• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelanggaran 1 Maksim dan Pematuhan 3 Maksim

KAJIAN PUSTAKA

Bagan 2. Model Analisis Interaktif Pengumpulan Data

A. Pelanggaran Prinsip Kerja sama 1.Pelanggaran Maksim Kuantitas 1.Pelanggaran Maksim Kuantitas

7. Pelanggaran 1 Maksim dan Pematuhan 3 Maksim

Di dalam percakapan, masing-masing peserta percakapan harus berusaha sedemikian untuk memberikan informasi yang tidak melanggar prinsip kerja sama. Peserta percakapan, apabila melakukan pelanggaran akan berdampak pada informasi yang diberikan tidak wajar, sehingga memberikan efek dalam kegiatan percakapan. Efek yang ditimbulkan dapat berupa kehumoran yang dibangun

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

59

melalui satu pelanggaran maksim, dan satu pematuhan maksim dalam prinsip kerja sama. Berikut data yang melanggar 1 maksim dan mematuhi 3 maksim:

(21) Benda ajaib

Tanya : Benda apa yang pertumbuhannya dari besar jadi kecil?

Jawab : Pensil

MKL.MKN.MRL.1/MPK

Konteks dalam percakapan contoh (21) tentang benda ajaib, kemudian oleh tokoh Tanya diperjelas lagi tentang benda yang pertumbuhan dari besar menjadi kecil. Tuturan tokoh Tanya dianggap melanggaran maksim pelaksanaan, tetapi mematuhi maksim kuantitas, maksim kualitas, dan maksim relevansi. Pelanggaran maksim pelaksanaan terjadi karena informasi yang diberikan oleh tokoh Tanya kabur, dan tidak jelas. Sebab selama ini kata ”pertumbuhan” mengindikasikan dari kecil menjadi besar, sebaliknya tokoh Tanya memberikan pertanyaan pertumbuhan yang dari besar menjadi kecil. Hal inilah yang menjadikan percakapan tidak wajar. Tuturan yang disampaikan oleh tokoh Tanya memberika efek dalam percakapan tersebut, salah satunya yaitu efek kehumoran. Efek kehumoran dibangun melalui konflik pertumbuhan, dalam kondisi normal pertumbuhan dimulai dari kecil menjadi besar, sebaliknya pada percakapan tersebut pertumbuhan dimulai dari yang besar menjadi kecil.

Pada contoh (21) tokoh jawab memberikan informasi yang mematuhi maksim kualitas, kuantitas, dan relevansi. Informasi yang diberikan tokoh Jawab relevan dengan apa yang ditanyakan oleh tokoh Tanya, singkat, padat, dan memiliki kebenaran. Jawaban ”pensil” merupakan jawaban yang singkat dan padat, sesuai dengan apa yang diharapakan oleh tokoh Tanya. Sebab, pensil semakin hari tidak semakin bertambah besar atau tinggi melainkan bertambah

commit to user

kecil. Hal inilah yang menjadikan pensil memiliki pertumbuhan dari besar menjadi kecil karena pemakain yang terus menerus.

Berikut data lain yang melanggar 1 maksim dan mematuhi 3 maksim.

(22) Barang yang laku

Tanya : Barang apa yang laku maupun nggak laku tetep habis?

Jawab : Es Batu

MKL.MKN.MRL.2/MPK

Konteks dalam percakapan contoh (22) yaitu tentang barang yang laku, kemudian dipertegas oleh tokoh Tanya barang yang laku maupun tidak laku tetap habis. Tuturan tokoh Tanya terjadi pelanggaran maksim pelaksanaan yaitu dengan memberikan kontribusi yang kabur dan tidak jelas dalam memberikan pertanyaan pada mitra tuturnya. Pertanyaan ”barang apa yang laku maupun tidak laku tetap habis?” merupakan pertanyaan yang membingungkan peserta yang lain, sebab barang habis dalam jual beli seharusnya laku terjual, tetapi tidak laku terjual tetap habis menjadikan pertanyaan ini membingungkan dan dianggap memberikan pertanyaan yang tidak jelas.

Tuturan tokoh Tanya menjadikan komunikasi tidak wajar, peserta tutur dalam hal ini merasa dibuat bingung dengan pertanyaan tersebut. Adanya jawaban tokoh Jawab ”es batu” masuk akal, sehingga komunikasi tetap berjalan meskipun sempat terkendala. Pelanggaran ini menciptakan efek kehumoran melalui perbandingan, yaitu barang laku maupun tidak laku barang yang di jual tetap habis.

Sebaliknya, pada contoh (22) mematuhi 3 maksim lainnya, yaitu maksim kualitas, maksim kuantitas, dan maksim relevansi. Jawaban tokoh Jawab relevan, singkat, cukup informatif, dan memiliki kebenarannya. Jawaban ”es batu”

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

61

merupakan jawaban yang relevan dengan apa yang ditanyakan oleh tokoh Tanya, masih satu konteks pembicaraan dan dijawab dengan cukup memadai sesuai dengan yang diminta oleh mitra tutur. Es batu laku maupun tidak laku tetap habis dalam keadaan normal memenuhi kebenaran kodrat alamiah es batu mencair sehingga maksim kualitas masih dapat dipenuhi. Tetapi bila es batu dimasukkan ke dalam frezer, maka tidak akan habis kecuali mati listrik, sehingga pemenuhan terhadap maksim kualitas dapat dikatakan mengambang.

Berikut data lain yang melanggar satu maksim dan mematuhi tiga maksim.

(23) Hewan

Tanya : Hewan apa yang bersaudara? Jawab : Katak beradik.

MKL.MKN.MRL.3/MPK

Konteks percakapan pada contoh (23) tentang hewan, kemudian oleh tokoh Tanya diperjelas hewan yang bersaudara. Tuturan tokoh Jawab pada percakapan tersebut dianggap melanggar maksim pelaksanaan, yaitu adanya informasi yang tidak jelas. Jawaban ”katak beradik”, merupakan salah satu pemilihan kata yang sulit dipahami untuk menjawab pertanyaan tentang hewan bersaudara. Jawaban ”katak beradik” dapat diartikan (a) sebagai hubungan persaudaraan yang dimaksudkan disini ”kakak beradik”, (b) sebagai hubungan persaudaraan yang dimaksudkan disini ”katak memiliki adik”. Pada maksud yang (b) ”katak memiliki adik”, hewan selama ini tidak memiliki kekerabatan selayaknya manusia, meskipun dilahirkan bersamaan, satu ibu, dan bapak ketika sudah dewasa hewan tersebut tidak memiliki hubungan kekerabatan untuk dijadikan sebagai pedoman persaudaraan. Hal inilah yang menjadikan jawaban tersebut tidak jelas, sehingga komunikasi tidak wajar.

commit to user

Sebaliknya pada contoh (23) mematuhi 3 maksim yang lain dalam prinsip kerja sama, yaitu dengan jawaban tokoh Jawab ”katak beradik”. Jawaban tersebut memiliki relevansi dengan sesuai apa yang ditanyakan, relatif memadai, memberikan sumbangan yang cukup efektif, dan memiliki hubungan kebenaran.

Kekerabatan ditunjukkan dengan kata ”beradik” yang dihubungkan dengan

”bersaudara” yang menjadikan adanya hubungan persaudaraan. 8. Pelanggaran 2 Maksim

a. Maksim Kualitas dan Maksim Relevansi

Pada peristiwa percakapan peserta tutur diwajibkan mengatakan sesuatu yang sebenarnya dan relevan dengan konteks yang dibicarakan. Hal ini untuk memenuhi tuntutan prinsip kerja sama, informasi yang tidak tidak memiliki kebenaran dan menyimpan dari konteks pembicaraan akan dianggap melanggar maksim dalam prinsip kerja sama, yaitu maksim kualitas dan maksim relevansi. Berikut contoh data yang dianggap melanggar maksim kualitas dan maksim relevansi.

(24) Bumi

Tanya : Kenapa bumi makin panas?

Jawab : Karena matahari buka dimana-mana. 1.MKL/ MRL

Konteks dalam percakapan contoh (24) tentang bumi, kemudian oleh tokoh Tanya diperjelas penyebab bumi semakin panas. Tuturan tokoh Jawab mengindikasikan adanya pelanggaran maksim kualitas dan maksim relevansi. Pelanggaran maksim kualitas yaitu adanya tuturan tokoh Jawab yang tidak memiliki bukti nyata tentang dibukanya matahari (nama swalayan) dimana-mana sehingga menjadikan bumi panas. Matahari yang dimaksudkan tokoh

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

63

Jawab adalah matahari supermarket, bukan matahari pusat tata surya. Oleh karena itu, tuturan tokoh Jawab tidak dapat dibuktikan sebagai penyebab bumi menjadi panas.

Pelanggaran maksim relevansi pada percakapan contoh (24) yaitu informasi yang diberikan oleh tokoh Jawab. Konteks dalam percakapan diatas tentang bumi makin panas, sehingga jawaban Tokoh Jawab ”karena matahari buka dimana-mana” tidak sesuai dengan konteks yang dibicarakan. Informasi yang dibutuhkan oleh tokoh Tanya tidak dipenuhi oleh tokoh Jawab, justru memberikan informasi yang tidak sesuai dengan konteks pembicaraan. Berbeda apabila tokoh Jawab memberikan tuturan adanya pemanasan global, maka tuturan tersebut relevan dengan konteks yang sedang dibicarakan.

Berikut contoh lain yang melanggar maksim kualitas dan maksim relevansi:

(25) Nyamuk

Tanya : Kenapa di dalam bajaj nggak ada nyamuk? Jawab : Karena nyamuk sini Cuma takut tiga roda

5.MKL/MRL

Pada contoh (25) terjadi pelanggran maksim kualitas dan maksim relevansi. Konteks dalam percakapn contoh (25) tentang nyamuk, kemudian tokoh Tanya memperjelas lagi alasan di dalam bajaj tidak ada nyamuk. Pelanggaran maksim kualitas dalam contoh (25) yaitu dengan adanya informasi yang diberikan tokoh Jawab tidak memiliki kebenaran yang nyata, Sebab nyamuk tidak takut dengan tiga roda yang ada pada kendaraan bajaj, walaupun bajaj memiliki roda tiga. Hal ini tidak cukup bukti untuk mengatakan nyamuk

commit to user

takut dengan sesuatu yang memiliki tiga roda. Berbeda apabila yang dimaksudkan disini di dalam bajaj ada obat nyamuk tiga roda.

Pelanggaran maksim relevansi dikarenakan adanya informasi yang diberikan oleh tokoh Jawab tidak relevan dengan yang diharapkan mitra tuturnya. Jawaban ”karena nyamuk sini Cuma takut tiga roda” tidak ada hubungannnya dengan keberadaan bajaj yang tidak ada nyamuk. Relevansi kedua tuturan tidak ada penanda yang jelas, sehingga tidak memiliki hubungan sesuai dengan konteks yang ada. Kata kunci dalam percakapan ini yaitu Nyamuk takut dengan tiga roda (obat pengusir nyamuk), buka tiga roda yang ada di dalam bajaj.

b. Pelanggaran Maksim Pelaksanaan dan Maksim Relevansi

Di dalam percakapan masing-masing peserta percakapn harus berusaha sedemikian rupa untuk mangatakan sesuatu sesuai dengan kontek yang ada (relevan), dan berbicara yang jelas, langsung, tidak ambigu sehingga tidak melanggar prisip kerja sama. Informasi yang tidak jelas dan tidak relevan dengan kontek pembicaraan dapat dikatakn melanggar prinsip kerjasama. Berikut contoh pelanggaran maksim pelaksanaan dan maksim relevansi:

(26) Bukti Wortel

Tanya : Apa buktinya kalau wortel baik untuk kesehatan mata? Jawab : Pernah liat kelinci pakai kacamata

1.MPK/MRL

Konteks percakapan pada contoh (26) tentang bukti wortel, kemudian diperjelas oleh tokoh Tanya bukti wotel baik untuk kesehatan mata. Tuturan tokoh Jawab terjadi pelanggaran 2 maksim, yaitu maksim pelaksanaan dan maksim relevansi. Pelanggaran maksim pelaksanaan yaitu pada tuturan

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

65

”pernah liat kelinci pakai kacamata” memiliki kontribusi yang tidak jelas sehingga maksudnya tidak jelas apabila dihubungkan dengan kebiasan kelinci. Sebab kacamata biasanya digunakan oleh manusia bukan hewan, inilah yang menjadikan kacamata identik dipakai oleh orang yang sakit mata atau sekedar sebagai fantasi belaka.

Tuturan tokoh Jawab tersebut juga tidak kooperatif dengan pertanyaan yang diajukan oleh mitra tuturnya. Harapan tokoh Tanya untuk mendapatkan bukti wortel baik untuk kesehatan mata dijawab dengan sesuatu tidak berkaitan, sehingga dianggap melanggar maksim relevansi.

Tuturan tokoh Jawab tersebut tidak memiliki kaitannya dengan apa yang ditanyakan, hewan kelinci sebagai hewan pengerat yang makan utamanya wortel, sehingga menjadi ikon kelinci tidak memakai kacamata dan wortel baik untuk kesehatan mata. Bila dicermati jawaban tokoh Jawab tidak berhubungan dengan pertanyaan yang diajukan oleh tokoh Tanya, sehingga relevansi percakapan tersebut tidak ada.

c. Pelanggaran Maksim Pelaksanaan dan Maksim Kuantitas

Di dalam peristiwa tutur peserta tutur diharapakan memberiak informasi yang jelas, tidak ambigu, tidak betele-tele, langsung, dan cukup memadai sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan. Namun apabila tidak dipenuhi maka akan dianggap melanggar maksim pelaksanaan dan maksim kuantitas. Pelanggaran tersebut menjadikan komunikasi tidak wajar, sehingga dapat menimbulkan efek dalam komunikasi, termasuk di dalamnya efek humor. Berikut contoh data yang melanggar maksim pelaksanaan dan maksim kuantitas.

commit to user

(27) Siapa saya?

Tanya : Saya mempunyai mata 3, mempunyai hidung 4, bertelinga 2, dan tidak mempunyai mulut, siapakah saya?

Jawab : Saya adalah pembohong

3.MPK/MKN

Konteks percakapan pada contoh (27) tentang jati diri, yaitu ditunjukkan dengan kata ”Siapa saya?”. Tuturan tokoh Tanya pada contoh (27) dianggap melanggar maksim pelaksanaan dan maksim kuantitas. Pelanggaran maksim pelaksanaan dikarenakan adanya pemberian informasi yang tidak jelas, pemberian ciri-ciri yang diberikan tidak menunjukkan pada ciri makhluk hidup yang ada di dunia, ”mempunyai mata 3, mempunyai hidung 4, dan tidak punya mulut” merupakan ciri-ciri yang tidak bisa digambarkan di dunia ini. Oleh karena itu, tuturan ini dianggap melanggar maksim pelaksanaan karena informasi yang diberikan tidak jelas.

Pelanggaran maksim kuantitas pada contoh (27) dikarenakan karena adanya informasi yang kurang memadai, sebab ciri-ciri yang diberikan tidak dapat menunjuk kriteria sesuatu yang ada, sehingga tokoh Jawab memberikan tanggapan sebagai pembohong karena kriteria yang ada kurang mendukung untuk menunjukkan sesuatu. Hal ini bisa terjadi dikarenakan ciri-ciri yang diberikan tidak jelas, menjadikan tuturan yang melanggar maksim pelaksanaan memicu memunculkan maksim lain, dalam hal ini maksim kuantitas.

Berikut contoh data lain yang melanggar maksim pelaksanaan dan maksim kuantitas.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

67

(28) Meraba-raba

Tanya : Orang kalo bercinta mengapa selalu meraba-raba?? Jawab : Karena cinta itu buta.

6.MPK/MKN

Konteks percakapan pada contoh (28) yaitu tentang kegiatan meraba-raba, kemudian oleh tokoh Tanya diperjelas lagi kegiatan meraba-raba saat bercinta. Tuturan tokoh Jawab mengindikasikan pelanggaran maksim pelaksanaan dan maksim kuantitas. Pelangaran maksim pelaksanaan dikarenakan karena informasi yang diberikan ambigu, ”cinta itu buta” merupakan istilah penggambaran untuk menyatakan sebuah perasaan yang tidak memandang keadaan, baik usia, status sosial, dan sebagainya. Maksud ”kebutaan” disini bukan berarti tidak bisa melihat sehingga harus meraba-raba, melainkan keberaniaan (kenekatan) seseorang untuk mendapatkan cinta. Hal inilah yang menjadikan tuturan tokoh Jawab diaang melanggar maksim pelaksaaan karena informasi yang diberikan masih bersifat ambigu untuk menjawab pertanyaan tokoh Tanya.

Pelanggaran maksim kualitas dikarenakan karena informasi yang diberikan kurang memadai. ”Karena cinta itu buta” dianggap kurang mencukupi kebutuhan untuk menjelaskan alasan kegiatan meraba-raba saat bercinta. Tokoh Jawab seharusnya memberikan yang lebih mengarah pada kegiatan meraba-raba, bukan hanya istilah ”cinta itu buta” yang dianggap tidak bisa melihat sehingga meraba-raba. Berbeda apabila dijawab ”karena dorongan nafsu sexsual”, tuturan ini cukup memadai untuk menanggapi pertanyaan tokoh Tanya.

commit to user

d. Pelanggaran Maksim Kualitas dan Maksim Kuantitas

Di dalam peristiwa tutur diharapakan peserta tutur berbicara sesuai dengan bukti yang nyata dan relatih memadai, sehingga tidak melanggar prinsip kerja sama. Sebaliknya, apabila peserta tutur berbicara tanpa bukti yang nyata dan kurang atau melebihi dari yang diharapakan maka dianggap melanggar maksim kualitas, dan maksim kuantitas. Berikut contoh data yang melanggar maksim kualitas dan maksim kuantitas.

(29) Afrika

Tanya : Kenapa Afrika negaranya miskin? Jawab : Karena terlalu sibuk ngeritingin rambut.

1.MKL/MKN

Konteks dalam percakapan contoh (29) yaitu tentang Afrika, kemudian diperjelas oleh tokoh Tanya tentang penyebab Afrika negaranya miskin. Tuturan tokoh Jawab dianggap melanggar maksim kualitas dan maksim kuantitas. Pelanggaran maksim kulitas dikarenakan tokoh Jawab memberikan tuturan yang dianggap salah, ”sibuk ngeritingin rambut” tidak bisa dijadikan alasan sebagai penyebab negara Afrika miskin. Tuturan yang salah apabila digunakan dalam suatu komunikasi penutur memiliki maksud dalam percakapan tersebut, sehingga berdampak pada prinsip-prinsip yang mengatur. Hal ini juga berdampak terhadap efek yang ditimbulkan, salah satunya efek humor.

Pelanggaran maksim kuantitas dalam contoh (29) dikarenakan adanya pemberian informasi yang kurang memadai. Tokoh Jawab memberikan informasi yang kurang memadai untuk menanggapi pertanyaan yang diajukan tokoh Tanya, ”karena sibuk ngeritingin rambut” dalam tututuran tokoh Jawab

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

69

tidak jelas siapa yang melakukan tindakan tersebut, dalam hal ini rakyat atau negara. Berbeda apabila dijawab dengan ”Negara Afrika memfocuskan sektor pengeritingan rambut daripada perekononian” hal ini cukup memadai untuk menjawab pertanyaan. Oleh karena itu, tuturan yang kurang memadai tersebut menjadikan komunikasi tidak dapat berjalan wajar, sehingga berdampak terhadap efek komunikasi.

Dokumen terkait