BAB II POLITIK HUKUM PENGATURAN PERUNDANGAN
D. Politik Hukum Lahirnya Peraturan Perundangan Badan
3. Pelayanan Publik oleh BUMN dan BUMD
Pembentukan BUMN di Indonesia memiliki beberapa latar belakang, antara lain, untuk mewadahi aset dan bisnis asing yang dinasionalisasi. Selain itu, untuk mengembangkan industri yang dibutuhkan masyarakat dan adanya kesadaran pemerintah akan adanya karakteristik industri yang strategis.
a. Pelayanan Publik oleh BUMN
1. BUMN Sebagai Wujud Hak Menguasai Negara
BUMN dalam sejarah kelahirannya dikenal dengan nama Perusahaan Negara. Istilah BUMN baru muncul pada tahun 1983 melalui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1983 tentang Model Pembinaan dan Pengawasan BUMN. Pada dasarnya BUMN di Indonesia telah muncul sebelum Indonesia merdeka yaitu ketika pemerintah Hindia-Belanda mendirikan diantaranya Gomeenschapppelike Mijnbow maatschapij Bliton (GMB) yang merupakan perusahaan timah di Belitung, Pegadaian, Spoorswagen (SS). Perusahaan inilah yang kemudian setelah Indonesia merdeka, dinasionalisasi menjadi perusahaan milik negara dengan status perusahaan jawatan, yaitu Angkutan Motor RI, Jawatan Kereta Api, Jawatan Pegadaian dan lainnya.
Perkembangan jumlah BUMN yang dinasionalisasikan pada periode 1958-1965 mencapai 630 BUMN. Nasionalisasi dilaksanakan berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 23 tahun 1958. Tindakan nasionalisasi dipengaruhi dengan pembebasan Irian Barat. Selain itu, pemerintah melakukan nasionalisasi terhadap perusahaan asing selain yang dimiliki Hindia Belanda sebagai akibat konfrontasi Indonesia terhadap Malaysia. Perusahaan-perusahaan asing tersebut adalah perusahaan milik Singapura, Inggris, dan Malaysia.
Pembentukan perusahaan negara merupakan implementasi frase dikuasai oleh negarayang tercantum pada Pasal 33 butir (3) UUD 1945. Latar belakang munculnya frase tersebut adalah kondisi perekonomian negara yang masih lemah pasca kemerdekaan, sehingga negara harus menguasai sebagian besar bidang usaha yang dapat menstimulasi kegiatan ekonomi.
Perkembangan setelah kemerdekaan, Indonesia membangun ekonomi untuk melepaskan diri dari imperaliasme. Pada tahun 1950-an, perusahaan negara terbatas pada beberapa sektor strategis. Pendirian perusahaan negara ini tidak efektif karena situasi politik dan keamanan tidak kondusif. Selanjutnya, pada tahun 1957, pemerintah mulai melakukan nasionalisasi hampir semua sektor usaha ekonomi.
Perusahaan negara dimaksudkan untuk mendorong perekonomian nasional, terutama perusahaan negara yang bergerak dalam bidang infrastruktur. Perusahaan Belanda yang dinasionalisasi seperti PT Kereta Api atau Djawatan Kereta Api (UU 71/1957), PT Pos (Djawatan Pos), PT Garuda Indonesia Airways, dan diakhir pemerintah Soekarno sempat mendirikan Perusahaan Negara (PN) Telekomunikasi. Perusahaan yang dinasionalisasi tidak terlalu menguntungkan karena Belanda sudah terlebih dahulu mengalihkan aset perusahaannya ke Belanda.
Perkembangan pada tahun 1960, BUMN belum memiliki landasan hukum secara khusus. Perbedaan landasan hukum inilah yang mengakibatkan saat itu BUMN di Indonesia diklasifikasikan ke dalam empat jenis BUMN yaitu:101 BUMN yang diatur oleh Indonesische Bedrijven Wet (IBW atau UU Perusahaan Negara, BUMN yang diatur oleh
Indonesische Comptabliteits Wet (ICW atau UU Perbendaharaan Negara), BUMN yang diatur oleh UU tertentu dan BUMN yang diatur oleh hukum perdata, terutama hukum dagang.
Dalam rangka memberikan landasan hukum secara khusus kepada BUMN, pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti
101
Lammindo Jelita, “Analisis pengaruh kebijakan penilaian tingkat kesehatan BUMN dan
penerapan Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangn PTPN”, Skripi Fakultas Ekonomi
Undang-Undang (Perpu) Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 1960 tentang Perusahaan Negara. Perusahaan negara diartikan sebagai semua perusahaan dalam bentuk apapun yang modalnya untuk seluruhnya merupakan kekayaan negara RI kecuali ditentukan lain dengan atau berdasarkan undang-undang, memiliki landasan hukum yang sama untuk semua BUMN.
Di Indonesia tumbunya BUMN pada masa kemerdekaan sebenarnya untuk sebagian merupakan reaksi terhadap situasi kolonial. Sesudah kemerdekaan, perusahaan-perusahaan Belanda dan asing lainnya, melanjutkan operasinya di Indonesia hingga dilakukan tindakan nasionalisasi pada tahun 1957. Siatusi itulah yang melatar belakangi, mengapa para pemimpin Indonesia mengambil posisi nasional dan sosialis. Pengertian terhadap BUMN itu sendiri mengalami perubahan konsepsi dari waktu ke waktu. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut; a) Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun
1969, BUMN adalah seluruh bentuk usaha negara yang seluruhnya atau sebagian modalnya dimiliki oleh Negara/ Pemerintah dan dipisahkan dari kekayaan negara.
b) Berdasarkan Instruksi Presiden No.5 Tahun 1988 disebutkan bahwa yang dimaksud dengan BUMN adalah :
(1) Badan Usaha yang sepenuhnya dimiliki oleh negara;
(2) Badan Usaha yang tidak seluruhnya dimiliki negara, tetapi statusnya disamakan dengan BUMN, yaitu:
(a) BUMN yang merupakan patungan antara Pemerintah dengan Pemerintah Daerah.
(b) BUMN yang merupakan patungan antara Pemerintah dengan BUMN lainnya
(c) BUMN yang merupakan Badan usaha patungan antara Pemerintah dengan swasta nasional/ Asing, dimana negara memiliki saham mayoritas (minimal 51 persen). Sedangkan anak perusahaan BUMN akan menjadi bagian dari kekayaan
BUMN apabila sebagian besar sahamnya (minimal 51 persen) atau seluruhnya dimiliki oleh BUMN.
2. Bentuk-bentuk BUMN Mengalami Pembaharuan
Pada mulanya BUMN dibagi menjadi tiga bentuk, yakni Perusahaan Jawatan (Perjan), Perusahaan Umum (Perum) dan Perusahaan Perseroan (Persero). Perjan maupun Perum seluruh modalnya merupakan kekayaan negara yang dipisahkan dan tidak terbagi atas saham-saham. Sedangkan usaha-usaha negara dalam bentuk Persero, modalnya tidak seluruhnya dimiliki negara. Konsepsi perusahaan negara dalam bentuk Persero ini menampakkan wajahnya yang lain dari konsepsi Perusahaan Negara sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 1960.
Tugas pokok Perjan adalah melakukan tugas-tugas perusahaan sekaligus tugas pemerintahan yang tercermin dalam susunan organisasi Departemen, dengan sifat usahanya adalah pelayanan publik (public servive). Barang atau jasa yang dihasilkan Perjan merupakan kewajiban pemerintah dalam rangka pelayanan masyarakat karena barang dan jasa itu besar dan penting artinya bagi kehidupan masyarakat banyak. Bidang usahanya merupakan monopoli pemerintah dan tidak menarik minat swasta, karena usahanya mempunyai rate of return yang kecil sedangkan investasi dan resikonya besar.
Perusahaan Umum bertugas melayani kepentingan umum dan sekaligus untuk memupuk keuntungan dan bergerak di bidang yang oleh pemerintah dianggap vital. Perum pada umumnya menjalankan tugas perusahaan akan tetapi dapat dibebani tugas pemerintahan, di Departemen tidak ada lagi unit organisasi yang menjalankan tugas pemerintahan yang telah diserahkan kepada Perum. Hal ini berbeda dengan Persero, karena Persero melakukan usaha perusahaan yang bisa dilakukan oleh swasta dan semata-mata bukan menjadi tugas pemerintah. Dalam konteks ini, barang dan jasa yang dihasilkan perusahaan (persero) bukan merupakan kewajiban negara untuk menghasilkannya. Bidang usaha harus dapat memberikan keuntungan finasial kepada negara baik dalam jangka
panjang maupun dalam jangka pendek. Persero pada prinsipnya tidak diberi hak monopoli atau perlakuan khusus lainnya oleh pemerintah.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1983, maka peran BUMN adalah sebagai berikut; a) Memberikan sumbangan untuk mengembangkan perekonomian negara
disamping menambah perekonomian negara; b) Mengadakan pemupukkan keuntungan/pendapatan;
c) Memberikan pemanfaatan umum baik berupa barang maupun jasa kepada masyarakat umum;
d) Menjadi pioneer dalam hal kegiatan usaha yang belum dapat diusahan sektor swasta dan koperasi;
e) Melengkapi kegiatan swasta dan koperasi dalam hal penyediaan barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat banyak;
f) Memberikan bimbingan kepada sector swasta khususnya pengusaha bermodal kecil dan sector koperasi;
g) Melaksanakan dan menunjang pelaksanaan program pemerintah dibidang ekonomi dan pembangunan pada umumnya.
Tugas-tugas BUMN sebagaimana dituangkan dalam Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 1988, yakni antara lain:
a) Mengadakan barang yang karena pertimbangan keamanan dan kerahasiaan harus dikuasai negara;
b) Didirikan atas pertimbangan untuk melaksanakan kebijakan pemerintahan tertentu dan atau strategis;
c) Didirikan dengan tujuan untuk melindungi keselamatan dan kesejahteraan masyarakat;
d) Didirikan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku harus dimilki dan dikelola oleh pemerintah;
e) Usaha-usaha yang bersifat komersial seperti yang dilakukan swasta. Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2003 Tentang Badan Usaha Milik Negara, terjadi perubahan mendasar terhadap eksistensi BUMN di Indonesia, antara lain;
Pertama, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2003 hanya mengenal dua bentuk BUMN, yakni Perusahaan Perseroan (Persero) dan Perusahaan Umum (Perum). BUMN dalam bentuk Perusahaan Jawatan (Perjan) dibubarkan. Fungsi kemanfaatan (pelayanan) umum yang selama ini menjadi tugas Perjan, akan diberikan penugasan khusus oleh pemerintah kepada Persero atau Perum. Pemberian penugasan khusus fungsi kemanfaatan umum itu kepada Persero maupun Perum harus dengan terlebih dahulu mendapat persetujuan RUPS/ Menteri.
Kedua, kedudukan dan tugas Perum melayani kepentingan umum dan sekaligus untuk memupuk keuntungan dan bergerak dibidang yang oleh pemerintah dianggap vital. UU BUMN menyatakan maksud dan tujuan Perum adalah menyelenggarakan usaha yang bertujuan untuk kemanfaatan umum berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang berkualitas dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat berdasarkan prinsip pengelolaan perusahaan yang sehat. Ruang gerak Perum menjadi lebih fleksibel, dengan catatan asal penyedian barang dan jasa yang dilakukan Perum harganya terjangkau oleh masyarakat, tetapi tetap didasarkan pada prinsip pengelolaan perusahaan yang sehat.
Ketiga, berdasarkan UU BUMN, maksud dan tujuan BUMN tidak lagi diformulasikan dalam perspektif pemikiran pemerintah dan swasta. Persero dalam perspektif UU BUMN tidak obahnya seperti adanya perusahaan swasta. Persero diproyeksikan harus mampu bersaing dengan perusahaan milik swasta, mampu menyediakan barang/jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat. Tujuan ini tentu tidak dapat dipisahkan dari maksud dan tujuan persero mengejar keuntungan guna meningkatkan nilai perusahaan sebagaimana adanya perusahaan milik swasta.
Keempat, jika dalam peraturan perundang-undangan sebelumnya, Direksi Perum diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas usul menteri yang bersangkutan, maka berdasarkan UU BUMN pengangkatan dan pemberhentian Direksi Perum ditetapkan oleh Menteri sesuai dengan mekanisme dan peraturan perundang-undangan. Sedangkan bagi Pesero, dalam peraturan perundang-undangan sebelumnya pengangkatan dan
pemberhentian Direktur Utama dan Direktur Persero oleh Menteri Keuangan selaku RUPS berdasarkan usul menteri. Sedangkan menurut UU BUMN pengangkatan pemberhentian Direksi dilakukan oleh RUPS dan dalam hal Menteri bertindak sebagai RUPS.
Kelima, berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan sebelumnya anggota Direksi Perum dan Persero diangkat berdasarkan syarat-syarat kemampuan dan keahlian dalam bidang pengelolaan (manajemen) perusahaan, memenuhi syarat lainnya yang diperlukan untuk menunjang kemajuan perusahaan yang dipimpinnya dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Disisi lain dalam hal Menteri berpendapat bahwa calon-calon anggota direksi persero yang diusulkan tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan, maka Menteri Keuangan meminta kepada Menteri Teknis agar diusulkan calon-calon lain. Berbeda halnya dengan UU BUMN, pengangkatan anggota Direksi Persero dan Perum dilakukan melalui mekanisme uji kelayakan dan kepatutan. Pola pengangkatan direksi serupa ini tidak dijumpai dalam peraturan perundang-undangan sebelumnya. Calon anggota Direksi yang dinyatakan lulus uji kelayakan dan kepatutan oleh UU BUMN diwajibkan menandatangani kontrak manajemen sebelum ditetapkan pengangkatannya sebagai anggota Direksi. Mekanisme ini juga tidak dijumpai dalam peraturan perundang-undangan sebelumnya.
Kelahiran UU BUMN meletakkan dasar perubahan yang fundamental terhadap eksistensi BUMN di Indonesia yang selama ini senantiasa dikonsepsikan sebagai implementasi negara Indonesia sebagai negara kesejahteraan. Dengan dihapusnya Perjan oleh UU BUMN, maka substansi negara Indonesia sebagai negara kesejahteraan mengalami pembaharuan.
Persero dan Perum sebagai bentuk BUMN yang direkomendasi UU BUMN tidak lagi sepenuhnya dikonsepsikan sebagai sarana kelembagaan (sementara) untuk menutupi kekurangan-kekurangan modal, keterampilan, kewirausahaan dan kesempatan-kesempatan rakyat. Pengunaan BUMN, terutama Persero telah ditempatkan sebagai sarana mendatangkan
penerimaan negara. Kecenderungan dari pendirian BUMN dibawah UU BUMN tampaknya mengacu atau mengarah pada keberadaan BUMN di negara-negara maju yang sekarang berbentuk perusahaan Multinasional. Pada negara-negara maju kebanyakan perusahaan negara merupakan hasil kesepakatan umum dan lebih penting lagi adalah pemahaman bahwa sektor-sektor perekonomian itu mempunyai arti strategis yang memerlukan keikutsertaan pemerintah secara lansung. Hanya saja aspek strategis BUMN itu dalam UU BUMN tidak menjadi ukuran. Intinya BUMN (terutama Persero) akan bergerak disemua sektor perekonomian, strategis atau tidaknya tergantung pada bidang usahanya.
Konsepsi pendirian BUMN yang demikian, tidak bisa lain memang, pemerintah harus melepaskan kecenderungan intervensinya dalam pengelolaan BUMN. Pengelolaan BUMN harus diletakkan di atas sendi- sendi Good Coporate Governance, sehingga dapat menumbuhkan optimalisasi peran BUMN untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat sebagaimana diinginkan UU BUMN.
Pasal 6 butir (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara menyebutkan bahwa Presiden selaku Kepala Pemerintahan memegang kekuasaan pengelolaan keuangan negara sebagai bagian dari kekuasaan pemerintahan. Kekuasaan sebagaimana tersebut di pasal 1 dikuasakan kepada Menteri Keuangan, selaku pengelola fiskal dan Wakil Pemerintah dalam kepemilikan kekayaan negara yang dipisahkan (pasal 6 butir 2 huruf a). Sementara Pasal 7 butir 2 huruf h Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara menyebutkan bahwa Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara berwenang menempatkan uang negara dan mengelola/menatausahakan investasi.
3. Sejarah Hukum Keberadaan BUMN
Perseoran Terbatas sudah dikenal sejak Zaman Romawi kuno yang dikenal dengan nama “etairia”, pada masa itu bahkan telah ada peraturan perundang-undangan tentang “etairia” yang menyatakan bahwa “etairia” dapat bergerak di bidang komersial apa saja sepanjang tidak bertentangan
dengan hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Perseroan Terbatas yang disebut dengan istilah “collegium” atau “corpus” (berasal dari bahasa Inggris “corporation”) yang dapat diterjemahkan sebagai perseroan terbatas. Disamping itu juga ada yang disebut dengan istilah “societas” yang setara dengan firma atau persekutuan perdata yang ada pada saat itu. Konsep Collegium (istilah Indonesia = kolegium) ini kemudian menyebar ke berbagai negara, termasuk Inggris, Perancis dan Amerika Serikat (USA) yang kemudian dibawa ke berbagai negara-negara koloni.
Pada zaman Romawi Kuno juga dikenal suatu perkumpulan yang mirip degan Perseroan Terbatas disebut dengan istilah “universitas”, namun dalam perkembangannya universitas sejak abad pertengahan kecenderungannya lebih banyak bergerak di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan seni. Istilah universitas sendiri terus berkembang sampai pada saat ini dan pada taraf perkembangan selanjutnya dibakukan menjadi istilah untuk menyebutkan perguruan tinggi.
Dalam sistem hukum Romawi, collegium dan universitas
mempunyai suatu peraturan dasar yang disusun dan disetujui oleh para anggotanya dan dalam peraturan dasar ini diangkat seorang atau lebih pengurus. Isi peraturan dasar tersebut ditentukan bebas dan dibuat oleh para pendirinya, sehingga sifat peraturan dasar dalam hal ini adalah perjanjian (kontraktual) sepanjang tidak bertentangan dengan hukum yang ada. Peraturan ini yang sekarang dikenal sebagai anggaran dasar (statute).
Perseroan Terbatas masuk melalui hukum Belanda. Lahirnya lembaga ini di negara Belanda dengan nama Naamloza Vennootschap (N.V) bermula dengan lahirnya “De Vereenigde Oost-Indische Compagnie” (V.O.C).102
V.O.C itu sendiri dirikan pada tahun 1602. Tumbuhnya V.O.C bermula karena kebutuhan modal yang amat besar dalam menyelenggarakan pelayaran ke kepulauan Nusantara. Semula dilakukan oleh sejumlah compagnie kecil-kecil antara lain terkenal “Compagnie van Verre”.
102
Rudhi Prasetya, Kedudukan Mandiri Perseroan Terbatas, (Bandung: Citra Aditya Bakti, Cetakan Ketiga, 2001), hlm. 10-11.
Compagnie ini merupakan gabungan dari perorangan para pengusaha kapal (reders) yang memodali sendiri dengan tanggungjawab secara pribadi tanggung menanggung di antara mereka. Karena makin banyak diperlukan modal, maka para reders mencari rekan-rekan yang bersedia ikut menanamkan modalnya dalam usaha itu, tetapi tanpa pemodal ini ikut menjalankan pengurusan perusahaan dan tanpa perlu bertanggungjawab lebih dari modal yang ditanamkannya. Para penanam modal inilah yang dinamakan “commenda participale” (bentuknya dinamakan “commanda
participaties”). Sebaliknya para reders tetap bertanggungjawab secara pribadi dan memimpin pengurusan perusahaan. Dalam kedudukan yang demikian inilah maka dikatakan para reders ini sebagai “principle reders” Secara struktural bentuk dalam taraf ini dapat disamakan dengan bentuk
“Commanditaire Venotschap” yang dikenal sekarang. Sebagai pertanda
“commanditaire participale” kepada mereka diberikan “penningen” yang setiap waktu dapat dipindahtangankan. Penningen ini diadakan dalam rangka mengumpulkan modal sebanyak-banyaknya dan dengan penningen ini diharapkan banyak yang mau menanamkan modalnya. Makin meluas pelayaran ke Nusantara, makin banyak lagi diperlukan modal. Dalam rangka ini diadakanlah penggabungan antara principalereders dan
commanda participale dalam suatu badan, yaitu V.O.C. Pengurusan V.O.C. diserahkan kepada suatu organ yang dinamakan “De Heeren
Zeventien”.103
Perusahaan berbentuk Naamloza Vennootschap (N.V) pertama kali diatur dalam Pasal 36 sampai dengan Pasal 56 KUHD yang berlaku di Indonesia sejak tahun 1848. Selain itu diatur pula dalam Pasal 1233 sampai dengan 1356 dan Pasal 1618 sampai dengan 1652 KUH Perdata. Pada masa orde baru telah dibentuk Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas, dan era reformasi telah diganti dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.
Pada zaman Hindia-Belanda, KUHD hanya berlaku bagi golongan Eropa, adapun bagi golongan pribumi dan golongan timur asing berlaku hukum adatnya masing-masing. Kemudian dalam perkembangannya KUHD juga diberlakukan bagi golongan timur asing cina, namun bagi golongan timur asing lainnya tidak berlaku KUHD melainkan hukum adatnya masing-masing. Namun, khusus untuk hukum yang berkenaan dengan bisnis, timbul kesulitan jika hukum adatnya masing-masing yang diterapkan, hal ini disebabkan:104 hukum adat masing-masing golongan tersebut sangat beraneka ragam, hukum adat masing-masing golongan tersebut sangat tidak jelas dan kehidupan berbisinis banyak terjadi interaksi bisnis tanpa melihat golongan penduduk, sehingga menimbulkan hukum antar golongan yang tentu saja dirasa rumit bagi golongan bisnis.
Pada masa kemerdekaan Presiden Soekarno dalam rangka memajukan pengusaha pribumi pernah pula mencanangkan “program benteng”. Dimana dalam program ini, pengusaha golongan pribumi diberikan kemudahan tertentu, seperti pemberian kredit dan hak-hak tertentu yang bersifat monopoli. Pada tahun 1957 Perdana Menteri Juanda menghentikan program benteng karena program ini lemah pengontrolan dari pihak pemerintah dan cenderung disalahgunakan105. Pada masa orde baru ini, disahkan dan diundangkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 tahun 1995 tentang Perseroan terbatas, dimana lahirnya undang-undang ini merupakan lex specialis dari pengaturan mengenai perseroan yang tercantum dalam KUHD.
Pada era reformasi, kemudian disahkan dan diundangkan Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 40 tahun 2007 dimana adanya pengaturan hal-hal baru dalam undang-undang, seperti : Tanggung Jawab Sosial (CSR), perubahan modal perseroan, penegasan tentang tanggung jawab pengurus perseroan dan pendaftaran perseroan yang sudah mempergunakan Information Tehnology (IT) sehingga pendaftaran
104
Munir Fuady,“Perseroan Terbatas Paradigma Baru”, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2003), hlm. 37.
105
Agus Pranki Pasaribu, Hukum Perseroan Terbatas dalam Lintasan Sejarah di Beberapa Negara dan Perkembanganya, op.cit.
perseroan sudah dapat dilakukan secara on-line. Lahirnya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 tahun 2007 sekaligus mencabut pemberlakuan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas.106
Perseroan Terbatas dahulu dikenal dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD) bernama Naamloze Vennotschap (atau disingkat N.V). N.V diatur dalam Bagian III buku I Pasal 36 sampai Pasal 56 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang neither (Wetboek van Koophandel nor Nederlandsch Indie). Namun dalam perkembangannya, N.V diterjemahkan secara bebas dan lebih popular dengan sebutan Perseroan Terbatas, namun bagaimana asal muasal sebutan tersebut tidak dapat ditelusuri, sama halnya dengan sebutan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata) untuk Burgerlijk Wetboek (B.W) dan Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (disingkat KUHD) untuk Wetbok van Koophandel (disingkat W.v.K).
b. Pelayanan Publik oleh BUMD
Instansi pemerintah yang menyelenggarakan publik di daerah dilakukan oleh BUMD. Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 3 Tahun 1998 tentang Bentuk Hukum Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), ada dua jenis BUMD yaitu Perusahaan Daerah (“PD”) dan Perseroan Terbatas (“PT”). Perusahaan Daerah pada mulanya diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1962 tentang Perusahaan Daerah, di mana Aset PD berasal dari kekayaan daerah yang dipisahkan dari APBD. Dalam praktiknya, apabila kepemilikan PD dimiliki 100% oleh Pemerintah Daerah, maka kepemilikan tersebut tidak diwakili dalam bentuk saham. Namun, apabila individu atau pihak swasta turut ambil serta dalam PD tersebut, maka kepemilikannya dapat berbentuk saham.
Pengelolaan PD ada di tangan pengurus PD yang bertanggung jawab Kepala Daerah, tanggung jawab Kepala Daerah adalah sebagai pemilik dan juga pengelola. Sedangkan, PT BUMD (Pemerintah Daerah sebagai pemegang saham mayoritas atau minimum 51 persen), mengacu pada Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, di mana diatur motif profit-oriented serta tanggung jawab yang jelas terhadap pemegang saham, komisaris dan direksi PT. Pengurusan perusahaan suatu PT tidak menjadi tanggung jawab Kepala Daerah seperti halnya pada PD.
Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) pada dasarnya badan usaha yang didirikan oleh pemerintah daerah yang modalnya sebagian besar/ seluruhnya adalah milik pemerintah daerah. Contohnya ialah : Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM), Perusahaan Daerah Pasar ( PD Pasar ), PT Bank Jateng, PT Bank DKI, dan lain-lain.
BUMD memiliki beberapa ciri antara lain, Pemerintah memegang hak atas segala kekeayaan dan usaha, pemerintah berkedudukan sebagai pemegang saham dalam permodalan perusahaan, pemerintah memiliki wewenang dan kekuasaan dalam menetapkan kebijakan perusahaan, pengawasan dilakukan alat pelengkap negara yang berwenang, melayani kepentingan umum selain mencari keuntungan, sebagai stasbilisator perekonomian dalam rangka menyejahterakan rakyat dan sebagai sumber pemasukan negara dan daerah, seluruh atau sebagian besar modalnya milik daerah, modalnya dapat berupa saham atau obligasi bagi perusahaan yang go public, dapat menghimpun dana