• Tidak ada hasil yang ditemukan

PELAYANAN KESEHATAN RUJUKAN

Dalam dokumen Ind p PROFIL KESEHATAN INDONESIA 2008 (Halaman 109-113)

Beberapa kegiatan pokok upaya kesehatan perorangan adalah peningkatan pelayanan kesehatan rujukan, pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin di kelas III di rumah sakit, cakupan pelayanan gawat darurat, dan lain-lain.

1. Indikator Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit

Penilaian tingkat keberhasilan pelayanan di rumah sakit biasanya dilihat dari berbagai segi yaitu tingkat pemanfaatan sarana, mutu dan tingkat efisiensi pelayanan. Beberapa indikator standar terkait dengan pelayanan kesehatan di rumah sakit yang dipantau antara lain pemanfaatan tempat tidur (Bed Occupancy Rate/BOR), rata-rata lama hari perawatan (Length of Stay/LOS), rata-rata tempat tidur dipakai (Bed Turn

persentase pasien keluar yang meninggal (Gross Death Rate/GDR) dan persentase pasien keluar yang meninggal >48 jam perawatan (Net Death Rate/NDR).

Berdasarkan data Ditjen Pelayanan Medik, pemakaian tempat tidur BOR di rumah sakit selama empat tahun terakhir cenderung meningkat setiap tahunnya walaupun belum mencapai angka ideal yang diharapkan (60-85%), yaitu berkisar antara 55% – 57%. Namun pada tahun 2007 pemakaian tempat tidur meningkat menjadi 65%. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pemanfaatan tempat tidur di rumah sakit telah mencapai angka ideal.

GAMBAR 4.17

PENCAPAIAN BOR DAN BTO RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2003-2007

Sumber: Ditjen Pelayanan Medik, Depkes RI

Keterangan:

BOR = Bed Occupation Rate/persentase pemanfaatan tempat tidur BTO = Bed Turn Over/rata-rata tempat tidur dipakai

BTO adalah frekuensi pemakaian tempat tidur pada satu periode, berapa kali tempat tidur dipakai dalam satu satuan waktu tertentu. Idealnya dalam satu tahun, satu tempat tidur rata-rata dipakai 40-50 kali. Berdasarkan data yang sama, pada tahun 2007 angka BTO rumah sakit telah mencapai angka ideal, yaitu sebesar 44 kali. Perkembangan BOR dan BTO sejak tahun 2003 dapat dilihat pada Gambar 4.17.

TOI adalah rata-rata hari dimana tempat tidur tidak ditempati dari telah diisi ke saat terisi berikutnya. Indikator ini memberikan gambaran tingkat efisiensi penggunaan tempat tidur. Idealnya tempat tidur kosong tidak terisi pada kisaran 1-3 hari. Seperti halnya BOR dan BTO, pada tahun 2007 angka TOI rumah sakit di Indonesia telah mencapai angka ideal, yaitu terdapat selang waktu 2,9 hari tempat tidur tidak terisi. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa penggunaan tempat tidur di rumah sakit telah memenuhi standar.

GDR adalah angka kematian umum untuk setiap 1.000 penderita keluar dari rumah sakit. Nilai ideal GDR adalah < 45/1.000 pasien. Pada tahun 2007 angka GDR di Indonesia sebesar 48,7 kematian per 1.000 pasien keluar rumah sakit.

NDR adalah angka kematian > 48 jam setelah dirawat untuk tiap-tiap 1.000 pasien keluar. Indikator ini memberikan gambaran mutu pelayanan di rumah sakit. Asumsinya jika pasien meninggal setelah mendapatkan perawatan 48 jam berarti ada faktor pelayanan rumah sakit yang terlibat dengan kondisi meninggalnya pasien. Namun jika pasien meninggal kurang dari 48 masa perawatan, dianggap faktor keterlambatan pasien datang ke rumah sakit yang menjadi penyebab utama pasien meninggal. Nilai NDR yang ideal adalah < 25/1.000 pasien. NDR sejak tahun 2003 hingga 2007 berada di bawah 25, pada tahun 2007 sebesar 23,6. Dengan demikian NDR mencapai angka ideal.

LOS adalah rata-rata lama rawat seorang pasien. Indikator ini di samping memberikan gambaran tingkat efisiensi, juga dapat memberikan gambaran mutu pelayanan, apabila diterapkan pada diagnosis tertentu dapat dijadikan hal yang perlu pengamatan yang lebih lanjut. Secara umum nilai LOS yang ideal antara 6-9 hari. Pada tahun 2007 LOS sebesar 5 hari. Gambar 4.18 memperlihatkan selama tahun 2003-2007 angka LOS belum mencapai angka ideal.

GAMBAR 4.18

PENCAPAIAN NDR, GDR DAN LOS RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2003-2007

Sumber: Ditjen Pelayanan Medik, Depkes RI

Keterangan:

NDR = Net Death Rate (per 1.000 pasien keluar) GDR = Gross Death Rate (per 1.000 pasien keluar) LOS = Length of Stay rata-rata hari rawatan seorang pasien 2. Pelayanan Jaminan Kesehatan Masyarakat

Tujuan penyelenggaraan Jamkesmas yaitu untuk meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan terhadap seluruh masyarakat miskin dan tidak mampu agar tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal secara efektif dan efisien. Melalui Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat diharapkan dapat menurunkan angka kematian ibu melahirkan, menurunkan angka kematian bayi dan balita serta penurunan angka kelahiran di samping dapat terlayaninya kasus-kasus kesehatan bagi masyarakat miskin umumnya. Program ini telah berjalan 4 tahun, dan telah

memberikan banyak manfaat bagi peningkatan akses pelayanan kesehatan masyarakat miskin di puskesmas dan jaringannya yang disalurkan langsung ke puskesmas. Pelayanan kesehatan di rumah sakit dikelola Departemen Kesehatan dan pembayaran ke PPK (Pemberi Pelayanan Kesehatan) langsung melalui kas negara.

Sejak tahun 2005 hingga 2008 sasaran Jamkesmas yaitu jumlah orang miskin dan hampir miskin terus bertambah kecuali pada tahun 2008 dengan jumlah sasaran sama dengan tahun sebelumnya, yaitu 76,4 juta jiwa. Provinsi dengan jumlah sasaran terbesar adalah Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Gambar 4.19 berikut ini menyajikan realisasi progrsm JPKM tahun 2005-2008.

GAMBAR 4.19

REALISASI PROGRAM JPKM TAHUN 2005 – 2008

Sumber: Pusat PJK, Depkes RI

Dari 76,4 juta sasaran masyarakat miskin dan hampir miskin, 26,22 juta memanfaatkan sarana kesehatan baik puskesmas maupun rumah sakit sebagai pelayanan kesehatan. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya yang tidak lebih dari 7 juta jiwa. Mudahnya mendapatkan pelayanan Jamkesmas bisa jadi meningkatkan pemanfaatan pelayanan Jamkesmas oleh masyarakat miskin dan hampir miskin.

Pemberi Pelayanan Kesehatan (PPK) Jamkesmas terdiri dari pelayanan kesehatan dasar dan pelayanan kesehatan tingkat lanjut. Pemberi pelayanan kesehatan dasar Jamkesmas adalah seluruh puskesmas dan jaringannya (pustu, polindes/poskesdes, pusling) yang berjumlah 8.234 unit. Sedangkan pemberi pelayanan kesehatan Jamkesmas tingkat lanjut pada tahun 2008 berjumlah 920 dengan rincian sebagai berikut: 56% rumah sakit pemerintah, 7% rumah sakit TNI/POLRI, 33% rumah sakit swasta, dan 4% balai pengobatan seperti yang terlihat pada Gambar 4.20.

GAMBAR 4.20

PEMBERI PELAYANAN KESEHATAN JAMKESMAS TINGKAT LANJUT TAHUN 2008

Sumber: Pusat PJK, Depkes RI, 2009

Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur merupakan provinsi dengan jumlah PPK tertinggi untuk pelayanan tingkat lanjut, yaitu masing-masing 140, 115, dan 80 PPK. Besarnya jumlah PPK di tiga provinsi tersebut juga disebabkan tingginya jumlah sasaran Jamkesmas. Jika di provinsi lain, jumlah anggota masyarakat miskin dan hampir miskin kurang dari 5 juta jiwa, bahkan beberapa di antaranya kurang dari 1 juta jiwa, namun di tiga provinsi tersebut mencapai lebih dari 10 juta jiwa.

C. PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT

Dalam dokumen Ind p PROFIL KESEHATAN INDONESIA 2008 (Halaman 109-113)