• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI PENGENDALIAN PENYAKIT

D. Pelayanan Kesehatan Orang Dengan Gangguan

Pelayanan Kesehatan Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) Berat merupakan salah satu indikator SPM bidang kesehatan berdasarkan Permenkes No 4 Tahun 2019. Dengan demikian berarti bahwa setiap ODGJ berat berhak mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar. Pelayanan kesehatan pada ODGJ berat sesuai standar bagi psikotik akut dan Skizofrenia meliputi Pemeriksaan kesehatan jiwa dan Edukasi.

Pemeriksaan kesehatan jiwa meliputi pemeriksaan status mental dan Wawancara, sedangkan Edukasi pasien ODGJ berat adalah tentang kepatuhan minum obat.

Penemuan kasus ODGJ Kabupaten Situbondo tahun 2019 sebanyak 1.181 kasus dari perkiraan 1.397 kasus atau sebesar 84,5%. Capaian ini meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Trend pelayanan kesehatan ODGJ Berat tahun 2017-2019 disajikan pada gambar berikut.

Gambar 6.11 Trend pelayanan kesehatan ODGJ Berat Kabupaten Situbondo Tahun 2017- 2019

Sumber: Seksi Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa

Sedangkan pelayanan kesehatan ODGJ Berat Per Puskesmas Kabupaten Situbondo tahun 2019 disajikan pada Gambar berikut.

Gambar 6.12 Pelayanan Kesehatan ODGJ Berat Per Puskesmas Kabupaten Situbondo Tahun 2019

Profil Kesehatan Kabupaten Situbondo Tahun 2019

Walaupun angka Kabupaten masih belum mencapai target 100%, namun sudah ada 9 Puskesmas yang memiliki capaian pelayanan kesehatan ODGJ Berat memenuhi target 100%, yakni Puskesmas Mlandingan (136,7%), Bungatan (116,7%), Klampokan (106,5%), Besuki, Mangaran, Kapongan, Jangkar, Asembagus dan Wonorejo dengan capaian masing-masing sebesar 100%. Sebaliknya, beberapa Puskesmas memiliki capaian yang jauh tertinggal dibandingkan yang lain, yakni ada 2 Puskesmas dengan capaian di bawah 60%, yakni Puskesmas Banyuputih (52,9%) dan Puskesmas Situbondo (52,5%).

Kendala yang dihadapi di lapangan terkait pelayanan kesehatan Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) Berat dan solusi penyelesaiannya adalah sbb:

No Masalah Solusi

1 Anggaran upaya promotif dan preventif melalui Desa Sehat Jiwa (DSSJ) masih belum optimal.

Mengupayakan advokasi kepada pemegang kebijakan untuk meningkatkan dukungan dana

2 Pasien ODGJ sebagian besar masyarakat miskin sehingga pengobatan banyak kendala, salah satunya biaya makmin keluarga yang menjaga pasien

Mengupayakan biaya makmin keluarga yang menjaga pasien selama perawatan melalui sumber dana desa

3 pengobatan pasien ODGJ Berat relatif lama sehingga rujukan ke Puskesmas Mlandingan terbatas dan bisa inden sampai 3 bulan

Mengupayakan Penambahan Ruang Rawat inap jiwa di Puskesmas Mlandingan

4 Penolakan dari masyarakat karena masih adanya stigma negatif penyakit jiwa sehingga disembunyikan dari petugas

- Meningkatkan pengetahuan masyarakat bahwa penyakit jiwa bisa disembuhkan - Melibatkan tokoh agama dan tokoh

masyarakat dalam program kesehatan jiwa 5 Obat oral cenderung sulit diterima oleh

pasien jiwa (dimuntahkan) sedangkan Obat injeksi pasien jiwa sangat mahal

BAB 7

KEADAAN LINGKUNGAN

Untuk memperkecil risiko terjadinya penyakit/gangguan kesehatan sebagai akibat dari lingkungan yang kurang sehat, telah dilakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas lingkungan. Beberapa indikator yang menggambarkan kondisi lingkungan antara lain IKL terhadap sarana air minum berkualitas, IKL Tempat Fasilitas Umum (TFU), IKL Tempat Pengelolaan Makanan (TPM). Tidak kalah penting pelaksanaan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang merupakan program Nasional yang terdiri dari 5 pilar.

7.1. Penyelenggaraan Air Mimum

Pengambilan sampel air minum dilaksanakan berdasarkan hasil Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) yaitu terhadap air minum dengan sistem perpipaan, Depot Air Minum (DAM) dan air minum bukan jaringan perpipaan dengan risiko pencemaran sedang dan rendah. Frekuensi IKL dilakukan setahun dua kali pada musim kemarau dan musim hujan. Penyelenggara air minum adalah badan usaha milik Negara/ badan usaha milik daerah, koperasi, badan usaha swasta, usaha perorangan, kelompok masyarakat.

Hasil penyelenggaraan air minum di Kabupaten Situbondo tahun 2019 terdapat 72.099 sarana air minum yang dilakukan IKL dari 139.860 sarana air minum yang ada atau sebesar 51,6%. Dari 72.099 sarana air minum yang di IKL tersebut 66.554 atau 92,3% memiliki resiko rendah sampai sedang. Dan telah dilakukan pemeriksaan sampel air sejumlah 223 sampel. Pemeriksaan yang dilakukan adalah meliputi pemeriksaan fisik, bakteriologis dan kimia. Dari 223 sampel yang diperiksa tersebut, yang memenuhi syarat berjumlah 165 sampel atau hanya sebesar 74%.

Hambatan dan kendala yang dihadapi di lapangan terkait penyelenggaraan air minum adalah :

Profil Kesehatan Kabupaten Situbondo Tahun 2019

c. Masih rendahnya pengetahuan masyarakat akan pentingnya penyehatan air dan penyehatan lingkungan pemukiman.

d. Rendahnya stimulasi perbaikan SAB di masyarakat

e. Minimnya Sumber Daya Manusia dalam melakukan Inspeksi Kesehatan Lingkungan dan input data

f. Adanya program lintas sektor yang terkait dengan peningkatan akses air bersih di masyarakat seperti PAMSIMAS (Penyediaan Air Minum Berbasis Masyarakat), PAM STBM, PnPM (Pemberdayaan Masyarakat) khususnya di Pedesaan.

Langkah-langkah yang dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut :

a. Upaya-upaya pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan kepedulian pemeliharaan SAB

b. Penyuluhan/sosialisasi pada pemilik sarana air bersih untuk memperhatikan masalah kesehatan lingkungan dengan mengupayakan keberadaan sarana sanitasi dasar. c. Upaya-upaya meningkatkan peran serta sektor swasta dalam program CSR untuk

perbaikan SAB yang tidak sehat

7.2. Akses Sanitasi

Jamban sehat merupakan salah satu sanitasi dasar yang paling dianggap penting karena tinja manusia merupakan sumber dari berbagai macam penyakit. Oleh karena itu, pembuangan tinja harus dilakukan di tempat yang memenuhi persyaratan kesehatan, artinya jamban yang tidak memungkinkan penularan penyakit dan tidak mencemari lingkungan di sekitarnya. Yang termasuk jenis jamban yang memenuhi syarat kesehatan adalah jamban leher angsa, komunal, plengsengan dan jamban cemplung yang memiliki tutup.

Pada tahun 2019 sebesar 66,6% atau 130.732 KK sudah akses terhadap fasilitas sanitasi layak atau jamban sehat. Dari 130.732 KK yang akses terhadap sanitasi layak, 4236 KK ( 3,2%) menggunakan jamban sharing/komunal, 12.355 KK (9,4%) Jamban Sehat Semi Permanen (JSSP) dan 85.834 (87,3%) KK Jamban Sehat Permanen atau JSP (Lampiaran Profil Tabel 73). Sedangkan target KK memiliki Akses terhadap jamban sehat yang ditetapkan di PKP adalah sebesar 87%. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa akses jamban sehat Kabupaten Situbondo belum mencapai target.

Jika dilihat cakupan jamban sehat per Puskesmas diketahui bahwa sudah ada 4 Puskesmas yang mencapai target 87%, yakni Puskesmas Situbondo (95,4%), Panji (92,3%), Wonorejo (88,4%) dan Sumbermalang (87,4%). Puskesmas dengan cakupan jamban sehat terendah adalah Puskesmas Mlandingan, yakni sebesar 28,8%. Berikut ini disajikan sebaran akses terhadap jamban berkualitas per Puskesmas di Kabupaten Situbondo tahun 2019.

Gambar 7.1. Cakupan Jamban Sehat Per Puskesmas Kabupaten Situbondo Tahun 2019

Sumber: Seksi Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja dan Olahraga

Hambatan dan kendala yang dihadapi terkait program sanitasi dasar adalah kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan lingkungan pemukiman dan rendahnya kebiasaan berperilaku hidup bersih dan sehat di masyarakat sehingga perlu dilakukan penyuluhan/sosialisasi pada masyarakat tentang pentingnya keberadaan sarana sanitasi dasar di rumah. Faktor geografis dan budaya masyarakat Kabupaten Situbondo juga turut andil menjadi kendala program sanitasi sehingga mereka cenderung BAB di sungai, laut, dan ladang. Selain itu kurangnya dukungan dari pemangku kebijakan di suatu wilayah atau desa masih tergolong rendah. Oleh karena itu, perlu dilakukan pemantauan dan pembinaan secara rutin dalam upaya pemberdayaan masyarakat untuk membiasakan budaya hidup bersih dan sehat serta upaya-upaya peningkatan peran serta sektor pemerintah maupun swasta dalam rangka pembangunan jamban sehat murah sederhana dan program CSR untuk membantu pembangunan rumah layak huni.

Profil Kesehatan Kabupaten Situbondo Tahun 2019

7.3. Sanitasi Total Berbasis Massyarakat (STBM)

Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) merupakan pendekatan untuk merubah perilaku higiene dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan, yakni mendorong perubahan perilaku masyarakat atas kesadaran sendiri dengan menyentuh perasaan, pola pikir, perilaku, dan kebiasaan individu atau masyarakat sehingga diharapkan dapat lebih efektif mempercepat akses terhadap sanitasi yang layak.

Masyarakat menyelenggarakan STBM secara mandiri dengan berpedoman pada 5 pilar STBM, yakni:

1. Stop Buang Air Besar Sembarangan 2. Cuci Tangan Pakai Sabun

3. Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga 4. Pengamanan Sampah Rumah Tangga dan

5. Pengamanan Limbah Cair Rumah Tangga.

Dalam Permenkes Nomor 3 Tahun 2014 tentang STBM disebutkan bahwa strategi penyelenggaraan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) meliputi 3 (tiga) komponen yang saling mendukung satu dengan yang lain yaitu:

1. Penciptaan lingkungan yang kondusif (enabling environment); 2. Peningkatan kebutuhan sanitasi (demand creation);

3. Peningkatan penyediaan akses sanitasi (supply improvement);

Apabila salah satu dari komponen STBM tersebut tidak ada maka proses pencapaian 5 (lima) Pilar STBM tidak maksimal. Tiga strategi ini disebut Komponen Sanitasi Total seperti yang terlihat pada gambar berikut.

Program STBM memiliki indikator outcome dan indikator output. Indikator outcome STBM yaitu menurunnya kejadian penyakit diare dan penyakit berbasis lingkungan lainnya yang berkaitan dengan sanitasi dan perilaku. Sedangkan indikator output STBM adalah sebagai berikut :

a. Setiap individu dan komunitas mempunyai akses terhadap sarana sanitasi dasar sehingga dapat mewujudkan komunitas yang bebas dari buang air di sembarang tempat (ODF).

b. Setiap rumah tangga telah menerapkan pengelolaan air minum dan makanan yang aman di rumah tangga.

c. Setiap rumah tangga dan sarana pelayanan umum dalam suatu komunitas (seperti sekolah, kantor, rumah makan, puskesmas, pasar, terminal) tersedia fasilitas cuci tangan (air, sabun, sarana cuci tangan), sehingga semua orang mencuci tangan dengan benar.

d. Setiap rumah tangga mengelola limbahnya dengan benar. e. Setiap rumah tangga mengelola sampahnya dengan benar.

Sampai dengan tahun 2019 semua Desa di Kabupaten Situbondo telah melaksanakan STBM, yakni melakukan pemicuan minimal satu dusun, mempunyai tim kerja masyarakat/Natural Leader, dan telah mempunyai rencana tindak lanjut untuk menuju Sanitasi Total. Sedangkan cakupan desa ODF Kabupaten Situbondo tahun 2019 adalah sebesar 50% (68 desa dari 136 desa). Target Desa ODF yang ditetapkan di PKP tahun 2019 adalah sebesar 70%. Walaupun capaian desa ODF Kabupaten Situbondo belum memenuhi target yang ditetapkan, namun peningkatan capaian kinerjanya cukup signifikan dari tahun ke tahun, yakni dari 4 desa (2,98%) tahun 2017 menjadi 12 desa (8,82%) di tahun 2018 dan di tahun 2019 meningkat lagi menjadi 68 desa (50%). Berikut ini disajikan Diagram cakupan Desa ODF tahun 2017-2019.

Gambar 7.2. Cakupan Jamban Sehat Per Puskesmas Kabupaten Situbondo Tahun 2019

Sumber: Seksi Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja dan Olahraga

Dari 20 Puskesmas yang ada di Kabupaten Situbondo, capaian Desa ODF 100% dicapai oleh 3 Puskesmas, yakni Sumbermalang, Situbondo dan Wonorejo. Namun, bertolak belakang dengan masih adanya 2 Puskesmas yang sama sekali tidak memiliki desa ODF (0%), yakni Puskesmas Widoropayung dan Puskesmas Banyuputih.

Profil Kesehatan Kabupaten Situbondo Tahun 2019

Cakupan Desa ODF Per Puskesmas Kabupaten Situbondo Tahun 2019 disajikan pada Gambar berikut.

Gambar 7.3. Cakupan Desa ODF Per Puskesmas Kabupaten Situbondo Tahun 2019

Sumber: Seksi Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja dan Olahraga

7.4. Tempat Tempat Umum Yang Memenuhi Syarat

Kesehatan

Tempat-tempat umum yang dibina kesehatan lingkungannya meliputi sarana kesehatan, sarana pendidikan, pasar dan tempat ibadah. Jumlah tempat-tempat umum yang ada di Kabupaten Situbondo tahun 2019 sebanyak 1.275 unit yang terdiri dari 804 sarana pendidikan, 24 sarana kesehatan, 423 tempat ibadah dan 24 pasar. Berikut ini disajikan diagram Tempat Tempat Umum Di Kabupaten Situbondo Yang Memenuhi Syarat Kesehatan Berdasarkan Jenisnya Tahun 2019.

Gambar 7.4 Tempat Tempat Umum Di Kabupaten Situbondo Yang Memenuhi Syarat Kesehatan Berdasarkan Jenisnya Tahun 2019

Berdasarkan Gambar 7.2 di atas diketahui bahwa dari 804 tempat-tempat umum yang telah dilakukan pemriksaan hanya 747 unit atau sebesar 58,6% yang memenuhi persyaratan kesehatan dari target 63% yang ditetapkan (Lampiran Profil Tabel 75). Cakupan TTU sarana kesehatan yang memenuhi syarat kesehatan baru mencapai 79,2%, sehingga masih ada 5 sarana kesehatan yang belum memenuhi syarat kesehatan, yakni Puskesmas Mlandingan, Puskesmas Kendit, Puskesmas Panji, Puskesmas Klampokan dan RSUD Asembagus. Tidak dipenuhinya syarat kesehetan di kelima sarana kesehatan tersebut dikarenakan pada saat penilaian pada item pengelolaan limbah tidak memenuhi syarat. Sedangkan untuk sarana pendidikan, tempat ibadah dan pasar juga perlu terus ditingkatkan capaiannya dengan kerjasama lintas sektor.

Meskipun angka capaian TTU yang memenuhi syarat kesehatan Kabupaten Situbondo belum memenuhi syarat kesehatan, namun jika ditelusur ke Puskesmas, sudah ada 7 Puskesmas yang mencapai target 63%, yakni Puskesmas Mangaran, Klampokan, Besuki, Bungatan, Suboh, Widoropayung dan Sumbermalang. Puskesmas dengan capaian TTU memenuhi syarat yang terendah dalah Puskesmas Mlandingan yang hanya mencapai 33,3%. Capaian TTU memenuhi syarat per Puskesmas tahun 2019 disajikan pada Gambar berikut.

Gambar 7.5 Capaian TTU Memenuhi Syarat Per Puskesmas Kabupaten Situbondo Tahun 2019

Profil Kesehatan Kabupaten Situbondo Tahun 2019

Banyaknya tempat-tempat umum yang tidak memenuhi syarat kesehatan tersebut disebabkan oleh :

a. Kurangnya pengertian murid dan pengelola sekolah akan pentingnya kesehatan lingkungan di wilayah sekolah.

b. Terbatasnya anggaran untuk pemberian stimulan wastafel di sekolah.

c. Keterbatasan kepemilikan sanitarian kit di puskesmas karena pada check list penilaian sarana pendidikan terdapat variabel pemeriksaan kualitas lingkungan udara sehingga mempengaruhi hasil akhir penilaian

Langkah-langkah yang dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut antara lain:

a. Sosialisasi pada murid dan pengelola sekolah untuk memperhatikan masalah kesehatan lingkungan dengan mengupayakan keberadaan sarana sanitasi dasar. b. Pemasangan poster-poster yang berkaitan dengan penyehatan lingkungan di areal

sekolah, misalnya cara mencuci tangan yang baik dan benar.

c. Berupaya untuk menambah anggaran dalam perwujudan stimulant wastafel melalui peran serta sektor swasta dalam program CSR perusahaan tersebut

d. Pengadaan sanitarin kit di puskesmas

7.5. Tempat Pengelolaan Makanan Yang Memenuhi Syarat

Kesehatan

Keamanan makanan merupakan kebutuhan masyarakat, karena makanan yang aman, akan melindungi dan mencegah terjadinya penyakit atau gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh makanan yang tidak layak. Dalam rangka untuk mewujudkan keamanan makanan, dilakukan pengawasan terhadap semua Tempat Pengelolaan Makanan (TPM). TPM yang dimaksud adalah produsen makanan/minuman siap saji, seperti : Jasaboga/catering, Rumah Makan/Restoran, Makanan Jajanan/Kantin sentra makanan jajanan dan Depot Air Minum (DAM). Untuk itu perlu dilakukan pembinaan terhadap semua sasaran TPM. Kegiatan pembinaan dengan :

1. Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) sasaran yang ada, indikator yang diawasi adalah tempat, penjamah (orang), bahan makanan dan makanan siap dihidangkan.

2. Melakukan penyuluhan dengan memberikan sertifikat penyuluhan tenaga penjamah/pengelola makanan.

3. Menerbitkan sertifikat Laik sehat, setelah TPM tersebut memenuhi syarat dari tempat, Bahan makanan, orang atau penjamahnya. Setiap TPM wajib memiliki sertifikat Laik Sehat, kecuali makanan Jajanan cukup memperoleh penyuluhan/pembinaan.

4. Melakukan Uji Petik pengawasan TPM pada penjamah, peralatan makanan yang dipakai, air yang digunakan, dan hasil olahan.

TPM dikategorikan sehat apabila TPM tersebut memiliki sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, pembuangan limbah, ventilasi yang baik dan luas sesuai dengan banyaknya pengunjung.

Jumlah yang tercatat di Kabupaten Situbondo tahun 2019 adalah sebanyak 1.059 unit yang terdiri dari jasa boga 61 unit, Rumah Makan/Restoran 116 unit, Depot Air Minum (DAM) 46 unit dan makanan jajanan/ kantin/ sentra makanan jajanan 836 unit. Dari 1.059 TPM yang ada di Kabupaten Situbondo yang dinyatakan memenuhi syarat kesehatan sebesar 591 TPM (55,8%). Jika dibandingkan dengan cakupan TPM memenuhi syarat tahun sebelumnya, cakupan tahun 2019 mengalami penurunan 4,9 poin, yakni 60,70% tahun 2018 menjadi 55,8% tahun 2019.

Gambar 7.3 berikut ini menggambarkan TPM Di Kabupaten Situbondo Yang Memenuhi Syarat Kesehatan Berdasarkan Jenisnya Tahun 2019.

Gambar 7.6 TPM Di Kabupaten Situbondo Yang Memenuhi Syarat Kesehatan Berdasarkan Jenisnya Tahun 2019

Profil Kesehatan Kabupaten Situbondo Tahun 2019

Berdasarkan Gambar 7.3 di atas diketahui bahwa prosentase TPM Jasa Boga memiliki capaian ternedah dibandingkan dengan TPM lainnya, yakni hanya mencapai 37,7%, kemudian Rumah Makan/Restoran sebesar 50%, Makanan Jajanan sebesar 56,3% dan DAM menduduki capaian tertingi dibandingkan TPM lainnya, yakni mencapai 84,8%.

Jumlah TPM dari tahun ke tahun jumlahnya cenderung terus bertambah, yakni tahun 2016 tercatat 1.042 unit, tahun 2017 1.081 unit, tahun 2018 menurun menjadi 1.056 unit dan tahun 2019 sedikit mengalami penambahan menjadi 1.059 unit. Namun, prosentase TPM yang memenuhi syarat kesehatan berbanding terbalik, yakni cenderung menurun dari tahun ke tahun, yakni dari 45,01% tahun 2016, kemudian naik 64,57% tahun 2017. Tahun 2018 capaian TPM memenuhi syarat mengalami penurunan menjadi 60,70% dan tahun 2019 kembali mengalami penurunan menjadi 55,8%. Trend TPM memenuhi syarat kesehatan selama empat tahun terakhir disajikan pada Gambar 6.4 berikut.

Gambar 7.7 Trend TPM Memenuhi Syarat Kesehatan Kabupaten Situbondo Tahun 2016-2019

Sumber: Seksi Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja dan Olahraga

Satu-satunya Puskesmas yang capaian TPM-nya 100% memenuhi syarat kesehatan adalah Puskesmas Klampokan. Ada 2 Puskesmas yang capaian TPM memenuhi syaratnya <40% yakni Puskesmas Kendit (28%) dan Puskesmas Arjasa (22,58%). Berikut ini disajikan Distribusi Capaian TPM Memenuhi Syarat Kabupaten Situbondo Per Puskesmas Tahun 2019.

Gambar 7.8 Distribusi Capaian TPM Memenuhi Syarat Kabupaten Situbondo Per Puskesmas Tahun 2019

Sumber: Seksi Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja dan Olahraga

Hambatan dan kendala yang dihadapi terkait rendahnya capaian TPM sehat di Kabupaten Situbondo adalah sbb:

a. Kurangnya sarana/alat pemeriksaan penyehatan makanan khususnya bagi makanan siap saji dan makanan jajanan bagi petugas di Puskesmas.

b. Masih ditemukan pengelola TPM yang berada di pinggir jalan maupun pedagang-pedagang yang berjualan di areal sekolah yang belum memenuhi persyaratan lokasi maupun cara pengeloaan dan penyajian yang sehat.

c. Frekuensi pembinaan TPM oleh petugas masih terbatas

d. Kurangnya pengertian masyarakat khususnya pengelola TPM akan pentingnya kesehatan lingkungan di wilayah yang menjadi tempat-tempat umum.

e. Kepedulian masyarakat untuk ikut memelihara TPM masih sangat kurang

Langkah-langkah yang sudah dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut adalah:

a. Upaya penambahan sarana/alat (food test kit) untuk pemeriksaan makanan dan minuman yang dianggap berbahaya bagi kesehatan, sehingga para penjual bisa langsung mengetahui apakah makanan dan minuman yang mereka jual berbahaya atau tidak.

b. Penyuluhan/sosialisasi bagi pengelola TPM untuk memperhatikan masalah kesehatan lingkungan dengan mengupayakan keberadaan sarana sanitasi dasar dan cara-cara pengolahan makanan dan minuman dengan benar

Profil Kesehatan Kabupaten Situbondo Tahun 2019

c. Pemasangan poster-poster yang berkaitan dengan penyehatan lingkungan di areal TPM, misalnya cara mencuci tangan yang baik dan benar dan di areal yang menjadi tempat-tempat umum.

LAMPIRAN

TABEL PROFIL KESEHATAN

TAHUN 2019

KABUPATEN SITUBONDO TAHUN 2019

L P L + P Satuan

I GAMBARAN UMUM

1 Luas Wilayah 1,639 Km2 Tabel 1

2 Jumlah Desa/Kelurahan 136 Desa/Kelurahan Tabel 1

3 Jumlah Penduduk 333,198 349,780 682,978 Jiwa Tabel 2

4 Rata-rata jiwa/rumah tangga 3.1 Jiwa Tabel 1

5 Kepadatan Penduduk /Km2 416.8 Jiwa/Km2 Tabel 1

6 Rasio Beban Tanggungan 39.5 per 100 penduduk produktif Tabel 2

7 Rasio Jenis Kelamin 95.3 Tabel 2

8 Penduduk 15 tahun ke atas melek huruf 92.6 93.5 93.1 % Tabel 3

9 Penduduk 15 tahun yang memiliki ijazah tertinggi

a. SMP/ MTs 17.8 16.2 17.0 % Tabel 3

b. SMA/ MA 22.9 15.7 19.2 % Tabel 3

c. Sekolah menengah kejuruan 0.0 0.0 0.0 % Tabel 3

d. Diploma I/Diploma II 0.4 0.4 0.4 % Tabel 3

e. Akademi/Diploma III 0.6 0.8 0.7 % Tabel 3

f. S1/Diploma IV 5.0 4.1 4.5 % Tabel 3

g. S2/S3 (Master/Doktor) 0.3 0.1 0.2 % Tabel 3

II SARANA KESEHATAN II.1 Sarana Kesehatan

10 Jumlah Rumah Sakit Umum 5 RS Tabel 4

11 Jumlah Rumah Sakit Khusus 0 RS Tabel 4

12 Jumlah Puskesmas Rawat Inap 17 Puskesmas Tabel 4

13 Jumlah Puskesmas non-Rawat Inap 3 Puskesmas Tabel 4

14 Jumlah Puskesmas Keliling 27 Puskesmas keliling Tabel 4

15 Jumlah Puskesmas pembantu 59 Pustu Tabel 4

16 Jumlah Apotek 36 Apotek Tabel 4

17 RS dengan kemampuan pelayanan gadar level 1 100.0 % Tabel 6

II.2 Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan

18 Cakupan Kunjungan Rawat Jalan 154.9 211.1 201.0 % Tabel 5

19 Cakupan Kunjungan Rawat Inap 4.2 5.4 8.6 % Tabel 5

20 Angka kematian kasar/Gross Death Rate (GDR) di RS 35.3 31.7 33.2 per 1.000 pasien keluar Tabel 7

21 Angka kematian murni/Nett Death Rate (NDR) di RS 15.3 14.6 14.9 per 1.000 pasien keluar Tabel 7

22 Bed Occupation Rate (BOR) di RS 55.3 % Tabel 8

RESUME PROFIL KESEHATAN

L P L + P Satuan

NO INDIKATOR ANGKA/NILAI No.

Lampiran

23 Bed Turn Over (BTO) di RS 61.0 Kali Tabel 8

24 Turn of Interval (TOI) di RS 2.7 Hari Tabel 8

25 Average Length of Stay (ALOS) di RS 3.3 Hari Tabel 8

26 Puskesmas dengan ketersediaan obat vaksin & essensial 1.0 % Tabel 9

II.3 Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM)

27 Jumlah Posyandu 925 Posyandu Tabel 10

28 Posyandu Aktif 76.2 % Tabel 10

29 Rasio posyandu per 100 balita 2.1 per 100 balita Tabel 10

30 Posbindu PTM 154 Posbindu PTM Tabel 10

III SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN

31 Jumlah Dokter Spesialis 26 11 37 Orang Tabel 11

32 Jumlah Dokter Umum 46 56 102 Orang Tabel 11

33 Rasio Dokter (spesialis+umum) 5 per 100.000 penduduk Tabel 11

34 Jumlah Dokter Gigi + Dokter Gigi Spesialis 9 31 40 Orang Tabel 11

35 Rasio Dokter Gigi (termasuk Dokter Gigi Spesialis) 6 per 100.000 penduduk Tabel 11

36 Jumlah Bidan 331 Orang Tabel 12

37 Rasio Bidan per 100.000 penduduk 48 per 100.000 penduduk Tabel 12

38 Jumlah Perawat 236 311 547 Orang Tabel 12

39 Rasio Perawat per 100.000 penduduk 80 per 100.000 penduduk Tabel 12

40 Jumlah Tenaga Kesehatan Masyarakat 8 23 31 Orang Tabel 13

41 Jumlah Tenaga Sanitasi 5 20 25 Orang Tabel 13

42 Jumlah Tenaga Gizi 6 33 39 Orang Tabel 13

43 Jumlah Tenaga Kefarmasian 9 42 51 Orang Tabel 15

IV PEMBIAYAAN KESEHATAN

44 Peserta Jaminan Pemeliharaan Kesehatan 67.9 % Tabel 17

45 Desa yang memanfaatkan dana desa untuk kesehatan 100.0 % Tabel 18

46 Total anggaran kesehatan Rp316,501,717,133 Rp Tabel 19

47 APBD kesehatan terhadap APBD kab/kota 16.2 % Tabel 19

48 Anggaran kesehatan perkapita Rp463,414 Rp Tabel 19

V KESEHATAN KELUARGA V.1 Kesehatan Ibu

49 Jumlah Lahir Hidup 4,758 4,333 9,091 Orang Tabel 20

50 Angka Lahir Mati (dilaporkan) 9.2 6.6 8.0 per 1.000 Kelahiran Hidup Tabel 20

L P L + P Satuan

NO INDIKATOR ANGKA/NILAI No.

Lampiran

53 Kunjungan Ibu Hamil (K1) 106.3 % Tabel 23

54 Kunjungan Ibu Hamil (K4) 84.4 % Tabel 23

55 Ibu hamil dengan imunisasi Td2+ 100.1 % Tabel 24

56 Ibu Hamil Mendapat Tablet Tambah Darah 90 89.7 % Tabel 27

57 Persalinan ditolong Tenaga Kesehatan 98.0 % Tabel 23

58 Persalinan ditolong Tenaga Kesehatan di Fasyankes 97.9 % Tabel 23

59 Pelayanan Ibu Nifas KF3 91.8 % Tabel 23

60 Ibu Nifas Mendapat Vitamin A 94.0 % Tabel 23

61 Penanganan komplikasi kebidanan 118.0 % Tabel 30

62 Peserta KB Aktif 85.4 % Tabel 28

63 Peserta KB Pasca Persalinan 94.1 % Tabel 29

V.2 Kesehatan Anak

64 Jumlah Kematian Neonatal 62 53 115 neonatal Tabel 31

65 Angka Kematian Neonatal (dilaporkan) 13.0 12.2 12.6 per 1.000 Kelahiran Hidup Tabel 31

66 Jumlah Bayi Mati 78 58 136 bayi Tabel 31

67 Angka Kematian Bayi (dilaporkan) 16.4 13.4 15.0 per 1.000 Kelahiran Hidup Tabel 31

68 Jumlah Balita Mati 81 63 144 Balita Tabel 31

69 Angka Kematian Balita (dilaporkan) 17.0 14.5 15.8 per 1.000 Kelahiran Hidup Tabel 31

70 Penanganan komplikasi Neonatal 88.6 76.7 82.5 % Tabel 30

71 Bayi baru lahir ditimbang 110.5 95.9 103.0 % Tabel 33

72 Berat Badan Bayi Lahir Rendah (BBLR) 6.6 8.2 7.4 % Tabel 33

73 Kunjungan Neonatus 1 (KN 1) 110.6 95.8 103.0 % Tabel 34

Dokumen terkait