• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelanggaran Hak Asasi Manusia

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG HAK ASASI MANUSIA

B. Pelanggaran Hak Asasi Manusia

Pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) adalah “setiap perbuatan seseorang

atau kelompok yang termasuk aparat negara baik disengaja ataupun tidak disengaja

atau kelalaian yang secara hukum mengurangi, menghalangi, membatasi dan atau

mencabut Hak Asasi Manusia (HAM) seseorang atau kelompok orang yang dijamin

oleh Undang - Undang ini, dan tidak didapatkan atau dikhawatirkan tidak akan

memperoleh penyelesaian hukum yang berlaku (Undang - Undang Nomor 26 Tahun

2006 tentang Pengadilan HAM).

Menurut Mohammad Fauzy menyebutkan :30

Esensi pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) bukan semata - mata

pelanggaran terhadap hukum yang berlaku melainkan degradasi terhadap

30

Mohammad Fauzy., Pelaksanaan Hak Asasi Manusia dan asas Negara, Mandar Madju, Bandung,2003,h.175.

kemanusiaan atau merendahkan martabat dan derajat manusia menjadi serendah

binatang. Oleh karena itu pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) tidak identik

dengan pelanggaran hukum pidana dan terlebih lagi dalam setiap pelanggaran Hak

Asasi Manusia (HAM) terdapat unsur perencanaan, dilakukan secara sistematik

dengan cara tertentu yang lebih banyak bersifat kolektif baik berdasarkan agama,

etnis atau ras tertentu.

Dengan demikian pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan

tindakan pelanggaran kemanusiaan baik dilakukan oleh individu maupun oleh

institusi Negara atau institusi lainnya terhadap hak asasi individu lain tanpa ada dasar

atau alasan yuridis dan alasan rasional yang menjadi pijakannya.

Pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dikelompokkan menjadi dua bentuk

yaitu :31

1. Pelanggaran HAM berat yang meliputi :

a. Kejahatan genosida

b. Kejahatan kemanusiaan

2. Pelanggaran HAM ringan.

Pelanggaran berat salah satunya dalah kejahatan genosida yaitu setiap

perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan atau

memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa, ras, kelompok etnis dan

kelompok agama. Kejahatan genosida dilakukan dengan cara membunuh

anggota kelompok, mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yang berat

terhadap anggota - anggota kelompok, menciptakan kondisi kehidupan kelompok

31

yang akan mengakibatkan kemusnahan secara fisik baik seluruh atau

sebagiannya, memaksakan tindakan - tindakan yang bertujuan mencegah

kelahiran di dalam kelompok, dan memindahkan secara paksa anak – anak dari

kelompok tertentu ke kelompok lain (UU No.26/2000 tentang Pengadilan HAM).

Sementara itu kejahatan HAM berat lainnya adalah kejahatan kemanusiaan

yaitu salah satu perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang

meluas atau sistematik yang diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan

secara langsung terhadap penduduk sipil berupa pembunuhan, pemusnahan,

perbudakan, pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa, perampasan

kemerdekaan atau perampasan kebebasan fisik secara sewenang - wenang yang

melanggar (asas - asas ) ketentuan pokok hukum internasional, penyiksaan,

perkosaan, perbudakan seksual, pelacuran secara paksa, pemaksaan kelamin,

pemandulan atau sterilisasi secara paksa atau bentuk - bentuk kekerasan seksual

lainnya yang setara, penganiayaan terhadap suatu kelompok tertentu atau

perkumpulan yang didasari persamaan paham politik, ras, kebangsaan, etnis,

budaya, agama, jenis kelamin atau alas an lain yang telah diakui secara universal

sebagai hal yang dilarang menurut hukum internasional, penghilangan orang

secara paksa dan kejahatan apartheid.

Pelanggaran terhadap hak asasi manusia dapat dilakukan baik oleh aparatur

Negara (state-actors) maupun bukan aparatur Negara (non state actors) (UU No.

26/2000 tentang Pengadilan HAM).Karena itu penindakan terhadap pelanggaran

hak asasi manusia tidak boleh hanya ditujukan terhadap aparatur Negara, tetapi

terhadap pelanggaran HAM tersebut dilakukan melalui proses peradilan HAM

mulai dari penyelidikan, penyidikan, penuntutan dan persidangan terhadap

pelanggaran yang terjadi harus bersifat non-diskriminatif dan berkeadilan.

Pelanggaran HAM merupakan pengadilan khusus yang berada di lingkungan

Pengadilan Umum.

Prinsip non - retroaktif dapat dikesampingkan untuk penanganan kasus -

kasus pelanggaran berat hak asasi manusia berdasarkan keadilan

moral.32

Dengan ungkapan lain asas non retroaktif dapat diberlakukan dalam rangka

melindungi hak asasi manusia itu sendiri. Oleh karena itu Undang - Undang No.

26 Tahun 2000 mengatur pula tentang Pengadilan HAM ad hoc yaitu pengadilan

khusus terhadap pelanggaran hak asasi manusia yang berat. Pengadilan Ad Hoc Mengabaikan prinsip non - retroaktif memang melawan legalitas.Akan

tetapi dalam keadaan tertentu, dalam upaya menegakkan keadilan, hal itu dapat

diabaikan.Apalagi mengingat pemerintah memakai hukum sebagai alat politik

untuk mengejar tujuannya.Dengan menggunakan hukum yang ada hak - hak para

korban yang menuntut keadilan atas pelanggaran hak asasi manusia dimasa lalu

tidak dapat dilindungi.

Argumen dasarnya adalah bahwa sejarah hukum hak asasi manusia

internasional menunjukkan prinsip non retroaktif tidak berlaku absolut, untuk

pertimbangan keadilan dan pencegahan terulang kembali pelanggaran yang

sama.

32

Komisi Hak Asasi Manusia., Kejahatan Terhadap Kemanusiaan, Lokakarya Internasional Kejahatan Terhadap Kemanusiaan,Jakarta,20-21 Juni 2001,h.44.

ini mempunyai fungsi untuk memeriksa dan memutuskan perkara pelanggaran

hak asasi manusia yang berat yang terjadi sebelum diundangkan undang -

undang ini.Pengadilan HAM ad hoc dibentuk atas usul Dewan Perwakilan

Rakyat berdasar peristiwa tertentu dengan Keputusan Presiden dan berada di

lingkungan Pengadilan Umum.

Di samping adanya Pengadilan HAM ad hoc, undang - undang ini

menyebutkan juga keberadaan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi sebagaimana

dimaksud dalam Ketetapan MPR-RI No.V/MPR/2000 tentang Pemantapan

Persatuan dan Kesatuan Nasional. Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi yang

akan dibentuk dengan undang -undang sebagai lembaga ekstra - yudisial yang

ditetapkan dengan undang - undang yang bertugas untuk menegakkan kebenaran

dengan mengungkapkan penyalahgunaan kekuasaan san pelanggaran hak asasi

manusia pada masa lampau, sesuai dengan ketentuan hukum dan perundang -

undangan yang berlaku dan melaksanakan rekonsiliasi dalam perspektif

kepentingan bersama sebagai bangsa.

Pengadilan HAM berkedudukan di daerah kabupaten atau daerah kota yang

di daerah hukumnya meliputi daerah hukumnya meliputi daerah hukum

Pengadilan Negeri yang bersangkutan. Untuk daerah khusus Ibukota Jakarta,

Pengadilan HAM berkedudukan di setiap wilayah Pengadilan Negeri yang

bersangkutan.Pengadilan HAM bertugas dan berwenang memeriksa dan

memutus perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berada dan di lakukan di

luar batas territorial wilayah Negara Republik Indonesia oleh warga Negara

pelanggaran hak asasi manusia yang berat yang dilakukan seseorang yang

berumur 18 (delapan belas) tahun pada saat kejahatan dilakukan. Dalam

pelaksanaan peradilan HAM, pengadilan HAM menempuh proses pengadilan

melalui hukum acara pengadilan HAM sebagaimana terdapat dalam Undang -

Undang Pengadilan HAM.

Dokumen terkait