i
PENERAPAN ANALISIS TRANSAKSIONAL DASAR
UNTUK MEMPERBAIKI MASALAH EMOSI DAN
PERILAKU ANAK DAN REMAJA
TESIS
Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Magister Program Studi Kedokteran Keluarga
Minat Utama Ilmu Biomedik
Oleh
Yekti Nurhaeni
S501008069
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2015
ii
PENERAPAN ANALISIS TRANSAKSIONAL DASAR
UNTUK MEMPERBAIKI MASALAH EMOSI DAN
PERILAKU ANAK DAN REMAJA
TESIS
Oleh
Yekti Nurhaeni
S501008069
Komisi Pembimbing Nama Tanda Tangan Tanggal
Pembimbing I Prof. Dr. Aris Sudiyanto dr. SpKJ(K) ...…. 5-3-2015
NIP 195001311976031001
Pembimbing II Prof. Dr. M. Fanani, dr. SpKJ(K) ……....…. 5-3-2015 NIP 195107111980031001
Telah dinyatakan memenuhi syarat
pada tanggal 5 Maret 2015
Ketua Program Studi Magister Kedokteran Keluarga
Program Pascasarjana UNS
Dr. Hari Wujoso, dr., SpF, MM NIP 196210221995031001
iii
PENERAPAN ANALISIS TRANSAKSIONAL DASAR UNTUK
MEMPERBAIKI MASALAH EMOSI DAN PERILAKU
ANAK DAN REMAJA
TESIS
Oleh Yekti Nurhaeni
S501008069
Telah dipertahankan di depan penguji dan dinyatakan telah memenuhi syarat
pada tanggal 20 Maret 2015
Tim Penguji :
Jabatan Nama Tanda Tangan
Ketua Dr. Hari Wujoso, dr. SpF, MM .….…..……
NIP 196210221995031001
Sekretaris Prof. Dr. M. Syamsulhadi, dr. Sp.KJ (K) ...………..
NIP 194611021976091001
Anggota Penguji Prof. Dr. Aris Sudiyanto dr. SpKJ(K) ...
NIP 195001311976031001
Prof. Dr. M. Fanani, dr. SpKJ(K) ...
NIP 195107111980031001
Mengetahui :
Direktur Ketua Program Studi
Program Pascasarjana Kedokteran Keluarga
Prof. Dr. Ahmad Yunus, Ir., MS Dr. Hari Wujoso, dr. SpF, MM
NIP 196107171986011001 NIP 196210221995031001
iv
PERNYATAAN KEASLIAN DAN PERSYARATAN
PUBLIKASI
Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa :
1. Tesis yang berjudul: “PENERAPAN ANALISIS TRANSAKSIONAL DASAR
UNTUK MEMPERBAIKI MASALAH EMOSI DAN PERILAKU ANAK DAN
REMAJA” ini adalah karya penelitian saya sendiri dan tidak terdapat karya ilmiah
yang pernah diajukan oleh orang lain untuk memperoleh gelar akademik serta tidak
terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain
kecuali secara tertulis digunakan sebagai acuan yang disebutkan sumbernya, baik
dalam karangan dan daftar pustaka. Apabila ternyata dalam naskah tesis ini dapat
dibuktikan terdapat unsur-unsur plagiasi, maka saya bersedia menerima sanksi, baik
Tesis serta gelar magister saya dibatalkan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
2. Publikasi sebagian atau keseluruhan isi Tesis pada jurnal atau forum ilmiah harus
menyertakan tim promotor sebagai author dan PPs UNS sebagai institusinya.
Apabila saya melakukan pelanggaran dari ketentuan publikasi ini maka saya
bersedia mendapat sanksi akademik yang berlaku.
Surakarta, 20 Maret 2015
Yekti Nurhaeni
v
KATA PENGANTAR
Puji syukur selalu dipanjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan
karuniaNya sehingga penyusunan tesis ini dapat terwujud. Tesis ini dibuat untuk
memenuhi salah satu syarat dalam kurikulum Program Studi Kedokteran Keluarga
Minat Utama Ilmu Biomedik Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Sebelas Maret
Surakarta.
Pada kesempatan ini penyusun mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada yang kami hormati:
1. Prof. Dr. Ravik Karsidi, Drs., MS, selaku Rektor Universitas Sebelas Maret
Surakarta, yang telah memberikan kesempatan pada penulis untuk menggunakan
fasilitas yang ada di lingkungan kampus.
2. Prof. Dr. Ahmad Yunus, Ir., MS, selaku Direktur Program Pascasarjana Universitas
Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan ijin untuk kelancaran penyusunan
tesis ini.
3. Dr. Hari Wujoso, dr., Sp F., MM., selaku ketua Program Studi Magister
Kedokteran Keluarga Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta,
yang telah membantu terlaksananya ujian sehingga berjalan lancar.
4. Ari Natalia Probandi, dr., MPH., PhD., selaku Sekretaris Program Studi Magister
Kedokteran Keluarga Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta.
5. Prof. Dr. H. Aris Sudiyanto, dr. SpKJ(K), selaku pembimbing yang telah
memberikan bimbingan dan mengarahkan dalam penyusunan tesis ini.
6. Prof. Dr. H. Moh. Fanani, dr. SpKJ(K), selaku pembimbing yang telah
vi
7. Prof. Dr. H. Muchamad Syamsulhadi, dr. SpKJ(K) selaku Guru Besar atas
bimbingan dan saran penyusunan tesis ini.
8. Dosen Program Studi Magister Kedokteran Keluarga Minat Utama Ilmu Biomedik
Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta, yang telah memberi
ilmu dan pengetahuan kepada penulis
9. Staf Sekretaris Program Studi Magister Kedokteran Keluarga Program Pascasarjana
Universitas Sebelas Maret Surakarta, yang telah membantu terlaksananya ujian
sehingga dapat berjalan dengan lancar.
10. Seluruh Rekan Residen PPDS I Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Negeri
Sebelas Maret / RSUD Dr Moewardi Surakarta yang memberikan dukungan baik
moril maupun materil kepada penyusun selama menjalani pendidikan.
Tesis ini banyak terdapat kekurangan, untuk itu penyusun mohon maaf dan
sangat mengharapkan saran serta kritik dalam rangka perbaikan tesis ini.
Surakarta, Maret 2015
Penyusun
vii
Yekti Nurhaeni, S501008069. 2015. “PENERAPAN ANALISIS TRANSAKSIONAL DASAR UNTUK MEMPERBAIKI MASALAH EMOSI DAN PERILAKU ANAK DAN REMAJA. TESIS. Pembimbing I: Prof. Dr. H. Aris Sudiyanto, dr. SpKJ (K). Pembimbing II : Prof Dr. HM. Fanani, dr. SpKJ(K). Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta.
ABSTRAK
Latar Belakang : Masalah emosi dan perilaku anak dan remaja memberikan dampak negatif terhadap perkembangan, menimbulkan hendaya dan menurunkan produktifitas serta kualitas hidup yang bermanifestasi perilaku internalisasi (menarik diri) atau eksternalisasi (menentang) atau kedua-duanya. Selain itu akan menambah beban keluarga, mengganggu relasi orang tua-anak dan mempersulit pengasuhan. Analisis Transaksional adalah psikoterapi yang menekankan pada hubungan interaksional diharapkan mampu memperbaiki masalah relasi orang tua-anak, sehingga masalah emosi dan perilaku anak dan remaja bisa diperbaiki.
Tujuan : Mengetahui keefektifan Analisis Transaksional Dasar untuk memperbaiki masalah emosi dan perilaku anak dan remaja.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif berbentuk studi kasus bertujuan untuk memperbaiki masalah emosi dan perilaku anak dan remaja pada keluarga dengan masalah relasi orang tua-anak dengan melakukan terapi Analisis Transaksional Dasar menggunakan pedoman Aplikasi Analisis Transaksional Dasar pada Masalah Relasi Orang Tua-Anak.
Hasil : Analisis Transaksional Dasar dilakukan pada dua kasus anak dan remaja yang mengalami eksternalisasi dan internalisasi menunjukkan perbaikan pada tarafborderline berdasarkan penilaian Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ) dan perbaikan gejala (symptomatic relief) yang merupakan tahap awal keberhasilan terapi.
Kesimpulan : Analisis Transaksional Dasar dapat dipergunakan untuk memperbaiki masalah emosi dan perilaku anak dan remaja.
Kata kunci : Analisis Transaksional Dasar, masalah emosi dan perilaku anak dan remaja.
viii
Yekti Nurhaeni, S501008069. 2015. APPLICATION OF BASIC TRANSACTIONAL ANALYSIS TO IMPROVE EMOTIONAL AND BEHAVIORAL PROBLEMS IN CHILDREN AND ADOLESCENT. THESIS. Supervisor I: Prof. Dr H. Aris Sudiyanto, dr. SpKJ(K). Supervisor II: Prof. Dr. HM. Fanani, dr. SpKJ(K). Postgraduate Program, Sebelas Maret University of Surakarta.
ABSTRACT
Background : The emotion and behavior problem in children and adolescent show a negative impact on the development, causing impairment and decreased in productivity and quality of life that manifests as a internalizing behavior (withdraw) or externalizing (against) or both. Additionally, it will increase the family burden, disrupt parent-child relationships and compound the nurturing. Transactional Analysis is a psychotherapy that emphasizes the interactional relationships which is expected to fix parent-child relationship problem, so that the child and adolescent's emotional and behavioral problems can be fixed.
Objective : To find out the effectivity of Basic Transactional Analysis therapy to improve emotional and behavioral problems in children and adolescent.
Methods : This study is a qualitative and use the case studies that aim to improve emotional and behavioral problems of children and adolescent in families that have the parent-child relationship problem using Basic Transactional Analysis as the therapy based on “Basic Application of Transactional Analysis on Parent-Child Relationships problems”guidelines.
Results : Application of Basic Transactional Analysis performed on two cases of children and adolescent with externalizing and internalizing have showed improvement at the borderline level based on Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ) assessment and improvement on symptoms (symptomatic relief) which is the initial phase of a succes therapy.
Conclusion : Application of Basic Transactional Analysis can be used to improve emotional and behavioral problems in children and adolescent.
Keywords : Basic Transactional Analysis, emotional and behavioral problems in children and adolescent.
ix DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
PERNYATAAN... ... iv
KATA PENGANTAR... v
ABSTRAK... ... . vii
ABSTRACT... ... viii
DAFTAR ISI... ... ix
DAFTAR GRAFIK.. ... xiii
DAFTAR SKEMA DAN TABEL ... xiv
DAFTAR LAMPIRAN... ... xv
DAFTAR SINGKATAN ... xvi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Konteks Penelitian ... 1
B. Fokus Kajian Penelitian ... 4
C. Tujuan Penelitian ... 4
D. Manfaat Penelitian ... 5
BAB II LANDASAN TEORI... 6
A. Tinjauan Pustaka ... 6
1. Masalah Emosi dan Perilaku pada Anak dan Remaja... 6
a. Pengertian ... 6
b. Epidemiologi ... 7
c. Faktor Risiko... 7
x
e. Penilaian... 11
f. Perjalanan Penyakit dan Prognosis ... ... 13
g. Penatalaksanaan ... 14
2. Analisis Transaksional ... 15
a. Analisis Struktural ... 15
b. Analisis Transaksi ... 16
c. Analisis Permainan ... 17
d. Analisis Skrip ...………... 18
e. Hipotesis Keseimbangan... 18
f. Analisis Transaksional dalam Memperbaiki Masalah Emosi dan Perilaku pada Anak dan Remaja ... 19
3. Masalah Relasi Orang Tua-Anak ... 23
a. Diagnosis Masalah Relasi ... 23
b. Diagnosis Masalah Relasi Orang Tua-Anak ... 23
4. Aplikasi Analisis Transaksional Dasar (AATD) Pada Masalah Relasi Orang Tua-Anak... 24
a. Pengertian... 24
b. Proses Terapi... 25
c. Penilaian ... 27
5. Teori Metode Penelitian Kualitatif ... 27
a. Pengertian... 27
b. Studi Kasus ... 29
c. Metode Pengumpulan Data ... 30
xi
e. Keabsahan Data... 32
f. Triangulasi ... 32
g. Prosedur Analisis Data... 33
Kerangka teori 1... 35
Kerangka teori 2... 36
B.Kerangka Konsep…...…………...…………... 37
BAB III METODE PENELITIAN... 38
A. Desain Penelitian ... 38
B. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 38
C. Instrumen Penelitian ... 38
D. Populasi dan Sampel Penelitian ... 39
E. Definisi Konsep ... 40
F. Cara Pengambilan Sampel (Subjek) dan Besar Sampel ... 40
G. Metode Pengumpulan Data... 41
H. Analisis dan Penyajian Data ... 41
I. Pengujian Keabsahan Data... 41
J. Cara Kerja ... 42
K. Etika Penelitian ... 43
L. Kerangka Kerja ... 44
BAB IV HASIL PENELITIAN... ... 45
A. Gambaran Umum... ... 45
B. Gambaran Kasus I... ... 46
C. Gambaran Kasus II... 58
xii
BAB V PEMBAHASAN... ... 69
A. Pembahasan Kasus... ... 69
B. Pelaksanaan Terapi Analisis Transaksional Dasar... 71
C. Keterbatasan Penelitian... 77
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN... 78
A. Kesimpulan... ... 78
B. Saran... 79
DAFTAR PUSTAKA ... 80
LAMPIRAN... ... 85
xiii
Perbandingan egogram ibu pasien R………...
Perbandingan egogram ayah pasien R ...….
Penilaian SDQ sebelum terapi pasien R...…
Perbandingan SDQ sebelum dan sesudah terapi pasien R...…
Perbandingan egogram pasien G ...…
Perbandingan egogram ibu pasien G…...
Perbandingan egogram ayah pasien G……...…
Penilaian SDQ sebelum terapi pasien G...…
Perbandingan SDQ sebelum dan sesudah terapi pasien G...…
xiv
Kerangka kerja penelitian……….……
Matriks transaksi pasien R dengan ibunya...
Matriks transaksi pasien R dengan ayahnya...
Matriks transaksi pasien G dengan ibunya...
Matriks transaksi pasien G dengan ayahnya...
xv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1
Lampiran 2
Lampiran 3
Lampiran 4
Lampiran 5
Lampiran 6
Lampiran 7
Lampiran 8
Data Peserta Penelitian………...
Penjelasan Tentang Penelitian………...………...………....…..
Persetujuan Penelitian………...………..
Daftar Tilik Implementasi Modul AT Dasar...
Penilaian Ketrampilan Perilaku Interpesonal...
Skala Egogram UNS...
Strength and Difficulties Questionaire………...…………
Ethical Clearance...…………...……… 85
86
88
89
94
96
101
102
xvi
DAFTAR SINGKATAN KATA
AATD : Aplikasi Analisis Transaksional Dasar
aCg24b : Broadmann area 24b/dorsal-perigenual anterior cingulate cortex
a-ins : anterior insula
amg : amygdala
ANS :autonomic nervous sistem
AT : Analisis Transaksional
bstem : brain stem
CBT :Cognitive Behavior Therapy
cd-vst : ventral caudate-ventral striatum
D : Dewasa
DBS : deep brain stimulation of Broadmann area 25
hc : hippocampus
hth : hypothalamus
IPT :Interpersonal Psychotherapy
K : Kanak
KB : Kanak Bebas
KS : Kanak Sesuai
mb-sn : midbrain-subthalamic nuclei
mCg24c : Broadmann area 24c/dorsal anterior cingulate cortex
MEDS : antidepressant medications
mF9/10 : medial frontal cortex
O : Orang tua
oF11 : orbitofrontal cortex
OK : Orang tua Kritikal
OP : Orang tua Pembina
Par40 : dorsal parietal
xvii pCg : posterior cingulate gyrus
PF9/46 : dorsolateral prefrontal cortex
PM6 : premotor area
rCg24a : Broadmann area 24a/perigenual-subgenual cingulate cortex
RSDM : Rumah Sakit Dr. Moewardi
RSJD : Rumah Sakit Jiwa Daerah
SDQ :Strengths and Difficulties Questionnaire
sgCg25 : Broadmann area 25/subgenual cingulate cortex
SMA : Sekolah Menengah Atas
SMP : Sekolah Menengah Pertama
thal : thalamus
WHO :World Health Organization
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Konteks Penelitian
Masalah emosi dan perilaku pada anak dan remaja merupakan masalah yang
cukup serius karena memberikan dampak negatif terhadap perkembangan,
menimbulkan hendaya dan menurunkan produktivitas serta kualitas hidup mereka.
Anak dan remaja dengan masalah emosi dan perilaku mempunyai kerentanan untuk
mengalami hendaya dalam fungsi kehidupan sehari-hari, terutama dalam fungsi belajar
dan sosialisasi (Wiguna dkk., 2010). Masalah emosi dan perilaku pada anak dan remaja
mengakibatkan kesulitan dalam belajar karena tidak mampu berkonsentrasi terhadap
pelajaran, kemampuan mengingat yang buruk, atau bertingkah yang tidak sesuai di
dalam lingkungan sekolah, akan meningkatkan angka kenakalan dan kriminalitas di
masa dewasa (Blanchardet al., 2006).
Insidensi di dunia menurutWorld Health Organization (WHO)didapatkan 1 dari
5 anak yang berusia kurang dari 16 tahun mengalami masalah emosi dan perilaku.
Anak yang berusia 4-15 tahun yang mengalami emosi dan perilaku sebanyak 104 permil
anak. Angka kejadian tersebut makin tinggi pada kelompok usia di atas 15 tahun, yaitu
140 permil anak (Damayanti, 2011). Sedangkan prevalensi di seluruh dunia sebesar
20% menurut WHO dalam European Ministerial Conference (Deenadayalan et al.,
2010). Satu setengah juta anak di Amerika Serikat dilaporkan orang tuanya memiliki
masalah emosional, perkembangan dan perilaku yang persisten. Orang tua tersebut 41%
mengeluhkan anaknya mengalami kesulitan belajar dan 36% khawatir akan mengalami
12,5% anak usia 6-12 tahun memiliki masalah emosi dan perilaku (Woo BSC et al.,
2007). Sedangkan di Indonesia, penelitian Hartanto F. Dan Selina H. (2011) prevalensi
masalah emosi dan perilaku sebesar 9,1% pada siswa Sekolah Menengah Pertama
(SMP) di kota Semarang tahun 2009. Penelitian di Semarang pada tahun berikutnya
didapatkan prevalensi masalah emosi dan perilaku 10-14,3% (Diananta, 2012). Hal ini
menunjukkan bahwa masalah emosi dan perilaku anak dan remaja dari tahun ke tahun
mengalami peningkatan dari tahun 2009-2011. Pada kunjungan poli tumbuh kembang
anak RSJD Surakarta pada tahun 2013 didapatkan prevalensi masalah emosi dan
perilaku pada anak sebesar 26%.
Berbagai faktor biopsikososial sering dikaitkan dengan terjadinya masalah
emosi dan perilaku pada anak dan remaja, seperti adanya penyakitfisik, pola asuh yang
inadekuat, kekerasan dalam rumah tangga, hubungan dengan teman sebaya yang
inadekuat, serta kemiskinan yang mempengaruhi proses perkembangan kognitif anak
sehingga anak lebih memandang negatif lingkungan sekitar dan persepsi negatif
terhadap dirinya yang memicu terjadinya internalisasi dalam dirinya. Stresor
biopsikososial juga berkaitan dengan eksternalisasi anak berupa peningkatan emosi
negatif, perilaku disruptif dan impulsif, serta menimbulkan cara-cara interaksi yang
negatif sehingga berdampak pada hubungan dengan teman sebaya yang tidak optimal
(Gimbel & Holland, 2003 cit. Wiguna dkk., 2010; Blanchard et al., 2006). Anak dan
remaja dengan masalah emosi dan perilaku seringkali mengalami perlakuan yang tidak
sesuai dari lingkungannya yang dapat berupa stigma negatif. Guru merasa sulit
mengajari mereka, melihat mereka sebagai anak-anak bodoh, sehingga jarang
memberikan masukan yang positif. Teman sebaya menjauhi mereka, sehingga
memberikan kritik negatif sehingga tidak jarang interaksi antara orangtua dan anak
terganggu (Collet et al., 2001). Selain itu menurut Blanchard et al., (2006) anak dan
remaja dengan masalah emosi dan perilaku akan menambah beban keluarga,
mengganggu relasi orang tua-anak dan mempersulit pengasuhan.
Pola asuh orang tua sangat besar pengaruhnya bagi anak. Orang tua yang
menerapkan pola asuh otoriter, permisif danneglectful parentakan menyebabkan relasi
orang tua-anak buruk dan mendukung terjadinya masalah emosi dan perilaku pada anak
dan remaja (Levy, 1972; Adams & Gullotta, 1983). Dinamika dan relasi antara anggota
dalam keluarga juga memainkan peran yang cukup penting bagi anak. (Adams &
Gullotta, 1983: Soetjiningsih, 2004). Relasi orang tua-anak yang buruk akan
menyebabkan hubungan interpersonal terganggu dan komunikasi terganggu. Dalam
istilah Analisis Transaksional (AT) akan terjadi disfungsi komunikasi, yang disebabkan
adanya transaksi silang. Akibat transaksi silang akan terjadi kemarahan serta
menimbulkan masalah emosi dan perilaku pada anak, sehingga memerlukan psikoterapi
AT (Corey, 2009).
Modalitas terapi untuk penangangan masalah emosi dan perilaku anak yang
terbanyak dilakukan adalah Cognitive Behavior Therapy (CBT) dan Interpersonal
Psychotheraphy (IP) (Sadock et al., 2009). Penelitian RCT dengan CBT kelompok
terbukti efektif menurunkan gejala internalisasi dan eksternalisasi masalah emosi dan
perilaku pada anak dan remaja (Barret et al., 2013). Penelitian CBT dan IP selama ini
belum ada yang menggunakan setting keluarga dalam menangani masalah emosi dan
perilaku pada anak dan remaja. Modalitas lainnya yang dapat digunakan adalah Analisis
Transaksional (AT) untuk memperbaiki masalah emosi dan perilaku pada anak yang
yang diambil dari bahasa sehari-hari (Orang tua, Dewasa, Kanak) sehingga mudah
dimengerti oleh klien. Selain itu AT merupakan teori praktis tentang kepribadian dan
teknik berkomunikasi yang canggih sehingga individu akan bisa mengenal dirinya
sendiri, lebih mudah mengenal orang lain dan memudahkan berkomunikasi dengan
sesamanya (Hukom, 1990). Namun sejauh ini masih belum banyak yang melakukan
studi psikoterapi AT pada anak dan orang tuanya dalam memperbaiki masalah emosi
dan perilaku anak baik di dalam maupun di luar negeri. Penelitian kualitatif Maharatih
(2011) penggunaan AT fokus pada masalah relasi orang tua-anak menunjukkan hasil
yang baik.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis ingin melakukan penelitian
lanjutan tentang“Penerapan Analisis Transaksional Dasar untuk Memperbaiki Masalah
Emosi dan Perilaku Anak dan Remaja.”
B. Fokus Kajian Penelitian
Bagaimana penerapan Analisis Transaksional Dasar untuk memperbaiki masalah
emosi dan perilaku anak dan remaja?
C. Tujuan Penelitian
Mengetahui keefektifan Analisis Transaksional Dasar untuk memperbaiki
masalah emosi dan perilaku anak dan remaja.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
a. Untuk memperdalam psikoterapi pada ilmu kedokteran jiwa, khususnya Analisis
Transaksional.
b. Dapat menjadi landasan penelitian selanjutnya tentang psikoterapi Analisis
Transaksional, bahan untuk analisis kebutuhan layanan kesehatan khususnya pada
masalah emosi dan perilaku anak dan remaja.
2. Manfaat Praktis
a. Penelitian ini dapat digunakan untuk mengetahui keefektifan psikoterapi Analisis
Transaksional Dasar untuk memperbaiki masalah emosi dan perilaku anak dan
remaja.
b. Dapat digunakan sebagai landasan penyusunan Standart Operasional Procedure
(SOP)untuk penatalaksanaan masalah emosi dan perilaku anak dan remaja.
6
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
1. Masalah Emosi dan Perilaku Anak dan Remaja
1.1. Pengertian
Masalah emosi dan perilaku anak dan remaja merupakan reaksi dan peningkatan
keadaan emosional yang bermakna, terjadi pada usia yang tidak lazim yang disertai
suatu derajat gangguan fungsi yang menetap yang tidak lazim (Departemen Kesehatan
RI, 1993). Masalah emosi dan perilaku anak dan remaja adalah ditandai dengan perilaku
yang sering tidak sesuai dengan lingkungan dan sering menghambat proses belajar dan
relasi. Anak dan remaja dengan masalah emosi dan perilaku sering menunjukkan
internalisasi (menarik diri) atau eksternalisasi (menentang) atau kedua-duanya
(Coleman & Webber, 2002; Conway, 2005; Rogers, 2004 cit. Handy et al., 2005).
Demikian pula menurut Davison et al. (2006) masalah emosi dan perilaku anak dan
remaja dikelompokkan dalam gangguan eksternalisasi dan gangguan internalisasi.
Gangguan eksternalisasi ditandai dengan perilaku yang lebih diarahkan ke luar diri,
seperti agresivitas, ketidakpatuhan, overaktifitas dan impulsifitas, dan termasuk
berbagai kategori DSM-IV-TR yaitu ADHD, gangguan tingkah laku dan gangguan
sikap menentang. Sedangkan gangguan internalisasi ditandai dengan pengalaman dan
perilaku yang lebih terfokus ke dalam diri seperti depresi, menarik diri dari pergaulan
1.2. Epidemiologi
Prevalensi masalah emosi dan perilaku anak dan remaja sulit ditentukan
dikarenakan luasnya tahap perkembangan dan keragaman perilaku anak dari bayi
sampai remaja. Perilaku spesifik akan meningkat dan menurun berdasarkan usia.
Sebagai contoh takut, khawatir, mimpi buruk,toilet problem, tantrum menurun saat usia
sekolah sedangkan perilaku disruptif menurun saat usia pre sekolah dan meningkat saat
menginjak remaja (Schroeder CS & Gordon BN, 2002). Namun demikian dalam sebuah
review studi epidemiologi dari berbagai negeri oleh Bird (1996) didapatkan estimasi
prevalensi masalah emosi dan perilaku anak sebesar 12,4% - 51,3%. Ketika yang
dimasukkan adalah gangguan psikiatri berat pada anak akan menurun 5,9% - 19,4%.
Prevalensi di Amerika Serikat berkisar 17,6% - 22% (Davisonet al., 2006). Sedangkan
dari berbagai latar belakang budaya di dunia didapatkan perilaku eksternalisasi secara
konsisten lebih sering ditemukan pada anak laki-laki dan perilaku internalisasi lebih
sering terjadi pada anak perempuan, terutama pada masa remaja (Weisz et al., 1987cit.
Davison et al., 2006; Shoval et al., 2013). Sebuah studi deskriptif mengenai masalah
emosi dan perilaku pada anak oleh Wiguna dkk., (2010) di RSCM Jakarta dari 161
subjek didapatkan 65,90% berusia kurang 12 tahun dan mempunyai pendidikan setara
dengan sekolah dasar. Proporsi terbesar adalah masalah hubungan dengan teman sebaya
54,81% dan masalah emosional 42,2%.
1.3. Faktor Risiko
Dapat bersifat individual, konstektual (pengaruh lingkungan), atau yang
dihasilkan melalui interaksi antara individu dengan lingkungannya. Faktor risiko yang
disertai kerentanan psikososial dan resilience pada anak akan memicu terjadinya
Yang termasuk faktor risiko terdiri dari faktor biopsikososial, meliputi:
1) Faktor Biologis
Faktor genetik. Berbagai masalah emosi dan perilaku mempunyai latar
belakang genetik yang cukup nyata, seperti gangguan tingkah laku, ADHD,
gangguan mood, dan gangguan psikologik lainnya. Sejumlah studi orang kembar
berskala besar mengindikasikan adanya komponen genetik dalam ADHD dengan
tingkat kesesuaian kembar monozigotik sebesar 70-80% (Levy dkk., 1997; Serman
dkk., 1997; Tannock, 1998cit. Davison et al., 2006). Ibu yang mengalami depresi
memicu terjadinya internalisasi terutama pada anak perempuan ( Lewis & Darby,
2004; Watsonet al., 2006 ). Keparahan dari masalah emosi dan perilaku pada anak
berkorelasi dengan psikopatologi ibu (Alyanaket al., 2013).
Faktor perinatal dan pranatal. Kelainan yang didapat waktu prenatal akibat
ibu yang kecanduan obat terlarang, peminum alhohol, perokok berat. Berbagai studi
pada hewan menunjukkan pemaparan kronis pada nikotin meningkatkan pelepasan
dopamin dalam otak dan menyebabkan hiperaktifitas (Fungs & Lau 1989; Johns
dkk., 1982 cit. Davison et al., 2006). Infeksi (ensefalitis dan meningitis), trauma
otak, intoksikasi, genetik, penyakit metabolik dan penyakit idiopatik yang
menyerang otak bisa menjadi penyebabnya (Soetjiningsih, 2010).
Faktor hormon. Produksi hormon testosteron dan estrogen mempengaruhi
fungsi otak, emosi, dorongan seksual dan perilaku remaja (Damayanti, 2011). Bila
dirinya berbeda secara jasmani dengan teman sebayanya maka hal ini memicu
terjadinya perasaan malu atau rendah diri (Erikson, 1972).
Faktor makanan. Ada berbagai pendapat bahwa makanan dapat berpengaruh
mengakibatkan hiperaktifitas, kekurangan zat besi dapat berpengaruh pada daya
konsentrasi. Keracunan logam berat, bahan tambahan pada makanan (food
additives), alergi makanan dan minuman beralkohol dapat berpengaruh terhadap
perilaku anak (Soetjiningsih dan Sugandi, 2010).
2) Faktor Psikologis
Setiap tahap perkembangan anak akan terdapat tantangan dan kesulitan-kesulitan
yang membutuhkan suatu keterampilan untuk mengatasinya, terutama menjelang
masa remaja. Pada awal masa remaja terjadi transformasi kognitif yang besar
menuju cara berpikir yang abstrak, konseptual dan berorientasi ke masa depan
(Phillips, 1969). Selain itu anak pada masa remaja dihadapkan pada 2 tugas utama,
yaitu: (1) mencapai ukuran kebebasan atau kemandirian dari orang tua; (2)
membentuk identitas untuk tercapainya integrasi diri dan kematangan pribadi.
Apabila remaja tidak bisa menyelesaikan krisis identitasnya dengan baik maka dia
akan merasakan sense of role confusion atau identity diffusion, yaitu suatu istilah
yang menunjukkan perasaan yang berhubungan dengan ketidakmampuan
memperoleh peran dan menemukan diri (Soetjiningsih, 2004). Berbeda dengan
orang yang mengembangkan pemahaman identitas, orang dengan difusi peran tidak
memahami siapa dirinya sesungguhnya, tak tahu apakah pikirannya tentang dirinya
sendiri sesuai dengan apa yang orang lain pikirkan tentang dirinya itu. Dan mereka
juga tidak tahu bagaimana mereka bisa berkembang dengan cara ini atau ke mana
arah perkembangan di masa depan sehingga akan merasa putus asa, hidup terlalu
singkat, dan terlalu terlambat untuk memulai dari awal (Pervinet al.,2010).
Kurangnya kemampuan keterampilan sosial seperti, menghadapi rasa takut,
orang tua, orang tua dengan penyalahgunaan zat dan gangguan mental, anggota
keluarga yang meninggal, trauma emosional. Pola asuh orang tua yang cenderung
tidak empatik dan otoriter, disiplin keras dan tidak konsisten serta kurangnya
pengawasan yang konsisten mendukung terjadinya masalah emosi dan perilaku
anak dan remaja (Adams & Gullotta, 1983).Overindulgent mothers, dominasi yang
posesif tidak mempersiapkan anak menuju latensi. Anak overindulgent relatif
menjadi anak yang tidak disiplin, yang menggunakan bentuk infantil dengan
mengotot/bersikeras dan agresif sampai terpenuhi keinginannya. Ketika masuk
komunitas lebih luas, dia berharap mendapatkan dalam segala hal dengan caranya,
apabila tidak terpenuhi, dia akan mencoba strategi bullying, berkelahi, temper
tantrum dan menghalangi (Cameron, 1963; Levy, 1972).
3) Faktor Sosial
Sekolah. Kesulitan transisi sekolah, kurikulum yang padat,bullyingdan hazing.
Prevalensi bullying dan hazing diperkirakan sekitar 10-26%. Anak yang
mengalami bullying menjadi tidak percaya diri, takut datang ke sekolah, kesulitan
berkonsentrai sehingga penurunan prestasi belajar. Bullying danhazingyang terus
menerus dapat memicu terjadinya depresi dan usaha bunuh diri (Perren et al.,
2010; Satgas Remaja IDAI, 2010).
Masyarakat. Diskriminasi, isolasi, kemiskinan, tingkat pengangguran tinggi,
kurangnya akses ke pelayanan sosial, kehidupan di kota besar, fasilitas pendidikan
yang rendah (Davisonet al., 2006; Dulcan & Lake, 2012).
1.4. Faktor Protektif
Faktor protektif merupakan faktor yang memberikan penjelasan bahwa tidak
perilaku atau emosi, atau mengalami gangguan jiwa tertentu. Rutter (1985) cit.
Damayanti (2011) menjelaskan bahwa faktor protektif merupakan faktor yang
memodifikasi, merubah, atau menjadikan respons seseorang menjadi lebih kuat
menghadapi berbagai macam tantangan yang datang dari lingkungannya. Faktor
protektif ini akan berinteraksi dengan faktor risiko dengan hasil akhir berupa terjadi
atau tidaknya masalah emosi dan perilaku, atau gangguan mental di kemudian hari
(Satgas Remaja IDAI, 2010; Wiguna, 2010; Damayanti, 2011).
Yang termasuk faktor protektif, yaitu (Satgas Remaja IDAI, 2010; Adams &
Gullotta, 1983) :
1) Faktor individu : Temperamen mudah, kemampuan sosial dan emosional yang
baik, gaya hidup optimistik, pertumbuhan dan perkembangan yang baik.
2) Faktor Keluarga : Keharmonisan keluarga, dukungan keluarga, relasi orang
tua-anak yang baik, pola asuh yang demokratis dan kooperatif.
3) Faktor Sekolah : Suasana sekolah yang kondusif atau positif sehingga menimbulkan
rasa memiliki dan hubungan yang baik dengan pihak sekolah.
4) Faktor Sosial : Berpartisipasi dalam organisasi, keamanan ekonomi, kekuatan sosial
budaya.
1.5. Penilaian
Penilaian masalah emosi dan perilaku anak dan remaja dapat dinilai dengan
menggunakan wawancara psikiatri dan alat ukur. Alat ukur yanga digunakan
diantarannya Pediatric Symptom Checklist (PSC), Child Behavior Checklist (CBCL)
skrining perilaku anak dan remaja usia 3-17 tahun, yang praktis, ekonomis dan mudah
digunakan oleh klinisi, orang tua, maupun guru. Kuesioner SDQ dapat diisi sendiri oleh
anak dan remaja usia 11-17 tahun. Sedangkan untuk anak usia kurang dari 11 tahun,
maka selain diisi sendiri oleh anak, kuesioner juga diisi oleh orang tua atau guru anak
tersebut (Damayanti, 2011; Hartanto & Selina, 2011). Di dalam penilaian SDQ,
terdapat 25 poin penilaian aspek psikologi yang dibagi menjadi 5 (lima) bagian,
yaitu : gejala emosional, masalah perilaku, hiperaktivitas/inatensi, masalah hubungan
antar sesama, dan perilaku sosial. Masing-masing bagian tersebut terdiri dari 5 (lima
pertanyaan). Setiap pertanyaan mengandung 3 (tiga) jawaban, yaitu : tidak benar, agak
benar, dan benar. Setelah kuesioner terisi, jawaban diberi skor sesuai kelompok
bagiannya masing-masing sesuai dengan nilai yang telah ditentukan. Kemudian dapat
diintepretasi : Normal, Borderline, atau Abnormal (Hartanto & Selina, 2011).
Tabel 2.1. Interpretasi SDQ
Normal Borderline Abnormal
Total diffficulties score 0-15 16-19 20-40
- Emotional symptoms scale 0-5 6 7-10
- Conduct problems scale 0-3 4 5-10
- Hyperactivity score 0-5 6 7-10
- Peer problems score 0-3 4-5 6-10
Prosocial behaviour score 6-10 5 0-4
Pada SDQ bagian prosocial behaviour score merupakan skor kekuatan yang
menunjukkan faktor protektif. Sedangkan masalah emosi dan perilaku remaja
didapatkan daritotal difficulties score.SDQ dapat digunakan untuk penilaian klinis dan
80% untuk mendeteksi gangguan psikiatri pada komunitas ( Brondo et al., 2011;
Verhulst & Ende, 2006).
1.6. Perjalanan Penyakit dan Prognosis
Masalah emosi dan perilaku yang tidak diselesaikan dengan baik, maka akan
memberikan dampak negatif terhadap perkembangan anak dan remaja tersebut di
kemudian hari, terutama terhadap pematangan karakternya dan memicu terjadinya
gangguan emosi dan perilaku yang dapat berupa perilaku berisiko tinggi. Hal ini
ditunjukkan dari 80% remaja berusia 11±15 tahun dikatakan pernah menunjukkan
perilaku berisiko seperti berkelakuan buruk di sekolah, penyalahgunaan zat, serta
perilaku antisosial (mencuri, berkelahi, atau membolos) dan 50% diantara mereka juga
menunjukkan adanya perilaku berisiko tinggi lainnya seperti mengemudi dalam keadaan
mabuk, melakukan hubungan seksual tanpa kontrasepsi, dan perilaku kriminal yang
bersifat minor (Satgas Remaja IDAI, 2010). SKRT 1995 menyebutkan angka
prevalensi pemakaian alkohol dan obat-obatan oleh remaja tahun 1991-1995 meningkat
sebanyak 2 kali lipat dari 11% menjadi 21% (Soelaryo dkk, 2010). Healy and Bronner
(1926) cit. Robins L.N. (1972) studi kohort prospektif 23 kasus anak bermasalah
sekolah dan bermasalah dengan jaksa dan polisi, setelah 10 tahun berjalan, bila
dibandingkan dengan anak normal ternyata didapatkan menderita neurosis dan psikotik.
Prognosis dari masalah emosi dan perilaku anak dan remaja sangat tergantung
kemampuan anak dan keluarga (orang tua) untuk belajar mengatasi gangguan tersebut
daripada tingkat keparahan gangguan. Resiliensi individu bisa jadi akan memperkuat
simptom yang ada pada saat dewasa nanti. Kemampuan kompensasi dan peningkatan
1.7. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan masalah emosi dan perilaku anak dan remaja dengan
memperkuat faktor protektif dan menurunkan faktor risiko pada seorang anak, maka
akan tercapailah kematangan kepribadian dan kemandirian sosial yang ditandai oleh :
Self awareness, yang ditandai dengan rasa keyakinan diri serta kesadaran akan
kekurangan dan kelebihan diri dalam konteks hubungan interpersonal yang positif.
Role of anticipation and role of experimentation, yaitu dorongan untuk
mengantisipasi peran positif tertentu dalam lingkungannya, serta adanya keberanian
untuk bereksperimen dengan perannya tersebut yang tentunya disertai kesadaran
akan kelebihan dan kekurangan yang ada dalam dirinya.Apprenticeship, yaitu kemauan
untuk belajar dari orang lain untuk meningkatkan kemampuan/ketrampilan dalam
belajar dan berkarya. Oleh karena itu untuk mewujudkannya pada anak dengan masalah
emosi dan perilaku diberikan psikoterapi dengan didukung psikofarmologi sesuai
dengan psikopatologinya (Dulcan & Lake, 2010).
Terdapat dua jenis modalitas terapi yang paling banyak diteliti untuk masalah
emosi dan perilaku anak dan remaja adalah Cognitive Behavior Therapy (CBT) dan
Interpersonal Psychotherapy (IP). Psikoterapi efektif dalam mengobati depresi pada
remaja baik berdiri sendiri maupun kombinasi dengan fluoxetine. CBT tidak lebih
superior dibanding jenis psikoterapi yang lain. Juga diketahui bahwa efek terapi
berkurang seiring waktu dan tak berpengaruh lagi setelah 1 tahun follow-up (Sadocket
al.,2009). Penelitiancluster-randomized controlled trial di Inggris yang diikuti selama
6 bulan didapatkan penurunan signifikan gejala depresi, kecemasan danconductdengan
diberikan terapi CBT kelompok pada anak usia 9-15 tahun dengan masalah internalisasi
Transaksional sangat kurang, sebagian besar studi kasus digunakan sebagai penunjang.
Hanya sejumlah kecil studi terkontrol tentang keefektifan terapi Analisis Transaksional
seperti Smith, Glass and Miller pada tahun 1980. Metaanalisis dari 8 studi terapi AT
terkontrol, melaporkan rata-rataeffect size AT adalah 0,67 sedikit lebih kecil dari
rata-rataeffect sizepsikoterapi jenis lain yaitu 0,85 (Corey, 2009).
2. Analisis Transaksional
Analisis Transaksional dipelopori oleh Erick Berne dan dikembangkan semenjak
tahun 1950, menekankan pada hubungan interaksional yang digunakan untuk terapi
individual dan kelompok. Transaksi merupakan proses pertukaran dalam suatu
hubungan, yang dipertukarkan adalah pesan-pesan baik verbal maupun non verbal.
Sedangkan yang dianalisis meliputi bagaimana bentuk, cara, dan isi dari komunikasi
mereka. Bentuk, cara, dan isi komunikasi dapat menggambarkan apakah seseorang
tersebut sedang mengalami masalah atau tidak (Jones and Nelson, 2006). Dengan
pemberian AT maka seseorang bisa mengenali dirinya sendiri dan dengan begitu mudah
mengenal orang lain juga. AT telah terbukti memudahkan komunikasi dengan sesama,
sehingga menjadi transaksi yang senada (Berne, 1961; Verhaar, 1989; Hukom, 1990;
De Blot, 2009). Pendekatan AT terdiri dari (1) analisis struktural, (2) analisis
transaksional, (3) analisis permainan, dan (4) analisis skrip (Jones and Nelson, 2006).
2.1. Analisis Struktural
Ego states adalah suatu pola konsisten dari perasaan dan pengalaman yang
secara langsung berhubungan dengan suatu pola perilaku konsisten yang sesuai. Setiap
manusia memperlihatkan tiga macam tampilan anutan yaitu: Orang tua (O), Dewasa (D)
postur) dan verbal (kata-kata dan kalimat serta nada suara). Penampilan Orang tua (O)
ketika individu ber[erilaku seperti orang tua, dibagi menjadi: OK (Orang tua kritikal)
dan OP (Orang tua pengasuh). Penampilan Dewasa (D) ketika individu bertigkah laku
secara rasional, melakukan testing terhadap realita. Penampilan Kanak (K) ketika
individu melakukan, berperasaan, bersikap seperti yang di lakukan pada waktu masih
kecil, dibagi menjadi : Penampilan KB (Kanak bebas) dan Penampilan KS (Kanak
sesuai) (Hukom, 1990).
Tiapego state dapat mempunyai ‘batas’ (boundery). Berne, mendefinisikanego
boundery sebagai suatu membran semipermiabel, melaluinya energi psikis dapat
mengalir dari satu ego state ke ego state yang lain. Ego boundary itu harus
semipermiabel, karena kalau tidak energi psikis akan terbendung di satu ego state saja
dan tidak dapat bergerak bebas spontan bila situasi berubah (Kolegium Psikiatri
Indonesia, 2008).
2.2. Analisis Transaksi
Ada tiga tipe utama transaksi yaitu: komplementer, menyilang, dan ulterior.
Transaksi komplementer ada kecenderungan untuk berkelanjutan, sehingga setiap
tanggapan kemudian menjadi suatu rangsangan baru lagi dan seterusnya. Sebaliknya
transaksi silang akan segera memutuskan komunikasi, transaksi silang paling umum
menyebabkan kesulitan pergaulan, perkawinan, percintaan, persahabatan atau dalam
pekerjaan. Transaksi ulterior adalah transaksi yang tersembunyi sebagian dan ada
agenda psikologis maupun sosial yang mendasari. Transaksi ulterior sering merupakan
suatu game/permainan (Harris, 1973). Dalam Analisis Transaksional sebuah belaian
(stroke) dianggap sebagai unit fundamental dari interaksi sosial. Tukar menukar belaian
dapat berupa:verbalataunon-verbal, positif atau negatif, bersyarat atau tidak bersyarat.
Stroke positif bilamana penerima pesan mengalami perasaan menyenangkan. Stroke
negatif bilamana penerima pesan mengalami perasaan menyakitkan (Honey, 2001).
Adanya belaian atau strokes akan menyebabkan adanya posisi hidup seseorang.
Belaian atau strokes positif (bersyarat atau tidak bersyarat) maka akan menimbulkan
perasaan I’m Ok (ASAS = Aku Senang Aman Sentosa), dan lazimnya bila seseorang
merasa SAS (Senang Aman Sentosa) maka orang tersebut ingin pula orang lain merasa
SAS (posisi hidup l’m Ok, You’re Ok atau ASAS, ASAS). Terdapat 4 posisi hidup,
adalah I’m Ok, You’re Ok atau ASAS, ASAS; I’m Ok, You’re not Ok atau ASAS,
ATISAS;I’m not Ok, You’re Ok, ATISAS, ASAS;I’m not Ok, You’re not Ok, ATISAS,
ATISAS. Tujuan terapi AT adalah untuk mencapai posisi hidupI’m Ok, You’re Okatau
ASAS, ASAS (Berne, 1961 ; Hukom, 1990).
2.3. Analisis Permainan (Games)
Permainan adalah rangkaian transaksi yang bersinambungan yang berakhir
dengan perasaan kurang enak dari paling tidak seorang pemain. Permainan itu
berkembang dengan tujuan menopang keputusan asli, dan merupakan bagian dari
suratan hidup/skrip seseorang. Jadi permainan itu merupakan bagian vital dari interaksi
seseorang dengan orang lain. Dan ini perlu untuk disadari apabila orang itu ingin untuk
mengurangi perilaku main permainan dan ingin hidup secara otentik. AT menolong
orang memahami sifat transaksi mereka dengan orang lain sehingga mereka bisa
memberi tanggapan terhadap orang lain dengan cara langsung, penuh dan akrab,
sehingga melakukan permainan kemudian dikurangi (Corey, 2009).
2.4. Analisis Skrip
Analisis skrip harus menjaga agar tidak berperilaku dengan cara yang
menguatkan skrip pasien. Maksud analisis skrip adalah membantu pasien untuk keluar
dari skripnya dan setelah itu bertingkah laku secara otonom. Analisis skrip bermaksud
untuk membantu pasien meninggalkan keputusan-keputusan awal, yang sebelumnya
telah dibuat di berbagai keadaan dan dengan aparatus neopsikis atau dewasa yang tidak
lengkap, dengan membuat kembali keputusan-keputusan ulang untuk membuat
perubahan (Jones & Nelson, 2011).
Sebagai anak-anak mungkin kita menemukan atau salah menerima pesan-pesan
yang diberikan orang tua kita, dan oleh karena itu dalam beberapa hal kita berikan
kepada diri kita injunksi kita sendiri untuk menghindari bahaya atau untuk tetap
bertahan hidup. Meskipun banyak dari injunksi ini yang mungkin cocok untuk situasi
tertentu di masa kanak-kanak, sekarang di alam dewasa semuanya tidak cocok lagi.
Bagian utama dari terapi AT terdiri dari meningkatkan kesadaran akan sifat-sifat
spesifik dari injunksi-injunksi yang membawa ke kesulitan-kesulitan di masa sekarang
(Corey, 2009).
2.5. Hipotesis Keseimbangan
Energi profil penampilan pribadi adalah tetap, bila ada energi pada salah satu
penampilan anutan bertambah, maka energi di penampilan anutan yang lain akan
berkurang. Yang dirumuskan sebagai hipotesis keseimbangan atau “constancy
hypothesis” sebagai berikut : (O+D+K) x a = T. Energi psikologik pada setiap orang
terbagi pada setiap penampilan anutan O, D dan K. Dengan fungsionalnya terbagi
menjadi OK, OP, D, KB dan KS. Sedangkan a=faktor non psikologis yang
imbalance hormone, gizi, ruda paksa, deprivasi sensoris. T = Faktor yang konstan,
tetap, merupakan jumlah energi yang tersedia pada setiap orang. Maka energi intrinsik
dikalikan dengan pengaruh ekstrinsik yang terlepas dari perkembangan psikologis,
jumlahnya 100% energi psikologis yang tersedia pada seseorang (Hukom, 1973).
2.6. Analisis Transaksional dalam Memperbaiki Masalah Emosi dan Perilaku Anak
dan Remaja
Anak dan remaja dengan masalah emosi dan perilaku seringkali mengalami
perlakukan yang tidak sesuai dari lingkungannya yang dapat berupa stigma negatif.
Guru merasa sulit mengajari mereka, melihat mereka sebagai anak-anak bodoh,
sehingga jarang memberikan masukan yang positif. Teman sebaya menjauhi mereka,
sehingga kesempatan untuk belajar bersosialisasi menjadi berkurang. Orangtua lebih
banyak memberikan kritik negatif sehingga interaksi antara orangtua dan anak
terganggu (Collet et al., 2001). Dengan kritik negatif orang tua terhadap anak akan
terjadi transaksi silang. Akibat transaksi silang juga akan terjadi kemarahan, orang akan
berpaling dan menjauh sehingga relasi orang tua anak terganggu. Relasi orang tua-anak
yang buruk akan menyebabkan hubungan interpersonal terganggu dan komunikasi
terganggu sehingga memerlukan psikoterapi AT (Corey, 2009).
Analisis Transaksional menyediakan suatu pendekatan terstruktur sehingga anak
dapat melihat hubungan diantara apa yang mereka pelajari dalam keluarga mereka
dengan perilaku mereka terhadap orang lain. Banyak anak usia muda mendapatkan
bahwa pendekatan terstruktur ini bermanfaat sebab membantu mereka memahami
bagaimana keluarga dan kebudayaan mereka mempengaruhi mereka. Tujuan utama AT
pada anak adalah untuk memfasilitasi wawasan/insight sehingga mereka mampu
anak mengembangkan pemahaman diri/self understandingini, mereka juga memperoleh
kemampuan membuat perubahan dalam diri mereka sendiri dan dalam transaksi mereka
dengan orang lain (Corey, 2009). Terapi Analisis Transaksional akan menguatkan
kemampuan seseorang untuk mengumpulkan, mengorganisir dan mengevaluasi
informasi agar Dewasa (D) dapat menilai lebih akurat. Bila Dewasa (D) menjadi
eksekutif, seseorang akan belajar untuk semakin banyak menerima stimulus melalui
Dewasa (D). Ia akan berhenti sejenak, mengobservasi, melihat dan mendengar, dan
berpikir sebelum membuat keputusan dan bertindak. Ia akan menentukan apa-apa dari
Orang tua (O) dan dari Kanak (K) yang tepat dan pantas untuk digunakan (Kolegium
Psikiatri Indonesia, 2008).
Program terapi AT menggunakan berbagai pendekatan sesuai masalah yang
diproritaskan untuk ditangani lebih dahulu, yaitu : (1). Pendekatan kontraktual, artinya
terdapat kontrak antara terapis dengan klien, yang menyatakan tujuan dan arah proses
terapi; (2). Pendekatan terapi Gestalt, sering digunakan dalam setting kelompok, yang
mendorong anggota kelompok secara spontan terlibat dalam interaksi satu sama lain.
Fokus terapi ditujukan pada kesadaran here and now; (3). Metode didaktik menjadi
prosedur dasar bagi AT, karena berhubungan dengan proses kognitif; (4). Analisis
struktural, dapat membantu klien dalam menemukan perwakilan ego yang menjadi
landasan tingkah lakunya; (5). Analisis transaksi, menjabarkan apa yang dilakukan dan
dikatakan oleh seseorang kepada orang lain; (6). Teknik kursi kosong, teknik ini
memberikan kesempatan kepada klien untuk menyatakan pikiran, perasaan, dan
sikapnya. Tujuannya untuk mengakhiri konflik yang tidak selesai di masa lampau; (7).
Permainan peran, biasanya dikombinasikan dengan teknik psikodrama; (8). Percontohan
mungkin orang yang berpengaruh di masa lampau termasuk dirinya (Corey, 2009;
Stewart & Tilney, 2011).
Psikoterapi AT menurut Harris (1973) bertujuan membuat setiap klien yang
mendapatkan terapi menjadi ahli/mahir dalam menganalisa transaksi-transaksinya
sendiri. Peran klien mempelajari dasar-dasar ego Orang Tua, Dewasa dan Anak,
kemudian klien bisa menggunakan dan merasakan kembali cara-cara transaksinya yang
lama dalam kelompok AT. Inti penyembuhan dari AT yaitu jika seorang klien bisa
menjelaskan dengan kata-katanya sendiri mengapa dia melakukan apa yang
dilakukannya dan bagaimana dia menghentikannya, maka dia sembuh dalam arti bahwa
dia mengetahui apa penyembuhan itu dan dia bisa menggunakannya berulang-ulang
kembali. Menurut Berne penyembuhan merupakan proses progresif yang berlangsung
dalam empat tahap yaitu kontrol sosial, penyembuhan gejala, penyembuhan transferensi
dan penyembuhan skrip. Atau dengan kata lain tercapainya perubahan diri menjadi
otonomi yang mampu memecahkan masalah dengan menggunakan sumber daya dewasa
seseorang dengan secara utuh untuk berpikir, merasakan dan berperilaku dalam
merespon realitas di sini dan saat ini secara sadar, spontanitas dan kemampuan untuk
menjalin kedekatan dengan orang lain tanpa manipulasi (Stewart & Tilney, 2011).
Analisis Transaksional sebagai salah satu bentuk psikoterapi berhubungan
dengan penurunan level kortisol, penurunan aktivasi sistem saraf simpatis, penurunan
level epinefrin dan norepinefrin, penurunan aktivasi sistem
renin-angiotensin-aldosteron, penurunan level IL-6, TNF-α, dan memperbaiki fungsi imun. Psikoterapi
juga mengaktivasi sistem saraf parasimpatis. Aktivasi sistem saraf parasimpatis ini
berhubungan dengan suatu penurunan inflamasi. Aktivasi saraf parasimpatis ini dapat
pelepasan sitokin proinflamasi termasuk IL-1, IL-6 dan TNF-α sehingga meredakan
proses inflamasi. Sistem saraf parasimpatis mempunyai pengaruh yang berlawanan
dengan aktivitas simpatis, menyebabkan tubuh menjadi mereda (wind down) dan
seimbang kembali (rebalance). Aktivasi saraf parasimpatis mempunyai pengaruh yang
menghambat aktivasi saraf simpatis (Marslandet al.. 2007).
AT akan mempengaruhi kognitif dan psikomotor anak sehingga bisa
memperbaiki emosi dan perilakunya melalui kortek frontal sedangkan psikofarmakologi
pada regio subkortikal otak tengah. Proses kognitif, psikomotor dan sensorimotor
berhubungan dengan korteks prefrontal dorsal, cinguli anterior dorsal, parietal, cinguli
posterior dan hipokampus. Proses kognitif yang nyata distimulasi emosi berhubungan
dengan korteks frontal medial, orbitofrontal dan cinguli anterior perigenual. Proses
kognitif-emosi yang tersembunyi dihubungkan oleh regio subkortikal dan temporal
medial, termasuk amigdala, ganglia basal ventral, nuklei dan struktur otak tengah.
Proses homeostasis tubuh yang berhubungan dengan emosi berhubungan dengan kortek
cinguli anterior subgenual, insula anterior dan hipothalamus. Nuklei batang otak dan
monoaminergik juga berpengaruh dalam proses ini. Pada akhirnya berdasarkan koneksi
dari berbagai regio dalam sirkuit dan kemampuan merespon yang sesuai, maka
psikofarmakologi bisa merubah sampai korteks frontal, demikian pula sebaliknya,
psikoterapi bisa merubah ke regio otak lebih dalam tidak hanya pada kortek frontal
(Holtzheimer & Mayberg, 2008).
3. Masalah Relasi Orang Tua-Anak
3.1. Diagnosis Masalah Relasi
Masalah relasi (Relational Problem) menurutDiagnostic and Statistical Manual
of Mental Disorders (DSM-IV-TR) termasuk dalam kategoriOther Condition That May
be A Focus of Clinical Attention yaitu gangguan yang diberi kode“V”. Masalah relasi
merupakan fokus perhatian klinis yang dapat menyebabkan eksaserbasi atau
mempersulit penanganan gangguan mental atau kondisi medis umum pada salah satu
atau lebih anggota dalam unit relasi tersebut. Masalah relasi dapat sebagai akibat
gangguan mental atau suatu kondisi medis umum atau independen terhadap kondisi lain
yang ada atau dapat juga muncul tanpa adanya kondisi lain yang menyertai, bila
masalah ini adalah fokus utama perhatian klinis, maka harus diletakkan pada Aksis I.
Jika tidak menjadi fokus utama perhatian klinis maka diletakkan pada Aksis IV.
3.2. Diagnosis Masalah Relasi Orang Tua-Anak
Menurut DSM-IV-TR kategori masalah relasi orang tua-anak digunakan bila
fokus perhatian klinis adalah suatu pola interaksi antara orang tua dan anak (misalnya
hendaya komunikasi, overprotection, inadequate discipline) yang berhubungan dengan
hendaya bermakna secara klinis secara fungsi individu atau keluarga atau
berkembangnya gejala-gejala yang bermakna secara klinis pada orang tua atau anak.
Sedangkan menurut DSM V, Masalah relasi orang tua-anak dihubungkan dengan
hendaya fungsi dalam perilaku, kognitif atau afektif. Contoh masalah perilaku adalah
kontrol, supervisi dan keterlibatan orang tua yang tidak adekuat; parental
overprotection; terjadinya kekerasan fisik; dan melarang tanpa memberikan solusi.
menjatuhkan atau mengkambinghitamkan yang lain dan perasaan khawatir. Masalah
afektif termasuk perasaan sedih, apatis atau marah kepada yang lain dalam relasi yang
disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan anak dan budaya setempat. Sedangkan
pengertian orang tua adalah seseorang sebagai caregiver utama bagi anak, bisa orang
tua biologis, adopsi, pengasuh atau saudara lainnya (kakek-nenek) yang mengganti
peran orang tua untuk anak (APA, 2013).
Penilaian dilakukan pada anak maupun orang tua, mencakup hal-hal yang
menimbulkan kesulitan atau gangguan pada proses interaksi orang tua anak. Masalah
relasi orang tua-anak dinilai dari persepsi, sikap, afek dan perilaku Diagnosis
ditegakkan tidak hanya pada perilaku yang diobservasi, tetapi juga melalui pengalaman
subjektif orang tua terhadap anak yang sering terekspresi pada saat wawancara klinis.
Dalam penjelasan kode V dari DSM-IV-TR dikatakan terdapat masalah relasi dalam
keluarga apabila didapatkan : anak mengalami kesulitan terhadap aturan atau disiplin
yang ditegakkan di rumah, orang tua khawatir masalah akademik anak,overprotection,
membatasi kapasitas untuk tumbuh, orang tua curiga anak menggunakan obat/alkohol,
orang tua memiliki konflik yang tidak terselesaikan (saling tidak menghargai),
perceraian atau keluarga terpisah-pisah.
4. Aplikasi Analisis Transaksional Dasar (AATD) Pada Masalah Relasi Orang
Tua-Anak
4.1. Pengertian
AATD merupakan pedoman psikoterapi analisis transaksional yang mencakup
analisis stuktural dan analisis fungsional dengan penggunaan kartu yang difokuskan
pada masalah relasi orang tua-anak yang disusun oleh Gst. Ayu Maharatih dkk (2013)
dengan ISBN 978-979-498-837-4, dibagi dalam 6 sesi terapi.
4.2. Proses Terapi
Sesi I. Dimulai membangun relasi dan kontrak terapi dengan klien. Terapis
mengenalkan diri dan membina rapportdengan klien menggunakan perilaku attending,
empati, refleksi, eksplorasi, menangkap pesan utama, bertanya untuk membuka
percakapan, bertanya tertutup dan memberikan dorongan minimal kepada klien.
Kontrak terapi agar klien mau terlibat aktif yang dilakukan 6 sesi, 120 menit, dilakukan
perekaman suara dan gambar dengan video. Setelah kontrak terapi dilanjutkan
mengenalkan analisis stuktural dengan menggunakan kartu-kartu analisis struktural
penampilan anutan Orangtua, Dewasa dan Kanak.
Sesi II. Sesi ini terapis memperdalam penguasaan analisis struktural pribadi
klien dengan memimpin arah pembicaraan, fokus pada pokok pembicaraan,
mengkonfrontasi inkonsistensi klien, memberi nasehat bila diminta, menyimpulkan
sementara setiap periode dan pemberian informasi jika diminta klien. Analisis
fungsional yang menerangkan egostate berdasarkan fungsinya dijelaskan pada sesi ini
dengan penilaian secara fisik dan pertanyaan yang mengandung unsur afektif, kognitif
dan perilaku (behavior). Klien dijelaskan tentang egostate Orangtua Kritikal, Orangtua
Pengasuh, Dewasa, Kanak Bebas dan Kanak Sesuai. Selanjutnya menggambarkan
fungsi-fungsi egostate dalam bentuk perbandingan (egogram). AT diperdalam dengan
menggunakan teknik interpretasi dan mengarahkan agar klien mengerti dan berubah
sesuai interpretasi terapis. Langkah berikutnya klien dijelaskan mengenai analisis
transaksi yang dibagi menjadi transaksi senada, transaksi silang dan transaksi
Sesi III.Masalah relasi orangtua-anak dan struktur keluarga, intervensi masalah
relasi dengan AATD. Menjelaskan interaksi dalam keluarga dalam bentuk matriks
transaksi, klien diminta menanggapi dan menggambarkan sendiri matriks transaksinya.
Klien dijelaskan bahwa peristiwa, perkataan dan respon yang tidak menyenangkan yang
dirasakannya dapat menyebabkan masalah relasi orangtua-anak. Selanjutnya klien
dijelaskan struktur keluarga berdasarkan SFT.
Sesi IV. Intervensi masalah relasi dan masalah relasi orang tua-anak dengan
AATD terkait struktur keluarga, strokes danlife position. Pada sesi ini klien diarahkan
untuk memahami penyebab masalah relasi dan masalah relasi orangtua-anak itu sendiri.
Dijelaskan juga struktur keluarga dan menggambarkan matriks struktur keluarga
berdasarkan SFT. Klien diminta mengoleksi dan mengenali strokes sehingga akan
meningkatkan pemberian strokes positif, mengurangi strokes negatif, tetapi tidak boleh
meniadakan strokes.
Sesi V. Intervensi masalah relasi orangtua-anak dengan AATD melalui
pendalaman strokes dan life position. Klien diminta melakukan role play berdasarkan
peristiwa yang terjadi dalam keluarga, kemudian dilakukan penilaian egostate, analisis
transaksi dan strokes yang didapat atau diberikan. Klien dijelaskan tentang life position
abnormal dengan memberikan feedback dari role play tersebut.
Sesi VI. Umpan balik, penilaian keberhasilan terapi dan negosiasi kontrak
berikutnya. Klien bersama terapis mengevaluasi keseluruhan sesi terapi mengenai
jalannya terapi yang sudah dilakukan, kemampuan terapis, keadaan klien sekarang dan
rencana program kedepan. Klien juga dijelaskan penilaian keberhasilan terapi. Menutup
sesi terapi dan menyusun kontrak baru.
4.3. Penilaian
Penilaian keberhasilan terapi berdasarkan tahap-tahapsymptomatic relief, social
control, transference cure dan autonomy.Symptomatic relief terdapat perbaikan gejala
atau mengalami kemajuan. Social control terdapat perbaikan meskipun masih terdapat
hendaya, gejala masih dapat dikontrol ketika berinteraksi dengan orang lain.
Transference cure bahwa klien dapat keluar dari script mereka selama mereka berada
dekat terapis mereka secara harfiah ataupun secara mental. Autonomy dimana egostate
dewasa klien mengambil alih peran terapis dengan mendapatkan kapasitas sikap yang
positif, kesadaran, spontanitas dan keintiman.
5. Teori Metode Penelitian Kualitatif
5.1. Pengertian
Metode penelitian kualitatif adalah salah satu jenis metode penelitian yang
melakukan pendekatan dengan memandang realitas sosial sebagai sesuatu yang
holistik/utuh, kompleks, dinamis, dan penuh makna. Holistik karena setiap aspek dari
objek itu mempunyai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Metode kualitatif
digunakan untuk mendapatkan data yang mendalam, suatu data yang mengandung
makna. Metode penelitian kualitatif sering disebut metode penelitian naturalistik karena
penelitian dilakukan pada kondisi objek yang alamiah (natural setting) dan penulis
sebagai instrumen kunci. Penelitian kualitatif berbeda dengan penelitian kuantitatif
yang berusaha menjelaskan hubungan sebab akibat, prediksi, serta generalisasi hasil.
Penelitian kualitatif berusaha mendapatkan pencerahan, pemahaman terhadap suatu
fenomena dan ekstrapolasi pada situasi yang sama (Golafshani, 2003; Sugiyono,
2005).
Penelitian kualitatif memiliki karakteristik adanya latar alamiah, langsung ke
sumber data; manusia sebagai alat atau instrumen kunci; analisis data secara induktif, di
mana pada saat penulis berusaha untuk memahami situasi yang sedang dipelajarinya, ia
tidak membawa harapan atau dugaan tertentu yang sudah dimiliki sebelum penelitian
berjalan; teori dari dasar (grounded theory); penelitian lebih bersifat deskriptif, data
yang terkumpul berbentuk kata-kata atau gambar, sehingga tidak menekankan pada
angka; lebih mementingkan proses dari pada hasil; adanya batas yang ditentukan oleh
focus; adanya kriteria khusus untuk keabsahan data; desain yang bersifat sementara
(Denzin dan Lincoln, 1994; Sugiyono, 2005).
Jenis-jenis penelitian kualitatif meliputi biografi, fenomenologi, grounded
theory, etnografi dan studi kasus. Biografi adalah studi yang berdasarkan kepada
kumpulan dokumen tentang kehidupan seseorang yang melukiskan momen penting
yang terjadi dalam kehidupannya tersebut. Fenomenologi melihat dan memahami arti
dari suatu pengalaman individual yang berkaitan dengan fenomena tertentu.Grounded
theory dikhususkan untuk menemukan atau menghasilkan teori dari suatu fenomena
yang berkaitan dengan situasi tertentu. Etnografi merupakan studi yang difokuskan pada
penjelasan deskriptif dan interpretasi terhadap budaya dan sistem sosial suatu
kelompok/masyarakat tertentu melalui pengamatan dan penghayatan langsung terhadap
kelompok/masyarakat yang diteliti. Studi kasus: suatu model yang bersifat
komprehensif, intens, terperinci, dan mendalam, serta lebih diarahkan untuk menelaah
masalah-masalah atau fenomena yang bersifat kontemporer (berbatas waktu) (Denzin
dan Lincoln, 1994; Herdiansyah, 2010).
5.2. Studi Kasus
Studi kasus merupakan suatu model yang menekankan pada eksplorasi dari
suatu sistem yang berbatas (bounded system) pada satu kasus atau beberapa kasus secara
mendetail, disertai dengan penggalian data secara mendalam yang melibatkan beragam
sumber informasi yang kaya akan konteks (Creswell, 1998 cit. Herdiansyah, 2010).
Studi kasus berupaya menjawab pertanyaan-pertanyaan how (bagaimana) dan why
(mengapa), dan pada tingkat tertententu juga menjawab what (apa/apakah), dalam
kegiatan penelitian (Yin, 1996 cit. Bungin, 2012). Selain itu studi kasus dapat
merupakan single-case studies (studi kasus tunggal), multi-case studies (studi multi
kasus), dancomparative-case studies(studi kasus perbandingan) (Bungin, 2012).
Studi kasus mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan dengan desain
penelitian lain, yaitu : bersifat luwes berkenaan dalam hal pengumpulan data yang
digunakan dapat lebih menjangkau dimensi yang lebih spesifik dari topik yang
diselidiki, dapat dilakukan secara lebih praktis pada banyak lingkungan sosial, studi
kasus dapat digunakan sebagai penguji suatu teori, dapat dilakukan dengan dana sedikit
jika dilakukan dengan metode pengumpulan data yang sederhana (Black & Champion,
1992 cit. Herdiansyah, 2010). Akan tetapi, di samping keunggulan yang ditawarkan,
studi kasus juga mempunyai kelemahan-kelemahan sebagai berikut : studi kasus kurang
memberikan dasar yang kuat untuk melakukan suatu generalisasi ilmiah, kedalaman
studi yang dilakukan tanpa banyak disadari justru dapat mengorbankan tingkat keluasan
yang seharusnya dilakukan, sehingga sulit digeneralisasikan pada keadaan yang berlaku
umum dan studi kasus cenderung kurang mampu mengendalikan bias subjektivitas
peneliti (Bungin, 2012).
5.3. Metode Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif dengan Wawancara,
Observasi, Studi dokumentasi danFocus Group Discussion (FGD). Wawancara adalah
pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga
dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu. Wawancara dilakukan untuk
mengetahui apa yang ada di pikiran individu dan memperoleh pemahaman terhadap
perspektif individu dalam menginterpretasikan situasi dan fenomena yang terjadi, di
mana hal ini tidak bisa ditemukan dalam observasi. Pewawancara tidak membawa
hal-hal atau asumsi tertentu yang sudah dimilikinya ke dalam pemikiran individu yang
diwawancarai (Stainback, 1988 cit. Sugiyono 2005). Berdasarkan prosesnya,
wawancara dibagi menjadi 3 macam yaitu stuctured interview, unstructured interview,
dan semi structured/focused interview (Esterberg, 2002 cit. Sugiyono 2005;
Herdiansyah, 2010).
Observasi dilakukan sebagai metode penunjang pengumpulan data yang esensial
dalam penelitian, terutama penelitian dengan metode pendekatan kualitatif. Metode
observasi digunakan sebagai metode penunjang dengan dasar pemikiran bahwa melalui
observasi memungkinkan peneliti untuk bersikap terbuka, berorientasi pada penemuan
daripada pembuktian, dan mempertahankan pilihan untuk mendekati masalah secara
induktif. Dengan berada dalam situasi lapangan yang nyata, kecenderungan untuk
dipengaruhi berbagai konseptualisasi (yang ada sebelum penelitian dilaksanakan)
tentang topik yang diamati akan berkurang. Dalam penelitian kualitatif, bentuk
observasi yang dapat digunakan, yaitu observasi partisipasi, observasi tidak terstruktur,
dan observasi kelompok tidak terstruktur (Sugiyono, 2005).