam penelitian kualitatif tidak didasarkan perhitungan statistik. Sampel yang dipilih berfungsi untuk mendapatkan informasi yang maksimal, bukan untuk digeneralisasi. Penetapan jumlah tidak ditentukan secara kaku sejak awal, tetapi dapat berubah, baik dalam jumlah maupun karakteristik sampel, sesuai dengan pemahaman konseptual yang berkembang dalam penelitian. Hal ini berhubungan dengan konsep saturasi, yaitu peneliti yang melakukan pengambilan sampel teoritis akan terus menambahkan unit-unit baru dalam penelitiannya dan akan berhenti pada titik di mana penambahan data dianggap tidak lagi memberikan informasi baru dalam analisis. Selain itu, jumlah sampel juga tidak diarahkan pada keterwakilan (dalam arti jumlah atau peristiwa acak) melainkan pada kecocokan konteks. Pengambilan sampel yang sering digunakan dalam penelitian kualitatif yaitu purposive sampling dan

snowball sampling. Purposive sampling adalah pengambilan sumber data dengan

pertimbangan tertentu. Snowball sampling adalah teknik pengambilan sumber data, yang pada awalnya jumlah data sedikit belum mampu memberikan data yang memuaskan, maka mencari sumber data lain berdasarkan sumber data yang sudah ada sebelumnya (Sugiyono, 2005). commit to user

5.5. Keabsahan data

Pengujian keabsahan data dalam penelitian kualitatif meliputi credibility, transferability, dependability dan confirmability. Credibility (validitas internal) dilakukan dengan perpanjangan pengamatan, peningkatan ketekunan dalam penelitian, triangulasi, diskusi, analisis kasus negatif, dan member check.Transferability(validitas eksternal) dilakukan dengan membuat laporan penelitian dalam uraian yang rinci, jelas, sistematis, dan dapat dipercaya sehingga pembaca dapat mengerti dan memahami hasil penelitian. Dependability (reliabilitas) dilakukan dengan melakukan audit terhadap keseluruhan proses penelitian. Confirmability (objektivitas) adalah menguji hasil penelitian, prosesnya mirip dengan uji dependability sehingga dapat dilakukan secara bersamaan. Bila hasil penelitian merupakan fungsi dari proses penelitian yang dilakukan, maka penelitian tersebut telah memenuhi standarconfirmability(Faisal, 1998 cit. Sugiyono, 2005).

5.6. Triangulasi

Definisi triangulasi adalah penggunaan dua atau lebih sumber untuk mendapatkan gambaran yang menyeluruh tentang suatu fenomena yang akan diteliti. Sumber yang dimaksud dapat berarti perspektif, metodologi, teknik pengumpulan data, dan lain sebagainya (Herdiansyah, 2010). Empat tipe triangulasi yang dapat digunakan dalam penelitian kualitatif meliputi theory triangulation, methodological triangulation, data triangulationdanobserver triangulation. Theory triangulation adalah penggunaan multipel teori (lebih dari satu teori utama) atau beberapa perspektif untuk menginterpretasi sejumlah data. Methodological triangulation adalah penggunaan beberapa metode penelitian kualitatif.Data triangulation adalah penggunaan lebih dari satu metode pengumpulan data pada satu kasus tunggal,commit to user Observer triangulation adalah

penggunaan lebih dari satu observer pada satu kasus tunggal (Denzin, 1978 cit. Herdiansyah, 2010).

5.7. Prosedur Analisis Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkannya ke dalam unit-unit, melakukan sintesis, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain. Analisis data bersifat induktif, berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan dan kemudian dapat dikonstruksikan menjadi hipotesis atau teori (Sugiyono, 2005). Analisis data penelitian kualitatif dapat menggunakan tiga model analisis, yaitu : metode perbandingan tetap (constant comperative method) oleh Glasser dan Strauss; metode analisis data menurut Spradley; dan metode analisis menurut Miles dan Huberman (Sugiyono, 2005; Bungin, 2012).

Analisis data penelitian ini dilakukan dengan mengacu pada metode perbandingan tetap (constant comperative method) oleh Glasser dan Strauss. Esensi metode analisis data ini adalah teknik yang digunakan untuk membandingkan kejadian-kejadian yang terjadi di saat peneliti menganalisis kejadian tersebut dan dilakukan secara terus menerus sepanjang penelitian itu dilakukan. Tahap analisis yang digunakan : reduksi data, kategorisasi data dan sintesisasi. 1) Reduksi data mencakup identifikasi satuan (unit). Satuan merupakan bagian terkecil yang memiliki makna bila dikaitkan fokus penelitian AT Dasar. Satuan yang diidentifikasi dalam AT adalah komponen-komponen egostate yang dinilai dari ucapan dalam bentuk kalimat, nada bicara, gesture dan perilaku. Setelah ditentukan satuan kemudian dilakukan koding,commit to user

yaitu memberikan kode pada setiap satuan agar dapat ditelusuri data/satuannya serta asal sumbernya. 2) Kategorisasi yaitu upaya memilah-milah setiap satuan ke dalam bagian-bagian yang memiliki kesamaan. Setiap kategori diberi nama yang disebut label, yaitu egostate Orangtua Kritikal (OK), egostate Orangtua Pembina (OP), egostate Dewasa (D), egostate Kanak Bebas (KB) dan egostate Kanak Sesuai (KS). 3) Sintesisasi yaitu mengaitkan satu kategori dengan kategori lainnya, dimulai dengan menilai stimulus dan respons yang dikeluarkan seseorang saat berinteraksi dengan orang lain, yaitu interaksi egostate seseorang dengan egostate orang lain, yang dalam AT disebut “transaksi”. Transaksi terdiri atas transaksi senada atau komplementer, transaksi silang dan transaksi terselubung.

Kerangka Teori 1

Skema 2.1. Kerangka teori masalah emosi dan perilaku anak yang mengalami masalah relasi orang tua-anak melalui pendekatan biopsikososial dan AT.

Keterangan kerangka teori 1 :

Setiap anak yang mengalami pertumbuhan dan perkembangan akan menghadapi berbagai faktor biopsikososial yang menjadi faktor risiko dan faktor protektif terjadinya masalah emosi dan perilaku pada anak. Ketika faktor risiko lebih besar dari faktor protektif akan menimbulkan masalah emosi dan perilaku pada anak, yang akan mengakibatkan interaksi negatif dengan sebaya dan stigma negatif di masyarakat serta ketidakseimbangan egostate orang tua-anak yang akan menyebabkan relasi orang tua anak terganggu (Blanchardet al., 2006; Dulcan & Lake, 2012; McGue & Iacono, 2005).

Anak dengan masalah emosi dan perilaku Pertumbuhan dan Perkembangan Anak

Faktor Risiko

Genetik, Penyakit fisik,Role confusion, Pola asuh, Kondisi Orang Tua,Bullying, Sosial- ekonomi kurang

Faktor Protektif

Tumbuh-kembang baik, Pola asuh demokratis, Dukungan keluarga, Sekolah kondusif, Sosial-ekonomi baik

Faktor Risiko > Faktor Protektif

Masyarakat Stigma negatif Ketidakseimbangan egostate orang tua-anak Teman Sebaya Interaksi negatif

Relasi orang tua-anak terganggu (transaksi silang - transaksi terselubung)

Kerangka Teori 2

Skema 2.2. Pendekatan AT melalui cognition dalam memperbaiki masalah emosi dan perilaku anak berdasarkan psikoneuroimunologi.

Keterangan kerangka teori 2 :

Pendekatan AT melalui cognition akan mempengaruhi kognitif dan psikomotor anak sehingga bisa memperbaiki emosi dan perilakunya melalui korteks frontal. Proses kognitif-emosi yang nyata berhubungan dengan korteks frontal medial, orbitofrontal dan cinguli anterior perigenual. Proses kognitif-emosi yang tersembunyi berhubungan regio subkortikal dan temporal medial, termasuk amigdala, ganglia basal ventral, nuklei dan struktur otak tengah (Holtzheimer & Mayberg, 2008). AT sebagai salah satu bentuk psikoterapi berhubungan dengan penurunan level kortisol, epinefrin dan norepinefrin, aktivasi sistem saraf parasimpatis dan penurunan inflamasi sehingga masalah emosi dan perilaku membaik (Marslandet al.. 2007).

Mood

State

PF9/46 PM6 Par40 hc aCg24b mCg24c pCg mF9/10 oF11 rCg24a cd-vst amg thal mb-sn sgCg25 a-ins hth bstem

AT melalui

Cognition

DBS

MEDS

ANS dan Aksis HPA :

Epinefrin Norepinefrin Glukokortikoid

Respon Imun : Sitokin proin ammasi

Dalam dokumen TESIS YEKTI NURHAENI S501008069 (Halaman 44-54)

Dokumen terkait