• Tidak ada hasil yang ditemukan

TESIS YEKTI NURHAENI S501008069

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "TESIS YEKTI NURHAENI S501008069"

Copied!
119
0
0

Teks penuh

(1)

i

PENERAPAN ANALISIS TRANSAKSIONAL DASAR

UNTUK MEMPERBAIKI MASALAH EMOSI DAN

PERILAKU ANAK DAN REMAJA

TESIS

Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Magister Program Studi Kedokteran Keluarga

Minat Utama Ilmu Biomedik

Oleh

Yekti Nurhaeni

S501008069

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2015

(2)

ii

PENERAPAN ANALISIS TRANSAKSIONAL DASAR

UNTUK MEMPERBAIKI MASALAH EMOSI DAN

PERILAKU ANAK DAN REMAJA

TESIS

Oleh

Yekti Nurhaeni

S501008069

Komisi Pembimbing Nama Tanda Tangan Tanggal

Pembimbing I Prof. Dr. Aris Sudiyanto dr. SpKJ(K) ...…. 5-3-2015

NIP 195001311976031001

Pembimbing II Prof. Dr. M. Fanani, dr. SpKJ(K) ……....…. 5-3-2015 NIP 195107111980031001

Telah dinyatakan memenuhi syarat

pada tanggal 5 Maret 2015

Ketua Program Studi Magister Kedokteran Keluarga

Program Pascasarjana UNS

Dr. Hari Wujoso, dr., SpF, MM NIP 196210221995031001

(3)

iii

PENERAPAN ANALISIS TRANSAKSIONAL DASAR UNTUK

MEMPERBAIKI MASALAH EMOSI DAN PERILAKU

ANAK DAN REMAJA

TESIS

Oleh Yekti Nurhaeni

S501008069

Telah dipertahankan di depan penguji dan dinyatakan telah memenuhi syarat

pada tanggal 20 Maret 2015

Tim Penguji :

Jabatan Nama Tanda Tangan

Ketua Dr. Hari Wujoso, dr. SpF, MM .….…..……

NIP 196210221995031001

Sekretaris Prof. Dr. M. Syamsulhadi, dr. Sp.KJ (K) ...………..

NIP 194611021976091001

Anggota Penguji Prof. Dr. Aris Sudiyanto dr. SpKJ(K) ...

NIP 195001311976031001

Prof. Dr. M. Fanani, dr. SpKJ(K) ...

NIP 195107111980031001

Mengetahui :

Direktur Ketua Program Studi

Program Pascasarjana Kedokteran Keluarga

Prof. Dr. Ahmad Yunus, Ir., MS Dr. Hari Wujoso, dr. SpF, MM

NIP 196107171986011001 NIP 196210221995031001

(4)

iv

PERNYATAAN KEASLIAN DAN PERSYARATAN

PUBLIKASI

Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa :

1. Tesis yang berjudul: “PENERAPAN ANALISIS TRANSAKSIONAL DASAR

UNTUK MEMPERBAIKI MASALAH EMOSI DAN PERILAKU ANAK DAN

REMAJA” ini adalah karya penelitian saya sendiri dan tidak terdapat karya ilmiah

yang pernah diajukan oleh orang lain untuk memperoleh gelar akademik serta tidak

terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain

kecuali secara tertulis digunakan sebagai acuan yang disebutkan sumbernya, baik

dalam karangan dan daftar pustaka. Apabila ternyata dalam naskah tesis ini dapat

dibuktikan terdapat unsur-unsur plagiasi, maka saya bersedia menerima sanksi, baik

Tesis serta gelar magister saya dibatalkan sesuai dengan peraturan

perundang-undangan yang berlaku.

2. Publikasi sebagian atau keseluruhan isi Tesis pada jurnal atau forum ilmiah harus

menyertakan tim promotor sebagai author dan PPs UNS sebagai institusinya.

Apabila saya melakukan pelanggaran dari ketentuan publikasi ini maka saya

bersedia mendapat sanksi akademik yang berlaku.

Surakarta, 20 Maret 2015

Yekti Nurhaeni

(5)

v

KATA PENGANTAR

Puji syukur selalu dipanjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan

karuniaNya sehingga penyusunan tesis ini dapat terwujud. Tesis ini dibuat untuk

memenuhi salah satu syarat dalam kurikulum Program Studi Kedokteran Keluarga

Minat Utama Ilmu Biomedik Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Sebelas Maret

Surakarta.

Pada kesempatan ini penyusun mengucapkan terima kasih yang

sebesar-besarnya kepada yang kami hormati:

1. Prof. Dr. Ravik Karsidi, Drs., MS, selaku Rektor Universitas Sebelas Maret

Surakarta, yang telah memberikan kesempatan pada penulis untuk menggunakan

fasilitas yang ada di lingkungan kampus.

2. Prof. Dr. Ahmad Yunus, Ir., MS, selaku Direktur Program Pascasarjana Universitas

Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan ijin untuk kelancaran penyusunan

tesis ini.

3. Dr. Hari Wujoso, dr., Sp F., MM., selaku ketua Program Studi Magister

Kedokteran Keluarga Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta,

yang telah membantu terlaksananya ujian sehingga berjalan lancar.

4. Ari Natalia Probandi, dr., MPH., PhD., selaku Sekretaris Program Studi Magister

Kedokteran Keluarga Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta.

5. Prof. Dr. H. Aris Sudiyanto, dr. SpKJ(K), selaku pembimbing yang telah

memberikan bimbingan dan mengarahkan dalam penyusunan tesis ini.

6. Prof. Dr. H. Moh. Fanani, dr. SpKJ(K), selaku pembimbing yang telah

(6)

vi

7. Prof. Dr. H. Muchamad Syamsulhadi, dr. SpKJ(K) selaku Guru Besar atas

bimbingan dan saran penyusunan tesis ini.

8. Dosen Program Studi Magister Kedokteran Keluarga Minat Utama Ilmu Biomedik

Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta, yang telah memberi

ilmu dan pengetahuan kepada penulis

9. Staf Sekretaris Program Studi Magister Kedokteran Keluarga Program Pascasarjana

Universitas Sebelas Maret Surakarta, yang telah membantu terlaksananya ujian

sehingga dapat berjalan dengan lancar.

10. Seluruh Rekan Residen PPDS I Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Negeri

Sebelas Maret / RSUD Dr Moewardi Surakarta yang memberikan dukungan baik

moril maupun materil kepada penyusun selama menjalani pendidikan.

Tesis ini banyak terdapat kekurangan, untuk itu penyusun mohon maaf dan

sangat mengharapkan saran serta kritik dalam rangka perbaikan tesis ini.

Surakarta, Maret 2015

Penyusun

(7)

vii

Yekti Nurhaeni, S501008069. 2015. “PENERAPAN ANALISIS TRANSAKSIONAL DASAR UNTUK MEMPERBAIKI MASALAH EMOSI DAN PERILAKU ANAK DAN REMAJA. TESIS. Pembimbing I: Prof. Dr. H. Aris Sudiyanto, dr. SpKJ (K). Pembimbing II : Prof Dr. HM. Fanani, dr. SpKJ(K). Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta.

ABSTRAK

Latar Belakang : Masalah emosi dan perilaku anak dan remaja memberikan dampak negatif terhadap perkembangan, menimbulkan hendaya dan menurunkan produktifitas serta kualitas hidup yang bermanifestasi perilaku internalisasi (menarik diri) atau eksternalisasi (menentang) atau kedua-duanya. Selain itu akan menambah beban keluarga, mengganggu relasi orang tua-anak dan mempersulit pengasuhan. Analisis Transaksional adalah psikoterapi yang menekankan pada hubungan interaksional diharapkan mampu memperbaiki masalah relasi orang tua-anak, sehingga masalah emosi dan perilaku anak dan remaja bisa diperbaiki.

Tujuan : Mengetahui keefektifan Analisis Transaksional Dasar untuk memperbaiki masalah emosi dan perilaku anak dan remaja.

Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif berbentuk studi kasus bertujuan untuk memperbaiki masalah emosi dan perilaku anak dan remaja pada keluarga dengan masalah relasi orang tua-anak dengan melakukan terapi Analisis Transaksional Dasar menggunakan pedoman Aplikasi Analisis Transaksional Dasar pada Masalah Relasi Orang Tua-Anak.

Hasil : Analisis Transaksional Dasar dilakukan pada dua kasus anak dan remaja yang mengalami eksternalisasi dan internalisasi menunjukkan perbaikan pada tarafborderline berdasarkan penilaian Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ) dan perbaikan gejala (symptomatic relief) yang merupakan tahap awal keberhasilan terapi.

Kesimpulan : Analisis Transaksional Dasar dapat dipergunakan untuk memperbaiki masalah emosi dan perilaku anak dan remaja.

Kata kunci : Analisis Transaksional Dasar, masalah emosi dan perilaku anak dan remaja.

(8)

viii

Yekti Nurhaeni, S501008069. 2015. APPLICATION OF BASIC TRANSACTIONAL ANALYSIS TO IMPROVE EMOTIONAL AND BEHAVIORAL PROBLEMS IN CHILDREN AND ADOLESCENT. THESIS. Supervisor I: Prof. Dr H. Aris Sudiyanto, dr. SpKJ(K). Supervisor II: Prof. Dr. HM. Fanani, dr. SpKJ(K). Postgraduate Program, Sebelas Maret University of Surakarta.

ABSTRACT

Background : The emotion and behavior problem in children and adolescent show a negative impact on the development, causing impairment and decreased in productivity and quality of life that manifests as a internalizing behavior (withdraw) or externalizing (against) or both. Additionally, it will increase the family burden, disrupt parent-child relationships and compound the nurturing. Transactional Analysis is a psychotherapy that emphasizes the interactional relationships which is expected to fix parent-child relationship problem, so that the child and adolescent's emotional and behavioral problems can be fixed.

Objective : To find out the effectivity of Basic Transactional Analysis therapy to improve emotional and behavioral problems in children and adolescent.

Methods : This study is a qualitative and use the case studies that aim to improve emotional and behavioral problems of children and adolescent in families that have the parent-child relationship problem using Basic Transactional Analysis as the therapy based on “Basic Application of Transactional Analysis on Parent-Child Relationships problems”guidelines.

Results : Application of Basic Transactional Analysis performed on two cases of children and adolescent with externalizing and internalizing have showed improvement at the borderline level based on Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ) assessment and improvement on symptoms (symptomatic relief) which is the initial phase of a succes therapy.

Conclusion : Application of Basic Transactional Analysis can be used to improve emotional and behavioral problems in children and adolescent.

Keywords : Basic Transactional Analysis, emotional and behavioral problems in children and adolescent.

(9)

ix DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

PERNYATAAN... ... iv

KATA PENGANTAR... v

ABSTRAK... ... . vii

ABSTRACT... ... viii

DAFTAR ISI... ... ix

DAFTAR GRAFIK.. ... xiii

DAFTAR SKEMA DAN TABEL ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN... ... xv

DAFTAR SINGKATAN ... xvi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Konteks Penelitian ... 1

B. Fokus Kajian Penelitian ... 4

C. Tujuan Penelitian ... 4

D. Manfaat Penelitian ... 5

BAB II LANDASAN TEORI... 6

A. Tinjauan Pustaka ... 6

1. Masalah Emosi dan Perilaku pada Anak dan Remaja... 6

a. Pengertian ... 6

b. Epidemiologi ... 7

c. Faktor Risiko... 7

(10)

x

e. Penilaian... 11

f. Perjalanan Penyakit dan Prognosis ... ... 13

g. Penatalaksanaan ... 14

2. Analisis Transaksional ... 15

a. Analisis Struktural ... 15

b. Analisis Transaksi ... 16

c. Analisis Permainan ... 17

d. Analisis Skrip ...………... 18

e. Hipotesis Keseimbangan... 18

f. Analisis Transaksional dalam Memperbaiki Masalah Emosi dan Perilaku pada Anak dan Remaja ... 19

3. Masalah Relasi Orang Tua-Anak ... 23

a. Diagnosis Masalah Relasi ... 23

b. Diagnosis Masalah Relasi Orang Tua-Anak ... 23

4. Aplikasi Analisis Transaksional Dasar (AATD) Pada Masalah Relasi Orang Tua-Anak... 24

a. Pengertian... 24

b. Proses Terapi... 25

c. Penilaian ... 27

5. Teori Metode Penelitian Kualitatif ... 27

a. Pengertian... 27

b. Studi Kasus ... 29

c. Metode Pengumpulan Data ... 30

(11)

xi

e. Keabsahan Data... 32

f. Triangulasi ... 32

g. Prosedur Analisis Data... 33

Kerangka teori 1... 35

Kerangka teori 2... 36

B.Kerangka Konsep…...…………...…………... 37

BAB III METODE PENELITIAN... 38

A. Desain Penelitian ... 38

B. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 38

C. Instrumen Penelitian ... 38

D. Populasi dan Sampel Penelitian ... 39

E. Definisi Konsep ... 40

F. Cara Pengambilan Sampel (Subjek) dan Besar Sampel ... 40

G. Metode Pengumpulan Data... 41

H. Analisis dan Penyajian Data ... 41

I. Pengujian Keabsahan Data... 41

J. Cara Kerja ... 42

K. Etika Penelitian ... 43

L. Kerangka Kerja ... 44

BAB IV HASIL PENELITIAN... ... 45

A. Gambaran Umum... ... 45

B. Gambaran Kasus I... ... 46

C. Gambaran Kasus II... 58

(12)

xii

BAB V PEMBAHASAN... ... 69

A. Pembahasan Kasus... ... 69

B. Pelaksanaan Terapi Analisis Transaksional Dasar... 71

C. Keterbatasan Penelitian... 77

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN... 78

A. Kesimpulan... ... 78

B. Saran... 79

DAFTAR PUSTAKA ... 80

LAMPIRAN... ... 85

(13)

xiii

Perbandingan egogram ibu pasien R………...

Perbandingan egogram ayah pasien R ...….

Penilaian SDQ sebelum terapi pasien R...…

Perbandingan SDQ sebelum dan sesudah terapi pasien R...…

Perbandingan egogram pasien G ...…

Perbandingan egogram ibu pasien G…...

Perbandingan egogram ayah pasien G……...…

Penilaian SDQ sebelum terapi pasien G...…

Perbandingan SDQ sebelum dan sesudah terapi pasien G...…

(14)

xiv

Kerangka kerja penelitian……….……

Matriks transaksi pasien R dengan ibunya...

Matriks transaksi pasien R dengan ayahnya...

Matriks transaksi pasien G dengan ibunya...

Matriks transaksi pasien G dengan ayahnya...

(15)

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1

Lampiran 2

Lampiran 3

Lampiran 4

Lampiran 5

Lampiran 6

Lampiran 7

Lampiran 8

Data Peserta Penelitian………...

Penjelasan Tentang Penelitian………...………...………....…..

Persetujuan Penelitian………...………..

Daftar Tilik Implementasi Modul AT Dasar...

Penilaian Ketrampilan Perilaku Interpesonal...

Skala Egogram UNS...

Strength and Difficulties Questionaire………...…………

Ethical Clearance...…………...……… 85

86

88

89

94

96

101

102

(16)

xvi

DAFTAR SINGKATAN KATA

AATD : Aplikasi Analisis Transaksional Dasar

aCg24b : Broadmann area 24b/dorsal-perigenual anterior cingulate cortex

a-ins : anterior insula

amg : amygdala

ANS :autonomic nervous sistem

AT : Analisis Transaksional

bstem : brain stem

CBT :Cognitive Behavior Therapy

cd-vst : ventral caudate-ventral striatum

D : Dewasa

DBS : deep brain stimulation of Broadmann area 25

hc : hippocampus

hth : hypothalamus

IPT :Interpersonal Psychotherapy

K : Kanak

KB : Kanak Bebas

KS : Kanak Sesuai

mb-sn : midbrain-subthalamic nuclei

mCg24c : Broadmann area 24c/dorsal anterior cingulate cortex

MEDS : antidepressant medications

mF9/10 : medial frontal cortex

O : Orang tua

oF11 : orbitofrontal cortex

OK : Orang tua Kritikal

OP : Orang tua Pembina

Par40 : dorsal parietal

(17)

xvii pCg : posterior cingulate gyrus

PF9/46 : dorsolateral prefrontal cortex

PM6 : premotor area

rCg24a : Broadmann area 24a/perigenual-subgenual cingulate cortex

RSDM : Rumah Sakit Dr. Moewardi

RSJD : Rumah Sakit Jiwa Daerah

SDQ :Strengths and Difficulties Questionnaire

sgCg25 : Broadmann area 25/subgenual cingulate cortex

SMA : Sekolah Menengah Atas

SMP : Sekolah Menengah Pertama

thal : thalamus

WHO :World Health Organization

(18)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Konteks Penelitian

Masalah emosi dan perilaku pada anak dan remaja merupakan masalah yang

cukup serius karena memberikan dampak negatif terhadap perkembangan,

menimbulkan hendaya dan menurunkan produktivitas serta kualitas hidup mereka.

Anak dan remaja dengan masalah emosi dan perilaku mempunyai kerentanan untuk

mengalami hendaya dalam fungsi kehidupan sehari-hari, terutama dalam fungsi belajar

dan sosialisasi (Wiguna dkk., 2010). Masalah emosi dan perilaku pada anak dan remaja

mengakibatkan kesulitan dalam belajar karena tidak mampu berkonsentrasi terhadap

pelajaran, kemampuan mengingat yang buruk, atau bertingkah yang tidak sesuai di

dalam lingkungan sekolah, akan meningkatkan angka kenakalan dan kriminalitas di

masa dewasa (Blanchardet al., 2006).

Insidensi di dunia menurutWorld Health Organization (WHO)didapatkan 1 dari

5 anak yang berusia kurang dari 16 tahun mengalami masalah emosi dan perilaku.

Anak yang berusia 4-15 tahun yang mengalami emosi dan perilaku sebanyak 104 permil

anak. Angka kejadian tersebut makin tinggi pada kelompok usia di atas 15 tahun, yaitu

140 permil anak (Damayanti, 2011). Sedangkan prevalensi di seluruh dunia sebesar

20% menurut WHO dalam European Ministerial Conference (Deenadayalan et al.,

2010). Satu setengah juta anak di Amerika Serikat dilaporkan orang tuanya memiliki

masalah emosional, perkembangan dan perilaku yang persisten. Orang tua tersebut 41%

mengeluhkan anaknya mengalami kesulitan belajar dan 36% khawatir akan mengalami

(19)

12,5% anak usia 6-12 tahun memiliki masalah emosi dan perilaku (Woo BSC et al.,

2007). Sedangkan di Indonesia, penelitian Hartanto F. Dan Selina H. (2011) prevalensi

masalah emosi dan perilaku sebesar 9,1% pada siswa Sekolah Menengah Pertama

(SMP) di kota Semarang tahun 2009. Penelitian di Semarang pada tahun berikutnya

didapatkan prevalensi masalah emosi dan perilaku 10-14,3% (Diananta, 2012). Hal ini

menunjukkan bahwa masalah emosi dan perilaku anak dan remaja dari tahun ke tahun

mengalami peningkatan dari tahun 2009-2011. Pada kunjungan poli tumbuh kembang

anak RSJD Surakarta pada tahun 2013 didapatkan prevalensi masalah emosi dan

perilaku pada anak sebesar 26%.

Berbagai faktor biopsikososial sering dikaitkan dengan terjadinya masalah

emosi dan perilaku pada anak dan remaja, seperti adanya penyakitfisik, pola asuh yang

inadekuat, kekerasan dalam rumah tangga, hubungan dengan teman sebaya yang

inadekuat, serta kemiskinan yang mempengaruhi proses perkembangan kognitif anak

sehingga anak lebih memandang negatif lingkungan sekitar dan persepsi negatif

terhadap dirinya yang memicu terjadinya internalisasi dalam dirinya. Stresor

biopsikososial juga berkaitan dengan eksternalisasi anak berupa peningkatan emosi

negatif, perilaku disruptif dan impulsif, serta menimbulkan cara-cara interaksi yang

negatif sehingga berdampak pada hubungan dengan teman sebaya yang tidak optimal

(Gimbel & Holland, 2003 cit. Wiguna dkk., 2010; Blanchard et al., 2006). Anak dan

remaja dengan masalah emosi dan perilaku seringkali mengalami perlakuan yang tidak

sesuai dari lingkungannya yang dapat berupa stigma negatif. Guru merasa sulit

mengajari mereka, melihat mereka sebagai anak-anak bodoh, sehingga jarang

memberikan masukan yang positif. Teman sebaya menjauhi mereka, sehingga

(20)

memberikan kritik negatif sehingga tidak jarang interaksi antara orangtua dan anak

terganggu (Collet et al., 2001). Selain itu menurut Blanchard et al., (2006) anak dan

remaja dengan masalah emosi dan perilaku akan menambah beban keluarga,

mengganggu relasi orang tua-anak dan mempersulit pengasuhan.

Pola asuh orang tua sangat besar pengaruhnya bagi anak. Orang tua yang

menerapkan pola asuh otoriter, permisif danneglectful parentakan menyebabkan relasi

orang tua-anak buruk dan mendukung terjadinya masalah emosi dan perilaku pada anak

dan remaja (Levy, 1972; Adams & Gullotta, 1983). Dinamika dan relasi antara anggota

dalam keluarga juga memainkan peran yang cukup penting bagi anak. (Adams &

Gullotta, 1983: Soetjiningsih, 2004). Relasi orang tua-anak yang buruk akan

menyebabkan hubungan interpersonal terganggu dan komunikasi terganggu. Dalam

istilah Analisis Transaksional (AT) akan terjadi disfungsi komunikasi, yang disebabkan

adanya transaksi silang. Akibat transaksi silang akan terjadi kemarahan serta

menimbulkan masalah emosi dan perilaku pada anak, sehingga memerlukan psikoterapi

AT (Corey, 2009).

Modalitas terapi untuk penangangan masalah emosi dan perilaku anak yang

terbanyak dilakukan adalah Cognitive Behavior Therapy (CBT) dan Interpersonal

Psychotheraphy (IP) (Sadock et al., 2009). Penelitian RCT dengan CBT kelompok

terbukti efektif menurunkan gejala internalisasi dan eksternalisasi masalah emosi dan

perilaku pada anak dan remaja (Barret et al., 2013). Penelitian CBT dan IP selama ini

belum ada yang menggunakan setting keluarga dalam menangani masalah emosi dan

perilaku pada anak dan remaja. Modalitas lainnya yang dapat digunakan adalah Analisis

Transaksional (AT) untuk memperbaiki masalah emosi dan perilaku pada anak yang

(21)

yang diambil dari bahasa sehari-hari (Orang tua, Dewasa, Kanak) sehingga mudah

dimengerti oleh klien. Selain itu AT merupakan teori praktis tentang kepribadian dan

teknik berkomunikasi yang canggih sehingga individu akan bisa mengenal dirinya

sendiri, lebih mudah mengenal orang lain dan memudahkan berkomunikasi dengan

sesamanya (Hukom, 1990). Namun sejauh ini masih belum banyak yang melakukan

studi psikoterapi AT pada anak dan orang tuanya dalam memperbaiki masalah emosi

dan perilaku anak baik di dalam maupun di luar negeri. Penelitian kualitatif Maharatih

(2011) penggunaan AT fokus pada masalah relasi orang tua-anak menunjukkan hasil

yang baik.

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis ingin melakukan penelitian

lanjutan tentang“Penerapan Analisis Transaksional Dasar untuk Memperbaiki Masalah

Emosi dan Perilaku Anak dan Remaja.”

B. Fokus Kajian Penelitian

Bagaimana penerapan Analisis Transaksional Dasar untuk memperbaiki masalah

emosi dan perilaku anak dan remaja?

C. Tujuan Penelitian

Mengetahui keefektifan Analisis Transaksional Dasar untuk memperbaiki

masalah emosi dan perilaku anak dan remaja.

(22)

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

a. Untuk memperdalam psikoterapi pada ilmu kedokteran jiwa, khususnya Analisis

Transaksional.

b. Dapat menjadi landasan penelitian selanjutnya tentang psikoterapi Analisis

Transaksional, bahan untuk analisis kebutuhan layanan kesehatan khususnya pada

masalah emosi dan perilaku anak dan remaja.

2. Manfaat Praktis

a. Penelitian ini dapat digunakan untuk mengetahui keefektifan psikoterapi Analisis

Transaksional Dasar untuk memperbaiki masalah emosi dan perilaku anak dan

remaja.

b. Dapat digunakan sebagai landasan penyusunan Standart Operasional Procedure

(SOP)untuk penatalaksanaan masalah emosi dan perilaku anak dan remaja.

(23)

6

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

1. Masalah Emosi dan Perilaku Anak dan Remaja

1.1. Pengertian

Masalah emosi dan perilaku anak dan remaja merupakan reaksi dan peningkatan

keadaan emosional yang bermakna, terjadi pada usia yang tidak lazim yang disertai

suatu derajat gangguan fungsi yang menetap yang tidak lazim (Departemen Kesehatan

RI, 1993). Masalah emosi dan perilaku anak dan remaja adalah ditandai dengan perilaku

yang sering tidak sesuai dengan lingkungan dan sering menghambat proses belajar dan

relasi. Anak dan remaja dengan masalah emosi dan perilaku sering menunjukkan

internalisasi (menarik diri) atau eksternalisasi (menentang) atau kedua-duanya

(Coleman & Webber, 2002; Conway, 2005; Rogers, 2004 cit. Handy et al., 2005).

Demikian pula menurut Davison et al. (2006) masalah emosi dan perilaku anak dan

remaja dikelompokkan dalam gangguan eksternalisasi dan gangguan internalisasi.

Gangguan eksternalisasi ditandai dengan perilaku yang lebih diarahkan ke luar diri,

seperti agresivitas, ketidakpatuhan, overaktifitas dan impulsifitas, dan termasuk

berbagai kategori DSM-IV-TR yaitu ADHD, gangguan tingkah laku dan gangguan

sikap menentang. Sedangkan gangguan internalisasi ditandai dengan pengalaman dan

perilaku yang lebih terfokus ke dalam diri seperti depresi, menarik diri dari pergaulan

(24)

1.2. Epidemiologi

Prevalensi masalah emosi dan perilaku anak dan remaja sulit ditentukan

dikarenakan luasnya tahap perkembangan dan keragaman perilaku anak dari bayi

sampai remaja. Perilaku spesifik akan meningkat dan menurun berdasarkan usia.

Sebagai contoh takut, khawatir, mimpi buruk,toilet problem, tantrum menurun saat usia

sekolah sedangkan perilaku disruptif menurun saat usia pre sekolah dan meningkat saat

menginjak remaja (Schroeder CS & Gordon BN, 2002). Namun demikian dalam sebuah

review studi epidemiologi dari berbagai negeri oleh Bird (1996) didapatkan estimasi

prevalensi masalah emosi dan perilaku anak sebesar 12,4% - 51,3%. Ketika yang

dimasukkan adalah gangguan psikiatri berat pada anak akan menurun 5,9% - 19,4%.

Prevalensi di Amerika Serikat berkisar 17,6% - 22% (Davisonet al., 2006). Sedangkan

dari berbagai latar belakang budaya di dunia didapatkan perilaku eksternalisasi secara

konsisten lebih sering ditemukan pada anak laki-laki dan perilaku internalisasi lebih

sering terjadi pada anak perempuan, terutama pada masa remaja (Weisz et al., 1987cit.

Davison et al., 2006; Shoval et al., 2013). Sebuah studi deskriptif mengenai masalah

emosi dan perilaku pada anak oleh Wiguna dkk., (2010) di RSCM Jakarta dari 161

subjek didapatkan 65,90% berusia kurang 12 tahun dan mempunyai pendidikan setara

dengan sekolah dasar. Proporsi terbesar adalah masalah hubungan dengan teman sebaya

54,81% dan masalah emosional 42,2%.

1.3. Faktor Risiko

Dapat bersifat individual, konstektual (pengaruh lingkungan), atau yang

dihasilkan melalui interaksi antara individu dengan lingkungannya. Faktor risiko yang

disertai kerentanan psikososial dan resilience pada anak akan memicu terjadinya

(25)

Yang termasuk faktor risiko terdiri dari faktor biopsikososial, meliputi:

1) Faktor Biologis

Faktor genetik. Berbagai masalah emosi dan perilaku mempunyai latar

belakang genetik yang cukup nyata, seperti gangguan tingkah laku, ADHD,

gangguan mood, dan gangguan psikologik lainnya. Sejumlah studi orang kembar

berskala besar mengindikasikan adanya komponen genetik dalam ADHD dengan

tingkat kesesuaian kembar monozigotik sebesar 70-80% (Levy dkk., 1997; Serman

dkk., 1997; Tannock, 1998cit. Davison et al., 2006). Ibu yang mengalami depresi

memicu terjadinya internalisasi terutama pada anak perempuan ( Lewis & Darby,

2004; Watsonet al., 2006 ). Keparahan dari masalah emosi dan perilaku pada anak

berkorelasi dengan psikopatologi ibu (Alyanaket al., 2013).

Faktor perinatal dan pranatal. Kelainan yang didapat waktu prenatal akibat

ibu yang kecanduan obat terlarang, peminum alhohol, perokok berat. Berbagai studi

pada hewan menunjukkan pemaparan kronis pada nikotin meningkatkan pelepasan

dopamin dalam otak dan menyebabkan hiperaktifitas (Fungs & Lau 1989; Johns

dkk., 1982 cit. Davison et al., 2006). Infeksi (ensefalitis dan meningitis), trauma

otak, intoksikasi, genetik, penyakit metabolik dan penyakit idiopatik yang

menyerang otak bisa menjadi penyebabnya (Soetjiningsih, 2010).

Faktor hormon. Produksi hormon testosteron dan estrogen mempengaruhi

fungsi otak, emosi, dorongan seksual dan perilaku remaja (Damayanti, 2011). Bila

dirinya berbeda secara jasmani dengan teman sebayanya maka hal ini memicu

terjadinya perasaan malu atau rendah diri (Erikson, 1972).

Faktor makanan. Ada berbagai pendapat bahwa makanan dapat berpengaruh

(26)

mengakibatkan hiperaktifitas, kekurangan zat besi dapat berpengaruh pada daya

konsentrasi. Keracunan logam berat, bahan tambahan pada makanan (food

additives), alergi makanan dan minuman beralkohol dapat berpengaruh terhadap

perilaku anak (Soetjiningsih dan Sugandi, 2010).

2) Faktor Psikologis

Setiap tahap perkembangan anak akan terdapat tantangan dan kesulitan-kesulitan

yang membutuhkan suatu keterampilan untuk mengatasinya, terutama menjelang

masa remaja. Pada awal masa remaja terjadi transformasi kognitif yang besar

menuju cara berpikir yang abstrak, konseptual dan berorientasi ke masa depan

(Phillips, 1969). Selain itu anak pada masa remaja dihadapkan pada 2 tugas utama,

yaitu: (1) mencapai ukuran kebebasan atau kemandirian dari orang tua; (2)

membentuk identitas untuk tercapainya integrasi diri dan kematangan pribadi.

Apabila remaja tidak bisa menyelesaikan krisis identitasnya dengan baik maka dia

akan merasakan sense of role confusion atau identity diffusion, yaitu suatu istilah

yang menunjukkan perasaan yang berhubungan dengan ketidakmampuan

memperoleh peran dan menemukan diri (Soetjiningsih, 2004). Berbeda dengan

orang yang mengembangkan pemahaman identitas, orang dengan difusi peran tidak

memahami siapa dirinya sesungguhnya, tak tahu apakah pikirannya tentang dirinya

sendiri sesuai dengan apa yang orang lain pikirkan tentang dirinya itu. Dan mereka

juga tidak tahu bagaimana mereka bisa berkembang dengan cara ini atau ke mana

arah perkembangan di masa depan sehingga akan merasa putus asa, hidup terlalu

singkat, dan terlalu terlambat untuk memulai dari awal (Pervinet al.,2010).

Kurangnya kemampuan keterampilan sosial seperti, menghadapi rasa takut,

(27)

orang tua, orang tua dengan penyalahgunaan zat dan gangguan mental, anggota

keluarga yang meninggal, trauma emosional. Pola asuh orang tua yang cenderung

tidak empatik dan otoriter, disiplin keras dan tidak konsisten serta kurangnya

pengawasan yang konsisten mendukung terjadinya masalah emosi dan perilaku

anak dan remaja (Adams & Gullotta, 1983).Overindulgent mothers, dominasi yang

posesif tidak mempersiapkan anak menuju latensi. Anak overindulgent relatif

menjadi anak yang tidak disiplin, yang menggunakan bentuk infantil dengan

mengotot/bersikeras dan agresif sampai terpenuhi keinginannya. Ketika masuk

komunitas lebih luas, dia berharap mendapatkan dalam segala hal dengan caranya,

apabila tidak terpenuhi, dia akan mencoba strategi bullying, berkelahi, temper

tantrum dan menghalangi (Cameron, 1963; Levy, 1972).

3) Faktor Sosial

Sekolah. Kesulitan transisi sekolah, kurikulum yang padat,bullyingdan hazing.

Prevalensi bullying dan hazing diperkirakan sekitar 10-26%. Anak yang

mengalami bullying menjadi tidak percaya diri, takut datang ke sekolah, kesulitan

berkonsentrai sehingga penurunan prestasi belajar. Bullying danhazingyang terus

menerus dapat memicu terjadinya depresi dan usaha bunuh diri (Perren et al.,

2010; Satgas Remaja IDAI, 2010).

Masyarakat. Diskriminasi, isolasi, kemiskinan, tingkat pengangguran tinggi,

kurangnya akses ke pelayanan sosial, kehidupan di kota besar, fasilitas pendidikan

yang rendah (Davisonet al., 2006; Dulcan & Lake, 2012).

1.4. Faktor Protektif

Faktor protektif merupakan faktor yang memberikan penjelasan bahwa tidak

(28)

perilaku atau emosi, atau mengalami gangguan jiwa tertentu. Rutter (1985) cit.

Damayanti (2011) menjelaskan bahwa faktor protektif merupakan faktor yang

memodifikasi, merubah, atau menjadikan respons seseorang menjadi lebih kuat

menghadapi berbagai macam tantangan yang datang dari lingkungannya. Faktor

protektif ini akan berinteraksi dengan faktor risiko dengan hasil akhir berupa terjadi

atau tidaknya masalah emosi dan perilaku, atau gangguan mental di kemudian hari

(Satgas Remaja IDAI, 2010; Wiguna, 2010; Damayanti, 2011).

Yang termasuk faktor protektif, yaitu (Satgas Remaja IDAI, 2010; Adams &

Gullotta, 1983) :

1) Faktor individu : Temperamen mudah, kemampuan sosial dan emosional yang

baik, gaya hidup optimistik, pertumbuhan dan perkembangan yang baik.

2) Faktor Keluarga : Keharmonisan keluarga, dukungan keluarga, relasi orang

tua-anak yang baik, pola asuh yang demokratis dan kooperatif.

3) Faktor Sekolah : Suasana sekolah yang kondusif atau positif sehingga menimbulkan

rasa memiliki dan hubungan yang baik dengan pihak sekolah.

4) Faktor Sosial : Berpartisipasi dalam organisasi, keamanan ekonomi, kekuatan sosial

budaya.

1.5. Penilaian

Penilaian masalah emosi dan perilaku anak dan remaja dapat dinilai dengan

menggunakan wawancara psikiatri dan alat ukur. Alat ukur yanga digunakan

diantarannya Pediatric Symptom Checklist (PSC), Child Behavior Checklist (CBCL)

(29)

skrining perilaku anak dan remaja usia 3-17 tahun, yang praktis, ekonomis dan mudah

digunakan oleh klinisi, orang tua, maupun guru. Kuesioner SDQ dapat diisi sendiri oleh

anak dan remaja usia 11-17 tahun. Sedangkan untuk anak usia kurang dari 11 tahun,

maka selain diisi sendiri oleh anak, kuesioner juga diisi oleh orang tua atau guru anak

tersebut (Damayanti, 2011; Hartanto & Selina, 2011). Di dalam penilaian SDQ,

terdapat 25 poin penilaian aspek psikologi yang dibagi menjadi 5 (lima) bagian,

yaitu : gejala emosional, masalah perilaku, hiperaktivitas/inatensi, masalah hubungan

antar sesama, dan perilaku sosial. Masing-masing bagian tersebut terdiri dari 5 (lima

pertanyaan). Setiap pertanyaan mengandung 3 (tiga) jawaban, yaitu : tidak benar, agak

benar, dan benar. Setelah kuesioner terisi, jawaban diberi skor sesuai kelompok

bagiannya masing-masing sesuai dengan nilai yang telah ditentukan. Kemudian dapat

diintepretasi : Normal, Borderline, atau Abnormal (Hartanto & Selina, 2011).

Tabel 2.1. Interpretasi SDQ

Normal Borderline Abnormal

Total diffficulties score 0-15 16-19 20-40

- Emotional symptoms scale 0-5 6 7-10

- Conduct problems scale 0-3 4 5-10

- Hyperactivity score 0-5 6 7-10

- Peer problems score 0-3 4-5 6-10

Prosocial behaviour score 6-10 5 0-4

Pada SDQ bagian prosocial behaviour score merupakan skor kekuatan yang

menunjukkan faktor protektif. Sedangkan masalah emosi dan perilaku remaja

didapatkan daritotal difficulties score.SDQ dapat digunakan untuk penilaian klinis dan

(30)

80% untuk mendeteksi gangguan psikiatri pada komunitas ( Brondo et al., 2011;

Verhulst & Ende, 2006).

1.6. Perjalanan Penyakit dan Prognosis

Masalah emosi dan perilaku yang tidak diselesaikan dengan baik, maka akan

memberikan dampak negatif terhadap perkembangan anak dan remaja tersebut di

kemudian hari, terutama terhadap pematangan karakternya dan memicu terjadinya

gangguan emosi dan perilaku yang dapat berupa perilaku berisiko tinggi. Hal ini

ditunjukkan dari 80% remaja berusia 11±15 tahun dikatakan pernah menunjukkan

perilaku berisiko seperti berkelakuan buruk di sekolah, penyalahgunaan zat, serta

perilaku antisosial (mencuri, berkelahi, atau membolos) dan 50% diantara mereka juga

menunjukkan adanya perilaku berisiko tinggi lainnya seperti mengemudi dalam keadaan

mabuk, melakukan hubungan seksual tanpa kontrasepsi, dan perilaku kriminal yang

bersifat minor (Satgas Remaja IDAI, 2010). SKRT 1995 menyebutkan angka

prevalensi pemakaian alkohol dan obat-obatan oleh remaja tahun 1991-1995 meningkat

sebanyak 2 kali lipat dari 11% menjadi 21% (Soelaryo dkk, 2010). Healy and Bronner

(1926) cit. Robins L.N. (1972) studi kohort prospektif 23 kasus anak bermasalah

sekolah dan bermasalah dengan jaksa dan polisi, setelah 10 tahun berjalan, bila

dibandingkan dengan anak normal ternyata didapatkan menderita neurosis dan psikotik.

Prognosis dari masalah emosi dan perilaku anak dan remaja sangat tergantung

kemampuan anak dan keluarga (orang tua) untuk belajar mengatasi gangguan tersebut

daripada tingkat keparahan gangguan. Resiliensi individu bisa jadi akan memperkuat

simptom yang ada pada saat dewasa nanti. Kemampuan kompensasi dan peningkatan

(31)

1.7. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan masalah emosi dan perilaku anak dan remaja dengan

memperkuat faktor protektif dan menurunkan faktor risiko pada seorang anak, maka

akan tercapailah kematangan kepribadian dan kemandirian sosial yang ditandai oleh :

Self awareness, yang ditandai dengan rasa keyakinan diri serta kesadaran akan

kekurangan dan kelebihan diri dalam konteks hubungan interpersonal yang positif.

Role of anticipation and role of experimentation, yaitu dorongan untuk

mengantisipasi peran positif tertentu dalam lingkungannya, serta adanya keberanian

untuk bereksperimen dengan perannya tersebut yang tentunya disertai kesadaran

akan kelebihan dan kekurangan yang ada dalam dirinya.Apprenticeship, yaitu kemauan

untuk belajar dari orang lain untuk meningkatkan kemampuan/ketrampilan dalam

belajar dan berkarya. Oleh karena itu untuk mewujudkannya pada anak dengan masalah

emosi dan perilaku diberikan psikoterapi dengan didukung psikofarmologi sesuai

dengan psikopatologinya (Dulcan & Lake, 2010).

Terdapat dua jenis modalitas terapi yang paling banyak diteliti untuk masalah

emosi dan perilaku anak dan remaja adalah Cognitive Behavior Therapy (CBT) dan

Interpersonal Psychotherapy (IP). Psikoterapi efektif dalam mengobati depresi pada

remaja baik berdiri sendiri maupun kombinasi dengan fluoxetine. CBT tidak lebih

superior dibanding jenis psikoterapi yang lain. Juga diketahui bahwa efek terapi

berkurang seiring waktu dan tak berpengaruh lagi setelah 1 tahun follow-up (Sadocket

al.,2009). Penelitiancluster-randomized controlled trial di Inggris yang diikuti selama

6 bulan didapatkan penurunan signifikan gejala depresi, kecemasan danconductdengan

diberikan terapi CBT kelompok pada anak usia 9-15 tahun dengan masalah internalisasi

(32)

Transaksional sangat kurang, sebagian besar studi kasus digunakan sebagai penunjang.

Hanya sejumlah kecil studi terkontrol tentang keefektifan terapi Analisis Transaksional

seperti Smith, Glass and Miller pada tahun 1980. Metaanalisis dari 8 studi terapi AT

terkontrol, melaporkan rata-rataeffect size AT adalah 0,67 sedikit lebih kecil dari

rata-rataeffect sizepsikoterapi jenis lain yaitu 0,85 (Corey, 2009).

2. Analisis Transaksional

Analisis Transaksional dipelopori oleh Erick Berne dan dikembangkan semenjak

tahun 1950, menekankan pada hubungan interaksional yang digunakan untuk terapi

individual dan kelompok. Transaksi merupakan proses pertukaran dalam suatu

hubungan, yang dipertukarkan adalah pesan-pesan baik verbal maupun non verbal.

Sedangkan yang dianalisis meliputi bagaimana bentuk, cara, dan isi dari komunikasi

mereka. Bentuk, cara, dan isi komunikasi dapat menggambarkan apakah seseorang

tersebut sedang mengalami masalah atau tidak (Jones and Nelson, 2006). Dengan

pemberian AT maka seseorang bisa mengenali dirinya sendiri dan dengan begitu mudah

mengenal orang lain juga. AT telah terbukti memudahkan komunikasi dengan sesama,

sehingga menjadi transaksi yang senada (Berne, 1961; Verhaar, 1989; Hukom, 1990;

De Blot, 2009). Pendekatan AT terdiri dari (1) analisis struktural, (2) analisis

transaksional, (3) analisis permainan, dan (4) analisis skrip (Jones and Nelson, 2006).

2.1. Analisis Struktural

Ego states adalah suatu pola konsisten dari perasaan dan pengalaman yang

secara langsung berhubungan dengan suatu pola perilaku konsisten yang sesuai. Setiap

manusia memperlihatkan tiga macam tampilan anutan yaitu: Orang tua (O), Dewasa (D)

(33)

postur) dan verbal (kata-kata dan kalimat serta nada suara). Penampilan Orang tua (O)

ketika individu ber[erilaku seperti orang tua, dibagi menjadi: OK (Orang tua kritikal)

dan OP (Orang tua pengasuh). Penampilan Dewasa (D) ketika individu bertigkah laku

secara rasional, melakukan testing terhadap realita. Penampilan Kanak (K) ketika

individu melakukan, berperasaan, bersikap seperti yang di lakukan pada waktu masih

kecil, dibagi menjadi : Penampilan KB (Kanak bebas) dan Penampilan KS (Kanak

sesuai) (Hukom, 1990).

Tiapego state dapat mempunyai ‘batas’ (boundery). Berne, mendefinisikanego

boundery sebagai suatu membran semipermiabel, melaluinya energi psikis dapat

mengalir dari satu ego state ke ego state yang lain. Ego boundary itu harus

semipermiabel, karena kalau tidak energi psikis akan terbendung di satu ego state saja

dan tidak dapat bergerak bebas spontan bila situasi berubah (Kolegium Psikiatri

Indonesia, 2008).

2.2. Analisis Transaksi

Ada tiga tipe utama transaksi yaitu: komplementer, menyilang, dan ulterior.

Transaksi komplementer ada kecenderungan untuk berkelanjutan, sehingga setiap

tanggapan kemudian menjadi suatu rangsangan baru lagi dan seterusnya. Sebaliknya

transaksi silang akan segera memutuskan komunikasi, transaksi silang paling umum

menyebabkan kesulitan pergaulan, perkawinan, percintaan, persahabatan atau dalam

pekerjaan. Transaksi ulterior adalah transaksi yang tersembunyi sebagian dan ada

agenda psikologis maupun sosial yang mendasari. Transaksi ulterior sering merupakan

suatu game/permainan (Harris, 1973). Dalam Analisis Transaksional sebuah belaian

(stroke) dianggap sebagai unit fundamental dari interaksi sosial. Tukar menukar belaian

(34)

dapat berupa:verbalataunon-verbal, positif atau negatif, bersyarat atau tidak bersyarat.

Stroke positif bilamana penerima pesan mengalami perasaan menyenangkan. Stroke

negatif bilamana penerima pesan mengalami perasaan menyakitkan (Honey, 2001).

Adanya belaian atau strokes akan menyebabkan adanya posisi hidup seseorang.

Belaian atau strokes positif (bersyarat atau tidak bersyarat) maka akan menimbulkan

perasaan I’m Ok (ASAS = Aku Senang Aman Sentosa), dan lazimnya bila seseorang

merasa SAS (Senang Aman Sentosa) maka orang tersebut ingin pula orang lain merasa

SAS (posisi hidup l’m Ok, You’re Ok atau ASAS, ASAS). Terdapat 4 posisi hidup,

adalah I’m Ok, You’re Ok atau ASAS, ASAS; I’m Ok, You’re not Ok atau ASAS,

ATISAS;I’m not Ok, You’re Ok, ATISAS, ASAS;I’m not Ok, You’re not Ok, ATISAS,

ATISAS. Tujuan terapi AT adalah untuk mencapai posisi hidupI’m Ok, You’re Okatau

ASAS, ASAS (Berne, 1961 ; Hukom, 1990).

2.3. Analisis Permainan (Games)

Permainan adalah rangkaian transaksi yang bersinambungan yang berakhir

dengan perasaan kurang enak dari paling tidak seorang pemain. Permainan itu

berkembang dengan tujuan menopang keputusan asli, dan merupakan bagian dari

suratan hidup/skrip seseorang. Jadi permainan itu merupakan bagian vital dari interaksi

seseorang dengan orang lain. Dan ini perlu untuk disadari apabila orang itu ingin untuk

mengurangi perilaku main permainan dan ingin hidup secara otentik. AT menolong

orang memahami sifat transaksi mereka dengan orang lain sehingga mereka bisa

memberi tanggapan terhadap orang lain dengan cara langsung, penuh dan akrab,

sehingga melakukan permainan kemudian dikurangi (Corey, 2009).

(35)

2.4. Analisis Skrip

Analisis skrip harus menjaga agar tidak berperilaku dengan cara yang

menguatkan skrip pasien. Maksud analisis skrip adalah membantu pasien untuk keluar

dari skripnya dan setelah itu bertingkah laku secara otonom. Analisis skrip bermaksud

untuk membantu pasien meninggalkan keputusan-keputusan awal, yang sebelumnya

telah dibuat di berbagai keadaan dan dengan aparatus neopsikis atau dewasa yang tidak

lengkap, dengan membuat kembali keputusan-keputusan ulang untuk membuat

perubahan (Jones & Nelson, 2011).

Sebagai anak-anak mungkin kita menemukan atau salah menerima pesan-pesan

yang diberikan orang tua kita, dan oleh karena itu dalam beberapa hal kita berikan

kepada diri kita injunksi kita sendiri untuk menghindari bahaya atau untuk tetap

bertahan hidup. Meskipun banyak dari injunksi ini yang mungkin cocok untuk situasi

tertentu di masa kanak-kanak, sekarang di alam dewasa semuanya tidak cocok lagi.

Bagian utama dari terapi AT terdiri dari meningkatkan kesadaran akan sifat-sifat

spesifik dari injunksi-injunksi yang membawa ke kesulitan-kesulitan di masa sekarang

(Corey, 2009).

2.5. Hipotesis Keseimbangan

Energi profil penampilan pribadi adalah tetap, bila ada energi pada salah satu

penampilan anutan bertambah, maka energi di penampilan anutan yang lain akan

berkurang. Yang dirumuskan sebagai hipotesis keseimbangan atau “constancy

hypothesis” sebagai berikut : (O+D+K) x a = T. Energi psikologik pada setiap orang

terbagi pada setiap penampilan anutan O, D dan K. Dengan fungsionalnya terbagi

menjadi OK, OP, D, KB dan KS. Sedangkan a=faktor non psikologis yang

(36)

imbalance hormone, gizi, ruda paksa, deprivasi sensoris. T = Faktor yang konstan,

tetap, merupakan jumlah energi yang tersedia pada setiap orang. Maka energi intrinsik

dikalikan dengan pengaruh ekstrinsik yang terlepas dari perkembangan psikologis,

jumlahnya 100% energi psikologis yang tersedia pada seseorang (Hukom, 1973).

2.6. Analisis Transaksional dalam Memperbaiki Masalah Emosi dan Perilaku Anak

dan Remaja

Anak dan remaja dengan masalah emosi dan perilaku seringkali mengalami

perlakukan yang tidak sesuai dari lingkungannya yang dapat berupa stigma negatif.

Guru merasa sulit mengajari mereka, melihat mereka sebagai anak-anak bodoh,

sehingga jarang memberikan masukan yang positif. Teman sebaya menjauhi mereka,

sehingga kesempatan untuk belajar bersosialisasi menjadi berkurang. Orangtua lebih

banyak memberikan kritik negatif sehingga interaksi antara orangtua dan anak

terganggu (Collet et al., 2001). Dengan kritik negatif orang tua terhadap anak akan

terjadi transaksi silang. Akibat transaksi silang juga akan terjadi kemarahan, orang akan

berpaling dan menjauh sehingga relasi orang tua anak terganggu. Relasi orang tua-anak

yang buruk akan menyebabkan hubungan interpersonal terganggu dan komunikasi

terganggu sehingga memerlukan psikoterapi AT (Corey, 2009).

Analisis Transaksional menyediakan suatu pendekatan terstruktur sehingga anak

dapat melihat hubungan diantara apa yang mereka pelajari dalam keluarga mereka

dengan perilaku mereka terhadap orang lain. Banyak anak usia muda mendapatkan

bahwa pendekatan terstruktur ini bermanfaat sebab membantu mereka memahami

bagaimana keluarga dan kebudayaan mereka mempengaruhi mereka. Tujuan utama AT

pada anak adalah untuk memfasilitasi wawasan/insight sehingga mereka mampu

(37)

anak mengembangkan pemahaman diri/self understandingini, mereka juga memperoleh

kemampuan membuat perubahan dalam diri mereka sendiri dan dalam transaksi mereka

dengan orang lain (Corey, 2009). Terapi Analisis Transaksional akan menguatkan

kemampuan seseorang untuk mengumpulkan, mengorganisir dan mengevaluasi

informasi agar Dewasa (D) dapat menilai lebih akurat. Bila Dewasa (D) menjadi

eksekutif, seseorang akan belajar untuk semakin banyak menerima stimulus melalui

Dewasa (D). Ia akan berhenti sejenak, mengobservasi, melihat dan mendengar, dan

berpikir sebelum membuat keputusan dan bertindak. Ia akan menentukan apa-apa dari

Orang tua (O) dan dari Kanak (K) yang tepat dan pantas untuk digunakan (Kolegium

Psikiatri Indonesia, 2008).

Program terapi AT menggunakan berbagai pendekatan sesuai masalah yang

diproritaskan untuk ditangani lebih dahulu, yaitu : (1). Pendekatan kontraktual, artinya

terdapat kontrak antara terapis dengan klien, yang menyatakan tujuan dan arah proses

terapi; (2). Pendekatan terapi Gestalt, sering digunakan dalam setting kelompok, yang

mendorong anggota kelompok secara spontan terlibat dalam interaksi satu sama lain.

Fokus terapi ditujukan pada kesadaran here and now; (3). Metode didaktik menjadi

prosedur dasar bagi AT, karena berhubungan dengan proses kognitif; (4). Analisis

struktural, dapat membantu klien dalam menemukan perwakilan ego yang menjadi

landasan tingkah lakunya; (5). Analisis transaksi, menjabarkan apa yang dilakukan dan

dikatakan oleh seseorang kepada orang lain; (6). Teknik kursi kosong, teknik ini

memberikan kesempatan kepada klien untuk menyatakan pikiran, perasaan, dan

sikapnya. Tujuannya untuk mengakhiri konflik yang tidak selesai di masa lampau; (7).

Permainan peran, biasanya dikombinasikan dengan teknik psikodrama; (8). Percontohan

(38)

mungkin orang yang berpengaruh di masa lampau termasuk dirinya (Corey, 2009;

Stewart & Tilney, 2011).

Psikoterapi AT menurut Harris (1973) bertujuan membuat setiap klien yang

mendapatkan terapi menjadi ahli/mahir dalam menganalisa transaksi-transaksinya

sendiri. Peran klien mempelajari dasar-dasar ego Orang Tua, Dewasa dan Anak,

kemudian klien bisa menggunakan dan merasakan kembali cara-cara transaksinya yang

lama dalam kelompok AT. Inti penyembuhan dari AT yaitu jika seorang klien bisa

menjelaskan dengan kata-katanya sendiri mengapa dia melakukan apa yang

dilakukannya dan bagaimana dia menghentikannya, maka dia sembuh dalam arti bahwa

dia mengetahui apa penyembuhan itu dan dia bisa menggunakannya berulang-ulang

kembali. Menurut Berne penyembuhan merupakan proses progresif yang berlangsung

dalam empat tahap yaitu kontrol sosial, penyembuhan gejala, penyembuhan transferensi

dan penyembuhan skrip. Atau dengan kata lain tercapainya perubahan diri menjadi

otonomi yang mampu memecahkan masalah dengan menggunakan sumber daya dewasa

seseorang dengan secara utuh untuk berpikir, merasakan dan berperilaku dalam

merespon realitas di sini dan saat ini secara sadar, spontanitas dan kemampuan untuk

menjalin kedekatan dengan orang lain tanpa manipulasi (Stewart & Tilney, 2011).

Analisis Transaksional sebagai salah satu bentuk psikoterapi berhubungan

dengan penurunan level kortisol, penurunan aktivasi sistem saraf simpatis, penurunan

level epinefrin dan norepinefrin, penurunan aktivasi sistem

renin-angiotensin-aldosteron, penurunan level IL-6, TNF-α, dan memperbaiki fungsi imun. Psikoterapi

juga mengaktivasi sistem saraf parasimpatis. Aktivasi sistem saraf parasimpatis ini

berhubungan dengan suatu penurunan inflamasi. Aktivasi saraf parasimpatis ini dapat

(39)

pelepasan sitokin proinflamasi termasuk IL-1, IL-6 dan TNF-α sehingga meredakan

proses inflamasi. Sistem saraf parasimpatis mempunyai pengaruh yang berlawanan

dengan aktivitas simpatis, menyebabkan tubuh menjadi mereda (wind down) dan

seimbang kembali (rebalance). Aktivasi saraf parasimpatis mempunyai pengaruh yang

menghambat aktivasi saraf simpatis (Marslandet al.. 2007).

AT akan mempengaruhi kognitif dan psikomotor anak sehingga bisa

memperbaiki emosi dan perilakunya melalui kortek frontal sedangkan psikofarmakologi

pada regio subkortikal otak tengah. Proses kognitif, psikomotor dan sensorimotor

berhubungan dengan korteks prefrontal dorsal, cinguli anterior dorsal, parietal, cinguli

posterior dan hipokampus. Proses kognitif yang nyata distimulasi emosi berhubungan

dengan korteks frontal medial, orbitofrontal dan cinguli anterior perigenual. Proses

kognitif-emosi yang tersembunyi dihubungkan oleh regio subkortikal dan temporal

medial, termasuk amigdala, ganglia basal ventral, nuklei dan struktur otak tengah.

Proses homeostasis tubuh yang berhubungan dengan emosi berhubungan dengan kortek

cinguli anterior subgenual, insula anterior dan hipothalamus. Nuklei batang otak dan

monoaminergik juga berpengaruh dalam proses ini. Pada akhirnya berdasarkan koneksi

dari berbagai regio dalam sirkuit dan kemampuan merespon yang sesuai, maka

psikofarmakologi bisa merubah sampai korteks frontal, demikian pula sebaliknya,

psikoterapi bisa merubah ke regio otak lebih dalam tidak hanya pada kortek frontal

(Holtzheimer & Mayberg, 2008).

(40)

3. Masalah Relasi Orang Tua-Anak

3.1. Diagnosis Masalah Relasi

Masalah relasi (Relational Problem) menurutDiagnostic and Statistical Manual

of Mental Disorders (DSM-IV-TR) termasuk dalam kategoriOther Condition That May

be A Focus of Clinical Attention yaitu gangguan yang diberi kode“V”. Masalah relasi

merupakan fokus perhatian klinis yang dapat menyebabkan eksaserbasi atau

mempersulit penanganan gangguan mental atau kondisi medis umum pada salah satu

atau lebih anggota dalam unit relasi tersebut. Masalah relasi dapat sebagai akibat

gangguan mental atau suatu kondisi medis umum atau independen terhadap kondisi lain

yang ada atau dapat juga muncul tanpa adanya kondisi lain yang menyertai, bila

masalah ini adalah fokus utama perhatian klinis, maka harus diletakkan pada Aksis I.

Jika tidak menjadi fokus utama perhatian klinis maka diletakkan pada Aksis IV.

3.2. Diagnosis Masalah Relasi Orang Tua-Anak

Menurut DSM-IV-TR kategori masalah relasi orang tua-anak digunakan bila

fokus perhatian klinis adalah suatu pola interaksi antara orang tua dan anak (misalnya

hendaya komunikasi, overprotection, inadequate discipline) yang berhubungan dengan

hendaya bermakna secara klinis secara fungsi individu atau keluarga atau

berkembangnya gejala-gejala yang bermakna secara klinis pada orang tua atau anak.

Sedangkan menurut DSM V, Masalah relasi orang tua-anak dihubungkan dengan

hendaya fungsi dalam perilaku, kognitif atau afektif. Contoh masalah perilaku adalah

kontrol, supervisi dan keterlibatan orang tua yang tidak adekuat; parental

overprotection; terjadinya kekerasan fisik; dan melarang tanpa memberikan solusi.

(41)

menjatuhkan atau mengkambinghitamkan yang lain dan perasaan khawatir. Masalah

afektif termasuk perasaan sedih, apatis atau marah kepada yang lain dalam relasi yang

disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan anak dan budaya setempat. Sedangkan

pengertian orang tua adalah seseorang sebagai caregiver utama bagi anak, bisa orang

tua biologis, adopsi, pengasuh atau saudara lainnya (kakek-nenek) yang mengganti

peran orang tua untuk anak (APA, 2013).

Penilaian dilakukan pada anak maupun orang tua, mencakup hal-hal yang

menimbulkan kesulitan atau gangguan pada proses interaksi orang tua anak. Masalah

relasi orang tua-anak dinilai dari persepsi, sikap, afek dan perilaku Diagnosis

ditegakkan tidak hanya pada perilaku yang diobservasi, tetapi juga melalui pengalaman

subjektif orang tua terhadap anak yang sering terekspresi pada saat wawancara klinis.

Dalam penjelasan kode V dari DSM-IV-TR dikatakan terdapat masalah relasi dalam

keluarga apabila didapatkan : anak mengalami kesulitan terhadap aturan atau disiplin

yang ditegakkan di rumah, orang tua khawatir masalah akademik anak,overprotection,

membatasi kapasitas untuk tumbuh, orang tua curiga anak menggunakan obat/alkohol,

orang tua memiliki konflik yang tidak terselesaikan (saling tidak menghargai),

perceraian atau keluarga terpisah-pisah.

4. Aplikasi Analisis Transaksional Dasar (AATD) Pada Masalah Relasi Orang

Tua-Anak

4.1. Pengertian

AATD merupakan pedoman psikoterapi analisis transaksional yang mencakup

analisis stuktural dan analisis fungsional dengan penggunaan kartu yang difokuskan

(42)

pada masalah relasi orang tua-anak yang disusun oleh Gst. Ayu Maharatih dkk (2013)

dengan ISBN 978-979-498-837-4, dibagi dalam 6 sesi terapi.

4.2. Proses Terapi

Sesi I. Dimulai membangun relasi dan kontrak terapi dengan klien. Terapis

mengenalkan diri dan membina rapportdengan klien menggunakan perilaku attending,

empati, refleksi, eksplorasi, menangkap pesan utama, bertanya untuk membuka

percakapan, bertanya tertutup dan memberikan dorongan minimal kepada klien.

Kontrak terapi agar klien mau terlibat aktif yang dilakukan 6 sesi, 120 menit, dilakukan

perekaman suara dan gambar dengan video. Setelah kontrak terapi dilanjutkan

mengenalkan analisis stuktural dengan menggunakan kartu-kartu analisis struktural

penampilan anutan Orangtua, Dewasa dan Kanak.

Sesi II. Sesi ini terapis memperdalam penguasaan analisis struktural pribadi

klien dengan memimpin arah pembicaraan, fokus pada pokok pembicaraan,

mengkonfrontasi inkonsistensi klien, memberi nasehat bila diminta, menyimpulkan

sementara setiap periode dan pemberian informasi jika diminta klien. Analisis

fungsional yang menerangkan egostate berdasarkan fungsinya dijelaskan pada sesi ini

dengan penilaian secara fisik dan pertanyaan yang mengandung unsur afektif, kognitif

dan perilaku (behavior). Klien dijelaskan tentang egostate Orangtua Kritikal, Orangtua

Pengasuh, Dewasa, Kanak Bebas dan Kanak Sesuai. Selanjutnya menggambarkan

fungsi-fungsi egostate dalam bentuk perbandingan (egogram). AT diperdalam dengan

menggunakan teknik interpretasi dan mengarahkan agar klien mengerti dan berubah

sesuai interpretasi terapis. Langkah berikutnya klien dijelaskan mengenai analisis

transaksi yang dibagi menjadi transaksi senada, transaksi silang dan transaksi

(43)

Sesi III.Masalah relasi orangtua-anak dan struktur keluarga, intervensi masalah

relasi dengan AATD. Menjelaskan interaksi dalam keluarga dalam bentuk matriks

transaksi, klien diminta menanggapi dan menggambarkan sendiri matriks transaksinya.

Klien dijelaskan bahwa peristiwa, perkataan dan respon yang tidak menyenangkan yang

dirasakannya dapat menyebabkan masalah relasi orangtua-anak. Selanjutnya klien

dijelaskan struktur keluarga berdasarkan SFT.

Sesi IV. Intervensi masalah relasi dan masalah relasi orang tua-anak dengan

AATD terkait struktur keluarga, strokes danlife position. Pada sesi ini klien diarahkan

untuk memahami penyebab masalah relasi dan masalah relasi orangtua-anak itu sendiri.

Dijelaskan juga struktur keluarga dan menggambarkan matriks struktur keluarga

berdasarkan SFT. Klien diminta mengoleksi dan mengenali strokes sehingga akan

meningkatkan pemberian strokes positif, mengurangi strokes negatif, tetapi tidak boleh

meniadakan strokes.

Sesi V. Intervensi masalah relasi orangtua-anak dengan AATD melalui

pendalaman strokes dan life position. Klien diminta melakukan role play berdasarkan

peristiwa yang terjadi dalam keluarga, kemudian dilakukan penilaian egostate, analisis

transaksi dan strokes yang didapat atau diberikan. Klien dijelaskan tentang life position

abnormal dengan memberikan feedback dari role play tersebut.

Sesi VI. Umpan balik, penilaian keberhasilan terapi dan negosiasi kontrak

berikutnya. Klien bersama terapis mengevaluasi keseluruhan sesi terapi mengenai

jalannya terapi yang sudah dilakukan, kemampuan terapis, keadaan klien sekarang dan

rencana program kedepan. Klien juga dijelaskan penilaian keberhasilan terapi. Menutup

sesi terapi dan menyusun kontrak baru.

(44)

4.3. Penilaian

Penilaian keberhasilan terapi berdasarkan tahap-tahapsymptomatic relief, social

control, transference cure dan autonomy.Symptomatic relief terdapat perbaikan gejala

atau mengalami kemajuan. Social control terdapat perbaikan meskipun masih terdapat

hendaya, gejala masih dapat dikontrol ketika berinteraksi dengan orang lain.

Transference cure bahwa klien dapat keluar dari script mereka selama mereka berada

dekat terapis mereka secara harfiah ataupun secara mental. Autonomy dimana egostate

dewasa klien mengambil alih peran terapis dengan mendapatkan kapasitas sikap yang

positif, kesadaran, spontanitas dan keintiman.

5. Teori Metode Penelitian Kualitatif

5.1. Pengertian

Metode penelitian kualitatif adalah salah satu jenis metode penelitian yang

melakukan pendekatan dengan memandang realitas sosial sebagai sesuatu yang

holistik/utuh, kompleks, dinamis, dan penuh makna. Holistik karena setiap aspek dari

objek itu mempunyai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Metode kualitatif

digunakan untuk mendapatkan data yang mendalam, suatu data yang mengandung

makna. Metode penelitian kualitatif sering disebut metode penelitian naturalistik karena

penelitian dilakukan pada kondisi objek yang alamiah (natural setting) dan penulis

sebagai instrumen kunci. Penelitian kualitatif berbeda dengan penelitian kuantitatif

yang berusaha menjelaskan hubungan sebab akibat, prediksi, serta generalisasi hasil.

Penelitian kualitatif berusaha mendapatkan pencerahan, pemahaman terhadap suatu

fenomena dan ekstrapolasi pada situasi yang sama (Golafshani, 2003; Sugiyono,

2005).

(45)

Penelitian kualitatif memiliki karakteristik adanya latar alamiah, langsung ke

sumber data; manusia sebagai alat atau instrumen kunci; analisis data secara induktif, di

mana pada saat penulis berusaha untuk memahami situasi yang sedang dipelajarinya, ia

tidak membawa harapan atau dugaan tertentu yang sudah dimiliki sebelum penelitian

berjalan; teori dari dasar (grounded theory); penelitian lebih bersifat deskriptif, data

yang terkumpul berbentuk kata-kata atau gambar, sehingga tidak menekankan pada

angka; lebih mementingkan proses dari pada hasil; adanya batas yang ditentukan oleh

focus; adanya kriteria khusus untuk keabsahan data; desain yang bersifat sementara

(Denzin dan Lincoln, 1994; Sugiyono, 2005).

Jenis-jenis penelitian kualitatif meliputi biografi, fenomenologi, grounded

theory, etnografi dan studi kasus. Biografi adalah studi yang berdasarkan kepada

kumpulan dokumen tentang kehidupan seseorang yang melukiskan momen penting

yang terjadi dalam kehidupannya tersebut. Fenomenologi melihat dan memahami arti

dari suatu pengalaman individual yang berkaitan dengan fenomena tertentu.Grounded

theory dikhususkan untuk menemukan atau menghasilkan teori dari suatu fenomena

yang berkaitan dengan situasi tertentu. Etnografi merupakan studi yang difokuskan pada

penjelasan deskriptif dan interpretasi terhadap budaya dan sistem sosial suatu

kelompok/masyarakat tertentu melalui pengamatan dan penghayatan langsung terhadap

kelompok/masyarakat yang diteliti. Studi kasus: suatu model yang bersifat

komprehensif, intens, terperinci, dan mendalam, serta lebih diarahkan untuk menelaah

masalah-masalah atau fenomena yang bersifat kontemporer (berbatas waktu) (Denzin

dan Lincoln, 1994; Herdiansyah, 2010).

(46)

5.2. Studi Kasus

Studi kasus merupakan suatu model yang menekankan pada eksplorasi dari

suatu sistem yang berbatas (bounded system) pada satu kasus atau beberapa kasus secara

mendetail, disertai dengan penggalian data secara mendalam yang melibatkan beragam

sumber informasi yang kaya akan konteks (Creswell, 1998 cit. Herdiansyah, 2010).

Studi kasus berupaya menjawab pertanyaan-pertanyaan how (bagaimana) dan why

(mengapa), dan pada tingkat tertententu juga menjawab what (apa/apakah), dalam

kegiatan penelitian (Yin, 1996 cit. Bungin, 2012). Selain itu studi kasus dapat

merupakan single-case studies (studi kasus tunggal), multi-case studies (studi multi

kasus), dancomparative-case studies(studi kasus perbandingan) (Bungin, 2012).

Studi kasus mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan dengan desain

penelitian lain, yaitu : bersifat luwes berkenaan dalam hal pengumpulan data yang

digunakan dapat lebih menjangkau dimensi yang lebih spesifik dari topik yang

diselidiki, dapat dilakukan secara lebih praktis pada banyak lingkungan sosial, studi

kasus dapat digunakan sebagai penguji suatu teori, dapat dilakukan dengan dana sedikit

jika dilakukan dengan metode pengumpulan data yang sederhana (Black & Champion,

1992 cit. Herdiansyah, 2010). Akan tetapi, di samping keunggulan yang ditawarkan,

studi kasus juga mempunyai kelemahan-kelemahan sebagai berikut : studi kasus kurang

memberikan dasar yang kuat untuk melakukan suatu generalisasi ilmiah, kedalaman

studi yang dilakukan tanpa banyak disadari justru dapat mengorbankan tingkat keluasan

yang seharusnya dilakukan, sehingga sulit digeneralisasikan pada keadaan yang berlaku

umum dan studi kasus cenderung kurang mampu mengendalikan bias subjektivitas

peneliti (Bungin, 2012).

(47)

5.3. Metode Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif dengan Wawancara,

Observasi, Studi dokumentasi danFocus Group Discussion (FGD). Wawancara adalah

pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga

dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu. Wawancara dilakukan untuk

mengetahui apa yang ada di pikiran individu dan memperoleh pemahaman terhadap

perspektif individu dalam menginterpretasikan situasi dan fenomena yang terjadi, di

mana hal ini tidak bisa ditemukan dalam observasi. Pewawancara tidak membawa

hal-hal atau asumsi tertentu yang sudah dimilikinya ke dalam pemikiran individu yang

diwawancarai (Stainback, 1988 cit. Sugiyono 2005). Berdasarkan prosesnya,

wawancara dibagi menjadi 3 macam yaitu stuctured interview, unstructured interview,

dan semi structured/focused interview (Esterberg, 2002 cit. Sugiyono 2005;

Herdiansyah, 2010).

Observasi dilakukan sebagai metode penunjang pengumpulan data yang esensial

dalam penelitian, terutama penelitian dengan metode pendekatan kualitatif. Metode

observasi digunakan sebagai metode penunjang dengan dasar pemikiran bahwa melalui

observasi memungkinkan peneliti untuk bersikap terbuka, berorientasi pada penemuan

daripada pembuktian, dan mempertahankan pilihan untuk mendekati masalah secara

induktif. Dengan berada dalam situasi lapangan yang nyata, kecenderungan untuk

dipengaruhi berbagai konseptualisasi (yang ada sebelum penelitian dilaksanakan)

tentang topik yang diamati akan berkurang. Dalam penelitian kualitatif, bentuk

observasi yang dapat digunakan, yaitu observasi partisipasi, observasi tidak terstruktur,

dan observasi kelompok tidak terstruktur (Sugiyono, 2005).

Gambar

Tabel 2.1.Interpretasi SDQ........................................................................................
Tabel 2.1. Interpretasi SDQ
Tabel 4.1. Karakteristik subjek penelitian dan keluarganya
Grafik 4.1. Perbandingan egogram pasien (R) berdasarkan penilaian sendiri, penilaian
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah ada hubungan kecerdasan emosi dan perilaku seksual pranikah pada remaja yang berpacaran.. Kecerdasan emosi adalah kemampuan yang

Metode : Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif berbentuk studi kasus tunggal bertujuan untuk mengetahui strategi koping pada istri pasien skizofrenia yang

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi orang tua terhadap perilaku kenakalan remaja di dalam keluarga miskin, untuk mengetahui perilaku remaja di dalam

Beberapa hasil penelitian menunjukkan perilaku remaja yang mencerminkan ketidakmatangan emosi pada remaja seperti kasus kenakalan, tawuran, seks bebas, minum-minuman alkohol

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) kematangan emosi remaja pengguna gadget , 2) perilaku prososial remaja pengguna gadget , dan 3) pengaruh kematangan

Pada penelitian ini penulis menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan penelitian studi kasus karena metode kualitatif sesuai untuk digunakan pada masalah-masalah yang

saja yang mempengaruhi pencapaian studi kasus self esteem pada remaja yang orang tuanya broken home.Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode kualitatif berbentuk

Metode : Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif berbentuk studi kasus tunggal bertujuan untuk mengetahui strategi koping pada istri pasien skizofrenia yang menjadi