Bab IV SITUASI UPAYA KESEHATAN
B. Pelayanan Kesehatan Rujukan dan Penunjang
51
B. PELAYANAN KESEHATAN RUJUKAN DAN PENUNJANG
Upaya pelayanan kesehatan kepada masyarakat dilakukan secara rawat jalan bagi masyarakat yang mendapat gangguan ringan dan pelayanan rawat inap baik secara langsung maupun melalui rujukan pasien bagi masyarakat yang mendapatkan gangguan kesehatan sedang hingga berat. Sebagian besar sarana pelayanan Puskesmas dipersiapkan untuk memberikan pelayanan kesehatan dasar bagi kunjungan rawat jalan sedangkan Rumah Sakit yang dilengkapi berbagai fasilitas di samping memberikan pelayanan pada kasus rujukan untuk rawat inap juga melayani untuk kunjungan rawat jalan.
Gambaran pencapaian pelayanan kunjungan rawat jalan dan pasien rawat inap hasil pengumpulan data selama lima tahun terakhir dapat dilihat pada
Gambar IV. 13.
GAMBAR IV. 13
JUMLAH KUNJUNGAN RAWAT JALAN DAN PASIEN RAWAT INAP DI FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2004 - 2008
Sumber : Seksi Rumah Sakit Tahun 2008
Berdasarkan gambar tersebut diatas terlihat bahwa pelayanan kesehatan untuk rawat jalan selama tahun 2008 naik menjadi 2.943.655 dibanding tahun
Profil Kesehatan Propinsi Sulawesi Tengah 2008
52
2007 sebanyak 1.794.027, demikian halnya pada rawat Inap terjadi peningkatan dari 84.078 pada tahun 2007 menjadi 99.212 pada tahun 2008.
Jumlah kunjungan rawat jalan dan pasien rawat inap di sarana pelayanan kesehatan menurut Kabupaten/Kota selama tahun 2008 disajikan pada lampiran tabel 42.
1. Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit
Beberapa indikator standar terkait dengan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit yang dipantau antara lain pemanfaatan tempat tidur (BOR), rata-rata lama hari perawatan (LOS), rata-rata tempat tidur dipakai (BTO), rata-rata selang waktu pemakaian tempat tidur (TOI), persentase pasien keluar yang meninggal (GDR), dan persentase pasien keluar yang meninggal < 24 jam perawatan (NDR).
a.
Angka Penggunaan Tempat Tidur (BOR)Angka penggunaan tempat tidur (BOR) adalah indikator yang digunakan untuk mengetahui tingkat pemanfaatan tempat tidur rumah sakit. Rata-rata BOR rumah sakit di Sulawesi Tengah pada tahun 2008 adalah 50,9% dengan kisaran terendah 7% (RS Kabelota Donggala) dan tertinggi RSU Undata dan RSU Anutapura masing-masing (78,%) dan 76,8%.
b. Rata-Rata Lama Perawatan (LOS)
Rata-rata lama perawatan di Rumah Sakit (LOS = Length Of Stay) merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur efisiensi pelayanan rumah sakit . Rata-Rata LOS pada RSU di Sulawesi Tengah pada tahun 2008 adalah sebesar 4,1 hari. LOS tertinggi terdapat di RSJ Madani yaitu 8,7 hari perawatan dan yang terendah di RS Islam Sis Aljufri yaitu 1,0 hari perawatan.
Profil Kesehatan Propinsi Sulawesi Tengah 2008
53
c. Interval Penggunaan Tempat Tidur (TOI/Turn Over Interval)
Turn Over Interval (TOI) adalah rata-rata jumlah hari TT tidak terpakai dari saat kosong sampai saat terisi berikutnya. Angka ini merupakan salah satu indikator tingkat efisiensi pelayanan rumah sakit. Standard TOI adalah 1 – 3 hari. Rata-rata TOI di RSU Sulawesi Tengah tahun 2008 adalah 4 hari, terendah di RSU Ampana (0,5) dan yang tertinggi adalah RS Prof.DR.SJ WOROUW (65,9) hari. Bila dibandingkan dengan standard TOI maka keadaan RSU di Sulawesi Tengah menunjukkan bahwa tingkat efisiensi RSU masih rendah.
d.
Angka Kematian Umum (GDR/Gross Death Rate)Gross Death Rate (GDR) adalah angka kematian total pasien rawat inap yang keluar RS per 100 penderita keluar hidup dan mati. Indikator ini menggambarkan kualitas pelayanan suatu RS secara umum, meskipun GDR dipengaruhi juga oleh angka kematian ≤ 48 jam yang umumnya merupakan kasus gawat darurat. Rata-rata GDR di RSU Sulawesi Tengah pada tahun 2008 adalah 27,6%0 GDR tertinggi di RS Sinar Kasih Tentena (50%0 ) dan yang terendah di RS Wirbuana (1,3%o).
e.
Angka Kematian Netto (NDR/Nett Death Rate)Nett Death Rate (NDR) adalah angka kematian ≥ 48 jam pasien rawat inap per 100 penderita keluar (hidup + mati). Indikator ini berguna untuk mengetahui kualitas pelayanan rumah sakit.
Rata-rata NDR di RSU Sulawesi Tengah tahun 2008 adalah 13,5 %o , dengan NDR tertinggi di RSU Luwuk (31,3%o) dan yang terendah di RS Banggai Kepulauan (1,1 %o)
Pencapaian indikator pelayanan kesehatan di RS selama tiga tahun terakhir dapat dilihat pada Gambar IV.14 berikut ini.
Profil Kesehatan Propinsi Sulawesi Tengah 2008
54
GAMBAR IV.14
PENCAPAIAN INDIKATOR BOR, GDR, NDR, LOS DAN TOI RUMAH SAKIT TAHUN 2005-2008
Sumber : Seksi Rumah Sakit Tahun 2008
Berdasarkan gambar tersebut diatas menunjukkan bahwa pemakaian tempat tidur di rumah sakit selama tahun 2008 mengalami penurunan yaitu pada tahun 2007 menjadi 52,7 menjadi 50,9 pada tahun 2008. Banyak faktor yang mempengaruhi angka BOR suatu rumah sakit, diantaranya semakin meningkatnya jumlah rumah sakit dan tempat tidur yang tersedia sedangkan jumlah populasi yang mencari pelayanan tidak terlalu tinggi perkembangannya atau perlu adanya pemisahan perhitungan BOR pada Rumah Sakit Khusus.
Meningkatnya angka GDR dan NDR pada tahun 2008, perlu ditindaklanjuti dengan strategi baru dalam pelayanan kesehatan yang dikaitkan dengan peningkatan kemampuan tenaga kesehatan termasuk prosedur rujukan.
Sedangkan indikator pemakaian tempat tidur (TOI) dan lamanya hari rawatan dan selang waktu dalam pemakaian tempat tidur tidak banyak mengalami perubahan. Gambaran secara rinci indikator pelayanan kesehatan di RS menurut Kabupaten/Kota tahun 2008 dapat dilihat pada lampiran tabel 63.
Profil Kesehatan Propinsi Sulawesi Tengah 2008
55
2. Pelayanan Ibu Hamil dan Neonatus Risiko Tinggi
Hasil pemutahiran data/pengumpulan data profil kesehatan Kabupaten/Kota menunjukkan bahwa Cakupan pelayanan ibu hamil risiko tinggi yang dirujuk dan mendapatkan penanganan kesehatan selama tahun 2008 menunjukkan penurunan dibandingkan tahun 2007. Kabupaten yang cakupannya tertinggi adalah Kabupaten Toli-Toli (36,05%)sedangkan yang terendah adalah Kabupaten Banggai Kepulauan (6,7%).
Untuk pelayanan neonatus memiliki risiko tinggi yang dirujuk dan mendapatkan penanganan kesehatan selama tahun 2008 menunjukkan penurunan menjadi 14,24% dibandingkan cakupan tahun 2007 36,55%. Persentase ibu hamil risiko tinggi dan neonatus risiko tinggi yang dirujuk dan mendapat pelayanan kesehatan dalam dua tahun terakhir dapat dilihat pada Gambar IV. 15.
GAMBAR IV. 15
PERSENTASE IBU HAMIL DAN NEONATUS RISIKO TINGGI DIRUJUK DAN MENDAPAT PENANGANAN KESEHATAN
TAHUN 2005 – 2008
Profil Kesehatan Propinsi Sulawesi Tengah 2008
56
Persentase cakupan pelayanan kesehatan pada kelompok ibu hamil dan neonatus dengan risiko tinggi yang dirujuk menurut Kabupaten/Kota selama tahun 2008 disajikan tabel 28.
3. Pemanfaatan Obat Generik
Penggunaan obat generik merupakan salah satu langkah dalam upaya meningkatkan kemampuan masyarakat menjangkau obat yang berkualitas. Keberhasilan dalam sosialisasi pemanfaatan obat generik sangat dipengaruhi oleh keseriusan tenaga kesehatan dan terjaminnya ketersediaan obat generik di fasilitas kesehatan.