D. PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT
Upaya perbaikan gizi masyarakat dimaksudkan untuk menangani permasalahan gizi yang dihadapi masyarakat. Berdasarkan pemantauan yang telah dilakukan ditemukan beberapa permasalahan gizi yang sering dijumpai pada kelompok masyarakat antara lain kekurangan Vitamin A dan anemia gizi besi.
1. Pemberian Kapsul Vitamin A
Vitamin A merupakan zat gizi yang penting (esensial) bagi manusia, karena zat gizi ini tidak dapat dibuat oleh tubuh, sehingga harus dipenuhi dari luar. Vitamin A dapat diperoleh tubuh melalui bahan makanan antara lain bayam, daun singkong, pepaya matang, ASI, bahan makanan yang diperkaya dengan Vitamin A, dan kapsul Vitamin A dosis tinggi.
Vitamin A penting untuk kesehatan mata dan mencegah kebutaan, dan lebih penting lagi Vitamin A meningkatkan daya tahan tubuh. Anak-anak yang cukup mendapat vitamin A, bila terkena Diare, Campak atau penyakit infeksi lain, maka penyakit-penyakit tersebut tidak mudah menjadi parah, sehingga tidak membahayakan jiwa anak.
Dengan adanya bukti-bukti yang menunjukkan peranan Vitamin A dalam menurunkan angka kematian, maka selain untuk mencegah kebutaan, pentingnya
Vitamin A saat ini lebih dikaitkan dengan kelangsungan hidup anak, kesehatan dan pertumbuhan anak.
Upaya meningkatkan konsumsi bahan makanan sumber Vitamin A melalui proses Komunikasi-Informasi-Edukasi (KIE) merupakan upaya yang paling aman dan berkelanjutan. Namun seringkali penyuluhan tidak akan segera memberikan dampak nyata. Selain itu kegiatan fortifikasi Vitamin A masih bersifat rintisan. Oleh sebab itu penanggulangan kekurangan Vitamin A saat ini masih bertumpu pada pemberian kapsul Vitamin A dosis tinggi.
Kelompok sasaran pemberian kapsul Vitamin A dosis tinggi yaitu bayi, anak balita, dan ibu nifas.
1. Bayi
Kapsul Vitamin A 100.000 SI diberikan kepada semua anak bayi (umur 6-11 bulan) baik sehat maupun sakit. Diberikan setiap 6 bulan secara serempak pada bulan Februari dan Agustus.
2. Anak Balita
Kapsul Vitamin A 200.000 SI diberikan kepada semua anak balita (umur 1-4 tahun) baik sehat maupun sakit. Diberikan setiap 6 bulan secara serempak pada bulan Februari dan Agustus.
3. Ibu Nifas
Kapsul Vitamin A 200.000 SI diberikan kepada ibu yang baru melahirkan (nifas) sehingga bayinya akan memperoleh Vitamin A yang cukup melalui ASI. Diberikan paling lambat 30 hari setelah melahirkan.
Pemberian kapsul Vitamin A menurut sasaran tahun 2008 dapat dilihat pada Gambar 4.38 berikut.
GAMBAR 4.38
PERSENTASE PEMBERIAN KAPSUL VITAMIN A MENURUT SASARAN DI INDONESIA TAHUN 2008
Sumber: Direktorat Bina Gizi Masyarakat, Depkes RI, 2009
Selain 3 kelompok di atas, ada kejadian tertentu yang harus segera diberikan kapsul Vitamin A, yaitu:
a. Xerophthalmia; dengan tanda-tanda buta senja, bercak putih (bercak bitot), mata keruh atau kering. Pemberian Vitamin A dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:
• Saat ditemukan: segera diberi 1 (satu) kapsul Vitamin A 200.000 SI; • Hari berikutnya: 1 (satu) kapsul Vitamin A 200.000 SI;
• 4 (empat) minggu berikutnya: 1 (satu) kapsul Vitamin A 200.000 SI. b. Campak
Anak yang menderita campak, segera diberi satu kapsul Vitamin A 200.000 SI. Untuk bayi diberi satu kapsul Vitamin A 100.000 SI.
2. Pemberian Tablet Besi
Anemia gizi merupakan masalah kesehatan yang ikut berperan sebagai penyebab tingginya angka kematian ibu, angka kematian bayi, produktivitas kerja, prestasi olahraga dan kemampuan belajar. Oleh karena itu, penanggulangan anemia gizi menjadi salah satu program potensial untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, yang telah dilaksanakan pemerintah sejak Pembangunan Jangka Panjang I.
Wanita hamil merupakan salah satu kelompok yang rentan masalah gizi terutama anemia akibat kekurangan zat besi (Fe). Hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT)/Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) di Indonesia dari tahun ke tahun dapat dilihat pada Gambar 4.39. Terjadi penurunan yang signifikan terhadap persentase anemia pada ibu hamil, dari 73,3% pada tahun 1986 (SKRT) menjadi 24,5% pada tahun 2007 (Riskesdas, 2007).
GAMBAR 4.39
PERSENTASE IBU HAMIL YANG MENDERITA ANEMIA DI INDONESIA TAHUN 1986-2007
Sumber: Direktorat Bina Gizi Masyarakat, dan Balitbangkes, Depkes RI
Untuk menentukan apakah seseorang menderita anemia atau tidak, umumnya digunakan nilai-nilai batas normal yang tercantum dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 736a/Menkes/XI/1989, yaitu :
− Hb laki-laki dewasa: >13 g/dl − Hb perempuan dewasa: >12 g/dl − Hb anak-anak: >11 g/dl
− Hb ibu hamil: >11 g/dl
Seseorang dikatakan anemia bila kadar Hb-nya kurang dari nilai baku tersebut di atas.
Kurangnya asupan zat besi (Fe) yang adekuat mengakibatkan timbulnya penyakit anemia gizi. Gejala yang tampak jika kadar Hb di bawah 11 g/dl adalah pucat, lesu, letih, lemah dan terjadinya pendarahan.
Masalah yang dihadapi oleh pemerintah Indonesia adalah masih relatif tingginya prevalensi anemia ibu hamil dan sebagian besar penyebabnya adalah kekurangan zat besi yang diperlukan untuk pembentukan hemoglobin, sehingga anemia yang ditimbulkan disebut anemia kekurangan besi. Keadaan kekurangan besi pada ibu hamil dapat menimbulkan gangguan atau hambatan pada pertumbuhan baik pada sel tubuh maupun sel otak pada janin. Pada ibu hamil dapat mengalami keguguran, lahir sebelum waktunya, bayi berat lahir rendah (BBLR), perdarahan sebelum serta pada waktu melahirkan, dan pada anemia berat dapat menimbulkan kematian ibu dan bayi. Pada anak dapat mengalami gangguan pertumbuhan, tidak dapat mencapai tinggi yang optimal dan anak menjadi kurang cerdas.
Gambar 4.40 memperlihatkan kecenderungan cakupan pemberian Fe1 dan dan Fe3 sejak 2003 yang cenderung menurun pada tahun 2008.
GAMBAR 4.40
CAKUPAN PEMBERIAN Fe1 DAN Fe3 PADA IBU HAMIL DI INDONESIA TAHUN 2003-2008
Sumber: Dit.Kesehatan Ibu, Ditjen Binkesmas, Depkes RI
Pada tahun 2008 cakupan pemberian Fe3 (90 tablet) sebesar 48% dengan rentang antar provinsi 20% di Maluku sampai 86% di Kepulauan Bangka Belitung. Cakupan pemberian Fe3 pada ibu hamil menurut provinsi dapat dilihat pada Gambar 4.41 berikut ini.
GAMBAR 4.41
CAKUPAN PEMBERIAN FE3 PADA IBU HAMIL MENURUT PROVINSI TAHUN 2008
Sumber: Dit.Kesehatan Ibu, Ditjen Binkesmas, Depkes, 2009
Mengingat dampak anemia tersebut di atas yang dapat menurunkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia, maka perlu penanggulangan kekurangan zat besi pada ibu hamil dengan segera. Oleh sebab itu pemerintah Indonesia mulai menerapkan suatu program penambahan zat besi sekitar dua puluh tahun yang lalu. Program ini dilaksanakan dengan harapan setiap ibu hamil secara teratur memeriksakan diri ke puskesmas atau posyandu selama masa kehamilannya. Tablet besi dibagikan oleh petugas kesehatan kepada ibu hamil secara gratis.