• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENURUT KECAMATAN DI KAB.BULUKUMBA TAHUN 2011

B. PELAYANAN KESEHATAN RUJUKAN DAN PENUNJANG

Upaya pelayanan kesehatan rujukan dan penyediaan fasilitas penunjang merupakan bagian dari upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Adapun kegiatan pokok upaya kesehatan perorangan peningkatan pelayanan kesehatan rujukan, pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin di kelas III di rumah sakit, dll. Berikut uraian singkat tentang pelayanan kesehatan rujukan dan penunjang tersebut.

44 1. Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit

Penilaian tingkat keberhasilan pelayanan di rumah sakit biasanya dilihat dari berbagai segi yaitu tingkat pemanfaatan sarana, mutu, dan tingkat efisiensi pelayanan. Beberapa indikator standar terkait dengan pelayanan kesehatan di rumah sakit yang dipantau antara lain pemanfaatan tempat tidur (Bed Occupancy Rate/BOR), rata-rata lama hari perawatan (Length of Stay/LOS), rata-rata tempat tidur dipakai (Bed Turn Over/BTO), rata-rata selang waktu pemakaian tempat tidur (Turn of Interval/TOI), persentase pasien keluar yang meninggal (Gross Death Rate/GDR) dan persentase pasien keluar yang meninggal > 48 jam perawatan (Net Death Rate/NDR).

Berdasarkan data yang dihimpun Rumah Sakit H.A. Sulthan Dg. Radja Kabupaten Bulukumba pada tahun 2011, tingkat pemanfaatan tempat tidur (BOR) belum mencapai angka ideal yang diharapkan (60-85%), yaitu hanya sebesar 40,3%. Pada tahun yang sama, rata-rata lama hari perawatan (LOS) sebesar 4 hari, persentase pasien yang keluar mati <48 jam (GDR) sebesar 3,3%, sedangkan pasien yang keluar mati >48 jam (NDR) sebesar 1,0%. Data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran tabel 59 dan 60.

2. Pelayanan Jaminan Kesehatan Masyarakat

Tujuan penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) yaitu untuk meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan terhadap seluruh masyarakat miskin dan hampir miskin agar tercapai derajat kesehatan yang optimal secara efektif dan efisien. Melalui Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat diharapkan dapat menurunkan AKI, AKB, dan AKABA, serta menurunkan angka kelahiran di samping dapat terlayaninya kasus-kasus kesehatan bagi masyarakat miskin umumnya.

Jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat di Kabupaten Bulukumba telah mencakup seluruh lapisan masyarakat, diantaranya ASKES, ASKESKIN/JAMKESMAS, dan JAMKESDA.Untuk data selengkapnya dapat dilihat lampiran tabel 55.

Cakupan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin dan hampir miskin yang mendapat pelayanan rawat jalan dan rawat inap di sarana pelayanan kesehatan strata 1 masing-masing sebesar 26,01% dan 0,24%. Sementara itu, tidak diperoleh data cakupan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin dan hampir miskin di sarana pelayanan kesehatan strata 2 dan 3. Data lihat di lampiran tabel 57.

45 C. PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT

Upaya perbaikan gizi masyarakat pada hakikatnya dimaksudkan untuk menangani permasalahan gizi yang dihadapi masyarakat. Beberapa permasalahan gizi yang sering dijumpai pada kelompok masyarakat adalah kekurangan kalori protein, kekurangan Vitamin A, gangguan akibat kekurangan Yodium, dan anemia gizi besi. 1. Pemantauan Pertumbuhan Balita

Upaya pemantauan terhadap pertumbuhan balita dilakukan melalui kegiatan penimbangan di Posyandu secara rutin setiap bulan. Menurut data yang dihimpun oleh Seksi Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Bulukumba tahun 2011 tercatat jumlah balita yang ditimbang adalah 24.187 orang (70,4%). Hasil penimbangan menunjukkan bahwa 75,6% balita dengan berat badan naik.

Sementara itu, persentase balita dengan berat badan di bawah garis merah (BGM) sebanyak 422 orang (1,7%). Balita gizi buruk dilaporkan sebanyak 9 orang, terdiri dari 5 orang laki-laki dan 4 orang perempuan. Data selengkapnya tentang pemantauan pertumbuhan balita dapat dilihat pada lampiran tabel 45 dan 46.

2. Pemberian Kapsul Vitamin A

Vitamin A adalah salah satu zat gizi mikro yang diperlukan oleh tubuh yang berguna untuk meningkatkan daya tahan tubuh (imunitas) dan kesehatan mata. Anak yang kekurangan Vitamin A, bila terserang campak, diare atau penyakit infeksi lain, penyakit tersebut akan bertambah parah dan dapat mengakibatkan kematian. Infeksi akan menghambat kemampuan tubuh untuk menyerap zat-zat gizi dan pada saat yang sama akan mengikis habis simpanan Vitamin A dalam tubuh. Kekurangan Vitamin A untuk jangka waktu lama juga akan mengakibatkan terjadinya gangguan pada mata, bila anak tidak segera mendapat Vitamin A akan mengakibatkan kebutaan.

Cakupan pemberian kapsul Vitamin A pada balita tahun 2011 dilaporkan sebesar 94,7% dan untuk bayi sebesar 62,7%. Kapsul Vitamin A juga diberikan pada ibu nifas dengan cakupan sebesar 88,56%. Lihat lampiran tabel 32.

3. Pemberian Tablet Besi

Anemia pada kehamilan juga berhubungan dengan meningkatnya kesakitan ibu. Anemia karena defisiensi zat besi merupakan penyebab utama anemia pada ibu hamil dibandingkan dengan defisiensi zat gizi lainnya. Oleh karena itu anemia gizi pada masa kehamilan sering diidentikkan dengan anemia gizi besi bahwa sekitar 70% ibu hamil di Indonesia menderita anemia gizi. Anemia defisiensi zat besi merupakan masalah gizi yang paling lazim di dunia dan menjangkiti lebih dari 600 juta manusia. Dengan frekuensi yang masih cukup tinggi berkisar antara 10% dan 20%.

46 Pemberian tablet besi (Fe) dimaksudkan untuk mengatasi kasus anemia serta meminimalisasi dampak buruk akibat kekurangan Fe khususnya yang dialami ibu hamil. Cakupan pemberian tablet Fe yang ketiga kalinya pada ibu hamil di Kabupaten Bulukumba pada tahun 2011 dilaporkan sebesar 89,1% dari 8.251 orang ibu hamil yang tercatat di wilayah ini (lampiran tabel 30).

4. Pemberian Kapsul Minyak ber-Yodium

Garam beryodium adalah garam yang telah diperkaya dengan KIO3 (kalium iodat) sebanyak 30-80 ppm. Kekurangan zat yodium disebut juga GAKY (Gangguan Akibat Kekurangan Yodium) merupakan masalah gizi yang serius, karena dapat menyebabkan penyakit gondok dan kretin. Kekurangan unsur yodium dalam makanan sehari-hari, dapat pula menurunkan tingkat kecerdasan seseorang.

Pelaksanaan program pemberian kapsul minyak ber-yodium yang dilaporkan dalam Profil Kesehatan Propinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2009 hanya sebesar 13,90%. Masih rendahnya cakupan konsumsi garam beryodium di masyarakat antara lain karena belum optimalnya penggerakan masyarakat dan kampanye dalam mengkonsumsi garam beryodium, serta dukungan regulasi yang belum memadai. Di samping itu masalah lain adalah belum rutinnya pelaksanaan pemantauan garam beryodium di masyarakat secara terus menerus.

Di Kabupaten Bulukumba, pada tahun 2011 pemberian kapsul ber-yodium tidak dilaksanakan lagi kecuali jika terjadi KLB di suatu wilayah. Hal ini sejalan dengan kebijakan Kementerian Kesehatan.

5. Pemberian ASI Eksklusif

Cara pemberian makanan pada bayi yang baik dan benar adalah menyusui bayi secara eksklusif sejak lahir sampai dengan umur 6 bulan dan meneruskan menyusui anak sampai umur 24 bulan. Mulai umur 6 bulan, bayi mendapat makanan pendamping ASI yang bergizi sesuai kebutuhan tumbuh kembangnya.

Bidang Pelayanan dan peningkatan Kesehatan Masyarakat melaporkan cakupan pemberian ASI eksklusif di Kabupaten Bulukumba pada tahun 2011 sebesar 76,7% (lampiran tabel 41).

Upaya terobosan yang perlu dilakukan untuk meningkatkan pemberian ASI eksklusif antara lain melalui upaya peningkatan pengetahuan petugas tentang manfaat ASI eksklusif, penyediaan fasilitas menyusui di tempat kerja, peningkatan pengetahuan dan keterampilan ibu, peningkatan dukungan keluarga dan masyarakat serta upaya untuk mengendalikan pemasaran susu formula.

47 D. PELAYANAN KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN

Upaya pelayanan kefarmasian dan alat kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya pelayanan kesehatan secara paripurna. Upaya tersebut dimaksudkan untuk (1) menjamin ketersediaan, keterjangkauan, pemerataan obat generik dan obat esensial yang bermutu bagi masyarakat, (2) mempromosikan penggunaaan obat yang rasional dan obat generik, (3) meningkatkan kualitas pelayanan kefarmasian di farmasi komunitas dan farmasi klinik serta pelayanan kesehatan dasar, serta (4) melindungi masyarakat dari penggunaan alat kesehatan yang tidak memenuhi persyaratan mutu dan keamanan.

Upaya peningkatan penggunaan obat rasional, diarahkan kepada peningkatan cakupan dan kualitas pelayanan pembinaan penggunaan obat yang rasional melalui pelaksanaan dan advokasi secara lebih intensif agar terwujud dukungan masyarakat yang kondusif serta terbangunnya kemitraan dengan unit pelayanan kesehatan formal.

Seksi Bina Farmasi Dinas Kesehatan Kabupaten Bulukumba tahun 2011 dilaporkan ketersediaan obat yang masih kurang. Hanya beberapa item obat yang tersedia dalam jumlah yang cukup, bahkan berlebih. Hal ini terlihat dari laporan tingkat kecukupan obat. Data ketersediaan obat dapat dilihat dalam lampiran tabel 69.

Demikian gambaran situasi upaya kesehatan di Kabupaten Bulukumba sampai pada tahun 2011.

48 SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN

Salah satu faktor pendukung upaya pembangunan kesehatan dapat berdaya guna dan berhasil guna bila kebutuhan sumber daya kesehatan dapat terpenuhi yang diharapkan dapat meningkatkan derajat kesehatan. Dalam bab ini, gambaran mengenai situasi sumber daya kesehatan dikelompokkan ke dalam sajian data dan informasi mengenai sarana kesehatan, tenaga kesehatan dan pembiayaan kesehatan.