BAB IV SITUASI UPAYA KESEHATAN
A. PELAYANAN KESEHATAN
1. Pelayanan Kesehatan Ibu
Seorang ibu mempunyai peran sangat besar di dalam pertumbuhan bayi dan perkembangan anak. Gangguan kesehatan yang dialami seseorang yang sedang
SITUASI UPAYA KESEHATAN
BAB
PROFIL KESEHATAN DINAS KESEHATAN PROVINSI BALI 41 hamil dapat mempengaruhi kesehatan janin dalam kandungannya hingga kelahiran dan masa pertumbuhan bayi dan anak.
Dalam upaya pencapaian MDG’s dan tujuan pembangunan kesehatan, peningkatan pelayanan kesehatan ibu diprioritaskan yaitu dengan menurunkan Angka Kematian Ibu menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015 dari 425 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1992. Menurut data SDKI 2012, AKI sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup. Capaian AKI Provinsi Bali di tahun 2015 sebesar 83,4 per 100.000 kelahiran hidup, angka ini sudah berada dibawah target MDGs. Akan tetapi, upaya untuk menurunkan AKI masih terus dilaksanakan dengan gencar, untuk semakin menekan angka kematian ibu di Provinsi Bali. Selain itu, pemerintah bersama masyarakat juga bertanggungjawab untuk menjamin bahwa setiap ibu memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan ibu yang berkualitas, mulai dari saat hamil, pertolongan persalinan bagi ibu dan bayi, perawatan khusus dan rujukan jika terjadi komplikasi, dan memperoleh cuti hamil dan melahirkan serta akses terhadap keluarga berencana. Disamping itu, pentingnya melakukan intervensi lebih ke hulu yakni kepada kelompok remaja dan dewasa muda dalam upaya percepatan penurunan AKI.
a) Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil
Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan untuk ibu selama masa kehamilannya sesuai dengan standar pelayanan antenatal yang ditetapkan dalam Standar Pelayanan Kebidanan (SPK). Sedangkan tenaga kesehatan yang berkompeten memberikan pelayanan antenatal kepada ibu hamil antara lain dokter spesialis kebidanan, dokter, bidan dan perawat. Pelayanan antenatal disebut lengkap apabila dilakukan oleh tenaga kesehatan serta memenuhi standar. Ditetapkan bahwa distribusi frekuensi pelayanan antenatal adalah minimal 4 kali selama kehamilan, dengan ketentuan waktu pemberian pelayanan yang dianjurkan 1 kali pada triwulan pertama, 1 kali pada triwulan kedua, dan 2 kali pada triwulan ketiga. Standar waktu pelayanan antenatal tersebut dianjurkan untuk menjamin perlindungan kepada ibu hamil, berupa deteksi dini faktor risiko, pencegahan dan penanganan komplikasi.
Pelayanan antenatal diupayakan agar memenuhi standar kualitas, yaitu : a) Penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan; b) Pengukuran tekanan darah;
PROFIL KESEHATAN DINAS KESEHATAN PROVINSI BALI 42 c) Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA);
d) Pengukuran tinggi puncak rahim (fundusuteri);
e) Penentuan status imunisasi tetanus dan pemberian imunisasi tetanus toksoid sesuai status imunisasi;
f) Pemberian tablet tambah darah minimal 90 tablet selama kehamilan;
g) Penentuan presentasi janin dan denyut jantung janin (djj);
h) Pelaksanaan temu wicara (pemberian komunikasi interpersonal dan konseling, termasuk keluarga berencana);
i) Pelayanan tes laboratorium sederhana, minimal tes hemoglobin darah (Hb), pemeriksaan protein urin dan pemeriksaan golongan darah (bila belum pernah dilakukan sebelumnya); dan
j) Tatalaksana kasus.
Capaian pelayanan kesehatan ibu hamil dapat dinilai dengan menggunakan indikator Cakupan K1 dan K4. Cakupan K1 adalah jumlah ibu hamil yang telah memperoleh pelayanan antenatal pertama kali oleh tenaga kesehatan, dibandingkan jumlah sasaran ibu hamil di satu wilayah kerja pada kurun waktu tahun. Sedangkan cakupan K4 adalah jumlah ibu hamil yang telah memperoleh pelayanan antenatal sesuai dengan standar paling sedikit 4 kali sesuai jadwal yang dianjurkan, dibandingkan jumlah sasaran ibu hamil di satu wilayah dalam kurun waktu satu tahun. Indikator tersebut memperlihatkan akses pelayanan kesehatan terhadap ibu hamil dan tingkat kepatuhan ibu hamil dalam memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan. Cakupan K1 dan K4 di Provinsi Bali dalam lima tahun terakhir dapat dilihat dibawah ini;
PROFIL KESEHATAN DINAS KESEHATAN PROVINSI BALI 43 Sumber: Seksi Kesehatan Keluarga Dikes Prov Bali Tahun 2015
Dari gambar 4.1 diatas dapat terlihat bahwa secara umum relatif stabil, meski terjadi sedikit penurunan cakupan K1 dan juga K4. Ada kesenjangan yang terjadi antara cakupan K1 dan K4. Pada tahun 2013 terjadi selisih antara cakupan K1 dan K4 sebesar 4,1%, kemudian sampai dengan tahun 2014 selisih itu terjadi perubahan cenderung melebar menjadi 4,5%, dan semakin melebar lagi di tahun 2015 sebesar 5,4%. Kesenjangan antara cakupan K1 dan K4 menunjukkan angka drop out K1-K4, dengan kata lain jika kesenjangan K1 dengan K4 kecil maka hampir semua ibu hamil yang melakukan kunjungan pertama pelayanan antenatal selalu berkunjung ke pelayanan kesehatan sampai pada kunjungan ke dua trisemester ketiga kehamilannya dengan kata lain seluruh ibu hamil telah mendapatkan pelayanan kehamilannya sesuai dengan standar. Hal ini dapat meminimalisir kematian ibu melahirkan.Indikator kinerja cakupan pelayanan kesehatan ibu hamil K4 pada tahun 2015 sudah melampaui target Renstra Dinas Kesehatan tahun 2015 sebesar 95%. Berikut capaian K4 dari masing-masing kabupaten/kota.
PROFIL KESEHATAN DINAS KESEHATAN PROVINSI BALI 44 Sumber: Seksi Kesehatan Keluarga Dikes Prov Bali Tahun 2015
Dari seluruh kabupaten/kota, 3 kabupaten/kota telah mencapai target Renstra Dinas 2015 yaitu Kabupaten Tabanan (96,49%), Kota Denpasar (97,99%) dan Kabupaten Jembrana (98,08). Sedangkan hasil capaian indikator cakupan pelayanan K4 Provinsi Bali tahun 2015 sebesar 93% yang berarti juga belum mencapai target Renstra Dinas tahun 2015 sebesar 95%. Cakupan K4 tertinggi yaitu Kabupaten Jembrana akan tetapi Angka Kematian Ibu tertinggi juga Kabupaten Jembrana sebesar 145,7 per 100.000 kelahiran hidup. Kondisi ini perlu menjadi perhatian pemegang program, untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesahatan bagi ibu hamil.
Berbagai program dan kegiatan yang telah dilaksanakan untuk semakin mendekatkan akses pelayanan kesehatan yang berkualitas kepada masyarakat hingga ke pelosok desa, termasuk untuk meningkatkan cakupan pelayanan antenatal. Adanya Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) dan Jaminan Persalinan (Jampersal), dimana keduanya saling bersinergi. BOK dapat dimanfaatkan untuk kegiatan luar gedung, seperti pendataan, pelayanan di Posyandu, kunjungan rumah, sweeping kasus drop out, pelaksanaan kelas ibu hamil serta penguatan kemitraan bidan dan dukun. Sementara itu Jampersal mendukung paket pelayanan antenatal, termasuk yang dilakukan pada saat kunjungan rumah atau sweeping, baik pada kehamilan normal maupun kehamilan dengan resiko tinggi. Semakin kuatnya kerja sama dan sinergi berbagai program yang dilakukan oleh
PROFIL KESEHATAN DINAS KESEHATAN PROVINSI BALI 45 Pemerintah daerah dan masyarakat termasuk sektor swasta diharapkan dapat mendorong tercapainya target cakupan pelayanan antenatal.
b) Pelayanan Kesehatan Ibu Bersalin
Upaya kesehatan ibu bersalin dilaksanakan dalam rangka mendorong agar setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih yaitu dokter spesialis kebidanan dan kandungan (SpOG), dokter umum dan bidan, serta diupayakan dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan. Pertolongan Periode persalinan merupakan salah satu periode yang berkontribusi besar terhadap AKI. Kematian saat bersalin dan 1 minggu pertama diperkirakan 60% dari seluruh kematian ibu. Pertolongan persalinan adalah proses pelayanan persalinan yang dimulai pada kala I sampai dengan kala IV persalinan. Pencapaian upaya kesehatan ibu bersalin diukur melalui indikator persentase persalinan ditolong tenaga kesehatan terlatih (Cakupan Pn).
Dari total kematian di Provinsi Bali tahun 2015, kematian ibu pada saat bersalin sebanyak 14 orang. Gambaran cakupan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan Gambar 4.3. memperlihatkan cakupan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan (Pn) sejak tahun 2010 sampai dengan tahun 2015. Secara umum cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di Provinsi Bali tahun 2010-2015 telah mencapai target MDG’s tahun 2015 sebesar 90%. Hal tersebut menunjukkan bahwa pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan, sehingga pelaksanaan prinsip persalinan yang bersih dan aman semakin meningkat, sehingga diharapkan dapat menekan angka kematian ibu.
PROFIL KESEHATAN DINAS KESEHATAN PROVINSI BALI 46 Sumber: Seksi Kesehatan Keluarga Dikes Prov Bali Tahun 2015
Untuk melihat distribusi persalinan oleh tenaga kesehatan untuk masing-masing kabupaten/kota seluruh Provinsi Bali tahun 2015, dapat dilihat pada gambar berikut;
Sumber: Seksi Kesehatan Keluarga Dikes Prov Bali Tahun 2015
Gambar 4.4. memperlihatkan bahwa Kabupaten Jembrana dengan pencapaian tertinggi (102,91%). Sedangkan Kabupaten Gianyar merupakan kabupaten dengan pencapaian terendah (92,82%). Target indikator persalinan oleh tenaga kesehatan sesuai MDG’s dan SPM sebesar 90% dan juga Renstra Kemenkes 2014 sebesar 95%, ini berarti Provinsi Bali dengan capaian 97,49% sudah melampaui target tersebut.
PROFIL KESEHATAN DINAS KESEHATAN PROVINSI BALI 47 Sumber: Seksi Kesehatan Keluarga Dikes Prov Bali Tahun 2015
Dari gambar 4.5 dapat dilihat bahwa, meski cakupan pelayanan ibu hamil K4 mengalami penurunan, namun cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan tetap stabil. Persentasenya selalu di atas K4. Pelayanan antenatal memiliki peranan yang sangat penting, diantaranya agar dapat dilakukan deteksi dan tata laksana dini komplikasi yang dapat timbul pada saat persalinan. Apabila seorang ibu datang langsung untuk bersalin di tenaga kesehatan tanpa adanya riwayat pelayanan antenatal sebelumnya, maka faktor risiko dan kemungkinan komplikasi saat persalinan akan lebih sulit diantisipasi.
c) Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas
Nifas adalah periode mulai dari 6 jam sampai dengan 42 hari pasca persalinan. Pelayanan kesehatan ibu nifas adalah pelayanan kesehatan sesuai standar, yang dilakukan sekurang-kurangnya 3 (tiga) kali sesuai jadwal yang dianjurkan, yaitu pada 6 jam sampai dengan 3 hari pasca persalinan, pada hari ke 4 sampai dengan hari ke 28 pasca persalinan, dan pada hari ke 29 sampai dengan hari ke 42 pasca persalinan. Untuk deteksi dini komplikasi pada ibu nifas diperlukan pemantauan pemeriksaan terhadap ibu nifas dengan melakukan kunjungan nifas minimal sebanyak 3 kali dengan distribusi waktu : 1) kunjungan pertama (KF1) pada 6 jam setelah persalinan sampai 3 hari; 2) kunjungan nifas (KF2) dilakukan pada minggu ke 2 setelah persalinan; 3) kunjungan nifas ke 3 (KF3) dilakukan pada minggu ke 6 setelah persalinan. Diupayakan kunjungan nifas ini
PROFIL KESEHATAN DINAS KESEHATAN PROVINSI BALI 48 dilakukan pada saat dilaksanakannya kegiatan di posyandu dan dilakukan bersamaan pada kunjungan bayi.
Sumber: Seksi Kesehatan Keluarga Dikes Prov Bali Tahun 2015
Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa capaian cakupan kunjungan nifas Provinsi Bali tahun 2015 sebesar 95,9% cenderung menurun dibandingkan tahun 2014 sebesar 96,5%, namun capaian ini sudah melampaui target Renstra Dinas Kesehatan Provinsi Bali Tahun 2015 sebesar 95%.
Sumber: Seksi Kesehatan Keluarga Dikes Prov Bali Tahun 2015 Target : 95%
PROFIL KESEHATAN DINAS KESEHATAN PROVINSI BALI 49 Dari gambar 4.7 diatas dapat dilihat bahwa capaian cakupan ibu nifas mendapat vitamin A Provinsi Bali tahun 2015 sebesar 97,1% meningkat dibandingkan tahun 2014 sebesar 96,34%. Kematian ibu pada tahun 2015 ini terbanyak terjadi pada masa nifas sebanyak 26 orang. Karena itu, pelayanan kesehatan ibu nifas terus mendapat perhatian dari pemerintah provinsi Bali. Penempatan PTT untuk dokter dan bidan terus dilaksanakan. Selain itu luncuran dana BOK agar dimanfaatkan maksimal oleh tenaga kesehatan di Puskesmas, Poskesdes, Posyandu dalam mengintensifkan implementasi upaya kesehatan termasuk didalamnya pelayanan kesehatan ibu nifas, diantaranya kegiatan sweeping atau kunjungan rumah bagi yang tidak datang ke fasilitas pelayanan kesehatan.
d) Pelayanan/ penanganan Komplikasi Kebidanan
Komplikasi kebidanan adalah kesakitan pada ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan atau janin dalam kandungan, baik langsung maupun tidak langsung, termasuk penyakit menular dan tidak menular yang dapat mengancam jiwa ibu dan atau janin, yang tidak disebabkan oleh trauma/kecelakaan. Pencegahan dan penanganan komplikasi kebidanan adalah pelayanan kepada ibu dengan komplikasi kebidanan untuk mendapatkan perlindungan/pencegahan dan penanganan definitif sesuai standar oleh tenaga kesehatan kompeten pada tingkat pelayanan dasar dan rujukan.
PROFIL KESEHATAN DINAS KESEHATAN PROVINSI BALI 50 Pada gambar 4.8 diatas dapat diketahui bahwa secara umum, cakupan penanganan komplikasi kebidanan di Provinsi Bali selama 6 tahun terakhir terlihat fluktuatif, dan tahun ini cenderung menurun dibandingkan tahun lalu. Cakupan penanganan komplikasi Provinsi Bali di tahun 2015 ialah 74,96%.
Sumber: Seksi Kesehatan Keluarga Dikes Prov Bali Tahun 2015
Gambaran mengenai cakupan penanganan komplikasi kebidanan pada tahun 2015 menurut kabupaten/kota disajikan pada gambar 4.9 menunjukkan bahwa cakupan penanganan komplikasi kebidanan tertinggi yaitu Kabupaten Gianyar (119,41%). Angka cakupan yang melebihi 100% ini dimungkinkan karena jumlah sasaran yang digunakan adalah perkiraan, yakni diperkirakan pada kurun waktu 1 tahun sebanyak 20% dari jumlah sasaran ibu hamil di suatu wilayah kerja yang akan mengalami komplikasi kebidanan. Cakupan tertinggi kedua dan ketiga berada di Kabupaten Tabanan (94,3%) dan Klungkung (77,13%). Sedangkan cakupan terendah berturut-turut yaitu Kabupaten Karangasem (50,60%), Buleleng (65,53%), serta Bangli (70,49%). Diperkirakan 20% dari kehamilan akan mengalami komplikasi. Sebagian komplikasi ini dapat mengancam jiwa, tetapi sebagian besar komplikasi dapat dicegah dan ditangani bila : 1) ibu segera mencari pertolongan ke tenaga kesehatan; 2) tenaga kesehatan melakukan prosedur penanganan yang sesuai, antara lain penggunaan partograf untuk memantau perkembangan persalinan, dan pelaksanaan manajemen aktif kala III (MAK III) untuk mencegah perdarahan pasca salin; 3) tenaga kesehatan mampu melakukan identifikasi dini komplikasi; 4) apabila komplikasi terjadi,
PROFIL KESEHATAN DINAS KESEHATAN PROVINSI BALI 51 tenaga kesehatan dapat memberikan pertolongan pertama dan melakukan tindakan stabilisasi pasien sebelum melakukan rujukan; 5) proses rujukan efektif; 6) pelayanan di RS yang cepat dan tepat guna.
Terdapat tiga jenis area intervensi yang dilakukan untuk menurunkan angka kematian dan kesakitan ibu dan neonatal yaitu melalui : 1) peningkatan pelayanan antenatal yang mampu mendeteksi dan menangani kasus risiko tinggi secara memadai; 2) pertolongan persalinan yang bersih dan aman oleh tenaga kesehatan terampil, pelayanan pasca persalinan dan kelahiran; serta 3) pelayanan emergensi obstetrik dan neonatal dasar (PONED) dan komprehensif (PONEK) yang dapat dijangkau secara tepat waktu oleh masyarakat yang membutuhkan.
Upaya terobosan dalam penurunan AKI dan AKB di Indonesia salah satunya dilakukan melalui Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K). Program tersebut menitikberatkan kepedulian dan peran keluarga dan masyarakat dalam melakukan upaya deteksi dini, menghindari risiko kesehatan pada ibu hamil, serta menyediakan akses dan pelayanan kegawatdaruratan obstetri dan neonatal dasar di tingkat Puskesmas (PONED) dan Kesehatan Keluarga pelayanan kegawatdaruratan obstetri dan neonatal komprehensif di Rumah Sakit (PONEK). Dalam implementasinya, P4K merupakan salah satu unsur dari Desa Siaga. P4K mulai diperkenalkan oleh Menteri Kesehatan pada tahun 2007. Pelaksanaan P4K di desa - desa tersebut perlu dipastikan agar mampu membantu keluarga dalam membuat perencanaan persalinan yang baik dan meningkatkan kesiapsiagaan keluarga dalam menghadapi tanda bahaya kehamilan, persalinan, dan nifas agar dapat mengambil tindakan yang tepat. Melalui pengelolaan pelayanan PONED dan PONEK, puskesmas dan rumah sakit diharapkan bisa menjadi institusi terdepan dimana kasus komplikasi dan rujukan dapat diatasi dengan cepat dan tepat. Dilakukan pula kegiatan Audit Maternal Perinatal (AMP), yang merupakan upaya dalam penilaian pelaksanaan serta peningkatan mutu pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir . Kegiatan ini dilakukan melalui pembahasan kasus kematian ibu atau bayi baru lahir sejak di level masyarakat sampai di level fasilitas pelayanan kesehatan. Salah satu hasil kajian yang didapat dari AMP adalah kendala yang timbul dalam upaya penyelamatan ibu pada saat terjadi kegawatdaruratan maternal dan bayi baru lahir. Kajian tersebut juga menghasilkan rekomendasi intervensi dalam
PROFIL KESEHATAN DINAS KESEHATAN PROVINSI BALI 52 upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan ibu dan bayi di masa mendatang.
e) Pelayanan Kontrasepsi
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2014 Tentang Perkembangan Kependudukan Dan Pembangunan Keluarga, Keluarga Berencana, Dan Sistem Informasi Keluarga. Yang dimaksud dengan program keluarga berencana (KB) adalah upaya mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan, melalui promosi, perlindungan, dan bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas.
Sejalan dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2014 Tentang Perkembangan Kependudukan Dan Pembangunan Keluarga, Keluarga Berencana, Dan Sistem Informasi Keluarga. Program Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu strategi untuk mengurangi kematian ibu khususnya ibu dengan kondisi 4T; terlalu muda melahirkan (di bawah usia 20 tahun), terlalu sering melahirkan, terlalu dekat jarak melahirkan, dan terlalu tua melahirkan (di atas usia 35 tahun). Selain itu, program KB juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas keluarga agar dapat timbul rasa aman, tentram, dan harapan masa depan yang lebih baik dalam mewujudkan kesejahteraan lahir dan kebahagiaan batin. KB merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk meningkatkan ketahanan keluarga, kesehatan, dan keselamatan ibu, anak, serta perempuan. Pelayanan KB menyediakan informasi, pendidikan, dan cara-cara bagi laki-laki dan perempuan untuk dapat merencanakan kapan akan mempunyai anak, berapa jumlah anak, berapa tahun jarak usia antara anak, serta kapan akan berhenti mempunyai anak.
Baik suami maupun istri memiliki hak yang sama untuk menetapkan berapa jumlah anak yang akan dimiliki dan kapan akan memiliki anak. Melalui tahapan konseling pelayanan KB, pasangan usia subur (PUS) dapat menentukan pilihan kontrasepsi sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya berdasarkan informasi yang telah mereka pahami, termasuk keuntungan dan kerugian, risiko metode kontrasepsi dari petugas kesehatan. Program Keluarga Berencana (KB) dilakukan diantaranya dalam rangka mengatur jumlah kelahiran atau menjarangkan kelahiran. Sasaran program KB adalah Pasangan Usia Subur (PUS) yang lebih dititikberatkan pada
PROFIL KESEHATAN DINAS KESEHATAN PROVINSI BALI 53 kelompok Wanita Usia Subur (WUS) yang berada pada kisaran usia15-49 tahun.
Sumber: Seksi Kesehatan Keluarga Dikes Prov Bali Tahun 2015
Berdasarkan gambar diatas, metode kontrasepsi yang paling banyak digunakan adalah IUD (40,20%), terbanyak kedua adalah suntik KB (39%), sedangkan yang terendah adalah penggunaan MOP (0,5%), Implan (2,5%), dan Kondom (3,3%). Persentase peserta KB aktif menurut kabupaten/kota selengkapnya dapat dilihat pada gambar dibawah:
PROFIL KESEHATAN DINAS KESEHATAN PROVINSI BALI 54 Gambar 4.11 diatas menunjukkan bahwa Kabupaten dengan persentase KB aktif tertinggi adalah Kabupaten Bangli (91,56%), kemudian Badung (85,67%) dan Klungkung (85%). Sedangkan kabupaten dengan persentase peserta KB aktif terendah adalah Kabupaten Gianyar (76,8%) dan Buleleng (77,75%). Secara Provinsi Bali, persentase peserta KB aktif tahun 2015 ialah sebesar 80,7%. Sedangkan pada gambar 4.12. terlihat bahwa peserta KB baru, persentase metode kontrasepsi terbanyak digunakan adalah KB suntik (51,20%). Terbanyak kedua adalah IUD (24,6%). Metode yang paling sedikit dipilih untuk digunakan peserta KB baru adalah MOP (0,3%), implan (5,1%) dan kondom (5,1%).
Sumber: Seksi Kesehatan Keluarga Dikes Prov Bali Tahun 2015
PROFIL KESEHATAN DINAS KESEHATAN PROVINSI BALI 55 Dari gambar 4.13. diatas dapat dilihat bahwa persentase peserta KB baru tertinggi ialah Kabupaten Buleleng (10,37%), kemudian Kota Denpasar (8,88%) dan Kabupaten Jembrana (8,34%). Sedangkan persentase peserta KB baru terendah ialah Kabupaten Tabanan (0,45%) dan Badung (2,09%). Secara Provinsi Bali persentase peserta KB baru tahun 2015 sebesar 6,27%.